Showing posts with label Ramadhan 1447H. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan 1447H. Show all posts

Menyimak Panggilan Senyap dari Liang Lahat

Banjarnegara, 5 Maret 2026 – Di bawah naungan kubah Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, malam ke-16 Ramadhan 1447 H terasa berbeda. Udara malam yang tenang seolah membawa kita pada sebuah perenungan panjang saat Bapak Panggung Sutopo menyampaikan untaian nasihatnya. Beliau membawa kita menembus batas dunia, mendengarkan "suara" dari sebuah tempat yang pasti akan kita huni: Alam Kubur. Dalam sebuah riwayat, kubur memanggil kita setiap hari, bukan untuk menakuti, melainkan agar kita tak lupa menyiapkan "perabot" untuk rumah masa depan kita itu. 

1. Teman dalam Kesunyian 
"Aku adalah rumah kesendirian," bisik kubur. Di sana, riuh rendah dunia sirna. Tak ada canda tawa kawan, tak ada hangatnya pelukan keluarga. Pesan Beliau: Agar tak layu dalam sepi, bawalah Al-Qur'an sebagai teman bicara. Lantunan ayat-ayat suci yang kita baca di dunia akan menjelma menjadi sosok cahaya yang menemani hingga hari kebangkitan.  

2. Lentera di Pekatnya Malam  
"Aku adalah rumah yang gelap gulita," lanjutnya. Tanpa cahaya lampu, tanpa sinar mentari. Pesan Beliau: Terangilah liang lahatmu dengan Bangun Malam (Tahajud). Sujud-sujud panjangmu di saat manusia lain terlelap adalah bahan bakar bagi lampu yang takkan pernah padam di alam barzakh. 3. Hamparan Permadani Amal "Aku adalah rumah yang penuh dengan tanah," ia mengingatkan. Tak ada kasur empuk atau bantal sutra yang bisa kita bawa ke sana. Pesan Beliau: Jadikan Amal Sholeh sebagai alas tidurmu. Kebaikan yang kita tanam dengan ikhlas akan menjadi hamparan permadani yang melapangkan sempitnya kubur, sebagaimana firman Allah SWT:

 مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ 
 "Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan (tempat tinggal yang nyaman) untuk diri mereka sendiri." (QS. Ar-Rum: 44) 

4. Perisai dari Sengatan Bahaya "Aku adalah rumahnya binatang buas," suara itu bergema. Kubur memperingatkan akan adanya "racun-racun" yang siap menguji keteguhan kita. Pesan Beliau: Bawalah penawar racun itu dengan senantiasa membasahi lisan melalui Basmalah. Menyertakan nama Allah dalam setiap langkah adalah perisai paling ampuh dari segala gangguan makhluk di perut bumi.  

5. Kunci Menjawab Tanya  
"Aku adalah rumah Munkar dan Nakir," tempat di mana diplomasi dunia tak lagi berguna. Hanya kejujuran iman yang akan bicara. Pesan Beliau: Persiapkan lisanmu dengan dzikir Laa ilaha illallah. Kalimat tauhid inilah yang akan meneguhkan hati kita saat berhadapan dengan utusan Allah tersebut.  

Muhasabah di Masjid Al Mu'minun Ceramah Bapak Panggung Sutopo malam ini adalah sebuah pengingat bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk "berbelanja" perlengkapan rumah masa depan kita. Kubur mungkin terlihat gelap dan sempit bagi mereka yang lalai, namun ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga bagi mereka yang bersiap. Mari kita jadikan sisa malam di bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbanyak bekal. Sebab, pada akhirnya, kita hanya akan pulang membawa apa yang telah kita beri. 
Oleh: Admin Gayam Permai 
Sumber: Tausiyah Tarawih Bapak Panggung Sutopo (05/03/2026)
Share:

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah

Gayam Permai, 5 Maret 2026 – Suasana Subuh di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai terasa begitu khidmat. Di tengah sejuknya udara pagi tanggal 5 Maret 2026, jemaah Kajian Subuh Ramadhan 1447 H berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai perumpamaan orang yang beruntung dan orang yang merugi dengan filosofi seorang petani. 
Ramadhan: Musim Menanam Kebajikan Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan mengajak jemaah merenungi nasib seorang petani. Seorang petani yang sukses adalah mereka yang saat masa panen tiba, hasil yang didapat sesuai dengan harapan yang ia tanam. Begitu pula gambaran seorang mukmin yang sukses. "Orang mukmin yang cerdas adalah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai ladang. Mereka menanam benih ibadah, menyemai kebaikan, dan memupuknya dengan keikhlasan," tutur beliau. 
Namun, beliau memberikan peringatan keras tentang golongan orang yang merugi. Merugi adalah ketika apa yang kita harapkan di akhir nanti, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ibarat petani yang mengharap padi namun yang tumbuh justru ilalang, atau petani yang menanam namun gagal panen. 

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah 
Satu poin penting yang ditekankan Ustadz Ulil Albab adalah bahwa ibadah tidak sekadar "menanam". Banyak orang yang rajin salat, rajin puasa, dan bersedekah, namun mereka lupa menjaga tanamannya. "Hampir sampai masa panen, tiba-tiba datang hama. Begitu juga pahala kita. Seringkali pahala yang sudah kita kumpulkan habis dimakan hama penyakit hati seperti riya, sum'ah, atau memutus silaturahmi," jelas Ustadz Ulil.  
Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki usaha ekstra untuk memagari dan melindungi tanamannya agar selamat hingga hari perhitungan nanti. Merayakan Kemenangan dengan Takbir dan Syukur Menjelang akhir kajian, Ustadz Ulil Albab membahas mengenai momen ketika kita berhasil menyelesaikan ibadah Ramadhan. Beliau mengutip isyarat dari Al-Qur'an bahwa kemampuan kita berpuasa sebulan penuh bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ "

...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

 Ayat ini mengajarkan kita bahwa ketika melihat hilal atau menyelesaikan Ramadhan, kita disunnahkan bertakbir. Takbir tersebut adalah pengakuan bahwa kita bisa selesai Ramadhan hanya karena Allah memberi kesempatan dan kekuatan. 

La Haula Wala Quwwata Illa Billah 
Menutup kajian, Ustadz mengingatkan kembali bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” harus menjadi landasan setiap amal kita. Jika kita merasa sombong dengan amalan kita, ingatlah bahwa kita hanyalah "petani" yang meminjam tanah, benih, dan air dari Sang Pencipta. Maka, bersyukurlah karena telah dipilih Allah untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersujud di Subuh yang berkah ini. Semoga Ramadhan 1447 H ini menjadikan kita petani-petani iman yang sukses memanen pahala di akhirat kelak. Amin. 
Penulis: Admin Gayam Permai 
Sumber: Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Ulil Albab (5 Maret 2026)
Share:

Satu Tetes Air Mata vs Segunung Emas: Mana yang Lebih Berharga?

Gayam Permai, Banjarnegara – Kultum Tarawih, 4 Feb 2026 bersama Bp. Dwi budi Prasojo. 
Malam-malam Ramadhan adalah malam pembuktian cinta. Namun, apakah mencintai Allah itu selalu berisi ketenangan yang instan? Dalam kultum tarawih malam ini di Masjid Al-Mu’minun, sebuah pesan mendalam tersampaikan: Proses mencintai Allah seringkali tidak se-romantis yang kita bayangkan.  


1. Cinta yang Penuh Perjuangan 
Banyak dari kita mengira bahwa ketika kita memutuskan untuk mendekat kepada Allah, jalan akan langsung menjadi mulus dan hati akan langsung merasa tenang. Namun kenyataannya, saat kita berniat melangkah maju, godaan justru datang bertubi-tubi. "Ingin shalat malam, tiba-tiba rasa kantuk menyerang luar biasa. Ingin bersedekah, tiba-tiba ada keperluan duniawi yang membisikkan rasa kikir. Ingin khusyuk, pikiran malah melayang kemana-mana," demikian poin utama dalam ceramah tersebut. Mencintai Allah adalah sebuah proses, sebuah pendakian yang melelahkan sebelum akhirnya kita sampai di puncak kemanisan iman.  

2. Menjaga Hati Agar Tetap 'Terkoneksi'  
Di hari-hari Ramadhan ini, perjuangan terbesar kita adalah menjaga agar hati tetap "terkoneksi" dengan Allah. Jangan sampai kita hadir secara fisik di masjid, namun hati kita "offline" dari kehadiran-Nya. Kesibukan mempersiapkan menu buka puasa, urusan pekerjaan, hingga hiruk-pikuk media sosial seringkali memutus koneksi batin kita. Ramadhan hadir sebagai jembatan untuk menyambung kembali kabel-kabel iman yang putus tersebut.  

3. Keajaiban Satu Tetes Air Mata  
Puncak dari proses mencintai adalah ketika hati mulai melunak dan mengakui segala kehinaan di hadapan Sang Pencipta. Pernahkah kita shalat hingga tak terasa air mata menetes? Itulah tangisan kerinduan dan ketakutan yang suci. Dalam tausiyah ditekankan: "Satu tetes air mata yang jatuh karena rasa takut dan rida kepada Allah, jauh lebih berharga daripada tumpukan emas sebesar gunung." Mengapa? Karena air mata itu adalah bukti kejujuran cinta. Emas bisa dicari dengan kerja keras, namun tetesan air mata yang lahir dari hati yang terkoneksi dengan Allah hanya bisa didapat melalui hidayah dan keikhlasan yang dalam. 
Air mata itulah yang kelak akan memadamkan api neraka bagi pemiliknya. Mencintai Allah memang tidak selalu indah di awal. Ia penuh dengan peluh kesabaran dan godaan setan yang tak henti. Namun, jangan menyerah. Teruslah mendekat meski tertatih. Semoga di sisa malam Ramadhan ini, Allah menganugerahkan kita hati yang lembut, yang mampu menangis karena rida-Nya.
Share:

Pelajaran dari Sebungkus Roti

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan pelajaran hidup yang tak terduga. Pada ceramah tarawih, Rabu malam, 4 Maret 2026, Bapak Suyadi membagikan sebuah kisah sederhana namun menohok tentang betapa seringnya kita terjebak dalam prasangka buruk (su'udzon). Beliau mengangkat tema Olah Hati dan Olah Rasa melalui sebuah ilustrasi cerita pendek yang sarat makna. 


1. Kejadian di Ruang Tunggu Bandara  
Kisah bermula dari seorang wanita yang sedang menunggu jadwal penerbangannya di sebuah bandara. Karena masih memiliki waktu luang, ia memutuskan untuk membeli sebungkus roti dan sebuah buku untuk menemaninya menunggu. Ia duduk di kursi ruang tunggu, meletakkan bungkus rotinya di atas meja di sampingnya. Di kursi sebelah, duduk seorang pria yang tidak ia kenal.  

2. Prasangka yang Mulai Membakar Hati  
Saat wanita itu mengambil satu potong roti dari bungkusnya, ia terkejut karena pria di sampingnya juga mengulurkan tangan dan mengambil satu potong roti dari bungkus yang sama. Wanita itu merasa geram dan berkata dalam hati, "Berani sekali pria ini! Tidak kenal, tidak minta izin, malah ikut makan rotiku. Kalau bukan karena menjaga sopan santun di depan umum, sudah kuparahi dia!" Setiap kali si wanita mengambil roti, si pria juga mengambilnya. Hingga akhirnya tersisa satu potong terakhir. Pria itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu memberikan separuhnya kepada si wanita dengan senyuman ramah. Wanita itu menyambarnya dengan kesal, lalu segera berdiri menuju pintu keberangkatan tanpa mengucapkan terima kasih.  

3. Tamparan di Balik Tas 
Keajaiban atau lebih tepatnya "tamparan" keras bagi hati si wanita terjadi saat ia sudah berada di dalam pesawat. Ketika ia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, tangannya menyentuh sesuatu yang akrab. Ia tertegun. Di dalam tasnya, masih terdapat sebungkus roti yang utuh dan belum terbuka. Seketika wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa roti yang ia makan di ruang tunggu tadi bukanlah miliknya, melainkan milik pria tersebut. Pria yang tadi ia maki-maki di dalam hati justru adalah orang yang sangat dermawan, yang rela berbagi rotinya dengan orang asing tanpa keberatan sedikit pun.  

4. Hikmah Olah Hati: 
Waspada Prasangka Bapak Suyadi menekankan bahwa kisah ini adalah cermin bagi kita semua. "Seringkali kita merasa paling benar dan paling dizalimi, padahal kitalah yang sedang salah paham. Itulah pentingnya Olah Hati," pesan beliau. 

Ramadhan adalah momentum untuk:  
  • Menata Rasa: Jangan biarkan emosi meledak sebelum mengetahui fakta sebenarnya.  
  • Berprasangka Baik (Husnudzon): Memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain berniat baik.  
  • Menahan Diri: Bukan hanya menahan lapar, tapi menahan lisan dan hati dari menghakimi sesama. 
 "Jangan sampai kita merasa paling shalih dan paling benar di bulan Ramadhan ini, hingga dengan mudahnya kita melabeli tetangga atau saudara kita dengan hal-hal buruk yang belum tentu benar." 
 Mari kita bersihkan hati dari noda prasangka, agar ibadah puasa kita menghasilkan akhlak yang mulia.
Share:

Rahasia Ujian dan Syukur


Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun pada fajar Ramadhan 1447 H, Rabu, 4 Maret 2026. Ustadz Helmi membawakan kajian yang sangat menyentuh hati, mengingatkan kita untuk tidak menjadi orang yang merugi di bulan suci ini, sekaligus mengajak kita mensyukuri anugerah fisik yang Allah berikan. Berikut adalah poin-poin utama dari ceramah beliau:  

1. Doa Malaikat Jibril: Sebuah Peringatan Keras Ustadz Helmi membuka kajian dengan mengutip hadits tentang doa Malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah ﷺ. Salah satu penggalan doanya adalah: 

 "Celakalah dan merugilah orang yang mendapati bulan Ramadhan, namun hingga Ramadhan berlalu, dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah." 

Beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah hamparan ampunan. Jika di bulan yang penuh fasilitas ketaatan ini kita masih enggan bertaubat, maka di bulan mana lagi kita akan diampuni? Ini adalah "alarm" agar kita tidak menyia-nyiakan hari-hari yang tersisa.  

2. Ujian: 
Bentuk Cinta Allah untuk Mengangkat Derajat Banyak dari kita yang merasa berat saat ditimpa cobaan. Namun, Ustadz Helmi meluruskan sudut pandang kita. Beliau menjelaskan bahwa ujian adalah tanda cinta Allah. 
Menghapus Dosa: Setiap duri yang menusuk atau kesedihan yang melanda adalah penggugur dosa.  
Mengangkat Derajat: Allah ingin hamba-Nya naik ke level yang lebih tinggi, namun karena amal ibadahnya belum cukup, Allah membantunya melalui kesabaran dalam menghadapi ujian. "Hidup terasa berat biasanya muncul saat ada cobaan. 
Kita perlu waspada, jangan-jangan itu adalah peringatan lembut dari Allah agar kita segera kembali bersimpuh kepada-Nya," tutur beliau. 

3. Keajaiban Tubuh: 
Syukur atas Desain Allah yang Sempurna 
Menariknya, Ustadz Helmi mengaitkan syukur dengan ilmu pengetahuan modern. Beliau merujuk pada penjelasan seorang dokter di akun Instagram @dianpratama, yang sering membedah betapa rumit dan sempurnanya organ tubuh manusia. Beliau menjelaskan bahwa setiap detak jantung, aliran darah, dan kerja syaraf yang kita miliki adalah keajaiban medis yang tidak mampu diciptakan manusia manapun.    

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin: 4). 

Mensyukuri kesempurnaan fisik ini bukan hanya dengan ucapan alhamdulillah, tapi dengan menggunakan tubuh tersebut untuk beribadah secara maksimal di bulan Ramadhan.

 

Refleksi untuk Warga Gayam Permai Ustadz Helmi berpesan agar kita tidak hanya melihat Ramadhan sebagai rutinitas lapar dan haus. Jadikan setiap kesulitan hidup sebagai tangga menuju Allah, dan jadikan setiap tarikan napas sehat sebagai alasan untuk terus bersyukur. "Jangan sampai kita masuk dalam golongan yang didoakan celaka oleh Malaikat Jibril hanya karena kita terlalu sibuk dengan urusan dunia dan lupa memohon ampun serta bersyukur," pungkas beliau.
Share:

Ternyata, Ada Ghibah yang Diperbolehkan?

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki hari ke-15 Ramadhan 1447 H, Selasa, 3 Maret 2026, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias menimba ilmu. Kali ini, Ustadz Yusman membedah tema yang sangat dekat dengan keseharian kita: dosa lisan dan peliknya urusan minta maaf antar sesama manusia (Hablum Minannas). Berikut adalah poin-poin penting yang beliau sampaikan:  

1. Ternyata, Ada Ghibah yang Diperbolehkan? 
Ghibah (membicarakan aib orang lain) adalah dosa besar yang diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri. Namun, Ustadz Yusman menjelaskan bahwa dalam situasi darurat tertentu, syariat memperbolehkan kita menyebutkan keburukan orang lain untuk kemaslahatan, di antaranya:  

  • Melaporkan Kezaliman: 
  • Mengadukan orang yang berbuat zalim kepada hakim atau pihak berwenang.  Contoh Nyata (Memberi Peringatan): Jika ada oknum sales yang masuk ke lingkungan Gayam Permai dan terbukti melakukan penipuan, kita diperbolehkan menceritakan ciri-ciri dan modus orang tersebut di grup WhatsApp warga agar tetangga lain tidak menjadi korban. Ini bukan ghibah yang berdosa, melainkan perlindungan warga.  
  • Meminta Fatwa:  Menceritakan masalah kepada ulama untuk mendapatkan solusi hukum agama.  
  • Memberi Peringatan (Tahdzir): Memberitahu orang lain agar tidak tertipu oleh penjahat, pedagang yang curang, atau dalam urusan meminang jodoh agar tidak salah pilih.  
  • Meminta Bantuan: Menceritakan kemaksiatan seseorang agar orang lain bisa membantu mencegah atau mengubah kemaksiatan tersebut. Seorang istri menceritakan perilaku suaminya yang kurang baik kepada Pak Ustadz atau konselor pernikahan semata-mata untuk mencari solusi agama, bukan untuk merendahkan suami.  
MC Kita : Ananda Rahman Bin Lukman


2. Dilema: Sudah Minta Maaf tapi Tidak Dimaafkan  
Bagaimana jika kita sudah tulus mengakui kesalahan dan memohon maaf, namun orang tersebut menolak memaafkan? Ustadz Yusman memberikan ketenangan bagi jamaah: "Kewajiban kita adalah berikhtiar meminta maaf dengan cara yang baik. Jika ia menolak, maka urusan itu kembali kepada Allah," tutur beliau. 
Beliau menyarankan: Teruslah berbuat baik kepadanya tanpa mengharap balasan. Doakan kebaikan untuknya secara diam-diam. Jika pintu maaf tetap tertutup, serahkan kepada Allah. Allah Maha Tahu bahwa kita telah berusaha memperbaiki hubungan (Ishlah).  

3. Penyesalan Terlambat: Ingin Minta Maaf tapi Orang Tersebut Sudah Meninggal 
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul. Bagaimana cara menebus kesalahan kepada orang yang sudah wafat? Ustadz Yusman memberikan jalan keluar: Istighfar: Mintakan ampunan kepada Allah untuk orang tersebut sesering mungkin.  
  • Puji Kebaikan: Ceritakan kebaikan-kebaikan orang tersebut kepada orang lain untuk menutupi kesalahan kita di masa lalu.  
  • Sedekah Jariyah: Bersedekahlah atas nama orang tersebut. Pahalanya akan sampai kepadanya dan menjadi penebus kesalahan kita kelak di akhirat.  
  • Menyambung Silaturahmi: Berbuat baiklah kepada keluarga atau sahabat dekat almarhum/almarhumah sebagai bentuk penghormatan. 


Anda pernah memiliki perselisihan lama dengan seorang tetangga sesepuh di perumahan tentang batas tanah atau hutang piutang yang belum tuntas, namun beliau wafat sebelum Anda sempat berdamai. Solusi Ustadz Yusman:  
  1. Bayar Hutangnya: Jika ada urusan materi, temui ahli warisnya dan selesaikan.  
  2. Sedekah Atas Namanya: Masukkan uang ke kotak amal Masjid Al-Mu’minun dengan niat pahalanya untuk almarhum tetangga tersebut.  
  3. Puji Beliau: Saat kumpul warga, sebutkan kebaikan-kebaikan beliau di masa lalu untuk menghapus noda kesalahan yang pernah Anda sebarkan. 
Allah tidak akan mengampuni dosa antar manusia sebelum manusia itu saling memaafkan. Ustadz Yusman berpesan, "Jangan biarkan ego menghalangi kita untuk meminta maaf, dan jangan biarkan dendam menghalangi kita untuk memberi maaf. Selagi masih ada umur, mari kita bersihkan hati dari ganjalan sesama tetangga dan saudara."
Share:

Ulama Indonesia Yang Menjadi Imam Masjidil Haram

Jejak Ulama Nusantara di Masjidil Haram: Akar Perjuangan Muhammadiyah dan NU Gayam Permai, Banjarnegara – Ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun pada Senin malam, 2 Maret 2026 (tercatat dalam kalender kegiatan 2 Maret), menghadirkan materi sejarah yang sangat membanggakan. Bapak Bambang Budi memaparkan kejayaan ulama-ulama besar Nusantara yang tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi guru dan imam besar di pusat peradaban Islam, Masjidil Haram, Makkah. Sejarah ini menjadi penting karena dari rahim keilmuan Makkah inilah lahir organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). 


1. Tiga Pilar Ulama Nusantara di Makkah Bapak Bambang Budi menyebutkan tiga nama besar yang pernah menduduki posisi terhormat sebagai Imam Besar dan Guru di Masjidil Haram:  
  • Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama asal Banten yang dijuluki Sayyidul Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Beliau adalah penulis produktif yang kitab-kitabnya hingga kini masih dipelajari di seluruh dunia.  
  • Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Ulama besar asal Sumatera Barat yang menjadi Imam, Khatib, dan Guru Besar di Masjidil Haram. Beliau adalah ahli ilmu falak dan fiqh yang sangat dihormati.  
  • Syekh Junaid Al-Batawi: Ulama asal Betawi (Jakarta) yang menjadi poros keilmuan bagi para penuntut ilmu asal Nusantara di Makkah pada masanya. 
2. Mata Air Bagi Pendiri Muhammadiyah dan NU  
Poin menarik yang disampaikan Bapak Bambang Budi adalah kaitan erat para ulama tersebut dengan berdirinya dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Diketahui bahwa KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) adalah kawan seperguruan saat menuntut ilmu di Makkah. 
Keduanya sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi Al-Bantani. "Meskipun nantinya Muhammadiyah dan NU memiliki strategi dakwah yang berbeda, namun akarnya sama. Mereka minum dari sumber mata air ilmu yang sama di tanah suci," jelas beliau.  

3. Pesan Persatuan dan Kebanggaan 
Bapak Bambang Budi menekankan bahwa sejarah ini harus membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Ulama kita pernah menjadi "matahari" yang menyinari dunia Islam dari Makkah. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai senantiasa menjaga persatuan. Perbedaan organisasi (Muhammadiyah atau NU) hanyalah wasilah (sarana), sementara tujuannya tetap satu: meninggikan agama Allah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, persis seperti yang diajarkan para guru-guru mereka di Masjidil Haram. 
Sejarah ini membuat kita sadar bahwa Islam di Indonesia memiliki akar keilmuan yang sangat kuat dan diakui dunia. Di bulan Ramadhan ini, mari kita teladani semangat belajar para ulama terdahulu agar kita tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan kecil.
Share:

Masihkah Hati Kita Sejalan dengan Fitrah

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun pada Senin, 2 Maret 2026, membawa pesan mendalam bagi para jamaah. Bapak Lukman, AMd. dalam Kajian Subuh Ramadhan kali ini mengupas tuntas rahasia hati manusia dalam mengenali dan menerima kebenaran. Beliau menekankan bahwa setiap manusia pada dasarnya telah memiliki "kompas internal" yang menuntunnya pada kebaikan.  

1. Fitrah Sebagai Fondasi Kebenaran (QS. Ar-Rum: 30)  
Mengawali kajiannya, Bapak Lukman mengutip ayat yang sangat fundamental, yaitu QS. Ar-Rum ayat 30:  
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus..."  

Beliau menjelaskan bahwa Fitrah adalah kondisi asli manusia saat diciptakan—yakni cenderung kepada tauhid dan kebenaran. Kebenaran bukanlah hal asing bagi jiwa manusia; ia adalah sesuatu yang "cocok" dengan desain asli hati kita.  

2. Mengapa Hati Sulit Menerima Kebenaran?  
Meski memiliki fitrah, tidak semua manusia mudah menerima kebenaran. Bapak Lukman memaparkan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dijaga agar pintu hati tetap terbuka. Beliau merinci 10 Hal yang dapat mempengaruhi penerimaan kebenaran dalam diri seorang hamba (berikut poin-poin sarinya):  
  1. Kesucian Niat: Benarkah kita mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran atas keinginan kita?  
  2. Kerendahan Hati (Tawadhu): Lawan dari sombong. Hanya gelas yang kosong yang bisa diisi air.  
  3. Kekuatan Zikir: Hati yang berkarat karena jarang mengingat Allah akan sulit ditembus cahaya kebenaran.  
  4. Meninggalkan Fanatisme Buta: Tidak terpaku pada golongan atau pendapat pribadi jika terbukti ada dalil yang lebih kuat.  
  5. Menjaga Makanan yang Halal: Apa yang masuk ke perut sangat mempengaruhi kejernihan mata hati.  
  6. Kejujuran pada Diri Sendiri: Berani mengakui kesalahan saat diingatkan.  
  7. Lingkungan yang Shalih: Berteman dengan orang-orang yang mencintai kebenaran akan memperkuat fitrah kita.  
  8. Ketekunan dalam Menuntut Ilmu: Kebenaran seringkali tertutup oleh kebodohan (jahl). 
  9. Doa Memohon Petunjuk: Merasa butuh pada hidayah Allah setiap saat.  
  10. Pengamalan Ilmu: Ilmu yang diamalkan akan mengundang cahaya kebenaran yang lebih besar lagi.  

Bapak Lukman, AMd. berpesan agar di bulan Ramadhan ini, kita sering-sering ber-muhasabah (evaluasi diri). Apakah hati kita sudah cukup lunak untuk menerima nasihat? Atau justru ego kita yang lebih dominan? "Kebenaran itu seperti cahaya matahari," ujar beliau. "Ia tidak akan masuk ke dalam ruangan yang jendelanya tertutup rapat oleh debu kesombongan. Mari kita bersihkan jendela hati kita di bulan suci ini."



Share:

Kisah Rasulullah dan Pengemis Yahudi

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-14 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun diisi dengan tetesan air mata haru. Bapak Nurkholis menyampaikan tausiyah tentang Suri Tauladan Rasulullah ﷺ, dengan mengangkat satu kisah luar biasa yang menjadi bukti nyata mengapa Nabi Muhammad ﷺ diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. 


1. Sosok Pengemis Buta di Sudut Pasar  
Bapak Nurkholis menceritakan tentang seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari duduk di sudut pasar Madinah. Mulut pengemis itu tak henti-hentinya berteriak kepada setiap orang yang lewat: "Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Dia itu orang gila, dia pembohong, dia tukang sihir. Hindarilah dia!"  

2. Suapan Kasih dalam Diam  
Meski dihina setiap hari, Rasulullah ﷺ justru mendatanginya setiap pagi. Tanpa sepatah kata pun keberatan, beliau membawa makanan, melembutkannya dengan tangan beliau sendiri, lalu menyuapkannya ke mulut si pengemis dengan penuh kelembutan. Nabi ﷺ melakukan ini secara rutin hingga akhir hayat beliau, tanpa pernah sekalipun memberi tahu siapa identitas beliau yang sebenarnya kepada si pengemis.  


3. Protes Sang Pengemis kepada Sayyidina Umar  
Setelah Rasulullah ﷺ wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada Aisyah RA tentang sunnah Nabi yang belum beliau kerjakan. Aisyah menceritakan tentang pengemis buta tersebut. Maka, pergilah Abu Bakar (atau dalam beberapa riwayat disebutkan Umar bin Khattab) untuk menggantikan peran Nabi menyuapi pengemis itu. Namun, baru saja suapan pertama masuk, si pengemis langsung memprotes dengan kasar:  
"Siapa kamu?! Kamu bukan orang yang biasa menyuapiku!" Sahabat tersebut terkejut dan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?" Si pengemis menjawab, "Orang yang biasa datang kepadaku, suapannya sangat lembut. Ia menghaluskan makanan itu terlebih dahulu dengan tangannya sebelum diberikan kepadaku. Ia memperlakukanku dengan sangat mulia."  

4. Tangis yang Membawa Hidayah  
Dengan suara bergetar, sahabat Nabi itu menangis dan berkata, "Ketahuilah, aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa menyuapimu itu telah wafat. Dialah Muhammad Rasulullah ﷺ, orang yang selama ini setiap hari kamu hina dan kamu fitnah di pasar ini." Seketika pengemis itu tertegun dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka bahwa tangan yang paling lembut menyuapinya adalah tangan orang yang paling ia benci. Saat itu juga, ia bersyahadat dan masuk Islam karena takjub akan keagungan akhlak sang Nabi. 

 "Rasulullah tidak membalas makian dengan makian, tapi membalas kebencian dengan kelembutan." Di bulan Ramadhan ini, mari kita evaluasi diri: Bagaimana cara kita memperlakukan orang yang tidak menyukai kita? 

Sudahkah kita mencontoh sifat pemaaf sang Nabi di lingkungan bertetangga kita? Semoga kisah ini menjadikan kita pribadi yang lebih sabar dan mampu menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman hidup sehari-hari.

Share:

Kita Hanya Musafir: Membedah 5 Alam Perjalanan Manusia

Menelusuri Peta Perjalanan Kita: Dari Alam Roh hingga Kekekalan di Akhirat Gayam Permai, Banjarnegara – Masjid Al-Mu’minun kembali menjadi pusat ilmu pada pagi Ramadhan yang sejuk, 1 Maret 2026. Ustadz Susianto membawakan materi yang sangat menggugah kesadaran tentang hakikat eksistensi kita dalam tema: "Perjalanan Panjang Manusia: Dari Alam Roh Menuju Alam Akhirat."  
Beliau memaparkan bahwa hidup bukan sekadar di dunia, melainkan sebuah perjalanan melalui beberapa alam: 

1. Alam Roh: 
Titik Awal dan Perjanjian Suci Sebelum jasad kita tercipta, roh kita telah ada. Ustadz Susianto mengutip QS. Al-Isra: 85 yang menegaskan bahwa urusan roh adalah rahasia Allah dan manusia hanya diberi ilmu sedikit tentangnya. Di alam ini, terjadi perjanjian besar antara Allah dan setiap roh manusia. Sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 172, Allah bertanya, "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" dan semua roh menjawab, "Benar (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi." Inilah fitrah ketauhidan yang dibawa setiap manusia sejak lahir. 

2. Alam Rahim: 
Keajaiban Penciptaan Perjalanan berlanjut ke alam rahim. Ustadz Susianto membedah QS. Al-Mu’minun: 12-14 yang menjelaskan tahapan menakjubkan penciptaan manusia: dari saripati tanah, menjadi nutfah, segumpal darah ('alaqah), segumpal daging (mudghah), tulang belulang, hingga dibungkus dengan daging dan ditiupkan roh. Beliau juga membandingkan proses ini dengan penciptaan Nabi Adam AS yang langsung diciptakan dari tanah sebagai nenek moyang manusia, menunjukkan kemahakuasaan Allah dalam menciptakan kehidupan.  

3. Alam Dunia: 
Tempat Ujian dan Tugas Utama Dunia adalah persinggahan sementara yang penuh jebakan. Beliau mengingatkan beberapa risiko di alam ini: Sifat Lupa: Mengutip QS. Al-Hasyr: 19, jangan sampai kita menjadi orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan kita lupa pada diri sendiri. Pengaruh Setan: Dalam QS. Al-Mujadilah: 19, dijelaskan bagaimana setan berusaha menguasai manusia agar melupakan zikir kepada Allah. Namun, Allah tidak membiarkan kita tersesat. Melalui QS. Al-Ahzab: 7, Allah mengutus para Nabi dan Rasul untuk menuntun manusia kembali kepada tugas utamanya sebagai Hamba Allah. Nasihat utama bagi kita di akhir zaman agar selamat adalah: Berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadits.  

4. Alam Kubur (Barzakh): 
Pintu Gerbang Akhirat Setelah kematian, manusia memasuki Alam Barzakh. Ini adalah terminal antara dunia dan akhirat. Di sini, amal ibadah selama di dunia akan menjadi teman atau justru menjadi beban yang menyiksa.  

5. Surga: 
Muara Perjalanan yang Bahagia Puncak dari perjalanan ini adalah kehidupan kekal di akhirat. Bagi mereka yang menjaga perjanjiannya di Alam Roh, menjaga amanahnya di Alam Dunia, dan selamat di Alam Kubur, maka Surga adalah tempat kembali yang abadi tempat di mana tidak ada lagi kesedihan maupun keletihan. Refleksi untuk Warga Gayam Permai Ustadz Susianto berpesan, "Kita adalah musafir. Jangan sampai terlalu sibuk menghias tempat persinggahan (dunia), namun lupa mempersiapkan bekal untuk tujuan akhir (akhirat)." Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai momentum untuk memperkuat pegangan kita pada Al-Qur'an dan Hadits agar perjalanan panjang kita berakhir dengan manis di Surga-Nya.
Share:

Jangan Buru-buru Salam!

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-13 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan bekal spiritual yang luar biasa. Pada Jumat malam, 28 Februari 2026, Bapak Panggung Sutopo dalam ceramah tarawihnya membagikan sebuah "ijazah" doa yang sangat ditekankan oleh Rasulullah ﷺ untuk dibaca sebelum kita mengakhiri shalat dengan salam. 
Doa ini bukan sekadar bacaan tambahan, melainkan benteng perlindungan dari empat fitnah atau ujian terbesar bagi setiap manusia.

  
1. Pentingnya Doa Sebelum Salam 
Bapak Panggung Sutopo menjelaskan bahwa waktu antara Tasyahud Akhir dan Salam adalah salah satu waktu yang paling mustajab untuk berdoa. Rasulullah ﷺ sangat menganjurkan kita untuk memohon perlindungan kepada Allah dari empat perkara yang bisa mencelakakan kita di dunia maupun di akhirat.  

2. Membedah Empat Perlindungan Utama  
Dalam ceramahnya, beliau merinci doa tersebut yang mencakup: 
  • Berlindung dari Adzab Jahanam: Memohon agar kita dijauhkan dari siksa api neraka yang amat pedih.  
  • Berlindung dari Adzab Kubur: Mengingat bahwa alam kubur adalah persinggahan pertama menuju akhirat yang penuh dengan ujian.  
  • Berlindung dari Fitnah Kehidupan dan Kematian: Memohon ketetapan iman agar tidak tergiur kemaksiatan saat hidup, dan diberikan husnul khatimah saat ajal menjemput.  
  • Berlindung dari Fitnah Al-Masih Ad-Dajjal: Perlindungan dari puncak fitnah akhir zaman yang sangat menyesatkan umat manusia.  

3. Teks Doa yang Diijazahkan Beliau mengajak seluruh jamaah untuk menghafal dan mendawamkan doa berikut ini sebelum salam:   

"Allahumma inni a’udzu bika min ‘adzabi jahannam, wa min ‘adzabil qabri, wa min fitnatil mahya wal mamati, wa min syarri fitnatil masihid dajjal."  

Artinya: "Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari azab neraka Jahanam, dari azab kubur, dari fitnah kehidupan dan kematian, dan dari keburukan fitnah Al-Masih Ad-Dajjal." (HR. Muslim).  

Bapak Panggung Sutopo berpesan agar kita tidak terburu-buru melakukan salam saat shalat. Luangkan waktu sejenak untuk membaca doa ini dengan penuh penghayatan. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang penuh fitnah saat ini, doa inilah yang akan menjadi penjaga iman kita. Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum untuk memperbaiki kualitas shalat kita, dimulai dengan menjaga "benteng terakhir" sebelum salam.



Share:

Jalur Tedekat Menuju Surga

Bp. Eko Sadino
Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-12 Ramadhan 1447 H, Kamis malam, 27 Februari 2026, Ceramah Tarawih bersama Bapak Eko Sadino menyampaikan tausiyah yang mengingatkan kita kembali pada akar keberkahan hidup, yaitu Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain). 
Di tengah kesibukan mengejar pahala ibadah Ramadhan, kita sering lupa bahwa ada pintu surga yang paling dekat namun sering terabaikan, yakni rida kedua orang tua kita. 

1. Perintah Allah yang Mutlak (QS. Al-Isra: 23) 
Bapak Eko Sadino membuka ceramahnya dengan membacakan QS. Al-Isra ayat 23, yang menempatkan perintah berbakti kepada orang tua langsung setelah perintah menyembah Allah. 

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
 
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra: 23

 Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan kewajiban mutlak bagi setiap muslim. 

2. Kunci Keberkahan: Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua 
Beliau menekankan sebuah prinsip fundamental dalam Islam: keberhasilan, kemudahan rezeki, dan keselamatan hidup kita berbanding lurus dengan rida orang tua kita.  

Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi) 
"Jangan harap hidup akan berkah jika kita masih sering membuat orang tua kita sedih atau sakit hati," tegas Bapak Eko Sadino. 

3. Cara Nyata Berbakti (Birrul Walidain)  
Sebagai panduan praktis bagi warga Gayam Permai, beliau memaparkan beberapa cara untuk berbakti, baik saat orang tua masih ada maupun sudah tiada:  
  • Berbicara Sopan dan Merendahkan Diri: Tidak membentak dan memperlakukan mereka dengan penuh penghormatan.  
  • Mendoakan dan Memohon Ampun: Rutin mendoakan agar Allah merahmatinya sebagaimana mereka merawat kita di waktu kecil.  
  • Menjaga Kehormatan Mereka: Tidak mengumbar aib orang tua dan selalu menjaga nama baik mereka.  
  • Bersedekah Atas Nama Orang Tua: Memberikan sedekah dengan niat pahalanya mengalir untuk orang tua, terutama jika mereka sudah wafat.  
  • Menafkahi dan Merawat di Usia Senja: Memberikan nafkah materi dan merawat mereka dengan sabar saat mereka sudah tidak berdaya. 

Untuk Warga Gayam Permai Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulihkan hubungan dengan orang tua. Jika mereka masih ada, peluklah mereka, mintalah maaf, dan layani mereka. Jika mereka sudah tiada, jadikanlah setiap sujud kita sebagai sarana mengirim doa terbaik untuk mereka.





Share:

Dua Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan Manusia

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan, Masjid Al-Mu’minun pada hari ke-11 Ramadhan 1447 H, bertepatan dengan tanggal 27 Februari 2026. Ustadz Jundi hadir memberikan untaian ilmu yang sangat relevan bagi kita yang sedang berjuang menyucikan diri di bulan suci ini. Berikut adalah sari pati kajian yang beliau sampaikan: 

1. Rasa "Ganjal" di Hati: Tanda Iman Masih Hidup 
Ustadz Jundi mengingatkan bahwa setiap mukmin memiliki sebuah perangkat canggih yang diberikan Allah secara cuma-cuma, yaitu nurani atau "alarm hati". "Setiap keburukan atau kemaksiatan pasti menyisakan rasa mengganjal di hati. Jika Anda merasa tidak tenang setelah berbuat salah, itu adalah nikmat besar. Artinya, iman Anda masih hidup dan Allah sedang memanggil Anda untuk segera pulang (bertaubat)," jelas beliau. 

2. Waspada: Dua Nikmat yang Sering Menipu 
Salah satu poin penting yang beliau tekankan adalah tentang dua hal yang seringkali tidak disyukuri secara maksimal hingga keduanya hilang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ: "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari). Ustadz Jundi mengajak warga Gayam Permai untuk memanfaatkan masa sehat dan waktu luang di bulan Ramadhan ini untuk beribadah, sebelum datang masa sakit atau masa sibuk yang menghalangi kita dari ketaatan.  

3. Samudra Ampunan Allah Tanpa Batas Beliau juga membakar semangat jamaah dengan mengingatkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Allah telah menyediakan "pembersih dosa otomatis" melalui rutinitas ibadah kita. 
 "Antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).  

4. Senjata Utama: Doa-Doa Pilihan 
Di akhir kajian, Ustadz Jundi memberikan ijazah doa agar kita konsisten dalam kebaikan: 

Doa Memohon Kekuatan Beribadah: 
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu). 

 Doa Memohon Ilmu dan Rezeki: 
 Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan. 
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima). 

Akhir Kajian Subuh ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menunda-nunda amal shalih. Selagi badan masih sehat dan waktu luang masih tersedia di bulan Ramadhan, mari kita perbanyak doa dan taubat. Semoga kita termasuk orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan ini dalam keadaan bersih dari dosa.
Dipandu oleh MC : Rahman Bin Lukman



Share:

Shalat Sebagai Penolong

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan Masjid Al-Mu’minun pada Jumat, 27 Februari 2026 bersama Bp. Lukman Jarir.
Selain berada di bulan suci Ramadhan, hari ini bertepatan dengan Sayyidul Ayyam (Penghulunya Hari), yakni hari Jumat. Mengawali kajiannya, Ustadz Ir. Lukman Jarir mengingatkan para jamaah akan besarnya pelipatgandaan pahala di hari Jumat, terlebih ketika berada di dalam bulan Ramadhan. 
Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk tidak menyia-nyiakan momentum emas ini dengan meningkatkan kualitas ibadah, terutama ibadah yang paling utama: Shalat. 

Apa Itu Shalat? 
Sebelum membahas manfaatnya, Ustadz Lukman Jarir menjelaskan makna shalat dari dua sudut pandang:  
Secara Bahasa: 
Shalat berarti Doa. Ini menunjukkan bahwa setiap gerakan dan bacaan dalam shalat pada hakikatnya adalah permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta. 
Secara Istilah (Syariat): Shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu, yang diawali dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan Salam. 

 "Shalat bukan sekadar rutinitas fisik atau olahraga, melainkan bentuk penghambaan total dan komunikasi ruhani antara makhluk dengan Allah SWT," tegas beliau. 

1. Shalat: Perintah Langsung di Sidratul Muntaha  
Ustadz Lukman menekankan keistimewaan shalat dibandingkan ibadah lainnya. Jika zakat, puasa, dan haji diturunkan melalui malaikat Jibril di bumi, maka perintah shalat diterima langsung oleh Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha saat peristiwa Isra Mi’raj. Ini menandakan bahwa shalat adalah tiang agama yang kedudukannya sangat krusial.  
2. Shalat sebagai Penolong (QS. Al-Baqarah: 153) 
Mengutip ayat Al-Qur'an, beliau menjelaskan bahwa shalat adalah kebutuhan manusia untuk mendapatkan kekuatan hidup. 

 “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). 

Saat masalah terasa berat, shalatlah yang menjadi tempat "istirahat" dan sarana memohon bantuan langsung kepada Pemilik Alam Semesta.  

3. Keseimbangan dalam Shalat: Kunci Kesempurnaan 
Agar shalat berbuah manfaat, ia harus dilakukan sesuai syarat dan rukun secara proporsional. Ustadz Lukman membagi kesempurnaan shalat menjadi tiga bagian setara (masing-masing 1/3): 
1/3 Bersuci (Thaharah): Shalat tidak akan diterima tanpa kesempurnaan wudhu dan kesucian lahiriah. 
1/3 Ruku’: Menandakan ketundukan dan pengakuan atas keagungan Allah.  
1/3 Sujud: Saat manusia berada di titik terendah secara fisik, namun secara spiritual berada di posisi paling dekat dengan Allah. 

4. Shalat sebagai Barometer Amal Lainnya 
Pesan penutup yang paling kuat adalah posisi shalat sebagai penentu. Di padang Mahsyar kelak, amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat. "Shalat adalah barometer," tegas Ustadz Lukman. Jika shalatnya baik (sesuai rukun dan khusyuk), maka amalan lainnya akan dianggap baik. Jika shalatnya rusak, maka amalan lain akan sulit untuk menolong. 

Di hari Jumat yang berkah ini, mari kita perbaiki cara kita shalat. Mari kita jadikan shalat sebagai "kebutuhan" untuk tenang, bukan "beban" yang ingin cepat diselesaikan. Semoga dengan benarnya shalat kita, maka keberkahan hidup di lingkungan Perumahan Gayam Permai semakin melimpah.





Share:

Sombong: Penyakit Hati yang Menghalangi Pintu Surga

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-11 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun terasa begitu khidmat. Pada Kamis malam, 26 Februari 2026, Bapak Idit Hernowo menyampaikan materi ceramah tarawih yang sangat mendalam tentang salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu Sombong (Kibr). Peringatan ini bukan tanpa alasan, sebab Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits: 

 "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim). 

Lantas, bagaimana cara kita mendeteksi dan mengobatinya? Berikut adalah tiga poin utama yang disampaikan beliau: 

1. Berani Mengakui Kebenaran 
Bapak Idit Hernowo menekankan bahwa sombong bukan soal pakaian bagus atau kendaraan mewah, melainkan sikap mental. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Nabi ﷺ: 

 "Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun naas)." (HR. Muslim). 

Seringkali ego kita menghalangi kita untuk menerima masukan jika datangnya dari orang yang kita anggap "lebih rendah". Orang yang rendah hati (tawadhu) adalah mereka yang siap tunduk pada kebenaran, siapapun yang membawanya.  

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain 
Cikal bakal kesombongan adalah merasa lebih baik dari orang lain. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai menjaga hati dari perasaan "lebih suci". Ingatlah firman Allah SWT: 

 “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). 

Membandingkan diri hanya akan melahirkan rasa bangga diri (ujub). Padahal, setiap kelebihan hanyalah titipan. Orang yang tawadhu justru akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana hadits: "Tidaklah seseorang tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim). 

3. Perbanyak Zikir sebagai Penawar 
Sebagai "obat", Bapak Idit mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir. Dengan mengagungkan Allah, kita sadar bahwa hanya Allah yang berhak memiliki sifat Al-Mutakabbir (Maha Megah/Sombong). Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: 

 "Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mencabutnya salah satu dari keduanya dariku, maka Aku akan menyiksanya." (HR. Muslim). 

Zikir membuat kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang kecil, sehingga tak ada lagi alasan untuk membusungkan dada di hadapan sesama tetangga maupun di hadapan Allah. 
Semua Ramadhan adalah momen terbaik untuk "diet" ego. Mari kita buka diri pada kebenaran, hargai setiap perbedaan tanpa membandingkan, dan basahi lisan kita dengan zikir agar kesombongan tidak punya tempat di hati kita.
Share:

Ramadhan Datang, Tapi Hati Tak Tersentuh?

Kajian Subuh Ramadhan, 25 Feb 2025 bersama Ustadz Rakhmad
Ramadhan kembali menyapa. Masjid-masjid penuh. Lantunan ayat suci terdengar di mana-mana. Media sosial dipenuhi nasihat dan pengingat kebaikan. Namun ada satu pertanyaan yang diam-diam perlu kita ajukan pada diri sendiri: Apakah hati kita ikut hadir, atau hanya tubuh kita yang menjalani rutinitas?  
Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah momentum perubahan jiwa. Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Artinya, suasana sudah Allah kondisikan agar manusia lebih mudah berbuat baik. 
Lalu jika di bulan semudah ini kita masih sulit meninggalkan maksiat, masih berat melangkah ke masjid, masih enggan membuka Al-Qur’an maka persoalannya bukan pada Ramadhan. Bisa jadi, persoalannya ada pada hati. Ramadhan adalah musim panen. Orang-orang beriman memanfaatkannya untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, menguatkan sedekah, dan membersihkan niat. Mereka sadar, belum tentu tahun depan masih bertemu bulan yang sama.  
Ustadz Rakhmat dalam Kajian Subuh Ramadhan mengingatkan: “Jika kita tidak mendapatkan kebaikan di bulan Ramadhan, seakan-akan kita tertutup dari kebaikan.” Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menggugah. Karena jika di bulan penuh rahmat saja kita tidak tersentuh, kapan lagi hati ini akan luluh?  
Ramadhan adalah cermin. Ia memperlihatkan kondisi hati kita yang sebenarnya. Jika hati lembut, ia akan menangis saat membaca Al-Qur’an. Jika hati hidup, ia akan gelisah ketika lalai. Namun jika hati keras, Ramadhan hanya akan berlalu seperti bulan-bulan biasa. Maka jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi tradisi tahunan. Jadikan ia titik balik. Mulailah dari hal kecil: satu halaman Al-Qur’an setiap hari, satu sedekah sederhana, satu dosa yang benar-benar ditinggalkan. Karena Ramadhan tidak pernah salah. Yang perlu diperiksa adalah kesiapan hati kita menyambutnya. Semoga kita bukan hanya orang yang menjalani Ramadhan, tetapi orang yang diubah oleh Ramadhan.
Share:

Gallery Ramadhan Hari ke-2

Kajian Tarawih

Kajian Subuh
Share:

Mengenal Sang "Penjaga Gerbang" Sabda Rasulullah ﷺ

Kultum Tarawih, 25 Feb 2026 bersama Bp. Sarastiana
Pernahkah kita sejenak membayangkan, bagaimana jadinya Islam hari ini jika Allah tidak mengirimkan sosok seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim? Mungkin hari ini agama kita akan dipenuhi dengan dongeng-dongeng palsu. Mungkin kita tidak akan tahu bagaimana tata cara shalat yang benar, karena petunjuknya telah bercampur aduk dengan tradisi yang mengada-ada atau hadits-hadits palsu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dua sosok luar biasa ini mendedikasikan seluruh hidup, harta, dan masa muda mereka bukan untuk mengejar jabatan dunia. Mereka memilih jalan yang sunyi namun mulia: menjadi "Penjaga Gerbang" sabda Rasulullah ﷺ. 
Pengorbanan yang Melampaui Batas 
Tahukah kita? Mereka berdua bukanlah orang Arab. Imam Bukhari berasal dari Uzbekistan dan Imam Muslim dari Persia (Iran). Namun, kecintaan mereka pada Nabi ﷺ melampaui siapapun. Dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala, dikisahkan betapa mereka rela berjalan ribuan kilometer, menembus badai gurun yang panas dan dinginnya malam yang menusuk tulang, hanya untuk memungut satu kalimat: "Rasulullah bersabda..." Mereka tidak asal catat. 
Mereka teliti siapa yang bicara, bagaimana hafalannya, hingga bagaimana kejujurannya. Jika ada satu perawi yang pernah berbohong meski hanya sekali dalam urusan dunia, mereka tidak akan mengambil hadits darinya. Begitulah cara mereka menjaga kemurnian agama ini. 



Adab dan Kecintaan antar Ulama
 Ada sebuah kisah menyentuh dalam Muqaddimah Shahih Muslim. Imam Muslim sangat mengagumi gurunya, Imam Bukhari. Suatu ketika, Imam Muslim mendatangi Imam Bukhari, mencium keningnya, dan berkata: "Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru dan pemuka para ahli hadits." Inilah potret para pahlawan kita. Mereka tidak saling menjatuhkan, tapi saling memuliakan demi satu tujuan: 
Menjaga warisan Nabi. Apa Pelajaran bagi Kita? Hadirin sekalian, sebagai warga Gayam Permai yang hidup di zaman serba mudah ini, apa yang bisa kita teladani? 
Hormati Ilmu dan Ulama: Jika mereka rela jalan ribuan kilo untuk satu hadits, maka janganlah kita malas untuk melangkah ke masjid menghadiri kajian. 
Saring Sebelum Sharing: Di zaman medsos ini, banyak hadits palsu bertebaran. Mari kita pastikan setiap amalan kita bersumber dari referensi yang valid, minimal merujuk pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. 
Cintai Rasulullah dengan Benar: Mencintai Nabi berarti mencintai dan menjaga pesan-pesan yang beliau tinggalkan. 
Maka, sudah sepantasnya hati ini menaruh hormat setinggi-tingginya kepada para penjaga hadits. Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan semoga kelak kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Al-Kautsar bersama Rasulullah ﷺ. 
Aamiin. 

PROFIL PENJAGA GERBANG SUNNAH: IMAM BUKHARI 

"Aku tidak memasukkan satu hadits pun ke dalam kitab Al-Jami' (Shahih Bukhari) kecuali aku mandi dan salat dua rakaat terlebih dahulu." 

Nama Lengkap: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. 
Gelar: Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam urusan hadits). 
Lahir: 13 Syawal 194 H di Bukhara, Uzbekistan. 
Keistimewaan Sejak Kecil: Yatim sejak kecil namun dididik oleh ibu yang sangat shalihah. 
Pernah mengalami kebutaan saat kecil, namun sembuh setelah ibunya terus-menerus berdoa kepada Allah. 
Hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih beserta silsilah perawinya. 
Karya Monumental: Al-Jami' as-Shahih (Shahih Bukhari). 
Disusun selama 16 tahun.  
Menyaring dari 600.000 hadits yang beliau kumpulkan, hingga terpilih sekitar 7.000-an hadits (dengan pengulangan) yang benar-benar murni dan sangat shahih.  
Ujian Hidup: Di akhir hayatnya, beliau mengalami fitnah dan pengusiran dari tanah kelahirannya, namun beliau tetap sabar dan tidak pernah mencaci orang yang mendzaliminya.  
Wafat: Malam Idul Fitri tahun 256 H (Usia 62 tahun) di sebuah desa dekat Samarkand. 

Fakta Menarik untuk Jamaah: 
Imam Bukhari memiliki daya ingat yang fotogenik. Pernah di Baghdad beliau diuji oleh 10 ulama yang membacakan 100 hadits yang sengaja ditukar-tukar silsilahnya (sanad-nya). Imam Bukhari mampu mengembalikan setiap sanad ke matan (isi hadits) yang benar tanpa satu pun kesalahan. Inilah cara Allah menjaga agama ini melalui otak manusia yang luar biasa.


Refleksi
Sang Penjaga Gerbang Sabda Kisah Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah perjalanan dedikasi total manusia terhadap kebenaran. Perjuangan Fisik: Mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer (Uzbekistan & Persia menuju Jazirah Arab) di zaman tanpa kendaraan modern demi memastikan keaslian satu kalimat dari Rasulullah ﷺ. 
Integritas Ilmiah: Mengorbankan harta, waktu muda, dan tenaga untuk menyaring ratusan ribu hadits agar umat Islam tidak tersesat oleh riwayat palsu. 
Adab yang Tinggi: Meskipun keduanya ulama besar, mereka menunjukkan adab luar biasa—Imam Muslim sangat menghormati Imam Bukhari sebagai gurunya, mengajarkan kita bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa rasa hormat. 

Refleksi untuk Kita Hari Ini 
1. Menghargai "Kepastian" dalam Beragama Hari ini kita bisa shalat, zakat, dan puasa dengan tata cara yang jelas karena jasa mereka. 
Refleksinya: Masih pantaskah kita malas mempelajari agama, sementara mereka sudah "berdarah-darah" menyediakan referensi yang valid untuk kita? 
2. Integritas di Era Informasi (Saring Sebelum Sharing) Imam Bukhari sangat teliti; jika seorang perawi pernah berbohong sekali saja, riwayatnya ditolak. 
Refleksinya: Di zaman hoax dan media sosial, kita harus meneladani ketelitian mereka. Jangan menyebarkan informasi (terutama urusan agama) yang belum jelas sumber shahihnya.  
3. Ilmu yang Melampaui Batas Geografis Mereka bukan orang Arab, tapi mereka adalah pilar utama agama Islam. 
Refleksinya: Islam adalah milik siapa saja yang mencintainya. Tidak peduli kita orang mana atau tinggal di perumahan mana (seperti di Gayam Permai), kita semua punya kesempatan untuk berkontribusi bagi Islam sesuai bidang kita masing-masing.  
4. Pentingnya Dukungan Keluarga (Ibu Imam Bukhari) Keberhasilan Imam Bukhari tak lepas dari doa ibunya yang pantang menyerah saat beliau buta. 
Refleksinya: Peran orang tua (khususnya Ibu) dalam mendoakan dan mendukung pendidikan anak adalah investasi terbaik untuk melahirkan generasi "penjaga gerbang" Islam masa depan.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget