I'tikaf

Catatan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Masjid Al-Mu'minun – 
Gayam Permai, Banjarnegara Ramadhan kini telah memasuki fase puncaknya. Di sepuluh hari terakhir ini, ada satu ibadah yang menjadi "khas" dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW, yaitu I'tikaf. Bagi kita yang mendambakan kemuliaan malam Lailatul Qadar, I'tikaf adalah sarana terbaik untuk mengkondisikan hati dan jiwa. Berikut adalah ringkasan materi Kajian Subuh (10 Maret 2026) mengenai hakikat dan dalil pelaksanaan I'tikaf.  

Apa itu I'tikaf? 
Secara syar'i, I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Ustadz Yusman, S.H.I. menjelaskan bahwa esensi I'tikaf adalah "memenjarakan diri dalam ketaatan". Kita melepaskan sejenak hiruk-pikuk dunia, gadget, dan urusan pekerjaan untuk fokus total menghamba kepada Sang Pencipta.  
Landasan Hukum (Dalil) I'tikaf Ibadah I'tikaf memiliki landasan yang sangat kuat, baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits: Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 187: Allah SWT menyebutkan syariat ini secara eksplisit: 
 "...tetapi jangan kamu campuri mereka, sedang kamu beriktikaf dalam masjid..." 
Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat utama pelaksanaan I'tikaf. Hadits Riwayat Bukhari & Muslim: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: 
 "Bahwasanya Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah SWT.

 Ini menunjukkan bahwa I'tikaf adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi hingga akhir hayat beliau. Tips Menjalankan I'tikaf yang Berkualitas Agar I'tikaf kita di Masjid Al-Mu'minun atau masjid lainnya tidak sekadar pindah tidur, perhatikan hal berikut:  
Luruskan Niat: Niatkan semata-mata karena Allah untuk mencari keridaan-Nya.  
Perbanyak Tadabbur: Gunakan waktu untuk membaca Al-Qur'an beserta maknanya.  
Kurangi Interaksi Duniawi: Batasi penggunaan ponsel kecuali untuk hal yang sangat darurat.  
Muhasabah Diri: Gunakan kesunyian malam untuk bertaubat dan merencanakan perbaikan diri setelah Ramadhan. 

I'tikaf adalah cara kita "menjemput" bola. Kita tidak tahu kapan Lailatul Qadar turun, namun dengan berada di rumah Allah dalam keadaan beribadah, peluang kita untuk mendapatkannya tentu jauh lebih besar. Semoga di sisa Ramadhan 1447 H ini, Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan I'tikaf dengan khusyuk dan mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Amin.
Share:

Pintu Rezeki

Dalam ceramahnya yang bertema "Membuka Pintu-Pintu Rezeki", Bp. Eko Sadino mengajak jamaah untuk merenungkan makna rezeki sesungguhnya dan bagaimana menggapainya dengan cara yang diridhai Allah SWT. Beliau menekankan bahwa rezeki bukan sekadar tumpukan harta benda, tetapi juga mencakup kesehatan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti menginginkan kecukupan dan keberkahan dalam rizkinya. Seringkali kita mengartikan rezeki hanya sebatas materi atau uang, padahal rezeki Allah itu sangat luas; meliputi kesehatan, kedamaian hati, keluarga yang harmonis, hingga kesempatan untuk berbuat baik. Sebagai seorang Muslim, kita memahami bahwa rezeki sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT. Namun, Allah juga memerintahkan kita untuk berikhtiar. Ikhtiar tidak hanya berupa kerja keras secara fisik (ikhtiar bumi), tetapi juga perlu dibarengi dengan ikhtiar batin (ikhtiar langit).  
Rasulullah SAW dan Al-Qur'an telah memberikan panduan lengkap tentang bagaimana cara "mengetuk pintu langit" agar rezeki mengalir deras dan penuh berkah. Berikut adalah empat jalan utama yang patut kita amalkan secara rutin: 
 
1. Bangun di Sepertiga Malam:  
Keajaiban Sholat Tahajud Jalan pertama untuk mengundang keridhaan Allah dan luasnya rezeki adalah melalui Sholat Malam atau Tahajud. Saat sebagian besar manusia terlelap, inilah waktu yang paling mustajab untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' ayat 79: 
 "Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' : 79) 

Ayat ini menjanjikan "Maqaman Mahmuda" (kedudukan yang terpuji) bagi mereka yang ahli tahajud. Kedudukan ini bukan hanya di akhirat, tetapi juga kemuliaan di dunia. Ketika Allah sudah memuliakan seorang hamba, maka segala urusannya termasuk urusan rezeki akan dimudahkan. Sholat tahajud adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan meminta petunjuk, sehingga rezeki yang datang adalah rezeki yang membawa ketenangan dan keberkahan.  

2. Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur  
Waktu sahur (waktu menjelang subuh) adalah waktu yang sangat istimewa. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia dan berjanji akan mengabulkan doa hambanya. Salah satu amalan terbaik di waktu ini adalah beristighfar, memohon ampunan Allah. Sebagaimana firman Allah: 

 "Dan (juga) mereka yang meminta ampun di waktu sahur." (QS. Ali 'Imran: 17) 

Seringkali, dosa-dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan menjadi penghalang datangnya rezeki. Dengan beristighfar, kita sedang membersihkan penghalang tersebut. Istighfar yang tulus bukan sekadar lisan, tapi penyesalan dari hati.  
Keutamaan istighfar juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang melazimkan istighfar, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelaparan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.  

3. Rutin Bersedekah:  
Sedekah Tidak Mengurangi Harta Ini adalah rumus langit yang sering kali dianggap tidak logis oleh kacamata manusia, namun sangat nyata bagi mereka yang beriman. Secara kasat mata, bersedekah terlihat seperti mengurangi jumlah harta yang kita miliki. Namun, Allah menjanjikan hal yang sebaliknya: sedekah justru melipatgandakan harta. Rasulullah SAW bersabda:  
"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)  
Janji Allah juga sangat jelas dalam Al-Qur'an, di mana setiap satu kebaikan (termasuk sedekah) akan dibalas dengan sepuluh kali lipat bahkan lebih. Sedekah tidak harus menunggu kita kaya. Sedekah bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan sempit maupun lapang, dan dalam bentuk apa saja (tidak melulu uang). Rutin bersedekah, bahkan dalam jumlah kecil namun konsisten, akan menanamkan rasa syukur dan membersihkan harta kita. Keberkahan inilah yang membuat harta terasa cukup dan mendatangkan rezeki-rezeki lain yang tak terduga.
  
4. Menjalin dan Menjaga Silaturahmi  
Jalan keempat yang sangat dianjurkan adalah silaturahmi, yaitu menjalin dan mempererat hubungan baik dengan keluarga, kerabat, teman, dan sesama Muslim. Silaturahmi bukan hanya sekadar berkunjung di hari raya, tetapi menjaga komunikasi, saling membantu, dan mendoakan kebaikan satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda: 

 "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim) 

Hadits ini adalah jaminan langsung dari Rasulullah. Silaturahmi membuka pintu-pintu kesempatan baru. Melalui hubungan yang baik, kita bisa mendapatkan informasi pekerjaan, peluang bisnis, ilmu baru, hingga dukungan moral yang sangat berharga dalam mencari nafkah. Lebih dari itu, silaturahmi mendatangkan cinta kasih dan keridaan dari Allah, yang merupakan kunci utama dari segala keberkahan. Kesimpulan Membuka pintu-pintu rezeki bukan semata-mata tentang menambah jam kerja atau memeras keringat.  
Rezeki adalah karunia Allah. Keempat amalan di atas Sholat Malam, Istighfar di waktu Sahur, Bersedekah, dan Silaturahmi adalah ikhtiar langit yang akan mendekatkan kita kepada Allah. Ketika hubungan kita dengan Allah terjalin baik, dan hubungan kita dengan sesama manusia juga harmonis, maka Allah akan memudahkan langkah kita dan menurunkan keberkahan dalam setiap rezeki yang kita terima. Mari kita mulai mengamalkannya secara rutin dan konsisten, meskipun dimulai dari hal yang paling ringan. Semoga Allah SWT senantiasa meluaskan dan memberkahi rezeki kita semua. Amin.
Share:

10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana sejuk menyelimuti Masjid Al-Mu’minun pada fajar Senin, 9 Maret 2026. Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini terasa segar dengan kehadiran Adik Ilma sebagai pembawa acara (MC) yang memandu jalannya acara sebelum sesi utama bersama Ustadz Dwi Budi Prasojo, SKM. Materi yang disampaikan Ustadz Dwi Budi fokus pada satu kata kunci: Keistiqomahan, terutama saat kita mulai mendekati garis finis bulan suci ini.  

1. 10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"  
Pahala Ustadz Dwi Budi membuka tausiyahnya dengan sebuah perumpamaan yang menarik. Beliau menyebut 10 hari terakhir Ramadhan sebagai masa memperebutkan "Jackpot" pahala terbesar. "Jika dalam perlombaan, lari yang paling menentukan adalah saat mendekati garis finis. Begitu pula Ramadhan. Allah menyiapkan hadiah utama, Lailatul Qadar, di sepuluh hari terakhir bagi mereka yang mampu menjaga ritme ibadahnya," ujar beliau.  
2. Melawan Arus "Masjid yang Maju" Beliau menyentil fenomena umum di masyarakat, yaitu fenomena "Masjid yang Maju"—maksudnya saf makmum yang semakin maju ke depan (berkurang) seiring mendekatnya hari raya. Ustadz Dwi Budi mengajak warga Gayam Permai untuk melawan arus tersebut. Di saat orang lain mulai sibuk dengan persiapan duniawi seperti belanja baju baru atau kue lebaran, seorang mukmin sejati justru harus memperkencang ikat pinggang untuk beri'tikaf dan meningkatkan kualitas sujudnya.  



3. Kesehatan Fisik dan Ruhani (Perspektif SKM)  
Sebagai seorang praktisi kesehatan (SKM), Ustadz Dwi Budi juga memberikan perspektif bahwa istiqomah di akhir Ramadhan memerlukan manajemen kesehatan yang baik.
Beliau berpesan agar jamaah menjaga pola makan saat berbuka dan sahur agar fisik tetap bugar untuk melaksanakan qiyamul lail. "Kesehatan adalah modal utama kita untuk memburu Jackpot pahala tersebut. Tubuh yang sehat memudahkan ruhani untuk tetap khusyuk," tambahnya.  

4. Menjaga Konsistensi (Istiqomah)  
Istiqomah adalah ujian sesungguhnya. Menurut beliau, orang yang berhasil di bulan Ramadhan bukanlah orang yang hanya bersemangat di pekan pertama, melainkan mereka yang mampu mempertahankan—bahkan meningkatkan—intensitas amalannya hingga fajar syawal menjelang. 
Pesan utama dari Ustadz Dwi Budi Prasojo sangat jelas: Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa kita sempat mengambil "Jackpot" yang telah Allah sediakan. Mari kita kencangkan barisan, penuhi masjid, dan jaga hati agar tetap istiqomah di hari-hari puncak ini.
Share:

Husnul Khotimah Perlu di Usahakan

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan bekal rohani yang berharga. Dalam tausiyah tarawihnya, Bapak Idit Hernowo menekankan sebuah hakikat penting bagi setiap Muslim: bahwa akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah) bukanlah sebuah kebetulan yang muncul tiba-tiba. Berikut adalah poin-poin utama perjuangan menuju akhir yang baik yang beliau sampaikan:  
1. Kesalihan Memerlukan Usaha (Ikhtiar)  
Banyak orang berharap mati dalam keadaan baik, namun enggan mengisi hari-harinya dengan kebaikan. Bapak Idit mengingatkan bahwa surga dan rida Allah harus dijemput dengan usaha. "Kita tidak bisa hanya berpangku tangan. Perlu ada upaya nyata, ada peluh dalam beribadah, dan ada kesabaran dalam menjauhi maksiat. Akhir yang baik adalah buah dari perjalanan yang panjang," tutur beliau.  
2. Rahasia Doa Peneguh Hati  
Hati manusia bersifat dinamis dan mudah berubah. Beliau mengutip kisah dari Ummu Salamah RA, salah satu istri Rasulullah ﷺ, yang sering mendengar beliau berdoa: 
 “Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinik.” 
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). 
Bapak Idit menjelaskan bahwa tidak ada satu pun anak cucu Adam melainkan hatinya berada di antara "dua jari" kekuasaan Allah. Allah berkuasa membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Maka, doa adalah senjata utama agar kita tetap berada di jalan yang lurus.  

3. Landasan Doa dari Al-Qur'an (QS. Ali Imran: 8) Beliau juga mengajak jamaah untuk merutinkan doa yang termaktub dalam QS. Ali Imran ayat 8: 
 “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.” 
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi).  

4. Kunci Dicintai Allah: Istiqomah   
Bapak Idit menekankan bahwa amal yang paling dicintai Allah bukanlah yang besar namun dilakukan sesekali, melainkan amal yang Istiqomah (konsisten) meskipun sedikit. "Ramadhan ini adalah ajang latihan. Shalat malam yang konsisten, sedekah harian meski jumlahnya kecil, atau tilawah yang rutin dilakukan setiap hari, itulah yang akan membangun karakter kita hingga akhir hayat," pungkas beliau. Bapak Idit Hernowo mengajak kita untuk memeriksa kembali rutinitas ibadah kita. Jangan mengejar kesempurnaan dalam satu malam, tapi kejarlah keteguhan dalam setiap hari. Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita hingga napas terakhir.
Share:

Sembuh atau Surga? Pilihan Sulit Ummu Zufar

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun terasa lebih sejuk dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Susianto pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H. Beliau membawa kita menyelami kedalaman akhlak para ulama dan sebuah pilihan sulit yang berbuah jaminan surga. Berikut adalah rangkuman materi yang menggugah jiwa:  
1. Ketulusan Amal: Belajar dari Kesabaran Imam Syafi’i  
Ustadz Susianto membuka kajian dengan sebuah kisah yang menguji ego dan kesabaran. Dikisahkan, seorang pemuda memanggil Imam Syafi’i untuk datang ke rumahnya. Namun, sesampainya di depan pintu, pemuda itu justru menyuruh beliau pulang. Hal ini terjadi hingga tiga kali: dipanggil, didatangi, lalu disuruh pulang.  
Tanpa rasa marah sedikit pun, Imam Syafi’i menuruti permintaan tersebut. Mengapa? Karena beliau hanya ingin berbuat amal baik. Bagi beliau, mendatangi panggilan saudara adalah kebaikan, dan memaafkan perilaku kurang sopan adalah kebaikan yang lebih tinggi lagi.  
Pesan moralnya: Fokuslah pada amal baik kita, bukan pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. 

2. Hakikat Penciptaan dan Tugas Manusia (QS. Al-Hijr: 27-28) 
Beliau kemudian mengajak jamaah mentadaburi asal-usul penciptaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hijr (15) ayat 27-28:  
Ayat 27: Mengingatkan tentang penciptaan bangsa Jin dari api yang sangat panas sebelum manusia diciptakan.  
Ayat 28: Menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 
Ustadz Susianto menekankan bahwa dengan memahami asal-usul yang rendah (tanah), tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong. Tugas utama kita hanyalah mengisi masa hidup yang singkat ini dengan pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.  

3. Kisah Ummu Zufar: Sabar dalam Sakit Berbuah Surga  
Puncak kajian yang paling mengharukan adalah kisah seorang wanita kulit hitam bernama Ummu Zufar. Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ dalam keadaan menderita penyakit ayan (epilepsi). Ummu Zufar memohon: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menyembuhkanku." Rasulullah ﷺ memberikan dua pilihan yang sangat mendalam:  
Jika engkau mau, bersabarlah (dengan penyakitmu), maka bagimu adalah SURGA.  
Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.  
Mendengar kata "Surga", Ummu Zufar tidak ragu sedikit pun. Ia memilih opsi pertama: Sabar. Ia hanya meminta didoakan agar saat penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. 

"Kisah ini mengajarkan kita bahwa musibah fisik jika dihadapi dengan rida, adalah tiket eksekutif menuju surga-Nya," tutur Ustadz Susianto. 
Melalui kajian ini, Ustadz Susianto mengajak kita semua di sisa Ramadhan ini untuk: Terus berbuat baik meski seringkali tidak dihargai oleh manusia (seperti Imam Syafi'i). Menyadari kerendahan diri di hadapan Allah (QS. Al-Hijr). Melihat penyakit atau musibah sebagai peluang untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget