Amal Di Nilai Dari Akhirnya.


Penceramah: Ustadz Yusman, S.H.I
Hari/Tanggal: Ahad, 8 November 2026  
Tema: Amal Itu Dinilai dari Akhirnya 
Membahas Hadits Arbain ke-4 
📖 PENDAHULUAN  
Rasulullah ï·º bersabda dengan sabda yang benar dan haq, karena beliau tidak berbicara atas kehendak sendiri, melainkan wahyu yang diturunkan oleh Allah SWT. Sebagaimana firman Allah: "Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Muhammad) menurut kehendak nafsunya. Tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya)." (QS. An-Najm: 3–4) Beliau ï·º juga telah memberitahukan tanda-tanda mendekati hari kiamat, di antaranya: "Waktu akan berlalu begitu cepat, sehingga satu tahun terasa seperti sebulan, sebulan seperti satu minggu, dan minggu seperti satu hari, serta hari-hari berlalu bagai daun gugur" — hingga pasar pun tampak berjejer di depan rumah, hal-hal yang dulu tidak terbayangkan kini terjadi. Semua yang disampaikan Rasulullah ï·º pasti akan terwujud.  

🔎 PEMBAHASAN MATERI  
A. Tahap Penciptaan Manusia 
Empat Hal yang Dicatat Malaikat Allah menciptakan manusia melalui beberapa tahap dalam rahim ibu, sebagaimana dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Mas'ud r.a.: "Salah seorang dari kalian dikumpulkan penciptaannya di dalam perut ibunya selama empat puluh hari berupa nutfah, kemudian menjadi 'alaqah (segumpal darah) selama itu juga, kemudian menjadi mudghah (segumpal daging) selama itu juga. Kemudian Allah mengutus malaikat dan diperintahkan kepadanya untuk menuliskan empat perkara: rezekinya, ajalnya, amalnya, dan apakah ia termasuk orang yang berbahagia atau yang celaka..." (HR. Bukhari no. 3208 & Muslim no. 2643) Maka sejak masa dalam rahim, empat hal telah ditetapkan dan dicatat, bahkan makhluk sekalipun tidak mengetahuinya sepenuhnya:  
1. Rezeki — rezeki yang telah dijanjikan Allah  
2. Ajal — waktu kematian yang telah ditentukan, tidak dapat dimajukan maupun dimundurkan  
3. Amal — jalan hidup yang akan ditempuh 4. Nasib akhir — apakah ia termasuk ahli surga atau ahli neraka  

B. Pelajaran:  
Amal Dinilai dari Penutupnya Rasulullah ï·º mengingatkan kita dengan sabda yang sangat penting: "Sesungguhnya salah seorang dari kalian ada yang melakukan amal kebaikan yang tampaknya seperti amal ahli surga, namun pada akhirnya berubah menjadi amal ahli neraka. Dan sesungguhnya salah seorang dari kalian ada yang melakukan amal kejahatan yang tampaknya seperti amal ahli neraka, namun pada akhirnya berubah menjadi amal ahli surga." (HR. Bukhari no. 6606 & Muslim no. 2643 — Bagian dari Hadits Arbain ke-4) Contoh yang disampaikan Rasulullah ï·º: Dari Abdullah bin Mas'ud r.a., diceritakan tentang seorang yang dikenal sangat gagah berani dalam peperangan, berjuang dengan semangat yang luar biasa. Para sahabat kagum padanya. Namun Rasulullah ï·º berkata bahwa orang tersebut termasuk ahli neraka. Ketika terluka parah dan tidak tahan lagi menahan sakit, orang itu menusukkan pedang ke tubuhnya sendiri dan meninggal dunia sebagai orang yang bunuh diri. Ternyata, keberaniannya itu bukan karena karena Allah, melainkan karena ingin dipuji dan takut menghadapi rasa sakit. (HR. Bukhari no. 3062 & Muslim no. 191)  
Dari kisah ini kita belajar:  
- ❌ Dilarang menghakimi akhir seseorang, karena hanya Allah yang mengetahui bagaimana penutup hidup seseorang  
- ❌ Dilarang menghujat atau meremehkan orang lain, karena bisa saja orang yang kita anggap buruk justru berakhir dengan hidayah Allah  
- ✅ Seseorang bisa saja tampak beramal baik, namun hatinya tidak ikhlas atau tersesat di ujung perjalanannya  
- ✅ Sebaliknya, seseorang yang jauh dari Allah bisa saja dibimbing hidayah-Nya dan berakhir dalam keadaan taubat  

C. Takdir & Usaha Manusia  
Walaupun Allah telah menetapkan takdir, manusia tetap diberi kehendak dan pilihan untuk berusaha. Kita berikhtiar, berdoa, dan memohon agar dipertunjukkan jalan yang benar. Allah berfirman: "...dan barangsiapa yang sungguh-sungguh berikhtiar, maka sesungguhnya ikhtiarnya itu adalah untuk dirinya sendiri..." (QS. Al-Ankabut: 6)  
Namun, hati manusia berada di antara dua jari jarihan Allah. Rasulullah ï·º sering berdoa: "Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu." (HR. Tirmidzi no. 2140) Oleh karena itu:  
- ✅ Orang yang taat tidak boleh merasa aman dari tipu daya Allah. Bisa saja amalnya berubah menjadi sia-sia karena ujub, riya, atau kesombongan  
- ✅ Orang yang bermaksiat tidak boleh putus asa dari rahmat Allah. Pintu taubat selalu terbuka selama nyawa belum berakhir "Janganlah salah seorang dari kalian meninggal kecuali dalam keadaan baik prasangka kepada Allah." (HR. Muslim no. 2877)  

D. Sandarkan Diri Kepada Rahmat Allah, Bukan Kepada Amal Rasulullah ï·º mengingatkan agar kita tidak terlalu bergantung pada amal kita sendiri, sekalipun amal itu baik: "Tidaklah kalian masuk surga karena amal kalian, dan tidak pula kalian diselamatkan dari neraka karena amal kalian." Para sahabat bertanya, "Bukan engkau juga ya Rasulullah?" Beliau menjawab, "Bukan juga aku, kecuali jika Allah melindungiku dengan rahmat dan kasih sayang-Nya..." (HR. Bukhari no. 5673 & Muslim no. 2816) Maka janganlah kita bangga dengan amal kita, jangan merasa lebih baik dari orang lain. Riya dan ujub dapat menghapus pahala: "Barangsiapa melakukan amal kebaikan agar dipuji orang, maka ia telah menyekutukan Allah dalam niatnya." (HR. Ibnu Majah no. 4206)  

✅ KESIMPULAN  
1. Amal dinilai dari penutupnya, bukan dari awal atau perjalanannya saja. Hanya Allah yang mengetahui akhir setiap hamba-Nya.  
2. Jangan merasa aman ketika sedang dalam ketaatan, teruslah berhati-hati dan memohon keteguhan hati kepada Allah.  
3. Jangan putus asa ketika sedang dalam kemaksiatan, segera kembali kepada Allah dan perbanyak taubat.  
4. Jangan menghakimi akhir orang lain, karena masa depan dan hati seseorang berada dalam kendali Allah. 
5. Bersandarlah kepada rahmat Allah, bukan kepada amal kita sendiri. Amal adalah ikhtiar kita, namun rahmat Allah-lah yang menentukan keselamatan kita di dunia dan akhirat. 
 Semoga Allah senantiasa memberikan kita taufik, hidayah, dan keistiqomahan hingga akhir hayat kita. Aamiin 🤲
Share:

Jejak Kejujuran, Amanah, dan Kemuliaan Akhlak


NOTULEN PENGAJIAN SUBUH 
Pemateri: Ustadz Zein Faqih 
Hari/Tanggal: Ahad, 1 November 2026  
Tema: Sirah Nabawiyah 
— Jejak Kehidupan Nabi Muhammad ï·º Sebelum Diangkat Menjadi Rasul Tempat: Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara  
Pendahuluan  
Mempelajari Sirah Nabawiyah bukan sekadar mengetahui sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad ï·º, tetapi juga memahami dan mengambil pelajaran dari keteladanan beliau dalam berbagai aspek kehidupan. Kehidupan Rasulullah ï·º merupakan cermin bagi umat Islam. Kejujuran, amanah, kesabaran, kebijaksanaan, serta kemuliaan akhlak beliau menjadi pedoman yang menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Dalam kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih pada Ahad, 1 November 2026, dibahas perjalanan kehidupan Nabi Muhammad ï·º sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul.  
Ada banyak peristiwa penting yang menunjukkan bagaimana Allah SWT mempersiapkan beliau menjadi manusia pilihan.  
1. Peristiwa Permintaan Hujan dan Keagungan Nabi Muhammad ï·º Dalam perjalanan sejarah kehidupan Nabi Muhammad ï·º, terdapat kisah tentang peristiwa kekeringan yang melanda masyarakat Quraisy. Ketika hujan tidak kunjung turun, Abu Thalib membawa Nabi Muhammad ï·º yang ketika itu masih kecil menuju Ka'bah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Thalib memohon kepada Allah melalui keberkahan kehadiran beliau. Tidak lama kemudian, langit menjadi mendung dan hujan pun turun membasahi bumi. Peristiwa ini menjadi salah satu kisah yang menggambarkan kemuliaan Nabi Muhammad ï·º sejak masa kecil. Hikmah yang dapat diambil: Sejak kecil, Rasulullah ï·º telah mendapatkan penjagaan dan kemuliaan dari Allah SWT. Kehidupan beliau menjadi bukti bahwa Allah mempersiapkan hamba pilihan-Nya dengan berbagai keistimewaan.  
2. Perang Fijar dan Perjanjian Hilful Fudhul Ketika berusia sekitar 15 tahun, Nabi Muhammad ï·º mengalami peristiwa Perang Fijar. Perang ini melibatkan sejumlah kabilah Arab dan terjadi pada bulan-bulan yang dimuliakan, sehingga dianggap melanggar kehormatan bulan haram. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad ï·º turut hadir. Namun, peran beliau bukan sebagai orang yang terlibat dalam pembunuhan. Beliau membantu mengumpulkan anak-anak panah yang terlepas untuk diberikan kepada kerabatnya. Setelah peristiwa perang tersebut, muncul sebuah kesepakatan yang dikenal dengan nama Hilful Fudhul. Perjanjian ini merupakan kesepakatan sejumlah tokoh Quraisy untuk membela orang-orang yang terzalimi, melindungi hak-hak mereka, serta menegakkan keadilan di Kota Makkah. Perjanjian tersebut menunjukkan bahwa nilai keadilan dan pembelaan terhadap orang yang lemah merupakan prinsip yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hikmah yang dapat diambil: Membela orang yang terzalimi merupakan perbuatan mulia. Keadilan harus ditegakkan tanpa memandang kedudukan seseorang. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan. Sejak muda, Rasulullah ï·º telah menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai kebaikan dan keadilan.  
3. Masa Menggembala dan Memulai Perdagangan Sebelum dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses, Nabi Muhammad ï·º pernah menjalani pekerjaan sebagai penggembala kambing. Hal ini juga dialami oleh para nabi sebelumnya. Rasulullah ï·º bersabda: "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia pernah menggembala kambing." (HR. Bukhari) Pekerjaan menggembala mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, ketekunan, serta kepedulian terhadap sesuatu yang menjadi amanah. Ketika berusia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad ï·º melakukan perjalanan perdagangan ke negeri Syam atas kepercayaan Siti Khadijah radhiyallahu 'anha. Khadijah telah mendengar reputasi beliau sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang sangat baik. Dalam berdagang, Rasulullah ï·º selalu menyampaikan keadaan barang dengan sebenarnya. Barang yang bagus disampaikan bagus, sedangkan kekurangannya juga dijelaskan secara terbuka tanpa ditutup-tutupi. Dalam perjalanan tersebut, beliau didampingi oleh Maisarah, seorang pembantu Khadijah. Perdagangan berjalan dengan lancar dan menghasilkan keuntungan yang sangat baik. Hikmah yang dapat diambil: Kejujuran merupakan modal utama dalam berdagang. Amanah akan melahirkan kepercayaan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari keberkahan usaha. Pekerjaan sederhana sekalipun dapat membentuk karakter dan tanggung jawab seseorang.  
4. Pernikahan Nabi Muhammad ï·º dengan Siti Khadijah radhiyallahu 'anha Siti Khadijah merupakan seorang wanita terpandang, cerdas, dan memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat Quraisy. Beliau dikenal sebagai seorang saudagar yang memiliki usaha perdagangan. Banyak tokoh yang ingin mempersunting Khadijah, tetapi beliau tidak mudah menerima pinangan tersebut. Salah satu hal yang menjadi pertimbangannya adalah kepribadian dan akhlak calon suami. Kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ï·º membuat Khadijah tertarik untuk menjalin hubungan pernikahan dengan beliau. Melalui perantara Nafisah, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah. Nabi Muhammad ï·º menerima keinginan tersebut. Dengan didampingi oleh paman-pamannya, beliau kemudian meminang Khadijah secara resmi. Beberapa keterangan mengenai pernikahan tersebut: Usia Nabi Muhammad ï·º: 25 tahun. Usia Siti Khadijah: Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang populer menyebutkan 40 tahun, sementara pendapat lain menyebutkan usia yang lebih muda. Status Khadijah: Janda. Mahar: Dalam catatan kajian disebutkan 20 ekor unta. Dari pernikahan Nabi Muhammad ï·º dengan Siti Khadijah, lahirlah enam orang anak, yaitu: Qasim Zainab Ruqayyah Ummu Kultsum Fatimah Abdullah Adapun Ibrahim merupakan putra Rasulullah ï·º dari istri beliau yang lain, yaitu Mariyah al-Qibthiyah. Hikmah yang dapat diambil: Pernikahan hendaknya dibangun di atas dasar keimanan, akhlak, dan tanggung jawab. Kemuliaan akhlak lebih utama daripada penampilan maupun kekayaan. Menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari kemuliaan seorang muslim. Hubungan pernikahan hendaknya ditempuh melalui jalan yang terhormat dan sesuai syariat Islam.  
5. Renovasi Ka'bah dan Kebijaksanaan Nabi Muhammad ï·º Ketika Nabi Muhammad ï·º berusia sekitar 35 tahun, masyarakat Quraisy melakukan renovasi Ka'bah. Bangunan Ka'bah yang memiliki kedudukan sangat mulia tersebut sebelumnya dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama putranya, Nabi Ismail 'alaihissalam. Dalam proses pembangunan kembali, masyarakat Quraisy berusaha menjaga kesucian sumber dana yang digunakan. Mereka tidak menerima harta yang berasal dari praktik pelacuran, riba, hasil kezaliman, maupun pencurian. Namun, setelah pembangunan selesai, muncul perselisihan antarkabilah mengenai siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya. Masing-masing kabilah merasa berhak mendapatkan kehormatan tersebut. Perselisihan berlangsung selama beberapa hari dan hampir menimbulkan peperangan. Akhirnya, Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi mengusulkan agar orang pertama yang memasuki area Ka'bah melalui pintu tertentu diberikan kewenangan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Takdir Allah, orang pertama yang datang adalah Nabi Muhammad ï·º. Melihat kedatangan beliau, masyarakat Quraisy berseru: "Ini adalah Al-Amin! Kami rela menerima keputusannya." Nabi Muhammad ï·º kemudian menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa. Beliau membentangkan sehelai kain atau sorban, kemudian meletakkan Hajar Aswad di atasnya. Selanjutnya, setiap pemimpin kabilah diminta memegang salah satu ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah Hajar Aswad sampai pada posisi yang tepat, Nabi Muhammad ï·º mengambilnya dan meletakkannya kembali pada tempat semula. Dengan cara yang adil dan bijaksana, perselisihan antarkabilah dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah. Hikmah yang dapat diambil: Kebijaksanaan mampu menyelesaikan persoalan yang sulit. Seorang pemimpin harus mampu bersikap adil kepada semua pihak. Musyawarah dan kebersamaan lebih baik daripada mengutamakan kepentingan kelompok sendiri. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui kejujuran dan perilaku yang konsisten.  
6. Kemuliaan Akhlak Nabi Muhammad ï·º dan Penjagaan Allah SWT Nabi Muhammad ï·º dikenal sebagai pribadi yang tenang, tidak banyak berbicara tanpa keperluan, tetapi memiliki kewibawaan yang luar biasa. Beliau tidak mengikuti berbagai bentuk penyimpangan akidah masyarakat Quraisy pada masa jahiliah. Meskipun demikian, beliau tetap berinteraksi dengan masyarakat secara baik, santun, dan penuh penghormatan. Allah SWT senantiasa menjaga Nabi Muhammad ï·º dari berbagai perbuatan yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan kemuliaan akhlak beliau. Dalam beberapa riwayat sirah disebutkan kisah tentang penjagaan Allah terhadap beliau ketika masih muda. Di antaranya, ketika beliau pernah memiliki keinginan untuk menghadiri hiburan masyarakat, tetapi Allah membuat beliau tertidur sehingga tidak menyaksikan perbuatan tersebut. Hal ini menjadi gambaran bahwa Allah telah mempersiapkan dan menjaga Nabi Muhammad ï·º sebelum masa kenabian. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4) Rasulullah ï·º merupakan teladan terbaik dalam kejujuran, kelembutan tutur kata, kesabaran, kesederhanaan, serta kemuliaan akhlak. Tidak mengherankan apabila masyarakat Makkah memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang terpercaya. Hikmah yang dapat diambil: Menjaga akhlak dan kehormatan diri merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Kita hendaknya berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan serta menjauhi segala sesuatu yang dapat merusak keimanan dan kehormatan diri.  
7. Diangkat Menjadi Rasulullah ï·º Setelah melalui perjalanan kehidupan yang penuh keteladanan, pada usia 40 tahun Nabi Muhammad ï·º menerima wahyu pertama di Gua Hira. Peristiwa tersebut menjadi awal diangkatnya beliau sebagai Rasul Allah SWT yang membawa risalah Islam untuk seluruh umat manusia. Sebelum menerima wahyu, beliau telah dikenal oleh masyarakat sebagai sosok yang jujur, amanah, bijaksana, dan memiliki akhlak yang mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan beliau sebelum masa kenabian merupakan bagian penting dari perjalanan persiapan untuk mengemban tugas besar sebagai utusan Allah SWT. Rasulullah ï·º bukan hanya menjadi teladan dalam beribadah, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berdagang, menyelesaikan persoalan, dan menjaga hubungan antarsesama manusia. Kesimpulan: Lima Sifat Mulia Rasulullah ï·º yang Harus Kita Teladani Dari perjalanan kehidupan Nabi Muhammad ï·º sebelum diangkat menjadi Rasul, terdapat banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Sifat Mulia Rasulullah ï·º Teladan dalam Kehidupan 
 1 Jujur dan Amanah Menjadikan kejujuran sebagai modal utama dalam membangun kepercayaan. 
 2 Lemah Lembut Menjaga tutur kata agar tidak menyakiti dan membuat orang lain membenci kita. 
 3 Tidak Sombong Tidak gengsi melakukan pekerjaan sederhana selama membawa manfaat dan kebaikan. 
 4 Menjaga Kemuliaan Diri Menjaga batas-batas syariat dan tidak mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. 
 5 Bijaksana Menyelesaikan persoalan dengan keadilan, musyawarah, dan mengutamakan kemaslahatan bersama. Penutup Mempelajari Sirah Nabawiyah hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah kehidupan Rasulullah ï·º. Lebih dari itu, kita harus berusaha menerapkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, kelembutan dalam berbicara, kesederhanaan dalam hidup, serta kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan merupakan bagian dari akhlak Rasulullah ï·º yang patut kita teladani. Semoga melalui kajian ini, keimanan kita semakin bertambah dan kecintaan kita kepada Rasulullah ï·º semakin kuat. Mari kita terus memperdalam ilmu agama, memperbaiki akhlak, dan menghidupkan sunnah Rasulullah ï·º dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita agar mampu meneladani kemuliaan akhlak Rasulullah ï·º. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Share:

Sudah Berilmu, Sudahkah Beramal? Muhasabah Diri dari Kajian Ahad Pagi

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama. Pada Ahad pagi, 11 Oktober 2026, telah dilaksanakan kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz. Kajian kali ini membahas beberapa nasihat penting tentang kewajiban mengamalkan ilmu, menjauhi perilaku yang menyerupai kebiasaan setan, mengenali bisikan malaikat dan setan, serta pentingnya menjaga hati dan memperkuat keimanan.  
Kajian ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar tidak hanya bersemangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  
1. Celaka bagi Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmunya  
Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah peringatan tentang bahaya memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu agama seharusnya menjadi petunjuk yang mengarahkan seseorang kepada kebaikan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mengetahui suatu kebenaran memiliki tanggung jawab untuk berusaha menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan tuntunan syariat. Jangan sampai ilmu hanya berhenti pada lisan, catatan, atau sekadar menjadi bahan pembicaraan, sementara perilaku sehari-hari tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari. Karena itu, setiap kali memperoleh ilmu baru, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah ilmu tersebut diamalkan? Sudahkah ilmu itu memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia? Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang banyak diketahui, melainkan juga ilmu yang mendorong pemiliknya semakin taat kepada Allah SWT.  
2. Menjauhi Perilaku yang Menyerupai Kebiasaan Setan  
Dalam kajian ini juga ditekankan pentingnya menjauhi berbagai perilaku yang dicontohkan atau menjadi kebiasaan setan, termasuk dalam perkara-perkara sederhana yang sering dilakukan tanpa disadari. Salah satu contoh yang disampaikan adalah makan dan minum sambil berjalan. Seorang Muslim hendaknya membiasakan diri makan dan minum dengan adab yang baik, memperhatikan tuntunan Rasulullah SAW, serta tidak menganggap remeh kebiasaan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur perkara besar seperti ibadah dan muamalah, tetapi juga mengajarkan adab dalam aktivitas keseharian. Oleh sebab itu, membiasakan perilaku yang baik merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri dan mengikuti tuntunan agama. Setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam bertindak, membiasakan adab Islami, dan berusaha menjauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.  
3. Mengenali Bisikan Malaikat dan Bisikan Setan  
Materi berikutnya membahas tentang bisikan yang dapat memengaruhi hati dan perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi dorongan untuk melakukan kebaikan maupun kecenderungan untuk melakukan keburukan. Bisikan yang mendorong seseorang kepada kebaikan, ketaatan, dan kebenaran perlu disambut dengan kesungguhan. Sebaliknya, bisikan yang mengajak kepada kemaksiatan, kesombongan, kemalasan dalam beribadah, atau perbuatan yang merugikan orang lain harus diwaspadai. Setan berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui keraguan, keinginan yang berlebihan, dan kebiasaan menunda kebaikan. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hatinya tetap terjaga. Mengenali arah suatu dorongan batin juga perlu disertai ilmu dan pemahaman agama. Tidak setiap pikiran yang muncul harus diikuti. Kita perlu menimbangnya berdasarkan Al-Qur'an, sunah Rasulullah SAW, dan tuntunan para ulama.  
4. Amaliah Bergantung pada Hati  
Hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hati berkaitan erat dengan niat, keikhlasan, dan kualitas amal yang dilakukan. Amalan yang tampak baik hendaknya disertai niat yang benar, yaitu mengharapkan rida Allah SWT, bukan semata-mata mencari pujian atau pengakuan manusia. Sebaliknya, hati yang terus dipelihara dengan iman akan membantu seseorang istiqamah dalam menjalankan kebaikan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  
Pesan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanya memperhatikan penampilan luar dan banyaknya amalan, tetapi juga memperhatikan keadaan hati. Sudahkah kita beramal dengan ikhlas? Sudahkah kita menjaga hati dari iri, dengki, sombong, dan riya? Sudahkah kita berusaha meluruskan niat dalam setiap aktivitas? Menjaga hati merupakan proses yang harus dilakukan terus-menerus melalui ilmu, ibadah, muhasabah, dan doa kepada Allah SWT.  
5. Membentengi Diri dari Bisikan Setan  
Agar tidak mudah terpengaruh oleh godaan setan, seorang Muslim perlu membangun benteng keimanan melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang ditekankan dalam kajian ini antara lain:  
a. Memperbanyak zikir kepada Allah SWT Zikir membantu seorang hamba mengingat Allah dalam berbagai keadaan. Dengan membiasakan zikir pagi dan petang, membaca istigfar, serta mengucapkan kalimat-kalimat zikir yang diajarkan Rasulullah SAW, seorang Muslim berusaha menjaga hati agar tidak lalai.  
b. Menjaga wudu Membiasakan diri dalam keadaan suci merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kebersihan dan mempersiapkan diri dalam beribadah. Wudu juga mengingatkan seorang Muslim agar senantiasa memperhatikan kesucian ketika hendak melaksanakan ibadah yang mensyaratkannya.  
c. Membiasakan salat malam Salat malam merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar. Pada waktu malam yang tenang, seorang hamba dapat memperbanyak doa, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat tahajud dan ibadah malam lainnya juga menjadi sarana untuk melatih keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam beribadah. Melalui amalan-amalan tersebut, kita berharap Allah SWT memberikan perlindungan, menguatkan iman, serta memudahkan kita untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.  
6. Mensyukuri Nikmat Besar dari Allah SWT  
Dalam kehidupan ini, ada berbagai nikmat yang terkadang dianggap biasa, padahal memiliki nilai yang sangat besar. Kajian ini mengingatkan kita untuk mengenali dan mensyukuri karunia Allah SWT, di antaranya: a. Anak yang saleh dan salehah Memiliki anak yang saleh dan salehah merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang tumbuh dalam keimanan, berbakti kepada orang tua, dan menjaga ibadah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga. Karena itu, orang tua hendaknya mendidik anak dengan keteladanan, kasih sayang, doa, dan pendidikan agama yang baik. b. Pasangan yang baik Pasangan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, mendukung ibadah, dan menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rumah tangga yang dibangun di atas iman, kasih sayang, dan tanggung jawab akan menjadi tempat bertumbuhnya ketenteraman serta kebaikan. c. Lingkungan yang baik Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan keimanan seseorang. Berada di tengah orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menjaga ibadah, dan mengingatkan ketika melakukan kesalahan merupakan nikmat yang tidak boleh diremehkan. Karena itu, penting bagi kita untuk memilih teman dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman serta menjauhkan diri dari pergaulan yang membawa kepada keburukan. d. Kesabaran dalam menghadapi kehidupan Kesabaran juga merupakan karunia Allah SWT yang sangat berharga. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan menghadapi ujian, baik berupa kesulitan, kehilangan, persoalan keluarga, maupun tantangan dalam menjalankan ketaatan.  
Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah tetap teguh dalam ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan menghadapi ujian dengan ikhtiar serta tawakal kepada Allah SWT. Dengan kesabaran, seorang Muslim belajar menerima ketetapan Allah, memperbaiki diri, dan tetap berharap akan pertolongan-Nya. 7. Mengambil Hikmah dan Mengamalkan Ilmu Dari berbagai nasihat dalam kajian rutin Ahad pagi ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menuntut ilmu harus disertai dengan keinginan kuat untuk mengamalkannya. Kedua, kita perlu menjaga perilaku dan membiasakan adab Islami, bahkan dalam aktivitas sederhana. Ketiga, hati harus senantiasa dijaga agar niat dan amalan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. Keempat, memperbanyak zikir, menjaga wudu, dan membiasakan salat malam merupakan ikhtiar untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Kelima, kita perlu menyadari bahwa anak yang saleh, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung kebaikan, dan kemampuan untuk bersabar adalah nikmat yang patut disyukuri.  
Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti ketika kajian selesai. Justru setelah kajian berakhir, saat itulah kita mulai membuktikan kesungguhan dengan memperbaiki ibadah, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari. Penutup Kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim harus senantiasa diarahkan pada ketaatan kepada Allah SWT. Ilmu perlu diamalkan, hati perlu dijaga, godaan setan perlu diwaspadai, dan setiap nikmat perlu disyukuri. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu dan beramal, memiliki hati yang bersih, istiqamah dalam ibadah, serta mampu mendidik keluarga dan menjaga lingkungan dalam kebaikan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita anak-anak yang saleh dan salehah, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung ketaatan, serta kesabaran dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a'lam bish-shawab.








Share:

Waspada Hati yang Mengeras

Kajian Rutin Ahad Pagi Kajian Rutin Ahad Pagi Ahad, 4 Oktober 2026 bersama Ustadz Yusman, SHI, membahas mengenai fenomena kerasnya hati manusia yang digambarkan sekeras batu dalam Al-Qur'an sehingga seseorang sulit untuk menangis. Mengingat kematian secara intensif, menghindari panjang angan-angan, serta merenungkan kisah tangisan Siti Khotijah terhadap alam kubur menjadi sarana penting untuk melembutkan kembali hati yang keras. 
Dalam kajian disampaikan bahwa tangisan Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar cerita tentang alam kubur menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Hati yang hidup akan mudah tersentuh saat mengingat akhirat, kematian, kubur, serta perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang sulit menangis dan tidak tersentuh oleh nasihat perlu bermuhasabah: jangan-jangan hatinya mulai mengeras. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16, bahwa belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan-Nya; jangan sampai seperti umat terdahulu yang berlalu masa panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. 
 1. Hati yang keras Kerasnya hati membuat seseorang tidak lagi peka terhadap nasihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, kisah kematian didengar, bahkan kabar duka disaksikan, tetapi tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah maupun dorongan untuk memperbaiki diri. Hati yang keras bukan sekadar tidak bisa menangis secara lahiriah. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak tunduk, tidak khusyuk, dan tidak terdorong untuk taat. Karena itu, seorang muslim perlu terus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.  
2. Banyak dosa Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan noda pada hati. Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan dibersihkan. Namun bila ia mengulangi dosa, noda itu bertambah hingga menutupi hati. 
Inilah sebab pentingnya segera bertobat. Jangan menunda istighfar dan jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap ringan, jika terus dikumpulkan, dapat menggelapkan hati dan menjadikan seseorang sulit menerima nasihat.  
3. Mengambil hak orang lain Salah satu sebab hati menjadi gelap adalah mengambil atau menahan hak orang lain. Bentuknya dapat berupa kezhaliman, utang yang tidak dibayar padahal mampu, mengurangi timbangan, ghibah, fitnah, mengambil harta yang bukan miliknya, atau menyakiti orang lain tanpa meminta maaf. Hak Allah dapat diampuni dengan tobat yang sungguh-sungguh. Namun hak sesama manusia perlu diselesaikan dengan mengembalikan haknya atau meminta kerelaan. Karena itu, jangan sampai kita datang pada hari kiamat membawa banyak amal, tetapi habis untuk membayar kezhaliman kepada orang lain.  
Mengingat kematian dan mengurangi angan-angan panjang  
Obat bagi hati yang keras adalah banyak mengingat kematian. Kematian mengingatkan bahwa dunia ini sementara, jabatan tidak kekal, harta tidak dibawa mati, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah. Panjang angan-angan sering membuat seseorang menunda tobat: merasa masih muda, merasa masih ada waktu, atau berencana memperbaiki diri nanti. Padahal kematian tidak menunggu kesiapan kita. Karena itu, perbaikilah diri hari ini, selesaikan hak orang lain hari ini, dan perbanyak amal sebelum datang masa ketika penyesalan tidak lagi berguna. Cinta dunia yang berlebihan juga menjadi pangkal banyak kesalahan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah lalai, berbuat zalim, mengejar harta dengan cara yang tidak halal, serta melupakan akhirat. 

 Mari menjaga kelembutan hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjauhi dosa, segera bertobat, menyelesaikan hak orang lain, dan sering mengingat kematian. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, khusyuk, serta mudah menerima petunjuk-Nya.


Share:

Keajaiban Malam Kelahiran Nabi & Rahasia Saudara Sesusuan yang Jarang Orang Tahu!

Ustadz Zein Faqih

Siapa bilang belajar Siroh Nabawiyah itu ngebosenin dan cuma berisi hafalan tahun sejarah? Di Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara (Ahad, 7/9/2026), Ustadz Zein Faqih ngajak kita flashback ke masa muda Nabi Muhammad SAW. 
Ternyata, perjalanan hidup beliau dari lahir sampai usia 40 tahun (sebelum jadi Rasul) tuh relatable banget sama kehidupan anak muda zaman sekarang! Banyak banget pelajaran life skill, pembentukan mental, sampai urusan personal branding yang bisa kita petik. Yuk, simak rangkumannya!  

1. Plot Twist di Tahun Gajah ('Amul Fil)  

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal (20 April 571 M) di Mekkah. Tahun kelahiran beliau dikenal sebagai Tahun Gajah. Kenapa dinamain Tahun Gajah? Karena saat itu ada "invasi" tentara bergajah pimpinan Abrahah dari Yaman yang mau meratakan Ka'bah. Tapi plot twist-nya, Allah SWT ngirim burung Ababil buat menggagalkan pasukan tersebut. Peristiwa ini jadi sinyal besar kalau bakal lahir sosok pembaru peradaban dunia. Fakta menyentuhnya, Nabi lahir dalam kondisi yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih di dalam kandungan. Kakeknya, Abdul Muthalib, ngasih nama "Muhammad"—sebuah nama unik yang artinya orang yang terpuji. 
Berdasarkan riwayat sirah Nabawiyah, terjadi beberapa fenomena luar biasa di alam raya saat malam kelahiran beliau:  
  • Cahaya Memancar dari Aminah: Saat melahirkan, ibunda Aminah menyaksikan cahaya terang benderang yang keluar dari rahimnya hingga menerangi istana-istana di negeri Syam (Suriah).  Padamnya Api Abadi Majusi di Persia: Api sesembahan kaum Majusi di Kekaisaran Persia yang tidak pernah padam selama lebih dari 1.000 tahun mendadak padam seketika.  
  • Runtuhnya Istana Raja Persia: Merekah dan runtuhnya 14 tiang/bumbungan istana Raja Kisra di Persia.  Surutnya Danau Sawa: Danau Sawa di Persia yang disembah oleh sebagian masyarakat tiba-tiba menjadi kering.  
  • Bintang Agung Muncul: Para cendekiawan dan pendeta dari kaum Yahudi serta Nasrani melihat munculnya bintang terang di langit (dikenal sebagai Bintang Ahmad/Muhammad), yang menjadi pertanda lahirnya nabi terakhir. 

2. 'Sertifikasi' Mental Sejak Kecil: Anak Yatim yang Tangguh  

Zaman dulu, ada tradisi bayi dititipin ke masyarakat pedalaman gurun supaya dapat udara bersih dan pinter bahasa Arab murni. Muhammad kecil diasuh sama Halimah as-Sa'diyyah dari Bani Sa'ad. Kisah penyusuan Nabi Muhammad SAW bersama paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, merupakan salah satu ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat istimewa dalam siroh Nabawiyah. Hubungan mereka tidak hanya sebatas paman dan keponakan, tetapi juga saudara sesusuan (Akhi mir Ridha'ah), yang membuat jalinan kasih sayang di antara keduanya begitu erat sejak kecil hingga akhir hayat. 
Bukannya bikin repot, kehadiran Muhammad kecil malah membawa berkah luar biasa buat keluarga Halimah. Peternakan mereka jadi subur dan melimpah. Tapi, jalan hidup Muhammad kecil nggak makin gampang:  
Usia 6 tahun: Ibunda tercinta, Aminah, wafat di Al-Abwa'. Muhammad officially jadi anak yatim piatu. 
Usia 8 tahun: Kakek yang menyayanginya, Abdul Muthalib, ikut berpulang. Pengasuhan lalu dilanjutin sama pamannya, Abu Thalib. Lesson learned: Keterbatasan dan musibah di masa kecil nggak bikin Muhammad tumbuh jadi pribadi yang hopeless, tapi justru bikin mentalnya makin sekuat baja.  






Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget