Pengumpulan Zakat Fitrah





Menjelang akhir bulan suci Ramadhan, Takmir Masjid Al-Mu’minun melalui Panitia Ramadhan kembali membuka layanan penerimaan dan penyaluran Zakat Fitrah, Fidyah, Shadaqah, dan Zakat Maal. Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi warga Perumahan Gayam Permai dalam menyempurnakan ibadah puasa serta membantu saudara-saudara kita yang berhak menerima (Asnaf). Waktu dan Tempat Pengumpulan Panitia telah menyediakan beberapa titik layanan agar Bapak/Ibu/Sdr/i dapat menyetorkan zakat dengan lebih mudah dan nyaman: Tanggal: 13 s.d. 15 Maret 2026 
Waktu Layanan:  
Ba’da Shalat Tarawih atau Ba’da Shalat Ashar. 
Lokasi Penyetoran: Masjid Al-Mu’minun (Sekretariat Panitia)  
Rumah Bapak Trilas P.  
Rumah Bapak Yusman, S.HI.  
Rumah Bapak Susianto.  
Ketentuan Besar Zakat Fitrah Sesuai dengan Surat Edaran Bersama Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua Baznas, dan MUI Kabupaten Banjarnegara Tahun 1447 H / 2026 M, besaran zakat fitrah per jiwa dikategorikan berdasarkan jenis beras yang dikonsumsi sehari-hari: 

Jadwal Penyaluran Untuk memastikan manfaat zakat dapat segera dirasakan oleh penerima sebelum hari raya, panitia telah menetapkan jadwal penyaluran sebagai berikut: 

 Penyaluran Zakat: Senin, 16 Maret 2026. 

Mengingat jadwal penyaluran tersebut, kami memohon kepada seluruh muzakki (pembayar zakat) agar dapat menyerahkan zakatnya kepada panitia sebelum tanggal 16 Maret 2026. Mari Sempurnakan Puasa dengan Berbagi Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, sekaligus menjadi kegembiraan bagi fakir miskin di hari Idul Fitri.  
Semoga zakat yang Bapak/Ibu salurkan melalui Takmir Masjid Al-Mu’minun diterima oleh Allah SWT dan mendatangkan keberkahan bagi keluarga serta lingkungan kita. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Panitia Zakat Fitrah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara
Share:

"Peta" Syukur

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan ilmu yang praktis bagi kehidupan sehari-hari. Pada Jumat malam, 13 Maret 2026, Bapak Suyadi menyampaikan tausiyah tarawih yang sangat inspiratif mengenai "peta" syukur. 
Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah energi yang harus diletakkan di empat tempat utama dalam diri kita:  
1. Syukur dalam Pikiran (Mindset) Tempat pertama adalah akal atau pikiran kita. Bersyukur dalam pikiran berarti selalu memiliki prasangka baik (Husnuzan) kepada Allah atas segala ketetapan-Nya. Fokus pada apa yang kita miliki, bukan pada apa yang hilang. Menggunakan pikiran untuk merenungkan betapa banyak nikmat Allah yang tak terhitung, sehingga tidak ada celah bagi pikiran negatif untuk bersarang.  
2. Syukur dalam Hati (Merasa Cukup) Hati adalah pusat dari segala rasa. Bapak Suyadi menekankan bahwa syukur di hati berwujud sifat Qana’ah atau merasa cukup. "Kekayaan yang hakiki bukan tentang seberapa banyak harta di tangan, tapi seberapa cukup hati menerima pemberian-Nya." Jika hati sudah merasa cukup, maka ketenangan akan hadir. Inilah benteng utama agar kita terhindar dari sifat serakah dan iri dengki.  
3. Syukur dalam Mulut (Tidak Berkeluh Kesah) Manifestasi syukur yang paling mudah dikenali adalah melalui lisan. Bapak Suyadi berpesan agar kita menjaga mulut dari kebiasaan berkeluh kesah (mengeluh). Basahi lidah dengan kalimat Alhamdulillah. Hindari membanding-bandingkan nasib dengan orang lain yang hanya akan memicu keluhan. Berkata yang baik atau diam adalah bentuk rasa syukur atas nikmat lisan yang diberikan Allah.  
4. Syukur dalam Perbuatan (Tangan dan Kaki yang Beramal) Puncak dari rasa syukur adalah pembuktian melalui tindakan. Syukur harus turun ke tangan dan kaki untuk terus bergerak dalam amal sholeh. Tangan: Digunakan untuk membantu sesama, bersedekah, dan bekerja mencari nafkah yang halal. Kaki: Digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat yang diridai Allah, seperti masjid, majelis ilmu, dan silaturahmi. Syukur dalam perbuatan berarti menggunakan seluruh anggota tubuh untuk menaati Sang Pemberi Nikmat. 

Melalui pesan Bapak Suyadi, kita diajak untuk mengecek kembali: apakah syukur kita sudah menempati empat tempat tersebut? Jangan sampai syukur hanya berhenti di mulut, namun hati masih merasa kurang dan kaki enggan melangkah ke masjid. Semoga di sisa Ramadhan ini, kita mampu menyelaraskan pikiran, hati, lisan, dan perbuatan kita dalam bingkai syukur yang sejati.
Share:

Mengetuk Pintu Langit dengan Adab

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H, tepatnya pada Jumat, 13 Maret 2026, jamaah Masjid Al-Mu’minun mendapatkan pencerahan berharga mengenai "Adab dalam Berdoa". Materi yang disampaikan oleh Bapak Lukman Jarir ini menjadi pengingat penting bahwa dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, ada tata krama yang harus dijaga agar doa kita lebih mustajab.  
Berikut adalah poin-poin utama adab berdoa yang perlu kita amal
kan:  

1. Memulai dengan Pujian dan Shalawat  
Bapak Lukman menekankan bahwa doa tidak boleh langsung dimulai dengan permintaan. Layaknya kita meminta sesuatu kepada sesama manusia, ada "protokol" yang harus diikuti saat menghadap Allah SWT. Memuji Allah: Awali dengan membaca Tahmid atau menyebut Asmaul Husna. Shalawat Nabi: Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ di awal dan di akhir doa adalah kunci agar doa kita tidak terhenti di antara langit dan bumi.  

2. Menghadirkan Hati dan Rasa Rendah Diri  
Seringkali kita berdoa hanya di lisan, sementara pikiran melayang ke urusan dunia. Bapak Lukman mengingatkan: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menunjukkan rasa butuh yang amat sangat (iftiqar) kepada Allah, karena kita hanyalah hamba yang lemah tanpa pertolongan-Nya.   

3. Mencari Waktu-Waktu Mustajab  
Dalam kajiannya, beliau juga menyarankan untuk memanfaatkan momen-momen istimewa di bulan Ramadhan untuk memperbanyak doa, di antaranya: Saat Berbuka Puasa: Di mana doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Waktu Sahur (Sepertiga Malam Terakhir): Saat Allah turun ke langit dunia untuk mengabulkan permintaan hamba-Nya. Di Antara Adzan dan Iqamah: Waktu yang sering terabaikan namun sangat mulia untuk memohon.  

4. Husnuzan (Berprasangka Baik) kepada Allah  
Salah satu adab yang paling penting adalah tidak tergesa-gesa. Jangan sampai kita berhenti berdoa karena merasa doa kita belum dikabulkan. Bapak Lukman berpesan agar kita selalu berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan yang terbaik di waktu yang paling tepat. 

Ramadhan adalah bulan doa. Melalui kajian Bapak Lukman Jarir, kita diingatkan bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Dengan menjaga adab, kita bukan hanya berharap keinginan kita terkabul, tapi kita sedang menunjukkan kemuliaan akhlak kita di hadapan Allah SWT. Semoga di sisa hari Ramadhan ini, setiap doa yang kita panjatkan di Masjid Al-Mu’minun menjadi wasilah datangnya rahmat dan hidayah bagi keluarga dan lingkungan kita.
Share:

Antara Iman yang Mapan dan Sifat Wara’

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana fajar di Masjid Al-Mu’minun kembali menjadi saksi ilmu yang mengalir deras. Pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini, Ustadz Ulil Albab Al-Hafidz membedah rahasia di balik seruan puasa dan bagaimana Allah sedang "mengader" kita melalui ibadah ini.  
Berikut adalah intisari dari tausiyah beliau:  
1. Klasifikasi Orang Beriman:  
Dari yang "Setengah" Hingga yang "Mapan" Ustadz Ulil membuka kajian dengan menjelaskan bahwa iman manusia itu bertingkat-tingkat. Ada kelompok orang yang imannya masih "setengah"—terkadang semangat ibadah, namun terkadang masih sering lalai. Ada pula yang sudah berada pada level "mapan" atau kokoh. Beliau menjelaskan perbedaan seruan dalam Al-Qur'an: Ya ayyuhalladzina amanu: Seruan ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang memiliki benih iman di hatinya, baik yang masih lemah, sedang, maupun yang sudah kuat. Al-Mu’minun: Istilah ini seringkali merujuk pada kelompok tertentu yang imannya benar-benar sudah mapan dan teruji kekokohannya.  
2. Puasa Sebagai Mesin "Kaderisasi"  
Takwa Menariknya, perintah puasa ditujukan kepada seluruh orang yang beriman tanpa memandang level imannya. Mengapa? Karena Ramadhan adalah sebuah proses pengaderan besar-besaran. "Puasa adalah sarana untuk mengader kita semua. Baik yang imannya sedang goyah, yang sedang-sedang saja, hingga yang sudah kuat, semuanya digiring menuju satu titik tujuan yang sama: menjadi hamba yang bertaqwa (La'allakum tattaqun)," jelas Ustadz Ulil. Ramadhan tidak membeda-bedakan latar belakang, ia memberikan kesempatan bagi yang imannya lemah untuk naik kelas, dan bagi yang kuat untuk semakin kokoh.  
3. Wara’: Mahkota dari Sifat Takwa  
Sebagai seorang Al-Hafidz (penghafal Al-Qur'an), beliau menekankan bahwa buah dari pengaderan Ramadhan adalah munculnya sifat Wara’. Apa itu Wara’? Wara’ adalah sikap hati-hati. Bukan sekadar menjauhi yang haram, tetapi orang yang memiliki sifat Wara’ akan sangat berhati-hati terhadap hal-hal yang syubhat (samar) demi menjaga kesucian hatinya. "Orang bertaqwa adalah orang yang selalu waspada dalam setiap langkahnya. Ia hati-hati dalam berucap, hati-hati dalam mencari rezeki, dan hati-hati dalam berperilaku," pungkas beliau. 
Melalui kajian Ustadz Ulil Albab, kita diajak untuk melihat posisi iman kita masing-masing. Ramadhan adalah momentum untuk "meng-upgrade" diri. Jika hari ini iman kita masih terasa setengah, biarkan puasa ini membentuk kita menjadi pribadi yang lebih mapan, kokoh, dan penuh kehati-hatian (Wara’) dalam menjalani kehidupan.
Share:

I'tikaf

Catatan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Masjid Al-Mu'minun – 
Gayam Permai, Banjarnegara Ramadhan kini telah memasuki fase puncaknya. Di sepuluh hari terakhir ini, ada satu ibadah yang menjadi "khas" dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW, yaitu I'tikaf. Bagi kita yang mendambakan kemuliaan malam Lailatul Qadar, I'tikaf adalah sarana terbaik untuk mengkondisikan hati dan jiwa. Berikut adalah ringkasan materi Kajian Subuh (10 Maret 2026) mengenai hakikat dan dalil pelaksanaan I'tikaf.  

Apa itu I'tikaf? 
Secara syar'i, I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Ustadz Yusman, S.H.I. menjelaskan bahwa esensi I'tikaf adalah "memenjarakan diri dalam ketaatan". Kita melepaskan sejenak hiruk-pikuk dunia, gadget, dan urusan pekerjaan untuk fokus total menghamba kepada Sang Pencipta.  
Landasan Hukum (Dalil) I'tikaf Ibadah I'tikaf memiliki landasan yang sangat kuat, baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits: Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 187: Allah SWT menyebutkan syariat ini secara eksplisit: 
 "...tetapi jangan kamu campuri mereka, sedang kamu beriktikaf dalam masjid..." 
Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat utama pelaksanaan I'tikaf. Hadits Riwayat Bukhari & Muslim: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: 
 "Bahwasanya Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah SWT.

 Ini menunjukkan bahwa I'tikaf adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi hingga akhir hayat beliau. Tips Menjalankan I'tikaf yang Berkualitas Agar I'tikaf kita di Masjid Al-Mu'minun atau masjid lainnya tidak sekadar pindah tidur, perhatikan hal berikut:  
Luruskan Niat: Niatkan semata-mata karena Allah untuk mencari keridaan-Nya.  
Perbanyak Tadabbur: Gunakan waktu untuk membaca Al-Qur'an beserta maknanya.  
Kurangi Interaksi Duniawi: Batasi penggunaan ponsel kecuali untuk hal yang sangat darurat.  
Muhasabah Diri: Gunakan kesunyian malam untuk bertaubat dan merencanakan perbaikan diri setelah Ramadhan. 

I'tikaf adalah cara kita "menjemput" bola. Kita tidak tahu kapan Lailatul Qadar turun, namun dengan berada di rumah Allah dalam keadaan beribadah, peluang kita untuk mendapatkannya tentu jauh lebih besar. Semoga di sisa Ramadhan 1447 H ini, Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan I'tikaf dengan khusyuk dan mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Amin.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget