Jejak Kejujuran, Amanah, dan Kemuliaan Akhlak


NOTULEN PENGAJIAN SUBUH 
Pemateri: Ustadz Zein Faqih 
Hari/Tanggal: Ahad, 1 November 2026  
Tema: Sirah Nabawiyah 
— Jejak Kehidupan Nabi Muhammad ﷺ Sebelum Diangkat Menjadi Rasul Tempat: Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara  
Pendahuluan  
Mempelajari Sirah Nabawiyah bukan sekadar mengetahui sejarah perjalanan hidup Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga memahami dan mengambil pelajaran dari keteladanan beliau dalam berbagai aspek kehidupan. Kehidupan Rasulullah ﷺ merupakan cermin bagi umat Islam. Kejujuran, amanah, kesabaran, kebijaksanaan, serta kemuliaan akhlak beliau menjadi pedoman yang menuntun manusia menuju keselamatan dan kebahagiaan di dunia maupun akhirat. Dalam kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih pada Ahad, 1 November 2026, dibahas perjalanan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sebelum menerima wahyu dan diangkat menjadi Rasul.  
Ada banyak peristiwa penting yang menunjukkan bagaimana Allah SWT mempersiapkan beliau menjadi manusia pilihan.  
1. Peristiwa Permintaan Hujan dan Keagungan Nabi Muhammad ﷺ Dalam perjalanan sejarah kehidupan Nabi Muhammad ﷺ, terdapat kisah tentang peristiwa kekeringan yang melanda masyarakat Quraisy. Ketika hujan tidak kunjung turun, Abu Thalib membawa Nabi Muhammad ﷺ yang ketika itu masih kecil menuju Ka'bah. Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Abu Thalib memohon kepada Allah melalui keberkahan kehadiran beliau. Tidak lama kemudian, langit menjadi mendung dan hujan pun turun membasahi bumi. Peristiwa ini menjadi salah satu kisah yang menggambarkan kemuliaan Nabi Muhammad ﷺ sejak masa kecil. Hikmah yang dapat diambil: Sejak kecil, Rasulullah ﷺ telah mendapatkan penjagaan dan kemuliaan dari Allah SWT. Kehidupan beliau menjadi bukti bahwa Allah mempersiapkan hamba pilihan-Nya dengan berbagai keistimewaan.  
2. Perang Fijar dan Perjanjian Hilful Fudhul Ketika berusia sekitar 15 tahun, Nabi Muhammad ﷺ mengalami peristiwa Perang Fijar. Perang ini melibatkan sejumlah kabilah Arab dan terjadi pada bulan-bulan yang dimuliakan, sehingga dianggap melanggar kehormatan bulan haram. Dalam peristiwa tersebut, Nabi Muhammad ﷺ turut hadir. Namun, peran beliau bukan sebagai orang yang terlibat dalam pembunuhan. Beliau membantu mengumpulkan anak-anak panah yang terlepas untuk diberikan kepada kerabatnya. Setelah peristiwa perang tersebut, muncul sebuah kesepakatan yang dikenal dengan nama Hilful Fudhul. Perjanjian ini merupakan kesepakatan sejumlah tokoh Quraisy untuk membela orang-orang yang terzalimi, melindungi hak-hak mereka, serta menegakkan keadilan di Kota Makkah. Perjanjian tersebut menunjukkan bahwa nilai keadilan dan pembelaan terhadap orang yang lemah merupakan prinsip yang sangat penting dalam kehidupan bermasyarakat. Hikmah yang dapat diambil: Membela orang yang terzalimi merupakan perbuatan mulia. Keadilan harus ditegakkan tanpa memandang kedudukan seseorang. Tidak semua persoalan harus diselesaikan dengan kekerasan. Sejak muda, Rasulullah ﷺ telah menunjukkan kepedulian terhadap nilai-nilai kebaikan dan keadilan.  
3. Masa Menggembala dan Memulai Perdagangan Sebelum dikenal sebagai seorang pedagang yang sukses, Nabi Muhammad ﷺ pernah menjalani pekerjaan sebagai penggembala kambing. Hal ini juga dialami oleh para nabi sebelumnya. Rasulullah ﷺ bersabda: "Tidaklah Allah mengutus seorang nabi melainkan ia pernah menggembala kambing." (HR. Bukhari) Pekerjaan menggembala mengajarkan kesabaran, tanggung jawab, ketekunan, serta kepedulian terhadap sesuatu yang menjadi amanah. Ketika berusia sekitar 25 tahun, Nabi Muhammad ﷺ melakukan perjalanan perdagangan ke negeri Syam atas kepercayaan Siti Khadijah radhiyallahu 'anha. Khadijah telah mendengar reputasi beliau sebagai pribadi yang jujur, amanah, dan memiliki akhlak yang sangat baik. Dalam berdagang, Rasulullah ﷺ selalu menyampaikan keadaan barang dengan sebenarnya. Barang yang bagus disampaikan bagus, sedangkan kekurangannya juga dijelaskan secara terbuka tanpa ditutup-tutupi. Dalam perjalanan tersebut, beliau didampingi oleh Maisarah, seorang pembantu Khadijah. Perdagangan berjalan dengan lancar dan menghasilkan keuntungan yang sangat baik. Hikmah yang dapat diambil: Kejujuran merupakan modal utama dalam berdagang. Amanah akan melahirkan kepercayaan. Kesuksesan tidak hanya diukur dari keuntungan materi, tetapi juga dari keberkahan usaha. Pekerjaan sederhana sekalipun dapat membentuk karakter dan tanggung jawab seseorang.  
4. Pernikahan Nabi Muhammad ﷺ dengan Siti Khadijah radhiyallahu 'anha Siti Khadijah merupakan seorang wanita terpandang, cerdas, dan memiliki kedudukan terhormat di kalangan masyarakat Quraisy. Beliau dikenal sebagai seorang saudagar yang memiliki usaha perdagangan. Banyak tokoh yang ingin mempersunting Khadijah, tetapi beliau tidak mudah menerima pinangan tersebut. Salah satu hal yang menjadi pertimbangannya adalah kepribadian dan akhlak calon suami. Kejujuran, amanah, dan kemuliaan akhlak Nabi Muhammad ﷺ membuat Khadijah tertarik untuk menjalin hubungan pernikahan dengan beliau. Melalui perantara Nafisah, Khadijah menyampaikan keinginannya untuk menikah. Nabi Muhammad ﷺ menerima keinginan tersebut. Dengan didampingi oleh paman-pamannya, beliau kemudian meminang Khadijah secara resmi. Beberapa keterangan mengenai pernikahan tersebut: Usia Nabi Muhammad ﷺ: 25 tahun. Usia Siti Khadijah: Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama. Pendapat yang populer menyebutkan 40 tahun, sementara pendapat lain menyebutkan usia yang lebih muda. Status Khadijah: Janda. Mahar: Dalam catatan kajian disebutkan 20 ekor unta. Dari pernikahan Nabi Muhammad ﷺ dengan Siti Khadijah, lahirlah enam orang anak, yaitu: Qasim Zainab Ruqayyah Ummu Kultsum Fatimah Abdullah Adapun Ibrahim merupakan putra Rasulullah ﷺ dari istri beliau yang lain, yaitu Mariyah al-Qibthiyah. Hikmah yang dapat diambil: Pernikahan hendaknya dibangun di atas dasar keimanan, akhlak, dan tanggung jawab. Kemuliaan akhlak lebih utama daripada penampilan maupun kekayaan. Menjaga kehormatan diri merupakan bagian dari kemuliaan seorang muslim. Hubungan pernikahan hendaknya ditempuh melalui jalan yang terhormat dan sesuai syariat Islam.  
5. Renovasi Ka'bah dan Kebijaksanaan Nabi Muhammad ﷺ Ketika Nabi Muhammad ﷺ berusia sekitar 35 tahun, masyarakat Quraisy melakukan renovasi Ka'bah. Bangunan Ka'bah yang memiliki kedudukan sangat mulia tersebut sebelumnya dibangun oleh Nabi Ibrahim 'alaihissalam bersama putranya, Nabi Ismail 'alaihissalam. Dalam proses pembangunan kembali, masyarakat Quraisy berusaha menjaga kesucian sumber dana yang digunakan. Mereka tidak menerima harta yang berasal dari praktik pelacuran, riba, hasil kezaliman, maupun pencurian. Namun, setelah pembangunan selesai, muncul perselisihan antarkabilah mengenai siapa yang berhak meletakkan kembali Hajar Aswad pada tempatnya. Masing-masing kabilah merasa berhak mendapatkan kehormatan tersebut. Perselisihan berlangsung selama beberapa hari dan hampir menimbulkan peperangan. Akhirnya, Abu Umayyah bin al-Mughirah al-Makhzumi mengusulkan agar orang pertama yang memasuki area Ka'bah melalui pintu tertentu diberikan kewenangan untuk menyelesaikan persoalan tersebut. Takdir Allah, orang pertama yang datang adalah Nabi Muhammad ﷺ. Melihat kedatangan beliau, masyarakat Quraisy berseru: "Ini adalah Al-Amin! Kami rela menerima keputusannya." Nabi Muhammad ﷺ kemudian menunjukkan kebijaksanaan yang luar biasa. Beliau membentangkan sehelai kain atau sorban, kemudian meletakkan Hajar Aswad di atasnya. Selanjutnya, setiap pemimpin kabilah diminta memegang salah satu ujung kain tersebut dan mengangkatnya bersama-sama. Setelah Hajar Aswad sampai pada posisi yang tepat, Nabi Muhammad ﷺ mengambilnya dan meletakkannya kembali pada tempat semula. Dengan cara yang adil dan bijaksana, perselisihan antarkabilah dapat diselesaikan tanpa pertumpahan darah. Hikmah yang dapat diambil: Kebijaksanaan mampu menyelesaikan persoalan yang sulit. Seorang pemimpin harus mampu bersikap adil kepada semua pihak. Musyawarah dan kebersamaan lebih baik daripada mengutamakan kepentingan kelompok sendiri. Kepercayaan masyarakat dibangun melalui kejujuran dan perilaku yang konsisten.  
6. Kemuliaan Akhlak Nabi Muhammad ﷺ dan Penjagaan Allah SWT Nabi Muhammad ﷺ dikenal sebagai pribadi yang tenang, tidak banyak berbicara tanpa keperluan, tetapi memiliki kewibawaan yang luar biasa. Beliau tidak mengikuti berbagai bentuk penyimpangan akidah masyarakat Quraisy pada masa jahiliah. Meskipun demikian, beliau tetap berinteraksi dengan masyarakat secara baik, santun, dan penuh penghormatan. Allah SWT senantiasa menjaga Nabi Muhammad ﷺ dari berbagai perbuatan yang tidak pantas dan tidak sesuai dengan kemuliaan akhlak beliau. Dalam beberapa riwayat sirah disebutkan kisah tentang penjagaan Allah terhadap beliau ketika masih muda. Di antaranya, ketika beliau pernah memiliki keinginan untuk menghadiri hiburan masyarakat, tetapi Allah membuat beliau tertidur sehingga tidak menyaksikan perbuatan tersebut. Hal ini menjadi gambaran bahwa Allah telah mempersiapkan dan menjaga Nabi Muhammad ﷺ sebelum masa kenabian. Allah SWT berfirman: "Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung." (QS. Al-Qalam: 4) Rasulullah ﷺ merupakan teladan terbaik dalam kejujuran, kelembutan tutur kata, kesabaran, kesederhanaan, serta kemuliaan akhlak. Tidak mengherankan apabila masyarakat Makkah memberikan gelar Al-Amin, yang berarti orang yang terpercaya. Hikmah yang dapat diambil: Menjaga akhlak dan kehormatan diri merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang muslim. Kita hendaknya berhati-hati dalam memilih lingkungan pergaulan serta menjauhi segala sesuatu yang dapat merusak keimanan dan kehormatan diri.  
7. Diangkat Menjadi Rasulullah ﷺ Setelah melalui perjalanan kehidupan yang penuh keteladanan, pada usia 40 tahun Nabi Muhammad ﷺ menerima wahyu pertama di Gua Hira. Peristiwa tersebut menjadi awal diangkatnya beliau sebagai Rasul Allah SWT yang membawa risalah Islam untuk seluruh umat manusia. Sebelum menerima wahyu, beliau telah dikenal oleh masyarakat sebagai sosok yang jujur, amanah, bijaksana, dan memiliki akhlak yang mulia. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan beliau sebelum masa kenabian merupakan bagian penting dari perjalanan persiapan untuk mengemban tugas besar sebagai utusan Allah SWT. Rasulullah ﷺ bukan hanya menjadi teladan dalam beribadah, tetapi juga dalam kehidupan keluarga, bermasyarakat, berdagang, menyelesaikan persoalan, dan menjaga hubungan antarsesama manusia. Kesimpulan: Lima Sifat Mulia Rasulullah ﷺ yang Harus Kita Teladani Dari perjalanan kehidupan Nabi Muhammad ﷺ sebelum diangkat menjadi Rasul, terdapat banyak pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. 
Sifat Mulia Rasulullah ﷺ Teladan dalam Kehidupan 
 1 Jujur dan Amanah Menjadikan kejujuran sebagai modal utama dalam membangun kepercayaan. 
 2 Lemah Lembut Menjaga tutur kata agar tidak menyakiti dan membuat orang lain membenci kita. 
 3 Tidak Sombong Tidak gengsi melakukan pekerjaan sederhana selama membawa manfaat dan kebaikan. 
 4 Menjaga Kemuliaan Diri Menjaga batas-batas syariat dan tidak mengikuti kebiasaan yang bertentangan dengan ajaran Islam. 
 5 Bijaksana Menyelesaikan persoalan dengan keadilan, musyawarah, dan mengutamakan kemaslahatan bersama. Penutup Mempelajari Sirah Nabawiyah hendaknya tidak berhenti pada pengetahuan tentang sejarah kehidupan Rasulullah ﷺ. Lebih dari itu, kita harus berusaha menerapkan nilai-nilai keteladanan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
Kejujuran dalam bekerja, amanah dalam menjalankan tanggung jawab, kelembutan dalam berbicara, kesederhanaan dalam hidup, serta kebijaksanaan dalam menyelesaikan persoalan merupakan bagian dari akhlak Rasulullah ﷺ yang patut kita teladani. Semoga melalui kajian ini, keimanan kita semakin bertambah dan kecintaan kita kepada Rasulullah ﷺ semakin kuat. Mari kita terus memperdalam ilmu agama, memperbaiki akhlak, dan menghidupkan sunnah Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan taufik dan hidayah kepada kita agar mampu meneladani kemuliaan akhlak Rasulullah ﷺ. Aamiin ya Rabbal 'alamin.
Share:

Sudah Berilmu, Sudahkah Beramal? Muhasabah Diri dari Kajian Ahad Pagi

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama. Pada Ahad pagi, 11 Oktober 2026, telah dilaksanakan kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz. Kajian kali ini membahas beberapa nasihat penting tentang kewajiban mengamalkan ilmu, menjauhi perilaku yang menyerupai kebiasaan setan, mengenali bisikan malaikat dan setan, serta pentingnya menjaga hati dan memperkuat keimanan.  
Kajian ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar tidak hanya bersemangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  
1. Celaka bagi Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmunya  
Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah peringatan tentang bahaya memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu agama seharusnya menjadi petunjuk yang mengarahkan seseorang kepada kebaikan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mengetahui suatu kebenaran memiliki tanggung jawab untuk berusaha menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan tuntunan syariat. Jangan sampai ilmu hanya berhenti pada lisan, catatan, atau sekadar menjadi bahan pembicaraan, sementara perilaku sehari-hari tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari. Karena itu, setiap kali memperoleh ilmu baru, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah ilmu tersebut diamalkan? Sudahkah ilmu itu memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia? Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang banyak diketahui, melainkan juga ilmu yang mendorong pemiliknya semakin taat kepada Allah SWT.  
2. Menjauhi Perilaku yang Menyerupai Kebiasaan Setan  
Dalam kajian ini juga ditekankan pentingnya menjauhi berbagai perilaku yang dicontohkan atau menjadi kebiasaan setan, termasuk dalam perkara-perkara sederhana yang sering dilakukan tanpa disadari. Salah satu contoh yang disampaikan adalah makan dan minum sambil berjalan. Seorang Muslim hendaknya membiasakan diri makan dan minum dengan adab yang baik, memperhatikan tuntunan Rasulullah SAW, serta tidak menganggap remeh kebiasaan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur perkara besar seperti ibadah dan muamalah, tetapi juga mengajarkan adab dalam aktivitas keseharian. Oleh sebab itu, membiasakan perilaku yang baik merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri dan mengikuti tuntunan agama. Setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam bertindak, membiasakan adab Islami, dan berusaha menjauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.  
3. Mengenali Bisikan Malaikat dan Bisikan Setan  
Materi berikutnya membahas tentang bisikan yang dapat memengaruhi hati dan perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi dorongan untuk melakukan kebaikan maupun kecenderungan untuk melakukan keburukan. Bisikan yang mendorong seseorang kepada kebaikan, ketaatan, dan kebenaran perlu disambut dengan kesungguhan. Sebaliknya, bisikan yang mengajak kepada kemaksiatan, kesombongan, kemalasan dalam beribadah, atau perbuatan yang merugikan orang lain harus diwaspadai. Setan berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui keraguan, keinginan yang berlebihan, dan kebiasaan menunda kebaikan. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hatinya tetap terjaga. Mengenali arah suatu dorongan batin juga perlu disertai ilmu dan pemahaman agama. Tidak setiap pikiran yang muncul harus diikuti. Kita perlu menimbangnya berdasarkan Al-Qur'an, sunah Rasulullah SAW, dan tuntunan para ulama.  
4. Amaliah Bergantung pada Hati  
Hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hati berkaitan erat dengan niat, keikhlasan, dan kualitas amal yang dilakukan. Amalan yang tampak baik hendaknya disertai niat yang benar, yaitu mengharapkan rida Allah SWT, bukan semata-mata mencari pujian atau pengakuan manusia. Sebaliknya, hati yang terus dipelihara dengan iman akan membantu seseorang istiqamah dalam menjalankan kebaikan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  
Pesan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanya memperhatikan penampilan luar dan banyaknya amalan, tetapi juga memperhatikan keadaan hati. Sudahkah kita beramal dengan ikhlas? Sudahkah kita menjaga hati dari iri, dengki, sombong, dan riya? Sudahkah kita berusaha meluruskan niat dalam setiap aktivitas? Menjaga hati merupakan proses yang harus dilakukan terus-menerus melalui ilmu, ibadah, muhasabah, dan doa kepada Allah SWT.  
5. Membentengi Diri dari Bisikan Setan  
Agar tidak mudah terpengaruh oleh godaan setan, seorang Muslim perlu membangun benteng keimanan melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang ditekankan dalam kajian ini antara lain:  
a. Memperbanyak zikir kepada Allah SWT Zikir membantu seorang hamba mengingat Allah dalam berbagai keadaan. Dengan membiasakan zikir pagi dan petang, membaca istigfar, serta mengucapkan kalimat-kalimat zikir yang diajarkan Rasulullah SAW, seorang Muslim berusaha menjaga hati agar tidak lalai.  
b. Menjaga wudu Membiasakan diri dalam keadaan suci merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kebersihan dan mempersiapkan diri dalam beribadah. Wudu juga mengingatkan seorang Muslim agar senantiasa memperhatikan kesucian ketika hendak melaksanakan ibadah yang mensyaratkannya.  
c. Membiasakan salat malam Salat malam merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar. Pada waktu malam yang tenang, seorang hamba dapat memperbanyak doa, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat tahajud dan ibadah malam lainnya juga menjadi sarana untuk melatih keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam beribadah. Melalui amalan-amalan tersebut, kita berharap Allah SWT memberikan perlindungan, menguatkan iman, serta memudahkan kita untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.  
6. Mensyukuri Nikmat Besar dari Allah SWT  
Dalam kehidupan ini, ada berbagai nikmat yang terkadang dianggap biasa, padahal memiliki nilai yang sangat besar. Kajian ini mengingatkan kita untuk mengenali dan mensyukuri karunia Allah SWT, di antaranya: a. Anak yang saleh dan salehah Memiliki anak yang saleh dan salehah merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang tumbuh dalam keimanan, berbakti kepada orang tua, dan menjaga ibadah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga. Karena itu, orang tua hendaknya mendidik anak dengan keteladanan, kasih sayang, doa, dan pendidikan agama yang baik. b. Pasangan yang baik Pasangan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, mendukung ibadah, dan menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rumah tangga yang dibangun di atas iman, kasih sayang, dan tanggung jawab akan menjadi tempat bertumbuhnya ketenteraman serta kebaikan. c. Lingkungan yang baik Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan keimanan seseorang. Berada di tengah orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menjaga ibadah, dan mengingatkan ketika melakukan kesalahan merupakan nikmat yang tidak boleh diremehkan. Karena itu, penting bagi kita untuk memilih teman dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman serta menjauhkan diri dari pergaulan yang membawa kepada keburukan. d. Kesabaran dalam menghadapi kehidupan Kesabaran juga merupakan karunia Allah SWT yang sangat berharga. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan menghadapi ujian, baik berupa kesulitan, kehilangan, persoalan keluarga, maupun tantangan dalam menjalankan ketaatan.  
Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah tetap teguh dalam ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan menghadapi ujian dengan ikhtiar serta tawakal kepada Allah SWT. Dengan kesabaran, seorang Muslim belajar menerima ketetapan Allah, memperbaiki diri, dan tetap berharap akan pertolongan-Nya. 7. Mengambil Hikmah dan Mengamalkan Ilmu Dari berbagai nasihat dalam kajian rutin Ahad pagi ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menuntut ilmu harus disertai dengan keinginan kuat untuk mengamalkannya. Kedua, kita perlu menjaga perilaku dan membiasakan adab Islami, bahkan dalam aktivitas sederhana. Ketiga, hati harus senantiasa dijaga agar niat dan amalan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. Keempat, memperbanyak zikir, menjaga wudu, dan membiasakan salat malam merupakan ikhtiar untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Kelima, kita perlu menyadari bahwa anak yang saleh, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung kebaikan, dan kemampuan untuk bersabar adalah nikmat yang patut disyukuri.  
Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti ketika kajian selesai. Justru setelah kajian berakhir, saat itulah kita mulai membuktikan kesungguhan dengan memperbaiki ibadah, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari. Penutup Kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim harus senantiasa diarahkan pada ketaatan kepada Allah SWT. Ilmu perlu diamalkan, hati perlu dijaga, godaan setan perlu diwaspadai, dan setiap nikmat perlu disyukuri. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu dan beramal, memiliki hati yang bersih, istiqamah dalam ibadah, serta mampu mendidik keluarga dan menjaga lingkungan dalam kebaikan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita anak-anak yang saleh dan salehah, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung ketaatan, serta kesabaran dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a'lam bish-shawab.








Share:

Waspada Hati yang Mengeras

Kajian Rutin Ahad Pagi Kajian Rutin Ahad Pagi Ahad, 4 Oktober 2026 bersama Ustadz Yusman, SHI, membahas mengenai fenomena kerasnya hati manusia yang digambarkan sekeras batu dalam Al-Qur'an sehingga seseorang sulit untuk menangis. Mengingat kematian secara intensif, menghindari panjang angan-angan, serta merenungkan kisah tangisan Siti Khotijah terhadap alam kubur menjadi sarana penting untuk melembutkan kembali hati yang keras. 
Dalam kajian disampaikan bahwa tangisan Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar cerita tentang alam kubur menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Hati yang hidup akan mudah tersentuh saat mengingat akhirat, kematian, kubur, serta perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang sulit menangis dan tidak tersentuh oleh nasihat perlu bermuhasabah: jangan-jangan hatinya mulai mengeras. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16, bahwa belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan-Nya; jangan sampai seperti umat terdahulu yang berlalu masa panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. 
 1. Hati yang keras Kerasnya hati membuat seseorang tidak lagi peka terhadap nasihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, kisah kematian didengar, bahkan kabar duka disaksikan, tetapi tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah maupun dorongan untuk memperbaiki diri. Hati yang keras bukan sekadar tidak bisa menangis secara lahiriah. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak tunduk, tidak khusyuk, dan tidak terdorong untuk taat. Karena itu, seorang muslim perlu terus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.  
2. Banyak dosa Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan noda pada hati. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan dibersihkan. Namun bila ia mengulangi dosa, noda itu bertambah hingga menutupi hati. 
Inilah sebab pentingnya segera bertobat. Jangan menunda istighfar dan jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap ringan, jika terus dikumpulkan, dapat menggelapkan hati dan menjadikan seseorang sulit menerima nasihat.  
3. Mengambil hak orang lain Salah satu sebab hati menjadi gelap adalah mengambil atau menahan hak orang lain. Bentuknya dapat berupa kezhaliman, utang yang tidak dibayar padahal mampu, mengurangi timbangan, ghibah, fitnah, mengambil harta yang bukan miliknya, atau menyakiti orang lain tanpa meminta maaf. Hak Allah dapat diampuni dengan tobat yang sungguh-sungguh. Namun hak sesama manusia perlu diselesaikan dengan mengembalikan haknya atau meminta kerelaan. Karena itu, jangan sampai kita datang pada hari kiamat membawa banyak amal, tetapi habis untuk membayar kezhaliman kepada orang lain.  
Mengingat kematian dan mengurangi angan-angan panjang  
Obat bagi hati yang keras adalah banyak mengingat kematian. Kematian mengingatkan bahwa dunia ini sementara, jabatan tidak kekal, harta tidak dibawa mati, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah. Panjang angan-angan sering membuat seseorang menunda tobat: merasa masih muda, merasa masih ada waktu, atau berencana memperbaiki diri nanti. Padahal kematian tidak menunggu kesiapan kita. Karena itu, perbaikilah diri hari ini, selesaikan hak orang lain hari ini, dan perbanyak amal sebelum datang masa ketika penyesalan tidak lagi berguna. Cinta dunia yang berlebihan juga menjadi pangkal banyak kesalahan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah lalai, berbuat zalim, mengejar harta dengan cara yang tidak halal, serta melupakan akhirat. 

 Mari menjaga kelembutan hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjauhi dosa, segera bertobat, menyelesaikan hak orang lain, dan sering mengingat kematian. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, khusyuk, serta mudah menerima petunjuk-Nya.


Share:

Keajaiban Malam Kelahiran Nabi & Rahasia Saudara Sesusuan yang Jarang Orang Tahu!

Ustadz Zein Faqih

Siapa bilang belajar Siroh Nabawiyah itu ngebosenin dan cuma berisi hafalan tahun sejarah? Di Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara (Ahad, 7/9/2026), Ustadz Zein Faqih ngajak kita flashback ke masa muda Nabi Muhammad SAW. 
Ternyata, perjalanan hidup beliau dari lahir sampai usia 40 tahun (sebelum jadi Rasul) tuh relatable banget sama kehidupan anak muda zaman sekarang! Banyak banget pelajaran life skill, pembentukan mental, sampai urusan personal branding yang bisa kita petik. Yuk, simak rangkumannya!  

1. Plot Twist di Tahun Gajah ('Amul Fil)  

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal (20 April 571 M) di Mekkah. Tahun kelahiran beliau dikenal sebagai Tahun Gajah. Kenapa dinamain Tahun Gajah? Karena saat itu ada "invasi" tentara bergajah pimpinan Abrahah dari Yaman yang mau meratakan Ka'bah. Tapi plot twist-nya, Allah SWT ngirim burung Ababil buat menggagalkan pasukan tersebut. Peristiwa ini jadi sinyal besar kalau bakal lahir sosok pembaru peradaban dunia. Fakta menyentuhnya, Nabi lahir dalam kondisi yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih di dalam kandungan. Kakeknya, Abdul Muthalib, ngasih nama "Muhammad"—sebuah nama unik yang artinya orang yang terpuji. 
Berdasarkan riwayat sirah Nabawiyah, terjadi beberapa fenomena luar biasa di alam raya saat malam kelahiran beliau:  
  • Cahaya Memancar dari Aminah: Saat melahirkan, ibunda Aminah menyaksikan cahaya terang benderang yang keluar dari rahimnya hingga menerangi istana-istana di negeri Syam (Suriah).  Padamnya Api Abadi Majusi di Persia: Api sesembahan kaum Majusi di Kekaisaran Persia yang tidak pernah padam selama lebih dari 1.000 tahun mendadak padam seketika.  
  • Runtuhnya Istana Raja Persia: Merekah dan runtuhnya 14 tiang/bumbungan istana Raja Kisra di Persia.  Surutnya Danau Sawa: Danau Sawa di Persia yang disembah oleh sebagian masyarakat tiba-tiba menjadi kering.  
  • Bintang Agung Muncul: Para cendekiawan dan pendeta dari kaum Yahudi serta Nasrani melihat munculnya bintang terang di langit (dikenal sebagai Bintang Ahmad/Muhammad), yang menjadi pertanda lahirnya nabi terakhir. 

2. 'Sertifikasi' Mental Sejak Kecil: Anak Yatim yang Tangguh  

Zaman dulu, ada tradisi bayi dititipin ke masyarakat pedalaman gurun supaya dapat udara bersih dan pinter bahasa Arab murni. Muhammad kecil diasuh sama Halimah as-Sa'diyyah dari Bani Sa'ad. Kisah penyusuan Nabi Muhammad SAW bersama paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, merupakan salah satu ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat istimewa dalam siroh Nabawiyah. Hubungan mereka tidak hanya sebatas paman dan keponakan, tetapi juga saudara sesusuan (Akhi mir Ridha'ah), yang membuat jalinan kasih sayang di antara keduanya begitu erat sejak kecil hingga akhir hayat. 
Bukannya bikin repot, kehadiran Muhammad kecil malah membawa berkah luar biasa buat keluarga Halimah. Peternakan mereka jadi subur dan melimpah. Tapi, jalan hidup Muhammad kecil nggak makin gampang:  
Usia 6 tahun: Ibunda tercinta, Aminah, wafat di Al-Abwa'. Muhammad officially jadi anak yatim piatu. 
Usia 8 tahun: Kakek yang menyayanginya, Abdul Muthalib, ikut berpulang. Pengasuhan lalu dilanjutin sama pamannya, Abu Thalib. Lesson learned: Keterbatasan dan musibah di masa kecil nggak bikin Muhammad tumbuh jadi pribadi yang hopeless, tapi justru bikin mentalnya makin sekuat baja.  






Share:

Bermuamalah di Jaman Fitnah

Foto By AI

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, seorang muslim tidak hanya dituntut untuk memperbaiki ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia. Kejujuran, amanah, menjaga harta, tidak mengambil hak orang lain, serta berhati-hati dalam berbicara menjadi bagian penting dari keimanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai bentuk fitnah atau ujian. Fitnah tidak selalu berarti berita bohong atau tuduhan. Dalam konteks agama, fitnah juga dapat bermakna ujian dan cobaan yang menguji keimanan seseorang. Karena itu, di tengah zaman yang penuh dengan berbagai ujian, kita perlu terus mengecas iman. Salah satu sarana untuk menguatkan iman adalah menghadiri majelis ilmu. 
As-Sakinah sebagai Sumber Menambah Keimanan  
Hati manusia mengalami perubahan. Ada saatnya semangat beribadah meningkat, tetapi ada pula saat iman terasa melemah. Karena itu, kita membutuhkan lingkungan dan kegiatan yang dapat membantu menjaga keteguhan hati. Majelis ilmu menjadi salah satu sarana untuk menambah keimanan dan mengingatkan kembali tujuan hidup seorang muslim. Ketika seseorang duduk bersama orang-orang yang belajar agama, mendengarkan nasihat, membaca ayat-ayat Allah, serta mengingat kehidupan akhirat, diharapkan muncul ketenangan dalam hati. Inilah pentingnya menghadiri majelis.  
Mari "Mengecas" Iman  
Sebagaimana baterai membutuhkan energi agar dapat digunakan kembali, iman juga membutuhkan penguatan. Mari mengecas iman sesaat melalui majelis ilmu. Kesibukan bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, menghadapi berbagai persoalan, serta mengejar kebutuhan dunia terkadang membuat perhatian kita terhadap akhirat berkurang. Majelis ilmu menjadi salah satu kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mengingat kembali:  
Untuk apa kita hidup?  
Dari mana harta kita diperoleh?  
Bagaimana kita bermuamalah dengan orang lain?  
Apa yang akan kita bawa ketika menghadap Allah SWT?  
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, hati diharapkan kembali sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Fitnah adalah Ujian Fitnah dalam kehidupan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada fitnah dunia, yaitu berbagai kesenangan, harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan yang dapat membuat seseorang lalai dari Allah SWT.  
Ada pula fitnah kubur, yaitu ujian yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian. Karena itu, seorang muslim tidak boleh hanya mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi juga harus mempersiapkan kehidupan akhirat. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia merupakan kesenangan yang sementara, sedangkan kehidupan akhirat memiliki kedudukan yang lebih kekal.  
Jangan Menjual Agama demi Secuil Dunia  
Salah satu ujian besar manusia adalah ketika kepentingan dunia mulai mengalahkan prinsip agama. Harta memang diperlukan. Bekerja dan mencari rezeki merupakan bagian dari kehidupan. Namun, seorang muslim harus tetap memiliki batas yang jelas antara mencari rezeki dan mengorbankan agama demi mendapatkan keuntungan dunia. Jangan sampai karena ingin mendapatkan sedikit keuntungan, seseorang kemudian: berdusta, mengambil hak orang lain, berbuat curang, mengkhianati amanah, melakukan transaksi yang tidak halal, atau membenarkan sesuatu yang salah karena kepentingan pribadi. Harta yang banyak tidak akan memberikan ketenangan jika diperoleh dengan cara yang tidak benar.  Sebaliknya, rezeki yang halal meskipun tidak berlimpah dapat menjadi sumber keberkahan dan ketenteraman.  
Nikmat Sehat Lebih Berharga daripada Kekayaan  
Salah satu nikmat Allah yang sering dilupakan adalah kesehatan. Ketika sehat, seseorang terkadang merasa bahwa kesehatan adalah sesuatu yang biasa. Namun ketika sakit, barulah ia menyadari betapa besar nilai kesehatan. Kekayaan yang banyak tidak selalu dapat memberikan manfaat ketika seseorang tidak memiliki kesehatan untuk menikmatinya. Karena itu, kesehatan merupakan nikmat yang harus disyukuri. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat bekerja, beribadah, belajar, membantu orang lain, menghadiri majelis ilmu, dan melakukan berbagai amal kebaikan.  
Beberapa Penyebab Munculnya Fitnah dalam Muamalah Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai hal yang dapat menjadi pintu munculnya kerusakan dalam muamalah.  
1. Tidak Mau Belajar  
Salah satu masalah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesalahan adalah tidak mau belajar. Ketika seseorang tidak mengetahui aturan agama tentang halal dan haram, hak dan kewajiban, hutang-piutang, jual beli, amanah, serta hubungan sosial, ia dapat melakukan kesalahan tanpa menyadarinya. Karena itu, belajar agama bukan hanya diperlukan bagi orang yang ingin menjadi ustadz atau ahli agama. Setiap muslim membutuhkan ilmu agama untuk menjalani kehidupannya. Terlebih dalam masalah muamalah, karena setiap hari kita berhubungan dengan orang lain.  
2. Tidak Peduli Ketika Mengambil Harta Orang Lain  
Harta merupakan salah satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan manusia. Jangan sampai seseorang merasa ringan ketika mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mengambil harta orang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk, bukan hanya pencurian.  
Misalnya: mengurangi timbangan, memanipulasi harga, mengambil uang yang bukan haknya, menyalahgunakan amanah, menipu dalam transaksi, menggunakan fasilitas yang bukan haknya, atau mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang lain.  
Seorang muslim harus selalu bertanya kepada dirinya: “Apakah harta yang saya dapatkan ini benar-benar halal dan menjadi hak saya?”  
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat agar kita berhati-hati dalam mencari rezeki. Ketika Orang Jujur Dianggap Pendusta Salah satu gambaran zaman fitnah adalah ketika nilai-nilai kebenaran menjadi terbalik. Orang yang jujur dapat dianggap sebagai pendusta. Sebaliknya, orang yang suka berdusta justru dipercaya. Orang yang amanah dapat dianggap berkhianat. Sementara orang yang tidak amanah justru mendapatkan kepercayaan.  
Kondisi seperti ini merupakan peringatan agar seorang muslim tidak menentukan kebenaran hanya berdasarkan popularitas, banyaknya pengikut, atau penilaian manusia. Kebenaran harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama yang memiliki ilmu.  

Munculnya Ruwaibidhah  

Di antara peringatan Rasulullah ﷺ tentang zaman fitnah adalah munculnya ruwaibidhah. Ruwaibidhah digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas dalam suatu urusan, tetapi ikut berbicara dan memberikan pendapat tentang urusan yang seharusnya ditangani oleh orang yang memiliki ilmu dan kompetensi. Fenomena ini menjadi semakin relevan untuk diperhatikan di era informasi. Hari ini siapa pun dapat berbicara melalui media sosial. Seseorang dapat membuat video, menulis artikel, membuat komentar, bahkan memberikan nasihat kepada jutaan orang hanya melalui sebuah telepon genggam. Kemudahan berbicara tidak selalu berarti seseorang memiliki ilmu dan kapasitas untuk berbicara tentang apa yang disampaikannya. Karena itu, dalam masalah agama kita perlu berhati-hati.  
Jangan Semua yang Berbicara Agama Langsung Diikuti Ketika seseorang berbicara tentang agama, hendaknya kita memperhatikan: dari mana ilmunya, siapa gurunya, apa dasar yang digunakan, bagaimana penjelasan ulama terhadap masalah tersebut, dan apakah yang disampaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Bukan berarti kita boleh merendahkan orang yang belum memiliki ilmu. Justru sebaliknya, hal ini mengajarkan kita untuk menempatkan ilmu kepada ahlinya. Orang yang belum memahami suatu persoalan sebaiknya mengatakan: “Saya belum tahu.” Mengakui ketidaktahuan jauh lebih selamat daripada berbicara tentang agama tanpa ilmu.  
Muamalah adalah Cermin Keimanan Keimanan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di masjid. Iman juga tercermin ketika seseorang: berdagang, bekerja, menerima amanah, memegang uang, berhutang, membayar hutang, berbicara dengan tetangga, bekerja dalam sebuah organisasi, menggunakan fasilitas bersama, dan berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, memperbaiki muamalah merupakan bagian dari usaha memperbaiki iman.  
Jangan sampai seseorang terlihat rajin beribadah, tetapi dalam urusan harta masih mengambil hak orang lain. Jangan sampai seseorang banyak berbicara tentang agama, tetapi tidak menjaga amanah. Ibadah kepada Allah dan akhlak kepada manusia harus berjalan bersama.  
Bagaimana Menghadapi Zaman Fitnah?  
Di tengah berbagai ujian kehidupan, beberapa sikap berikut penting untuk terus dijaga.  
  1. Terus Belajar Jangan merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Teruslah menghadiri majelis ilmu dan belajar dari sumber yang terpercaya.  
  2. Menjaga Harta Pastikan harta diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk perkara yang baik.  
  3. Menjaga Amanah Apa pun yang dipercayakan kepada kita harus dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya.  
  4. Menjaga Lisan Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus disebarkan. Tidak semua persoalan agama harus kita jawab. 
  5. Memperbanyak Doa Mohon kepada Allah SWT agar diberikan keteguhan iman, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan keselamatan dari berbagai fitnah. 
  6. Menguatkan Lingkungan yang Baik Berada di lingkungan yang mengingatkan kepada Allah akan membantu kita menjaga iman. Salah satunya dengan menghidupkan majelis ilmu di masjid.   
Saatnya Mengecas Iman Zaman fitnah bukan alasan untuk menjauh dari agama. Justru ketika berbagai ujian semakin banyak, kita semakin membutuhkan ilmu, iman, dan lingkungan yang baik. Mari kita gunakan kesempatan berada di majelis ilmu untuk mengecas iman. Kita tinggalkan sejenak kesibukan dunia, kemudian mengingat kembali tujuan hidup, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai kehidupan dunia membuat kita menjual agama demi keuntungan yang sedikit. Jangan sampai harta membuat kita kehilangan amanah. Jangan sampai ketidaktahuan membuat kita berbicara tentang agama tanpa ilmu. Dan jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan kehidupan akhirat. Semoga Allah SWT menjaga kita dari berbagai fitnah, memberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, hati yang tenang, serta keteguhan iman sampai akhir hayat. Aamiin.

Referensi : Pengajian Ustadz ANB di Masjid As Sidiq Pucang Banjarnegara
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget