Sudah sampai di level mana kualitas puasa kita ?

Banjarnegara – Ramadhan 1447 H, suasana spiritual di lingkungan Gayam Permai terasa semakin kental. Pada kegiatan Kajian Subuh Ramadhan, Jumat, 6 Februari 2026, kita berkesempatan mendalami mutiara ilmu dari kitab legendaris Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama) karya Imam Al-Ghazali.Disampaikan oleh Ustadz Ir. Lukman Jarir. Materi yang disampaikan oleh Bapak Lukman Jarir ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: "Sudah sampai di level mana kualitas puasa kita selama ini?" 3 Klasifikasi Puasa Imam Al-Ghazali Dalam kitabnya, Sang Hujjatul Islam membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pembagian ini bukan sekadar teori, melainkan kompas agar kita tidak terjebak dalam rutinitas "lapar dan haus" semata.
Mendalami Makna Setiap Tingkatan 
1. Puasa Awam:  
Level Dasar Ini adalah tingkatan paling standar. Pelakunya berhasil secara syariat—puasanya sah—karena tidak makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar. Kita diajak untuk segera "naik kelas" dari level ini.  
2. Puasa Khusus:  
Puasa Anggota Tubuh Di level ini, puasa bukan lagi soal perut. Bapak Lukman Jarir menekankan pentingnya menjaga "panca indra": Mata: Menjaga pandangan dari hal yang melalaikan. Lisan: Menghindari ghibah, dusta, dan adu domba. Telinga: Tidak mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan cara ini, puasa menjadi perisai (al-junnah) yang nyata bagi karakter kita.  
3. Puasa Khususil Khusus:  
Puasanya Hati Inilah puncak kesempurnaan. Hati benar-benar berpuasa dari selain Allah. Jika terdetik sedikit saja keraguan atau keinginan duniawi yang berlebihan, maka puasa di level ini dianggap "batal" secara maknawi. Puasa ini adalah puasa para Nabi dan kaum Shiddiqin.  

"Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. An-Nasa'i)  


Target Ramadhan 1447 H Melalui kajian ini, kita diingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan. Mari kita jadikan momentum 1447 H ini untuk minimal mencapai derajat Shaumul Khusus. Mari kita "puasakan" lisan kita dari berita hoaks dan mata kita dari konten yang tidak bermanfaat di media sosial. Semoga puasa kita tahun ini mampu menghidupkan jiwa-jiwa kita, sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya.
Share:

Menyimak Panggilan Senyap dari Liang Lahat

Banjarnegara, 5 Maret 2026 – Di bawah naungan kubah Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, malam ke-16 Ramadhan 1447 H terasa berbeda. Udara malam yang tenang seolah membawa kita pada sebuah perenungan panjang saat Bapak Panggung Sutopo menyampaikan untaian nasihatnya. Beliau membawa kita menembus batas dunia, mendengarkan "suara" dari sebuah tempat yang pasti akan kita huni: Alam Kubur. Dalam sebuah riwayat, kubur memanggil kita setiap hari, bukan untuk menakuti, melainkan agar kita tak lupa menyiapkan "perabot" untuk rumah masa depan kita itu. 

1. Teman dalam Kesunyian 
"Aku adalah rumah kesendirian," bisik kubur. Di sana, riuh rendah dunia sirna. Tak ada canda tawa kawan, tak ada hangatnya pelukan keluarga. Pesan Beliau: Agar tak layu dalam sepi, bawalah Al-Qur'an sebagai teman bicara. Lantunan ayat-ayat suci yang kita baca di dunia akan menjelma menjadi sosok cahaya yang menemani hingga hari kebangkitan.  

2. Lentera di Pekatnya Malam  
"Aku adalah rumah yang gelap gulita," lanjutnya. Tanpa cahaya lampu, tanpa sinar mentari. Pesan Beliau: Terangilah liang lahatmu dengan Bangun Malam (Tahajud). Sujud-sujud panjangmu di saat manusia lain terlelap adalah bahan bakar bagi lampu yang takkan pernah padam di alam barzakh. 3. Hamparan Permadani Amal "Aku adalah rumah yang penuh dengan tanah," ia mengingatkan. Tak ada kasur empuk atau bantal sutra yang bisa kita bawa ke sana. Pesan Beliau: Jadikan Amal Sholeh sebagai alas tidurmu. Kebaikan yang kita tanam dengan ikhlas akan menjadi hamparan permadani yang melapangkan sempitnya kubur, sebagaimana firman Allah SWT:

 مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ 
 "Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan (tempat tinggal yang nyaman) untuk diri mereka sendiri." (QS. Ar-Rum: 44) 

4. Perisai dari Sengatan Bahaya "Aku adalah rumahnya binatang buas," suara itu bergema. Kubur memperingatkan akan adanya "racun-racun" yang siap menguji keteguhan kita. Pesan Beliau: Bawalah penawar racun itu dengan senantiasa membasahi lisan melalui Basmalah. Menyertakan nama Allah dalam setiap langkah adalah perisai paling ampuh dari segala gangguan makhluk di perut bumi.  

5. Kunci Menjawab Tanya  
"Aku adalah rumah Munkar dan Nakir," tempat di mana diplomasi dunia tak lagi berguna. Hanya kejujuran iman yang akan bicara. Pesan Beliau: Persiapkan lisanmu dengan dzikir Laa ilaha illallah. Kalimat tauhid inilah yang akan meneguhkan hati kita saat berhadapan dengan utusan Allah tersebut.  

Muhasabah di Masjid Al Mu'minun Ceramah Bapak Panggung Sutopo malam ini adalah sebuah pengingat bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk "berbelanja" perlengkapan rumah masa depan kita. Kubur mungkin terlihat gelap dan sempit bagi mereka yang lalai, namun ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga bagi mereka yang bersiap. Mari kita jadikan sisa malam di bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbanyak bekal. Sebab, pada akhirnya, kita hanya akan pulang membawa apa yang telah kita beri. 
Oleh: Admin Gayam Permai 
Sumber: Tausiyah Tarawih Bapak Panggung Sutopo (05/03/2026)
Share:

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah

Gayam Permai, 5 Maret 2026 – Suasana Subuh di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai terasa begitu khidmat. Di tengah sejuknya udara pagi tanggal 5 Maret 2026, jemaah Kajian Subuh Ramadhan 1447 H berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai perumpamaan orang yang beruntung dan orang yang merugi dengan filosofi seorang petani. 
Ramadhan: Musim Menanam Kebajikan Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan mengajak jemaah merenungi nasib seorang petani. Seorang petani yang sukses adalah mereka yang saat masa panen tiba, hasil yang didapat sesuai dengan harapan yang ia tanam. Begitu pula gambaran seorang mukmin yang sukses. "Orang mukmin yang cerdas adalah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai ladang. Mereka menanam benih ibadah, menyemai kebaikan, dan memupuknya dengan keikhlasan," tutur beliau. 
Namun, beliau memberikan peringatan keras tentang golongan orang yang merugi. Merugi adalah ketika apa yang kita harapkan di akhir nanti, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ibarat petani yang mengharap padi namun yang tumbuh justru ilalang, atau petani yang menanam namun gagal panen. 

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah 
Satu poin penting yang ditekankan Ustadz Ulil Albab adalah bahwa ibadah tidak sekadar "menanam". Banyak orang yang rajin salat, rajin puasa, dan bersedekah, namun mereka lupa menjaga tanamannya. "Hampir sampai masa panen, tiba-tiba datang hama. Begitu juga pahala kita. Seringkali pahala yang sudah kita kumpulkan habis dimakan hama penyakit hati seperti riya, sum'ah, atau memutus silaturahmi," jelas Ustadz Ulil.  
Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki usaha ekstra untuk memagari dan melindungi tanamannya agar selamat hingga hari perhitungan nanti. Merayakan Kemenangan dengan Takbir dan Syukur Menjelang akhir kajian, Ustadz Ulil Albab membahas mengenai momen ketika kita berhasil menyelesaikan ibadah Ramadhan. Beliau mengutip isyarat dari Al-Qur'an bahwa kemampuan kita berpuasa sebulan penuh bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ "

...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

 Ayat ini mengajarkan kita bahwa ketika melihat hilal atau menyelesaikan Ramadhan, kita disunnahkan bertakbir. Takbir tersebut adalah pengakuan bahwa kita bisa selesai Ramadhan hanya karena Allah memberi kesempatan dan kekuatan. 

La Haula Wala Quwwata Illa Billah 
Menutup kajian, Ustadz mengingatkan kembali bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” harus menjadi landasan setiap amal kita. Jika kita merasa sombong dengan amalan kita, ingatlah bahwa kita hanyalah "petani" yang meminjam tanah, benih, dan air dari Sang Pencipta. Maka, bersyukurlah karena telah dipilih Allah untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersujud di Subuh yang berkah ini. Semoga Ramadhan 1447 H ini menjadikan kita petani-petani iman yang sukses memanen pahala di akhirat kelak. Amin. 
Penulis: Admin Gayam Permai 
Sumber: Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Ulil Albab (5 Maret 2026)
Share:

Satu Tetes Air Mata vs Segunung Emas: Mana yang Lebih Berharga?

Gayam Permai, Banjarnegara – Kultum Tarawih, 4 Feb 2026 bersama Bp. Dwi budi Prasojo. 
Malam-malam Ramadhan adalah malam pembuktian cinta. Namun, apakah mencintai Allah itu selalu berisi ketenangan yang instan? Dalam kultum tarawih malam ini di Masjid Al-Mu’minun, sebuah pesan mendalam tersampaikan: Proses mencintai Allah seringkali tidak se-romantis yang kita bayangkan.  


1. Cinta yang Penuh Perjuangan 
Banyak dari kita mengira bahwa ketika kita memutuskan untuk mendekat kepada Allah, jalan akan langsung menjadi mulus dan hati akan langsung merasa tenang. Namun kenyataannya, saat kita berniat melangkah maju, godaan justru datang bertubi-tubi. "Ingin shalat malam, tiba-tiba rasa kantuk menyerang luar biasa. Ingin bersedekah, tiba-tiba ada keperluan duniawi yang membisikkan rasa kikir. Ingin khusyuk, pikiran malah melayang kemana-mana," demikian poin utama dalam ceramah tersebut. Mencintai Allah adalah sebuah proses, sebuah pendakian yang melelahkan sebelum akhirnya kita sampai di puncak kemanisan iman.  

2. Menjaga Hati Agar Tetap 'Terkoneksi'  
Di hari-hari Ramadhan ini, perjuangan terbesar kita adalah menjaga agar hati tetap "terkoneksi" dengan Allah. Jangan sampai kita hadir secara fisik di masjid, namun hati kita "offline" dari kehadiran-Nya. Kesibukan mempersiapkan menu buka puasa, urusan pekerjaan, hingga hiruk-pikuk media sosial seringkali memutus koneksi batin kita. Ramadhan hadir sebagai jembatan untuk menyambung kembali kabel-kabel iman yang putus tersebut.  

3. Keajaiban Satu Tetes Air Mata  
Puncak dari proses mencintai adalah ketika hati mulai melunak dan mengakui segala kehinaan di hadapan Sang Pencipta. Pernahkah kita shalat hingga tak terasa air mata menetes? Itulah tangisan kerinduan dan ketakutan yang suci. Dalam tausiyah ditekankan: "Satu tetes air mata yang jatuh karena rasa takut dan rida kepada Allah, jauh lebih berharga daripada tumpukan emas sebesar gunung." Mengapa? Karena air mata itu adalah bukti kejujuran cinta. Emas bisa dicari dengan kerja keras, namun tetesan air mata yang lahir dari hati yang terkoneksi dengan Allah hanya bisa didapat melalui hidayah dan keikhlasan yang dalam. 
Air mata itulah yang kelak akan memadamkan api neraka bagi pemiliknya. Mencintai Allah memang tidak selalu indah di awal. Ia penuh dengan peluh kesabaran dan godaan setan yang tak henti. Namun, jangan menyerah. Teruslah mendekat meski tertatih. Semoga di sisa malam Ramadhan ini, Allah menganugerahkan kita hati yang lembut, yang mampu menangis karena rida-Nya.
Share:

Pelajaran dari Sebungkus Roti

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan pelajaran hidup yang tak terduga. Pada ceramah tarawih, Rabu malam, 4 Maret 2026, Bapak Suyadi membagikan sebuah kisah sederhana namun menohok tentang betapa seringnya kita terjebak dalam prasangka buruk (su'udzon). Beliau mengangkat tema Olah Hati dan Olah Rasa melalui sebuah ilustrasi cerita pendek yang sarat makna. 


1. Kejadian di Ruang Tunggu Bandara  
Kisah bermula dari seorang wanita yang sedang menunggu jadwal penerbangannya di sebuah bandara. Karena masih memiliki waktu luang, ia memutuskan untuk membeli sebungkus roti dan sebuah buku untuk menemaninya menunggu. Ia duduk di kursi ruang tunggu, meletakkan bungkus rotinya di atas meja di sampingnya. Di kursi sebelah, duduk seorang pria yang tidak ia kenal.  

2. Prasangka yang Mulai Membakar Hati  
Saat wanita itu mengambil satu potong roti dari bungkusnya, ia terkejut karena pria di sampingnya juga mengulurkan tangan dan mengambil satu potong roti dari bungkus yang sama. Wanita itu merasa geram dan berkata dalam hati, "Berani sekali pria ini! Tidak kenal, tidak minta izin, malah ikut makan rotiku. Kalau bukan karena menjaga sopan santun di depan umum, sudah kuparahi dia!" Setiap kali si wanita mengambil roti, si pria juga mengambilnya. Hingga akhirnya tersisa satu potong terakhir. Pria itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu memberikan separuhnya kepada si wanita dengan senyuman ramah. Wanita itu menyambarnya dengan kesal, lalu segera berdiri menuju pintu keberangkatan tanpa mengucapkan terima kasih.  

3. Tamparan di Balik Tas 
Keajaiban atau lebih tepatnya "tamparan" keras bagi hati si wanita terjadi saat ia sudah berada di dalam pesawat. Ketika ia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, tangannya menyentuh sesuatu yang akrab. Ia tertegun. Di dalam tasnya, masih terdapat sebungkus roti yang utuh dan belum terbuka. Seketika wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa roti yang ia makan di ruang tunggu tadi bukanlah miliknya, melainkan milik pria tersebut. Pria yang tadi ia maki-maki di dalam hati justru adalah orang yang sangat dermawan, yang rela berbagi rotinya dengan orang asing tanpa keberatan sedikit pun.  

4. Hikmah Olah Hati: 
Waspada Prasangka Bapak Suyadi menekankan bahwa kisah ini adalah cermin bagi kita semua. "Seringkali kita merasa paling benar dan paling dizalimi, padahal kitalah yang sedang salah paham. Itulah pentingnya Olah Hati," pesan beliau. 

Ramadhan adalah momentum untuk:  
  • Menata Rasa: Jangan biarkan emosi meledak sebelum mengetahui fakta sebenarnya.  
  • Berprasangka Baik (Husnudzon): Memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain berniat baik.  
  • Menahan Diri: Bukan hanya menahan lapar, tapi menahan lisan dan hati dari menghakimi sesama. 
 "Jangan sampai kita merasa paling shalih dan paling benar di bulan Ramadhan ini, hingga dengan mudahnya kita melabeli tetangga atau saudara kita dengan hal-hal buruk yang belum tentu benar." 
 Mari kita bersihkan hati dari noda prasangka, agar ibadah puasa kita menghasilkan akhlak yang mulia.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget