Adab kepada Allah SWT: Kunci Meraih Ridha dan Keberuntungan Hidup

Adab dan Akhlak

Kajian Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono, LC, 7 Juni 2026.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara menjaga perasaan manusia atau menjaga adab kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa adab kepada Allah harus menjadi prioritas utama. Ketika terjadi pertentangan antara keduanya, maka seorang muslim hendaknya lebih mengutamakan ridha Allah SWT daripada mencari ridha manusia. Manusia memiliki keterbatasan. Ridha manusia tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. 
Namun, apabila Allah SWT telah ridha kepada seorang hamba, maka itulah keberuntungan yang sesungguhnya. Menjaga Adab kepada Allah SWT :

1. Beribadah Secara Totalitas kepada Allah SWT 

 Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman: 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 
 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Setiap hari dalam shalat, kita mengikrarkan:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) 

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan untuk mencari pujian manusia. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke neraka meskipun amal mereka tampak besar di mata manusia: 
1).Orang yang mati syahid namun niatnya agar disebut pemberani dan pahlawan. 
2).Ahli Al-Qur'an yang membaca dan mengajarkan Al-Qur'an agar dipuji manusia. 
3).Orang yang gemar berinfak dan bersedekah agar dikenal sebagai dermawan. 
Mereka melakukan amal besar, tetapi kehilangan keikhlasan sehingga tidak mendapatkan ridha Allah SWT. Karena itu, setiap ibadah harus dilandasi niat ikhlas lillahi ta'ala. Hati harus selalu dijaga sebelum beribadah, saat beribadah, dan setelah beribadah agar tidak tercampuri riya' dan keinginan dipuji manusia. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan bernilai kekal, sedangkan yang dilakukan karena manusia akan sirna bersama pujian manusia itu sendiri. 

2. Senantiasa Berusaha Taat kepada Allah SWT 

Adab kepada Allah tidak cukup hanya dengan ibadah sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan yang berkelanjutan. Beberapa bentuk ketaatan yang perlu dijaga antara lain: Menjaga shalat fardhu, terutama bagi laki-laki dengan berjamaah di masjid. Berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan ibadah sunnah. Menjaga pandangan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Allah SWT mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi pada Hari Kiamat atas apa yang pernah dilakukan manusia selama hidup di dunia. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berusaha meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT meskipun sedikit demi sedikit. 

3. Ridha atas Takdir Allah SWT dengan Ikhlas 

Bagian penting dari adab kepada Allah adalah menerima segala ketentuan-Nya dengan penuh keridhaan. Ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Keduanya merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan keimanan kepada Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu kita pahami saat ini. Ridha terhadap takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil terbaik setelah melakukan ikhtiar yang maksimal dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Hikmah yang Dapat Diambil Salah satu pelajaran penting dalam kehidupan adalah memahami bahwa: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah selesai dikejar. Namun ridha Allah adalah tujuan yang pasti membawa keberuntungan. 
 Bila seseorang terus mengejar penilaian manusia, ia akan lelah karena setiap orang memiliki keinginan dan harapan yang berbeda. Namun jika tujuan hidupnya adalah mencari ridha Allah SWT, maka hidupnya akan lebih tenang, terarah, dan penuh keberkahan. 
Ketika harus memilih antara adab kepada agama dan kepentingan manusia, maka pilihlah agama. Ketika harus memilih antara ridha Allah dan pujian manusia, maka pilihlah ridha Allah. Sebab keberuntungan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, tetapi ketika Allah SWT menerima amal dan meridhai kehidupan kita. 
Mari senantiasa menjaga adab kepada Allah SWT dengan beribadah secara totalitas, meningkatkan ketaatan, serta ridha terhadap segala takdir-Nya. Jangan sampai amal yang besar kehilangan nilainya karena niat yang salah. Jagalah keikhlasan dalam setiap amal, karena apa pun yang dilakukan karena Allah akan bernilai abadi di sisi-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, taat, dan senantiasa mencari ridha-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.


Share:

Laporan Distribusi Daging Qurban 1447 H

LAPORAN PENERIMAAN DAN DISTRIBUSI DAGING KURBAN 2026


A. JUMLAH DAGING

SAPI JUMLAH
SAPI 1116,5 Kg
SAPI 2145,5 Kg
SAPI 3147 Kg
SAPI 4133,5 Kg
SAPI 5133 Kg
SAPI 6137,5 Kg
Jumlah Total Daging Kurban 813 Kg

B. PERINCIAN SHOHIBUL QURBAN

Perhitungan (813/6) x 1/3 45,17 Kg
Jatah per Shohibul 45,17 / 7 6,45 Kg
Disepakati 6 Kg per Shohibul
Jumlah Shohibul 42 Orang
Total Daging Shohibul 42 x 6 252 Kg

C. DISTRIBUSI UMUM PER BUNGKUS 1 KG

No Penerima Jumlah
aKintilan Shohibul420 Kg
bNon Shohibul26 Kg
cAsisten Rumah Tangga15 Kg
dPacean24 Kg
eUstadz4 Kg
fLain-lain11 Kg
JUMLAH C 500 Kg

D. LUAR LINGKUNGAN

gPondok Nusa10 Kg
hPondok Noto Ati20 Kg
iRumah Qur’an20 Kg
jPanti Asuhan Harsono11 Kg
JUMLAH D 61 Kg

E. Penerimaan ditambah tulang dan Jeroan

F. Untuk K3 (Kepala, Kuku, Kaki) disalurkan ke Desa Pesangkalan:

  • Dukuh Kembaran Wetan = 30 KK
  • Dukuh Kembaran Kulon = 32 KK
  • Dukuh Gobang = 33 KK

Rekap Distribusi Daging

PELAKSANAAN IBADAH QURBAN 1447 H

Penerima Rincian Jumlah
Sohibul 42 @ 6 Kg 252 Kg
Distribusi Kintilan, Non Sohibul, ART, dll 500 @ 1 Kg 500 Kg
Pondok Nusa 10 Kg 10 Kg
Pondok Noto Ati 20 Kg 20 Kg
Rumah Qur'an 20 Kg 20 Kg
Panti Harsono 11 Kg 11 Kg
JUMLAH 813 Kg

Banjarnegara, 27 Mei 2026

Ketua

Yusman, SHI

Share:

Gallery Ibadah Qurban 1447 H

 Gallery Pelaksanaan Ibadah Qurban 1447 H. Didokumentasikan oleh Sie Dokumentasi bersama Rahmat Ramadhan. 

Sapi Sebelum DiQurbankan
Sapi Sebelum DiQurbankan
Persiapan Penyembelihan
Penyembelihan di RPH
Berdoa sebelumnya
Ustadz Yusman
Pemeriksaan Hati
Pengangkutan
Pengangkutan
Penimbangan
Penimbangan
Penimbangan
Penimbangan
Pengangkutan ke GP
Penimbangan
Pengangkutan ke GP
Penimbangan
Pengolahan daging
Tulang
Tulang
Remaja berkontribusi
Jeroan
Tulang
Asahan pisau
Share:

Pelaksanaan Ibadah Qurban 1447 H

Mengolah Daging untuk didistribusikan

BANJARNEGARA – Pelaksanaan ibadah Qurban 1447 Hijriah di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan nilai gotong royong yang tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 27 Mei 2026 tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.  
Panitia Qurban Masjid Al Mu’minun mencatat bahwa tahun ini sebanyak 6 ekor sapi dengan 42 shohibul qurban. Pelaksanaan qurban tahun 1447 H ini menjadi pelaksanaan kelima sejak pertama kali dimulai pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Hal tersebut menunjukkan semangat masyarakat dalam menjaga syariat Islam sekaligus mempertahankan tradisi ibadah sosial yang penuh manfaat.  
Ketua Panitia Qurban, H. Yusman, S.H.I., menyampaikan bahwa pelaksanaan qurban bukanlah kegiatan sederhana karena melibatkan banyak unsur, mulai dari shohibul qurban, panitia, penyembelih, proses distribusi, hingga masyarakat yang ikut membantu selama kegiatan berlangsung. Namun berkat kerja sama seluruh pihak, kegiatan dapat berjalan lancar dan tertib.  
Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kebersamaan dalam melayani masyarakat,” ujarnya. Pada pelaksanaan tahun ini, total dana pembelian 6 ekor sapi mencapai Rp144.000.000 dengan tambahan biaya penyelenggaraan dan operasional kegiatan. Penyembelihan dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Banjarnegara, kemudian daging didistribusikan kepada masyarakat setelah pelaksanaan Sholat Idul Adha. Total daging qurban yang berhasil didistribusikan mencapai 813 kilogram.  
Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 kilogram dibagikan kepada 42 shohibul qurban dengan masing-masing menerima 6 kilogram daging. Sementara sisanya dibagikan kepada masyarakat umum, asisten rumah tangga, warga sekitar, pondok pesantren, rumah qur’an, panti asuhan, hingga masyarakat di daerah yang jarang menikmati daging qurban.  
Menariknya, semangat kebersamaan dalam kegiatan ini begitu terasa karena hampir seluruh warga ikut terlibat membantu pelaksanaan qurban. Hal tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi sosial yang tumbuh di tengah masyarakat Gayam Permai. Selain pembagian daging, panitia juga menyalurkan kepala, kaki, dan kuku hewan qurban ke wilayah Desa Pesangkalan untuk dibagikan kepada masyarakat di beberapa dukuh, di antaranya Dukuh Kembaran Wetan, Dukuh Kembaran Kulon, dan Dukuh Gobang.  
Langkah ini dilakukan agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan. Pelaksanaan qurban juga melibatkan banyak relawan dalam berbagai bidang, mulai dari pengawasan, penyembelihan, distribusi, dokumentasi, keamanan, konsumsi, hingga kebersihan. Para ibu-ibu PKK turut aktif membantu penyediaan konsumsi bagi panitia dan relawan yang bekerja sejak pagi hari.  
Panitia berharap kegiatan qurban ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang manajemen, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah antarwarga. Selain itu, laporan kegiatan yang disusun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi untuk penyelenggaraan qurban pada tahun-tahun berikutnya.  
Melalui semangat qurban, masyarakat diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nilai pengorbanan, kepedulian terhadap sesama, serta kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan qurban di Masjid Al Mu’minun menjadi bukti bahwa ibadah qurban bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Semoga semangat berbagi dan gotong royong ini terus terjaga serta menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan.
Share:

Pentingnya Belajar Fiqih dalam Kehidupan Muslim


Islam adalah agama yang sempurna. Setiap ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak cukup hanya dengan niat baik semata, tetapi juga harus sesuai dengan tuntunan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Karena itulah ilmu fiqih menjadi sangat penting dipelajari oleh setiap muslim. Muhammad mengajarkan bahwa ibadah harus dilandasi ilmu, bukan sekadar kebiasaan, tradisi, atau perasaan. Banyak amalan terlihat baik di mata manusia, tetapi jika tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka amalan tersebut dapat tertolak di sisi Allah. 
Ilmu fiqih membantu seorang muslim memahami: Mana yang wajib dan mana yang sunnah Mana yang halal dan mana yang haram Tata cara ibadah yang benar Hukum-hukum syariat dalam kehidupan sehari-hari Adab bermuamalah dengan sesama manusia Tanpa ilmu fiqih, seseorang bisa saja beribadah dengan semangat tinggi namun tidak sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. 
Pengertian Ilmu Fiqih Secara bahasa, fiqih berarti “pemahaman”. Sedangkan secara istilah, fiqih adalah ilmu yang mempelajari hukum-hukum syariat Islam yang berkaitan dengan amalan manusia berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Fiqih membahas berbagai perkara seperti: 
Thaharah (bersuci) 
Shalat 
Puasa 
Zakat 
Haji 
Jual beli 
Pernikahan 
Warisan 
Hingga adab kehidupan sehari-hari 

Dengan mempelajari fiqih, seorang muslim akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ. 
Salah satu prinsip terbesar dalam Islam adalah ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kebiasaan manusia. Allah Ta’ala berfirman: 
 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) 
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim wajib mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam seluruh urusan agama. Rasulullah ﷺ juga bersabda: 
 “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Dalam riwayat lain disebutkan: 
 “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) 
Hadits ini menjadi landasan penting bahwa ibadah tidak boleh dibuat-buat. Setiap amalan harus memiliki dalil yang sahih dari Al-Qur’an atau Sunnah. Syarat Diterimanya Amal Ibadah Para ulama menjelaskan bahwa diterimanya amal memiliki dua syarat utama:  
1. Ikhlas Karena Allah Amalan harus dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan untuk dipuji manusia. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)  
2. Sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ Ibadah harus mengikuti contoh Rasulullah ﷺ. Muhammad bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari) Hal ini menunjukkan bahwa tata cara ibadah tidak boleh dibuat sendiri.  

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan Seorang Muslim dalam Beribadah  
1. Menuntut Ilmu Sebelum Beramal Ilmu harus didahulukan sebelum amal. Banyak kesalahan ibadah terjadi karena kurangnya ilmu. Allah berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan amalan.  
2. Memastikan Ada Dalilnya Seorang muslim hendaknya bertanya: Apakah amalan ini pernah dicontohkan Rasulullah ﷺ? Apakah para sahabat melakukannya? Adakah dalil yang sahih tentang amalan tersebut? Jika tidak ada dalil, maka hendaknya berhati-hati untuk tidak mengamalkannya.  
3. Mengikuti Sunnah Menghidupkan sunnah merupakan tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ. Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31)  
4. Menjauhi Bid’ah dalam Agama Bid’ah adalah perkara baru dalam ibadah yang tidak memiliki dasar syariat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim) Karena itu seorang muslim harus berhati-hati agar ibadahnya tidak tercampur dengan amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.  
Contoh Amal yang Sesuai Sunnah Beberapa contoh amalan yang memiliki dalil kuat:  
Shalat lima waktu  
Shalat sunnah rawatib  
Puasa Ramadhan  
Puasa Senin-Kamis  
Membaca Al-Qur’an  
Dzikir pagi dan petang  
Bersedekah  
Menjaga silaturahmi  
Berbakti kepada orang tua 

Semua amalan tersebut memiliki contoh dan tuntunan dari Rasulullah ﷺ.  

Bahaya Beramal Tanpa Ilmu 
Beramal tanpa ilmu dapat menyebabkan: Ibadah tidak diterima Terjatuh pada kesesatan Menyebarkan amalan yang tidak benar Menganggap baik sesuatu yang tidak disyariatkan Karena itu para ulama sangat menekankan pentingnya belajar agama dari sumber yang benar. Kedudukan Sunnah dalam Islam Sunnah Rasulullah ﷺ adalah penjelas Al-Qur’an. Tidak mungkin seorang muslim memahami Islam dengan benar tanpa mengikuti Sunnah. Allah berfirman:  

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) 

Maka mengikuti Sunnah adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Penutup Ilmu fiqih adalah cahaya yang membimbing seorang muslim agar ibadahnya benar dan diterima Allah. Semangat beribadah harus dibarengi dengan ilmu dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Jangan sampai seseorang rajin beramal namun ternyata amalannya tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ sehingga menjadi tertolak. Seorang muslim hendaknya selalu: Belajar agama dari sumber yang benar Mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Memastikan setiap ibadah memiliki dalil Menjauhi bid’ah dan perkara yang diada-adakan dalam agama Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, dan kemampuan untuk istiqamah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.

Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget