| 18 Februari 2026 | 19 Februari 2026 | 20 Februari 2026 |
Penceramah: Ustadz M.Akbar Tema : Kemuliaan Ramadhan |
![]() Penceramah: Ustadz Ulil Albab Tema :Derajat Taqwa Yang Hakiki |
![]() Penceramah: Bp.Lukman Jarir Tema : Hati Yang Bersih (Qolbun Salim) |
| 21 Februari 2026 | 22 Februari 2026 | 23 Februari 2026 |
Penceramah: Bp.Panggung S Tema : Doa-Doa di Ajarkan Nabi |
![]() Penceramah: Bp.Bambang Tema : |
![]() Penceramah: Bp.Suyadi Tema : Hati Yang Bersih (Qolbun Salim) |
Pelaksanaan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H
10 Perkara Sia-Sia di Bulan Ramadhan
![]() |
| MC dari TPQ |
Kegembiraan yang Berdasar
Ustadz Lukman mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan kita untuk senantiasa bergembira menyambut dan menjalani Ramadhan. Mengapa? Karena Ramadhan adalah kesempatan yang sangat dirindukan, bahkan oleh mereka yang sudah mendahului kita.
"Seandainya orang yang sudah wafat bisa kembali ke dunia, satu-satunya waktu yang ingin mereka jumpai adalah bulan Ramadhan untuk beribadah. Maka, sungguh beruntung kita yang masih diberi nafas hari ini," ujar beliau.
Kesempurnaan Ciptaan dan Amanah Ibadah
Beliau juga menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Namun, kesempurnaan fisik dan akal itu akan menjadi hujah (tuntutan) di akhirat jika tidak digunakan untuk menghamba kepada-Nya.
10 Perkara Sia-Sia yang Harus Dihindari
Dalam inti kajiannya, Ustadz Lukman memaparkan 10 perkara yang sering kali menjadi sia-sia, terutama jika dibiarkan berlalu begitu saja di bulan Ramadhan:
Ilmu yang Tidak Diamalkan: Mengetahui keutamaan ibadah namun tidak mempraktikkannya.
Ibadah yang Sia-sia: Melakukan ritual ibadah namun tidak memenuhi syarat, rukun, atau tidak ikhlas.
Harta yang Tidak Diinfakkan: Memiliki kelebihan rezeki namun kikir untuk berbagi di bulan kedermawanan.
Hati yang Kosong dari Rindu kepada Allah: Hati yang hanya sibuk dengan urusan duniawi tanpa getaran kerinduan pada Sang Pencipta.
Anggota Badan yang Tidak untuk Beribadah: Mata, telinga, dan tangan yang tidak digunakan untuk ketaatan.
Cinta yang Tidak untuk Perintah Allah: Mencintai mahluk atau dunia melebihi cintanya pada aturan Allah.
Waktu yang Terbuang: Melewatkan detik demi detik Ramadhan tanpa dzikir, tilawah, atau amal saleh.
Pikiran yang Tidak Bermanfaat: Menghabiskan energi pikiran untuk hal-hal yang buruk atau tidak berfaedah.
Tidak Mengharap Ridho Allah: Beramal hanya karena ikut-ikutan atau ingin dipuji manusia (riya).
Tidak Menimbulkan Kebermanfaatan: Hidup yang hanya untuk diri sendiri tanpa memberi dampak positif bagi orang lain di sekitarnya.
Mumpung Masih Ada Waktu
Di akhir kajian, Ustadz Lukman mengajak jamaah warga Gayam Permai untuk mengevaluasi diri. Jangan sampai kesempurnaan yang Allah berikan justru berakhir pada kesia-siaan. Ramadhan adalah momentum untuk memastikan bahwa ilmu, harta, waktu, dan pikiran kita semuanya bernilai ibadah.
Puasa: Syariat Lintas Zaman
22 Februari 2026
Bersama Nurkholis, S.E.
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Dalam Kultum Tarawih tanggal 22 Februari 2026, Bapak Nurkholis, S.E. menyampaikan pesan yang mengajak jamaah melihat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ibadah yang telah diwariskan sejak umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW.
Puasa bukan ibadah baru. Ia adalah tradisi para nabi, sekaligus ibadah istimewa yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT.
Puasa Telah Diwajibkan Sebelum Umat Nabi Muhammad SAW
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga umat-umat terdahulu. Artinya, puasa adalah ibadah universal yang menjadi sarana pembinaan ketakwaan sepanjang sejarah kenabian.
Tujuan utamanya jelas: la’allakum tattaqun agar kamu bertakwa.
Keistimewaan Puasa Ramadhan
Puasa memiliki banyak keistimewaan dibanding ibadah lainnya:
1. Puasa Adalah Milik Allah
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya.
Mengapa demikian?
Karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Orang lain bisa melihat kita shalat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Tetapi puasa? Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah. Kita bisa saja berpura-pura, tetapi hakikat puasa adalah kejujuran batin.
Puasa mendidik kita untuk jujur pada diri sendiri.
2. Latihan Mengendalikan Diri
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga:
Menahan amarah
Menahan lisan
Menahan pandangan
Menahan hawa nafsu
Jika seseorang hanya menahan makan tetapi lisannya tetap menyakiti, maka hakikat puasanya belum tercapai.
Dalam kultum disampaikan sebuah perumpamaan yang menarik: ular setelah berpuasa tetaplah ular. Sifatnya tidak berubah. Ia tetap berbisa dan membahayakan.
Pesan ini sangat dalam. Jika setelah Ramadhan sifat kita masih sama, masih mudah marah, masih iri, masih suka menyakiti maka jangan-jangan puasa kita baru sebatas lapar dan haus, belum sampai pada perubahan akhlak.
Hikmah Puasa: Pahala dan Introspeksi Diri
Puasa adalah ladang pahala yang luar biasa. Setiap detik kesabaran, setiap rasa haus, setiap upaya menahan diri, semuanya bernilai ibadah.
Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum introspeksi.
Ramadhan mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
- Sudahkah saya jujur dalam pekerjaan?
- Sudahkah saya menjaga amanah?
- Sudahkah saya memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama?
- Sudahkah saya bersungguh-sungguh dalam ibadah?
Puasa melatih kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia dan menengok ke dalam hati.
Jujur pada Diri Sendiri
Salah satu pesan kuat dalam kultum ini adalah tentang kejujuran. Puasa mengajarkan integritas. Saat sendirian, tidak ada yang mengawasi. Tetapi kita tetap memilih untuk taat.
Inilah pendidikan ruhani yang luar biasa.
Jika kejujuran ini terbawa setelah Ramadhan, maka puasa benar-benar telah membentuk karakter.
Tetapi jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita perlu mengevaluasi diri.
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah madrasah pembinaan jiwa.
Penutup
Puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita. Puasa adalah ibadah istimewa yang Allah klaim sebagai milik-Nya secara khusus. Puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri.
Semoga kita tidak menjadi seperti ular yang setelah berpuasa tetap berbisa.
Semoga Ramadhan benar-benar mengubah hati, lisan, dan perilaku kita.
Semoga kita termasuk orang-orang yang meraih derajat takwa.
Wallahu a’lam bishawab.
Buah Khuldi: Peristiwa, Iri Iblis, dan Hikmah
Kajian Subuh Ramadhan, 22 Februari 2026
Bersama Ustadz Susianto, S.K.M
Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam. Pada Kajian Subuh, 22 Februari 2026, Ustadz Susianto, S.K.M mengajak jamaah menyelami kembali salah satu kisah paling penting dalam sejarah manusia: peristiwa Nabi Adam AS dan buah Khuldi.
Kisah ini bukan sekadar cerita awal penciptaan manusia, tetapi pelajaran besar tentang godaan, iri hati, pengakuan dosa, dan rahmat Allah SWT.
1. Peristiwa Buah Khuldi
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 35:
“Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Baqarah: 35)
Larangan itu jelas. Surga penuh kenikmatan, tetapi ada satu batas yang tidak boleh dilanggar.
Namun dalam Surah Al-A’raf ayat 21 disebutkan bagaimana iblis menggoda dengan sumpah dan rayuan:
“Dan dia (iblis) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku ini termasuk para penasihatmu.’”
(QS. Al-A'raf: 21)
Iblis membungkus godaan dengan kata-kata manis, seolah-olah ia adalah penasihat yang tulus. Di sinilah letak awal ujian manusia: tidak semua yang terdengar baik itu benar.
2. Rasa Iri Iblis: Awal Kejatuhan
Sebelum peristiwa buah Khuldi, ada sebab besar yang melatarinya: iri hati.
Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua taat kecuali iblis.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)
Kemudian dalam Surah Al-A’raf ayat 12, iblis mengungkapkan kesombongannya:
“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al-A'raf: 12)
Iri melahirkan kesombongan.
Kesombongan melahirkan pembangkangan.
Pembangkangan melahirkan permusuhan abadi terhadap manusia.
Inilah akar masalahnya. Iblis tidak terima dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Ia merasa lebih unggul.
Kajian ini mengingatkan kita: iri hati adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menghapus kebaikan dan menjerumuskan pada kebinasaan.
3. Pengakuan Nabi Adam: Jalan Taubat
Setelah memakan buah yang dilarang, Nabi Adam AS dan Hawa menyadari kesalahan mereka. Yang menarik, respon mereka berbeda dengan iblis.
Iblis menyalahkan takdir dan menolak bertanggung jawab.
Nabi Adam justru mengakui kesalahan dan memohon ampun.
Dalam Surah Al-A’raf ayat 23 disebutkan doa mereka:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A'raf: 23)
Inilah pelajaran luar biasa: manusia mulia bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena berani mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah.
Ramadhan adalah momentum untuk meneladani sikap Nabi Adam AS—jujur pada diri sendiri dan segera bertaubat.
4. Hikmah di Balik Peristiwa Buah Khuldi
Peristiwa ini menyimpan banyak hikmah:
1️⃣ Manusia Pasti Diuji
Surga pun memiliki batasan. Hidup di dunia tentu lebih banyak ujiannya.
2️⃣ Godaan Datang dengan Kemasan Indah
Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, tetapi dengan sumpah dan janji manis.
3️⃣ Bahaya Iri dan Sombong
Kesombongan iblis menjadi sebab kehancurannya. Penyakit hati ini harus kita waspadai.
4️⃣ Taubat adalah Kemuliaan
Kesalahan bukan akhir segalanya. Taubat yang tulus justru mengangkat derajat manusia.
5️⃣ Dunia adalah Tempat Pembuktian
Turunnya Nabi Adam AS ke bumi bukan sekadar hukuman, tetapi awal amanah sebagai khalifah.
Kajian Subuh ini mengajak kita merenung:
Apakah kita lebih sering seperti iblis yang membenarkan diri?
Ataukah seperti Nabi Adam AS yang segera mengakui kesalahan?
Ramadhan adalah bulan latihan membersihkan iri, menundukkan ego, dan membiasakan diri untuk kembali kepada Allah dengan rendah hati.
Semoga kita termasuk hamba yang ketika tergelincir, segera bangkit dengan taubat.
Semoga hati kita dijauhkan dari iri dan kesombongan.
Dan semoga Ramadhan ini menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Wallahu a’lam bishawab.
Lebih Mulia dari Syahid? Rahasia di Balik Umur yang Berkah
Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Jumat di bulan Ramadhan selalu membawa suasana spiritual yang berbeda. Pada ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun, 21 Februari 2026, Bapak Budi Prasojo membagikan sebuah kisah yang sangat menggugah hati tentang betapa berharganya kesempatan hidup hingga menjumpai bulan suci Ramadhan.
Beliau mengangkat kisah seorang sahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah, yang bermimpi tentang tingkatan surga dua orang sahabat lainnya.
Mimpi yang Mengherankan
Dikisahkan, ada dua orang pria yang datang kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam bersamaan. Salah satunya sangat bersemangat dalam jihad hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada (mati syahid). Sementara sahabat yang satunya lagi wafat setahun kemudian karena sakit.
Dalam mimpinya, Thalhah melihat dirinya berada di depan pintu surga bersama kedua orang tersebut. Tiba-tiba, malaikat keluar dan mempersilakan orang yang mati karena sakit untuk masuk surga terlebih dahulu. Baru setelah itu, orang yang mati syahid dipersilakan masuk.
Thalhah terbangun dengan rasa heran. Secara logika manusia, bukankah derajat syuhada adalah yang tertinggi? Mengapa yang mati karena sakit justru masuk lebih dulu?
Rahasia Satu Tahun dan Satu Ramadhan
Thalhah kemudian menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada para sahabat, "Apa yang membuat kalian heran dari mimpi itu?"
Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, orang ini mati syahid di jalan Allah, tapi mengapa yang wafat belakangan (karena sakit) malah masuk surga lebih dulu?"
Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menjadi inti ceramah Bapak Budi Prasojo malam itu:
"Bukankah orang yang kedua ini hidup setahun lebih lama setelah temannya? Bukankah ia masih mendapati Bulan Ramadhan dan berpuasa di dalamnya? Bukankah ia masih sempat melakukan sekian ribu rakaat sujud dalam setahun itu?"
Pesan Bapak Budi Prasojo: Jangan Sia-siakan Waktu
Melalui kisah ini, Bapak Budi Prasojo menekankan kepada jamaah warga Gayam Permai bahwa:
- Nilai Waktu Ibadah: Tambahan umur yang diberikan Allah adalah peluang emas. Satu tahun tambahan hidup berarti ribuan sujud tambahan dan satu kesempatan Ramadhan yang nilainya luar biasa.
- Keajaiban Ramadhan: Ibadah di bulan Ramadhan memiliki bobot pahala yang mampu melampaui amalan-amalan besar lainnya jika dilakukan dengan ikhlas dan maksimal.
- Syukur Atas Kesempatan: Kita yang saat ini sedang menjalani Ramadhan 1447 H adalah orang-orang pilihan yang diberi kesempatan oleh Allah untuk "menyalip" derajat orang lain melalui ibadah di bulan ini.
Kita tidak tahu siapa di antara kita yang akan sampai pada Ramadhan tahun depan," ujar Bapak Budi di akhir ceramahnya. Kisah Thalhah ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan setiap rakaat tarawih, setiap ayat yang dibaca, dan setiap jam puasa yang kita jalani sekarang. Karena bisa jadi, Ramadhan inilah yang akan mengangkat derajat kita lebih tinggi di akhirat kelak.














.jpg)
.heic)



.jpeg)
.jpeg)

.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.jpg)
.heic)
.heic)
.jpg)


