"Peta" Syukur

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan ilmu yang praktis bagi kehidupan sehari-hari. Pada Jumat malam, 13 Maret 2026, Bapak Suyadi menyampaikan tausiyah tarawih yang sangat inspiratif mengenai "peta" syukur. 
Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah energi yang harus diletakkan di empat tempat utama dalam diri kita:  
1. Syukur dalam Pikiran (Mindset) Tempat pertama adalah akal atau pikiran kita. Bersyukur dalam pikiran berarti selalu memiliki prasangka baik (Husnuzan) kepada Allah atas segala ketetapan-Nya. Fokus pada apa yang kita miliki, bukan pada apa yang hilang. Menggunakan pikiran untuk merenungkan betapa banyak nikmat Allah yang tak terhitung, sehingga tidak ada celah bagi pikiran negatif untuk bersarang.  
2. Syukur dalam Hati (Merasa Cukup) Hati adalah pusat dari segala rasa. Bapak Suyadi menekankan bahwa syukur di hati berwujud sifat Qana’ah atau merasa cukup. "Kekayaan yang hakiki bukan tentang seberapa banyak harta di tangan, tapi seberapa cukup hati menerima pemberian-Nya." Jika hati sudah merasa cukup, maka ketenangan akan hadir. Inilah benteng utama agar kita terhindar dari sifat serakah dan iri dengki.  
3. Syukur dalam Mulut (Tidak Berkeluh Kesah) Manifestasi syukur yang paling mudah dikenali adalah melalui lisan. Bapak Suyadi berpesan agar kita menjaga mulut dari kebiasaan berkeluh kesah (mengeluh). Basahi lidah dengan kalimat Alhamdulillah. Hindari membanding-bandingkan nasib dengan orang lain yang hanya akan memicu keluhan. Berkata yang baik atau diam adalah bentuk rasa syukur atas nikmat lisan yang diberikan Allah.  
4. Syukur dalam Perbuatan (Tangan dan Kaki yang Beramal) Puncak dari rasa syukur adalah pembuktian melalui tindakan. Syukur harus turun ke tangan dan kaki untuk terus bergerak dalam amal sholeh. Tangan: Digunakan untuk membantu sesama, bersedekah, dan bekerja mencari nafkah yang halal. Kaki: Digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat yang diridai Allah, seperti masjid, majelis ilmu, dan silaturahmi. Syukur dalam perbuatan berarti menggunakan seluruh anggota tubuh untuk menaati Sang Pemberi Nikmat. 

Melalui pesan Bapak Suyadi, kita diajak untuk mengecek kembali: apakah syukur kita sudah menempati empat tempat tersebut? Jangan sampai syukur hanya berhenti di mulut, namun hati masih merasa kurang dan kaki enggan melangkah ke masjid. Semoga di sisa Ramadhan ini, kita mampu menyelaraskan pikiran, hati, lisan, dan perbuatan kita dalam bingkai syukur yang sejati.
Share:

No comments:

Post a Comment

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget