Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki hari ke-15 Ramadhan 1447 H, Selasa, 3 Maret 2026, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias menimba ilmu. Kali ini, Ustadz Yusman membedah tema yang sangat dekat dengan keseharian kita: dosa lisan dan peliknya urusan minta maaf antar sesama manusia (Hablum Minannas).
Berikut adalah poin-poin penting yang beliau sampaikan:
1. Ternyata, Ada Ghibah yang Diperbolehkan?
Ghibah (membicarakan aib orang lain) adalah dosa besar yang diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri. Namun, Ustadz Yusman menjelaskan bahwa dalam situasi darurat tertentu, syariat memperbolehkan kita menyebutkan keburukan orang lain untuk kemaslahatan, di antaranya:
- Melaporkan Kezaliman:
- Mengadukan orang yang berbuat zalim kepada hakim atau pihak berwenang. Contoh Nyata (Memberi Peringatan): Jika ada oknum sales yang masuk ke lingkungan Gayam Permai dan terbukti melakukan penipuan, kita diperbolehkan menceritakan ciri-ciri dan modus orang tersebut di grup WhatsApp warga agar tetangga lain tidak menjadi korban. Ini bukan ghibah yang berdosa, melainkan perlindungan warga.
- Meminta Fatwa: Menceritakan masalah kepada ulama untuk mendapatkan solusi hukum agama.
- Memberi Peringatan (Tahdzir): Memberitahu orang lain agar tidak tertipu oleh penjahat, pedagang yang curang, atau dalam urusan meminang jodoh agar tidak salah pilih.
- Meminta Bantuan: Menceritakan kemaksiatan seseorang agar orang lain bisa membantu mencegah atau mengubah kemaksiatan tersebut. Seorang istri menceritakan perilaku suaminya yang kurang baik kepada Pak Ustadz atau konselor pernikahan semata-mata untuk mencari solusi agama, bukan untuk merendahkan suami.
![]() |
| MC Kita : Ananda Rahman Bin Lukman |
2. Dilema: Sudah Minta Maaf tapi Tidak Dimaafkan
Bagaimana jika kita sudah tulus mengakui kesalahan dan memohon maaf, namun orang tersebut menolak memaafkan? Ustadz Yusman memberikan ketenangan bagi jamaah:
"Kewajiban kita adalah berikhtiar meminta maaf dengan cara yang baik. Jika ia menolak, maka urusan itu kembali kepada Allah," tutur beliau.
Beliau menyarankan:
Teruslah berbuat baik kepadanya tanpa mengharap balasan.
Doakan kebaikan untuknya secara diam-diam.
Jika pintu maaf tetap tertutup, serahkan kepada Allah. Allah Maha Tahu bahwa kita telah berusaha memperbaiki hubungan (Ishlah).
3. Penyesalan Terlambat: Ingin Minta Maaf tapi Orang Tersebut Sudah Meninggal
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul. Bagaimana cara menebus kesalahan kepada orang yang sudah wafat? Ustadz Yusman memberikan jalan keluar:
Istighfar: Mintakan ampunan kepada Allah untuk orang tersebut sesering mungkin.
- Puji Kebaikan: Ceritakan kebaikan-kebaikan orang tersebut kepada orang lain untuk menutupi kesalahan kita di masa lalu.
- Sedekah Jariyah: Bersedekahlah atas nama orang tersebut. Pahalanya akan sampai kepadanya dan menjadi penebus kesalahan kita kelak di akhirat.
- Menyambung Silaturahmi: Berbuat baiklah kepada keluarga atau sahabat dekat almarhum/almarhumah sebagai bentuk penghormatan.
Anda pernah memiliki perselisihan lama dengan seorang tetangga sesepuh di perumahan tentang batas tanah atau hutang piutang yang belum tuntas, namun beliau wafat sebelum Anda sempat berdamai.
Solusi Ustadz Yusman:
- Bayar Hutangnya: Jika ada urusan materi, temui ahli warisnya dan selesaikan.
- Sedekah Atas Namanya: Masukkan uang ke kotak amal Masjid Al-Mu’minun dengan niat pahalanya untuk almarhum tetangga tersebut.
- Puji Beliau: Saat kumpul warga, sebutkan kebaikan-kebaikan beliau di masa lalu untuk menghapus noda kesalahan yang pernah Anda sebarkan.
Allah tidak akan mengampuni dosa antar manusia sebelum manusia itu saling memaafkan.
Ustadz Yusman berpesan, "Jangan biarkan ego menghalangi kita untuk meminta maaf, dan jangan biarkan dendam menghalangi kita untuk memberi maaf. Selagi masih ada umur, mari kita bersihkan hati dari ganjalan sesama tetangga dan saudara."






.jpeg)
.jpeg)
No comments:
Post a Comment