Malam-malam Ramadhan adalah malam pembuktian cinta. Namun, apakah mencintai Allah itu selalu berisi ketenangan yang instan? Dalam kultum tarawih malam ini di Masjid Al-Mu’minun, sebuah pesan mendalam tersampaikan: Proses mencintai Allah seringkali tidak se-romantis yang kita bayangkan.
1. Cinta yang Penuh Perjuangan
Banyak dari kita mengira bahwa ketika kita memutuskan untuk mendekat kepada Allah, jalan akan langsung menjadi mulus dan hati akan langsung merasa tenang. Namun kenyataannya, saat kita berniat melangkah maju, godaan justru datang bertubi-tubi.
"Ingin shalat malam, tiba-tiba rasa kantuk menyerang luar biasa. Ingin bersedekah, tiba-tiba ada keperluan duniawi yang membisikkan rasa kikir. Ingin khusyuk, pikiran malah melayang kemana-mana," demikian poin utama dalam ceramah tersebut. Mencintai Allah adalah sebuah proses, sebuah pendakian yang melelahkan sebelum akhirnya kita sampai di puncak kemanisan iman.
2. Menjaga Hati Agar Tetap 'Terkoneksi'
Di hari-hari Ramadhan ini, perjuangan terbesar kita adalah menjaga agar hati tetap "terkoneksi" dengan Allah. Jangan sampai kita hadir secara fisik di masjid, namun hati kita "offline" dari kehadiran-Nya.
Kesibukan mempersiapkan menu buka puasa, urusan pekerjaan, hingga hiruk-pikuk media sosial seringkali memutus koneksi batin kita. Ramadhan hadir sebagai jembatan untuk menyambung kembali kabel-kabel iman yang putus tersebut.
3. Keajaiban Satu Tetes Air Mata
Puncak dari proses mencintai adalah ketika hati mulai melunak dan mengakui segala kehinaan di hadapan Sang Pencipta. Pernahkah kita shalat hingga tak terasa air mata menetes? Itulah tangisan kerinduan dan ketakutan yang suci.
Dalam tausiyah ditekankan:
"Satu tetes air mata yang jatuh karena rasa takut dan rida kepada Allah, jauh lebih berharga daripada tumpukan emas sebesar gunung."
Mengapa? Karena air mata itu adalah bukti kejujuran cinta. Emas bisa dicari dengan kerja keras, namun tetesan air mata yang lahir dari hati yang terkoneksi dengan Allah hanya bisa didapat melalui hidayah dan keikhlasan yang dalam.
Air mata itulah yang kelak akan memadamkan api neraka bagi pemiliknya. Mencintai Allah memang tidak selalu indah di awal. Ia penuh dengan peluh kesabaran dan godaan setan yang tak henti. Namun, jangan menyerah. Teruslah mendekat meski tertatih. Semoga di sisa malam Ramadhan ini, Allah menganugerahkan kita hati yang lembut, yang mampu menangis karena rida-Nya.







No comments:
Post a Comment