Bagi Sohibul Qurban: Jangan Potong Rambut dan Kuku Dulu!

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Jika merujuk pada penanggalan yang dikeluarkan Muhammadiyah maka Tanggal, 17 Mei 2026 ini sudah memasuki tanggal 1 Dzulhijjah. Pada bulan ini, umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, termasuk ibadah qurban yang menjadi syiar agung penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى. 
Di antara adab penting bagi orang yang hendak berqurban adalah tidak memotong rambut dan kuku ketika telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. 
 Rasulullah ﷺ bersabda: 

 “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih kurbannya.” (HR. Muslim No. 1977) 

Makna Hadits Hadits ini menunjukkan adanya anjuran khusus bagi shahibul qurban (orang yang berqurban) untuk menahan diri dari memotong rambut, kuku, maupun bagian kulit sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. Larangan ini bukan berarti haram menurut sebagian besar ulama, namun termasuk sunnah yang sangat dianjurkan untuk dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah qurban.  
Hikmah di Balik Larangan Ini Para ulama menjelaskan beberapa hikmah dari anjuran tersebut, di antaranya:  
1. Menyempurnakan Penghambaan kepada Allah Orang yang berqurban dianjurkan menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tetap utuh hingga hewan qurbannya disembelih, sebagai simbol kesempurnaan ibadah dan ketundukan kepada Allah.  
2. Menyerupai Sebagian Keadaan Jamaah Haji Sebagian ulama menjelaskan bahwa shahibul qurban memiliki kemiripan dengan jamaah haji yang sedang ihram, yaitu sama-sama berada dalam suasana ibadah besar dan pengagungan syiar Allah.  
3. Menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ Menahan diri dari memotong rambut dan kuku adalah bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ).  
Seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada Nabi dengan menjalankan tuntunan beliau meskipun tampak sederhana.  

Momentum Memperbanyak Amal Saleh Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari yang sangat dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah dibanding amal pada hari-hari tersebut. Karena itu, selain mempersiapkan qurban, seorang muslim hendaknya memperbanyak: Dzikir dan takbir Tilawah Al-Qur’an Sedekah Puasa sunnah, terutama Arafah Taubat dan istighfar Membantu sesama 
Ibadah qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga latihan ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah سبحانه وتعالى. Menjaga rambut dan kuku di awal Dzulhijjah merupakan bagian dari adab dan sunnah yang menunjukkan kesungguhan seorang muslim dalam mengagungkan syiar Allah. Semoga Allah menerima amal qurban kita, melimpahkan keberkahan pada keluarga kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.
Share:

Kajian Rutin Ahad Pagi Dilanjutkan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H

Kajian Rutin Ahad Pagi dan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Alhamdulillah, dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: 
  • Hari/Tanggal: Ahad, 17 Mei 2026 
  • Pasaran: Ahad Wage 
  • Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba’da Subuh) 
  • Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 
  • Pemateri: Ustadz Yusman 
Kajian rutin ini menjadi salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman Islam, memperkuat akidah, serta menambah wawasan keilmuan umat. Materi yang disampaikan mencakup pembahasan seputar tafsir, tauhid, fiqih, adab, dan akhlak. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmunya, maka Allah akan memudahkan baginya langkah menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan dan keberkahan hidup. Dengan menghadiri majelis ilmu, seorang muslim tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan agama, tetapi juga memperoleh ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain kajian rutin, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H yang dilaksanakan setelah kajian selesai, sekitar pukul 05.15 WIB. Kegiatan kordinasi ini bertujuan untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai syariat. Seluruh Sohibul Qurban diundang untuk hadir dalam rapat koordinasi guna membahas berbagai persiapan teknis pelaksanaan qurban tahun 1447 H.  
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antarwarga, sehingga pelaksanaan ibadah qurban nantinya dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.  
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir serta meramaikan majelis ilmu ini. Semoga kegiatan yang dilaksanakan menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah. Atas kehadiran dan partisipasi seluruh jamaah serta Sohibul Qurban, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.  
Tentang Masjid Al Mu’minun Masjid Al Mu’minun merupakan pusat kegiatan keislaman di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah, kajian rutin, pendidikan Al-Qur’an, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan semangat kebersamaan dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Masjid Al Mu’minun terus berupaya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.  
Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
Share:

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

Siroh Nabawiyah: Tujuan Mempelajarinya | Kajian Ahad Pahing

Siroh Nabawiyah: Belajar dari Jejak Hidup Rasulullah ﷺ

Dalam perjalanan hidup seorang muslim, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya dari sisi hukum atau ibadah semata. Kita membutuhkan teladan nyata bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pentingnya mempelajari Siroh Nabawiyah.

Siroh bukan sekadar kisah sejarah, tetapi panduan hidup yang penuh hikmah dan relevan sepanjang zaman.

Apa Itu Siroh Nabawiyah?

Siroh Nabawiyah adalah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak lahir hingga wafat, yang mencakup berbagai fase penting:

  • Masa sebelum kenabian
  • Turunnya wahyu pertama
  • Dakwah di Makkah
  • Hijrah ke Madinah
  • Pembangunan masyarakat Islam

Melalui siroh, kita tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga memahami nilai, kesabaran, dan strategi dalam menghadapi kehidupan.

Tujuan Mempelajari Siroh Nabawiyah

1. Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Semakin mengenal beliau, semakin tumbuh kecintaan yang menjadi pondasi keimanan.

2. Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan

Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai pemimpin, ayah, maupun sahabat.

3. Memahami Islam Secara Utuh

Siroh membantu memahami konteks turunnya ayat Al-Qur’an sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

4. Menguatkan Iman dan Kesabaran

Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ penuh ujian, namun beliau tetap istiqomah. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

5. Mengambil Hikmah Dakwah

Dakwah membutuhkan hikmah, kesabaran, dan strategi yang tepat. Semua ini dapat dipelajari dari siroh.

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

📅 Ahad Pahing
🎙 Pemateri: Ustadz Zein Faqih
📍 Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai

Penutup

Mempelajari siroh bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

Semoga kajian ini menjadi awal perjalanan kita untuk lebih mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Kegiatan Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan

 

Jadwal Kegiatan Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan 

Jadwal Kegiatan Mingguan

Kegiatan Mingguan

Kegiatan Harian

Kegiatan Bulanan

Kegiatan Bulanan


Share:

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Ia bukan sekadar konsep teologis, tetapi fondasi yang menyentuh langsung ke dalam jiwa manusia. Dari tauhid, lahir cara pandang hidup, sikap, dan arah tujuan seorang muslim. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tauhid adalah ikatan paling kuat dalam hati manusia. Namun demikian, membahas tauhid bukanlah perkara yang sederhana. Ia termasuk kajian yang sensitif. Sensitif bukan hanya dalam konteks hubungan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain, tetapi juga sensitif di dalam tubuh umat Islam sendiri. Perbedaan pemahaman tentang tauhid bisa terjadi, bahkan di antara sesama kaum muslimin. Inilah sebabnya mengapa tidak banyak yang berani mengangkat tema tauhid secara mendalam. Bukan karena tidak penting, justru karena sangat penting. Tauhid menyentuh wilayah paling dalam dari keyakinan seseorang. Jika tidak disampaikan dengan hati-hati, ia bisa menimbulkan kesalahpahaman, bahkan perpecahan. Perlu Batasan agar Tidak Salah Paham Dalam membahas tauhid, diperlukan batasan yang jelas. Batasan ini bukan untuk membatasi kebenaran, tetapi untuk menjaga adab dalam berdiskusi. Tanpa batasan, perbedaan bisa berubah menjadi saling menuduh, bahkan saling menyalahkan. Padahal, dalam realitasnya, di dalam Islam sendiri terdapat beberapa pendekatan dan pemahaman terkait akidah. Perbedaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Kedewasaan dalam memahami tauhid bukan hanya terletak pada kuatnya dalil yang kita pegang, tetapi juga pada kemampuan kita menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip. Tauhid dan Kedewasaan Berpikir Tauhid membutuhkan pola pikir yang matang. Tanpa kematangan berpikir, kajian tauhid justru bisa menjadi sumber konflik. Orang yang belum siap secara ilmu dan mental, sering kali mudah terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Sebaliknya, mereka yang matang dalam memahami tauhid akan lebih tenang, lebih bijak, dan tidak mudah menghakimi. Mereka memahami bahwa tujuan utama tauhid adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memenangkan perdebatan. Kematangan berpikir ini mencakup: Kemampuan memahami dalil secara proporsional Tidak tergesa-gesa dalam menilai Mengedepankan adab di atas ego Menjaga persatuan umat Tauhid sebagai Pemersatu, Bukan Pemecah Ironisnya, sesuatu yang seharusnya menjadi pemersatu justru sering menjadi pemicu perpecahan. Padahal tauhid adalah kalimat yang sama yang kita yakini: Laa ilaaha illallah. Dari kalimat inilah seharusnya kita bersatu. Perbedaan yang ada hendaknya menjadi ruang belajar, bukan ruang konflik. Selama masih dalam koridor Islam, perbedaan itu harus disikapi dengan lapang dada. Harapan dan Doa Kita patut bersyukur ketika ada lingkungan yang berani menjadikan tauhid sebagai materi kajian. Ini adalah langkah besar, karena tidak semua tempat memiliki keberanian tersebut. Harapannya, kajian tauhid ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat keimanan dan memperhalus akhlak. Semoga Allah SWT membimbing kita semua agar dapat istiqomah dalam memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar. Akhirnya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mengajarkan tauhid dengan penuh hikmah dan kelembutan.

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir

Dipublikasikan untuk kajian keislaman | Kategori: Akidah & Tauhid

Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Ia bukan sekadar konsep teologis, tetapi fondasi yang menyentuh langsung ke dalam jiwa manusia.

Namun demikian, membahas tauhid bukanlah perkara yang sederhana. Ia termasuk kajian yang sensitif, baik secara internal umat Islam maupun eksternal.

Perlu Batasan agar Tidak Salah Paham

Dalam membahas tauhid, diperlukan batasan yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman dan saling menuduh.

Kedewasaan dalam memahami tauhid bukan hanya pada dalil, tetapi pada adab dalam menyikapi perbedaan.

Tauhid dan Kedewasaan Berpikir

  • Memahami dalil secara proporsional
  • Tidak tergesa-gesa dalam menilai
  • Mengedepankan adab
  • Menjaga persatuan umat

Penutup

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk istiqomah dalam tauhid dan menjadikan kita pribadi yang bijak dalam menyikapi perbedaan.

Share:

Undangan Ahad Kliwon: Kajian Rutin Materi Tauhid




🌿 Ahad Kliwon: Saatnya Menguatkan Tauhid di Pagi Hari 

Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara kembali menghadirkan kajian rutin yang insyaAllah penuh manfaat. Ahad besok bertepatan dengan Ahad Kliwon, momen yang tepat untuk memulai hari dengan menuntut ilmu dan mendekatkan diri kepada Allah ﷻ. 

 📌 Kajian Ahad Pagi Masjid Al Mu’minun 

 Masjid Al Mu’minun secara istiqomah menyelenggarakan pengajian rutin setiap Ahad pagi dengan berbagai tema keislaman yang mendalam dan aplikatif. Kegiatan ini terbuka untuk umum dan menjadi sarana memperkuat ukhuwah serta keimanan masyarakat. 

🎤 Pemateri: Ustadz Syafrudin Maulana, LC

🕌 Tema: Tauhid Pada Ahad Kliwon kali ini, kajian akan disampaikan oleh Ustadz Syafrudin Maulana,LC dengan tema besar: “Tauhid: Memperkuat Keyakinan, Membersihkan Hati, dan Mendekatkan Diri kepada Allah ﷻ” 
Tauhid adalah pondasi utama dalam kehidupan seorang muslim. Dengan memahami tauhid secara benar, kita akan memiliki arah hidup yang jelas, hati yang lebih tenang, serta ibadah yang lebih ikhlas. 

🗓️ Info Pelaksanaan 

Hari: Ahad (Ahad Kliwon) 
Waktu: Pagi hari 
Tempat: Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara  

💡 Kenapa Harus Hadir? 

 Menghadiri majelis ilmu bukan hanya menambah pengetahuan, tapi juga membuka jalan menuju kebaikan. Sebagaimana sabda Rasulullah ﷺ:
 “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 

 🌱 Ayo Hadir & Ajak Keluarga  

Jangan lewatkan kesempatan emas ini. Mari luangkan waktu di pagi hari untuk: Menambah ilmu agama Memperbaiki diri Mendekatkan diri kepada Allah Mengajak keluarga dan tetangga dalam kebaikan  

📲 Info & Media Sosial  

Ikuti informasi kegiatan lainnya melalui:  
Blog: https://gayampermai-bna.blogspot.com  
Instagram: @gayampermai_banjarnegara  
YouTube & Facebook: Perumahan Gayam Permai 

🤲 Semoga langkah kita menuju majelis ilmu menjadi jalan kebaikan dan keberkahan dalam hidup. Sampai jumpa di kajian Ahad pagi!
Share:

Menyempurnakan Akhlak: Misi Utama Diutusnya Rasulullah SAW

Ustadz Retno Ahmad P,LC
​​Laporan Kajian Rutin Ahad Pagi Pemateri: Ustadz Retno Ahmad P, Lc. Tanggal: 26 April 2026.
​Dunia mungkin bisa maju dengan teknologi, namun ia akan hancur tanpa fondasi moral yang kuat. Inilah inti dari Kajian Rutin Ahad Pagi pekan ini. Ustadz Retno Ahmad P, Lc. membedah urgensi akhlak dan adab sebagai nyawa dari ajaran Islam. ​

1. Misi Utama Kenabian: 
Menyempurnakan Akhlak ​ Ustadz Retno mengawali kajian dengan mengutip hadits yang menjadi landasan utama mengapa Rasulullah SAW diutus ke muka bumi. Beliau bersabda:


 ​إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ 


"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari). 

Hadits ini menegaskan bahwa inti dari risalah Islam adalah pembentukan karakter. Allah SWT pun memuji langsung kualitas pribadi Rasulullah dalam Al-Qur'an: ​"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4) 

​2. Pedoman Adab dalam Al-Qur'an 
​Ustadz menekankan bahwa mengikuti Rasulullah berarti mengambil seluruh paket ajarannya, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Hasyr: 7. Selain itu, landasan adab sosial banyak tertuang dalam QS. An-Nur, yang memberikan pedoman detail tentang privasi, etika berbicara, dan kesantunan bermasyarakat. ​ 

3. Beratnya Timbangan Akhlak Mulia ​ 
Di akhirat kelak, tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal (Mizan) selain Husnul Khuluq (akhlak yang baik). ​Harumnya Nama Islam: Akhlak yang baik adalah "wajah" agama. Islam akan dipandang indah jika penganutnya memiliki perangai yang santun. ​Kedekatan dengan Rasulullah: Ustadz mengingatkan bahwa orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat tempat duduknya dengan Rasulullah SAW di hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya. ​ 

4. Luasnya Lingkup Adab dalam Islam ​ 
Merujuk pada pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Adabul 'Alim wal Muta'allim, lingkup adab dalam Islam sangatlah luas, mencakup: ​Adab kepada Allah SWT. ​Adab kepada Makhluk (Rasulullah, Malaikat, manusia, hingga alam semesta). ​ 

5. Dua Pilar Adab Muslim kepada Allah SWT ​ 
Sebagai penutup, Ustadz Retno merinci dua adab paling mendasar yang harus dimiliki setiap muslim terhadap Sang Pencipta:Beribadah dengan ikhlas Taat kepada perintah-Nya Bersyukur atas nikmat Bertawakal kepada Allah

Hasyim Asy'ari dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan dalam kehidupan. Lingkup Adab dalam Islam Adab dalam Islam sangat luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan:  
1. Adab kepada Allah SWT Beribadah dengan ikhlas Taat kepada perintah-Nya Bersyukur atas nikmat Bertawakal kepada Allah  
2. Adab kepada Makhluk Adab kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnah Adab kepada sesama manusia Adab kepada malaikat dengan menjaga perilaku Adab kepada alam dengan tidak merusak lingkungan.




Share:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi 2026




Ralat Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu’minun

Perumahan Gayam Permai Banjarnegara


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sehubungan dengan telah dipublikasikannya jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi melalui blog sebelumnya, kami dari Takmir Masjid Al Mu’minun menyampaikan ralat/perbaikan informasi untuk memastikan keakuratan jadwal pengisi kajian dan tema yang disampaikan.

📌 Ralat ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan informasi agar jamaah mendapatkan jadwal yang benar dan terbaru.

📅 Jadwal Pengajian yang Telah Diperbaiki

Ahad Kliwon
Ustadz Akmal
Tema: Tauhid

Ahad Legi
Ustadz Ulil Albab
Tema: Tafsir

Ahad Pahing
Ustadz Zein Faqih
Tema: Siroh

Ahad Pon
Ustadz Retno A.P
Tema: Adab dan Akhlak

Ahad Wage
Ustadz Yusman
Tema: Fiqih

🔗 Informasi Sebelumnya

Kami mohon maaf atas kekeliruan pada informasi yang telah dibagikan sebelumnya. Silakan lihat postingan awal pada link berikut:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi (Versi Sebelumnya)

📣 Ajakan

Mari kita semarakkan majelis ilmu setiap Ahad pagi sebagai sarana meningkatkan iman, ilmu, dan ukhuwah Islamiyah.

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Takmir Masjid Al Mu’minun
Perumahan Gayam Permai Banjarnegara

Share:

Membangun Ruhul Jihad

Banjarnegara, 19 April 2026 – Kajian rutin Ahad Pagi. Kali ini, kita berkesempatan menimba ilmu dari Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, yang membedah esensi perjuangan dalam Islam melalui tema besar: Ruhul Jihad (Semangat Bersungguh-sungguh).  
Jihad: Nafas dalam Setiap Juz Al-Qur'an Ustadz Ulil mengawali kajian dengan fakta menarik bahwa narasi perjuangan atau jihad bukanlah pelengkap semata. Jika kita mentadabburi Al-Qur'an, kisah-kisah mengenai kesungguhan (ruhul jihad) tersebar merata di setiap Juz. Ini menunjukkan bahwa iman dan perjuangan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.  

Belajar dari Keteguhan Sahabat Nabi  

Pada zaman Rasulullah ﷺ, panggilan jihad bukanlah beban, melainkan kehormatan. Para sahabat memberikan teladan luar biasa:  
Totalitas tanpa batas: Ketika seruan jihad berkumandang, segala urusan duniawi—mulai dari perniagaan yang sedang untung hingga pekerjaan di ladang seketika ditinggalkan.  
Standar Keimanan: Begitu krusialnya nilai perjuangan ini, hingga dalam sejarah tercatat bahwa tidak disebut sempurna iman seseorang jika ia absen atau enggan ikut serta dalam membela agama Allah tanpa uzur yang syar'i.  

Inspirasi dari Imam Asy-Syafi'i dan Peradaban Islam  

Ustadz juga menyinggung sosok Imam Asy-Syafi'i. Beliau tumbuh dalam atmosfir peradaban yang sangat menghargai ilmu dan tatanan Islam (seperti yang terlihat di Andalusia pada masa kejayaannya). Lingkungan yang tertata dengan nilai-nilai Islam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pejuang yang tangguh.  

Menyiapkan Kekuatan: Perintah Al-Qur'an Sebagai penutup kajian, Ustadz menekankan pentingnya persiapan (i'dad). Umat Islam diperintahkan untuk tidak lemah dan selalu siap menghadapi tantangan zaman dengan kekuatan yang mumpuni. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (QS. Al-Anfal [8]: 60)  

Di masa lalu, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu kekuatan utama adalah lemparan panah. Di era modern ini, "busur panah" kita bisa bermakna luas: penguasaan teknologi, ekonomi yang kuat, serta kesatuan barisan yang kokoh. 

Ruhul Jihad adalah tentang bersungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan. Bukan hanya tentang medan perang, tapi tentang bagaimana kita meletakkan kepentingan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan pribadi dan pekerjaan kita. Semoga kajian pagi ini menjadi pemantik semangat bagi warga Gayam Permai untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman.


Share:

Doa Di Mudahkan Dalam Melunasi Hutang dan Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menghadapinya


Kajian Rutin Ahad Pagi
Bersama Ustadz Yusman
Tema : Hutang

Hutang adalah perkara yang tidak ringan dalam Islam. Ia bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab di akhirat. Oleh karena itu, Nabi Muhammad memberikan perhatian besar terhadap masalah hutang, bahkan mengajarkan doa khusus untuk memohon pertolongan kepada Allah agar terbebas darinya.  
Kisah Abu Umamah yang Sedih karena Hutang Diriwayatkan dari Abu Umamah, suatu hari beliau terlihat duduk di masjid di luar waktu shalat dalam keadaan sedih dan murung. Melihat hal tersebut,  

Rasulullah ﷺ bertanya: 
Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid bukan pada waktu shalat?”  
Ia menjawab bahwa dirinya sedang diliputi kesedihan dan terlilit hutang. 

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:  
Maukah aku ajarkan kepadamu suatu doa, yang apabila engkau membacanya, Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan melunasi hutangmu?”  
Abu Umamah menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengajarkan doa berikut:  

Doa Melunasi Hutang 


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ  
Artinya: 
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kegelisahan, 
aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, 
aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, 
dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Abu Dawud)

Abu Umamah kemudian mengamalkan doa ini, dan Allah pun menghilangkan kesedihannya serta melunasi hutangnya.  

Apakah Rasulullah ﷺ Pernah Berhutang?  

Jawabannya: ya, Rasulullah ﷺ pernah berhutang. Hal ini menunjukkan bahwa berhutang bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak, selama dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.  

1. Berhutang kepada Jabir bin Abdillah  
Rasulullah ﷺ pernah memiliki urusan hutang yang berkaitan dengan keluarga Jabir. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi membantu melunasi hutang ayah Jabir dan bahkan mendoakan keberkahan atas hartanya.  
2. Berhutang kepada seorang Yahudi  
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran yang ditangguhkan (hutang), dan menjaminkan baju besinya. Ini menunjukkan: Hutang boleh dilakukan kepada siapa saja, termasuk non-Muslim.  Hutang harus disertai tanggung jawab dan jaminan.  

Hutang yang Dilarang dalam Islam  

Tidak semua hutang diperbolehkan. Islam melarang hutang yang mengandung unsur dosa, seperti:  
❌ Hutang untuk maksiat Contoh: Judi Minuman keras Perbuatan haram lainnya  
❌ Hutang tanpa niat membayar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat tidak ingin mengembalikannya, maka Allah akan membinasakannya.” (HR. Bukhari)  
Janji Allah bagi Orang yang Ingin Melunasi Hutang Islam sangat memuliakan orang yang memiliki niat kuat untuk melunasi hutangnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berhutang dengan niat ingin membayarnya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasinya.” (HR. Bukhari) 

Ini adalah kabar gembira:  
➡️ Selama niat kita benar  
➡️ Kita berusaha  
➡️ Kita berdoa Maka pertolongan Allah akan datang.  

Sikap Seorang Muslim terhadap Hutang Dari ajaran Rasulullah ﷺ, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting: Hutang boleh, tetapi harus hati-hati Niat melunasi adalah kunci utama Perbanyak doa dan tawakal kepada Allah Hindari hutang untuk hal yang haram Segera melunasi jika mampu Hutang bukan hanya urusan dunia, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri, memperbaiki niat, dan mengamalkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar Allah memudahkan kita terbebas dari hutang.
Share:

Ketika Badan Kenyang, Tapi Hati Lapar

Kajian Rutin Ahad Pagi, 05 April 2026
Bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz

Pendahuluan 
Dalam kehidupan ini, manusia tidak hanya terdiri dari fisik semata. Ada tiga unsur utama yang harus dijaga keseimbangannya, yaitu badan (fisik), akal (pikiran), dan hati (rohani). Ketiganya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas hidup seseorang. Agar ketiga aspek ini berkembang dengan baik dan sehat, maka diperlukan perawatan yang maksimal serta “asupan gizi” yang cukup tidak hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk akal dan hati.  

1. Badan:  Butuh Makanan Bergizi  

Bapak/Ibu, dalam kehidupan sehari-hari kita makan berapa kali? Umumnya, manusia makan tiga kali sehari untuk menjaga kesehatan tubuh. Tubuh membutuhkan: Makanan bergizi Nutrisi yang cukup Pola makan yang teratur Jika tubuh tidak mendapatkan asupan yang cukup, maka fisik akan lemah dan mudah terserang penyakit.  
 

2. Akal: Makanan Utamanya adalah Ilmu  

Selain badan, akal juga membutuhkan “makanan”. Lalu, apa makanan akal? Jawabannya adalah ilmu. Akal yang tidak diberi asupan ilmu akan: Tumpul dalam berpikir Mudah terpengaruh hal negatif Sulit membedakan yang benar dan salah Sebaliknya, akal yang terus diasah dengan ilmu akan: Semakin cerdas Bijak dalam mengambil keputusan Mampu menjalani hidup dengan lebih terarah  

3. Hati: Lebih Peka dan Butuh Nutrisi Ruhani  

Bagian yang sering dilupakan adalah hati. Padahal hati adalah pusat dari segala perilaku manusia. Hati juga membutuhkan “makanan”, yaitu: Dzikir (mengingat Allah) Membaca Al-Qur’an Sholawat Istighfar Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa: “Dalam hati mereka ada penyakit…” Penyakit hati muncul ketika hati tidak mendapatkan asupan yang cukup. 
Akibatnya: Mudah iri dan dengki Sulit menerima kebenaran Hati menjadi keras Padahal hati itu lebih peka dibandingkan fisik. Jika fisik butuh makan 3 kali sehari, maka hati bahkan membutuhkan “makanan” lebih sering. 
Menguatkan Ruhani Sebelum Fisik Sebelum memulai aktivitas fisik, seharusnya kita memulai dengan aktivitas rohani.  
Caranya: 
Membaca Al-Qur’an  
Berdzikir Bersholawat  
Beristighfar  

Dengan hati yang kuat, maka fisik dan akal akan ikut kuat. Nilai Ikhsan dalam Kehidupan Dalam menjalani hidup, kita juga diajarkan untuk memiliki sifat ikhsan, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan merasa selalu diawasi oleh-Nya. Dengan ikhsan: Amal menjadi lebih ikhlas Hati menjadi lebih tenang Hidup lebih terarah Pesan Al-Qur’an: Kuatkan Hati dan Jangan Terpecah Dalam QS. Al-Anfal ayat 45–47, Allah memberikan petunjuk penting:  
  • “Fasbutu” → Teguhkan langkah, kuatkan diri 
  • Taat kepada Allah dan Rasul-Nya 
  • Jangan bercerai-berai 
  • “Wasbiru” → Bersabarlah 

 Pesan ini menegaskan bahwa:  
👉 Kekuatan sejati dimulai dari rohani yang kuat  
👉 Persatuan dan kesabaran adalah kunci keberhasilan 

Hidup yang seimbang adalah hidup yang mampu menjaga: 
Badan dengan makanan bergizi Akal dengan ilmu 
Hati dengan dzikir dan ibadah Mari kita mulai dari diri sendiri: Menguatkan hati sebelum beraktivitas Menjaga keikhlasan dalam setiap amal 
Menjadikan hidup lebih dekat kepada Allah Karena sejatinya, kekuatan terbesar bukan pada fisik… tetapi pada hati yang hidup dan penuh keimanan.

Share:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun, Gayam Permai Banjarnegara


Masjid Al Mu’minun yang berlokasi di Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara, secara rutin menyelenggarakan kegiatan pengajian Ahad pagi yang terbuka untuk umum. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk menambah wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitar. Pengajian ini dilaksanakan setiap hari Ahad pagi dengan menghadirkan para ustadz yang kompeten di bidangnya. 
Menariknya, jadwal pengisi kajian disesuaikan dengan penanggalan Jawa, sehingga setiap pekan menghadirkan suasana dan pembahasan yang beragam/ Tematik.

Berikut jadwal pengajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Mu’minun: 


Ahad Kliwon bersama Ustadz Andi Julianto  
Ahad Legi bersama Ustadz Ulil Albab  
Ahad Pahing bersama Ustadz Zein Faqih  
Ahad Pon bersama Ustadz Retno A.P  
Ahad Wage bersama Ustadz Yusman 

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan ini biasanya dimulai pada pagi hari dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua. Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek kehidupan dalam Islam, seperti akidah, ibadah, akhlak, hingga muamalah, yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan adanya pengajian rutin ini, diharapkan masyarakat dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 
Mari bersama-sama meramaikan majelis ilmu di Masjid Al Mu’minun. Ajak keluarga, sahabat, dan tetangga untuk hadir dan mendapatkan keberkahan dari setiap ilmu yang disampaikan. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat juga dapat mengikuti media sosial Perumahan Gayam Permai melalui berbagai platform yang tersedia. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Share:

Setelah Ramadhan: Bukan Finish, Tapi Garis Start yang Sebenarnya

Kajian Ahad Pagi Pasca Ramadhan, 29 Maret 2026 10 Ramadhan 1447 H Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai, Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Ramadhan telah berlalu. Takbir kemenangan sudah lama menggema.Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita bahwa bagi para sahabat Nabi, Ramadhan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan yang lebih serius. 
Diriwayatkan bahwa para sahabat justru enam bulan setelah Ramadhan terus berdoa agar amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Bukan soal sudah selesai, tapi justru mereka diliputi rasa khawatir: apakah puasa, shalat, dan amal mereka benar-benar sampai kepada-Nya? Sementara kita? Seringkali setelah “lari sprint” selama Ramadhan, justru langsung berhenti total.  
Ibadah yang dulu terasa ringan, kini mulai ditinggalkan. Masjid yang dulu ramai, kini kembali lengang. Padahal sejatinya, Ramadhan adalah latihan, bukan tujuan akhir.  

Sprint Sudah Selesai, Saatnya Menjaga Ritme  
Ramadhan ibarat lari cepat (sprint) yang menguras energi. Kita berusaha maksimal: bangun malam, menahan diri, memperbanyak amal. Namun setelah sprint itu selesai, bukan berarti kita berhenti bergerak. Justru kita perlu mengatur napas, menjaga langkah, dan melanjutkan perjalanan dengan konsisten. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: 

 “Wasāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum…” “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…” (QS. Ali Imran: 133) 

Ayat ini bukan hanya untuk Ramadhan. Ini adalah panggilan sepanjang hidup. Panggilan bagi orang-orang bertakwa (lil muttaqin), yang tidak menunda kebaikan. 
Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan-Sentris Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk bersegera, tetapi juga menjelaskan siapa saja yang termasuk orang bertakwa itu. Ada tanda-tanda nyata yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:  

1. Tetap Berinfak, Baik di Saat Lapang Maupun Sempit Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk berbagi. Mereka memberi saat punya, bahkan tetap memberi saat terasa kekurangan. Karena mereka paham, nilai bukan pada jumlahnya tetapi pada keikhlasan dan konsistensi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” Ini menjadi tamparan halus bagi kita yang semangat di awal, tapi cepat redup setelahnya.  
2. Mampu Menahan Amarah Ramadhan melatih kita menahan lapar dan haus. Tapi sejatinya, yang lebih sulit adalah menahan emosi. Orang bertakwa bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengendalikan marahnya. Di dunia yang penuh provokasi—media sosial, perdebatan, ego—kemampuan menahan amarah adalah tanda kekuatan sejati.  
3. Segera Memohon Ampunan kepada Allah Ciri lainnya adalah tidak menunda taubat. Saat terjatuh dalam kesalahan, mereka tidak berlama-lama tenggelam dalam dosa. Mereka segera kembali, mengetuk pintu ampunan Allah. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka sadar: yang membedakan orang baik dan buruk adalah seberapa cepat ia kembali. 

Apakah Ramadhan Mengubah Kita?  
Pertanyaan penting setelah Ramadhan bukanlah: “Seberapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan?” Tetapi: “Apakah kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa setelahnya?” Jika setelah Ramadhan: Kita masih ringan bersedekah Kita lebih sabar dalam menghadapi emosi Kita lebih cepat kembali kepada Allah saat salah Maka itu tanda Ramadhan kita berhasil. Namun jika semua itu hilang begitu saja, mungkin kita hanya mendapatkan lapar dan haus. 
Doa yang Tak Pernah Berhenti Mari kita belajar dari para sahabat. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan amalnya. Mereka terus berdoa: “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.” Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan tetapi apakah Allah menerimanya. Ramadhan boleh saja telah pergi. Namun jalan menuju Allah masih panjang. Dan orang-orang bertakwa… tidak pernah benar-benar berhenti berlari.
Share:

Sahur Bersama Ramadhan 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, suasana di Masjid Al-Mu’minun kian hidup. Menindaklanjuti Menu Ramadhan 1447 H yang telah disusun, warga Perumahan Gayam Permai tampak antusias menghidupkan malam dengan Iktikaf yang dilanjutkan dengan agenda Sahur Bersama. Bukan sekadar menjalankan ibadah, momen ini menjadi perekat silaturahmi yang luar biasa bagi seluruh warga. 

Menjemput Lailatul Qadar dengan Iktikaf 
Sejak malam-malam ganjil dimulai, area dalam masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin berdiam diri (iktikaf). Ada yang khusyuk dengan tilawah Al-Qur'an, ada yang tenggelam dalam doa, dan ada pula yang melaksanakan shalat-shalat sunnah secara mandiri. Suasana hening dan khidmat di dalam masjid memberikan ruang bagi setiap warga untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. 
Tradisi Sahur Bersama yang Menggugah Selera dan Jiwa  
Sisi menarik dari rangkaian "Menu Ramadhan" di Masjid Al-Mu’minun adalah saat waktu sahur tiba. Panitia dan warga bergotong-royong menyiapkan santapan sahur untuk para jamaah iktikaf. Dalam suasana yang santai namun penuh kekeluargaan, warga berkumpul di area serambi masjid. Terlihat obrolan ringan antar warga, mulai dari bapak-bapak yang berdiskusi tentang ilmu agama hingga ibu-ibu yang dengan telaten menyiapkan menu makanan.  

Kehangatan ini membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga pusat interaksi sosial yang sehat. Menu yang Sederhana, Berkah yang Berlimpah Sebagaimana terekam dalam dokumentasi warga, menu sahur yang disajikan sangatlah beragam. Mulai dari nasi hangat, lauk pauk khas rumahan, hingga kerupuk yang menambah keceriaan suasana sahur.  Kesederhanaan menu ini justru terasa sangat nikmat karena dinikmati bersama-sama dalam bingkai persaudaraan. "Bukan soal mewahnya makanan, tapi rasa kebersamaan dan bisa makan sahur bareng tetangga di masjid itu yang membuat Ramadhan tahun ini terasa sangat berkesan," ujar salah satu jamaah. 
Kegiatan Iktikaf dan Sahur bersama ini merupakan bagian dari upaya Takmir Masjid Al-Mu’minun untuk memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan. Bagi warga yang belum sempat bergabung, pintu masjid selalu terbuka lebar untuk kita bersama-sama mengejar kemuliaan malam Lailatul Qadar. Mari kita jaga terus semangat ini hingga hari kemenangan tiba. Semoga segala amal ibadah kita di "Menu Ramadhan" tahun ini diterima oleh Allah SWT.

Share:

Laporan Kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H

LAPORAN KEGIATAN AMALIYAH RAMADHAN 1447 H 
TA'MIR MASJID AL-MU'MINUN 
PERUMAHAN GAYAM PERMAI 

DAFTAR ISI 
DAFTAR GAMBAR 
BAB I: PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
B. Maksud dan Tujuan 
C. Sasaran Kegiatan 

BAB II: PELAKSANAAN KEGIATAN 
A. Sholat Berjama'ah 
B. Puasa Bulan Ramadhan 
C. Tadarus Al-Qur'an 
D. Sholat Tarawih Berjama'ah 
E. I'tikaf 
F. Kajian Ba'da Subuh dan Tarawih 
G. Buka Puasa Bersama 
H. Sahur Bersama 
I. Anjangsana ke Panti Asuhan 
J. Pengumpulan dan Penyaluran Zakat Fitrah & Mal 

BAB III: PENUTUP 
A. Kesimpulan 
B. Saran 
LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR 
Gambar 1. Poster Publikasi Kegiatan Ramadhan Corner 1447 H 
Gambar 2. Rincian Menu Kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H 



BAB I: PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 
Bulan suci Ramadhan adalah momen yang penuh berkah dan ampunan, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Dalam rangka menyemarakkan syiar Islam dan memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan 1447 H, Ta'mir Masjid Al-Mu'minun Perumahan Gayam Permai menyelenggarakan serangkaian kegiatan keagamaan yang terangkum dalam "Amaliyah Ramadhan 1447 H". 

B. Maksud dan Tujuan 
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan jamaah Masjid Al-Mu'minun.  
Mempererat tali silaturahmi antar warga Perumahan Gayam Permai.  
Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial selama bulan Ramadhan.  
Memberikan fasilitas bagi jamaah untuk meraih keutamaan ibadah di bulan suci.  

C. Sasaran Kegiatan  
Seluruh warga muslim di lingkungan Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya.  


BAB II:  PELAKSANAAN KEGIATAN  

Berikut adalah rincian pelaksanaan kegiatan yang telah diselenggarakan selama bulan Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu'minun: 
  1. Sholat Berjama'ah: Pelaksanaan sholat fardhu 5 waktu secara berjamaah menjadi menu utama untuk meningkatkan kekhusyukan dan kebersamaan.  
  2. Puasa Bulan Ramadhan: Memfasilitasi dan mendukung kelancaran ibadah puasa seluruh jamaah.  
  3. Tadarus Al-Qur'an: Kegiatan membaca Al-Qur'an bersama yang diadakan setiap hari 1 Juz dilaksanakan ba'da Sholat Tarawih. untuk mengejar pahala membaca 10 kebaikan di setiap hurufnya.  
  4. Sholat Tarawih Berjama'ah: Ibadah sunnah sholat tarawih dilaksanakan setiap malam di bulan Ramadhan dengan pahala berlipat ganda.  
  5. I'tikaf: Memberikan kesempatan bagi jamaah untuk beri'tikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, yang dilanjutkan dengan sahur bersama. (10 Hari Terakhir) 
  6. Kajian Ba'da Subuh dan Tarawih: Mengadakan kajian ilmu agama yang diisi oleh Ustadz dari luar dan Ustadz anak-anak remaja untuk menambah wawasan keislaman.  Dengan MC anak-anak TPQ
  7. Sahur Bersama: Menyediakan sahur bersama untuk jamaah yang melaksanakan i'tikaf. (10 Hari Terakhir) 
  8. Bazar Ramadhan dilaksanakan oleh Ibu-Ibu Majelis Taklim Asy Syifa (tanggal 8 Maret 2026)
  9. Anjangsana ke Panti Asuhan: Kegiatan sosial yang dikoordinasi oleh Ibu-Ibu Asy Syifa sebagai bentuk kepedulian kepada sesama hasil dari bazar.
  10. Pengumpulan dan Penyaluran Zakat Fitrah & Mal: Panitia menerima dan menyalurkan zakat fitrah serta zakat mal dari para jamaah kepada yang berhak menerima.  (dilaksanakan tgl 13 - 15 Maret 2026 dan dibagikan ke yang berhak pada tanggal 16 Maret 2026)


BAB III:  PENUTUP  

A. Kesimpulan  
Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu'minun telah berjalan dengan lancar atas partisipasi aktif dari seluruh jamaah dan kerja keras panitia. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat spiritual dan sosial bagi kita semua.  
B. Saran  
Evaluasi dan masukan dari jamaah sangat diharapkan untuk perbaikan penyelenggaraan kegiatan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.  

LAMPIRAN 
Dokumentasi Foto Kegiatan 
Laporan Pengumpulan Zakat
Jadwal Imam dan Kultum Poster dan materi publikasi.

Download Laporan Kegiatan


Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget