Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati

Ramah Tamah Usai Kajian
Ustadz Yusman,SHI
Kajian Ahad Pagi 20 September 2026: Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 20 September 2026. Pada kesempatan kali ini, kajian mengangkat tema yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu “Takdir: Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Memahami Ketetapan Allah, Ikhtiar, dan Ketenangan dalam Menjalani Kehidupan.” Pembahasan tentang takdir sering kali menghadirkan berbagai pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, apakah manusia masih perlu berusaha?  
Jika seseorang sudah memiliki uang untuk berhaji sementara orang lain belum memiliki uang, siapa yang lebih dahulu akan sampai ke Tanah Suci? Jika dua orang sama-sama memiliki hutang, tetapi kemampuan ekonominya berbeda, siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk membantu kita memahami takdir dengan logika berpikir yang benar, sehingga keimanan kepada takdir bukan justru membuat seseorang pasif, tetapi melahirkan ketenangan, optimisme, dan semangat untuk terus berikhtiar.  

Takdir Termasuk Rukun Iman

Takdir merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Seorang muslim wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: 

  “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)  

Iman kepada takdir berarti meyakini bahwa Allah SWT memiliki ilmu yang sempurna terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan Allah. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia kemudian meninggalkan usaha. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Kita berusaha, berdoa, mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Allah Menciptakan Sesuatu Sesuai dengan Kehendak-Nya Salah satu pokok penting dalam memahami takdir adalah keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.  
Allah adalah Al-Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta tidak terlepas dari ilmu dan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih serta melakukan suatu perbuatan. Karena itu manusia diperintahkan untuk memilih jalan kebaikan, berusaha, bekerja, beribadah, serta menjauhi kemaksiatan. Dengan demikian, memahami takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya seseorang mengatakan: “Kalau memang sudah ditakdirkan kaya, nanti juga akan kaya.” Kemudian ia tidak mau bekerja dan berusaha. Cara berpikir seperti ini tidak tepat. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.  

Takdir dan Ikhtiar: Mengapa Kita Tetap Harus Berusaha?  

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Kalau hasilnya sudah ditentukan oleh Allah, mengapa kita masih harus berusaha?” Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan untuk dirinya. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berhasil atau gagal sebelum kita melakukan usaha. Karena itu, kewajiban manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT. Petani menanam karena berharap mendapatkan panen. Orang sakit berobat karena berharap mendapatkan kesembuhan. Seseorang bekerja karena berharap mendapatkan rezeki. Orang yang ingin berhaji menabung dan mempersiapkan diri karena berharap dapat memenuhi panggilan Allah.  
Semua itu merupakan bentuk ikhtiar. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah yang menentukan. Di sinilah keimanan kepada takdir memberikan ketenangan. Kita diperintahkan untuk melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Contoh Sederhana: Siapa yang Lebih Dahulu Berhaji? Dalam kajian dibahas sebuah ilustrasi sederhana. Ada seseorang yang sudah mendaftar haji dan ada orang lain yang belum mendaftar. Keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk berhaji. Siapa yang akan lebih dahulu berhaji?  
Secara logika manusia, orang yang sudah mendaftar mungkin dianggap lebih dekat dengan kesempatan berangkat. Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Bisa saja seseorang sudah mendaftar tetapi belum mendapatkan kesempatan berangkat. Sebaliknya, orang yang sebelumnya belum mendaftar kemudian mendapatkan rezeki, kesempatan, atau kondisi tertentu sehingga akhirnya dapat berhaji lebih dahulu. Contoh tersebut mengajarkan bahwa manusia melakukan ikhtiar, tetapi Allah yang menentukan hasil akhirnya.  
Karena itu, seseorang yang ingin berhaji harus melakukan sebab-sebabnya: memiliki kemampuan, mempersiapkan biaya, mendaftar sesuai ketentuan, menjaga kesehatan, dan berdoa. Setelah ikhtiar dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Contoh Lain: Dua Orang Sama-Sama Memiliki Hutang Begitu pula dengan masalah hutang. Ada dua orang yang sama-sama memiliki kewajiban membayar hutang. Orang pertama memiliki uang yang cukup, sedangkan orang kedua belum memiliki kemampuan untuk membayar. Siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Jawabannya berkaitan dengan kemampuan masing-masing dan kehendak Alloh SWT.  
Orang yang memiliki kemampuan membayar tentu memiliki kewajiban untuk segera menunaikan hutangnya. Sementara orang yang benar-benar belum mampu harus terus berusaha dan memiliki niat sungguh-sungguh untuk melunasinya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki sebab dan akibat yang harus ditempuh. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban. Jika memiliki hutang dan mempunyai kemampuan untuk membayarnya, maka tunaikan. Jika belum mampu, maka berusahalah mencari jalan keluar dengan cara yang halal dan tetap menjaga amanah.  

Takdir Baik dan Takdir Buruk  

Dalam kehidupan, manusia akan mengalami berbagai keadaan. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Ada keberhasilan dan ada kegagalan. Ada kesehatan dan ada sakit. Ada kelapangan rezeki dan ada masa kesulitan. Seorang mukmin memahami semuanya dalam kerangka iman kepada takdir Allah SWT. Ketika mendapatkan sesuatu yang baik, ia bersyukur. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, ia bersabar dan tetap berusaha mencari jalan keluar. Bukan berarti setiap keburukan yang dilakukan manusia kemudian dibenarkan dengan alasan “sudah takdir”. Manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya. Karena itu, pemahaman terhadap takdir harus berjalan bersama dengan iman, ikhtiar, doa, tanggung jawab, sabar, dan tawakal. Empat Tingkatan Takdir Dalam kajian juga dijelaskan mengenai tingkatan takdir yang sering diringkas menjadi empat tingkatan.  
1. Al-'Ilmu — Ilmu Allah  
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi seluruh makhluk dan seluruh kejadian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.  
2. Al-Kitabah — Telah di Tuliskan  
Takdir Allah SWT telah menuliskan ketetapan-Nya. Salah satu dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah firman Allah: 
 “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)  
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ilmu dan ketetapan Allah meliputi seluruh kejadian.  
3. Al-Masyi'ah — Kehendak Allah  
Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Allah berkehendak terhadap apa yang terjadi di alam semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan dalam batas yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, manusia tetap diperintahkan untuk memilih kebaikan dan menghindari keburukan.  
4. Al-Khalq — Allah Menciptakan 
Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Dzat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan manusia, kemampuan manusia, alam semesta, sebab-sebab, serta segala sesuatu yang ada. Karena itu, seorang muslim menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan dan kehendak Allah. Ketenangan dalam Memahami Takdir Salah satu buah penting dari memahami takdir adalah munculnya ketenangan hati.  
Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai dengan rencana kita. Terkadang kita sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Terkadang sesuatu yang kita anggap baik ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya kita anggap buruk ternyata membawa pelajaran dan kebaikan yang tidak kita sangka. Dalam kondisi seperti itu, iman kepada takdir membantu seorang muslim untuk tetap tenang. Ia memahami:  
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya sudah berdoa. Saya sudah mengambil sebab yang dibenarkan. Adapun hasil akhirnya, saya serahkan kepada Allah SWT.” Sikap seperti inilah yang melahirkan tawakal.  
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Jangan Berhenti Berikhtiar Memahami takdir seharusnya membuat seorang muslim semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Ketika berhasil, ia tidak sombong karena menyadari bahwa keberhasilan itu terjadi dengan pertolongan Allah.  
Ketika gagal, ia tidak berputus asa karena mengetahui bahwa Allah memiliki hikmah dan ketetapan yang belum tentu dapat langsung dipahami manusia. Maka prinsip yang perlu kita pegang adalah: Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Manusia bertugas melakukan ikhtiar. Allah yang menentukan hasilnya. Dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. 

Takdir Mengajarkan Kita untuk Tenang Kajian tentang takdir bukan sekadar membahas sesuatu yang telah ditetapkan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani kehidupan dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan usaha yang benar. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Karena itu, tugas kita bukan menerka-nerka takdir, tetapi mempersiapkan diri, berusaha, berdoa, dan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Jika mendapatkan ujian, bersabarlah. Jika mempunyai cita-cita, berusahalah. Jika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.  
Sebab seorang mukmin meyakini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Semoga pemahaman yang benar tentang takdir menjadikan kita pribadi yang lebih tenang, tidak mudah mengeluh, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Mari terus belajar, memperbaiki diri, dan memperkuat iman melalui majelis ilmu.  
Mari Hadiri Kajian rutin di Masjid Al Mu’minun pada setiap Ahad Pagi. Semoga rangkaian Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan mempererat ukhuwah di antara warga. Mari hadir, belajar bersama, dan mengambil manfaat dari majelis ilmu. Ikhtiar adalah tugas kita. Hasil adalah ketetapan Allah. Ketenangan lahir ketika hati bersandar kepada-Nya. Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Tempat Menuntut Ilmu, Memperkuat Iman, dan Mempererat Ukhuwah.




Share:

Sudahkah Kita Beribadah kepada Allah SWT Secara Kaffah?

Kajian Islam dan ibadah kepada Allah SWT secara kaffah di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara

Kajian Rutin Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono,LC, 13 September 2026. Bertepatan dengan Ahad Pon. 
Sebagai seorang Muslim, kita tentu ingin menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT. Namun, apakah ibadah hanya sebatas shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa? Islam mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah SWT memiliki cakupan yang sangat luas. Seorang Muslim tidak hanya diperintahkan untuk beribadah dalam ritual tertentu, tetapi juga berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam seluruh kehidupannya. 
Inilah salah satu makna penting dari beribadah kepada Allah SWT secara kaffah. Allah SWT berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً 

 “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...” (QS. Al-Baqarah: 208) 

Ayat tersebut mengingatkan kita agar Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Apa Arti Beribadah kepada Allah Secara Kaffah? Secara sederhana, kaffah berarti menyeluruh atau keseluruhan. Beribadah kepada Allah SWT secara kaffah berarti berusaha menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh sesuai kemampuan, dengan menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Ibadah dalam pengertian yang luas mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Dengan demikian, ibadah tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi dapat hadir di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, bahkan dalam aktivitas sehari-hari. 

Ibadah Tidak Hanya Shalat dan Puasa  
Shalat lima waktu merupakan kewajiban utama seorang Muslim. Demikian pula puasa Ramadan, zakat bagi yang memenuhi syarat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan berbagai ibadah lainnya. Namun, kehidupan seorang Muslim tidak berhenti setelah selesai shalat. Bekerja dengan Jujur Juga Bernilai Ibadah Seorang Muslim yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dapat memperoleh pahala apabila pekerjaannya dilakukan dengan niat yang baik dan melalui cara yang halal. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan tidak mengambil hak orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam.  
Mendidik Anak Merupakan Amanah  
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Mengajarkan shalat, membaca Al-Qur'an, menghormati orang tua, berkata jujur, menjaga adab, dan membiasakan anak melakukan kebaikan merupakan bagian dari pengamalan Islam dalam keluarga. Allah SWT berfirman:  

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)  

Berbuat Baik kepada Tetangga  
Islam juga mengajarkan hubungan sosial yang baik. Membantu tetangga, menjaga kerukunan, menjenguk orang sakit, membantu warga yang membutuhkan, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk nyata akhlak seorang Muslim. Dengan demikian, beribadah secara kaffah juga berarti menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Ciri-Ciri Kehidupan Muslim yang Kaffah Menjalankan Islam secara kaffah bukan berarti merasa diri sudah sempurna. Sebaliknya, seorang Muslim terus berusaha memperbaiki diri. Beberapa cirinya antara lain:  
1. Menjaga Hubungan dengan Allah SWT
 Shalat dijaga, Al-Qur'an dibaca dan dipelajari, dzikir diperbanyak, serta doa senantiasa dipanjatkan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga keikhlasan dalam beribadah.  
2. Memiliki Akhlak yang Baik.  
Ibadah seharusnya memberikan pengaruh terhadap perilaku. Semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda:  

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ahmad)  

Karena itu, jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka berdusta, menyakiti orang lain, merendahkan sesama, atau tidak amanah.  

3. Menjaga Amanah 
 Amanah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Amanah dalam pekerjaan, amanah dalam keluarga, amanah dalam bermasyarakat, maupun amanah terhadap harta yang dititipkan Allah SWT.  
4. Menjaga Lisan dan Perbuatan Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara. Ghibah, fitnah, dusta, mencela, dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya harus dihindari. Terlebih di zaman media sosial, satu ucapan atau tulisan dapat tersebar kepada banyak orang dalam waktu singkat.  
5. Terus Melakukan Muhasabah 
Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, kita perlu melakukan evaluasi terhadap diri sendiri: Apakah shalat kita semakin baik? Apakah hubungan kita dengan keluarga semakin baik? Apakah kita semakin jujur dan amanah? Apakah kehadiran kita memberikan manfaat kepada orang lain? Muhasabah membantu kita untuk terus memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT ketika melakukan kesalahan.







Share:

Khotmil Qur'an, 1 September 2026


Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 
Dengan memohon rahmat dan ridha Allah SWT, kami mengundang seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya untuk hadir dalam kegiatan: 

 ✨ JAMI’YYATUL QUR’AN ✨ 
Sebagai upaya untuk mempererat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan kecintaan kita kepada Al-Qur’an.  
📅 Hari/Tanggal: Selasa, 1 September 2026  
🕰️ Waktu: Ba’da Sholat Isya  
📍 Tempat: Masjid Al Mu’minun  
🏘️ Perumahan Gayam Permai,  

Banjarnegara Mari bersama-sama menghadiri dan menyemarakkan kegiatan Jami’yyatul Qur’an sebagai sarana untuk memperkuat keimanan, mempererat tali silaturahmi, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Semoga langkah kita menuju majelis yang penuh keberkahan ini senantiasa mendapatkan rahmat dan ridha Allah SWT.  
Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari)  
Demikian undangan ini kami sampaikan. Besar harapan kami kepada seluruh jamaah dan warga untuk dapat hadir dan bersama-sama menyukseskan kegiatan ini. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh 

🕌 Mari Hadiri dan Ramaikan Jami’yyatul Qur’an Masjid Al Mu’minun – Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 📅 Selasa, 1 September 2026 | Ba’da Sholat Isya Jangan lupa ajak keluarga, sahabat, dan tetangga untuk bersama-sama menghadiri majelis yang penuh keberkahan ini.
Share:

Kilas Balik Sejarah


Banjarnegara – Suasana penuh kebersamaan dan semangat nasionalisme terasa dalam kegiatan Resepsi HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81 Perumahan Gayam Permai. Acara yang berlangsung meriah tersebut menjadi momentum bagi warga untuk berkumpul, bersilaturahmi, sekaligus mengenang kembali perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam meraih dan mempertahankan kemerdekaan. Penyampaian kilas balik sejarah disampaikan oleh Bapak H.Sudarko, SPd.
Merangkai kilas balik sejarah dari jaman perang kemerdekaan sampai penyampaian proklamasi Kemerdekaan. 
Dalam sambutannya, Ketua Panitia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi serta mendukung berbagai rangkaian kegiatan peringatan HUT RI ke-81 di lingkungan Perumahan Gayam Permai. Kemeriahan perayaan kemerdekaan tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga menjadi sarana untuk mempererat hubungan antarwarga. Berbagai kegiatan yang telah dilaksanakan sebelumnya menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan kebersamaan masih tumbuh kuat di tengah masyarakat.  



Mengenang Sejarah Perjuangan Bangsa  
Setelah sambutan, acara dilanjutkan dengan Kilas Balik Sejarah. Sesi ini menjadi bagian penting karena mengajak seluruh warga untuk kembali mengingat perjalanan bangsa Indonesia menuju kemerdekaan. Di tengah suasana perayaan yang penuh kegembiraan, mengenang sejarah menjadi pengingat bahwa kemerdekaan yang dinikmati saat ini tidak diperoleh dengan mudah. Ada perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan semangat pantang menyerah dari para pendahulu bangsa. Dengan mengenang sejarah, generasi saat ini diharapkan tidak hanya menikmati hasil kemerdekaan, tetapi juga memahami tanggung jawab untuk mengisinya dengan hal-hal positif.  
Semangat Kemerdekaan, Semangat Kebersamaan 
Resepsi HUT RI ke-81 di Perumahan Gayam Permai juga memperlihatkan wajah kebersamaan warga. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga para tokoh masyarakat hadir dan mengikuti acara dengan penuh antusias. Kebersamaan seperti inilah yang menjadi salah satu kekuatan sebuah lingkungan. Perbedaan usia, pekerjaan, maupun latar belakang tidak menjadi penghalang untuk berkumpul dalam satu semangat: memeriahkan kemerdekaan sekaligus mempererat persaudaraan antarwarga.  
Kegiatan peringatan HUT Kemerdekaan juga menjadi ruang bagi warga untuk saling mengenal lebih dekat. Dari kegiatan bersama, tumbuh rasa kepedulian, gotong royong, dan semangat untuk menjaga keharmonisan lingkungan. 
Peringatan HUT Kemerdekaan bukan sekadar kegiatan seremonial tahunan. Lebih dari itu, momentum ini dapat menjadi kesempatan untuk melakukan refleksi: apa yang sudah kita lakukan untuk mengisi kemerdekaan? Bagi warga, mengisi kemerdekaan dapat dimulai dari hal-hal sederhana. Menjaga kerukunan, peduli terhadap lingkungan, membantu sesama, mendidik anak-anak dengan baik, serta aktif dalam kegiatan masyarakat merupakan bagian dari kontribusi untuk bangsa.  
Semangat para pejuang yang telah mengorbankan tenaga, pikiran, bahkan jiwa hendaknya menjadi inspirasi bagi generasi sekarang untuk terus berbuat baik dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Dari Gayam Permai untuk Indonesia Melalui peringatan HUT RI ke-81, warga Perumahan Gayam Permai menunjukkan bahwa semangat kemerdekaan dapat dirayakan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.  
Bersatu dalam kebersamaan, mengenang jasa para pahlawan, menjaga kerukunan, dan terus berkarya untuk Indonesia. Semoga semangat yang terbangun dalam rangkaian peringatan HUT RI ke-81 ini tidak berhenti setelah acara selesai, tetapi terus menjadi energi positif dalam kehidupan sehari-hari warga Perumahan Gayam Permai.  
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Indonesia Merdeka, Indonesia Hebat. Dari warga Gayam Permai, untuk Indonesia tercinta. 🇮🇩 Dokumentasi: Resepsi HUT Kemerdekaan RI ke-81 Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara.
Share:

Satu Langkah Menuju Majelis Ilmu, Ahad Wage, 30 Agustus 2026


Alhamdulillah, dengan memohon pertolongan dan keberkahan dari Allah SWT, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara mengundang seluruh warga dan kaum Muslimin untuk hadir dalam Pengajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah dilaksanakan pada:  
📅 Hari/Tanggal: Ahad, 30 Agustus 2026  
🌙 Pasaran: Ahad Wage  
📍 Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara  
🎙️ Pemateri: Ustadz Yusman  
📖 Tema: Fiqih  

Pengajian Ahad Pagi menjadi salah satu ikhtiar bersama untuk menambah ilmu agama, memperbaiki pemahaman dalam beribadah, serta meningkatkan kualitas kehidupan seorang Muslim berdasarkan tuntunan Al-Qur’an dan Sunnah. Melalui kajian Fiqih, jamaah diharapkan semakin memahami tata cara beribadah dan berbagai persoalan kehidupan sehari-hari sesuai dengan tuntunan syariat. Ilmu yang dipelajari bukan hanya untuk diketahui, tetapi juga untuk diamalkan dalam kehidupan.  
Keutamaan Menuntut Ilmu Rasulullah ﷺ bersabda:  
“Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699)  
Hadits tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan menuju majelis ilmu merupakan bagian dari jalan kebaikan. Karena itu, mari manfaatkan kesempatan ini untuk hadir, belajar, dan saling mengingatkan dalam kebaikan.
Share:

Semarak Resepsi HUT Kemerdekaan RI ke-81

Penyampaian Kilas Balik Sejarah RI

Banjarnegara – 15 Agustus 2026 Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, warga Perumahan Gayam Permai kembali menggelar acara Resepsi HUT Kemerdekaan RI ke-81 pada Sabtu malam, 15 Agustus 2026. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung dalam suasana penuh kebersamaan, kekeluargaan, dan semangat nasionalisme. Kegiatan resepsi menjadi salah satu rangkaian acara peringatan HUT RI ke-81 yang telah dipersiapkan oleh warga. 
Sebelumnya, berbagai kegiatan telah dilaksanakan, di antaranya lomba anak-anak, senam sehat, jalan santai, makan bersama, serta lomba ibu-ibu. Rangkaian kegiatan tersebut menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi dan meningkatkan kebersamaan antarwarga Perumahan Gayam Permai.  
Sambutan Ketua Panitia Acara resepsi diawali dengan pembukaan dan dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Panitia HUT RI ke-81, Bapak Eko Sadino. Dalam sambutannya, Ketua Panitia menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh warga yang telah berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan HUT RI ke-81. Dukungan, gotong royong, serta antusiasme warga menjadi bagian penting sehingga seluruh kegiatan dapat terlaksana dengan baik. Peringatan kemerdekaan tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang jasa para pahlawan, tetapi juga menjadi kesempatan bagi warga untuk mempererat persaudaraan dan membangun lingkungan yang semakin rukun.  
Setelah sambutan Ketua Panitia, acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua RT 6 RW 5, Bapak Dwi Budi Prasojo. Dalam kesempatan tersebut, disampaikan pentingnya menjaga kerukunan, kebersamaan, dan kepedulian antarwarga. Semangat kemerdekaan hendaknya tidak hanya diwujudkan melalui kegiatan seremonial, tetapi juga melalui kehidupan sehari-hari dengan saling membantu, menghormati, dan menjaga lingkungan bersama. Kegiatan seperti peringatan HUT RI menjadi salah satu sarana untuk memperkuat rasa persatuan di lingkungan masyarakat.  
Kilas Balik Sejarah Kemerdekaan  
Salah satu acara yang menarik dalam resepsi HUT RI ke-81 adalah Kilas Balik Sejarah yang disampaikan oleh Bapak Sudarko. Melalui sesi ini, warga diajak kembali mengingat perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam merebut dan mempertahankan kemerdekaan. Kemerdekaan yang dinikmati saat ini tidak diperoleh dengan mudah, tetapi melalui perjuangan, pengorbanan, persatuan, dan semangat pantang menyerah para pahlawan. Kilas balik sejarah menjadi pengingat bagi generasi saat ini agar tidak melupakan perjuangan para pendahulu. Semangat para pahlawan perlu diteruskan dalam bentuk pengabdian, menjaga persatuan, bekerja dengan baik, serta memberikan kontribusi positif bagi lingkungan dan bangsa.  
Pembagian Hadiah Lomba  
Suasana semakin meriah ketika memasuki acara pembagian hadiah berbagai lomba HUT RI ke-81. Hadiah diberikan kepada para pemenang lomba yang telah mengikuti rangkaian kegiatan sebelumnya. Kegiatan lomba tidak hanya menghadirkan kompetisi, tetapi juga menjadi hiburan yang mempertemukan anak-anak, remaja, bapak-bapak, dan ibu-ibu dalam suasana yang penuh kegembiraan. Pembagian hadiah juga menjadi bentuk apresiasi kepada seluruh peserta yang telah ikut memeriahkan rangkaian peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81.  
Penampilan Ibu-Ibu Dawis  
Kemeriahan resepsi semakin terasa dengan adanya penampilan dari Ibu-Ibu Dawis 1 sampai dengan Dawis 4. Penampilan tersebut menjadi salah satu bagian yang menarik perhatian warga. Dengan semangat dan kekompakan, ibu-ibu dari masing-masing kelompok Dawis turut memberikan hiburan dalam acara malam resepsi. Kehadiran penampilan dari kelompok Dawis menunjukkan bahwa peringatan HUT RI bukan hanya menjadi kegiatan panitia, tetapi merupakan kegiatan bersama seluruh warga. Setiap kelompok memiliki kesempatan untuk berpartisipasi dan memberikan warna dalam perayaan kemerdekaan.  
Merawat Kebersamaan dan Semangat Gotong Royong  
Rangkaian peringatan HUT RI ke-81 di Perumahan Gayam Permai menjadi bukti bahwa semangat kemerdekaan dapat diwujudkan melalui kebersamaan di lingkungan tempat tinggal. Mulai dari persiapan kegiatan, pelaksanaan berbagai lomba, hingga malam resepsi, semuanya membutuhkan partisipasi dan dukungan dari banyak pihak. Dari sinilah nilai gotong royong, kepedulian, dan kekeluargaan dapat terus tumbuh. Peringatan HUT Kemerdekaan juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga, terutama setelah setiap hari disibukkan dengan aktivitas masing-masing. Melalui kegiatan bersama, warga dapat kembali berkumpul, berinteraksi, bercanda, dan saling mengenal dengan lebih dekat.  
Dirgahayu Republik Indonesia Acara Resepsi HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Perumahan Gayam Permai berlangsung dengan penuh keakraban dan kegembiraan. Berbagai rangkaian acara yang telah dilaksanakan menjadi kenangan bersama sekaligus memperkuat semangat persatuan warga. Semoga semangat kemerdekaan, gotong royong, kerukunan, dan kebersamaan yang telah terbangun dapat terus dipelihara dan ditingkatkan dalam kehidupan sehari-hari.  
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81! Bersatu, Gotong Royong, dan Terus Berkarya untuk Indonesia. Semoga Perumahan Gayam Permai senantiasa menjadi lingkungan yang rukun, nyaman, aman, dan penuh kebersamaan. Merdeka! Merdeka! Merdeka!




Share:

Semarak Jalan Santai HUT RI 81


Banjarnegara – 9 Agustus 2026 Suasana penuh keceriaan dan kebersamaan terasa di Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara, pada Minggu, 9 Agustus 2026. Dalam rangka menyemarakkan peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, warga Perumahan Gayam Permai mengikuti rangkaian kegiatan yang dikemas dengan penuh semangat, mulai dari senam sehat, jalan santai, makan bersama, hingga berbagai lomba yang menghibur. 
Senam Sehat Membuka Rangkaian Kegiatan 
Kegiatan diawali dengan senam sehat bersama. Warga, baik Bapak-Bapak maupun Ibu-Ibu, mengikuti gerakan senam dengan penuh antusias. Suasana semakin meriah karena kegiatan ini menjadi kesempatan bagi warga untuk berolahraga sekaligus bersilaturahmi. Senam bersama bukan hanya menjadi sarana menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi momentum untuk mempererat hubungan antarwarga. Canda, tawa, dan semangat kebersamaan terlihat sejak awal kegiatan. 
Jalan Santai Penuh Kebersamaan Setelah senam sehat, kegiatan dilanjutkan dengan jalan santai. Warga berjalan bersama menyusuri lingkungan sekitar dengan suasana yang santai dan penuh kegembiraan. Jalan santai menjadi salah satu kegiatan yang paling dinantikan karena dapat diikuti oleh berbagai kalangan. Anak-anak, ibu-ibu, bapak-bapak, hingga warga lanjut usia dapat turut serta menikmati kegiatan bersama. Selain menjaga kesehatan, kegiatan ini menjadi ajang untuk mempererat rasa kekeluargaan dan membangun kebersamaan antarwarga Perumahan Gayam Permai.  



Makan Bersama, Menambah Keakraban  
Setelah selesai jalan santai, warga kemudian berkumpul untuk menikmati makan bersama. Hidangan yang dinikmati bersama semakin menciptakan suasana akrab dan hangat. Makan bersama menjadi simbol sederhana tentang pentingnya kebersamaan. Tidak sekadar menikmati makanan, warga dapat bercengkerama, berbagi cerita, dan semakin mengenal satu sama lain.  
Lomba Seru dan Mengundang Tawa  
Kemuncak kegiatan semakin meriah dengan dilaksanakannya berbagai perlombaan khas peringatan Hari Kemerdekaan. Perlombaan tidak hanya mengandalkan kecepatan, tetapi juga kekompakan, ketangkasan, dan tentunya mampu menghadirkan gelak tawa. Dua lomba yang menjadi perhatian warga adalah Estafet Sarung dan Nyunggi Tampah. Estafet Sarung menguji kekompakan dan kerja sama peserta dalam memindahkan sarung dari satu peserta ke peserta lainnya.  
Keseruan semakin terasa ketika masing-masing kelompok berusaha menyelesaikan tantangan dengan cepat namun tetap kompak. Sementara itu, lomba Nyunggi Tampah menghadirkan tantangan tersendiri. Peserta harus menjaga keseimbangan sambil membawa tampah di atas kepala. Tingkah peserta yang berusaha mempertahankan keseimbangan membuat suasana perlombaan semakin seru dan mengundang tawa para penonton. Antusiasme warga terlihat begitu besar. Bukan semata-mata mengejar kemenangan, tetapi lebih kepada menikmati kebersamaan dan menciptakan kenangan indah bersama keluarga serta tetangga.  
Merawat Kebersamaan Warga  
Rangkaian kegiatan 9 Agustus 2026 di Perumahan Gayam Permai menunjukkan bahwa kegiatan sederhana dapat menjadi sarana yang sangat berarti untuk membangun kebersamaan. Senam sehat, jalan santai, makan bersama, dan lomba menjadi satu rangkaian yang menyatukan warga dalam suasana sehat, guyub, rukun, dan penuh kegembiraan. Semangat kemerdekaan bukan hanya diwujudkan melalui upacara dan kegiatan seremonial, tetapi juga melalui semangat gotong royong, persaudaraan, kekompakan, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Semoga kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan secara rutin sehingga hubungan kekeluargaan antarwarga Perumahan Gayam Permai semakin erat. 
Dirgahayu Republik Indonesia! 
Terus bergerak, terus sehat, terus kompak, dan terus menjaga semangat kebersamaan di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara.
Share:

Hidup Adalah Ujian, Al-Qur'an Adalah Jalan Keluar

Ahad, 26 Juli 2026, Majelis Kajian Rutin Ahad Pagi kembali menghadirkan Ustadz Yusman, S.H.I. dengan tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap muslim, yaitu tentang hakikat ujian hidup dan solusi yang Allah berikan melalui Al-Qur'an. Kajian diawali dengan pengingat dari QS. Al-Balad bahwa kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari ujian.  
"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penuh perjuangan)." (QS. Al-Balad: 4).  
Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Bahkan, semakin tinggi kualitas keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang Allah berikan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Mulk,  
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
Allah-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Ujian hadir dalam berbagai bentuk. Kekayaan adalah ujian, demikian pula kemiskinan. Jabatan adalah ujian, begitu juga kesederhanaan. Bahkan Nabi Adam alaihissalam pun diuji hingga harus keluar dari surga sebagai bagian dari ketetapan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Lalu, bagaimana seorang mukmin menghadapi ujian tersebut? Jawabannya terdapat dalam firman Allah pada QS. Thaha ayat 123,  
"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kemudian jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.'" (QS. Thaha: 123)
Bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah, niscaya tidak akan tersesat dan tidak akan hidup dalam kesengsaraan. Petunjuk Al-Qur'an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi dipahami, diyakini, dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.  
Ustadz Yusman kemudian mengangkat pelajaran besar dari Perang Tabuk, salah satu ekspedisi terbesar yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Di tengah perjalanan sekitar 700 kilometer pada musim panas yang sangat berat, Rasulullah berhasil menggerakkan sekitar 30.000 pasukan. Pengorbanan para sahabat menjadi bukti nyata keimanan mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya, Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya, sementara Utsman bin Affan menyumbangkan 1.000 dinar emas untuk mendukung perjuangan Islam. Mereka memahami bahwa mengikuti petunjuk Allah tidak akan pernah membawa kepada kerugian ataupun kebinasaan.  
Kajian juga menyoroti tantangan kehidupan keluarga masa kini. Krisis komunikasi antara suami dan istri sering kali menjadi sumber berbagai persoalan rumah tangga. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa suami dan istri adalah "pakaian" satu sama lain, saling melindungi, menutupi kekurangan, dan memberikan kenyamanan.  Demikian pula menjaga pandangan merupakan bentuk ketaatan yang akan menjaga keberkahan serta kenikmatan yang halal yang telah Allah anugerahkan.  
"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 187) 
Makna "Pakaian" dalam Ayat Ini Ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan "pakaian" mengandung makna yang sangat dalam, di antaranya: 
  • Menutupi kekurangan pasangan, bukan membuka aibnya.  
  • Melindungi satu sama lain dari hal-hal yang merusak rumah tangga.  
  • Memberikan kenyamanan dan ketenangan, sebagaimana pakaian memberi rasa nyaman bagi tubuh.  
  • Menghiasi dan memperindah kehidupan pasangan.  
  • Menjaga kehormatan dan kesucian masing-masing.  
Karena itu, ketika muncul krisis komunikasi dalam rumah tangga, ayat ini mengingatkan bahwa hubungan suami istri dibangun atas dasar saling melindungi, saling memahami, dan saling menjaga, bukan saling menyalahkan atau mempermalukan. Pesan utama kajian pagi ini begitu jelas. Hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Namun, setiap persoalan telah Allah siapkan jalan keluarnya. Solusi terbaik bukan sekadar berasal dari logika manusia, melainkan dari petunjuk Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an.  
Semoga Kajian Rutin Ahad Pagi ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap ujian adalah sarana meningkatkan derajat keimanan. Selama kita berpegang teguh kepada petunjuk Allah, tidak ada alasan untuk berputus asa, tidak ada ruang untuk bersedih berkepanjangan, karena Al-Qur'an selalu menghadirkan cahaya dan jalan keluar bagi setiap hamba yang beriman. "Hidup pasti memiliki ujian, tetapi Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menghadapi ujian tanpa petunjuk. Maka dekatilah Al-Qur'an, karena di sanalah setiap persoalan menemukan jalan keluarnya."




Share:

Penyimpangan Kaum Quraisy dan Akhlak Jahiliyah | Kajian 19 Juli 2026

Kajian Rutin Ahad Pagi 19 Juli 2026 Mengenal Akhlak Masyarakat Jahiliyah dan Misi Rasulullah ﷺ Menyempurnakan Akhlak Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terlaksana pada Ahad, 19 Juli 2026, dengan pemateri Ustadz Zein Faqih. Pada kesempatan kali ini, beliau mengangkat tema tentang penyimpangan kaum Quraisy di masa jahiliyah serta diutusnya Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan akhlak manusia.  

Rasulullah ﷺ bersabda:  
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad) 

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Menariknya, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak sepenuhnya memiliki akhlak yang buruk. Mereka memiliki beberapa sifat terpuji, namun juga dibarengi dengan penyimpangan yang akhirnya diperbaiki dan disempurnakan oleh Islam.  
Akhlak Masyarakat Jahiliyah yang Masih Terpuji  
1. Sangat Dermawan dalam Menjamu Tamu
Bangsa Arab terkenal sangat memuliakan tamu. Menjamu tamu merupakan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Diriwayatkan dalam berbagai kisah bahwa ada seseorang yang hanya memiliki seekor unta sebagai harta terakhirnya. Ketika tamu datang, ia rela menyembelih unta tersebut demi memberikan jamuan terbaik kepada tamunya. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi nilai kemurahan hati yang mereka miliki. Namun demikian, di sisi lain mereka juga memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan fitrah, seperti meminum khamr dan berjudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219) Larangan tersebut kemudian disempurnakan hingga Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, berjudi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90) Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam menghapus kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.  
2. Menepati Janji  
Masyarakat Arab juga dikenal sangat menjaga janji. Janji dianggap sebagai kehormatan yang harus dipenuhi walaupun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Dalam kajian disampaikan beberapa contoh sejarah, seperti Perang Al-Basus, kisah Al-Muhalhal yang dibebaskan karena adanya janji yang harus ditepati, serta kisah Nu'man dan Hani bin Mas'ud Asy-Syaibani yang menunjukkan kuatnya komitmen mereka terhadap amanah. Namun, sikap menjaga kehormatan tersebut sering kali berubah menjadi fanatisme kesukuan ('ashabiyah) yang akhirnya memicu peperangan berkepanjangan.  
3. Menjaga Kehormatan, Tetapi Berlebihan  
Masyarakat jahiliyah memiliki rasa harga diri dan kehormatan yang tinggi. Mereka juga dikenal pemberani dan memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarga. Akan tetapi, keberanian yang tidak dibimbing oleh syariat sering berubah menjadi tindakan berlebihan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan panjang. Contohnya adalah Perang Al-Basus yang berlangsung hingga sekitar empat puluh tahun. Bahkan terdapat peperangan yang dipicu hanya karena persoalan sepele, seperti perlombaan atau pacuan kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa ilmu dan petunjuk agama dapat berubah menjadi kerusakan.  
4. Lemah Lembut dan Suka Menolong  
Di balik kerasnya kehidupan padang pasir, masyarakat Arab juga memiliki sifat saling membantu dan menolong sesama, terutama kepada orang yang meminta perlindungan atau mengalami kesulitan. Islam kemudian memperkuat sifat ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah.  
5. Hidup Sederhana Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu cenderung sederhana. Mereka terbiasa hidup dengan apa adanya dan tidak bergantung pada kemewahan dunia. Islam mempertahankan sikap sederhana tersebut, sekaligus mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. 6. Jujur Kejujuran juga merupakan salah satu sifat yang dihargai di tengah masyarakat Arab. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanah beliau. Sifat inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam sehingga banyak orang mempercayai risalah yang beliau bawa. Islam Menyempurnakan Akhlak Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk men 
ghapus seluruh budaya Arab.  
Akhlak-akhlak yang baik tetap dipertahankan, sementara kebiasaan yang menyimpang diperbaiki dan diarahkan sesuai tuntunan wahyu. Sifat dermawan diarahkan agar ikhlas karena Allah. Keberanian dibimbing agar digunakan untuk membela kebenaran. Menepati janji dijadikan bagian dari keimanan. Tolong-menolong diarahkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Kesederhanaan dijaga dari sifat bakhil, sedangkan kejujuran menjadi identitas setiap muslim. Dengan demikian, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 
Kajian Ahad pagi kali ini mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari ilmu dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlaknya. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dalam membangun peradaban melalui akhlak yang mulia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari dan terus berusaha memperbaiki diri dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Aamiin.




Share:

"Sholat Orang yang Sedang Sakit: Kemudahan Syariat Tanpa Meninggalkan Kewajiban"

Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terselenggara pada Ahad, 12 Juli 2026, di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah mendapatkan pembahasan fikih yang sangat penting, yaitu mengenai tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit. 
Pada awal kajian, beliau mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun. Di antara kelima rukun tersebut, syahadat dan sholat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama akalnya masih ada, meskipun sedang mengalami sakit atau memiliki keterbatasan fisik. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Allah Ta'ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, syariat memberikan berbagai keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang sedang sakit sesuai dengan kondisi yang dialaminya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 
 "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring." 

Hadis ini menjadi dasar bahwa kewajiban sholat tetap berlaku, namun tata caranya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dalam kajian juga dijelaskan bahwa seseorang yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, kemudian tidak dapat menghadirinya karena uzur seperti sakit, maka dengan karunia Allah ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana ketika ia melaksanakannya bersama jamaah. Selain itu, syariat juga memberikan keringanan berupa bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit apabila memang terdapat kesulitan yang nyata dalam melaksanakan setiap sholat pada waktunya. 
Apabila kondisi sakit menyebabkan seseorang tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada orang yang dapat membantu mengarahkannya, maka ia diperbolehkan melaksanakan sholat sesuai arah yang mampu dihadapinya. Hal ini menunjukkan betapa Islam tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.  
Ustadz Yusman, S.H.I. juga menjelaskan beberapa tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit, di antaranya: 
  • Sholat sambil duduk, tetap menghadap kiblat apabila mampu, kemudian memulai sholat dengan takbiratul ihram sambil bersedekap sebagaimana sholat pada umumnya.  
  • Sholat dengan berbaring ke sisi kanan, dengan wajah menghadap kiblat. Ini merupakan posisi yang lebih utama apabila memungkinkan.  
  • Jika tidak mampu, berbaring ke sisi kiri dengan tetap menghadap kiblat.  
  • Apabila kedua posisi tersebut tidak memungkinkan, maka shalat dengan terlentang, dengan posisi kaki mengarah ke barat sehingga wajah tetap menghadap kiblat (sesuai kondisi arah kiblat setempat), lalu melakukan gerakan dengan isyarat semampunya.  
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan sholat. Justru dalam kondisi sakit, seorang hamba semakin membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat Islam telah memberikan kemudahan yang luar biasa sehingga setiap muslim tetap dapat menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  
Semoga ilmu yang disampaikan pada kajian Ahad pagi ini menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk memahami fikih ibadah dengan benar serta semakin menumbuhkan semangat menjaga sholat dalam setiap keadaan. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keistiqamahan, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
Share:

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget