Showing posts with label Kajian. Show all posts
Showing posts with label Kajian. Show all posts

Mengetuk Pintu Langit dengan Adab

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H, tepatnya pada Jumat, 13 Maret 2026, jamaah Masjid Al-Mu’minun mendapatkan pencerahan berharga mengenai "Adab dalam Berdoa". Materi yang disampaikan oleh Bapak Lukman Jarir ini menjadi pengingat penting bahwa dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, ada tata krama yang harus dijaga agar doa kita lebih mustajab.  
Berikut adalah poin-poin utama adab berdoa yang perlu kita amal
kan:  

1. Memulai dengan Pujian dan Shalawat  
Bapak Lukman menekankan bahwa doa tidak boleh langsung dimulai dengan permintaan. Layaknya kita meminta sesuatu kepada sesama manusia, ada "protokol" yang harus diikuti saat menghadap Allah SWT. Memuji Allah: Awali dengan membaca Tahmid atau menyebut Asmaul Husna. Shalawat Nabi: Bershalawat kepada Rasulullah ﷺ di awal dan di akhir doa adalah kunci agar doa kita tidak terhenti di antara langit dan bumi.  

2. Menghadirkan Hati dan Rasa Rendah Diri  
Seringkali kita berdoa hanya di lisan, sementara pikiran melayang ke urusan dunia. Bapak Lukman mengingatkan: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menunjukkan rasa butuh yang amat sangat (iftiqar) kepada Allah, karena kita hanyalah hamba yang lemah tanpa pertolongan-Nya.   

3. Mencari Waktu-Waktu Mustajab  
Dalam kajiannya, beliau juga menyarankan untuk memanfaatkan momen-momen istimewa di bulan Ramadhan untuk memperbanyak doa, di antaranya: Saat Berbuka Puasa: Di mana doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Waktu Sahur (Sepertiga Malam Terakhir): Saat Allah turun ke langit dunia untuk mengabulkan permintaan hamba-Nya. Di Antara Adzan dan Iqamah: Waktu yang sering terabaikan namun sangat mulia untuk memohon.  

4. Husnuzan (Berprasangka Baik) kepada Allah  
Salah satu adab yang paling penting adalah tidak tergesa-gesa. Jangan sampai kita berhenti berdoa karena merasa doa kita belum dikabulkan. Bapak Lukman berpesan agar kita selalu berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan yang terbaik di waktu yang paling tepat. 

Ramadhan adalah bulan doa. Melalui kajian Bapak Lukman Jarir, kita diingatkan bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Dengan menjaga adab, kita bukan hanya berharap keinginan kita terkabul, tapi kita sedang menunjukkan kemuliaan akhlak kita di hadapan Allah SWT. Semoga di sisa hari Ramadhan ini, setiap doa yang kita panjatkan di Masjid Al-Mu’minun menjadi wasilah datangnya rahmat dan hidayah bagi keluarga dan lingkungan kita.
Share:

Antara Iman yang Mapan dan Sifat Wara’

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana fajar di Masjid Al-Mu’minun kembali menjadi saksi ilmu yang mengalir deras. Pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini, Ustadz Ulil Albab Al-Hafidz membedah rahasia di balik seruan puasa dan bagaimana Allah sedang "mengader" kita melalui ibadah ini.  
Berikut adalah intisari dari tausiyah beliau:  
1. Klasifikasi Orang Beriman:  
Dari yang "Setengah" Hingga yang "Mapan" Ustadz Ulil membuka kajian dengan menjelaskan bahwa iman manusia itu bertingkat-tingkat. Ada kelompok orang yang imannya masih "setengah"—terkadang semangat ibadah, namun terkadang masih sering lalai. Ada pula yang sudah berada pada level "mapan" atau kokoh. Beliau menjelaskan perbedaan seruan dalam Al-Qur'an: Ya ayyuhalladzina amanu: Seruan ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang memiliki benih iman di hatinya, baik yang masih lemah, sedang, maupun yang sudah kuat. Al-Mu’minun: Istilah ini seringkali merujuk pada kelompok tertentu yang imannya benar-benar sudah mapan dan teruji kekokohannya.  
2. Puasa Sebagai Mesin "Kaderisasi"  
Takwa Menariknya, perintah puasa ditujukan kepada seluruh orang yang beriman tanpa memandang level imannya. Mengapa? Karena Ramadhan adalah sebuah proses pengaderan besar-besaran. "Puasa adalah sarana untuk mengader kita semua. Baik yang imannya sedang goyah, yang sedang-sedang saja, hingga yang sudah kuat, semuanya digiring menuju satu titik tujuan yang sama: menjadi hamba yang bertaqwa (La'allakum tattaqun)," jelas Ustadz Ulil. Ramadhan tidak membeda-bedakan latar belakang, ia memberikan kesempatan bagi yang imannya lemah untuk naik kelas, dan bagi yang kuat untuk semakin kokoh.  
3. Wara’: Mahkota dari Sifat Takwa  
Sebagai seorang Al-Hafidz (penghafal Al-Qur'an), beliau menekankan bahwa buah dari pengaderan Ramadhan adalah munculnya sifat Wara’. Apa itu Wara’? Wara’ adalah sikap hati-hati. Bukan sekadar menjauhi yang haram, tetapi orang yang memiliki sifat Wara’ akan sangat berhati-hati terhadap hal-hal yang syubhat (samar) demi menjaga kesucian hatinya. "Orang bertaqwa adalah orang yang selalu waspada dalam setiap langkahnya. Ia hati-hati dalam berucap, hati-hati dalam mencari rezeki, dan hati-hati dalam berperilaku," pungkas beliau. 
Melalui kajian Ustadz Ulil Albab, kita diajak untuk melihat posisi iman kita masing-masing. Ramadhan adalah momentum untuk "meng-upgrade" diri. Jika hari ini iman kita masih terasa setengah, biarkan puasa ini membentuk kita menjadi pribadi yang lebih mapan, kokoh, dan penuh kehati-hatian (Wara’) dalam menjalani kehidupan.
Share:

I'tikaf

Catatan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Masjid Al-Mu'minun – 
Gayam Permai, Banjarnegara Ramadhan kini telah memasuki fase puncaknya. Di sepuluh hari terakhir ini, ada satu ibadah yang menjadi "khas" dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW, yaitu I'tikaf. Bagi kita yang mendambakan kemuliaan malam Lailatul Qadar, I'tikaf adalah sarana terbaik untuk mengkondisikan hati dan jiwa. Berikut adalah ringkasan materi Kajian Subuh (10 Maret 2026) mengenai hakikat dan dalil pelaksanaan I'tikaf.  

Apa itu I'tikaf? 
Secara syar'i, I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Ustadz Yusman, S.H.I. menjelaskan bahwa esensi I'tikaf adalah "memenjarakan diri dalam ketaatan". Kita melepaskan sejenak hiruk-pikuk dunia, gadget, dan urusan pekerjaan untuk fokus total menghamba kepada Sang Pencipta.  
Landasan Hukum (Dalil) I'tikaf Ibadah I'tikaf memiliki landasan yang sangat kuat, baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits: Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 187: Allah SWT menyebutkan syariat ini secara eksplisit: 
 "...tetapi jangan kamu campuri mereka, sedang kamu beriktikaf dalam masjid..." 
Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat utama pelaksanaan I'tikaf. Hadits Riwayat Bukhari & Muslim: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: 
 "Bahwasanya Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah SWT.

 Ini menunjukkan bahwa I'tikaf adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi hingga akhir hayat beliau. Tips Menjalankan I'tikaf yang Berkualitas Agar I'tikaf kita di Masjid Al-Mu'minun atau masjid lainnya tidak sekadar pindah tidur, perhatikan hal berikut:  
Luruskan Niat: Niatkan semata-mata karena Allah untuk mencari keridaan-Nya.  
Perbanyak Tadabbur: Gunakan waktu untuk membaca Al-Qur'an beserta maknanya.  
Kurangi Interaksi Duniawi: Batasi penggunaan ponsel kecuali untuk hal yang sangat darurat.  
Muhasabah Diri: Gunakan kesunyian malam untuk bertaubat dan merencanakan perbaikan diri setelah Ramadhan. 

I'tikaf adalah cara kita "menjemput" bola. Kita tidak tahu kapan Lailatul Qadar turun, namun dengan berada di rumah Allah dalam keadaan beribadah, peluang kita untuk mendapatkannya tentu jauh lebih besar. Semoga di sisa Ramadhan 1447 H ini, Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan I'tikaf dengan khusyuk dan mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Amin.
Share:

Pintu Rezeki

Dalam ceramahnya yang bertema "Membuka Pintu-Pintu Rezeki", Bp. Eko Sadino mengajak jamaah untuk merenungkan makna rezeki sesungguhnya dan bagaimana menggapainya dengan cara yang diridhai Allah SWT. Beliau menekankan bahwa rezeki bukan sekadar tumpukan harta benda, tetapi juga mencakup kesehatan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti menginginkan kecukupan dan keberkahan dalam rizkinya. Seringkali kita mengartikan rezeki hanya sebatas materi atau uang, padahal rezeki Allah itu sangat luas; meliputi kesehatan, kedamaian hati, keluarga yang harmonis, hingga kesempatan untuk berbuat baik. Sebagai seorang Muslim, kita memahami bahwa rezeki sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT. Namun, Allah juga memerintahkan kita untuk berikhtiar. Ikhtiar tidak hanya berupa kerja keras secara fisik (ikhtiar bumi), tetapi juga perlu dibarengi dengan ikhtiar batin (ikhtiar langit).  
Rasulullah SAW dan Al-Qur'an telah memberikan panduan lengkap tentang bagaimana cara "mengetuk pintu langit" agar rezeki mengalir deras dan penuh berkah. Berikut adalah empat jalan utama yang patut kita amalkan secara rutin: 
 
1. Bangun di Sepertiga Malam:  
Keajaiban Sholat Tahajud Jalan pertama untuk mengundang keridhaan Allah dan luasnya rezeki adalah melalui Sholat Malam atau Tahajud. Saat sebagian besar manusia terlelap, inilah waktu yang paling mustajab untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' ayat 79: 
 "Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' : 79) 

Ayat ini menjanjikan "Maqaman Mahmuda" (kedudukan yang terpuji) bagi mereka yang ahli tahajud. Kedudukan ini bukan hanya di akhirat, tetapi juga kemuliaan di dunia. Ketika Allah sudah memuliakan seorang hamba, maka segala urusannya termasuk urusan rezeki akan dimudahkan. Sholat tahajud adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan meminta petunjuk, sehingga rezeki yang datang adalah rezeki yang membawa ketenangan dan keberkahan.  

2. Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur  
Waktu sahur (waktu menjelang subuh) adalah waktu yang sangat istimewa. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia dan berjanji akan mengabulkan doa hambanya. Salah satu amalan terbaik di waktu ini adalah beristighfar, memohon ampunan Allah. Sebagaimana firman Allah: 

 "Dan (juga) mereka yang meminta ampun di waktu sahur." (QS. Ali 'Imran: 17) 

Seringkali, dosa-dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan menjadi penghalang datangnya rezeki. Dengan beristighfar, kita sedang membersihkan penghalang tersebut. Istighfar yang tulus bukan sekadar lisan, tapi penyesalan dari hati.  
Keutamaan istighfar juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang melazimkan istighfar, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelaparan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.  

3. Rutin Bersedekah:  
Sedekah Tidak Mengurangi Harta Ini adalah rumus langit yang sering kali dianggap tidak logis oleh kacamata manusia, namun sangat nyata bagi mereka yang beriman. Secara kasat mata, bersedekah terlihat seperti mengurangi jumlah harta yang kita miliki. Namun, Allah menjanjikan hal yang sebaliknya: sedekah justru melipatgandakan harta. Rasulullah SAW bersabda:  
"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)  
Janji Allah juga sangat jelas dalam Al-Qur'an, di mana setiap satu kebaikan (termasuk sedekah) akan dibalas dengan sepuluh kali lipat bahkan lebih. Sedekah tidak harus menunggu kita kaya. Sedekah bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan sempit maupun lapang, dan dalam bentuk apa saja (tidak melulu uang). Rutin bersedekah, bahkan dalam jumlah kecil namun konsisten, akan menanamkan rasa syukur dan membersihkan harta kita. Keberkahan inilah yang membuat harta terasa cukup dan mendatangkan rezeki-rezeki lain yang tak terduga.
  
4. Menjalin dan Menjaga Silaturahmi  
Jalan keempat yang sangat dianjurkan adalah silaturahmi, yaitu menjalin dan mempererat hubungan baik dengan keluarga, kerabat, teman, dan sesama Muslim. Silaturahmi bukan hanya sekadar berkunjung di hari raya, tetapi menjaga komunikasi, saling membantu, dan mendoakan kebaikan satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda: 

 "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim) 

Hadits ini adalah jaminan langsung dari Rasulullah. Silaturahmi membuka pintu-pintu kesempatan baru. Melalui hubungan yang baik, kita bisa mendapatkan informasi pekerjaan, peluang bisnis, ilmu baru, hingga dukungan moral yang sangat berharga dalam mencari nafkah. Lebih dari itu, silaturahmi mendatangkan cinta kasih dan keridaan dari Allah, yang merupakan kunci utama dari segala keberkahan. Kesimpulan Membuka pintu-pintu rezeki bukan semata-mata tentang menambah jam kerja atau memeras keringat.  
Rezeki adalah karunia Allah. Keempat amalan di atas Sholat Malam, Istighfar di waktu Sahur, Bersedekah, dan Silaturahmi adalah ikhtiar langit yang akan mendekatkan kita kepada Allah. Ketika hubungan kita dengan Allah terjalin baik, dan hubungan kita dengan sesama manusia juga harmonis, maka Allah akan memudahkan langkah kita dan menurunkan keberkahan dalam setiap rezeki yang kita terima. Mari kita mulai mengamalkannya secara rutin dan konsisten, meskipun dimulai dari hal yang paling ringan. Semoga Allah SWT senantiasa meluaskan dan memberkahi rezeki kita semua. Amin.
Share:

10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana sejuk menyelimuti Masjid Al-Mu’minun pada fajar Senin, 9 Maret 2026. Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini terasa segar dengan kehadiran Adik Ilma sebagai pembawa acara (MC) yang memandu jalannya acara sebelum sesi utama bersama Ustadz Dwi Budi Prasojo, SKM. Materi yang disampaikan Ustadz Dwi Budi fokus pada satu kata kunci: Keistiqomahan, terutama saat kita mulai mendekati garis finis bulan suci ini.  

1. 10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"  
Pahala Ustadz Dwi Budi membuka tausiyahnya dengan sebuah perumpamaan yang menarik. Beliau menyebut 10 hari terakhir Ramadhan sebagai masa memperebutkan "Jackpot" pahala terbesar. "Jika dalam perlombaan, lari yang paling menentukan adalah saat mendekati garis finis. Begitu pula Ramadhan. Allah menyiapkan hadiah utama, Lailatul Qadar, di sepuluh hari terakhir bagi mereka yang mampu menjaga ritme ibadahnya," ujar beliau.  
2. Melawan Arus "Masjid yang Maju" Beliau menyentil fenomena umum di masyarakat, yaitu fenomena "Masjid yang Maju"—maksudnya saf makmum yang semakin maju ke depan (berkurang) seiring mendekatnya hari raya. Ustadz Dwi Budi mengajak warga Gayam Permai untuk melawan arus tersebut. Di saat orang lain mulai sibuk dengan persiapan duniawi seperti belanja baju baru atau kue lebaran, seorang mukmin sejati justru harus memperkencang ikat pinggang untuk beri'tikaf dan meningkatkan kualitas sujudnya.  



3. Kesehatan Fisik dan Ruhani (Perspektif SKM)  
Sebagai seorang praktisi kesehatan (SKM), Ustadz Dwi Budi juga memberikan perspektif bahwa istiqomah di akhir Ramadhan memerlukan manajemen kesehatan yang baik.
Beliau berpesan agar jamaah menjaga pola makan saat berbuka dan sahur agar fisik tetap bugar untuk melaksanakan qiyamul lail. "Kesehatan adalah modal utama kita untuk memburu Jackpot pahala tersebut. Tubuh yang sehat memudahkan ruhani untuk tetap khusyuk," tambahnya.  

4. Menjaga Konsistensi (Istiqomah)  
Istiqomah adalah ujian sesungguhnya. Menurut beliau, orang yang berhasil di bulan Ramadhan bukanlah orang yang hanya bersemangat di pekan pertama, melainkan mereka yang mampu mempertahankan—bahkan meningkatkan—intensitas amalannya hingga fajar syawal menjelang. 
Pesan utama dari Ustadz Dwi Budi Prasojo sangat jelas: Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa kita sempat mengambil "Jackpot" yang telah Allah sediakan. Mari kita kencangkan barisan, penuhi masjid, dan jaga hati agar tetap istiqomah di hari-hari puncak ini.
Share:

Husnul Khotimah Perlu di Usahakan

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan bekal rohani yang berharga. Dalam tausiyah tarawihnya, Bapak Idit Hernowo menekankan sebuah hakikat penting bagi setiap Muslim: bahwa akhir kehidupan yang baik (Husnul Khatimah) bukanlah sebuah kebetulan yang muncul tiba-tiba. Berikut adalah poin-poin utama perjuangan menuju akhir yang baik yang beliau sampaikan:  
1. Kesalihan Memerlukan Usaha (Ikhtiar)  
Banyak orang berharap mati dalam keadaan baik, namun enggan mengisi hari-harinya dengan kebaikan. Bapak Idit mengingatkan bahwa surga dan rida Allah harus dijemput dengan usaha. "Kita tidak bisa hanya berpangku tangan. Perlu ada upaya nyata, ada peluh dalam beribadah, dan ada kesabaran dalam menjauhi maksiat. Akhir yang baik adalah buah dari perjalanan yang panjang," tutur beliau.  
2. Rahasia Doa Peneguh Hati  
Hati manusia bersifat dinamis dan mudah berubah. Beliau mengutip kisah dari Ummu Salamah RA, salah satu istri Rasulullah ﷺ, yang sering mendengar beliau berdoa: 
 “Ya Muqallibal Quluub, Tsabbit Qalbii ‘Alaa Diinik.” 
(Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). 
Bapak Idit menjelaskan bahwa tidak ada satu pun anak cucu Adam melainkan hatinya berada di antara "dua jari" kekuasaan Allah. Allah berkuasa membolak-balikkannya sesuai kehendak-Nya. Maka, doa adalah senjata utama agar kita tetap berada di jalan yang lurus.  

3. Landasan Doa dari Al-Qur'an (QS. Ali Imran: 8) Beliau juga mengajak jamaah untuk merutinkan doa yang termaktub dalam QS. Ali Imran ayat 8: 
 “Rabbanaa laa tuzigh quluubanaa ba’da idz hadaitanaa wa hab lanaa mil ladunka rahmah, innaka antal wahhaab.” 
(Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi).  

4. Kunci Dicintai Allah: Istiqomah   
Bapak Idit menekankan bahwa amal yang paling dicintai Allah bukanlah yang besar namun dilakukan sesekali, melainkan amal yang Istiqomah (konsisten) meskipun sedikit. "Ramadhan ini adalah ajang latihan. Shalat malam yang konsisten, sedekah harian meski jumlahnya kecil, atau tilawah yang rutin dilakukan setiap hari, itulah yang akan membangun karakter kita hingga akhir hayat," pungkas beliau. Bapak Idit Hernowo mengajak kita untuk memeriksa kembali rutinitas ibadah kita. Jangan mengejar kesempurnaan dalam satu malam, tapi kejarlah keteguhan dalam setiap hari. Semoga Allah senantiasa meneguhkan hati kita hingga napas terakhir.
Share:

Sembuh atau Surga? Pilihan Sulit Ummu Zufar

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun terasa lebih sejuk dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Susianto pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H. Beliau membawa kita menyelami kedalaman akhlak para ulama dan sebuah pilihan sulit yang berbuah jaminan surga. Berikut adalah rangkuman materi yang menggugah jiwa:  
1. Ketulusan Amal: Belajar dari Kesabaran Imam Syafi’i  
Ustadz Susianto membuka kajian dengan sebuah kisah yang menguji ego dan kesabaran. Dikisahkan, seorang pemuda memanggil Imam Syafi’i untuk datang ke rumahnya. Namun, sesampainya di depan pintu, pemuda itu justru menyuruh beliau pulang. Hal ini terjadi hingga tiga kali: dipanggil, didatangi, lalu disuruh pulang.  
Tanpa rasa marah sedikit pun, Imam Syafi’i menuruti permintaan tersebut. Mengapa? Karena beliau hanya ingin berbuat amal baik. Bagi beliau, mendatangi panggilan saudara adalah kebaikan, dan memaafkan perilaku kurang sopan adalah kebaikan yang lebih tinggi lagi.  
Pesan moralnya: Fokuslah pada amal baik kita, bukan pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. 

2. Hakikat Penciptaan dan Tugas Manusia (QS. Al-Hijr: 27-28) 
Beliau kemudian mengajak jamaah mentadaburi asal-usul penciptaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hijr (15) ayat 27-28:  
Ayat 27: Mengingatkan tentang penciptaan bangsa Jin dari api yang sangat panas sebelum manusia diciptakan.  
Ayat 28: Menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 
Ustadz Susianto menekankan bahwa dengan memahami asal-usul yang rendah (tanah), tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong. Tugas utama kita hanyalah mengisi masa hidup yang singkat ini dengan pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.  

3. Kisah Ummu Zufar: Sabar dalam Sakit Berbuah Surga  
Puncak kajian yang paling mengharukan adalah kisah seorang wanita kulit hitam bernama Ummu Zufar. Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ dalam keadaan menderita penyakit ayan (epilepsi). Ummu Zufar memohon: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menyembuhkanku." Rasulullah ﷺ memberikan dua pilihan yang sangat mendalam:  
Jika engkau mau, bersabarlah (dengan penyakitmu), maka bagimu adalah SURGA.  
Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.  
Mendengar kata "Surga", Ummu Zufar tidak ragu sedikit pun. Ia memilih opsi pertama: Sabar. Ia hanya meminta didoakan agar saat penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. 

"Kisah ini mengajarkan kita bahwa musibah fisik jika dihadapi dengan rida, adalah tiket eksekutif menuju surga-Nya," tutur Ustadz Susianto. 
Melalui kajian ini, Ustadz Susianto mengajak kita semua di sisa Ramadhan ini untuk: Terus berbuat baik meski seringkali tidak dihargai oleh manusia (seperti Imam Syafi'i). Menyadari kerendahan diri di hadapan Allah (QS. Al-Hijr). Melihat penyakit atau musibah sebagai peluang untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.
Share:

Korupsi: Saat Hati Kehilangan Syukur

Tarawih
Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H Sabtu, 7 Maret 2026 di Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan perenungan mendalam. Kali ini, Bapak Krismiarto hadir menyampaikan tausiyah bertemakan "Dimensi Syukur". Beliau menyoroti betapa syukur bukan sekadar ucapan, melainkan benteng pertahanan terakhir manusia dari sifat serakah.  

1. Fenomena "Haus yang Tak Pernah Padam" 
Bapak Krismiarto membuka ceramahnya dengan keprihatinan terhadap fenomena sosial masa kini. Beliau mencontohkan maraknya kasus korupsi sebagai bukti nyata dari hilangnya rasa syukur.
"Korupsi terjadi bukan karena pelakunya kekurangan harta secara fisik, tapi karena hatinya yang miskin akan syukur," tutur beliau. Orang yang tidak bersyukur akan selalu merasa kurang (never enough), meskipun gunung emas sudah di genggamannya. Tanpa syukur, manusia menjadi hamba bagi ambisinya sendiri.  

2. Dimensi dan Warna Syukur 
Syukur tidaklah monokrom (satu warna). Menurut Bp. Krismiarto, syukur memiliki beberapa dimensi: 
  • Syukur Bil Qalbi (Hati): Meyakini sepenuhnya bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, datangnya hanya dari Allah.  
  • Syukur Bil Lisan (Ucapan): Membasahi lidah dengan tahmid (Alhamdulillah) dan mengakui kebaikan Allah di depan orang lain tanpa pamer.  
  • Syukur Bil Arkan (Perbuatan): Menggunakan nikmat tersebut (harta, kesehatan, jabatan) untuk ketaatan kepada Sang Pemberi Nikmat. 

3. Belajar dari Keteguhan Umar bin Khattab 
Beliau juga mengangkat teladan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab RA, yang memiliki rumus hidup yang luar biasa:  
"Jika aku ditimpa musibah, aku bersabar. Dan jika aku mendapatkan kesenangan, aku bersyukur." 
Bagi Umar, keduanya adalah kendaraan untuk sampai kepada Allah. Beliau tidak silau oleh gemerlap kekuasaan, karena beliau tahu bahwa kesenangan adalah ujian syukur, sebagaimana kesusahan adalah ujian sabar.  
4. Janji Allah dan Peringatan Keras 
Dalam tausiyahnya, Bp. Krismiarto merujuk pada beberapa ayat suci Al-Qur'an sebagai penguat: Ingatlah Allah, Maka Allah Mengingatmu: Dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 152, Allah berfirman: 
Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.” 
Shalawat dan Rahmat bagi yang Sabar & Syukur: Beliau juga menyinggung QS. Al-Baqarah (2) ayat 157, bahwa mereka yang teguh dalam ujian akan mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka. Namun, beliau juga memberikan pengingat keras (warning). Jika kita mengingkari nikmat (kufur nikmat) dan selalu merasa tidak cukup, maka janji Allah itu nyata: 
"Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7). 

Bapak Krismiarto mengajak seluruh jamaah untuk berhenti sejenak dan melihat apa yang sudah ada di tangan, bukan apa yang masih di tangan orang lain. "Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah untuk melatih rasa cukup. Sebab, kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang selalu merasa cukup dan bersyukur," pungkas beliau.
Share:

Benarkah Gunung Adalah Pasak Bumi?

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-18 Ramadhan 1447 H, Jumat, 6 Maret 2026, Masjid Al-Mu’minun diselimuti suasana penuh tadabur. Ananda Hasan Bin M. Susyanto (Santri Gontor) menyampaikan materi yang sangat fundamental bagi setiap Muslim, yaitu tentang Mukjizat Al-Qur’an. Beliau mengingatkan jamaah bahwa Al-Qur’an bukan sekadar kitab bacaan, melainkan bukti kebesaran Allah yang paling nyata dan abadi hingga akhir zaman.  


1. Mukjizat yang Tak Lekang oleh Waktu 
Ananda Hasan membuka ceramahnya dengan menjelaskan perbedaan mukjizat para Nabi terdahulu dengan mukjizat Nabi Muhammad ﷺ. Jika mukjizat Nabi Musa AS (tongkat menjadi ular) atau Nabi Isa AS (menyembuhkan orang buta) hanya bisa disaksikan oleh orang yang hidup di zaman itu, maka Al-Qur’an adalah mukjizat yang bisa kita pegang, kita baca, dan kita rasakan keajaibannya hari ini. 
 "Al-Qur'an adalah mukjizat intelektual dan spiritual yang tidak akan pernah habis keajaibannya meski dibedah oleh ribuan pakar sekalipun," tegas beliau.  

2. Keajaiban Bahasa dan Susunan Ayat 
Bahwa salah satu sisi mukjizat Al-Qur’an terletak pada keindahan bahasanya. Di masa Arab Jahiliyah yang sangat membanggakan syair, Al-Qur’an turun dengan gaya bahasa yang tak tertandingi—bukan puisi, bukan pula prosa biasa, namun getarannya mampu melunakkan hati yang paling keras sekalipun. Bahkan, susunan katanya begitu presisi. Tidak ada satu kata pun yang bisa diganti dengan kata lain tanpa mengurangi maknanya. Ini adalah bukti bahwa Al-Qur’an murni kalamullah (perkataan Allah), bukan buatan manusia.  
Al-Qur’an turun di masa keemasan sastra Arab. Namun, tak satu pun pakar bahasa saat itu mampu menandingi susunannya. Al-Qur’an memiliki gaya bahasa yang unik, bukan puisi, bukan pula prosa biasa yang mampu memberikan pengaruh spiritual luar biasa bagi pendengarnya. Sebagaimana firman-Nya dalam QS. Az-Zumar (39) ayat 23
 “Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al-Qur'an yang serupa (ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang, gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka ketika mengingat Allah.”

Pemilihan kata untuk "angin" yang membawa rahmat berbeda dengan kata untuk "angin" yang membawa azab. Tidak ada satu kata pun yang bisa diganti tanpa merusak irama dan maknanya. Keseimbangan (Simetri): Beliau menyinggung keajaiban statistik dalam Al-Qur'an. Contohnya, kata "Al-Hayat" (hidup) dan "Al-Maut" (mati) muncul dalam jumlah yang sama persis. Begitu pula kata "Dunia" dan "Akhirat". Keserasian ini membuktikan bahwa Al-Qur'an disusun oleh Zat Yang Maha Mengetahui, bukan karangan manusia yang penuh keterbatasan. Rima yang Menggetarkan: Meski bukan puisi, Al-Qur'an memiliki rima (saja') yang sangat indah. Getaran suaranya mampu menyentuh hati orang yang bahkan tidak mengerti bahasa Arab sekalipun.

3. Kesesuaian dengan Ilmu Pengetahuan (Sains) 
AnandaHasan juga menyinggung bagaimana Al-Qur’an yang turun 14 abad silam telah mengisyaratkan fakta-fakta ilmiah yang baru ditemukan manusia di zaman modern. Mulai dari proses penciptaan manusia di rahim, siklus air, hingga teori tentang alam semesta yang terus mengembang. Hal ini membuktikan bahwa Tuhan yang menurunkan Al-Qur’an adalah Tuhan yang menciptakan alam semesta beserta hukum-hukumnya.  
Fase janin dalam QS. Al-Mu’minun (23) ayat 12-14: 
 “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah (alaqah), lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging (mudghah), dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging…” 
Tahapan ini—Nutfah, ‘Alaqah, Mudghah—diakui oleh para ahli embriologi modern sebagai urutan yang sangat presisi dan mustahil diketahui secara kasat mata pada 1.400 tahun yang lalu.
Isyarat Ilmiah di Abad Ke-7 Sisi lain yang sangat menarik dari ceramah Ustadz Hasan adalah bagaimana Al-Qur'an menceritakan fenomena alam yang baru ditemukan teknologi modern ratusan tahun kemudian. Teori Dentuman Besar (Big Bang): Beliau merujuk pada isyarat dalam Al-Qur'an bahwa langit dan bumi dulunya adalah satu kesatuan yang padu sebelum akhirnya Allah memisahkan keduanya. Fakta ini selaras dengan teori sains modern tentang asal-usul alam semesta. Fungsi Gunung sebagai Pasak: Ustadz Hasan menjelaskan bahwa Al-Qur'an menyebut gunung sebagai "Autad" (pasak). 
Terpisahnya Langit dan Bumi (Teori Big Bang): Dalam QS. Al-Anbiya (21) ayat 30, Allah bertanya kepada manusia tentang kesadaran bahwa langit dan bumi dulunya adalah satu kesatuan yang padu (ratqan) sebelum akhirnya Allah memisahkan keduanya (fafataqnahuma). Isyarat ini selaras dengan teori asal-usul alam semesta yang diakui dunia saat ini. 
Gunung Sebagai Penyeimbang Bumi: Dalam QS. An-Naba' (78) ayat 7, gunung disebut sebagai "Autad" atau pasak. Secara geologi, gunung memang memiliki "akar" yang menghujam jauh ke dalam kerak bumi untuk menjaga stabilitas lempengan bumi, persis seperti fungsi pasak yang menahan tenda agar tidak goyah. 
Secara geologi, gunung memang memiliki "akar" yang menghujam ke dalam kerak bumi untuk menjaga stabilitas lempengan bumi, persis seperti fungsi pasak pada sebuah tenda. 
Pembuktian "Al-Qur'an menantang manusia untuk berpikir. Semakin kita belajar sains, seharusnya kita semakin tunduk pada kebesaran Allah yang sudah menuliskan rumus-rumus alam itu di dalam Kitabullah,

4. Obat bagi Hati yang Gersang (Asy-Syifa) 
Mukjizat yang paling dekat dengan kita adalah pengaruh Al-Qur’an terhadap jiwa. Ustadz Hasan berpesan agar warga Gayam Permai menjadikan Al-Qur’an sebagai teman setia, terutama di bulan Ramadhan. "Membaca Al-Qur'an bukan hanya menambah pahala, tapi merupakan mukjizat penyembuh bagi hati yang sedang gundah, pikiran yang sedang kalut, dan jiwa yang haus akan ketenangan," tutur beliau. 

Surah Al-Isra' (17) Ayat 82:

 وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَاۤءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَۙ 
"Dan Kami turunkan dari Al-Qur'an (sesuatu) yang menjadi penawar (obat) dan rahmat bagi orang yang beriman...
(Ayat ini paling sering digunakan untuk menjelaskan fungsi ruqyah dan ketenangan batin).

Surah Yunus (10) Ayat 57:
 يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ 
"Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur'an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada...
(Sangat cocok untuk menjelaskan penyembuhan penyakit hati seperti sombong, dengki, dan kegelisahan). 
Surah Fussilat (41) Ayat 44:
 قُلْ هُوَ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا هُدًى وَّشِفَاۤءٌۗ 
"...Katakanlah, 'Al-Qur'an adalah petunjuk dan penyembuh bagi orang-orang yang beriman'..."

Dengan keagungan Al-Qur’an yang demikian besar, maka jangan hanya tersimpan rapi di rak lemari. Mukjizat ini hanya akan bekerja jika kita membacanya, mentadaburinya, dan mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. Semoga di malam-malam sisa Ramadhan ini, interaksi kita dengan Al-Qur’an semakin erat, sehingga mukjizatnya benar-benar hadir dalam rumah tangga kita masing-masing.
Share:

Sudah sampai di level mana kualitas puasa kita ?

Banjarnegara – Ramadhan 1447 H, suasana spiritual di lingkungan Gayam Permai terasa semakin kental. Pada kegiatan Kajian Subuh Ramadhan, Jumat, 6 Februari 2026, kita berkesempatan mendalami mutiara ilmu dari kitab legendaris Ihya Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-Ilmu Agama) karya Imam Al-Ghazali.Disampaikan oleh Ustadz Ir. Lukman Jarir. Materi yang disampaikan oleh Bapak Lukman Jarir ini mengajak kita untuk bertanya pada diri sendiri: "Sudah sampai di level mana kualitas puasa kita selama ini?" 3 Klasifikasi Puasa Imam Al-Ghazali Dalam kitabnya, Sang Hujjatul Islam membagi puasa menjadi tiga tingkatan. Pembagian ini bukan sekadar teori, melainkan kompas agar kita tidak terjebak dalam rutinitas "lapar dan haus" semata.

Mendalami Makna Setiap Tingkatan 
1. Puasa Awam:  
Level Dasar Ini adalah tingkatan paling standar. Pelakunya berhasil secara syariat—puasanya sah—karena tidak makan dan minum sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan bahwa banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar. Kita diajak untuk segera "naik kelas" dari level ini.  
2. Puasa Khusus:  
Puasa Anggota Tubuh Di level ini, puasa bukan lagi soal perut. Bapak Lukman Jarir menekankan pentingnya menjaga "panca indra": Mata: Menjaga pandangan dari hal yang melalaikan. Lisan: Menghindari ghibah, dusta, dan adu domba. Telinga: Tidak mendengarkan hal-hal yang tidak bermanfaat. Dengan cara ini, puasa menjadi perisai (al-junnah) yang nyata bagi karakter kita.  
3. Puasa Khususil Khusus:  
Puasanya Hati Inilah puncak kesempurnaan. Hati benar-benar berpuasa dari selain Allah. Jika terdetik sedikit saja keraguan atau keinginan duniawi yang berlebihan, maka puasa di level ini dianggap "batal" secara maknawi. Puasa ini adalah puasa para Nabi dan kaum Shiddiqin.  

"Banyak orang yang berpuasa, namun tidak mendapatkan apa pun dari puasanya kecuali rasa lapar dan dahaga." (HR. An-Nasa'i)  


Target Ramadhan 1447 H Melalui kajian ini, kita diingatkan bahwa Ramadhan bukan sekadar perpindahan jam makan. Mari kita jadikan momentum 1447 H ini untuk minimal mencapai derajat Shaumul Khusus. Mari kita "puasakan" lisan kita dari berita hoaks dan mata kita dari konten yang tidak bermanfaat di media sosial. Semoga puasa kita tahun ini mampu menghidupkan jiwa-jiwa kita, sebagaimana pesan Imam Al-Ghazali dalam kitabnya.
Share:

Menyimak Panggilan Senyap dari Liang Lahat

Banjarnegara, 5 Maret 2026 – Di bawah naungan kubah Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, malam ke-16 Ramadhan 1447 H terasa berbeda. Udara malam yang tenang seolah membawa kita pada sebuah perenungan panjang saat Bapak Panggung Sutopo menyampaikan untaian nasihatnya. Beliau membawa kita menembus batas dunia, mendengarkan "suara" dari sebuah tempat yang pasti akan kita huni: Alam Kubur. Dalam sebuah riwayat, kubur memanggil kita setiap hari, bukan untuk menakuti, melainkan agar kita tak lupa menyiapkan "perabot" untuk rumah masa depan kita itu. 

1. Teman dalam Kesunyian 
"Aku adalah rumah kesendirian," bisik kubur. Di sana, riuh rendah dunia sirna. Tak ada canda tawa kawan, tak ada hangatnya pelukan keluarga. Pesan Beliau: Agar tak layu dalam sepi, bawalah Al-Qur'an sebagai teman bicara. Lantunan ayat-ayat suci yang kita baca di dunia akan menjelma menjadi sosok cahaya yang menemani hingga hari kebangkitan.  

2. Lentera di Pekatnya Malam  
"Aku adalah rumah yang gelap gulita," lanjutnya. Tanpa cahaya lampu, tanpa sinar mentari. Pesan Beliau: Terangilah liang lahatmu dengan Bangun Malam (Tahajud). Sujud-sujud panjangmu di saat manusia lain terlelap adalah bahan bakar bagi lampu yang takkan pernah padam di alam barzakh. 3. Hamparan Permadani Amal "Aku adalah rumah yang penuh dengan tanah," ia mengingatkan. Tak ada kasur empuk atau bantal sutra yang bisa kita bawa ke sana. Pesan Beliau: Jadikan Amal Sholeh sebagai alas tidurmu. Kebaikan yang kita tanam dengan ikhlas akan menjadi hamparan permadani yang melapangkan sempitnya kubur, sebagaimana firman Allah SWT:

 مَنْ عَمِلَ صَـٰلِحًۭا فَلِأَنفُسِهِمْ يَمْهَدُونَ 
 "Barangsiapa yang mengerjakan kebajikan, maka mereka menyiapkan (tempat tinggal yang nyaman) untuk diri mereka sendiri." (QS. Ar-Rum: 44) 

4. Perisai dari Sengatan Bahaya "Aku adalah rumahnya binatang buas," suara itu bergema. Kubur memperingatkan akan adanya "racun-racun" yang siap menguji keteguhan kita. Pesan Beliau: Bawalah penawar racun itu dengan senantiasa membasahi lisan melalui Basmalah. Menyertakan nama Allah dalam setiap langkah adalah perisai paling ampuh dari segala gangguan makhluk di perut bumi.  

5. Kunci Menjawab Tanya  
"Aku adalah rumah Munkar dan Nakir," tempat di mana diplomasi dunia tak lagi berguna. Hanya kejujuran iman yang akan bicara. Pesan Beliau: Persiapkan lisanmu dengan dzikir Laa ilaha illallah. Kalimat tauhid inilah yang akan meneguhkan hati kita saat berhadapan dengan utusan Allah tersebut.  

Muhasabah di Masjid Al Mu'minun Ceramah Bapak Panggung Sutopo malam ini adalah sebuah pengingat bahwa Ramadhan adalah waktu terbaik untuk "berbelanja" perlengkapan rumah masa depan kita. Kubur mungkin terlihat gelap dan sempit bagi mereka yang lalai, namun ia bisa menjadi taman dari taman-taman surga bagi mereka yang bersiap. Mari kita jadikan sisa malam di bulan suci ini sebagai momentum untuk memperbanyak bekal. Sebab, pada akhirnya, kita hanya akan pulang membawa apa yang telah kita beri. 
Oleh: Admin Gayam Permai 
Sumber: Tausiyah Tarawih Bapak Panggung Sutopo (05/03/2026)
Share:

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah

Gayam Permai, 5 Maret 2026 – Suasana Subuh di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai terasa begitu khidmat. Di tengah sejuknya udara pagi tanggal 5 Maret 2026, jemaah Kajian Subuh Ramadhan 1447 H berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai perumpamaan orang yang beruntung dan orang yang merugi dengan filosofi seorang petani. 
Ramadhan: Musim Menanam Kebajikan Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan mengajak jemaah merenungi nasib seorang petani. Seorang petani yang sukses adalah mereka yang saat masa panen tiba, hasil yang didapat sesuai dengan harapan yang ia tanam. Begitu pula gambaran seorang mukmin yang sukses. "Orang mukmin yang cerdas adalah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai ladang. Mereka menanam benih ibadah, menyemai kebaikan, dan memupuknya dengan keikhlasan," tutur beliau. 
Namun, beliau memberikan peringatan keras tentang golongan orang yang merugi. Merugi adalah ketika apa yang kita harapkan di akhir nanti, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ibarat petani yang mengharap padi namun yang tumbuh justru ilalang, atau petani yang menanam namun gagal panen. 

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah 
Satu poin penting yang ditekankan Ustadz Ulil Albab adalah bahwa ibadah tidak sekadar "menanam". Banyak orang yang rajin salat, rajin puasa, dan bersedekah, namun mereka lupa menjaga tanamannya. "Hampir sampai masa panen, tiba-tiba datang hama. Begitu juga pahala kita. Seringkali pahala yang sudah kita kumpulkan habis dimakan hama penyakit hati seperti riya, sum'ah, atau memutus silaturahmi," jelas Ustadz Ulil.  
Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki usaha ekstra untuk memagari dan melindungi tanamannya agar selamat hingga hari perhitungan nanti. Merayakan Kemenangan dengan Takbir dan Syukur Menjelang akhir kajian, Ustadz Ulil Albab membahas mengenai momen ketika kita berhasil menyelesaikan ibadah Ramadhan. Beliau mengutip isyarat dari Al-Qur'an bahwa kemampuan kita berpuasa sebulan penuh bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ "

...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

 Ayat ini mengajarkan kita bahwa ketika melihat hilal atau menyelesaikan Ramadhan, kita disunnahkan bertakbir. Takbir tersebut adalah pengakuan bahwa kita bisa selesai Ramadhan hanya karena Allah memberi kesempatan dan kekuatan. 

La Haula Wala Quwwata Illa Billah 
Menutup kajian, Ustadz mengingatkan kembali bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” harus menjadi landasan setiap amal kita. Jika kita merasa sombong dengan amalan kita, ingatlah bahwa kita hanyalah "petani" yang meminjam tanah, benih, dan air dari Sang Pencipta. Maka, bersyukurlah karena telah dipilih Allah untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersujud di Subuh yang berkah ini. Semoga Ramadhan 1447 H ini menjadikan kita petani-petani iman yang sukses memanen pahala di akhirat kelak. Amin. 
Penulis: Admin Gayam Permai 
Sumber: Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Ulil Albab (5 Maret 2026)
Share:

Satu Tetes Air Mata vs Segunung Emas: Mana yang Lebih Berharga?

Gayam Permai, Banjarnegara – Kultum Tarawih, 4 Feb 2026 bersama Bp. Dwi budi Prasojo. 
Malam-malam Ramadhan adalah malam pembuktian cinta. Namun, apakah mencintai Allah itu selalu berisi ketenangan yang instan? Dalam kultum tarawih malam ini di Masjid Al-Mu’minun, sebuah pesan mendalam tersampaikan: Proses mencintai Allah seringkali tidak se-romantis yang kita bayangkan.  


1. Cinta yang Penuh Perjuangan 
Banyak dari kita mengira bahwa ketika kita memutuskan untuk mendekat kepada Allah, jalan akan langsung menjadi mulus dan hati akan langsung merasa tenang. Namun kenyataannya, saat kita berniat melangkah maju, godaan justru datang bertubi-tubi. "Ingin shalat malam, tiba-tiba rasa kantuk menyerang luar biasa. Ingin bersedekah, tiba-tiba ada keperluan duniawi yang membisikkan rasa kikir. Ingin khusyuk, pikiran malah melayang kemana-mana," demikian poin utama dalam ceramah tersebut. Mencintai Allah adalah sebuah proses, sebuah pendakian yang melelahkan sebelum akhirnya kita sampai di puncak kemanisan iman.  

2. Menjaga Hati Agar Tetap 'Terkoneksi'  
Di hari-hari Ramadhan ini, perjuangan terbesar kita adalah menjaga agar hati tetap "terkoneksi" dengan Allah. Jangan sampai kita hadir secara fisik di masjid, namun hati kita "offline" dari kehadiran-Nya. Kesibukan mempersiapkan menu buka puasa, urusan pekerjaan, hingga hiruk-pikuk media sosial seringkali memutus koneksi batin kita. Ramadhan hadir sebagai jembatan untuk menyambung kembali kabel-kabel iman yang putus tersebut.  

3. Keajaiban Satu Tetes Air Mata  
Puncak dari proses mencintai adalah ketika hati mulai melunak dan mengakui segala kehinaan di hadapan Sang Pencipta. Pernahkah kita shalat hingga tak terasa air mata menetes? Itulah tangisan kerinduan dan ketakutan yang suci. Dalam tausiyah ditekankan: "Satu tetes air mata yang jatuh karena rasa takut dan rida kepada Allah, jauh lebih berharga daripada tumpukan emas sebesar gunung." Mengapa? Karena air mata itu adalah bukti kejujuran cinta. Emas bisa dicari dengan kerja keras, namun tetesan air mata yang lahir dari hati yang terkoneksi dengan Allah hanya bisa didapat melalui hidayah dan keikhlasan yang dalam. 
Air mata itulah yang kelak akan memadamkan api neraka bagi pemiliknya. Mencintai Allah memang tidak selalu indah di awal. Ia penuh dengan peluh kesabaran dan godaan setan yang tak henti. Namun, jangan menyerah. Teruslah mendekat meski tertatih. Semoga di sisa malam Ramadhan ini, Allah menganugerahkan kita hati yang lembut, yang mampu menangis karena rida-Nya.
Share:

Pelajaran dari Sebungkus Roti

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali memberikan pelajaran hidup yang tak terduga. Pada ceramah tarawih, Rabu malam, 4 Maret 2026, Bapak Suyadi membagikan sebuah kisah sederhana namun menohok tentang betapa seringnya kita terjebak dalam prasangka buruk (su'udzon). Beliau mengangkat tema Olah Hati dan Olah Rasa melalui sebuah ilustrasi cerita pendek yang sarat makna. 


1. Kejadian di Ruang Tunggu Bandara  
Kisah bermula dari seorang wanita yang sedang menunggu jadwal penerbangannya di sebuah bandara. Karena masih memiliki waktu luang, ia memutuskan untuk membeli sebungkus roti dan sebuah buku untuk menemaninya menunggu. Ia duduk di kursi ruang tunggu, meletakkan bungkus rotinya di atas meja di sampingnya. Di kursi sebelah, duduk seorang pria yang tidak ia kenal.  

2. Prasangka yang Mulai Membakar Hati  
Saat wanita itu mengambil satu potong roti dari bungkusnya, ia terkejut karena pria di sampingnya juga mengulurkan tangan dan mengambil satu potong roti dari bungkus yang sama. Wanita itu merasa geram dan berkata dalam hati, "Berani sekali pria ini! Tidak kenal, tidak minta izin, malah ikut makan rotiku. Kalau bukan karena menjaga sopan santun di depan umum, sudah kuparahi dia!" Setiap kali si wanita mengambil roti, si pria juga mengambilnya. Hingga akhirnya tersisa satu potong terakhir. Pria itu mengambilnya, membaginya menjadi dua, lalu memberikan separuhnya kepada si wanita dengan senyuman ramah. Wanita itu menyambarnya dengan kesal, lalu segera berdiri menuju pintu keberangkatan tanpa mengucapkan terima kasih.  

3. Tamparan di Balik Tas 
Keajaiban atau lebih tepatnya "tamparan" keras bagi hati si wanita terjadi saat ia sudah berada di dalam pesawat. Ketika ia merogoh tasnya untuk mengambil kacamata, tangannya menyentuh sesuatu yang akrab. Ia tertegun. Di dalam tasnya, masih terdapat sebungkus roti yang utuh dan belum terbuka. Seketika wajahnya memerah karena malu yang luar biasa. Ia menyadari bahwa roti yang ia makan di ruang tunggu tadi bukanlah miliknya, melainkan milik pria tersebut. Pria yang tadi ia maki-maki di dalam hati justru adalah orang yang sangat dermawan, yang rela berbagi rotinya dengan orang asing tanpa keberatan sedikit pun.  

4. Hikmah Olah Hati: 
Waspada Prasangka Bapak Suyadi menekankan bahwa kisah ini adalah cermin bagi kita semua. "Seringkali kita merasa paling benar dan paling dizalimi, padahal kitalah yang sedang salah paham. Itulah pentingnya Olah Hati," pesan beliau. 

Ramadhan adalah momentum untuk:  
  • Menata Rasa: Jangan biarkan emosi meledak sebelum mengetahui fakta sebenarnya.  
  • Berprasangka Baik (Husnudzon): Memberikan ruang bagi kemungkinan bahwa orang lain berniat baik.  
  • Menahan Diri: Bukan hanya menahan lapar, tapi menahan lisan dan hati dari menghakimi sesama. 
 "Jangan sampai kita merasa paling shalih dan paling benar di bulan Ramadhan ini, hingga dengan mudahnya kita melabeli tetangga atau saudara kita dengan hal-hal buruk yang belum tentu benar." 
 Mari kita bersihkan hati dari noda prasangka, agar ibadah puasa kita menghasilkan akhlak yang mulia.
Share:

Rahasia Ujian dan Syukur


Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun pada fajar Ramadhan 1447 H, Rabu, 4 Maret 2026. Ustadz Helmi membawakan kajian yang sangat menyentuh hati, mengingatkan kita untuk tidak menjadi orang yang merugi di bulan suci ini, sekaligus mengajak kita mensyukuri anugerah fisik yang Allah berikan. Berikut adalah poin-poin utama dari ceramah beliau:  

1. Doa Malaikat Jibril: Sebuah Peringatan Keras Ustadz Helmi membuka kajian dengan mengutip hadits tentang doa Malaikat Jibril yang diaminkan oleh Rasulullah ﷺ. Salah satu penggalan doanya adalah: 

 "Celakalah dan merugilah orang yang mendapati bulan Ramadhan, namun hingga Ramadhan berlalu, dosa-dosanya tidak diampuni oleh Allah." 

Beliau menekankan bahwa Ramadhan adalah hamparan ampunan. Jika di bulan yang penuh fasilitas ketaatan ini kita masih enggan bertaubat, maka di bulan mana lagi kita akan diampuni? Ini adalah "alarm" agar kita tidak menyia-nyiakan hari-hari yang tersisa.  

2. Ujian: 
Bentuk Cinta Allah untuk Mengangkat Derajat Banyak dari kita yang merasa berat saat ditimpa cobaan. Namun, Ustadz Helmi meluruskan sudut pandang kita. Beliau menjelaskan bahwa ujian adalah tanda cinta Allah. 
Menghapus Dosa: Setiap duri yang menusuk atau kesedihan yang melanda adalah penggugur dosa.  
Mengangkat Derajat: Allah ingin hamba-Nya naik ke level yang lebih tinggi, namun karena amal ibadahnya belum cukup, Allah membantunya melalui kesabaran dalam menghadapi ujian. "Hidup terasa berat biasanya muncul saat ada cobaan. 
Kita perlu waspada, jangan-jangan itu adalah peringatan lembut dari Allah agar kita segera kembali bersimpuh kepada-Nya," tutur beliau. 

3. Keajaiban Tubuh: 
Syukur atas Desain Allah yang Sempurna 
Menariknya, Ustadz Helmi mengaitkan syukur dengan ilmu pengetahuan modern. Beliau merujuk pada penjelasan seorang dokter di akun Instagram @dianpratama, yang sering membedah betapa rumit dan sempurnanya organ tubuh manusia. Beliau menjelaskan bahwa setiap detak jantung, aliran darah, dan kerja syaraf yang kita miliki adalah keajaiban medis yang tidak mampu diciptakan manusia manapun.    

"Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin: 4). 

Mensyukuri kesempurnaan fisik ini bukan hanya dengan ucapan alhamdulillah, tapi dengan menggunakan tubuh tersebut untuk beribadah secara maksimal di bulan Ramadhan.

 

Refleksi untuk Warga Gayam Permai Ustadz Helmi berpesan agar kita tidak hanya melihat Ramadhan sebagai rutinitas lapar dan haus. Jadikan setiap kesulitan hidup sebagai tangga menuju Allah, dan jadikan setiap tarikan napas sehat sebagai alasan untuk terus bersyukur. "Jangan sampai kita masuk dalam golongan yang didoakan celaka oleh Malaikat Jibril hanya karena kita terlalu sibuk dengan urusan dunia dan lupa memohon ampun serta bersyukur," pungkas beliau.
Share:

Ternyata, Ada Ghibah yang Diperbolehkan?

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki hari ke-15 Ramadhan 1447 H, Selasa, 3 Maret 2026, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias menimba ilmu. Kali ini, Ustadz Yusman membedah tema yang sangat dekat dengan keseharian kita: dosa lisan dan peliknya urusan minta maaf antar sesama manusia (Hablum Minannas). Berikut adalah poin-poin penting yang beliau sampaikan:  

1. Ternyata, Ada Ghibah yang Diperbolehkan? 
Ghibah (membicarakan aib orang lain) adalah dosa besar yang diibaratkan memakan bangkai saudara sendiri. Namun, Ustadz Yusman menjelaskan bahwa dalam situasi darurat tertentu, syariat memperbolehkan kita menyebutkan keburukan orang lain untuk kemaslahatan, di antaranya:  

  • Melaporkan Kezaliman: 
  • Mengadukan orang yang berbuat zalim kepada hakim atau pihak berwenang.  Contoh Nyata (Memberi Peringatan): Jika ada oknum sales yang masuk ke lingkungan Gayam Permai dan terbukti melakukan penipuan, kita diperbolehkan menceritakan ciri-ciri dan modus orang tersebut di grup WhatsApp warga agar tetangga lain tidak menjadi korban. Ini bukan ghibah yang berdosa, melainkan perlindungan warga.  
  • Meminta Fatwa:  Menceritakan masalah kepada ulama untuk mendapatkan solusi hukum agama.  
  • Memberi Peringatan (Tahdzir): Memberitahu orang lain agar tidak tertipu oleh penjahat, pedagang yang curang, atau dalam urusan meminang jodoh agar tidak salah pilih.  
  • Meminta Bantuan: Menceritakan kemaksiatan seseorang agar orang lain bisa membantu mencegah atau mengubah kemaksiatan tersebut. Seorang istri menceritakan perilaku suaminya yang kurang baik kepada Pak Ustadz atau konselor pernikahan semata-mata untuk mencari solusi agama, bukan untuk merendahkan suami.  
MC Kita : Ananda Rahman Bin Lukman


2. Dilema: Sudah Minta Maaf tapi Tidak Dimaafkan  
Bagaimana jika kita sudah tulus mengakui kesalahan dan memohon maaf, namun orang tersebut menolak memaafkan? Ustadz Yusman memberikan ketenangan bagi jamaah: "Kewajiban kita adalah berikhtiar meminta maaf dengan cara yang baik. Jika ia menolak, maka urusan itu kembali kepada Allah," tutur beliau. 
Beliau menyarankan: Teruslah berbuat baik kepadanya tanpa mengharap balasan. Doakan kebaikan untuknya secara diam-diam. Jika pintu maaf tetap tertutup, serahkan kepada Allah. Allah Maha Tahu bahwa kita telah berusaha memperbaiki hubungan (Ishlah).  

3. Penyesalan Terlambat: Ingin Minta Maaf tapi Orang Tersebut Sudah Meninggal 
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul. Bagaimana cara menebus kesalahan kepada orang yang sudah wafat? Ustadz Yusman memberikan jalan keluar: Istighfar: Mintakan ampunan kepada Allah untuk orang tersebut sesering mungkin.  
  • Puji Kebaikan: Ceritakan kebaikan-kebaikan orang tersebut kepada orang lain untuk menutupi kesalahan kita di masa lalu.  
  • Sedekah Jariyah: Bersedekahlah atas nama orang tersebut. Pahalanya akan sampai kepadanya dan menjadi penebus kesalahan kita kelak di akhirat.  
  • Menyambung Silaturahmi: Berbuat baiklah kepada keluarga atau sahabat dekat almarhum/almarhumah sebagai bentuk penghormatan. 


Anda pernah memiliki perselisihan lama dengan seorang tetangga sesepuh di perumahan tentang batas tanah atau hutang piutang yang belum tuntas, namun beliau wafat sebelum Anda sempat berdamai. Solusi Ustadz Yusman:  
  1. Bayar Hutangnya: Jika ada urusan materi, temui ahli warisnya dan selesaikan.  
  2. Sedekah Atas Namanya: Masukkan uang ke kotak amal Masjid Al-Mu’minun dengan niat pahalanya untuk almarhum tetangga tersebut.  
  3. Puji Beliau: Saat kumpul warga, sebutkan kebaikan-kebaikan beliau di masa lalu untuk menghapus noda kesalahan yang pernah Anda sebarkan. 
Allah tidak akan mengampuni dosa antar manusia sebelum manusia itu saling memaafkan. Ustadz Yusman berpesan, "Jangan biarkan ego menghalangi kita untuk meminta maaf, dan jangan biarkan dendam menghalangi kita untuk memberi maaf. Selagi masih ada umur, mari kita bersihkan hati dari ganjalan sesama tetangga dan saudara."
Share:

Ulama Indonesia Yang Menjadi Imam Masjidil Haram

Jejak Ulama Nusantara di Masjidil Haram: Akar Perjuangan Muhammadiyah dan NU Gayam Permai, Banjarnegara – Ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun pada Senin malam, 2 Maret 2026 (tercatat dalam kalender kegiatan 2 Maret), menghadirkan materi sejarah yang sangat membanggakan. Bapak Bambang Budi memaparkan kejayaan ulama-ulama besar Nusantara yang tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi guru dan imam besar di pusat peradaban Islam, Masjidil Haram, Makkah. Sejarah ini menjadi penting karena dari rahim keilmuan Makkah inilah lahir organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). 


1. Tiga Pilar Ulama Nusantara di Makkah Bapak Bambang Budi menyebutkan tiga nama besar yang pernah menduduki posisi terhormat sebagai Imam Besar dan Guru di Masjidil Haram:  
  • Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama asal Banten yang dijuluki Sayyidul Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Beliau adalah penulis produktif yang kitab-kitabnya hingga kini masih dipelajari di seluruh dunia.  
  • Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Ulama besar asal Sumatera Barat yang menjadi Imam, Khatib, dan Guru Besar di Masjidil Haram. Beliau adalah ahli ilmu falak dan fiqh yang sangat dihormati.  
  • Syekh Junaid Al-Batawi: Ulama asal Betawi (Jakarta) yang menjadi poros keilmuan bagi para penuntut ilmu asal Nusantara di Makkah pada masanya. 
2. Mata Air Bagi Pendiri Muhammadiyah dan NU  
Poin menarik yang disampaikan Bapak Bambang Budi adalah kaitan erat para ulama tersebut dengan berdirinya dua ormas Islam terbesar di Indonesia. Diketahui bahwa KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) adalah kawan seperguruan saat menuntut ilmu di Makkah. 
Keduanya sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi Al-Bantani. "Meskipun nantinya Muhammadiyah dan NU memiliki strategi dakwah yang berbeda, namun akarnya sama. Mereka minum dari sumber mata air ilmu yang sama di tanah suci," jelas beliau.  

3. Pesan Persatuan dan Kebanggaan 
Bapak Bambang Budi menekankan bahwa sejarah ini harus membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Ulama kita pernah menjadi "matahari" yang menyinari dunia Islam dari Makkah. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai senantiasa menjaga persatuan. Perbedaan organisasi (Muhammadiyah atau NU) hanyalah wasilah (sarana), sementara tujuannya tetap satu: meninggikan agama Allah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, persis seperti yang diajarkan para guru-guru mereka di Masjidil Haram. 
Sejarah ini membuat kita sadar bahwa Islam di Indonesia memiliki akar keilmuan yang sangat kuat dan diakui dunia. Di bulan Ramadhan ini, mari kita teladani semangat belajar para ulama terdahulu agar kita tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan kecil.
Share:

Masihkah Hati Kita Sejalan dengan Fitrah

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun pada Senin, 2 Maret 2026, membawa pesan mendalam bagi para jamaah. Bapak Lukman, AMd. dalam Kajian Subuh Ramadhan kali ini mengupas tuntas rahasia hati manusia dalam mengenali dan menerima kebenaran. Beliau menekankan bahwa setiap manusia pada dasarnya telah memiliki "kompas internal" yang menuntunnya pada kebaikan.  
1. Fitrah Sebagai Fondasi Kebenaran (QS. Ar-Rum: 30)  
Mengawali kajiannya, Bapak Lukman mengutip ayat yang sangat fundamental, yaitu QS. Ar-Rum ayat 30:  
"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah di atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus..."  

Beliau menjelaskan bahwa Fitrah adalah kondisi asli manusia saat diciptakan—yakni cenderung kepada tauhid dan kebenaran. Kebenaran bukanlah hal asing bagi jiwa manusia; ia adalah sesuatu yang "cocok" dengan desain asli hati kita.  

2. Mengapa Hati Sulit Menerima Kebenaran?  
Meski memiliki fitrah, tidak semua manusia mudah menerima kebenaran. Bapak Lukman memaparkan bahwa ada kondisi-kondisi tertentu yang harus dijaga agar pintu hati tetap terbuka. Beliau merinci 10 Hal yang dapat mempengaruhi penerimaan kebenaran dalam diri seorang hamba (berikut poin-poin sarinya):  
  1. Kesucian Niat: Benarkah kita mencari kebenaran, atau hanya mencari pembenaran atas keinginan kita?  
  2. Kerendahan Hati (Tawadhu): Lawan dari sombong. Hanya gelas yang kosong yang bisa diisi air.  
  3. Kekuatan Zikir: Hati yang berkarat karena jarang mengingat Allah akan sulit ditembus cahaya kebenaran.  
  4. Meninggalkan Fanatisme Buta: Tidak terpaku pada golongan atau pendapat pribadi jika terbukti ada dalil yang lebih kuat.  
  5. Menjaga Makanan yang Halal: Apa yang masuk ke perut sangat mempengaruhi kejernihan mata hati.  
  6. Kejujuran pada Diri Sendiri: Berani mengakui kesalahan saat diingatkan.  
  7. Lingkungan yang Shalih: Berteman dengan orang-orang yang mencintai kebenaran akan memperkuat fitrah kita.  
  8. Ketekunan dalam Menuntut Ilmu: Kebenaran seringkali tertutup oleh kebodohan (jahl). 
  9. Doa Memohon Petunjuk: Merasa butuh pada hidayah Allah setiap saat.  
  10. Pengamalan Ilmu: Ilmu yang diamalkan akan mengundang cahaya kebenaran yang lebih besar lagi.  

Bapak Lukman, AMd. berpesan agar di bulan Ramadhan ini, kita sering-sering ber-muhasabah (evaluasi diri). Apakah hati kita sudah cukup lunak untuk menerima nasihat? Atau justru ego kita yang lebih dominan? "Kebenaran itu seperti cahaya matahari," ujar beliau. "Ia tidak akan masuk ke dalam ruangan yang jendelanya tertutup rapat oleh debu kesombongan. Mari kita bersihkan jendela hati kita di bulan suci ini."



Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget