Showing posts with label Masjid. Show all posts
Showing posts with label Masjid. Show all posts

Mengungkap Sisi Lain Kisah Nabi Musa dalam Surah Al-A'raf

Kajiann rutin Ahad Pagi, 27 Juli 2025
Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai
Ustadz Syafrudin Maulana, LC

Kisah Nabi Musa 'alaihissalam‘ adalah salah satu narasi paling kaya makna dalam Al-Qur'an, menawarkan pelajaran mendalam tentang keimanan, kesabaran, dan bahaya kelalaian. Surah Al-A'raf secara khusus menguraikan fase-fase penting dalam perjalanan dakwah Nabi Musa, terutama menyoroti respons Bani Israil yang seringkali apatis dan tidak bersyukur, bahkan setelah menyaksikan mukjizat yang luar biasa. Mari kita telaah kisah ini, mengambil hikmah agar kita tidak mengulang kesalahan masa lalu.
Fase 1: Bani Israil di Bawah Penindasan Firaun
Kisah Nabi Musa dimulai saat Bani Israil hidup di bawah kekejaman Firaun, yang diidentifikasi oleh beberapa penafsir sebagai Ramses III, "anak dewa matahari." Penindasan ini mencapai puncaknya dengan perintah Firaun untuk membunuh setiap anak laki-laki Bani Israil yang lahir, sebagaimana disebutkan dalam Surah Al-Baqarah. Ini adalah masa-masa penuh ketakutan dan penderitaan, di mana harapan seolah padam. Namun, di tengah kegelapan itulah, takdir ilahi sedang merajut kelahiran seorang pemimpin yang akan membebaskan mereka.
Fase 2: Nabi Musa Menjadi Rasul
Setelah pengasingan dan pelatihan di Madyan, Allah ‘Subhanahuwa ta′ala‘ memilih Nabi Musa untuk menjadi rasul-Nya. Dengan mukjizat tongkat yang berubah menjadi ular dan tangan yang bersinar, Nabi Musa diutus untuk menghadapi Firaun dan kaumnya yang zalim, menyeru mereka untuk beriman kepada Allah dan membebaskan Bani Israil. Ini adalah fase di mana Nabi Musa diuji dengan tugas yang berat, menghadapi penguasa yang sombong dan rakyatnya yang ingkar.
Fase 3: Penyelamatan Nabi Musa dan Bani Israil
Puncak dari pertarungan antara kebenaran dan kebatilan terjadi ketika Allah ‘SubhanahuwaTa ′ ala‘ menyelamatkan Nabi Musa dan Bani Israil dengan membelah Laut Merah, menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya. Momen penyelamatan yang luar biasa ini adalah mukjizat yang tak terbantahkan, bukti nyata akan kekuasaan dan kasih sayang Allah. Dalam konteks ini, Surah Al-A'raf (ayat 205) mengingatkan kita untuk mengingat Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah diri dan rasa takut, dan tanpa mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah. Ini adalah seruan untuk senantiasa berdzikir dan tidak melupakan nikmat Allah, terutama setelah melalui cobaan berat.
Fase 4: Pasca Penyelamatan dan Apatisme Bani Israil
Sayangnya, setelah diselamatkan dari penindasan Firaun, Bani Israil menunjukkan sikap yang sangat disayangkan: ketidakbersyukuran dan apatisme. Meskipun telah diberi makanan segar seperti manna dan salwa langsung dari langit, mereka mulai mengeluh dan merindukan makanan yang lebih "bervariasi" seperti bawang dan mentimun. Ini adalah gambaran dari kesadaran apatis yang tidak bisa membuka diri terhadap perubahan dan nikmat yang ada di hadapan mata.
Mereka terjebak dalam 'autopilot model' kehidupan, melakukan segala sesuatu tanpa makna dan tanpa korelasi refleksi diri dengan mengingat Allah. Mereka kehilangan diri dalam rutinitas dan keinginan duniawi, melupakan tujuan utama keberadaan mereka. Pentingnya berdzikir kepada Allah menjadi sangat relevan di sini. Ketika manusia kehilangan koneksi dengan Penciptanya, hati menjadi keras dan cenderung abai terhadap tanda-tanda kebesaran-Nya. Kisah Bani Israil adalah peringatan bagi kita: jangan sampai kita terjebak dalam kelalaian (ghoflah), melupakan nikmat dan petunjuk Tuhan.

Kisah Nabi Musa dalam Surah Al-A'raf mengajarkan kita bahwa ujian tidak hanya datang dalam bentuk kesulitan, tetapi juga dalam bentuk nikmat dan kelapangan. Bersyukur, berdzikir, dan senantiasa menghubungkan diri dengan Allah adalah kunci untuk menghindari apatisme dan hidup yang tanpa makna. Marilah kita ambil pelajaran dari kisah ini, menjadikan setiap momen sebagai kesempatan untuk mengingat Allah dan tidak terjebak dalam 'autopilot' kehidupan yang melalaikan. Apa langkah kecil yang bisa kita ambil hari ini untuk lebih sering mengingat Allah dan keluar dari zona "autopilot" kita?










Share:

Undangan Kajian Rutin Ahad Pagi: Menyongsong Ilmu Bersama Ustadz Zein Faqih


Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, 
Mari sama-sama merapat, mencari keberkahan dan menambah khazanah ilmu di Kajian Rutin Ahad Pagi yang insya Allah akan dilaksanakan besok: 
Hari/Tanggal: Ahad, 29 Juni 2025 
Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba'da Subuh) 
Bersama: Ustadz Zein Faqih dari NUSA 
Tempat: Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai 


Kajian Ahad Pagi adalah momen berharga bagi kita untuk memulai hari dengan siraman rohani, memahami lebih dalam ajaran agama, dan menguatkan keimanan. Kehadiran Ustadz Zein Faqih dari NUSA diharapkan dapat memberikan pencerahan dan ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Jangan lewatkan kesempatan emas ini untuk berkumpul dalam majelis ilmu, mempererat tali silaturahmi, dan meraih pahala kebaikan. 
Ajak serta keluarga, sahabat, dan kerabat Anda untuk bersama-sama menghadiri kajian ini. Semoga Allah Subhanahu Wa Ta'ala senantiasa memudahkan langkah kita dalam menuntut ilmu dan memberikan keberkahan atas setiap usaha kita. 
 Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Share:

Langkah Yang Bermanfaat

Langkah Yang Bermanfaat
Kajian Rutin Ahad Pagi, 22 Juni 2025: Ustadz Andi 

1 Muharram 1447, akan segera tiba. Momen ini bukan sekadar pergantian angka di kalender, melainkan sebuah kesempatan emas untuk merenungkan perjalanan hidup yang telah dilalui dan merancang masa depan yang lebih baik. Dengan berpegang teguh pada tuntunan Al-Qur'an dan Sunnah, mari kita siapkan diri menghadap Allah SWT dengan hati yang tenang dan amal yang memberatkan timbangan. Membangun Keluarga yang Qurrota A'yun Salah satu doa indah yang diabadikan dalam Al-Qur'an adalah permohonan agar dikaruniai keluarga yang menjadi penyejuk hati: 

QS. Al-Furqan (25): 74: "Rabbanā hab lanā min azwājinā wa dhurriyyātinā qurrata a'yun, waj'alnā lil-muttaqīna imāmā.
Artinya: "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa." 

Doa ini mengandung makna yang sangat dalam. Bukan hanya sekadar meminta keturunan yang saleh, tetapi juga keluarga yang membawa kebahagiaan dan ketenangan, serta mampu menjadi teladan bagi orang-orang di sekitar. Untuk mewujudkan ini, dibutuhkan usaha bersama dari setiap anggota keluarga, terutama dalam menjaga kualitas ibadah. Salat: Tiang Agama dan Amalan Pertama yang Dihisab Salat adalah pilar utama agama Islam dan amalan pertama yang akan dihisab pada Hari Kiamat. 
Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab dari seorang hamba pada Hari Kiamat adalah salatnya." (HR. At-Tirmidzi). 
Ini menunjukkan betapa krusialnya peran salat dalam kehidupan seorang Muslim. Lalu, bagaimana dengan salat anak-anak dan pasangan kita? Sebagai orang tua dan pasangan, kita memiliki tanggung jawab besar untuk membimbing mereka agar istiqamah dalam mendirikan salat. Mengajarkan, mengingatkan, dan memberikan teladan adalah kunci agar salat menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan mereka. 
Dengan begitu, salat tidak hanya menjadi kewajiban ritual, tetapi juga benteng yang menghalangi dari perbuatan keji dan mungkar, sebagaimana firman Allah: 
 "...Innāṣ-ṣalāta tanhā 'anil-faḥsyā'i wal-munkar..." Artinya: "...Sesungguhnya salat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar..." (QS. Al-Ankabut (29): 45). 

 Refleksi Diri Menuju Usia 40 Tahun
Usia 40 tahun seringkali disebut sebagai "usia kematangan". Pada usia ini, seseorang diharapkan telah mencapai puncak kedewasaan akal dan spiritual. 
Firman Allah dalam QS. As-Saffat (37): 100 yang merupakan doa Nabi Ibrahim AS: "Rabbi hab lī minaṣ-ṣāliḥīn." Artinya: "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh." 
Doa ini sering dikaitkan dengan keinginan untuk memiliki keturunan yang saleh. Namun, dalam konteks refleksi diri, doa ini juga dapat dimaknai sebagai permohonan agar kita senantiasa menjadi pribadi yang saleh di setiap fase kehidupan, terutama ketika mencapai usia 40 tahun. Ini adalah momen untuk mengevaluasi kembali sejauh mana kita telah mencapai potensi diri dan berkontribusi kepada umat. 

Empat Pertanyaan Allah di Hari Kiamat 
Hadis Rasulullah SAW menjadi pengingat yang sangat kuat tentang pertanggungjawaban kita di akhirat: "Kedua kaki seseorang tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai diberi pertanyaan (tentang) umurnya untuk apa ia habiskan, ilmunya untuk apa dimanfaatkan, hartanya dari mana (diperoleh) dan untuk apa dibelanjakan, dan tubuhnya untuk apa digunakan." (HR. At-Tirmidzi) 
Empat pertanyaan ini adalah cerminan dari seluruh aspek kehidupan kita: 
  • Umur: Setiap detik kehidupan adalah anugerah. Sudahkah kita menggunakannya untuk hal-hal yang bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah? 
  • Ilmu: Ilmu yang kita miliki, baik ilmu agama maupun ilmu dunia, haruslah diamalkan dan disebarkan untuk kemaslahatan umat. 
  • Harta: Harta adalah titipan. Penting untuk memastikan bahwa harta kita diperoleh dari jalan yang halal dan dibelanjakan di jalan Allah, bukan untuk kesombongan apalagi terjebak dalam riba yang dilaknat. Jauhi hutang yang riba karena ia membawa kehancuran baik di dunia maupun di akhirat. 
  • Tubuh: Mata, telinga, tangan, dan kaki kita adalah amanah. Sudahkah kita menggunakannya untuk melihat kebaikan, mendengar hal yang baik, berbuat kebaikan, dan melangkah di jalan yang diridai-Nya? Jangan Sampai Harta Memalingkan Kita Kisah Nabi Sulaiman AS dan Qarun memberikan pelajaran berharga tentang harta. 
Nabi Sulaiman adalah figur yang kaya raya namun selalu bersyukur dengan mengucapkan "Hadza min fadli Rabbi" (Ini termasuk karunia Tuhanku). Beliau menggunakan kekayaannya untuk beribadah dan menyebarkan kebaikan. Sebaliknya, Qarun, yang sangat kaya, menjadi sombong dan kufur nikmat, hingga akhirnya ditenggelamkan bersama hartanya. Hadis tentang kaum muhajirin yang miskin yang mendahului masuk surga 40 tahun sebelum orang kaya, juga menjadi renungan penting. Ini bukan berarti kemiskinan lebih mulia dari kekayaan, melainkan tentang hati yang terpaut pada Allah, bukan pada harta. 
Harta bisa menjadi ujian, dan hanya mereka yang mampu mengelolanya dengan baik, tanpa tergoda pada kesombongan dan riba, yang akan selamat. Menyongsong 1447 Hijriyah dengan Persiapan Matang Tahun baru 1447 Hijriyah adalah momen untuk memperbarui niat dan menguatkan tekad. Mari kita jadikan setiap hari sebagai kesempatan untuk: Meningkatkan kualitas salat dan membimbing keluarga untuk senantiasa mendirikannya. Memperbanyak doa agar dikaruniai keluarga yang qurrota a'yun. Memanfaatkan sisa umur dengan sebaik-baiknya, mengamalkan ilmu, dan menggunakan harta serta tubuh di jalan yang benar. 
Menghindari riba dalam segala bentuknya dan membersihkan harta dari hal yang syubhat. Menjadi pribadi yang bersyukur atas segala nikmat, layaknya Nabi Sulaiman, dan menjauhi sifat kufur nikmat. Dengan persiapan yang matang dan kesadaran akan pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT, semoga kita semua dapat menyongsong tahun baru 1447 Hijriyah dengan semangat baru dan menjadi hamba-Nya yang senantiasa dalam lindungan dan ridha-Nya.















Share:

Merasa Islam 'Seadanya'?

Kajian rutin Ahad Pagi
Pada hari Ahad, 15 Juni 2025, suasana pagi di Masjid Al-Mu'minun Perumahan Gayam Permai dipenuhi dengan keberkahan dalam pelaksanaan kajian rutin Ahad pagi. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Lukman dari Pondok Pesantren NUSA Banjarnegara, yang mengupas tuntas berbagai aspek penting dalam agama Islam, khususnya mengenai kalender Hijriyah, bulan-bulan haram, dan penegasan tentang kesempurnaan Islam. 
Ustadz Lukman memulai kajian dengan menjelaskan pentingnya kalender Hijriyah yang didasarkan pada peredaran bulan, atau yang dikenal dengan komariah. Beliau menekankan bahwa perhitungan ini adalah ketetapan Allah SWT yang memiliki hikmah mendalam bagi umat Muslim, termasuk dalam penentuan waktu ibadah seperti puasa dan haji. Lebih lanjut, Ustadz Lukman secara khusus menyoroti bulan Dzulhijjah sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan dosa, karena kemuliaan bulan-bulan tersebut. 
Istilah Prasmanan yaitu hidangan yang disajikan jika suka diambil jika tidak suka tidak diambil. Islam Bukan Prasmanan, Tapi Ketaatan Penuh Bagian menarik dari kajian ini adalah analogi yang disampaikan Ustadz Lukman mengenai prasmanan. Beliau menggambarkan konsep prasmanan, di mana seseorang bebas memilih makanan yang disukai dan meninggalkan yang tidak disukai. Namun, Ustadz Lukman dengan tegas menyatakan bahwa konsep prasmanan tidak berlaku dalam urusan agama. 
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 208, 
"Ya ayyuhalladzina amanu udkhulu fissilmi kaffah," yang berarti "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan." 
Ayat ini menjadi penekanan utama bahwa seorang Muslim harus menerima dan menjalankan semua ketentuan Allah SWT tanpa terkecuali, serta meninggalkan semua larangan-Nya secara total. Tidak ada ruang untuk memilih-milih syariat yang sesuai selera pribadi, atau menjalankan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Ustadz Lukman mempertegas bahwa Islam telah sempurna. Segala ajaran dan syariat yang diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW adalah lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan. 
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk mencari pedoman di luar ajaran Islam, apalagi mencoba mengadaptasi syariat sesuai keinginan pribadi. Kajian rutin Ahad pagi ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah akan pentingnya ketaatan penuh kepada Allah SWT dan ajaran-Nya. Semoga dengan pemahaman yang lebih mendalam ini, kita semua dapat semakin istiqamah dalam menjalankan Islam secara kaffah, meraih keberkahan di dunia dan akhirat.










Share:

Spesial Fiqih Qurban

Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dengan memohon ridha Allah SWT, kami mengundang Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian untuk hadir dalam pengajian rutin bulanan yang kali ini akan membahas secara mendalam tentang Fiqih Qurban. 
Mengingat pentingnya memahami syariat qurban menjelang Hari Raya Idul Adha, pengajian ini akan mengupas tuntas segala aspek mulai dari hukum, syarat sah, tata cara penyembelihan, distribusi daging, hingga hikmah di balik ibadah qurban. 
Tema: "Fiqih Qurban: Memahami Syariat, Meraih Keberkahan Ibadah" 
Bersama Ustadz/Ustadzah: H.Yusman, SHI
Hari/Tanggal: Ahad, 1 Mei 2025 
Pukul: 05.00 s.d.selesai 
Tempat: Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara] 
Mari kita manfaatkan kesempatan mulia ini untuk menambah ilmu, mempererat tali silaturahmi, dan mempersiapkan diri dalam menjalankan ibadah qurban dengan benar sesuai tuntunan syariat. Kehadiran Bapak/Ibu/Saudara/i sekalian adalah suatu kehormatan dan kebahagiaan bagi kami. Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Hormat kami, 
Panitia/Penyelenggara, DKM Masjid Al Mu'minun 
Share:

Kajian Ahad Pagi, 25 Mei 2025: Benteng Keislaman

Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara - Suasana pagi yang penuh berkah menyelimuti Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai pada Ahad, 25 Mei 2025. Jamaah dari berbagai penjuru hadir dengan antusias mengikuti Kajian Ahad Pagi yang rutin diadakan. Kajian dilaksanakan ba'da Sholat Subuh. Kali ini, Ustadz Akmal hadir sebagai narasumber, mengupas tuntas tema penting mengenai Suri Tauladan Nabi Muhammad SAW sebagai role model dan panutan sempurna dengan akhlak yang agung, serta hal-hal krusial yang wajib diperhatikan seorang Muslim setelah memeluk agama Islam.
Dalam penyampaiannya yang penuh hikmah, Ustadz Akmal menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Beliau bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga seorang pemimpin yang adil, suami yang penyayang, ayah yang penuh kasih, sahabat yang setia, dan pebisnis yang jujur. Setiap aspek kehidupan Rasulullah SAW adalah cerminan akhlak yang sempurna, yang patut kita ikuti dan jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. "Allah SWT sendiri telah memuji akhlak Rasulullah dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya:

 وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ 
 (Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung)," 

Lebih lanjut, Ustadz Akmal menjelaskan bahwa setelah seseorang mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim, kewajiban selanjutnya adalah menjaga keislaman tersebut. Hal ini merupakan amanah yang besar dan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh. Seorang Muslim wajib membentengi dirinya dari segala hal yang dapat merusak keimanan dan menjauhkannya dari Allah SWT. Beliau kemudian menyoroti fenomena yang marak terjadi di zaman sekarang, di mana banyak orang dengan mudahnya mengucapkan perkataan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam tanpa mereka sadari. 
Ustadz Akmal mengingatkan jamaah akan pentingnya menjaga lisan dan hati-hati dalam berucap. "Saudara-saudaraku sekalian," ujar Ustadz Akmal dengan nada prihatin, "di zaman yang penuh dengan fitnah ini, kita harus lebih waspada. Terkadang, tanpa sadar, lisan kita meluncurkan kalimat-kalimat yang mengandung kekufuran atau keraguan terhadap Allah dan Rasul-Nya." Ustadz Akmal kemudian menguraikan beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam, yang dikategorikan menjadi tiga aspek utama: 
 1. Keyakinan (I'tiqad): 
 Tidak mengakui Allah SWT dan Rasulullah SAW: Ini adalah bentuk kekufuran yang paling jelas. Menolak keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan menolak kenabian Muhammad SAW sebagai utusan terakhir-Nya. Ragu kepada Allah SWT: Munculnya keraguan yang mendalam terhadap keberadaan Allah, sifat-sifat-Nya yang sempurna, atau kekuasaan-Nya. Menghalalkan hal-hal yang diharamkan dan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan: Contohnya, secara sengaja menghalalkan khamar (minuman keras) atau sebaliknya, mengharamkan sesuatu yang jelas-jelas dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

2. Perbuatan (Af'al): 
 Ustadz Akmal memberikan contoh beberapa perbuatan yang dapat membatalkan keislaman, meskipun beliau tidak merincinya secara detail dalam kesempatan kajian pagi ini. Namun, poin penting yang beliau tekankan adalah bahwa perbuatan yang menunjukkan penghinaan terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an, atau syariat Islam secara sengaja dan sadar dapat mengeluarkan seseorang dari agama. 
3. Lisan (Aqwal): 
 Bagian ini mendapat penekanan khusus dari Ustadz Akmal, mengingat fenomena ringan dalam berucap yang beliau singgung di awal kajian. Beberapa contoh perkataan yang dapat membatalkan keislaman antara lain: Mencela Allah SWT, Rasulullah SAW, agama Islam, atau syariatnya. Mengolok-olok ajaran Islam, seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Mengucapkan kalimat yang mengandung pengingkaran terhadap rukun iman atau rukun Islam. Berdoa atau meminta pertolongan kepada selain Allah. Mengucapkan sumpah palsu dengan menyebut nama selain Allah. 
Di akhir kajiannya, Ustadz Akmal mengajak seluruh jamaah, termasuk Arijal dan seluruh kaum Muslimin di Banjarnegara dan di manapun berada, untuk senantiasa mempelajari agama Islam dengan benar, memperdalam pemahaman tentang tauhid, dan berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan. Beliau juga menekankan pentingnya bertaubat dan kembali kepada Allah SWT jika seseorang merasa telah melakukan kesalahan yang dapat merusak keislamannya. 
Kajian Ahad Pagi ini ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan hidayah, kekuatan iman, dan kemampuan untuk menjaga keislaman hingga akhir hayat. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Akmal dapat menjadi pengingat dan bekal berharga bagi seluruh jamaah dalam mengarungi kehidupan sebagai seorang Muslim yang taat dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.



Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget