Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts
Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts

Sudah Berilmu, Sudahkah Beramal? Muhasabah Diri dari Kajian Ahad Pagi

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama. Pada Ahad pagi, 11 Oktober 2026, telah dilaksanakan kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz. Kajian kali ini membahas beberapa nasihat penting tentang kewajiban mengamalkan ilmu, menjauhi perilaku yang menyerupai kebiasaan setan, mengenali bisikan malaikat dan setan, serta pentingnya menjaga hati dan memperkuat keimanan.  
Kajian ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar tidak hanya bersemangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  
1. Celaka bagi Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmunya  
Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah peringatan tentang bahaya memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu agama seharusnya menjadi petunjuk yang mengarahkan seseorang kepada kebaikan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mengetahui suatu kebenaran memiliki tanggung jawab untuk berusaha menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan tuntunan syariat. Jangan sampai ilmu hanya berhenti pada lisan, catatan, atau sekadar menjadi bahan pembicaraan, sementara perilaku sehari-hari tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari. Karena itu, setiap kali memperoleh ilmu baru, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah ilmu tersebut diamalkan? Sudahkah ilmu itu memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia? Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang banyak diketahui, melainkan juga ilmu yang mendorong pemiliknya semakin taat kepada Allah SWT.  
2. Menjauhi Perilaku yang Menyerupai Kebiasaan Setan  
Dalam kajian ini juga ditekankan pentingnya menjauhi berbagai perilaku yang dicontohkan atau menjadi kebiasaan setan, termasuk dalam perkara-perkara sederhana yang sering dilakukan tanpa disadari. Salah satu contoh yang disampaikan adalah makan dan minum sambil berjalan. Seorang Muslim hendaknya membiasakan diri makan dan minum dengan adab yang baik, memperhatikan tuntunan Rasulullah SAW, serta tidak menganggap remeh kebiasaan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur perkara besar seperti ibadah dan muamalah, tetapi juga mengajarkan adab dalam aktivitas keseharian. Oleh sebab itu, membiasakan perilaku yang baik merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri dan mengikuti tuntunan agama. Setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam bertindak, membiasakan adab Islami, dan berusaha menjauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.  
3. Mengenali Bisikan Malaikat dan Bisikan Setan  
Materi berikutnya membahas tentang bisikan yang dapat memengaruhi hati dan perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi dorongan untuk melakukan kebaikan maupun kecenderungan untuk melakukan keburukan. Bisikan yang mendorong seseorang kepada kebaikan, ketaatan, dan kebenaran perlu disambut dengan kesungguhan. Sebaliknya, bisikan yang mengajak kepada kemaksiatan, kesombongan, kemalasan dalam beribadah, atau perbuatan yang merugikan orang lain harus diwaspadai. Setan berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui keraguan, keinginan yang berlebihan, dan kebiasaan menunda kebaikan. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hatinya tetap terjaga. Mengenali arah suatu dorongan batin juga perlu disertai ilmu dan pemahaman agama. Tidak setiap pikiran yang muncul harus diikuti. Kita perlu menimbangnya berdasarkan Al-Qur'an, sunah Rasulullah SAW, dan tuntunan para ulama.  
4. Amaliah Bergantung pada Hati  
Hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hati berkaitan erat dengan niat, keikhlasan, dan kualitas amal yang dilakukan. Amalan yang tampak baik hendaknya disertai niat yang benar, yaitu mengharapkan rida Allah SWT, bukan semata-mata mencari pujian atau pengakuan manusia. Sebaliknya, hati yang terus dipelihara dengan iman akan membantu seseorang istiqamah dalam menjalankan kebaikan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  
Pesan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanya memperhatikan penampilan luar dan banyaknya amalan, tetapi juga memperhatikan keadaan hati. Sudahkah kita beramal dengan ikhlas? Sudahkah kita menjaga hati dari iri, dengki, sombong, dan riya? Sudahkah kita berusaha meluruskan niat dalam setiap aktivitas? Menjaga hati merupakan proses yang harus dilakukan terus-menerus melalui ilmu, ibadah, muhasabah, dan doa kepada Allah SWT.  
5. Membentengi Diri dari Bisikan Setan  
Agar tidak mudah terpengaruh oleh godaan setan, seorang Muslim perlu membangun benteng keimanan melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang ditekankan dalam kajian ini antara lain:  
a. Memperbanyak zikir kepada Allah SWT Zikir membantu seorang hamba mengingat Allah dalam berbagai keadaan. Dengan membiasakan zikir pagi dan petang, membaca istigfar, serta mengucapkan kalimat-kalimat zikir yang diajarkan Rasulullah SAW, seorang Muslim berusaha menjaga hati agar tidak lalai.  
b. Menjaga wudu Membiasakan diri dalam keadaan suci merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kebersihan dan mempersiapkan diri dalam beribadah. Wudu juga mengingatkan seorang Muslim agar senantiasa memperhatikan kesucian ketika hendak melaksanakan ibadah yang mensyaratkannya.  
c. Membiasakan salat malam Salat malam merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar. Pada waktu malam yang tenang, seorang hamba dapat memperbanyak doa, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat tahajud dan ibadah malam lainnya juga menjadi sarana untuk melatih keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam beribadah. Melalui amalan-amalan tersebut, kita berharap Allah SWT memberikan perlindungan, menguatkan iman, serta memudahkan kita untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.  
6. Mensyukuri Nikmat Besar dari Allah SWT  
Dalam kehidupan ini, ada berbagai nikmat yang terkadang dianggap biasa, padahal memiliki nilai yang sangat besar. Kajian ini mengingatkan kita untuk mengenali dan mensyukuri karunia Allah SWT, di antaranya: a. Anak yang saleh dan salehah Memiliki anak yang saleh dan salehah merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang tumbuh dalam keimanan, berbakti kepada orang tua, dan menjaga ibadah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga. Karena itu, orang tua hendaknya mendidik anak dengan keteladanan, kasih sayang, doa, dan pendidikan agama yang baik. b. Pasangan yang baik Pasangan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, mendukung ibadah, dan menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rumah tangga yang dibangun di atas iman, kasih sayang, dan tanggung jawab akan menjadi tempat bertumbuhnya ketenteraman serta kebaikan. c. Lingkungan yang baik Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan keimanan seseorang. Berada di tengah orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menjaga ibadah, dan mengingatkan ketika melakukan kesalahan merupakan nikmat yang tidak boleh diremehkan. Karena itu, penting bagi kita untuk memilih teman dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman serta menjauhkan diri dari pergaulan yang membawa kepada keburukan. d. Kesabaran dalam menghadapi kehidupan Kesabaran juga merupakan karunia Allah SWT yang sangat berharga. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan menghadapi ujian, baik berupa kesulitan, kehilangan, persoalan keluarga, maupun tantangan dalam menjalankan ketaatan.  
Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah tetap teguh dalam ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan menghadapi ujian dengan ikhtiar serta tawakal kepada Allah SWT. Dengan kesabaran, seorang Muslim belajar menerima ketetapan Allah, memperbaiki diri, dan tetap berharap akan pertolongan-Nya. 7. Mengambil Hikmah dan Mengamalkan Ilmu Dari berbagai nasihat dalam kajian rutin Ahad pagi ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menuntut ilmu harus disertai dengan keinginan kuat untuk mengamalkannya. Kedua, kita perlu menjaga perilaku dan membiasakan adab Islami, bahkan dalam aktivitas sederhana. Ketiga, hati harus senantiasa dijaga agar niat dan amalan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. Keempat, memperbanyak zikir, menjaga wudu, dan membiasakan salat malam merupakan ikhtiar untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Kelima, kita perlu menyadari bahwa anak yang saleh, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung kebaikan, dan kemampuan untuk bersabar adalah nikmat yang patut disyukuri.  
Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti ketika kajian selesai. Justru setelah kajian berakhir, saat itulah kita mulai membuktikan kesungguhan dengan memperbaiki ibadah, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari. Penutup Kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim harus senantiasa diarahkan pada ketaatan kepada Allah SWT. Ilmu perlu diamalkan, hati perlu dijaga, godaan setan perlu diwaspadai, dan setiap nikmat perlu disyukuri. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu dan beramal, memiliki hati yang bersih, istiqamah dalam ibadah, serta mampu mendidik keluarga dan menjaga lingkungan dalam kebaikan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita anak-anak yang saleh dan salehah, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung ketaatan, serta kesabaran dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a'lam bish-shawab.








Share:

Waspada Hati yang Mengeras

Kajian Rutin Ahad Pagi Kajian Rutin Ahad Pagi Ahad, 4 Oktober 2026 bersama Ustadz Yusman, SHI, membahas mengenai fenomena kerasnya hati manusia yang digambarkan sekeras batu dalam Al-Qur'an sehingga seseorang sulit untuk menangis. Mengingat kematian secara intensif, menghindari panjang angan-angan, serta merenungkan kisah tangisan Siti Khotijah terhadap alam kubur menjadi sarana penting untuk melembutkan kembali hati yang keras. 
Dalam kajian disampaikan bahwa tangisan Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar cerita tentang alam kubur menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Hati yang hidup akan mudah tersentuh saat mengingat akhirat, kematian, kubur, serta perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang sulit menangis dan tidak tersentuh oleh nasihat perlu bermuhasabah: jangan-jangan hatinya mulai mengeras. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16, bahwa belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan-Nya; jangan sampai seperti umat terdahulu yang berlalu masa panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. 
 1. Hati yang keras Kerasnya hati membuat seseorang tidak lagi peka terhadap nasihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, kisah kematian didengar, bahkan kabar duka disaksikan, tetapi tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah maupun dorongan untuk memperbaiki diri. Hati yang keras bukan sekadar tidak bisa menangis secara lahiriah. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak tunduk, tidak khusyuk, dan tidak terdorong untuk taat. Karena itu, seorang muslim perlu terus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.  
2. Banyak dosa Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan noda pada hati. Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan dibersihkan. Namun bila ia mengulangi dosa, noda itu bertambah hingga menutupi hati. 
Inilah sebab pentingnya segera bertobat. Jangan menunda istighfar dan jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap ringan, jika terus dikumpulkan, dapat menggelapkan hati dan menjadikan seseorang sulit menerima nasihat.  
3. Mengambil hak orang lain Salah satu sebab hati menjadi gelap adalah mengambil atau menahan hak orang lain. Bentuknya dapat berupa kezhaliman, utang yang tidak dibayar padahal mampu, mengurangi timbangan, ghibah, fitnah, mengambil harta yang bukan miliknya, atau menyakiti orang lain tanpa meminta maaf. Hak Allah dapat diampuni dengan tobat yang sungguh-sungguh. Namun hak sesama manusia perlu diselesaikan dengan mengembalikan haknya atau meminta kerelaan. Karena itu, jangan sampai kita datang pada hari kiamat membawa banyak amal, tetapi habis untuk membayar kezhaliman kepada orang lain.  
Mengingat kematian dan mengurangi angan-angan panjang  
Obat bagi hati yang keras adalah banyak mengingat kematian. Kematian mengingatkan bahwa dunia ini sementara, jabatan tidak kekal, harta tidak dibawa mati, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah. Panjang angan-angan sering membuat seseorang menunda tobat: merasa masih muda, merasa masih ada waktu, atau berencana memperbaiki diri nanti. Padahal kematian tidak menunggu kesiapan kita. Karena itu, perbaikilah diri hari ini, selesaikan hak orang lain hari ini, dan perbanyak amal sebelum datang masa ketika penyesalan tidak lagi berguna. Cinta dunia yang berlebihan juga menjadi pangkal banyak kesalahan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah lalai, berbuat zalim, mengejar harta dengan cara yang tidak halal, serta melupakan akhirat. 

 Mari menjaga kelembutan hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjauhi dosa, segera bertobat, menyelesaikan hak orang lain, dan sering mengingat kematian. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, khusyuk, serta mudah menerima petunjuk-Nya.


Share:

Keajaiban Malam Kelahiran Nabi & Rahasia Saudara Sesusuan yang Jarang Orang Tahu!

Ustadz Zein Faqih

Siapa bilang belajar Siroh Nabawiyah itu ngebosenin dan cuma berisi hafalan tahun sejarah? Di Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara (Ahad, 7/9/2026), Ustadz Zein Faqih ngajak kita flashback ke masa muda Nabi Muhammad SAW. 
Ternyata, perjalanan hidup beliau dari lahir sampai usia 40 tahun (sebelum jadi Rasul) tuh relatable banget sama kehidupan anak muda zaman sekarang! Banyak banget pelajaran life skill, pembentukan mental, sampai urusan personal branding yang bisa kita petik. Yuk, simak rangkumannya!  

1. Plot Twist di Tahun Gajah ('Amul Fil)  

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal (20 April 571 M) di Mekkah. Tahun kelahiran beliau dikenal sebagai Tahun Gajah. Kenapa dinamain Tahun Gajah? Karena saat itu ada "invasi" tentara bergajah pimpinan Abrahah dari Yaman yang mau meratakan Ka'bah. Tapi plot twist-nya, Allah SWT ngirim burung Ababil buat menggagalkan pasukan tersebut. Peristiwa ini jadi sinyal besar kalau bakal lahir sosok pembaru peradaban dunia. Fakta menyentuhnya, Nabi lahir dalam kondisi yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih di dalam kandungan. Kakeknya, Abdul Muthalib, ngasih nama "Muhammad"—sebuah nama unik yang artinya orang yang terpuji. 
Berdasarkan riwayat sirah Nabawiyah, terjadi beberapa fenomena luar biasa di alam raya saat malam kelahiran beliau:  
  • Cahaya Memancar dari Aminah: Saat melahirkan, ibunda Aminah menyaksikan cahaya terang benderang yang keluar dari rahimnya hingga menerangi istana-istana di negeri Syam (Suriah).  Padamnya Api Abadi Majusi di Persia: Api sesembahan kaum Majusi di Kekaisaran Persia yang tidak pernah padam selama lebih dari 1.000 tahun mendadak padam seketika.  
  • Runtuhnya Istana Raja Persia: Merekah dan runtuhnya 14 tiang/bumbungan istana Raja Kisra di Persia.  Surutnya Danau Sawa: Danau Sawa di Persia yang disembah oleh sebagian masyarakat tiba-tiba menjadi kering.  
  • Bintang Agung Muncul: Para cendekiawan dan pendeta dari kaum Yahudi serta Nasrani melihat munculnya bintang terang di langit (dikenal sebagai Bintang Ahmad/Muhammad), yang menjadi pertanda lahirnya nabi terakhir. 

2. 'Sertifikasi' Mental Sejak Kecil: Anak Yatim yang Tangguh  

Zaman dulu, ada tradisi bayi dititipin ke masyarakat pedalaman gurun supaya dapat udara bersih dan pinter bahasa Arab murni. Muhammad kecil diasuh sama Halimah as-Sa'diyyah dari Bani Sa'ad. Kisah penyusuan Nabi Muhammad SAW bersama paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, merupakan salah satu ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat istimewa dalam siroh Nabawiyah. Hubungan mereka tidak hanya sebatas paman dan keponakan, tetapi juga saudara sesusuan (Akhi mir Ridha'ah), yang membuat jalinan kasih sayang di antara keduanya begitu erat sejak kecil hingga akhir hayat. 
Bukannya bikin repot, kehadiran Muhammad kecil malah membawa berkah luar biasa buat keluarga Halimah. Peternakan mereka jadi subur dan melimpah. Tapi, jalan hidup Muhammad kecil nggak makin gampang:  
Usia 6 tahun: Ibunda tercinta, Aminah, wafat di Al-Abwa'. Muhammad officially jadi anak yatim piatu. 
Usia 8 tahun: Kakek yang menyayanginya, Abdul Muthalib, ikut berpulang. Pengasuhan lalu dilanjutin sama pamannya, Abu Thalib. Lesson learned: Keterbatasan dan musibah di masa kecil nggak bikin Muhammad tumbuh jadi pribadi yang hopeless, tapi justru bikin mentalnya makin sekuat baja.  






Share:

Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati

Ramah Tamah Usai Kajian
Ustadz Yusman,SHI
Kajian Ahad Pagi 20 September 2026: Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 20 September 2026. Pada kesempatan kali ini, kajian mengangkat tema yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu “Takdir: Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Memahami Ketetapan Allah, Ikhtiar, dan Ketenangan dalam Menjalani Kehidupan.” Pembahasan tentang takdir sering kali menghadirkan berbagai pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, apakah manusia masih perlu berusaha?  
Jika seseorang sudah memiliki uang untuk berhaji sementara orang lain belum memiliki uang, siapa yang lebih dahulu akan sampai ke Tanah Suci? Jika dua orang sama-sama memiliki hutang, tetapi kemampuan ekonominya berbeda, siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk membantu kita memahami takdir dengan logika berpikir yang benar, sehingga keimanan kepada takdir bukan justru membuat seseorang pasif, tetapi melahirkan ketenangan, optimisme, dan semangat untuk terus berikhtiar.  

Takdir Termasuk Rukun Iman

Takdir merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Seorang muslim wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: 

  “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)  

Iman kepada takdir berarti meyakini bahwa Allah SWT memiliki ilmu yang sempurna terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan Allah. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia kemudian meninggalkan usaha. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Kita berusaha, berdoa, mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Allah Menciptakan Sesuatu Sesuai dengan Kehendak-Nya Salah satu pokok penting dalam memahami takdir adalah keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.  
Allah adalah Al-Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta tidak terlepas dari ilmu dan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih serta melakukan suatu perbuatan. Karena itu manusia diperintahkan untuk memilih jalan kebaikan, berusaha, bekerja, beribadah, serta menjauhi kemaksiatan. Dengan demikian, memahami takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya seseorang mengatakan: “Kalau memang sudah ditakdirkan kaya, nanti juga akan kaya.” Kemudian ia tidak mau bekerja dan berusaha. Cara berpikir seperti ini tidak tepat. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.  

Takdir dan Ikhtiar: Mengapa Kita Tetap Harus Berusaha?  

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Kalau hasilnya sudah ditentukan oleh Allah, mengapa kita masih harus berusaha?” Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan untuk dirinya. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berhasil atau gagal sebelum kita melakukan usaha. Karena itu, kewajiban manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT. Petani menanam karena berharap mendapatkan panen. Orang sakit berobat karena berharap mendapatkan kesembuhan. Seseorang bekerja karena berharap mendapatkan rezeki. Orang yang ingin berhaji menabung dan mempersiapkan diri karena berharap dapat memenuhi panggilan Allah.  
Semua itu merupakan bentuk ikhtiar. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah yang menentukan. Di sinilah keimanan kepada takdir memberikan ketenangan. Kita diperintahkan untuk melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Contoh Sederhana: Siapa yang Lebih Dahulu Berhaji? Dalam kajian dibahas sebuah ilustrasi sederhana. Ada seseorang yang sudah mendaftar haji dan ada orang lain yang belum mendaftar. Keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk berhaji. Siapa yang akan lebih dahulu berhaji?  
Secara logika manusia, orang yang sudah mendaftar mungkin dianggap lebih dekat dengan kesempatan berangkat. Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Bisa saja seseorang sudah mendaftar tetapi belum mendapatkan kesempatan berangkat. Sebaliknya, orang yang sebelumnya belum mendaftar kemudian mendapatkan rezeki, kesempatan, atau kondisi tertentu sehingga akhirnya dapat berhaji lebih dahulu. Contoh tersebut mengajarkan bahwa manusia melakukan ikhtiar, tetapi Allah yang menentukan hasil akhirnya.  
Karena itu, seseorang yang ingin berhaji harus melakukan sebab-sebabnya: memiliki kemampuan, mempersiapkan biaya, mendaftar sesuai ketentuan, menjaga kesehatan, dan berdoa. Setelah ikhtiar dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Contoh Lain: Dua Orang Sama-Sama Memiliki Hutang Begitu pula dengan masalah hutang. Ada dua orang yang sama-sama memiliki kewajiban membayar hutang. Orang pertama memiliki uang yang cukup, sedangkan orang kedua belum memiliki kemampuan untuk membayar. Siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Jawabannya berkaitan dengan kemampuan masing-masing dan kehendak Alloh SWT.  
Orang yang memiliki kemampuan membayar tentu memiliki kewajiban untuk segera menunaikan hutangnya. Sementara orang yang benar-benar belum mampu harus terus berusaha dan memiliki niat sungguh-sungguh untuk melunasinya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki sebab dan akibat yang harus ditempuh. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban. Jika memiliki hutang dan mempunyai kemampuan untuk membayarnya, maka tunaikan. Jika belum mampu, maka berusahalah mencari jalan keluar dengan cara yang halal dan tetap menjaga amanah.  

Takdir Baik dan Takdir Buruk  

Dalam kehidupan, manusia akan mengalami berbagai keadaan. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Ada keberhasilan dan ada kegagalan. Ada kesehatan dan ada sakit. Ada kelapangan rezeki dan ada masa kesulitan. Seorang mukmin memahami semuanya dalam kerangka iman kepada takdir Allah SWT. Ketika mendapatkan sesuatu yang baik, ia bersyukur. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, ia bersabar dan tetap berusaha mencari jalan keluar. Bukan berarti setiap keburukan yang dilakukan manusia kemudian dibenarkan dengan alasan “sudah takdir”. Manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya. Karena itu, pemahaman terhadap takdir harus berjalan bersama dengan iman, ikhtiar, doa, tanggung jawab, sabar, dan tawakal. Empat Tingkatan Takdir Dalam kajian juga dijelaskan mengenai tingkatan takdir yang sering diringkas menjadi empat tingkatan.  
1. Al-'Ilmu — Ilmu Allah  
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi seluruh makhluk dan seluruh kejadian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.  
2. Al-Kitabah — Telah di Tuliskan  
Takdir Allah SWT telah menuliskan ketetapan-Nya. Salah satu dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah firman Allah: 
 “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)  
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ilmu dan ketetapan Allah meliputi seluruh kejadian.  
3. Al-Masyi'ah — Kehendak Allah  
Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Allah berkehendak terhadap apa yang terjadi di alam semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan dalam batas yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, manusia tetap diperintahkan untuk memilih kebaikan dan menghindari keburukan.  
4. Al-Khalq — Allah Menciptakan 
Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Dzat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan manusia, kemampuan manusia, alam semesta, sebab-sebab, serta segala sesuatu yang ada. Karena itu, seorang muslim menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan dan kehendak Allah. Ketenangan dalam Memahami Takdir Salah satu buah penting dari memahami takdir adalah munculnya ketenangan hati.  
Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai dengan rencana kita. Terkadang kita sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Terkadang sesuatu yang kita anggap baik ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya kita anggap buruk ternyata membawa pelajaran dan kebaikan yang tidak kita sangka. Dalam kondisi seperti itu, iman kepada takdir membantu seorang muslim untuk tetap tenang. Ia memahami:  
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya sudah berdoa. Saya sudah mengambil sebab yang dibenarkan. Adapun hasil akhirnya, saya serahkan kepada Allah SWT.” Sikap seperti inilah yang melahirkan tawakal.  
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Jangan Berhenti Berikhtiar Memahami takdir seharusnya membuat seorang muslim semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Ketika berhasil, ia tidak sombong karena menyadari bahwa keberhasilan itu terjadi dengan pertolongan Allah.  
Ketika gagal, ia tidak berputus asa karena mengetahui bahwa Allah memiliki hikmah dan ketetapan yang belum tentu dapat langsung dipahami manusia. Maka prinsip yang perlu kita pegang adalah: Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Manusia bertugas melakukan ikhtiar. Allah yang menentukan hasilnya. Dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. 

Takdir Mengajarkan Kita untuk Tenang Kajian tentang takdir bukan sekadar membahas sesuatu yang telah ditetapkan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani kehidupan dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan usaha yang benar. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Karena itu, tugas kita bukan menerka-nerka takdir, tetapi mempersiapkan diri, berusaha, berdoa, dan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Jika mendapatkan ujian, bersabarlah. Jika mempunyai cita-cita, berusahalah. Jika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.  
Sebab seorang mukmin meyakini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Semoga pemahaman yang benar tentang takdir menjadikan kita pribadi yang lebih tenang, tidak mudah mengeluh, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Mari terus belajar, memperbaiki diri, dan memperkuat iman melalui majelis ilmu.  
Mari Hadiri Kajian rutin di Masjid Al Mu’minun pada setiap Ahad Pagi. Semoga rangkaian Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan mempererat ukhuwah di antara warga. Mari hadir, belajar bersama, dan mengambil manfaat dari majelis ilmu. Ikhtiar adalah tugas kita. Hasil adalah ketetapan Allah. Ketenangan lahir ketika hati bersandar kepada-Nya. Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Tempat Menuntut Ilmu, Memperkuat Iman, dan Mempererat Ukhuwah.




Share:

Sudahkah Kita Beribadah kepada Allah SWT Secara Kaffah?

Kajian Islam dan ibadah kepada Allah SWT secara kaffah di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara

Kajian Rutin Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono,LC, 13 September 2026. Bertepatan dengan Ahad Pon. 
Sebagai seorang Muslim, kita tentu ingin menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT. Namun, apakah ibadah hanya sebatas shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa? Islam mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah SWT memiliki cakupan yang sangat luas. Seorang Muslim tidak hanya diperintahkan untuk beribadah dalam ritual tertentu, tetapi juga berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam seluruh kehidupannya. 
Inilah salah satu makna penting dari beribadah kepada Allah SWT secara kaffah. Allah SWT berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً 

 “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...” (QS. Al-Baqarah: 208) 

Ayat tersebut mengingatkan kita agar Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Apa Arti Beribadah kepada Allah Secara Kaffah? Secara sederhana, kaffah berarti menyeluruh atau keseluruhan. Beribadah kepada Allah SWT secara kaffah berarti berusaha menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh sesuai kemampuan, dengan menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Ibadah dalam pengertian yang luas mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Dengan demikian, ibadah tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi dapat hadir di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, bahkan dalam aktivitas sehari-hari. 

Ibadah Tidak Hanya Shalat dan Puasa  
Shalat lima waktu merupakan kewajiban utama seorang Muslim. Demikian pula puasa Ramadan, zakat bagi yang memenuhi syarat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan berbagai ibadah lainnya. Namun, kehidupan seorang Muslim tidak berhenti setelah selesai shalat. Bekerja dengan Jujur Juga Bernilai Ibadah Seorang Muslim yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dapat memperoleh pahala apabila pekerjaannya dilakukan dengan niat yang baik dan melalui cara yang halal. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan tidak mengambil hak orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam.  
Mendidik Anak Merupakan Amanah  
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Mengajarkan shalat, membaca Al-Qur'an, menghormati orang tua, berkata jujur, menjaga adab, dan membiasakan anak melakukan kebaikan merupakan bagian dari pengamalan Islam dalam keluarga. Allah SWT berfirman:  

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)  

Berbuat Baik kepada Tetangga  
Islam juga mengajarkan hubungan sosial yang baik. Membantu tetangga, menjaga kerukunan, menjenguk orang sakit, membantu warga yang membutuhkan, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk nyata akhlak seorang Muslim. Dengan demikian, beribadah secara kaffah juga berarti menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Ciri-Ciri Kehidupan Muslim yang Kaffah Menjalankan Islam secara kaffah bukan berarti merasa diri sudah sempurna. Sebaliknya, seorang Muslim terus berusaha memperbaiki diri. Beberapa cirinya antara lain:  
1. Menjaga Hubungan dengan Allah SWT
 Shalat dijaga, Al-Qur'an dibaca dan dipelajari, dzikir diperbanyak, serta doa senantiasa dipanjatkan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga keikhlasan dalam beribadah.  
2. Memiliki Akhlak yang Baik.  
Ibadah seharusnya memberikan pengaruh terhadap perilaku. Semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda:  

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ahmad)  

Karena itu, jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka berdusta, menyakiti orang lain, merendahkan sesama, atau tidak amanah.  

3. Menjaga Amanah 
 Amanah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Amanah dalam pekerjaan, amanah dalam keluarga, amanah dalam bermasyarakat, maupun amanah terhadap harta yang dititipkan Allah SWT.  
4. Menjaga Lisan dan Perbuatan Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara. Ghibah, fitnah, dusta, mencela, dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya harus dihindari. Terlebih di zaman media sosial, satu ucapan atau tulisan dapat tersebar kepada banyak orang dalam waktu singkat.  
5. Terus Melakukan Muhasabah 
Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, kita perlu melakukan evaluasi terhadap diri sendiri: Apakah shalat kita semakin baik? Apakah hubungan kita dengan keluarga semakin baik? Apakah kita semakin jujur dan amanah? Apakah kehadiran kita memberikan manfaat kepada orang lain? Muhasabah membantu kita untuk terus memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT ketika melakukan kesalahan.







Share:

Hidup Adalah Ujian, Al-Qur'an Adalah Jalan Keluar

Ahad, 26 Juli 2026, Majelis Kajian Rutin Ahad Pagi kembali menghadirkan Ustadz Yusman, S.H.I. dengan tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap muslim, yaitu tentang hakikat ujian hidup dan solusi yang Allah berikan melalui Al-Qur'an. Kajian diawali dengan pengingat dari QS. Al-Balad bahwa kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari ujian.  
"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penuh perjuangan)." (QS. Al-Balad: 4).  
Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Bahkan, semakin tinggi kualitas keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang Allah berikan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Mulk,  
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
Allah-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Ujian hadir dalam berbagai bentuk. Kekayaan adalah ujian, demikian pula kemiskinan. Jabatan adalah ujian, begitu juga kesederhanaan. Bahkan Nabi Adam alaihissalam pun diuji hingga harus keluar dari surga sebagai bagian dari ketetapan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Lalu, bagaimana seorang mukmin menghadapi ujian tersebut? Jawabannya terdapat dalam firman Allah pada QS. Thaha ayat 123,  
"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kemudian jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.'" (QS. Thaha: 123)
Bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah, niscaya tidak akan tersesat dan tidak akan hidup dalam kesengsaraan. Petunjuk Al-Qur'an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi dipahami, diyakini, dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.  
Ustadz Yusman kemudian mengangkat pelajaran besar dari Perang Tabuk, salah satu ekspedisi terbesar yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Di tengah perjalanan sekitar 700 kilometer pada musim panas yang sangat berat, Rasulullah berhasil menggerakkan sekitar 30.000 pasukan. Pengorbanan para sahabat menjadi bukti nyata keimanan mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya, Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya, sementara Utsman bin Affan menyumbangkan 1.000 dinar emas untuk mendukung perjuangan Islam. Mereka memahami bahwa mengikuti petunjuk Allah tidak akan pernah membawa kepada kerugian ataupun kebinasaan.  
Kajian juga menyoroti tantangan kehidupan keluarga masa kini. Krisis komunikasi antara suami dan istri sering kali menjadi sumber berbagai persoalan rumah tangga. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa suami dan istri adalah "pakaian" satu sama lain, saling melindungi, menutupi kekurangan, dan memberikan kenyamanan.  Demikian pula menjaga pandangan merupakan bentuk ketaatan yang akan menjaga keberkahan serta kenikmatan yang halal yang telah Allah anugerahkan.  
"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 187) 
Makna "Pakaian" dalam Ayat Ini Ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan "pakaian" mengandung makna yang sangat dalam, di antaranya: 
  • Menutupi kekurangan pasangan, bukan membuka aibnya.  
  • Melindungi satu sama lain dari hal-hal yang merusak rumah tangga.  
  • Memberikan kenyamanan dan ketenangan, sebagaimana pakaian memberi rasa nyaman bagi tubuh.  
  • Menghiasi dan memperindah kehidupan pasangan.  
  • Menjaga kehormatan dan kesucian masing-masing.  
Karena itu, ketika muncul krisis komunikasi dalam rumah tangga, ayat ini mengingatkan bahwa hubungan suami istri dibangun atas dasar saling melindungi, saling memahami, dan saling menjaga, bukan saling menyalahkan atau mempermalukan. Pesan utama kajian pagi ini begitu jelas. Hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Namun, setiap persoalan telah Allah siapkan jalan keluarnya. Solusi terbaik bukan sekadar berasal dari logika manusia, melainkan dari petunjuk Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an.  
Semoga Kajian Rutin Ahad Pagi ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap ujian adalah sarana meningkatkan derajat keimanan. Selama kita berpegang teguh kepada petunjuk Allah, tidak ada alasan untuk berputus asa, tidak ada ruang untuk bersedih berkepanjangan, karena Al-Qur'an selalu menghadirkan cahaya dan jalan keluar bagi setiap hamba yang beriman. "Hidup pasti memiliki ujian, tetapi Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menghadapi ujian tanpa petunjuk. Maka dekatilah Al-Qur'an, karena di sanalah setiap persoalan menemukan jalan keluarnya."




Share:

Penyimpangan Kaum Quraisy dan Akhlak Jahiliyah | Kajian 19 Juli 2026

Kajian Rutin Ahad Pagi 19 Juli 2026 Mengenal Akhlak Masyarakat Jahiliyah dan Misi Rasulullah ﷺ Menyempurnakan Akhlak Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terlaksana pada Ahad, 19 Juli 2026, dengan pemateri Ustadz Zein Faqih. Pada kesempatan kali ini, beliau mengangkat tema tentang penyimpangan kaum Quraisy di masa jahiliyah serta diutusnya Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan akhlak manusia.  

Rasulullah ﷺ bersabda:  
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad) 

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Menariknya, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak sepenuhnya memiliki akhlak yang buruk. Mereka memiliki beberapa sifat terpuji, namun juga dibarengi dengan penyimpangan yang akhirnya diperbaiki dan disempurnakan oleh Islam.  
Akhlak Masyarakat Jahiliyah yang Masih Terpuji  
1. Sangat Dermawan dalam Menjamu Tamu
Bangsa Arab terkenal sangat memuliakan tamu. Menjamu tamu merupakan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Diriwayatkan dalam berbagai kisah bahwa ada seseorang yang hanya memiliki seekor unta sebagai harta terakhirnya. Ketika tamu datang, ia rela menyembelih unta tersebut demi memberikan jamuan terbaik kepada tamunya. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi nilai kemurahan hati yang mereka miliki. Namun demikian, di sisi lain mereka juga memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan fitrah, seperti meminum khamr dan berjudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219) Larangan tersebut kemudian disempurnakan hingga Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, berjudi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90) Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam menghapus kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.  
2. Menepati Janji  
Masyarakat Arab juga dikenal sangat menjaga janji. Janji dianggap sebagai kehormatan yang harus dipenuhi walaupun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Dalam kajian disampaikan beberapa contoh sejarah, seperti Perang Al-Basus, kisah Al-Muhalhal yang dibebaskan karena adanya janji yang harus ditepati, serta kisah Nu'man dan Hani bin Mas'ud Asy-Syaibani yang menunjukkan kuatnya komitmen mereka terhadap amanah. Namun, sikap menjaga kehormatan tersebut sering kali berubah menjadi fanatisme kesukuan ('ashabiyah) yang akhirnya memicu peperangan berkepanjangan.  
3. Menjaga Kehormatan, Tetapi Berlebihan  
Masyarakat jahiliyah memiliki rasa harga diri dan kehormatan yang tinggi. Mereka juga dikenal pemberani dan memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarga. Akan tetapi, keberanian yang tidak dibimbing oleh syariat sering berubah menjadi tindakan berlebihan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan panjang. Contohnya adalah Perang Al-Basus yang berlangsung hingga sekitar empat puluh tahun. Bahkan terdapat peperangan yang dipicu hanya karena persoalan sepele, seperti perlombaan atau pacuan kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa ilmu dan petunjuk agama dapat berubah menjadi kerusakan.  
4. Lemah Lembut dan Suka Menolong  
Di balik kerasnya kehidupan padang pasir, masyarakat Arab juga memiliki sifat saling membantu dan menolong sesama, terutama kepada orang yang meminta perlindungan atau mengalami kesulitan. Islam kemudian memperkuat sifat ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah.  
5. Hidup Sederhana Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu cenderung sederhana. Mereka terbiasa hidup dengan apa adanya dan tidak bergantung pada kemewahan dunia. Islam mempertahankan sikap sederhana tersebut, sekaligus mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. 6. Jujur Kejujuran juga merupakan salah satu sifat yang dihargai di tengah masyarakat Arab. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanah beliau. Sifat inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam sehingga banyak orang mempercayai risalah yang beliau bawa. Islam Menyempurnakan Akhlak Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk men 
ghapus seluruh budaya Arab.  
Akhlak-akhlak yang baik tetap dipertahankan, sementara kebiasaan yang menyimpang diperbaiki dan diarahkan sesuai tuntunan wahyu. Sifat dermawan diarahkan agar ikhlas karena Allah. Keberanian dibimbing agar digunakan untuk membela kebenaran. Menepati janji dijadikan bagian dari keimanan. Tolong-menolong diarahkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Kesederhanaan dijaga dari sifat bakhil, sedangkan kejujuran menjadi identitas setiap muslim. Dengan demikian, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 
Kajian Ahad pagi kali ini mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari ilmu dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlaknya. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dalam membangun peradaban melalui akhlak yang mulia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari dan terus berusaha memperbaiki diri dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Aamiin.




Share:

"Sholat Orang yang Sedang Sakit: Kemudahan Syariat Tanpa Meninggalkan Kewajiban"

Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terselenggara pada Ahad, 12 Juli 2026, di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah mendapatkan pembahasan fikih yang sangat penting, yaitu mengenai tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit. 
Pada awal kajian, beliau mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun. Di antara kelima rukun tersebut, syahadat dan sholat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama akalnya masih ada, meskipun sedang mengalami sakit atau memiliki keterbatasan fisik. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Allah Ta'ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, syariat memberikan berbagai keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang sedang sakit sesuai dengan kondisi yang dialaminya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 
 "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring." 

Hadis ini menjadi dasar bahwa kewajiban sholat tetap berlaku, namun tata caranya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dalam kajian juga dijelaskan bahwa seseorang yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, kemudian tidak dapat menghadirinya karena uzur seperti sakit, maka dengan karunia Allah ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana ketika ia melaksanakannya bersama jamaah. Selain itu, syariat juga memberikan keringanan berupa bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit apabila memang terdapat kesulitan yang nyata dalam melaksanakan setiap sholat pada waktunya. 
Apabila kondisi sakit menyebabkan seseorang tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada orang yang dapat membantu mengarahkannya, maka ia diperbolehkan melaksanakan sholat sesuai arah yang mampu dihadapinya. Hal ini menunjukkan betapa Islam tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.  
Ustadz Yusman, S.H.I. juga menjelaskan beberapa tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit, di antaranya: 
  • Sholat sambil duduk, tetap menghadap kiblat apabila mampu, kemudian memulai sholat dengan takbiratul ihram sambil bersedekap sebagaimana sholat pada umumnya.  
  • Sholat dengan berbaring ke sisi kanan, dengan wajah menghadap kiblat. Ini merupakan posisi yang lebih utama apabila memungkinkan.  
  • Jika tidak mampu, berbaring ke sisi kiri dengan tetap menghadap kiblat.  
  • Apabila kedua posisi tersebut tidak memungkinkan, maka shalat dengan terlentang, dengan posisi kaki mengarah ke barat sehingga wajah tetap menghadap kiblat (sesuai kondisi arah kiblat setempat), lalu melakukan gerakan dengan isyarat semampunya.  
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan sholat. Justru dalam kondisi sakit, seorang hamba semakin membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat Islam telah memberikan kemudahan yang luar biasa sehingga setiap muslim tetap dapat menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  
Semoga ilmu yang disampaikan pada kajian Ahad pagi ini menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk memahami fikih ibadah dengan benar serta semakin menumbuhkan semangat menjaga sholat dalam setiap keadaan. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keistiqamahan, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
Share:

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget