Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts
Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts

Doa Di Mudahkan Dalam Melunasi Hutang dan Teladan Rasulullah ﷺ dalam Menghadapinya


Kajian Rutin Ahad Pagi
Bersama Ustadz Yusman
Tema : Hutang

Hutang adalah perkara yang tidak ringan dalam Islam. Ia bukan sekadar urusan dunia, tetapi juga berkaitan dengan tanggung jawab di akhirat. Oleh karena itu, Nabi Muhammad memberikan perhatian besar terhadap masalah hutang, bahkan mengajarkan doa khusus untuk memohon pertolongan kepada Allah agar terbebas darinya.  
Kisah Abu Umamah yang Sedih karena Hutang Diriwayatkan dari Abu Umamah, suatu hari beliau terlihat duduk di masjid di luar waktu shalat dalam keadaan sedih dan murung. Melihat hal tersebut,  

Rasulullah ﷺ bertanya: 
Wahai Abu Umamah, mengapa aku melihatmu duduk di masjid bukan pada waktu shalat?”  
Ia menjawab bahwa dirinya sedang diliputi kesedihan dan terlilit hutang. 

Maka Rasulullah ﷺ bersabda:  
Maukah aku ajarkan kepadamu suatu doa, yang apabila engkau membacanya, Allah akan menghilangkan kesedihanmu dan melunasi hutangmu?”  
Abu Umamah menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.”
Kemudian Rasulullah ﷺ mengajarkan doa berikut:  

Doa Melunasi Hutang 


اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْهَمِّ وَالْحَزَنِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنَ الْجُبْنِ وَالْبُخْلِ،
وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ غَلَبَةِ الدَّيْنِ وَقَهْرِ الرِّجَالِ  
Artinya: 
Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kegelisahan, 
aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan dan kemalasan, 
aku berlindung kepada-Mu dari sifat pengecut dan kikir, 
dan aku berlindung kepada-Mu dari lilitan hutang dan tekanan manusia.” (HR. Abu Dawud)

Abu Umamah kemudian mengamalkan doa ini, dan Allah pun menghilangkan kesedihannya serta melunasi hutangnya.  

Apakah Rasulullah ﷺ Pernah Berhutang?  

Jawabannya: ya, Rasulullah ﷺ pernah berhutang. Hal ini menunjukkan bahwa berhutang bukanlah sesuatu yang haram secara mutlak, selama dilakukan dengan niat yang benar dan cara yang halal.  

1. Berhutang kepada Jabir bin Abdillah  
Rasulullah ﷺ pernah memiliki urusan hutang yang berkaitan dengan keluarga Jabir. Dalam riwayat disebutkan bahwa Nabi membantu melunasi hutang ayah Jabir dan bahkan mendoakan keberkahan atas hartanya.  
2. Berhutang kepada seorang Yahudi  
Dalam hadits shahih disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah membeli makanan dari seorang Yahudi dengan pembayaran yang ditangguhkan (hutang), dan menjaminkan baju besinya. Ini menunjukkan: Hutang boleh dilakukan kepada siapa saja, termasuk non-Muslim.  Hutang harus disertai tanggung jawab dan jaminan.  

Hutang yang Dilarang dalam Islam  

Tidak semua hutang diperbolehkan. Islam melarang hutang yang mengandung unsur dosa, seperti:  
❌ Hutang untuk maksiat Contoh: Judi Minuman keras Perbuatan haram lainnya  
❌ Hutang tanpa niat membayar Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa mengambil harta orang lain dengan niat tidak ingin mengembalikannya, maka Allah akan membinasakannya.” (HR. Bukhari)  
Janji Allah bagi Orang yang Ingin Melunasi Hutang Islam sangat memuliakan orang yang memiliki niat kuat untuk melunasi hutangnya. Rasulullah ﷺ bersabda: “Barang siapa berhutang dengan niat ingin membayarnya, maka Allah akan menolongnya untuk melunasinya.” (HR. Bukhari) 

Ini adalah kabar gembira:  
➡️ Selama niat kita benar  
➡️ Kita berusaha  
➡️ Kita berdoa Maka pertolongan Allah akan datang.  

Sikap Seorang Muslim terhadap Hutang Dari ajaran Rasulullah ﷺ, kita dapat mengambil beberapa pelajaran penting: Hutang boleh, tetapi harus hati-hati Niat melunasi adalah kunci utama Perbanyak doa dan tawakal kepada Allah Hindari hutang untuk hal yang haram Segera melunasi jika mampu Hutang bukan hanya urusan dunia, tetapi juga akan dimintai pertanggungjawaban di akhirat. Oleh karena itu, marilah kita menjaga diri, memperbaiki niat, dan mengamalkan doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ agar Allah memudahkan kita terbebas dari hutang.
Share:

Ketika Badan Kenyang, Tapi Hati Lapar

Kajian Rutin Ahad Pagi, 05 April 2026
Bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz

Pendahuluan 
Dalam kehidupan ini, manusia tidak hanya terdiri dari fisik semata. Ada tiga unsur utama yang harus dijaga keseimbangannya, yaitu badan (fisik), akal (pikiran), dan hati (rohani). Ketiganya memiliki peran penting dalam membentuk kualitas hidup seseorang. Agar ketiga aspek ini berkembang dengan baik dan sehat, maka diperlukan perawatan yang maksimal serta “asupan gizi” yang cukup tidak hanya untuk tubuh, tetapi juga untuk akal dan hati.  

1. Badan:  Butuh Makanan Bergizi  

Bapak/Ibu, dalam kehidupan sehari-hari kita makan berapa kali? Umumnya, manusia makan tiga kali sehari untuk menjaga kesehatan tubuh. Tubuh membutuhkan: Makanan bergizi Nutrisi yang cukup Pola makan yang teratur Jika tubuh tidak mendapatkan asupan yang cukup, maka fisik akan lemah dan mudah terserang penyakit.  
 

2. Akal: Makanan Utamanya adalah Ilmu  

Selain badan, akal juga membutuhkan “makanan”. Lalu, apa makanan akal? Jawabannya adalah ilmu. Akal yang tidak diberi asupan ilmu akan: Tumpul dalam berpikir Mudah terpengaruh hal negatif Sulit membedakan yang benar dan salah Sebaliknya, akal yang terus diasah dengan ilmu akan: Semakin cerdas Bijak dalam mengambil keputusan Mampu menjalani hidup dengan lebih terarah  

3. Hati: Lebih Peka dan Butuh Nutrisi Ruhani  

Bagian yang sering dilupakan adalah hati. Padahal hati adalah pusat dari segala perilaku manusia. Hati juga membutuhkan “makanan”, yaitu: Dzikir (mengingat Allah) Membaca Al-Qur’an Sholawat Istighfar Dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa: “Dalam hati mereka ada penyakit…” Penyakit hati muncul ketika hati tidak mendapatkan asupan yang cukup. 
Akibatnya: Mudah iri dan dengki Sulit menerima kebenaran Hati menjadi keras Padahal hati itu lebih peka dibandingkan fisik. Jika fisik butuh makan 3 kali sehari, maka hati bahkan membutuhkan “makanan” lebih sering. 
Menguatkan Ruhani Sebelum Fisik Sebelum memulai aktivitas fisik, seharusnya kita memulai dengan aktivitas rohani.  
Caranya: 
Membaca Al-Qur’an  
Berdzikir Bersholawat  
Beristighfar  

Dengan hati yang kuat, maka fisik dan akal akan ikut kuat. Nilai Ikhsan dalam Kehidupan Dalam menjalani hidup, kita juga diajarkan untuk memiliki sifat ikhsan, yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah, dan merasa selalu diawasi oleh-Nya. Dengan ikhsan: Amal menjadi lebih ikhlas Hati menjadi lebih tenang Hidup lebih terarah Pesan Al-Qur’an: Kuatkan Hati dan Jangan Terpecah Dalam QS. Al-Anfal ayat 45–47, Allah memberikan petunjuk penting:  
  • “Fasbutu” → Teguhkan langkah, kuatkan diri 
  • Taat kepada Allah dan Rasul-Nya 
  • Jangan bercerai-berai 
  • “Wasbiru” → Bersabarlah 

 Pesan ini menegaskan bahwa:  
👉 Kekuatan sejati dimulai dari rohani yang kuat  
👉 Persatuan dan kesabaran adalah kunci keberhasilan 

Hidup yang seimbang adalah hidup yang mampu menjaga: 
Badan dengan makanan bergizi Akal dengan ilmu 
Hati dengan dzikir dan ibadah Mari kita mulai dari diri sendiri: Menguatkan hati sebelum beraktivitas Menjaga keikhlasan dalam setiap amal 
Menjadikan hidup lebih dekat kepada Allah Karena sejatinya, kekuatan terbesar bukan pada fisik… tetapi pada hati yang hidup dan penuh keimanan.

Share:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun, Gayam Permai Banjarnegara


Masjid Al Mu’minun yang berlokasi di Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara, secara rutin menyelenggarakan kegiatan pengajian Ahad pagi yang terbuka untuk umum. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk menambah wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitar. Pengajian ini dilaksanakan setiap hari Ahad pagi dengan menghadirkan para ustadz yang kompeten di bidangnya. 
Menariknya, jadwal pengisi kajian disesuaikan dengan penanggalan Jawa, sehingga setiap pekan menghadirkan suasana dan pembahasan yang beragam/ Tematik.

Berikut jadwal pengajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Mu’minun: 


Ahad Kliwon bersama Ustadz Andi Julianto  
Ahad Legi bersama Ustadz Ulil Albab  
Ahad Pahing bersama Ustadz Zein Faqih  
Ahad Pon bersama Ustadz Retno A.P  
Ahad Wage bersama Ustadz Yusman 

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan ini biasanya dimulai pada pagi hari dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua. Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek kehidupan dalam Islam, seperti akidah, ibadah, akhlak, hingga muamalah, yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan adanya pengajian rutin ini, diharapkan masyarakat dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 
Mari bersama-sama meramaikan majelis ilmu di Masjid Al Mu’minun. Ajak keluarga, sahabat, dan tetangga untuk hadir dan mendapatkan keberkahan dari setiap ilmu yang disampaikan. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat juga dapat mengikuti media sosial Perumahan Gayam Permai melalui berbagai platform yang tersedia. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Share:

Setelah Ramadhan: Bukan Finish, Tapi Garis Start yang Sebenarnya

Kajian Ahad Pagi Pasca Ramadhan, 29 Maret 2026 10 Ramadhan 1447 H Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai, Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Ramadhan telah berlalu. Takbir kemenangan sudah lama menggema.Namun ada satu hal yang sering luput dari perhatian kita bahwa bagi para sahabat Nabi, Ramadhan bukanlah akhir dari ibadah, melainkan awal dari perjalanan yang lebih serius. 
Diriwayatkan bahwa para sahabat justru enam bulan setelah Ramadhan terus berdoa agar amal ibadah mereka diterima oleh Allah. Bukan soal sudah selesai, tapi justru mereka diliputi rasa khawatir: apakah puasa, shalat, dan amal mereka benar-benar sampai kepada-Nya? Sementara kita? Seringkali setelah “lari sprint” selama Ramadhan, justru langsung berhenti total.  
Ibadah yang dulu terasa ringan, kini mulai ditinggalkan. Masjid yang dulu ramai, kini kembali lengang. Padahal sejatinya, Ramadhan adalah latihan, bukan tujuan akhir.  

Sprint Sudah Selesai, Saatnya Menjaga Ritme  
Ramadhan ibarat lari cepat (sprint) yang menguras energi. Kita berusaha maksimal: bangun malam, menahan diri, memperbanyak amal. Namun setelah sprint itu selesai, bukan berarti kita berhenti bergerak. Justru kita perlu mengatur napas, menjaga langkah, dan melanjutkan perjalanan dengan konsisten. Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan: 

 “Wasāri‘ū ilā maghfiratin min rabbikum…” “Bersegeralah kalian menuju ampunan dari Tuhan kalian…” (QS. Ali Imran: 133) 

Ayat ini bukan hanya untuk Ramadhan. Ini adalah panggilan sepanjang hidup. Panggilan bagi orang-orang bertakwa (lil muttaqin), yang tidak menunda kebaikan. 
Ciri Orang Bertakwa: Bukan Sekadar Ramadhan-Sentris Allah tidak hanya memerintahkan kita untuk bersegera, tetapi juga menjelaskan siapa saja yang termasuk orang bertakwa itu. Ada tanda-tanda nyata yang bisa kita lihat dalam kehidupan sehari-hari:  

1. Tetap Berinfak, Baik di Saat Lapang Maupun Sempit Orang bertakwa tidak menunggu kaya untuk berbagi. Mereka memberi saat punya, bahkan tetap memberi saat terasa kekurangan. Karena mereka paham, nilai bukan pada jumlahnya tetapi pada keikhlasan dan konsistensi. Rasulullah ﷺ bersabda: “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus meskipun sedikit.” Ini menjadi tamparan halus bagi kita yang semangat di awal, tapi cepat redup setelahnya.  
2. Mampu Menahan Amarah Ramadhan melatih kita menahan lapar dan haus. Tapi sejatinya, yang lebih sulit adalah menahan emosi. Orang bertakwa bukan yang tidak pernah marah, tetapi yang mampu mengendalikan marahnya. Di dunia yang penuh provokasi—media sosial, perdebatan, ego—kemampuan menahan amarah adalah tanda kekuatan sejati.  
3. Segera Memohon Ampunan kepada Allah Ciri lainnya adalah tidak menunda taubat. Saat terjatuh dalam kesalahan, mereka tidak berlama-lama tenggelam dalam dosa. Mereka segera kembali, mengetuk pintu ampunan Allah. Bukan karena mereka sempurna, tapi karena mereka sadar: yang membedakan orang baik dan buruk adalah seberapa cepat ia kembali. 

Apakah Ramadhan Mengubah Kita?  
Pertanyaan penting setelah Ramadhan bukanlah: “Seberapa banyak ibadah yang sudah kita lakukan?” Tetapi: “Apakah kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa setelahnya?” Jika setelah Ramadhan: Kita masih ringan bersedekah Kita lebih sabar dalam menghadapi emosi Kita lebih cepat kembali kepada Allah saat salah Maka itu tanda Ramadhan kita berhasil. Namun jika semua itu hilang begitu saja, mungkin kita hanya mendapatkan lapar dan haus. 
Doa yang Tak Pernah Berhenti Mari kita belajar dari para sahabat. Mereka tidak pernah merasa cukup dengan amalnya. Mereka terus berdoa: “Ya Allah, terimalah amal ibadah kami.” Karena pada akhirnya, yang paling penting bukanlah seberapa banyak yang kita lakukan tetapi apakah Allah menerimanya. Ramadhan boleh saja telah pergi. Namun jalan menuju Allah masih panjang. Dan orang-orang bertakwa… tidak pernah benar-benar berhenti berlari.
Share:

Menyucikan Diri: Catatan Kajian Wudhu bersama Ustadz Akmal

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki hari keempat Ramadhan 1447 H, suasana fajar di Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai terasa semakin sejuk. Sabtu, 21 Februari 2026, jamaah kembali berkumpul untuk menyimak kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Akmal. Tema yang diangkat kali ini sangat mendasar namun krusial bagi keabsahan ibadah kita: Fiqih Wudhu. 

Ustadz Akmal membuka kajian dengan mengingatkan bahwa wudhu bukan sekadar rutinitas membasuh air ke kulit, melainkan syarat sahnya shalat dan sarana penggugur dosa. 

1. Rukun Wudhu: Tiang Keabsahan 
Ustadz Akmal menekankan bahwa rukun wudhu adalah hal yang wajib ada. Jika salah satu ditinggalkan, maka wudhu tersebut tidak sah. Berdasarkan pandangan mayoritas ulama, terdapat 6 rukun wudhu: 
  • Niat: Dilakukan di dalam hati saat air pertama kali menyentuh bagian wajah. 
  • Basuh Wajah: Batasannya adalah dari tumbuhnya rambut kepala hingga dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri. 
  • Basuh Kedua Tangan: Wajib menyertakan kedua siku. 
  • Mengusap Sebagian Kepala: Meski hanya beberapa helai rambut. 
  • Basuh Kedua Kaki: Hingga kedua mata kaki. 
  • Tertib: Dilakukan secara berurutan, tidak boleh melompat-lompat. 
2. Sunah-Sunah Wudhu: 
Penyempurna Pahala Agar wudhu kita memberikan keberkahan yang lebih, Ustadz Akmal mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali sunah-sunah Rasulullah SAW dalam berwudhu, di antaranya: 
  • Membaca Basmalah di awal wudhu. 
  • Bersiwak atau menggosok gigi (sangat dianjurkan sebelum wudhu). 
  • Mencuci kedua telapak tangan hingga pergelangan sebelum memulai rukun. 
  • Berkumur-kumur dan Istinsyaq (menghirup air ke hidung). 
  • Mendahului anggota tubuh bagian kanan (tayamun). 
  • Membasuh masing-masing anggota wudhu sebanyak tiga kali. 
  • Mengusap kedua telinga (luar dan dalam). 
  • Membaca doa setelah selesai wudhu. 

3. Pesan Khusus: 
Wudhu di Bulan Ramadhan Ustadz Akmal memberikan catatan penting bagi orang yang sedang berpuasa. Dalam hal Istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan berkumur-kumur, Rasulullah SAW menganjurkan untuk bersungguh-sungguh kecuali bagi orang yang sedang berpuasa.  "Saat Ramadhan, lakukanlah secara wajar, jangan terlalu kuat menghirup air ke hidung agar air tidak masuk ke kerongkongan yang dapat membatalkan puasa," jelas beliau. 

4. Hikmah Spiritual Wudhu 
Menutup kajiannya, Ustadz Akmal mengingatkan bahwa air wudhu kelak akan menjadi cahaya (ghurran muhajjalin) bagi umat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Wudhu adalah bentuk "distilasi" ruhani yang mempersiapkan hamba untuk menghadap Sang Pencipta dalam keadaan suci lahir dan batin. Semoga dengan memahami kembali rukun dan sunah wudhu ini, kualitas shalat kita di bulan Ramadhan semakin meningkat. Mari kita jadikan setiap tetesan air wudhu sebagai penghapus dosa dan pembawa ketenangan hati.





Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Memuliakan Ramadhan: Bekal Menuju Kampung Akhirat yang Kekal

Gayam Permai Banjarnegara – Suasana syahdu menyelimuti Masjid kita pada pagi ini, Ahad, 15 Februari 2026. Dalam kegiatan Pengajian Subuh yang rutin dilaksanakan, Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai persiapan kita menyambut tamu agung, bulan suci Ramadhan, yang sudah di ambang pintu. 
Berikut adalah ringkasan mutiara hikmah dari tausiyah beliau: 
1. Mengingat Kematian di Ambang Ramadhan
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. Cepat atau lambat, kita semua akan kembali ke Kampung Akhirat. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk memasuki surga-Nya? Ramadhan setiap tahun akan selalu datang, namun tidak ada jaminan apakah umur kita akan sampai pada Ramadhan tahun berikutnya. Inilah saatnya kita berbenah. 
2. Penyesalan yang Tak Berguna (Belajar dari QS. Al-Mu’minun) Ustadz Retno menekankan pentingnya memanfaatkan waktu di dunia yang singkat ini sebagai "ladang" untuk akhirat. Beliau mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 99-100, yang menggambarkan rintihan orang-orang yang lalai saat kematian menjemput: 
 "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan..." 
Namun, keinginan itu hanyalah angan-angan kosong. Sekali kaki melangkah ke alam Barzakh, pintu dunia tertutup rapat. Di akhirat nanti, memori tentang amalan kita di dunia akan diputar kembali (QS. Al-Fajr & QS. An-Naziat). Manusia adalah saksi paling nyata atas apa yang telah ia perbuat sendiri. 
3. Ramadhan sebagai Arena Perlombaan 
Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai arena untuk berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih ridho-Nya. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan: 
Menjaga Lisan: Menghindari ghibah dan perkataan sia-sia. 
Menjaga Perut: Memastikan apa yang masuk adalah harta yang halal, bukan hak anak yatim atau janda miskin yang terzalimi. 
Bertaubat: Memohon ampunan (maghfirah) mumpung pintu taubat dibuka selebar-lebarnya. 
4. Memuliakan Tamu Allah
Ustadz mengibaratkan Ramadhan sebagai Utusan atau Tamu Allah. Logikanya sederhana: Barangsiapa yang menyia-nyiakan tamu Allah, maka ia akan dihinakan di akhirat. Barangsiapa yang memuliakan tamu Allah dengan amal shaleh, maka Allah akan memuliakannya di akhirat dan mengumpulkannya bersama orang-orang shaleh di surga. 
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perbaikan diri sebelum kita benar-benar kembali ke kampung halaman yang abadi. Semoga Allah menyampaikan usia kita ke bulan suci tersebut dalam keadaan sehat dan iman yang kuat. 
Diringkas dari Pengajian Subuh di Gayam Permai, 15 Februari 2026.

Share:

Ternyata Dermawan dan Ulama Bisa Masuk Neraka?

Gayam Permai, Banjarnegara
– Alhamdulillah, pada Ahad pagi ini, 8 Februari 2026, warga Perumahan Gayam Permai kembali berkumpul dalam majelis ilmu rutin yang penuh keberkahan. Hadir sebagai narasumber, Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, pengasuh Ponpes Noto Ati Banjarnegara, yang memberikan mutiara ilmu sebagai bekal kita menyambut bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba. 
Berikut adalah poin-poin penting (resume) dari kajian tersebut untuk kita renungkan bersama: 

1. Waspada Hadits Palsu Seputar Ramadhan 
Ustadz Ulil Albab menekankan pentingnya bagi kita untuk memverifikasi sumber ilmu. Menjelang Ramadhan, seringkali beredar hadits-hadits palsu (maudhu') yang terdengar indah namun tidak memiliki sanad yang jelas. Kita diingatkan untuk tetap berpegang pada hadits shahih agar ibadah kita memiliki landasan yang kuat. 
Salah satu hadits shahih yang menjadi landasan utama kita adalah: 
"Man shoma romadhona imanan wahtisaban, ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih.
(Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu). 

2. Ikhlas: Ruh dari Setiap Amal 
Poin paling menggetarkan dalam kajian tadi adalah peringatan tentang tiga golongan yang justru diseret ke neraka: Orang yang dermawan Ahli ilmu/Ulama Syuhada (orang yang mati syahid) Mengapa mereka masuk neraka? Karena amal mereka kehilangan "Ruh"-nya, yaitu Ikhlas. Mereka beramal hanya untuk dipuji (riya'), bukan karena Allah. Tanpa keikhlasan, amal sebesar gunung pun akan sia-sia di hadapan-Nya. 

3. Tipu Daya Syaitan dan Benteng Mukhlasin 
Ustadz mengingatkan kembali sumpah Iblis/Syaitan yang akan menyesatkan seluruh manusia. Namun, Syaitan mengakui ada satu golongan yang tidak bisa mereka sentuh, yaitu Al-Mukhlasin (orang-orang yang dipilih Allah karena keikhlasannya). Ikhlas bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan kondisi hati yang murni hanya mengharap ridha Allah SWT. 

4. Rumus Menjaga Niat 
Untuk mencapai derajat ikhlas, kita diberikan pesan praktis: 
 Perbaiki niat sebelum beramal: Pastikan "Mengapa" kita melakukannya hanya karena Allah. 
 Jaga niat saat beramal: Jangan biarkan pujian manusia memalingkan tujuan hati kita di tengah jalan. 

Semoga kajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menata hati (Noto Ati). Apalah arti puasa dan ibadah kita jika hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa makna dan keikhlasan. Terima kasih kepada Ustadz Ulil Albab Al Hafidz atas ilmu yang disampaikan. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan warga Gayam Permai dalam menuntut ilmu. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Share:

Mulai Ahad dengan Cahaya

Perumahan Gayam Permai
. Ahad pagi di Perumahan Gayam Permai insyaAllah akan terasa berbeda. Bukan sekadar waktu untuk beristirahat atau bersantai di rumah, tetapi menjadi kesempatan untuk menenangkan hati, menambah ilmu, dan memperkuat kebersamaan di Masjid Al Mu’minun. Pada Ahad, 8 Februari 2026, Takmir Masjid Al Mu’minun kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi, sebuah agenda yang sudah dinanti-nantikan oleh jamaah. 
Kegiatan ini dimulai dengan Sholat Subuh berjama’ah pukul 04.30 WIB. Ada kehangatan tersendiri ketika pagi dimulai dengan sholat bersama, berdiri berdampingan, dan memohon keberkahan kepada Allah SWT. Usai sholat Subuh, suasana masjid akan semakin hidup dengan hadirnya Ustadz Ulil Albab Al Hafidz dari Pondok Pesantren Noto Ati. 
Beliau akan menyampaikan kajian yang insyaAllah ringan, menyentuh, dan relevan dengan kehidupan sehari-hari. Bukan sekadar ceramah, tetapi juga pengingat agar kita lebih dekat dengan Allah dalam setiap langkah hidup kita. 

 Sebagaimana firman Allah dalam Surat Al-Isra’ ayat 78: 
 “Aqimish shalaata liduluukisy syamsi ilaa ghasaqil laili wa qur-aanal fajri, inna qur-aanal fajri kaana masyhuudaa.” 
 “Dirikanlah sholat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula) sholat Subuh. Sesungguhnya sholat Subuh itu disaksikan (oleh para malaikat).” 

Ayat ini mengingatkan kita betapa istimewanya sholat Subuh dan betapa besar keutamaannya. Maka, menghadiri sholat Subuh berjama’ah dan dilanjutkan dengan kajian adalah cara indah untuk memulai hari. Dan tentu saja, kebersamaan tidak berhenti di kajian saja. 

Setelah tausiyah, jamaah akan diajak untuk menikmati ramah tamah dan sarapan bersama yang telah dipersiapkan dengan penuh keikhlasan oleh Ibu-Ibu Majelis Taklim Asy Syifa. Suasana santai, hangat, dan penuh kekeluargaan ini menjadi momen silaturahmi yang sangat berharga bagi warga Gayam Permai. 
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga bapak, ibu, remaja, dan anak-anak untuk hadir dan meramaikan Kajian Rutin Ahad Pagi ini. Semoga setiap langkah menuju masjid menjadi pahala, setiap ilmu yang didengar menjadi cahaya, dan setiap kebersamaan menjadi keberkahan bagi kita semua. Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai
Share:

[Kajian Ahad Pagi] Fenomena Kematian Mendadak: Alarm Akhir Zaman dan Bekal Kita

Banjarnegara, 1 Februari 2026 – Mengawali bulan Februari dengan penuh perenungan, jamaah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali berkumpul dalam Kajian Ahad Pagi yang khidmat. Kajian Ahad disampaikan oleh Ustadz Yusman,SHI, Topik yang diangkat kali ini cukup menyentak kesadaran kita semua, yakni mengenai fenomena kematian mendadak sebagai salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat.





 إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُشَلَّ الْفَتَى (وفي رواية: أَنْ يَتَفَشَّى) مَوْتُ الْفَجْأَةِ، وَأَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا 

 "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah munculnya (tersebarnya) kematian mendadak, dan dijadikannya masjid-masjid sebagai jalanan (perlintasan)." (HR. Thabrani). 


Kematian Mendadak dan Masjid yang "Terasing" Dalam kajian tadi pagi, disampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan nubuat mengenai kondisi akhir zaman. Salah satu tandanya adalah ketika masjid hanya dijadikan tempat perlintasan atau "jalan-jalan" tanpa ditegakkan sholat di dalamnya, serta maraknya peristiwa kematian mendadak (mautul faja'ah). 
Secara medis, kita mungkin mengenalnya sebagai henti jantung atau penyebab lainnya. Namun, secara maknawi, ini adalah pengingat bahwa kesempatan bertaubat bisa tertutup kapan saja tanpa aba-aba sakit terlebih dahulu. 

Bagaimana Sikap Kita Sebagai Muslim? 
Menghadapi kenyataan bahwa maut bisa menjemput saat kita sedang bekerja, beristirahat, atau bahkan saat bercengkrama, kajian hari ini merangkum tiga langkah utama yang harus kita pegang teguh: 
  1. Yakini Takdir dengan Sepenuh Hati Kita harus mengimani bahwa ajal adalah rahasia Allah yang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Keyakinan yang kuat pada takdir akan melahirkan ketenangan jiwa. Tidak ada yang bisa mempercepat atau menunda kematian jika waktunya telah tiba. Dengan meyakini ini, kita tidak akan merasa cemas berlebihan, melainkan menjadi lebih waspada dalam beramal. 
  2. Isti’adah (Memohon Perlindungan) Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berlindung dari kematian mendadak yang buruk. Kita dianjurkan rutin memohon perlindungan kepada Allah agar jika maut datang menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik (Husnul Khotimah). Mintalah perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian di setiap doa kita. 
  3. Memperbanyak Istighfar Karena kita tidak tahu kapan "pintu" dunia akan tertutup, maka Istighfar adalah kunci. Istighfar bukan hanya pembersih dosa, tapi juga penarik rahmat Allah. Jadikan lisan kita basah dengan permohonan ampun agar saat maut datang secara tiba-tiba, kalimat terakhir yang atau kondisi batin kita sedang dalam keadaan bertaubat kepada Allah SWT. 

Kajian pagi ini di Masjid Al-Mu’minun bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak warga Gayam Permai agar lebih bijak dalam memanfaatkan waktu. Mari kita makmurkan masjid kita bukan sekadar sebagai bangunan megah, tetapi sebagai rumah tempat kita bersujud dan menimba ilmu. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dan mewafatkan kita semua dalam keadaan iman yang sempurna. Amin. Simak terus update kegiatan rutin dan ringkasan kajian Masjid Al-Mu'minun hanya di laman resmi warga: gayampermai-bna.blogspot.com.










Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget