Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts
Showing posts with label Kajian Ahad Pagi. Show all posts

"Sholat Orang yang Sedang Sakit: Kemudahan Syariat Tanpa Meninggalkan Kewajiban"

Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terselenggara pada Ahad, 12 Juli 2026, di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah mendapatkan pembahasan fikih yang sangat penting, yaitu mengenai tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit. 
Pada awal kajian, beliau mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun. Di antara kelima rukun tersebut, syahadat dan sholat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama akalnya masih ada, meskipun sedang mengalami sakit atau memiliki keterbatasan fisik. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Allah Ta'ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, syariat memberikan berbagai keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang sedang sakit sesuai dengan kondisi yang dialaminya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 
 "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring." 

Hadis ini menjadi dasar bahwa kewajiban sholat tetap berlaku, namun tata caranya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dalam kajian juga dijelaskan bahwa seseorang yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, kemudian tidak dapat menghadirinya karena uzur seperti sakit, maka dengan karunia Allah ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana ketika ia melaksanakannya bersama jamaah. Selain itu, syariat juga memberikan keringanan berupa bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit apabila memang terdapat kesulitan yang nyata dalam melaksanakan setiap sholat pada waktunya. 
Apabila kondisi sakit menyebabkan seseorang tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada orang yang dapat membantu mengarahkannya, maka ia diperbolehkan melaksanakan sholat sesuai arah yang mampu dihadapinya. Hal ini menunjukkan betapa Islam tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.  
Ustadz Yusman, S.H.I. juga menjelaskan beberapa tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit, di antaranya: 
  • Sholat sambil duduk, tetap menghadap kiblat apabila mampu, kemudian memulai sholat dengan takbiratul ihram sambil bersedekap sebagaimana sholat pada umumnya.  
  • Sholat dengan berbaring ke sisi kanan, dengan wajah menghadap kiblat. Ini merupakan posisi yang lebih utama apabila memungkinkan.  
  • Jika tidak mampu, berbaring ke sisi kiri dengan tetap menghadap kiblat.  
  • Apabila kedua posisi tersebut tidak memungkinkan, maka shalat dengan terlentang, dengan posisi kaki mengarah ke barat sehingga wajah tetap menghadap kiblat (sesuai kondisi arah kiblat setempat), lalu melakukan gerakan dengan isyarat semampunya.  
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan sholat. Justru dalam kondisi sakit, seorang hamba semakin membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat Islam telah memberikan kemudahan yang luar biasa sehingga setiap muslim tetap dapat menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  
Semoga ilmu yang disampaikan pada kajian Ahad pagi ini menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk memahami fikih ibadah dengan benar serta semakin menumbuhkan semangat menjaga sholat dalam setiap keadaan. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keistiqamahan, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
Share:

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Kebaikan di Dunia Tak Mengurangi Pahala Akhirat

Alhamdulillah, pada kajian rutin Ahad pagi tanggal 21 Juni 2026 bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, kita kembali diingatkan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Seorang mukmin hendaknya tidak hanya mengejar kenikmatan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam amal yang akan dipanen kelak di akhirat. 

Dunia Adalah Tempat Beramal, Akhirat Tempat Balasan 

Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah bahwa dunia merupakan darul amal (tempat beramal), sedangkan akhirat adalah darul jaza' (tempat menerima balasan). Kesempatan beramal hanya ada selama kita masih hidup di dunia. Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali amal-amal yang terus mengalir pahalanya. Oleh karena itu, setiap waktu yang Allah berikan hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. 
Sering kali seseorang merasa khawatir apabila telah mendapatkan banyak kenikmatan di dunia, maka pahalanya di akhirat akan berkurang. Padahal, selama kenikmatan tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan disyukuri serta dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu tidak mengurangi pahala yang Allah siapkan di akhirat. Justru nikmat dunia menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, sedekah, dan berbagai amal kebajikan. 
Di antara amalan yang memiliki keutamaan besar adalah membaca Al-Qur'an. Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, dan Al-Qur'an akan menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa membacanya, memahami isinya, dan mengamalkannya. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan investasi yang nilainya akan terus dirasakan hingga kehidupan akhirat. 
Kajian juga mengingatkan bahwa tidak semua musibah merupakan bentuk kemurkaan Allah. Terkadang Allah mendatangkan ujian, kesulitan, ataupun bala sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Melalui ujian tersebut Allah menghapus dosa, mengangkat derajat, serta mengembalikan hati seorang hamba agar semakin dekat kepada-Nya. 
Ketenangan Sejati Ada dalam Dzikir Manusia sering mencari kebahagiaan melalui harta, jabatan, maupun kesenangan dunia. Namun ketenangan yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Dzikir bukan hanya bacaan lisan, tetapi juga menghadirkan Allah dalam hati sehingga hidup menjadi lebih tenang, sabar, dan penuh rasa syukur
 Allah Akan Mendekat Kepada Hamba-Nya Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa barang siapa mendekat kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta. Hal ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sekecil apa pun usaha kita dalam memperbaiki diri, Allah akan membalasnya dengan rahmat dan pertolongan yang jauh lebih besar. 
 Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Namun Islam mengajarkan agar setiap dosa segera diiringi dengan taubat dan amal kebajikan. Shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir, membantu sesama, dan berbagai amal saleh lainnya menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa seorang hamba dengan izin Allah. Menjauhi Penyakit Hati Ustadz juga mengingatkan tentang bahaya penyakit hati, terutama sifat sombong. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi. Selain sombong, penyakit hati seperti iri, dengki, riya, ujub, dan hasad harus terus dibersihkan melalui keikhlasan, muhasabah, serta memperbanyak ibadah.  
Wudhu, Shalat, dan Zakat Akan Menjadi Bukti Amal Di akhir kajian disampaikan bahwa amalan-amalan pokok seperti wudhu, shalat, zakat, dan ibadah lainnya merupakan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Menjaga kesempurnaan wudhu, mendirikan shalat tepat waktu dengan khusyuk, menunaikan zakat, serta menjalankan seluruh kewajiban agama merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat
Semoga kajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal saleh, membaca Al-Qur'an, berdzikir kepada Allah, menjaga keikhlasan, menjauhi penyakit hati, serta senantiasa memperbaiki ibadah kita. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita, memberikan husnul khatimah, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa hisab. Aamiin.



Share:

Dunia Tidak Menganggap Arab, Tetapi Dari Sanalah Rasulullah SAW Mengubah Sejarah Dunia

Belajar dari Sejarah, Menguatkan Iman: Antusiasme Jamaah dalam Kajian Ahad Pagi 

Kajian Rutin Ahad Pagi Bersama Ustadz Zein Faqih Ahad, 21 Juni 2026 Alhamdulillah, pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, jamaah kembali mengikuti kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih.  
Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah SAW serta perubahan besar yang beliau bawa bagi peradaban manusia, khususnya di Jazirah Arab. Mengenal Jazirah Arab Sebelum Islam Dalam kajian dijelaskan bahwa istilah Arab erat kaitannya dengan wilayah padang pasir yang luas. Secara geografis, Jazirah Arab berada di antara dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Imperium Romawi di bagian barat laut dan Imperium Persia di bagian timur. Meskipun berada di antara dua imperium besar tersebut, bangsa Arab saat itu tidak dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Namun dari wilayah yang tampak sederhana inilah kemudian lahir sebuah peradaban besar yang mengubah sejarah dunia, yaitu Peradaban Islam. 
Kondisi Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW lahir dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dari suku Quraisy di Makkah. Sebelum beliau diutus sebagai Rasul, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai Jahiliyah, yaitu masa kebodohan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam aspek kehidupan. Masyarakat Arab terdiri dari banyak suku yang sering terlibat perselisihan dan peperangan.  
Fanatisme kesukuan sangat kuat sehingga masalah kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Pembagian Bangsa Arab Dalam kajian disampaikan bahwa bangsa Arab secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok:  
1. Arab Baidah  
Arab Baidah adalah bangsa Arab kuno yang telah punah dan jejak peradabannya sebagian besar telah hilang dari sejarah. Contohnya adalah kaum 'Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur'an.  
2. Arab Aribah  
Arab Aribah merupakan Arab asli yang berasal dari wilayah Yaman. Mereka dikenal sebagai bangsa Arab murni yang mempertahankan bahasa dan budaya Arab sejak masa lampau.  
3. Arab Musta'ribah  
Arab Musta'ribah adalah bangsa Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS yang kemudian berbaur dengan masyarakat Arab asli. Dari kelompok inilah lahir suku Quraisy dan kemudian Nabi Muhammad SAW.  

Datangnya Islam Mengubah Peradaban  

Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Arab. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya yang ada, tetapi menghilangkan keburukan dan menyempurnakan kebaikan yang telah dimiliki masyarakat Arab.  
1. Perubahan Aspek Politik  
Sebelum Islam, masyarakat Arab hidup dalam sistem kesukuan yang terpecah-pecah. Loyalitas hanya diberikan kepada suku masing-masing. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mempersatukan berbagai suku dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Contoh: Suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya bermusuhan bertahun-tahun berhasil dipersatukan oleh Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok melalui Piagam Madinah.  
2. Perubahan Aspek Keyakinan  
Sebelum Islam, mayoritas masyarakat Arab menyembah berhala. Di sekitar Ka'bah terdapat ratusan patung yang dijadikan sesembahan selain Allah. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, yaitu menyembah Allah semata. Contoh: Berhala-berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan ketika Fathu Makkah. Masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala beralih menjadi penyembah Allah SWT.  
3. Perubahan Aspek Ekonomi  
Pada masa jahiliyah, praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi sangat marak. Islam mengajarkan perdagangan yang jujur dan adil. Contoh: Larangan riba yang merugikan masyarakat. Kewajiban zakat sebagai sarana pemerataan ekonomi. Anjuran berdagang secara jujur sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin.  
4. Perubahan Aspek Sosial Kemasyarakatan  
Sebelum Islam, perempuan sering diperlakukan tidak adil bahkan sebagian bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Islam datang membawa penghormatan terhadap martabat manusia. Contoh: Larangan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Perempuan memperoleh hak waris dan hak mendapatkan pendidikan. Budaya saling menolong, menyantuni yatim dan fakir miskin semakin berkembang.  

Islam Menghilangkan Keburukan dan Menyempurnakan Kebaikan  

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya Arab. Rasulullah SAW mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada dan memperbaiki hal-hal yang buruk.  
Kebaikan yang Dipertahankan  
1. Sifat Dermawan  
Bangsa Arab terkenal suka menjamu tamu. Islam mempertahankan dan menjadikannya sebagai ibadah. Contoh: Rasulullah SAW menganjurkan memuliakan tamu sebagai bagian dari keimanan.  
2. Keberanian  
Keberanian bangsa Arab diarahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Contoh: Para sahabat berjuang mempertahankan Islam dengan penuh keberanian.  
3. Menepati Janji  
Budaya menjaga kehormatan dan komitmen tetap dipertahankan dalam Islam. Contoh: Rasulullah SAW selalu menepati janji, bahkan kepada non-Muslim.  

Keburukan yang Dihilangkan  
1. Penyembahan Berhala Diganti dengan tauhid kepada Allah SWT.  
2. Fanatisme Suku Diganti dengan persaudaraan sesama muslim dan persaudaraan kemanusiaan.  
3. Riba dan Kecurangan Diganti dengan transaksi yang jujur dan adil.  
4. Penindasan terhadap Perempuan Diganti dengan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan.  
Pelajaran untuk Kehidupan Saat Ini Kajian Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa perubahan masyarakat tidak terjadi dengan kekerasan, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan akhlak. Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat yang penuh konflik menjadi umat yang memimpin peradaban dunia. Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani cara Rasulullah SAW dalam memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada serta berusaha menghilangkan berbagai keburukan yang masih terjadi di tengah masyarakat.  
Semoga kajian Ahad pagi ini semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mendorong kita untuk meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Wallahu a'lam bish-shawab.


Share:

Al-Qur'an Sebagai SOP Kehidupan: Merawat Bumi Hingga Hakikat Ujian Harta


BANJARNEGARA – Sebuah nikmat yang tiada terkira dapat mengikuti kajian pagi hari setelah melaksanakan Sholat Subuh Berjama'ah.  Agenda rutin Kajian Ahad Pagi di Perumahan Gayam Permai pada Ahad pagi, 14 Juni 2026. 
Pada kesempatan kali ini, majelis ilmu menghadirkan Ustadz Yusman sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas mengenai esensi Al-Qur'an sebagai panduan hidup manusia, tanggung jawab ekologis, hingga bagaimana seorang Muslim menyikapi titipan berupa harta dan keturunan.

3M: Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Ustadz Yusman mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya berinteraksi secara kaffah (menyeluruh) dengan kitab suci. Menurut beliau, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya sampai pada tingkat lisan saja, melainkan harus mencakup tiga tahapan utama:Membaca (mendatangkan pahala di setiap hurufnya).Memahami (mentadabburi arti dan maknanya).Mengamalkan (menerapkannya dalam perilaku sehari-hari)."Al-Qur'an itu ibarat SOP (Standard Operating Procedure) dalam kehidupan kita. Jika sebuah mesin memiliki buku panduan agar tidak rusak, maka manusia memiliki Al-Qur'an sebagai panduan operasional hidupnya. 
Siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama, maka dijamin akan selamat dunia dan akhirat, serta tidak akan pernah tersesat," tegas Ustadz Yusman. 

Menjaga Bumi dan Larangan Berbuat Kerusakan (Tafsir QS. Al-Baqarah)
Sebagai wujud mengamalkan Al Qur'an, satu poin kontekstual yang disoroti dalam kajian ini adalah implementasi takwa dalam menjaga lingkungan sekitar. Merujuk pada ayat-ayat dalam Surah Al-Baqarah, manusia dipilih sebagai khalifah di bumi bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat. Ustadz Yusman menekankan tindakan nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga perumahan, yaitu larangan membuang sampah sembarangan. Menjaga kebersihan lingkungan, mengelola limbah rumah tangga dengan bijak, dan tidak mengotori fasilitas umum adalah bagian langsung dari perintah agama untuk tidak berbuat kerusakan (fasad) di muka bumi.  
Hubungan kita dengan Allah (habluminallah) harus berjalan selaras dengan hubungan kita menjaga alam (habluminal 'alam).Hakikat Harta dan Ujian Jiwa (Tafsir QS. Ali 'Imran: 186) 
Memasuki inti kajian berikutnya, Ustadz Yusman mengajak jamaah membedah konsep kepemilikan materi (mal) dalam Islam. Beliau menyitir Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 186: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu...”

Beliau memaparkan konteks atau asbabul wurud (latar belakang nilai luhur) mengenai bagaimana harta bekerja dalam psikologis manusia. Harta ibarat buah yang manis dan hijau; sangat memikat dan menyenangkan. Namun, Islam memberikan batasan moral yang tegas agar manusia tidak diperbudak oleh dunianya. 
Berikut beberapa poin penting terkait manajemen harta yang disampaikan beliau: 
Kemuliaan Memberi: Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah." Mentalitas seorang Muslim di Perumahan Gayam Permai haruslah mentalitas pemberi dan penolong.Waspada Kelalaian: Keberadaan harta dan anak jangan sampai memalingkan fokus utama kita dari mengingat Allah SWT. Keduanya adalah amanah yang harus menuntun kita mendekat ke surga, bukan malah menjauhkan. 

Harta yang Abadi: 
Ustadz Yusman mengingatkan sebuah hakikat yang sering dilupakan orang: “Harta yang sesungguhnya kembali kepada kita di akhirat kelak bukanlah apa yang kita simpan di rekening atau yang kita nikmati sendiri di dunia, melainkan apa yang kita infakkan di jalan Allah.”

Kajian rutin Ahad Pagi ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, dan kedamaian seluruh warga di lingkungan Perumahan Gayam Permai Banjarnegara. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Yusman dapat menjadi lentera bagi kita semua dalam menyusun 'SOP' harian yang diridhai-Nya.Sampai jumpa pada Kajian Ahad Pagi berikutnya di Masjid Al-Mu'minun!

Link Instagram
Share:

Kajian Rutin Subuh Pagi Ahad Pahing


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ​Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat iman, Islam, serta kesehatan kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. ​
Melalui postingan ini, kami segenap pengurus ta'mir masjid mengundang seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan kaum muslimin pada umumnya untuk dapat hadir dalam kegiatan Kajian Rutin Subuh Berjamaah yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: ​
Hari / Tanggal: Ahad, 14 Juni 2026 (Ahad Pahing)
Waktu: Ba'da Sholat Subuh s.d. Selesai ​
Tempat: Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara ​
Pembicara: Ustadz Zein Faqih ​
Kutipan Ayat Al-Qur'an Penyelaras Jiwa: ​"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al Isro': 78) ​
Mari kita langkahkan kaki bersama menuju rumah Allah SWT, merapatkan shaf shalat subuh, serta menimba ilmu bersama demi meraih keberkahan di pagi hari. Ajak serta keluarga, tetangga, dan kerabat terdekat. ​Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Share:

Adab kepada Allah SWT: Kunci Meraih Ridha dan Keberuntungan Hidup

Adab dan Akhlak

Kajian Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono, LC, 7 Juni 2026.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara menjaga perasaan manusia atau menjaga adab kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa adab kepada Allah harus menjadi prioritas utama. Ketika terjadi pertentangan antara keduanya, maka seorang muslim hendaknya lebih mengutamakan ridha Allah SWT daripada mencari ridha manusia. Manusia memiliki keterbatasan. Ridha manusia tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. 
Namun, apabila Allah SWT telah ridha kepada seorang hamba, maka itulah keberuntungan yang sesungguhnya. Menjaga Adab kepada Allah SWT :

1. Beribadah Secara Totalitas kepada Allah SWT 

 Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman: 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 
 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Setiap hari dalam shalat, kita mengikrarkan:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) 

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan untuk mencari pujian manusia. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke neraka meskipun amal mereka tampak besar di mata manusia: 
1).Orang yang mati syahid namun niatnya agar disebut pemberani dan pahlawan. 
2).Ahli Al-Qur'an yang membaca dan mengajarkan Al-Qur'an agar dipuji manusia. 
3).Orang yang gemar berinfak dan bersedekah agar dikenal sebagai dermawan. 
Mereka melakukan amal besar, tetapi kehilangan keikhlasan sehingga tidak mendapatkan ridha Allah SWT. Karena itu, setiap ibadah harus dilandasi niat ikhlas lillahi ta'ala. Hati harus selalu dijaga sebelum beribadah, saat beribadah, dan setelah beribadah agar tidak tercampuri riya' dan keinginan dipuji manusia. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan bernilai kekal, sedangkan yang dilakukan karena manusia akan sirna bersama pujian manusia itu sendiri. 

2. Senantiasa Berusaha Taat kepada Allah SWT 

Adab kepada Allah tidak cukup hanya dengan ibadah sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan yang berkelanjutan. Beberapa bentuk ketaatan yang perlu dijaga antara lain: Menjaga shalat fardhu, terutama bagi laki-laki dengan berjamaah di masjid. Berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan ibadah sunnah. Menjaga pandangan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Allah SWT mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi pada Hari Kiamat atas apa yang pernah dilakukan manusia selama hidup di dunia. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berusaha meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT meskipun sedikit demi sedikit. 

3. Ridha atas Takdir Allah SWT dengan Ikhlas 

Bagian penting dari adab kepada Allah adalah menerima segala ketentuan-Nya dengan penuh keridhaan. Ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Keduanya merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan keimanan kepada Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu kita pahami saat ini. Ridha terhadap takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil terbaik setelah melakukan ikhtiar yang maksimal dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Hikmah yang Dapat Diambil Salah satu pelajaran penting dalam kehidupan adalah memahami bahwa: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah selesai dikejar. Namun ridha Allah adalah tujuan yang pasti membawa keberuntungan. 
 Bila seseorang terus mengejar penilaian manusia, ia akan lelah karena setiap orang memiliki keinginan dan harapan yang berbeda. Namun jika tujuan hidupnya adalah mencari ridha Allah SWT, maka hidupnya akan lebih tenang, terarah, dan penuh keberkahan. 
Ketika harus memilih antara adab kepada agama dan kepentingan manusia, maka pilihlah agama. Ketika harus memilih antara ridha Allah dan pujian manusia, maka pilihlah ridha Allah. Sebab keberuntungan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, tetapi ketika Allah SWT menerima amal dan meridhai kehidupan kita. 
Mari senantiasa menjaga adab kepada Allah SWT dengan beribadah secara totalitas, meningkatkan ketaatan, serta ridha terhadap segala takdir-Nya. Jangan sampai amal yang besar kehilangan nilainya karena niat yang salah. Jagalah keikhlasan dalam setiap amal, karena apa pun yang dilakukan karena Allah akan bernilai abadi di sisi-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, taat, dan senantiasa mencari ridha-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.


Share:

Pentingnya Belajar Fiqih dalam Kehidupan Muslim


Islam adalah agama yang sempurna. Setiap ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak cukup hanya dengan niat baik semata, tetapi juga harus sesuai dengan tuntunan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Karena itulah ilmu fiqih menjadi sangat penting dipelajari oleh setiap muslim. Muhammad mengajarkan bahwa ibadah harus dilandasi ilmu, bukan sekadar kebiasaan, tradisi, atau perasaan. Banyak amalan terlihat baik di mata manusia, tetapi jika tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka amalan tersebut dapat tertolak di sisi Allah. 
Ilmu fiqih membantu seorang muslim memahami: Mana yang wajib dan mana yang sunnah Mana yang halal dan mana yang haram Tata cara ibadah yang benar Hukum-hukum syariat dalam kehidupan sehari-hari Adab bermuamalah dengan sesama manusia Tanpa ilmu fiqih, seseorang bisa saja beribadah dengan semangat tinggi namun tidak sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. 
Pengertian Ilmu Fiqih Secara bahasa, fiqih berarti “pemahaman”. Sedangkan secara istilah, fiqih adalah ilmu yang mempelajari hukum-hukum syariat Islam yang berkaitan dengan amalan manusia berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Fiqih membahas berbagai perkara seperti: 
Thaharah (bersuci) 
Shalat 
Puasa 
Zakat 
Haji 
Jual beli 
Pernikahan 
Warisan 
Hingga adab kehidupan sehari-hari 

Dengan mempelajari fiqih, seorang muslim akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ. 
Salah satu prinsip terbesar dalam Islam adalah ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kebiasaan manusia. Allah Ta’ala berfirman: 
 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) 
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim wajib mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam seluruh urusan agama. Rasulullah ﷺ juga bersabda: 
 “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Dalam riwayat lain disebutkan: 
 “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) 
Hadits ini menjadi landasan penting bahwa ibadah tidak boleh dibuat-buat. Setiap amalan harus memiliki dalil yang sahih dari Al-Qur’an atau Sunnah. Syarat Diterimanya Amal Ibadah Para ulama menjelaskan bahwa diterimanya amal memiliki dua syarat utama:  
1. Ikhlas Karena Allah Amalan harus dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan untuk dipuji manusia. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)  
2. Sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ Ibadah harus mengikuti contoh Rasulullah ﷺ. Muhammad bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari) Hal ini menunjukkan bahwa tata cara ibadah tidak boleh dibuat sendiri.  

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan Seorang Muslim dalam Beribadah  
1. Menuntut Ilmu Sebelum Beramal Ilmu harus didahulukan sebelum amal. Banyak kesalahan ibadah terjadi karena kurangnya ilmu. Allah berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan amalan.  
2. Memastikan Ada Dalilnya Seorang muslim hendaknya bertanya: Apakah amalan ini pernah dicontohkan Rasulullah ﷺ? Apakah para sahabat melakukannya? Adakah dalil yang sahih tentang amalan tersebut? Jika tidak ada dalil, maka hendaknya berhati-hati untuk tidak mengamalkannya.  
3. Mengikuti Sunnah Menghidupkan sunnah merupakan tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ. Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31)  
4. Menjauhi Bid’ah dalam Agama Bid’ah adalah perkara baru dalam ibadah yang tidak memiliki dasar syariat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim) Karena itu seorang muslim harus berhati-hati agar ibadahnya tidak tercampur dengan amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.  
Contoh Amal yang Sesuai Sunnah Beberapa contoh amalan yang memiliki dalil kuat:  
Shalat lima waktu  
Shalat sunnah rawatib  
Puasa Ramadhan  
Puasa Senin-Kamis  
Membaca Al-Qur’an  
Dzikir pagi dan petang  
Bersedekah  
Menjaga silaturahmi  
Berbakti kepada orang tua 

Semua amalan tersebut memiliki contoh dan tuntunan dari Rasulullah ﷺ.  

Bahaya Beramal Tanpa Ilmu 
Beramal tanpa ilmu dapat menyebabkan: Ibadah tidak diterima Terjatuh pada kesesatan Menyebarkan amalan yang tidak benar Menganggap baik sesuatu yang tidak disyariatkan Karena itu para ulama sangat menekankan pentingnya belajar agama dari sumber yang benar. Kedudukan Sunnah dalam Islam Sunnah Rasulullah ﷺ adalah penjelas Al-Qur’an. Tidak mungkin seorang muslim memahami Islam dengan benar tanpa mengikuti Sunnah. Allah berfirman:  

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) 

Maka mengikuti Sunnah adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Penutup Ilmu fiqih adalah cahaya yang membimbing seorang muslim agar ibadahnya benar dan diterima Allah. Semangat beribadah harus dibarengi dengan ilmu dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Jangan sampai seseorang rajin beramal namun ternyata amalannya tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ sehingga menjadi tertolak. Seorang muslim hendaknya selalu: Belajar agama dari sumber yang benar Mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Memastikan setiap ibadah memiliki dalil Menjauhi bid’ah dan perkara yang diada-adakan dalam agama Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, dan kemampuan untuk istiqamah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.

Share:

Bagi Sohibul Qurban: Jangan Potong Rambut dan Kuku Dulu!

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Jika merujuk pada penanggalan yang dikeluarkan Muhammadiyah maka Tanggal, 17 Mei 2026 ini sudah memasuki tanggal 1 Dzulhijjah. Pada bulan ini, umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, termasuk ibadah qurban yang menjadi syiar agung penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى. 
Di antara adab penting bagi orang yang hendak berqurban adalah tidak memotong rambut dan kuku ketika telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. 
 Rasulullah ﷺ bersabda: 

 “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih kurbannya.” (HR. Muslim No. 1977) 

Makna Hadits Hadits ini menunjukkan adanya anjuran khusus bagi shahibul qurban (orang yang berqurban) untuk menahan diri dari memotong rambut, kuku, maupun bagian kulit sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. Larangan ini bukan berarti haram menurut sebagian besar ulama, namun termasuk sunnah yang sangat dianjurkan untuk dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah qurban.  
Hikmah di Balik Larangan Ini Para ulama menjelaskan beberapa hikmah dari anjuran tersebut, di antaranya:  
1. Menyempurnakan Penghambaan kepada Allah Orang yang berqurban dianjurkan menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tetap utuh hingga hewan qurbannya disembelih, sebagai simbol kesempurnaan ibadah dan ketundukan kepada Allah.  
2. Menyerupai Sebagian Keadaan Jamaah Haji Sebagian ulama menjelaskan bahwa shahibul qurban memiliki kemiripan dengan jamaah haji yang sedang ihram, yaitu sama-sama berada dalam suasana ibadah besar dan pengagungan syiar Allah.  
3. Menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ Menahan diri dari memotong rambut dan kuku adalah bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ).  
Seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada Nabi dengan menjalankan tuntunan beliau meskipun tampak sederhana.  

Momentum Memperbanyak Amal Saleh Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari yang sangat dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah dibanding amal pada hari-hari tersebut. Karena itu, selain mempersiapkan qurban, seorang muslim hendaknya memperbanyak: Dzikir dan takbir Tilawah Al-Qur’an Sedekah Puasa sunnah, terutama Arafah Taubat dan istighfar Membantu sesama 
Ibadah qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga latihan ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah سبحانه وتعالى. Menjaga rambut dan kuku di awal Dzulhijjah merupakan bagian dari adab dan sunnah yang menunjukkan kesungguhan seorang muslim dalam mengagungkan syiar Allah. Semoga Allah menerima amal qurban kita, melimpahkan keberkahan pada keluarga kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.
Share:

Kajian Rutin Ahad Pagi Dilanjutkan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H

Kajian Rutin Ahad Pagi dan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Alhamdulillah, dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: 
  • Hari/Tanggal: Ahad, 17 Mei 2026 
  • Pasaran: Ahad Wage 
  • Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba’da Subuh) 
  • Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 
  • Pemateri: Ustadz Yusman 
Kajian rutin ini menjadi salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman Islam, memperkuat akidah, serta menambah wawasan keilmuan umat. Materi yang disampaikan mencakup pembahasan seputar tafsir, tauhid, fiqih, adab, dan akhlak. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmunya, maka Allah akan memudahkan baginya langkah menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan dan keberkahan hidup. Dengan menghadiri majelis ilmu, seorang muslim tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan agama, tetapi juga memperoleh ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain kajian rutin, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H yang dilaksanakan setelah kajian selesai, sekitar pukul 05.15 WIB. Kegiatan kordinasi ini bertujuan untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai syariat. Seluruh Sohibul Qurban diundang untuk hadir dalam rapat koordinasi guna membahas berbagai persiapan teknis pelaksanaan qurban tahun 1447 H.  
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antarwarga, sehingga pelaksanaan ibadah qurban nantinya dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.  
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir serta meramaikan majelis ilmu ini. Semoga kegiatan yang dilaksanakan menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah. Atas kehadiran dan partisipasi seluruh jamaah serta Sohibul Qurban, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.  
Tentang Masjid Al Mu’minun Masjid Al Mu’minun merupakan pusat kegiatan keislaman di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah, kajian rutin, pendidikan Al-Qur’an, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan semangat kebersamaan dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Masjid Al Mu’minun terus berupaya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.  
Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget