Showing posts with label Ramadhan 1447H. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan 1447H. Show all posts

Sahur Bersama Ramadhan 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H, suasana di Masjid Al-Mu’minun kian hidup. Menindaklanjuti Menu Ramadhan 1447 H yang telah disusun, warga Perumahan Gayam Permai tampak antusias menghidupkan malam dengan Iktikaf yang dilanjutkan dengan agenda Sahur Bersama. Bukan sekadar menjalankan ibadah, momen ini menjadi perekat silaturahmi yang luar biasa bagi seluruh warga. 

Menjemput Lailatul Qadar dengan Iktikaf 
Sejak malam-malam ganjil dimulai, area dalam masjid mulai dipenuhi jamaah yang ingin berdiam diri (iktikaf). Ada yang khusyuk dengan tilawah Al-Qur'an, ada yang tenggelam dalam doa, dan ada pula yang melaksanakan shalat-shalat sunnah secara mandiri. Suasana hening dan khidmat di dalam masjid memberikan ruang bagi setiap warga untuk bermuhasabah dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. 
Tradisi Sahur Bersama yang Menggugah Selera dan Jiwa  
Sisi menarik dari rangkaian "Menu Ramadhan" di Masjid Al-Mu’minun adalah saat waktu sahur tiba. Panitia dan warga bergotong-royong menyiapkan santapan sahur untuk para jamaah iktikaf. Dalam suasana yang santai namun penuh kekeluargaan, warga berkumpul di area serambi masjid. Terlihat obrolan ringan antar warga, mulai dari bapak-bapak yang berdiskusi tentang ilmu agama hingga ibu-ibu yang dengan telaten menyiapkan menu makanan.  

Kehangatan ini membuktikan bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tapi juga pusat interaksi sosial yang sehat. Menu yang Sederhana, Berkah yang Berlimpah Sebagaimana terekam dalam dokumentasi warga, menu sahur yang disajikan sangatlah beragam. Mulai dari nasi hangat, lauk pauk khas rumahan, hingga kerupuk yang menambah keceriaan suasana sahur.  Kesederhanaan menu ini justru terasa sangat nikmat karena dinikmati bersama-sama dalam bingkai persaudaraan. "Bukan soal mewahnya makanan, tapi rasa kebersamaan dan bisa makan sahur bareng tetangga di masjid itu yang membuat Ramadhan tahun ini terasa sangat berkesan," ujar salah satu jamaah. 
Kegiatan Iktikaf dan Sahur bersama ini merupakan bagian dari upaya Takmir Masjid Al-Mu’minun untuk memaksimalkan ibadah di penghujung Ramadhan. Bagi warga yang belum sempat bergabung, pintu masjid selalu terbuka lebar untuk kita bersama-sama mengejar kemuliaan malam Lailatul Qadar. Mari kita jaga terus semangat ini hingga hari kemenangan tiba. Semoga segala amal ibadah kita di "Menu Ramadhan" tahun ini diterima oleh Allah SWT.

Share:

Laporan Kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H

LAPORAN KEGIATAN AMALIYAH RAMADHAN 1447 H 
TA'MIR MASJID AL-MU'MINUN 
PERUMAHAN GAYAM PERMAI 

DAFTAR ISI 
DAFTAR GAMBAR 
BAB I: PENDAHULUAN 
A. Latar Belakang 
B. Maksud dan Tujuan 
C. Sasaran Kegiatan 

BAB II: PELAKSANAAN KEGIATAN 
A. Sholat Berjama'ah 
B. Puasa Bulan Ramadhan 
C. Tadarus Al-Qur'an 
D. Sholat Tarawih Berjama'ah 
E. I'tikaf 
F. Kajian Ba'da Subuh dan Tarawih 
G. Buka Puasa Bersama 
H. Sahur Bersama 
I. Anjangsana ke Panti Asuhan 
J. Pengumpulan dan Penyaluran Zakat Fitrah & Mal 

BAB III: PENUTUP 
A. Kesimpulan 
B. Saran 
LAMPIRAN DAFTAR GAMBAR 
Gambar 1. Poster Publikasi Kegiatan Ramadhan Corner 1447 H 
Gambar 2. Rincian Menu Kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H 



BAB I: PENDAHULUAN 

A. Latar Belakang 
Bulan suci Ramadhan adalah momen yang penuh berkah dan ampunan, di mana setiap amal ibadah dilipatgandakan pahalanya. Dalam rangka menyemarakkan syiar Islam dan memaksimalkan ibadah di bulan Ramadhan 1447 H, Ta'mir Masjid Al-Mu'minun Perumahan Gayam Permai menyelenggarakan serangkaian kegiatan keagamaan yang terangkum dalam "Amaliyah Ramadhan 1447 H". 

B. Maksud dan Tujuan 
Meningkatkan keimanan dan ketaqwaan jamaah Masjid Al-Mu'minun.  
Mempererat tali silaturahmi antar warga Perumahan Gayam Permai.  
Menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan ibadah dan sosial selama bulan Ramadhan.  
Memberikan fasilitas bagi jamaah untuk meraih keutamaan ibadah di bulan suci.  

C. Sasaran Kegiatan  
Seluruh warga muslim di lingkungan Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya.  


BAB II:  PELAKSANAAN KEGIATAN  

Berikut adalah rincian pelaksanaan kegiatan yang telah diselenggarakan selama bulan Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu'minun: 
  1. Sholat Berjama'ah: Pelaksanaan sholat fardhu 5 waktu secara berjamaah menjadi menu utama untuk meningkatkan kekhusyukan dan kebersamaan.  
  2. Puasa Bulan Ramadhan: Memfasilitasi dan mendukung kelancaran ibadah puasa seluruh jamaah.  
  3. Tadarus Al-Qur'an: Kegiatan membaca Al-Qur'an bersama yang diadakan setiap hari 1 Juz dilaksanakan ba'da Sholat Tarawih. untuk mengejar pahala membaca 10 kebaikan di setiap hurufnya.  
  4. Sholat Tarawih Berjama'ah: Ibadah sunnah sholat tarawih dilaksanakan setiap malam di bulan Ramadhan dengan pahala berlipat ganda.  
  5. I'tikaf: Memberikan kesempatan bagi jamaah untuk beri'tikaf di masjid, terutama pada sepuluh hari terakhir Ramadhan, yang dilanjutkan dengan sahur bersama. (10 Hari Terakhir) 
  6. Kajian Ba'da Subuh dan Tarawih: Mengadakan kajian ilmu agama yang diisi oleh Ustadz dari luar dan Ustadz anak-anak remaja untuk menambah wawasan keislaman.  Dengan MC anak-anak TPQ
  7. Sahur Bersama: Menyediakan sahur bersama untuk jamaah yang melaksanakan i'tikaf. (10 Hari Terakhir) 
  8. Bazar Ramadhan dilaksanakan oleh Ibu-Ibu Majelis Taklim Asy Syifa (tanggal 8 Maret 2026)
  9. Anjangsana ke Panti Asuhan: Kegiatan sosial yang dikoordinasi oleh Ibu-Ibu Asy Syifa sebagai bentuk kepedulian kepada sesama hasil dari bazar.
  10. Pengumpulan dan Penyaluran Zakat Fitrah & Mal: Panitia menerima dan menyalurkan zakat fitrah serta zakat mal dari para jamaah kepada yang berhak menerima.  (dilaksanakan tgl 13 - 15 Maret 2026 dan dibagikan ke yang berhak pada tanggal 16 Maret 2026)


BAB III:  PENUTUP  

A. Kesimpulan  
Alhamdulillah, seluruh rangkaian kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu'minun telah berjalan dengan lancar atas partisipasi aktif dari seluruh jamaah dan kerja keras panitia. Semoga kegiatan ini memberikan manfaat spiritual dan sosial bagi kita semua.  
B. Saran  
Evaluasi dan masukan dari jamaah sangat diharapkan untuk perbaikan penyelenggaraan kegiatan Ramadhan di tahun-tahun mendatang.  

LAMPIRAN 
Dokumentasi Foto Kegiatan 
Laporan Pengumpulan Zakat
Jadwal Imam dan Kultum Poster dan materi publikasi.

Download Laporan Kegiatan


Share:

Gerakan Sedekah Kreatif: Ibu-Ibu Asy-Syifa Gayam Permai Salurkan Hasil Bazar ke 5 Yayasan Sosial

Banjarnegara, 22 Maret 2026 – Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan 1447 H tidak hanya terlihat melalui ibadah di dalam masjid, tetapi juga melalui aksi nyata di halamannya. Salah satu agenda unggulan dalam rangkaian Amaliyah Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun adalah Bazar Amal yang dikoordinir oleh Majelis Taklim Ibu-Ibu Asy-Syifa Perumahan Gayam Permai.  
Kegiatan yang dilaksanakan pada 8 Maret 2026 ini bukan sekadar ajang jual beli, melainkan sebuah jembatan kebaikan yang menghubungkan kepedulian warga dengan mereka yang membutuhkan. Bazar Hasil Sedekah Warga Keunikan dari Bazar ini adalah seluruh barang yang diperjualbelikan merupakan hasil shodaqoh dari Ibu-ibu Majelis Taklim Asy-Syifa dan seluruh warga Perumahan Gayam Permai.  
Warga dengan antusias menyumbangkan berbagai barang layak pakai hingga kebutuhan pokok untuk dijual kembali dengan harga terjangkau, di mana seluruh hasilnya diniatkan untuk donasi. "Antusiasme warga luar biasa. Ini membuktikan bahwa warga Gayam Permai memiliki jiwa kedermawanan yang tinggi untuk saling membantu melalui wadah Majelis Taklim kita," ujar salah satu perwakilan pengurus Asy-Syifa.  

Pentasarufan:  
Menjangkau Panti dan Yayasan Sosial Setelah melalui proses pengumpulan hasil penjualan, Majelis Taklim Asy-Syifa memastikan amanah warga sampai ke tangan yang tepat. Hasil Bazar tersebut telah ditasarufkan (disalurkan) kepada beberapa institusi sosial dan pendidikan di wilayah Banjarnegara, antara lain: 

Griya Qur'an Amanah  

Panti Asuhan (PA) Al-Hidayah Gemuruh  :



PA PKU Aisyiyah Cabang Blambangan  :


PA Al-Munawarroh Banjarnegara : 


Yayasan BAKESOS Kauman Banjarnegara :





Penyaluran ini diharapkan dapat membantu operasional panti asuhan dan yayasan dalam membina anak-anak yatim serta dhuafa, terutama dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Bagian dari "Menu Ramadhan" 1447 H Kegiatan Bazar Amal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kalender kegiatan Amaliyah Ramadhan Masjid Al-Mu’minun. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi masjid di Perumahan Gayam Permai sangat dinamis—tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan dan aksi kemanusiaan. 
Melalui langkah nyata Majelis Taklim Asy-Syifa, kita diajarkan bahwa sedekah tidak harus selalu dalam bentuk uang tunai langsung. Barang-barang yang kita miliki, jika dikelola dengan manajemen yang baik seperti kegiatan Bazar ini, dapat berubah menjadi aliran pahala yang menjangkau banyak panti asuhan di Banjarnegara. Terima kasih kepada Ibu-ibu Majelis Taklim Asy-Syifa dan seluruh donatur warga Gayam Permai. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Share:

Halal Bi Halal 1447 H

Banjarnegara, 21 Maret 2026 – Suasana penuh khidmat dan haru menyelimuti pelataran Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pagi tadi. Acara Halal Bi Halal 1 Syawal 1447 H menjadi puncak dari seluruh rangkaian pengaderan spiritual warga selama sebulan penuh. Bukan sekadar seremonial, acara ini menjadi momen "saling melebur dosa" dan memberikan panggung apresiasi bagi tunas bangsa. 


Acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Yusman, S.HI., selaku Ketua Penyelenggara Kegiatan Amaliyah Ramadhan sekaligus mewakili jajaran Takmir Masjid. Beliau memaparkan keberhasilan berbagai program, mulai dari kajian hingga pengelolaan zakat yang berjalan lancar.


 

Dalam suasana yang menyentuh, Bapak Yusman juga menyampaikan permohonan maaf yang tulus mewakili seluruh panitia dan warga.  
"Jika dalam interaksi kita selama sebulan penuh di masjid ini ada kata yang melukai atau sikap yang kurang berkenan, mari kita bersihkan hati di hari yang fitri ini," tutur beliau. 
Bapak Suyadi selaku Wakil Ketua RT 06 RW 05 Kelurahan Kutabanjarnegara, menerima ikrar maaf dari seluruh warga. Beliau menyambut hangat permohonan maaf tersebut dengan penuh keikhlasan. Dalam sambutannya, Bapak Suyadi menekankan bahwa kerukunan antar tetangga di Gayam Permai adalah aset yang paling berharga. Beliau berharap agar semangat saling menjaga dan memaafkan ini tidak hanya berhenti di hari raya, tetapi menjadi karakter permanen warga Perumahan Gayam Permai, Kutabanjarnegara. 
Kajian Subuh Salah satu momen pada menu kegiatan Ramadhan yang melibatkan anak-anak TPQ, mereka terlibat sebagai MC dalam Kegiatan tersebut. Pada acara Halal bi halal ini diberikan apresiasi khusus kepada anak-anak hebat yang telah bertugas menjadi pembawa acara (MC) dalam kegiatan Kajian Subuh selama bulan Ramadhan. Langkah Takmir Masjid Al-Mu’minun memberikan panggung bagi anak-anak ini dinilai sangat positif sebagai bentuk kaderisasi sejak dini. 
  "Melihat anak-anak kita berani tampil memandu kajian di waktu subuh adalah sebuah kebanggaan. Mereka adalah masa depan Masjid Al-Mu’minun,"  


Pemberian apresiasi ini diharapkan dapat memacu semangat anak-anak lain untuk lebih mencintai masjid dan aktif dalam kegiatan keagamaan di masa mendatang. Refleksi Akhir: Menuju Gayam Permai yang Lebih Harmonis Acara Halal Bi Halal ditutup dengan doa bersama dan bersalam-salaman (mushafahah) yang diikuti oleh seluruh warga dengan penuh keakraban.  
Rangkaian Ramadhan 1447 H telah usai, namun jejak-jejak kebaikannya mulai dari kedisiplinan shalat berjamaah, kedermawanan zakat, hingga keberanian anak-anak kita tampil di depan umum akan terus menjadi energi positif bagi kemajuan lingkungan Perumahan Gayam Permai.  

Kilas Balik "Menu Ramadhan" 1447 H Kesuksesan Halal Bi Halal ini tidak lepas dari rentetan kegiatan amaliyah yang telah dijalankan dengan istiqomah oleh warga, antara lain: 
  • Semarak Malam di Masjid: Pelaksanaan Shalat Tarawih berjamaah dan Tadarus Al-Qur'an yang selalu dipadati jamaah.  
  • Indahnya Berbagi: Buka Puasa Bersama, pembagian Takjil untuk pengguna jalan, hingga santunan kepada Anak Yatim dan Dhuafa sebagai bentuk kepedulian sosial. 

Sprint Akhir Ramadhan: 
Kegiatan I’tikaf bersama dan Sahur Bersama yang memperkuat sisi spiritualitas dan kekeluargaan warga di 10 malam terakhir.  
Kewajiban Zakat: Pengelolaan Zakat Fitrah dan Mal yang dikoordinir secara profesional oleh panitia untuk disalurkan kepada yang berhak. Menatap Masa Depan dengan Semangat Persaudaraan Rangkaian kegiatan Ramadhan 1447 H di Perumahan Gayam Permai telah membuktikan bahwa keterbatasan dan kesibukan duniawi tidak menghalangi warga untuk bersatu dalam kebaikan. Senyum dan sapa hangat yang terjalin saat bersalaman di acara Halal Bi Halal tadi pagi adalah bukti nyata bahwa persaudaraan di lingkungan kita telah naik kelas. Selamat Idul Fitri 1447 H. 

Taqabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon Maaf Lahir dan Batin.



Share:

Hidup sebagai Muslim di Amerika: Toleransi, Makanan Halal, dan Dunia Kampus

Agam Setyono
Menjadi seorang Muslim di Amerika Serikat adalah pengalaman yang unik, penuh tantangan sekaligus peluang. Disampaikan oleh Agam Setyono pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai, 19 Maret 2026. Beliau yang telah mengabdi di Kementerian Keuangan Republik Indonesia sejak 2014 dan memiliki latar belakang di bidang digital forensik serta analisis data. Berkesempatan melanjutkan studi Master of Science in Criminal Justice di Boston University pada tahun 2023 membuka perspektif baru bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kehidupan sebagai Muslim di negeri minoritas.
Amerika Serikat dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang sangat beragam. Berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama hidup berdampingan. Di kota seperti Boston, keberagaman ini terasa nyata mulai dari mahasiswa internasional, komunitas diaspora, hingga masyarakat lokal yang terbuka terhadap perbedaan.

 

Sebagai mahasiswa internasional, Beliau berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara dan keyakinan. Hal ini menciptakan lingkungan yang kaya akan perspektif, sekaligus menuntut kita untuk mampu beradaptasi dan menjelaskan identitas kita sebagai Muslim dengan bijak.
Salah satu nilai utama di Amerika adalah kebebasan beragama. Konstitusi menjamin setiap individu untuk menjalankan keyakinannya, termasuk Islam. Di kampus seperti Boston University, fasilitas ibadah tersedia, dan organisasi mahasiswa Muslim aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan. juga terdapat masjid sebagai salah satu sarana di universitas ini. 

Namun, sebagai minoritas, tetap ada tantangan. Misalnya:
Kurangnya pemahaman sebagian masyarakat tentang Islam Stereotip yang muncul akibat pemberitaan global Keterbatasan waktu dan tempat untuk ibadah di tengah kesibukan akademik Meski demikian, pengalaman Beliau menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat bersikap toleran dan menghargai perbedaan. Dialog terbuka dan sikap ramah menjadi kunci dalam membangun pemahaman yang lebih baik.
Menjaga kehalalan makanan adalah bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Di Boston, akses terhadap makanan halal relatif lebih mudah dibandingkan kota kecil di Amerika. Beberapa pengalaman yang Beliau rasakan: Tersedia restoran halal dari berbagai negara (Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Indonesia) Supermarket tertentu menyediakan produk bersertifikat halal. Banyak mahasiswa Muslim memilih memasak sendiri untuk memastikan kehalalan. Meski demikian, tetap diperlukan kehati-hatian, terutama dalam membaca label makanan dan memastikan sumber bahan yang digunakan.

Studi dan Profesionalisme: Menguatkan Peran sebagai Muslim  
Melanjutkan studi di bidang Cybercrime Investigation & Cybersecurity dan Crime Analysis memberikan pada Beliau kesempatan untuk mengembangkan keahlian di bidang yang sangat relevan dengan pekerjaan Beliau di Kementerian Keuangan. Sebagai seorang Muslim, Beliau meyakini bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah. Nilai-nilai Islam seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sangat selaras dengan dunia investigasi digital dan analisis data yang ditekuni. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi profesional, tetapi juga memperdalam makna menjadi seorang Muslim yang mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan global.

Menjadi Duta Islam di Negeri Orang  
Menjadi Muslim di Amerika bukan sekadar menjalankan ibadah secara personal, tetapi juga menjadi representasi Islam itu sendiri. Setiap sikap, ucapan, dan tindakan kita mencerminkan nilai-nilai agama yang kita anut. Pengalaman Beliau di Boston mengajarkan bahwa: Islam dapat dijalankan di mana saja dengan niat dan komitmen yang kuat Toleransi dan dialog adalah jembatan antar perbedaan Muslim memiliki peran penting dalam membangun pemahaman yang damai di dunia global Sebagai mahasiswa dan profesional, kita tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga membawa misi untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
 Bisa lihat di Tiktok : Tiktok GP

Share:

Jangan Jadi "Hamba Musiman": Pesan Tarawih untuk Menjaga Ritme Ibadah

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam-malam terakhir Ramadhan di Masjid Al-Mu’minun selalu membawa suasana haru sekaligus tanya. Di sela-sela shalat Tarawih, sebuah renungan mendalam mengemuka: "Setelah Ramadhan berlalu, apakah ketaatan kita juga ikut berlalu?" Pertanyaan ini menjadi inti dari tausiyah yang menekankan pentingnya menjadi hamba Allah di sepanjang waktu, bukan hanya hamba Allah di bulan suci saja.  
1. Fenomena "Hamba Ramadhan"  
Ada sebuah istilah dari para ulama salaf yang sangat menyentil kita: “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang hanya mengenal Allah di bulan Ramadhan saja.” Kita melihat masjid penuh, Al-Qur’an dibaca setiap saat, dan tangan begitu ringan bersedekah selama Ramadhan. Namun, seringkali pemandangan ini berubah drastis saat memasuki bulan Syawal. Masjid mulai sepi, mushaf Al-Qur’an kembali berdebu, dan sifat kikir kembali muncul. Inilah yang disebut sebagai "Hamba Ramadhan"—orang yang ibadahnya musiman.  
2. Tuhan Ramadhan adalah Tuhan Bulan-Bulan Lainnya  
Allah yang kita sembah di malam-malam Tarawih adalah Allah yang sama yang tetap mengawasi kita di bulan Syawal, Dzulqa'dah, hingga Ramadhan tahun depan. Kewajiban shalat lima waktu tidak berkurang fasenya. Larangan maksiat tidak menjadi halal setelah lebaran. Jika kita mampu menahan diri dari yang halal (makan dan minum) di siang hari Ramadhan, seharusnya kita lebih mampu lagi menahan diri dari yang haram di bulan-bulan lainnya.  
3. Ramadhan Sebagai "Madrasah", Bukan "Finish"  
Ramadhan seharusnya dianggap sebagai Madrasah (Tempat Belajar) atau pusat pelatihan. Selama 30 hari kita dilatih disiplin waktu melalui sahur dan buka. Kita dilatih kesabaran melalui menahan haus dan lapar. Kita dilatih kepedulian melalui zakat dan sedekah. Hasil dari sebuah pelatihan bukan dilihat saat pelatihan berlangsung, melainkan setelah pelatihan selesai. Kesuksesan Ramadhan seseorang diukur dari seberapa istiqomah ia menjaga shalat subuhnya, tilawahnya, dan akhlaknya di bulan-bulan berikutnya.  
4. Tips Menjaga Istiqomah Pasca-Ramadhan  
Bagaimana agar api ibadah tidak padam? Mulai dari yang Kecil: Jika di Ramadhan kita sanggup 1 juz sehari, maka di luar Ramadhan jagalah minimal 1 halaman sehari. Yang penting konsisten (istiqomah).  
  • Cari Teman Sholih: Tetaplah berjamaah di Masjid Al-Mu’minun. Lingkungan yang baik di Gayam Permai akan menjaga kita agar tidak futur (lemah semangat). 
  • Doa Peneguh Hati: Jangan putus memanjatkan doa: "Ya Muqallibal Qulub, tsabbit qalbi 'ala dinik" (Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). 
Janganlah kita menjadi "Hamba Ramadhan" yang hanya taat saat suasana mendukung. Jadilah "Hamba Rabbani", yaitu hamba Allah yang istiqomah dalam kondisi apa pun dan di bulan apa pun. Ingatlah, Ramadhan akan pergi, namun Allah selalu ada. Mari kita buktikan bahwa didikan Ramadhan tahun ini benar-benar membekas dalam setiap tarikan napas kita di bulan-bulan mendatang.
Share:

Menelisik Keutamaan Umroh dari Sudut Pandang Iman dan Sains

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana subuh yang sejuk di Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada Rabu, 18 Maret 2026 terasa begitu istimewa. Dalam rangkaian Menu Ramadhan salah satunya adalah Kuliah Subuh Ramadhan 1447 H, jamaah mendapatkan siraman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar, S.T., M.T., MBA, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. 
Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? 

Melalui hadits Rasulullah ï·º, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan.
Lihat juga di : Instagram GP
Lihat juga di : Tiktok

Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan Itu Datang Tak Terduga  
Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa  "Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya". Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci  
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ï·º dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam.  

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh:  
  • Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
  • Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
  • Total jarak sekitar 5,5–7 km  
Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat—penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil. Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya.  
Menutup dengan Harapan Kuliah subuh ini ditutup dengan pesan mendalam: jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.
Share:

Menjadi Pemenang di Garis Finis Ramadhan

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki fase akhir Ramadhan 1447 H, suasana di Masjid Al-Mu’minun pada Senin pagi, 16 Maret 2026, terasa sedikit berbeda. Ustadz Lukman, AMd dalam Kajian Subuhnya membedah sebuah realitas menarik tentang berbagai tipe manusia saat Ramadhan akan segera berakhir. Beliau membagi sikap manusia ke dalam beberapa tipe yang menjadi cermin bagi kita semua untuk berefleksi:  
1. Tipe "Pelari Maraton" (The Finisher) 
Ini adalah tipe yang ideal. Ibarat pelari maraton, mereka justru mempercepat langkah saat melihat garis finis. Semakin akhir Ramadhan, mereka justru semakin kencang ibadahnya. Masjid tetap penuh, tilawah semakin dikhatamkan, dan sedekah semakin deras. Mereka sadar bahwa "Jackpot" Lailatul Qadar ada di ujung perjalanan.  
2. Tipe "Kelelahan di Tengah Jalan"  
Tipe ini mengawali Ramadhan dengan semangat yang meledak-ledak di minggu pertama, namun energinya habis di pertengahan. Saat Ramadhan akan berakhir, mereka mulai terlihat "loyo" atau jarang muncul di masjid. Fokus mereka mulai teralihkan oleh persiapan lebaran yang bersifat duniawi sehingga esensi sepuluh hari terakhir terabaikan.   
3. Tipe "Fokus pada Gerbang Keluar"  
Bagi tipe ini, Ramadhan seolah-olah menjadi beban yang ingin segera diselesaikan. Mereka lebih banyak menghitung hari kapan lebaran tiba daripada menghitung berapa banyak amalan yang sudah dilakukan. Fokusnya sudah berpindah dari sajadah ke mudik, baju baru, atau rencana liburan.  
4. Tipe "Pecinta yang Sedih"  
Tipe ini adalah mereka yang merasa sedih dan berat hati saat Ramadhan akan berakhir. Mereka merasa waktu berjalan terlalu cepat dan merasa belum maksimal dalam beribadah. Doa mereka adalah agar bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan karena mereka tahu betapa berharganya setiap detik di bulan ini. 
Ustadz Lukman, AMd Dalam kajiannya, Bapak Lukman mengingatkan bahwa Allah melihat bagaimana seseorang menutup amalannya (Husnul Khatimah). Beliau mengajak seluruh warga Gayam Permai untuk berusaha menjadi tipe pertama sang pelari maraton. "Jangan biarkan kesibukan persiapan Idul Fitri mengalahkan kemuliaan malam-malam terakhir Ramadhan. Mari kita kencangkan ikat pinggang dan maksimalkan sisa waktu yang ada," pungkas beliau.
Share:

Garis Finis Sudah Dekat! Saatnya Sprint Ramadhan

Memasuki Selasa pagi, 17 Maret 2026, suasana Kajian Subuh di Masjid Al-Mu’minun terasa kian membara. Di saat banyak orang mulai merasa lelah, kajian kali ini justru mengajak jamaah untuk melakukan "sprint" atau lari kencang di sisa hari-hari terakhir Ramadhan 1447 H. Berikut adalah intisari dari refleksi pagi yang sangat menggugah yang disampaikan oleh Ustadz Yusman, SHI:  
1. Ramadhan adalah Lomba Maraton,  
Bukan Lari Pendek Ustadz dalam kajiannya memberikan analogi yang sangat menarik. Ramadhan bukanlah lari sprint 100 meter yang selesai dalam sekejap, melainkan sebuah lomba maraton sepanjang 30 hari. Dalam maraton, kunci utamanya adalah konsistensi dan keistiqomahan dalam menjaga ritme napas serta tenaga. Banyak orang yang semangat di awal (minggu pertama), namun mulai bertumbangan di tengah jalan. Namun, seorang pelari sejati tahu bahwa kemenangan ditentukan di kilometer terakhir.  
2. Saatnya Melakukan "Sprint" di Akhir  
Kini, saat kita berada di penghujung Ramadhan, inilah saatnya melakukan sprint. Jika sebelumnya kita sudah istiqomah dengan ritme yang stabil, maka di hari-hari terakhir ini kita harus menambah kecepatan. I’tikaf: Menjemput Lailatul Qadar dengan memperbanyak berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tadabbur Al-Qur'an: Bukan sekadar mengejar target khatam, tapi semakin mendalami maknanya di sisa waktu yang ada. Shalat Malam: Mengencangkan ikat pinggang untuk memperlama sujud dan memperbanyak doa.  


3. Belajar dari 9 Sahabat Nabi: Kaya Raya namun Bertakwa  
Ustadz juga mematahkan mitos bahwa untuk menjadi ahli ibadah seseorang harus meninggalkan dunia. Beliau mencontohkan bahwa dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, 9 di antaranya adalah orang-orang yang kaya raya. Sebut saja Abdurrahman bin Auf atau Utsman bin Affan. Kekayaan mereka tidak menghalangi mereka untuk menjadi "pelari maraton" terbaik di jalan Allah. Justru dengan kekayaan tersebut, mereka melakukan sprint amal jariyah. "Hingga detik ini, ribuan tahun setelah mereka tiada, pahala ibadah dan wakaf mereka masih terus mengalir deras. Inilah wujud nyata dari keberhasilan mengelola dunia untuk akhirat."  
4. Menjaga Ritme Hingga Idul Fitri  
Keistiqomahan yang dibangun selama Ramadhan harus dijaga agar tidak "kempes" setelah garis finis dilewati. Sprint di akhir Ramadhan ini bertujuan agar saat Idul Fitri tiba, kita benar-benar keluar sebagai pemenang yang telah memberikan kemampuan terbaik kita. 
Melalui Kajian Subuh 17 Maret ini, kita diingatkan bahwa jangan sampai kita kalah di garis finis. Mari kita kencangkan sepatu "ibadah" kita, fokuskan pandangan pada rida Allah, dan lakukan sprint terakhir dengan i’tikaf dan kedermawanan seperti para sahabat Nabi.
Share:

Kesalihan Sosial

Gayam Permai, Banjarnegara – Sabtu pagi, 14 Maret 2026, suasana Masjid Al-Mu’minun terasa begitu hangat. Ustadz Susianto, SKM memberikan materi Kajian Subuh yang sangat menyentuh realitas sosial kita sehari-hari, yaitu tentang Adab Bertetangga. Beliau mengingatkan bahwa dalam Islam, tetangga memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan urusan bertetangga menjadi salah satu barometer keimanan seseorang.  
1. Wasiat Malaikat Jibril yang Menakjubkan  
Ustadz Susianto membuka kajiannya dengan mengutip sebuah hadits yang sangat masyhur. Beliau menceritakan betapa seringnya Malaikat Jibril memberikan wasiat kepada Rasulullah ï·º untuk berbuat baik kepada tetangga. "Malaikat Jibril terus-menerus memberikan wasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira tetangga itu akan menjadi ahli waris (mendapatkan warisan)." Pesan ini sangat mendalam. Jika tetangga sampai dianggap seolah-olah akan mendapat warisan, berarti kedudukan tetangga sudah hampir setara dengan keluarga inti. Ini adalah pengingat bagi warga Gayam Permai bahwa orang yang paling pertama menolong kita saat kesusahan bukanlah saudara yang jauh, melainkan tetangga yang tembok rumahnya bersentuhan dengan kita.  
2. Landasan Al-Qur'an:  
Perintah Berbuat Ihsan Ustadz Susianto juga menekankan bahwa perintah berbuat baik kepada tetangga tertulis jelas dalam Al-Qur'an. Beliau merujuk pada Surah An-Nisa (4) ayat 36: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh…” Dalam ayat ini, Allah menyejajarkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik (ihsan) kepada tetangga. Ini menunjukkan bahwa kesalihan seseorang tidak hanya diukur dari sujudnya di masjid, tapi juga dari bagaimana hubungan sosialnya dengan lingkungan sekitar.  
3. Implementasi di Lingkungan Perumahan  
Sebagai praktisi kesehatan (SKM), Ustadz Susianto juga menyentuh sisi sosial-kesehatan. Beliau berpesan agar warga saling peduli terhadap kondisi tetangga. Jika ada tetangga yang sakit, segera jenguk. Jika memasak makanan yang aromanya sampai ke tetangga, maka bagilah sedikit masakan tersebut. Jangan membiarkan tetangga kelaparan sementara kita tidur dalam keadaan kenyang. 
Di akhir kajian, Ustadz Susianto mengajak kita semua untuk membuang jauh-jauh sikap individualis. Ramadhan adalah momen terbaik untuk mencairkan kekakuan antar tetangga. "Mari kita jadikan Gayam Permai bukan hanya sekumpulan rumah yang berjajar, tapi sekumpulan hati yang saling peduli dan saling menjaga karena Allah," tutup beliau.
Share:

Pengumpulan Zakat Fitrah





Menjelang akhir bulan suci Ramadhan, Takmir Masjid Al-Mu’minun melalui Panitia Ramadhan kembali membuka layanan penerimaan dan penyaluran Zakat Fitrah, Fidyah, Shadaqah, dan Zakat Maal. Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi warga Perumahan Gayam Permai dalam menyempurnakan ibadah puasa serta membantu saudara-saudara kita yang berhak menerima (Asnaf). Waktu dan Tempat Pengumpulan Panitia telah menyediakan beberapa titik layanan agar Bapak/Ibu/Sdr/i dapat menyetorkan zakat dengan lebih mudah dan nyaman: Tanggal: 13 s.d. 15 Maret 2026 
Waktu Layanan:  
Ba’da Shalat Tarawih atau Ba’da Shalat Ashar. 
Lokasi Penyetoran: Masjid Al-Mu’minun (Sekretariat Panitia)  
Rumah Bapak Trilas P.  
Rumah Bapak Yusman, S.HI.  
Rumah Bapak Susianto.  
Ketentuan Besar Zakat Fitrah Sesuai dengan Surat Edaran Bersama Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua Baznas, dan MUI Kabupaten Banjarnegara Tahun 1447 H / 2026 M, besaran zakat fitrah per jiwa dikategorikan berdasarkan jenis beras yang dikonsumsi sehari-hari: 

Jadwal Penyaluran Untuk memastikan manfaat zakat dapat segera dirasakan oleh penerima sebelum hari raya, panitia telah menetapkan jadwal penyaluran sebagai berikut: 

 Penyaluran Zakat: Senin, 16 Maret 2026. 

Mengingat jadwal penyaluran tersebut, kami memohon kepada seluruh muzakki (pembayar zakat) agar dapat menyerahkan zakatnya kepada panitia sebelum tanggal 16 Maret 2026. Mari Sempurnakan Puasa dengan Berbagi Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, sekaligus menjadi kegembiraan bagi fakir miskin di hari Idul Fitri.  
Semoga zakat yang Bapak/Ibu salurkan melalui Takmir Masjid Al-Mu’minun diterima oleh Allah SWT dan mendatangkan keberkahan bagi keluarga serta lingkungan kita. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Panitia Zakat Fitrah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara
Share:

"Peta" Syukur

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan ilmu yang praktis bagi kehidupan sehari-hari. Pada Jumat malam, 13 Maret 2026, Bapak Suyadi menyampaikan tausiyah tarawih yang sangat inspiratif mengenai "peta" syukur. 
Beliau menjelaskan bahwa syukur bukanlah sekadar ucapan di bibir, melainkan sebuah energi yang harus diletakkan di empat tempat utama dalam diri kita:  
1. Syukur dalam Pikiran (Mindset) Tempat pertama adalah akal atau pikiran kita. Bersyukur dalam pikiran berarti selalu memiliki prasangka baik (Husnuzan) kepada Allah atas segala ketetapan-Nya. Fokus pada apa yang kita miliki, bukan pada apa yang hilang. Menggunakan pikiran untuk merenungkan betapa banyak nikmat Allah yang tak terhitung, sehingga tidak ada celah bagi pikiran negatif untuk bersarang.  
2. Syukur dalam Hati (Merasa Cukup) Hati adalah pusat dari segala rasa. Bapak Suyadi menekankan bahwa syukur di hati berwujud sifat Qana’ah atau merasa cukup. "Kekayaan yang hakiki bukan tentang seberapa banyak harta di tangan, tapi seberapa cukup hati menerima pemberian-Nya." Jika hati sudah merasa cukup, maka ketenangan akan hadir. Inilah benteng utama agar kita terhindar dari sifat serakah dan iri dengki.  
3. Syukur dalam Mulut (Tidak Berkeluh Kesah) Manifestasi syukur yang paling mudah dikenali adalah melalui lisan. Bapak Suyadi berpesan agar kita menjaga mulut dari kebiasaan berkeluh kesah (mengeluh). Basahi lidah dengan kalimat Alhamdulillah. Hindari membanding-bandingkan nasib dengan orang lain yang hanya akan memicu keluhan. Berkata yang baik atau diam adalah bentuk rasa syukur atas nikmat lisan yang diberikan Allah.  
4. Syukur dalam Perbuatan (Tangan dan Kaki yang Beramal) Puncak dari rasa syukur adalah pembuktian melalui tindakan. Syukur harus turun ke tangan dan kaki untuk terus bergerak dalam amal sholeh. Tangan: Digunakan untuk membantu sesama, bersedekah, dan bekerja mencari nafkah yang halal. Kaki: Digunakan untuk melangkah ke tempat-tempat yang diridai Allah, seperti masjid, majelis ilmu, dan silaturahmi. Syukur dalam perbuatan berarti menggunakan seluruh anggota tubuh untuk menaati Sang Pemberi Nikmat. 

Melalui pesan Bapak Suyadi, kita diajak untuk mengecek kembali: apakah syukur kita sudah menempati empat tempat tersebut? Jangan sampai syukur hanya berhenti di mulut, namun hati masih merasa kurang dan kaki enggan melangkah ke masjid. Semoga di sisa Ramadhan ini, kita mampu menyelaraskan pikiran, hati, lisan, dan perbuatan kita dalam bingkai syukur yang sejati.
Share:

Mengetuk Pintu Langit dengan Adab

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki pertengahan bulan suci Ramadhan 1447 H, tepatnya pada Jumat, 13 Maret 2026, jamaah Masjid Al-Mu’minun mendapatkan pencerahan berharga mengenai "Adab dalam Berdoa". Materi yang disampaikan oleh Bapak Lukman Jarir ini menjadi pengingat penting bahwa dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta, ada tata krama yang harus dijaga agar doa kita lebih mustajab.  
Berikut adalah poin-poin utama adab berdoa yang perlu kita amal
kan:  

1. Memulai dengan Pujian dan Shalawat  
Bapak Lukman menekankan bahwa doa tidak boleh langsung dimulai dengan permintaan. Layaknya kita meminta sesuatu kepada sesama manusia, ada "protokol" yang harus diikuti saat menghadap Allah SWT. Memuji Allah: Awali dengan membaca Tahmid atau menyebut Asmaul Husna. Shalawat Nabi: Bershalawat kepada Rasulullah ï·º di awal dan di akhir doa adalah kunci agar doa kita tidak terhenti di antara langit dan bumi.  

2. Menghadirkan Hati dan Rasa Rendah Diri  
Seringkali kita berdoa hanya di lisan, sementara pikiran melayang ke urusan dunia. Bapak Lukman mengingatkan: "Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan lengah." Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menunjukkan rasa butuh yang amat sangat (iftiqar) kepada Allah, karena kita hanyalah hamba yang lemah tanpa pertolongan-Nya.   

3. Mencari Waktu-Waktu Mustajab  
Dalam kajiannya, beliau juga menyarankan untuk memanfaatkan momen-momen istimewa di bulan Ramadhan untuk memperbanyak doa, di antaranya: Saat Berbuka Puasa: Di mana doa orang yang berpuasa tidak akan tertolak. Waktu Sahur (Sepertiga Malam Terakhir): Saat Allah turun ke langit dunia untuk mengabulkan permintaan hamba-Nya. Di Antara Adzan dan Iqamah: Waktu yang sering terabaikan namun sangat mulia untuk memohon.  

4. Husnuzan (Berprasangka Baik) kepada Allah  
Salah satu adab yang paling penting adalah tidak tergesa-gesa. Jangan sampai kita berhenti berdoa karena merasa doa kita belum dikabulkan. Bapak Lukman berpesan agar kita selalu berprasangka baik bahwa Allah akan memberikan yang terbaik di waktu yang paling tepat. 

Ramadhan adalah bulan doa. Melalui kajian Bapak Lukman Jarir, kita diingatkan bahwa doa adalah ibadah itu sendiri. Dengan menjaga adab, kita bukan hanya berharap keinginan kita terkabul, tapi kita sedang menunjukkan kemuliaan akhlak kita di hadapan Allah SWT. Semoga di sisa hari Ramadhan ini, setiap doa yang kita panjatkan di Masjid Al-Mu’minun menjadi wasilah datangnya rahmat dan hidayah bagi keluarga dan lingkungan kita.
Share:

Antara Iman yang Mapan dan Sifat Wara’

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana fajar di Masjid Al-Mu’minun kembali menjadi saksi ilmu yang mengalir deras. Pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini, Ustadz Ulil Albab Al-Hafidz membedah rahasia di balik seruan puasa dan bagaimana Allah sedang "mengader" kita melalui ibadah ini.  
Berikut adalah intisari dari tausiyah beliau:  
1. Klasifikasi Orang Beriman:  
Dari yang "Setengah" Hingga yang "Mapan" Ustadz Ulil membuka kajian dengan menjelaskan bahwa iman manusia itu bertingkat-tingkat. Ada kelompok orang yang imannya masih "setengah"—terkadang semangat ibadah, namun terkadang masih sering lalai. Ada pula yang sudah berada pada level "mapan" atau kokoh. Beliau menjelaskan perbedaan seruan dalam Al-Qur'an: Ya ayyuhalladzina amanu: Seruan ini bersifat umum, mencakup siapa saja yang memiliki benih iman di hatinya, baik yang masih lemah, sedang, maupun yang sudah kuat. Al-Mu’minun: Istilah ini seringkali merujuk pada kelompok tertentu yang imannya benar-benar sudah mapan dan teruji kekokohannya.  
2. Puasa Sebagai Mesin "Kaderisasi"  
Takwa Menariknya, perintah puasa ditujukan kepada seluruh orang yang beriman tanpa memandang level imannya. Mengapa? Karena Ramadhan adalah sebuah proses pengaderan besar-besaran. "Puasa adalah sarana untuk mengader kita semua. Baik yang imannya sedang goyah, yang sedang-sedang saja, hingga yang sudah kuat, semuanya digiring menuju satu titik tujuan yang sama: menjadi hamba yang bertaqwa (La'allakum tattaqun)," jelas Ustadz Ulil. Ramadhan tidak membeda-bedakan latar belakang, ia memberikan kesempatan bagi yang imannya lemah untuk naik kelas, dan bagi yang kuat untuk semakin kokoh.  
3. Wara’: Mahkota dari Sifat Takwa  
Sebagai seorang Al-Hafidz (penghafal Al-Qur'an), beliau menekankan bahwa buah dari pengaderan Ramadhan adalah munculnya sifat Wara’. Apa itu Wara’? Wara’ adalah sikap hati-hati. Bukan sekadar menjauhi yang haram, tetapi orang yang memiliki sifat Wara’ akan sangat berhati-hati terhadap hal-hal yang syubhat (samar) demi menjaga kesucian hatinya. "Orang bertaqwa adalah orang yang selalu waspada dalam setiap langkahnya. Ia hati-hati dalam berucap, hati-hati dalam mencari rezeki, dan hati-hati dalam berperilaku," pungkas beliau. 
Melalui kajian Ustadz Ulil Albab, kita diajak untuk melihat posisi iman kita masing-masing. Ramadhan adalah momentum untuk "meng-upgrade" diri. Jika hari ini iman kita masih terasa setengah, biarkan puasa ini membentuk kita menjadi pribadi yang lebih mapan, kokoh, dan penuh kehati-hatian (Wara’) dalam menjalani kehidupan.
Share:

I'tikaf

Catatan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Masjid Al-Mu'minun – 
Gayam Permai, Banjarnegara Ramadhan kini telah memasuki fase puncaknya. Di sepuluh hari terakhir ini, ada satu ibadah yang menjadi "khas" dan sangat dicintai oleh Rasulullah SAW, yaitu I'tikaf. Bagi kita yang mendambakan kemuliaan malam Lailatul Qadar, I'tikaf adalah sarana terbaik untuk mengkondisikan hati dan jiwa. Berikut adalah ringkasan materi Kajian Subuh (10 Maret 2026) mengenai hakikat dan dalil pelaksanaan I'tikaf.  

Apa itu I'tikaf? 
Secara syar'i, I'tikaf adalah berdiam diri di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Ustadz Yusman, S.H.I. menjelaskan bahwa esensi I'tikaf adalah "memenjarakan diri dalam ketaatan". Kita melepaskan sejenak hiruk-pikuk dunia, gadget, dan urusan pekerjaan untuk fokus total menghamba kepada Sang Pencipta.  
Landasan Hukum (Dalil) I'tikaf Ibadah I'tikaf memiliki landasan yang sangat kuat, baik dalam Al-Qur'an maupun Hadits: Al-Qur'an Surat Al-Baqarah Ayat 187: Allah SWT menyebutkan syariat ini secara eksplisit: 
 "...tetapi jangan kamu campuri mereka, sedang kamu beriktikaf dalam masjid..." 
Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat utama pelaksanaan I'tikaf. Hadits Riwayat Bukhari & Muslim: Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau menceritakan: 
 "Bahwasanya Nabi SAW biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah SWT.

 Ini menunjukkan bahwa I'tikaf adalah sunnah yang tidak pernah ditinggalkan Nabi hingga akhir hayat beliau. Tips Menjalankan I'tikaf yang Berkualitas Agar I'tikaf kita di Masjid Al-Mu'minun atau masjid lainnya tidak sekadar pindah tidur, perhatikan hal berikut:  
Luruskan Niat: Niatkan semata-mata karena Allah untuk mencari keridaan-Nya.  
Perbanyak Tadabbur: Gunakan waktu untuk membaca Al-Qur'an beserta maknanya.  
Kurangi Interaksi Duniawi: Batasi penggunaan ponsel kecuali untuk hal yang sangat darurat.  
Muhasabah Diri: Gunakan kesunyian malam untuk bertaubat dan merencanakan perbaikan diri setelah Ramadhan. 

I'tikaf adalah cara kita "menjemput" bola. Kita tidak tahu kapan Lailatul Qadar turun, namun dengan berada di rumah Allah dalam keadaan beribadah, peluang kita untuk mendapatkannya tentu jauh lebih besar. Semoga di sisa Ramadhan 1447 H ini, Allah memberikan kita kekuatan untuk menjalankan I'tikaf dengan khusyuk dan mempertemukan kita dengan malam yang lebih baik dari seribu bulan. Amin.
Share:

Pintu Rezeki

Dalam ceramahnya yang bertema "Membuka Pintu-Pintu Rezeki", Bp. Eko Sadino mengajak jamaah untuk merenungkan makna rezeki sesungguhnya dan bagaimana menggapainya dengan cara yang diridhai Allah SWT. Beliau menekankan bahwa rezeki bukan sekadar tumpukan harta benda, tetapi juga mencakup kesehatan, kebahagiaan, ketenangan jiwa, dan kesempatan untuk berbuat kebaikan.
Dalam kehidupan, setiap manusia pasti menginginkan kecukupan dan keberkahan dalam rizkinya. Seringkali kita mengartikan rezeki hanya sebatas materi atau uang, padahal rezeki Allah itu sangat luas; meliputi kesehatan, kedamaian hati, keluarga yang harmonis, hingga kesempatan untuk berbuat baik. Sebagai seorang Muslim, kita memahami bahwa rezeki sudah diatur dan ditetapkan oleh Allah SWT. Namun, Allah juga memerintahkan kita untuk berikhtiar. Ikhtiar tidak hanya berupa kerja keras secara fisik (ikhtiar bumi), tetapi juga perlu dibarengi dengan ikhtiar batin (ikhtiar langit).  
Rasulullah SAW dan Al-Qur'an telah memberikan panduan lengkap tentang bagaimana cara "mengetuk pintu langit" agar rezeki mengalir deras dan penuh berkah. Berikut adalah empat jalan utama yang patut kita amalkan secara rutin: 
 
1. Bangun di Sepertiga Malam:  
Keajaiban Sholat Tahajud Jalan pertama untuk mengundang keridhaan Allah dan luasnya rezeki adalah melalui Sholat Malam atau Tahajud. Saat sebagian besar manusia terlelap, inilah waktu yang paling mustajab untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an Surat Al-Isra' ayat 79: 
 "Dan pada sebagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji." (QS. Al-Isra' : 79) 

Ayat ini menjanjikan "Maqaman Mahmuda" (kedudukan yang terpuji) bagi mereka yang ahli tahajud. Kedudukan ini bukan hanya di akhirat, tetapi juga kemuliaan di dunia. Ketika Allah sudah memuliakan seorang hamba, maka segala urusannya termasuk urusan rezeki akan dimudahkan. Sholat tahajud adalah sarana untuk mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, dan meminta petunjuk, sehingga rezeki yang datang adalah rezeki yang membawa ketenangan dan keberkahan.  

2. Memperbanyak Istighfar di Waktu Sahur  
Waktu sahur (waktu menjelang subuh) adalah waktu yang sangat istimewa. Pada waktu ini, Allah SWT turun ke langit dunia dan berjanji akan mengabulkan doa hambanya. Salah satu amalan terbaik di waktu ini adalah beristighfar, memohon ampunan Allah. Sebagaimana firman Allah: 

 "Dan (juga) mereka yang meminta ampun di waktu sahur." (QS. Ali 'Imran: 17) 

Seringkali, dosa-dosa dan kemaksiatan yang kita lakukan menjadi penghalang datangnya rezeki. Dengan beristighfar, kita sedang membersihkan penghalang tersebut. Istighfar yang tulus bukan sekadar lisan, tapi penyesalan dari hati.  
Keutamaan istighfar juga ditegaskan oleh Rasulullah SAW yang menyebutkan bahwa barangsiapa yang melazimkan istighfar, Allah akan jadikan baginya jalan keluar dari setiap kesempitan, kelaparan dari setiap kesedihan, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.  

3. Rutin Bersedekah:  
Sedekah Tidak Mengurangi Harta Ini adalah rumus langit yang sering kali dianggap tidak logis oleh kacamata manusia, namun sangat nyata bagi mereka yang beriman. Secara kasat mata, bersedekah terlihat seperti mengurangi jumlah harta yang kita miliki. Namun, Allah menjanjikan hal yang sebaliknya: sedekah justru melipatgandakan harta. Rasulullah SAW bersabda:  
"Harta tidak akan berkurang karena sedekah." (HR. Muslim)  
Janji Allah juga sangat jelas dalam Al-Qur'an, di mana setiap satu kebaikan (termasuk sedekah) akan dibalas dengan sepuluh kali lipat bahkan lebih. Sedekah tidak harus menunggu kita kaya. Sedekah bisa dilakukan kapan saja, dalam keadaan sempit maupun lapang, dan dalam bentuk apa saja (tidak melulu uang). Rutin bersedekah, bahkan dalam jumlah kecil namun konsisten, akan menanamkan rasa syukur dan membersihkan harta kita. Keberkahan inilah yang membuat harta terasa cukup dan mendatangkan rezeki-rezeki lain yang tak terduga.
  
4. Menjalin dan Menjaga Silaturahmi  
Jalan keempat yang sangat dianjurkan adalah silaturahmi, yaitu menjalin dan mempererat hubungan baik dengan keluarga, kerabat, teman, dan sesama Muslim. Silaturahmi bukan hanya sekadar berkunjung di hari raya, tetapi menjaga komunikasi, saling membantu, dan mendoakan kebaikan satu sama lain. Rasulullah SAW bersabda: 

 "Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung hubungan silaturahmi." (HR. Bukhari & Muslim) 

Hadits ini adalah jaminan langsung dari Rasulullah. Silaturahmi membuka pintu-pintu kesempatan baru. Melalui hubungan yang baik, kita bisa mendapatkan informasi pekerjaan, peluang bisnis, ilmu baru, hingga dukungan moral yang sangat berharga dalam mencari nafkah. Lebih dari itu, silaturahmi mendatangkan cinta kasih dan keridaan dari Allah, yang merupakan kunci utama dari segala keberkahan. Kesimpulan Membuka pintu-pintu rezeki bukan semata-mata tentang menambah jam kerja atau memeras keringat.  
Rezeki adalah karunia Allah. Keempat amalan di atas Sholat Malam, Istighfar di waktu Sahur, Bersedekah, dan Silaturahmi adalah ikhtiar langit yang akan mendekatkan kita kepada Allah. Ketika hubungan kita dengan Allah terjalin baik, dan hubungan kita dengan sesama manusia juga harmonis, maka Allah akan memudahkan langkah kita dan menurunkan keberkahan dalam setiap rezeki yang kita terima. Mari kita mulai mengamalkannya secara rutin dan konsisten, meskipun dimulai dari hal yang paling ringan. Semoga Allah SWT senantiasa meluaskan dan memberkahi rezeki kita semua. Amin.
Share:

10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana sejuk menyelimuti Masjid Al-Mu’minun pada fajar Senin, 9 Maret 2026. Kajian Subuh Ramadhan 1447 H kali ini terasa segar dengan kehadiran Adik Ilma sebagai pembawa acara (MC) yang memandu jalannya acara sebelum sesi utama bersama Ustadz Dwi Budi Prasojo, SKM. Materi yang disampaikan Ustadz Dwi Budi fokus pada satu kata kunci: Keistiqomahan, terutama saat kita mulai mendekati garis finis bulan suci ini.  

1. 10 Hari Terakhir: Momen Mengambil "Jackpot"  
Pahala Ustadz Dwi Budi membuka tausiyahnya dengan sebuah perumpamaan yang menarik. Beliau menyebut 10 hari terakhir Ramadhan sebagai masa memperebutkan "Jackpot" pahala terbesar. "Jika dalam perlombaan, lari yang paling menentukan adalah saat mendekati garis finis. Begitu pula Ramadhan. Allah menyiapkan hadiah utama, Lailatul Qadar, di sepuluh hari terakhir bagi mereka yang mampu menjaga ritme ibadahnya," ujar beliau.  
2. Melawan Arus "Masjid yang Maju" Beliau menyentil fenomena umum di masyarakat, yaitu fenomena "Masjid yang Maju"—maksudnya saf makmum yang semakin maju ke depan (berkurang) seiring mendekatnya hari raya. Ustadz Dwi Budi mengajak warga Gayam Permai untuk melawan arus tersebut. Di saat orang lain mulai sibuk dengan persiapan duniawi seperti belanja baju baru atau kue lebaran, seorang mukmin sejati justru harus memperkencang ikat pinggang untuk beri'tikaf dan meningkatkan kualitas sujudnya.  



3. Kesehatan Fisik dan Ruhani (Perspektif SKM)  
Sebagai seorang praktisi kesehatan (SKM), Ustadz Dwi Budi juga memberikan perspektif bahwa istiqomah di akhir Ramadhan memerlukan manajemen kesehatan yang baik.
Beliau berpesan agar jamaah menjaga pola makan saat berbuka dan sahur agar fisik tetap bugar untuk melaksanakan qiyamul lail. "Kesehatan adalah modal utama kita untuk memburu Jackpot pahala tersebut. Tubuh yang sehat memudahkan ruhani untuk tetap khusyuk," tambahnya.  

4. Menjaga Konsistensi (Istiqomah)  
Istiqomah adalah ujian sesungguhnya. Menurut beliau, orang yang berhasil di bulan Ramadhan bukanlah orang yang hanya bersemangat di pekan pertama, melainkan mereka yang mampu mempertahankan—bahkan meningkatkan—intensitas amalannya hingga fajar syawal menjelang. 
Pesan utama dari Ustadz Dwi Budi Prasojo sangat jelas: Jangan biarkan Ramadhan berlalu begitu saja tanpa kita sempat mengambil "Jackpot" yang telah Allah sediakan. Mari kita kencangkan barisan, penuhi masjid, dan jaga hati agar tetap istiqomah di hari-hari puncak ini.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget