![]() |
| Mensyukuri Nikmat Alloh SWT |
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama
Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia.
"Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda.
Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan.
Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT.
Adab Kepada Allah:
Mengakui Sumber Nikmat
Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita.
Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak.
Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
|
|






.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
No comments:
Post a Comment