Showing posts sorted by relevance for query Hadits. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Hadits. Sort by date Show all posts

Mengenal Sang "Penjaga Gerbang" Sabda Rasulullah ﷺ

Kultum Tarawih, 25 Feb 2026 bersama Bp. Sarastiana
Pernahkah kita sejenak membayangkan, bagaimana jadinya Islam hari ini jika Allah tidak mengirimkan sosok seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim? Mungkin hari ini agama kita akan dipenuhi dengan dongeng-dongeng palsu. Mungkin kita tidak akan tahu bagaimana tata cara shalat yang benar, karena petunjuknya telah bercampur aduk dengan tradisi yang mengada-ada atau hadits-hadits palsu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dua sosok luar biasa ini mendedikasikan seluruh hidup, harta, dan masa muda mereka bukan untuk mengejar jabatan dunia. Mereka memilih jalan yang sunyi namun mulia: menjadi "Penjaga Gerbang" sabda Rasulullah ﷺ. 
Pengorbanan yang Melampaui Batas 
Tahukah kita? Mereka berdua bukanlah orang Arab. Imam Bukhari berasal dari Uzbekistan dan Imam Muslim dari Persia (Iran). Namun, kecintaan mereka pada Nabi ﷺ melampaui siapapun. Dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala, dikisahkan betapa mereka rela berjalan ribuan kilometer, menembus badai gurun yang panas dan dinginnya malam yang menusuk tulang, hanya untuk memungut satu kalimat: "Rasulullah bersabda..." Mereka tidak asal catat. 
Mereka teliti siapa yang bicara, bagaimana hafalannya, hingga bagaimana kejujurannya. Jika ada satu perawi yang pernah berbohong meski hanya sekali dalam urusan dunia, mereka tidak akan mengambil hadits darinya. Begitulah cara mereka menjaga kemurnian agama ini. 



Adab dan Kecintaan antar Ulama
 Ada sebuah kisah menyentuh dalam Muqaddimah Shahih Muslim. Imam Muslim sangat mengagumi gurunya, Imam Bukhari. Suatu ketika, Imam Muslim mendatangi Imam Bukhari, mencium keningnya, dan berkata: "Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru dan pemuka para ahli hadits." Inilah potret para pahlawan kita. Mereka tidak saling menjatuhkan, tapi saling memuliakan demi satu tujuan: 
Menjaga warisan Nabi. Apa Pelajaran bagi Kita? Hadirin sekalian, sebagai warga Gayam Permai yang hidup di zaman serba mudah ini, apa yang bisa kita teladani? 
Hormati Ilmu dan Ulama: Jika mereka rela jalan ribuan kilo untuk satu hadits, maka janganlah kita malas untuk melangkah ke masjid menghadiri kajian. 
Saring Sebelum Sharing: Di zaman medsos ini, banyak hadits palsu bertebaran. Mari kita pastikan setiap amalan kita bersumber dari referensi yang valid, minimal merujuk pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. 
Cintai Rasulullah dengan Benar: Mencintai Nabi berarti mencintai dan menjaga pesan-pesan yang beliau tinggalkan. 
Maka, sudah sepantasnya hati ini menaruh hormat setinggi-tingginya kepada para penjaga hadits. Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan semoga kelak kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Al-Kautsar bersama Rasulullah ﷺ. 
Aamiin. 

PROFIL PENJAGA GERBANG SUNNAH: IMAM BUKHARI 

"Aku tidak memasukkan satu hadits pun ke dalam kitab Al-Jami' (Shahih Bukhari) kecuali aku mandi dan salat dua rakaat terlebih dahulu." 

Nama Lengkap: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. 
Gelar: Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam urusan hadits). 
Lahir: 13 Syawal 194 H di Bukhara, Uzbekistan. 
Keistimewaan Sejak Kecil: Yatim sejak kecil namun dididik oleh ibu yang sangat shalihah. 
Pernah mengalami kebutaan saat kecil, namun sembuh setelah ibunya terus-menerus berdoa kepada Allah. 
Hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih beserta silsilah perawinya. 
Karya Monumental: Al-Jami' as-Shahih (Shahih Bukhari). 
Disusun selama 16 tahun.  
Menyaring dari 600.000 hadits yang beliau kumpulkan, hingga terpilih sekitar 7.000-an hadits (dengan pengulangan) yang benar-benar murni dan sangat shahih.  
Ujian Hidup: Di akhir hayatnya, beliau mengalami fitnah dan pengusiran dari tanah kelahirannya, namun beliau tetap sabar dan tidak pernah mencaci orang yang mendzaliminya.  
Wafat: Malam Idul Fitri tahun 256 H (Usia 62 tahun) di sebuah desa dekat Samarkand. 

Fakta Menarik untuk Jamaah: 
Imam Bukhari memiliki daya ingat yang fotogenik. Pernah di Baghdad beliau diuji oleh 10 ulama yang membacakan 100 hadits yang sengaja ditukar-tukar silsilahnya (sanad-nya). Imam Bukhari mampu mengembalikan setiap sanad ke matan (isi hadits) yang benar tanpa satu pun kesalahan. Inilah cara Allah menjaga agama ini melalui otak manusia yang luar biasa.


Refleksi
Sang Penjaga Gerbang Sabda Kisah Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah perjalanan dedikasi total manusia terhadap kebenaran. Perjuangan Fisik: Mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer (Uzbekistan & Persia menuju Jazirah Arab) di zaman tanpa kendaraan modern demi memastikan keaslian satu kalimat dari Rasulullah ﷺ. 
Integritas Ilmiah: Mengorbankan harta, waktu muda, dan tenaga untuk menyaring ratusan ribu hadits agar umat Islam tidak tersesat oleh riwayat palsu. 
Adab yang Tinggi: Meskipun keduanya ulama besar, mereka menunjukkan adab luar biasa—Imam Muslim sangat menghormati Imam Bukhari sebagai gurunya, mengajarkan kita bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa rasa hormat. 

Refleksi untuk Kita Hari Ini 
1. Menghargai "Kepastian" dalam Beragama Hari ini kita bisa shalat, zakat, dan puasa dengan tata cara yang jelas karena jasa mereka. 
Refleksinya: Masih pantaskah kita malas mempelajari agama, sementara mereka sudah "berdarah-darah" menyediakan referensi yang valid untuk kita? 
2. Integritas di Era Informasi (Saring Sebelum Sharing) Imam Bukhari sangat teliti; jika seorang perawi pernah berbohong sekali saja, riwayatnya ditolak. 
Refleksinya: Di zaman hoax dan media sosial, kita harus meneladani ketelitian mereka. Jangan menyebarkan informasi (terutama urusan agama) yang belum jelas sumber shahihnya.  
3. Ilmu yang Melampaui Batas Geografis Mereka bukan orang Arab, tapi mereka adalah pilar utama agama Islam. 
Refleksinya: Islam adalah milik siapa saja yang mencintainya. Tidak peduli kita orang mana atau tinggal di perumahan mana (seperti di Gayam Permai), kita semua punya kesempatan untuk berkontribusi bagi Islam sesuai bidang kita masing-masing.  
4. Pentingnya Dukungan Keluarga (Ibu Imam Bukhari) Keberhasilan Imam Bukhari tak lepas dari doa ibunya yang pantang menyerah saat beliau buta. 
Refleksinya: Peran orang tua (khususnya Ibu) dalam mendoakan dan mendukung pendidikan anak adalah investasi terbaik untuk melahirkan generasi "penjaga gerbang" Islam masa depan.
Share:

Pembacaan Hadits Rutin Ba'da Sholat Maghrib

 


Perumahan Gayam Permai- Di sela keheningan senja Perumahan Gayam Permai, terdengar suara takzim yang membacakan riwayat-riwayat suci peninggalan Rasulullah SAW. Setiap harinya, Masjid Al-Mu’minun tidak hanya menjadi tempat sujud, tetapi juga bertransformasi menjadi taman ilmu melalui kegiatan rutin Pembacaan Hadits Shahih Bukhari sesaat setelah sholat Maghrib berjamaah. 
Tradisi Keilmuan di Tengah Pemukiman Kegiatan ini merupakan salah satu pilar dari berbagai agenda rutin yang dikelola oleh Takmir Masjid Al-Mu’minun. Jika biasanya waktu antara Maghrib dan Isya berlalu begitu saja, warga Gayam Permai memilih untuk mengisinya dengan duduk bersimpuh menyimak warisan intelektual Islam yang paling otentik. Yang membuat kegiatan ini terasa khidmat adalah keterlibatan langsung Imam Sholat Maghrib sebagai pembaca hadits. 
Hal ini menghidupkan kembali tradisi muwajahah (tatap muka) antara imam dan makmum, di mana ilmu disampaikan secara langsung, santun, dan menyejukkan. 

Mengapa Shahih Bukhari? 
Pemilihan Kitab Al-Jami' al-Musnad al-Shahih karya Imam Bukhari bukanlah tanpa alasan. Sebagai kitab yang menyandang gelar Ash-Shahhu al-Kutub ba’da Kitabillah (kitab paling shahih setelah Al-Qur'an), pembacaan hadits-hadits ini bertujuan untuk: 
Memurnikan Ibadah: Agar warga memahami tata cara ibadah dan muamalah yang sesuai dengan tuntunan Nabi SAW. 
Meneladani Akhlak: Menanamkan karakter mulia Rasulullah dalam kehidupan bertetangga di lingkungan perumahan. 
Mengisi Waktu Berkah: Memanfaatkan waktu baina al-isya’ain (antara dua waktu Isya) yang sangat mustajab untuk berdoa dan menuntut ilmu. 

Bagian dari Ekosistem Kegiatan Masjid 
Merujuk pada catatan kegiatan rutin di laman gayampermai-bna.blogspot.com, pembacaan hadits ini merupakan bagian integral dari upaya memakmurkan masjid. Masjid Al-Mu’minun tidak hanya menjadi pusat ibadah ritual, tetapi juga pusat edukasi bagi warga Gayam Permai, Banjarnegara. Suasana kekeluargaan sangat terasa saat satu per satu hadits dibacakan. Tak jarang, pesan-pesan singkat dalam hadits tersebut menjadi bahan renungan bagi jamaah dalam menghadapi dinamika kehidupan sehari-hari, mulai dari urusan keluarga hingga kebersihan lingkungan. 

Harapan ke Depan 
Takmir Masjid Al-Mu’minun berharap kegiatan ini terus istiqomah dan menjadi daya tarik bagi warga, khususnya generasi muda, untuk lebih mencintai masjid. Dengan memahami hadits, diharapkan setiap warga Gayam Permai dapat menjadi pribadi yang religius namun tetap moderat dan bermanfaat bagi sesama. Bagi Anda yang ingin mengetahui detail kegiatan rutin lainnya atau agenda besar di Masjid Al-Mu’minun, silakan terus pantau perkembangannya melalui blog resmi warga di https://gayampermai-bna.blogspot.com/. 
 Mari bersama-sama kita makmurkan masjid, kita terangi hati dengan cahaya hadits.



Share:

Amalan-Amalan Pilihan: Saat Malaikat Memohon Ampun untukmu

Pengajian rutin 
Kelompok Ibu-Ibu Pengajian Asy Syifa
Ustadz : Susianto,SKM
Jumat, 10 Januari 2025

1. Orang yang tidur dalam keadaan bersuci. Rasulullah SAW bersabda, 
“Barangsiapa yang tidur dalam keadaan suci, maka malaikat akan bersamanya di dalam pakaiannya. Dia tidak akan bangun hingga malaikat berdoa ‘Ya Allah, ampunilah hambamu si fulan karena tidur dalam keadaan suci”. (Imam Ibnu Hibban meriwayatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/37) 
2. Orang yang sedang duduk menunggu waktu shalat.
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah salah seorang diantara kalian yang duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, kecuali para malaikat akan mendoakannya ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah sayangilah ia'” (Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Muslim no. 469) 
3. Orang-orang yang berada di shaf barisan depan di dalam shalat berjamaah. 
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat kepada (orang – orang) yang berada pada shaf – shaf terdepan” (Imam Abu Dawud (dan Ibnu Khuzaimah) dari Barra’ bin ‘Azib ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Sunan Abi Dawud I/130) 
4. Orang-orang yang menyambung shaf pada sholat berjamaah (tidak membiarkan sebuah kekosongan di dalam shaf). 
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat selalu bershalawat kepada orang-orang yang menyambung shaf-shaf” (Para Imam yaitu Ahmad, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hibban dan Al Hakim meriwayatkan dari Aisyah ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib I/272) 
5. Para malaikat mengucapkan ‘Amin’ ketika seorang Imam selesai membaca Al Fatihah. 
Rasulullah SAW bersabda, “Jika seorang Imam membaca ‘ghairil maghdhuubi ‘alaihim waladh dhaalinn’, maka ucapkanlah oleh kalian ‘aamiin’, karena barangsiapa ucapannya itu bertepatan dengan ucapan malaikat, maka ia akan diampuni dosanya yang masa lalu”. (Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 782) 
6. Orang yang duduk di tempat shalatnya setelah melakukan shalat. 
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat akan selalu bershalawat ( berdoa ) kepada salah satu diantara kalian selama ia ada di dalam tempat shalat dimana ia melakukan shalat, selama ia belum batal wudhunya, (para malaikat) berkata, ‘Ya Allah ampunilah dan sayangilah ia'” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, Al Musnad no. 8106, Syaikh Ahmad Syakir menshahihkan hadits ini) 
7. Orang-orang yang melakukan shalat shubuh dan ‘ashar secara berjama’ah. 
Rasulullah SAW bersabda, “Para malaikat berkumpul pada saat shalat shubuh lalu para malaikat ( yang menyertai hamba) pada malam hari (yang sudah bertugas malam hari hingga shubuh) naik (ke langit), dan malaikat pada siang hari tetap tinggal. Kemudian mereka berkumpul lagi pada waktu shalat ‘ashar dan malaikat yang ditugaskan pada siang hari (hingga shalat ‘ashar) naik (ke langit) sedangkan malaikat yang bertugas pada malam hari tetap tinggal, lalu Allah bertanya kepada mereka, ‘Bagaimana kalian meninggalkan hambaku?’, mereka menjawab, ‘Kami datang sedangkan mereka sedang melakukan shalat dan kami tinggalkan mereka sedangkan mereka sedang melakukan shalat, maka ampunilah mereka pada hari kiamat'” (Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Al Musnad no. 9140, hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Ahmad Syakir) 
8. Orang yang mendoakan saudaranya tanpa sepengetahuan orang yang didoakan. 
Rasulullah SAW bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya yang dilakukan tanpa sepengetahuan orang yang didoakannya adalah doa yang akan dikabulkan. Pada kepalanya ada seorang malaikat yang menjadi wakil baginya, setiap kali dia berdoa untuk saudaranya dengan sebuah kebaikan, maka malaikat tersebut berkata ‘aamiin dan engkaupun mendapatkan apa yang ia dapatkan'” (Diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Ummud Darda’ ra., Shahih Muslim no. 2733) 
9. Orang-orang yang berinfak. 
Rasulullah SAW bersabda, “Tidak satu hari pun dimana pagi harinya seorang hamba ada padanya kecuali 2 malaikat turun kepadanya, salah satu diantara keduanya berkata, ‘Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak’. Dan lainnya berkata, ‘Ya Allah, hancurkanlah harta orang yang pelit'” (Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah ra., Shahih Bukhari no. 1442 dan Shahih Muslim no. 1010) 
10. Orang yang sedang makan sahur. 
Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat (berdoa ) kepada orang-orang yang sedang makan sahur” Insya Allah termasuk disaat sahur untuk puasa “sunnah” (Imam Ibnu Hibban dan Imam Ath Thabrani, meriwayaatkan dari Abdullah bin Umar ra., hadits ini dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhiib wat Tarhiib I/519) 
11. Orang yang sedang menjenguk orang sakit. 
Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang mukmin menjenguk saudaranya kecuali Allah akan mengutus 70.000 malaikat untuknya yang akan bershalawat kepadanya di waktu siang kapan saja hingga sore dan di waktu malam kapan saja hingga shubuh” (Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali bin Abi Thalib ra., Al Musnad no. 754, Syaikh Ahmad Syakir berkomentar, “Sanadnya shahih”) 
12. Seseorang yang sedang mengajarkan kebaikan kepada orang lain. 
Rasulullah SAW bersabda, “Keutamaan seorang alim atas seorang ahli ibadah bagaikan keutamaanku atas seorang yang paling rendah diantara kalian. Sesungguhnya penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang di dalam lubangnya dan bahkan ikan, semuanya bershalawat kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (Diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dari Abu Umamah Al Bahily ra., dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Kitab Shahih At Tirmidzi II/343).
13. Orang yang selalu mengajak kebaikan.



Share:

Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa)


Surga itu diliputi perkara-perkara yang dibenci (oleh jiwa) dan neraka itu diliputi perkara-perkara yang disukai syahwat (HR.Muslim).
Hadits ini menjelaskan kepada kita bahwa seseorang itu tidak akan masuk surga sehingga mengamalkan perkara-perkara yang dibenci jiwa, begitupula sebaliknya seseorang itu tidak akan masuk neraka sehingga ia mengamalkan perkara-perkara yang disenangi oleh syahwat. Demikian itu dikarenakan ada tabir yang menghiasi surga dan neraka berupa perkara-perkara yang dibenci ataupun yang disukai jiwa. Barangsiapa yang berhasil membuka tabir maka ia akan sampai kedalamnya. 
Tabir surga itu dibuka dengan amalan-amalan yang dibenci jiwa dan tabir neraka itu dibuka dengan amalan-amalan yang disenangi syahwat. Diantara amalan-amalan yang dibenci jiwa seperti halnya bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah Ta’ala serta menekuninya, bersabar disaat berat menjalankannya, menahan amarah, memaafkan orang lain, berlaku lemah lembut, bershadaqah, berbuat baik kepada orang yang pernah berbuat salah, bersabar untuk tidak memperturutkan hawa nafsu dan yang lainnya. 
Sementara perkara yang menghiasi neraka adalah perkara-perkara yang disukai syahwat yang jelas keharamannya seperti minum khamr, berzina, memandang wanita yang bukan mahramnya (tanpa hajat), menggunjing, bermain musik dan yang lainnya. Adapun syahwat (baca:keinginan) yang mubah maka tidak termasuk dalam hal ini. Namun makruh hukumnya bila berlebih-lebihan karena dikhawatirkan akan menjerumuskan pada perkara-perkara haram, setidaknya hatinya menjadi kering atau melalaikan hati untuk melakukan ketaatan bahkan bisa jadi hatinya menjadi condong kepada gemerlapnya dunia.”(Syarhun Nawawi ‘ala Muslim, Asy-Syamilah). 

“Yang dimaksud dengan al-makarih (perkara-perkara yang dibenci jiwa) adalah perkara-perkara yang dibebankan kepada seorang hamba baik berupa perintah ataupun larangan dimana ia dituntut bersungguh-sungguh mengerjakan perintah dan meninggalkan larangan tersebut. Seperti bersungguh sungguh mengerjakan ibadah serta berusaha menjaganya dan menjauhi perbuatan dan perkataan yang dilarang Allah Ta’ala. 
Penggunaan kata al-makarih disini disebabkan karena kesulitan dan kesukaran yang ditemui seorang hamba dalam menjalankan perintah dan meninggalkan larangan. Adapun yang dimaksud syahwat disini adalah perkara-perkara yang dilakukan untuk menikmati lezatnya dunia sementara syariat melarangnya. Baik karena perbuatan tersebut haram dikerjakan maupun perbuatan yang membuat pelakunya meninggalkan hal yang dianjurkan. Seakan akan Nabi shallallahu’alaihi wasallam mengatakan seseorang tidaklah sampai ke surga kecuali setelah melakukan amalan yang dirasa begitu sulit dan berat. 
Dan sebaliknya seseorang tidak akan sampai ke neraka kecuali setelah menuruti keinginan nafsunya. Surga dan nereka dihijabi oleh dua perkara tersebut, barangsiapa membukanya maka ia sampai kedalamnya. Meskipun dalam hadits tersebut menggunakan kalimat khabar (berita) akan tetapi maksudnya adalah larangan.”(Fathul Baari 18/317, Asy-Syamilah) .

Jika waktu puasa telah tiba sementara jiwamu merasa enggan menunaikannya, ingatkan dirimu degan hadits ini. Sungguh surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa. Begitu juga ketika jiwamu merasa malas untuk berbakti kepada orang tua, enggan berbuat baik kepada keduanya dan merasa berat memenuhi hak-haknya, ingatkan dirimu dengan hadits ini bahwa surga itu diliputi perkara yang dibenci jiwa”. Beliau hafidzahullah juga berkata, “Sebaliknya ketika jiwamu condong kepada perbuatan-perbuatan keji,zina dan perbuatan haram maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diiputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. Ingatkan pula jika sekarang engkau lakukan perbuatan ini maka kelak engkau akan masuk neraka. 
Jika jiwamu tergoda dengan perbuatan riba, maka ingatkan dirimu bahwa Allah dan rasulNya telah mengharamkannnya dan pelakunya kelak akan masuk neraka. Begitu juga ketika jiwamu sedang ketagihan minum minuman keras dan minuman haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat. 
Ketika jiwamu merasa rindu mendengarkan musik, lagu-lagu dan nyanyian-nyanyian yang telah Allah haramkan atau ketika kedua matamu mulai condong melihat sesuatu yang Allah haramkan berupa vcd-vcd porno, gambar-gambar porno dan pemandangan haram lainnya maka ingatkan dirimu bahwa neraka itu diliputi perkara-perkara yang disenangi syahwat.
Jika engkau selalu menerapkan hadits ini dalam sendi-sendi kehidupanmu dan berusaha menghadirkannya setiap saat maka dengan ijin Allah engkau akan bisa menjauhi perbuatan haram dan memudahkanmu menjalankan ketaatan kepadaNya.”(Muhadharah Syaikh Abdurrazzaq hafidzahullah).

Dari berbagai Sumber




Share:

Hak-Hak Seorang Muslim Terhadap Muslim Lainnya

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ – رضي الله عنه – قَالَ رَسُولُ اَللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – – حَقُّ اَلْمُسْلِمِ عَلَى اَلْمُسْلِمِ سِتٌّ: إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ, وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ, وَإِذَا اِسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْهُ, وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اَللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ, وَإِذَا مَاتَ فَاتْبَعْهُ – رَوَاهُ مُسْلِمٌ 

 Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Hak muslim kepada muslim yang lain ada enam.” Beliau shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda, ”(1) Apabila engkau bertemu, ucapkanlah salam kepadanya; (2) apabila engkau diundang, penuhilah undangannya; (3) apabila engkau dimintai nasihat, berilah nasihat kepadanya; (4) apabila dia bersin lalu dia memuji Allah (mengucapkan ’alhamdulillah’), doakanlah dia (dengan mengucapkan ’yarhamukallah’); (5) apabila dia sakit, jenguklah dia; dan (6) apabila dia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (sampai ke pemakaman).” (HR. Muslim) [HR. Muslim, no. 2162].

Kultum Tarawih
14 Ramadhan 14456H (14 Maret 2025)
Sarastiana

Hak muslim” adalah perintah yang dituntut untuk dikerjakan, benar-benar ditekankan dan jangan sampai ditinggalkan. Hak ini mencakup wajib ‘ain, wajib kifayah, dan perkara yang hukumnya sunnah.
Islam adalah agama kasih sayang dan mengajarkan untuk memperhatikan hak terhadap sesama. Muslim yang dimaksudkan dalam hadits yang ditunaikan haknya di sini adalah muslim yang bersyahadat laa ilaha illallah dan tidak melakukan hal-hal yang membatalkan keislamannya. 


1. Mengucapkan salam merupakan tanda cinta dan baiknya seorang muslim. 
Di dalamnya berisi (1) doa keselamatan dari berbagai penyakit, kejelakan, maksiat, serta selamat dari neraka; (2) doa rahmat supaya mendapat kebaikan; (3) doa keberkahan supaya kebaikan itu langgeng dan bertambah. 4- Beberapa pelajaran mengenai ucapan salam: Hendaklah mengucapkan salam kepada yang dikenal dan yang tidak dikenal; Tetap mengucapkan salam kepada siapa pun meskipun ahli maksiat selama itu muslim; 
Tidak boleh mengucapkan salam kepada lawan jenis jika menimbulkan godaan, apalagi sesama yang berusia muda; Memulai mengucapkan salam disunnahkan. Ibnu ‘Abdil Barr dan selainnya menyatakan bahwa para ulama berijma’ (bersekapat), memulai mengucapkan salam dihukumi sunnah. Adapun menjawab salam dihukumi wajib sebagaimana pemahaman dari surah An-Nisa’ ayat 86; 

Ucapan salam yang sederhana adalah “Assalaamu ‘alaikum”, sedangkan yang paling sempurna adalah “Assalaamu ‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh”; Ucapan salam yang sederhana adalah “Wa’alaikumus salaam” (bisa juga dengan ‘alaikumus salaam), sedangkan yang paling sempurna adalah “Wa’alaikumus salaam wa rahmatullah wa barakatuh”; 

Tidak boleh memulai mengucapkan salam kepada non-muslim. Namun jika ia mengucapkan salam, hendaklah membalas salamnya dengan ucapan semisal yang ia ucapkan (tidak lebih dari itu), berarti jika ia mengucapkan “Assalaamu ‘alaikum”, maka dijawab “Wa’alaikumus salaam”. Begitu pula jika ia ucapkan “Assaamu ‘alaikum (celaka kamu)”, maka dijawab “Wa ‘alaikum” atau “Wa’alaikumus saam” (celaka juga kamu); Ucapan salam lebih mulia dari ucapan “selamat pagi” dan semacamnya. 
Ucapan selamat semacam ini bukanlah ucapan yang syar’i dan sama sekali tidak bisa menggantikan ucapan salam; Membalas salam bukanlah dengan ucapan “ahlan” atau “ahlan wa sahlan”, ini bukanlah ucapan yang syar’i dalam menjawab salam. 
Dalam ayat disebutkan (yang artinya), 
Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa’: 86)

Dalam hadits disebutkan bahwa jika bertemu, maka ucapkanlah salam. Apakah saat berpisah juga memberi salam? Ada hadits yang berbunyi, 
Yang afdal adalah yang junior memulai mengucapkan salam kepada yang senior, yang sedikit kepada yang banyak, yang naik kendaraan kepada yang berjalan, yang berjalan kepada yang duduk. Namun jika tidak ada yang memulai dahulu, maka salam tersebut tetap diucapkan, itulah yang lebih baik. 


2. Hendaklah menghadiri undangan,
Hadits yang dikaji ini menunjukkan undangan tersebut umum baik undangan walimatul ‘ursy (undangan pernikahan), maupun undangan lainnya. Sebagian ulama menyatakan menghadiri undangan apa pun wajib karena demi memuliakan dan demi terjalin hubungan yang baik. Ini adalah pendapat dari ‘Abdullah bin ‘Umar, sebagian tabi’in, ulama Zhahiriyah, dan sebagian ulama Syafi’iyah. Sedangkan jumhur (mayoritas) ulama menyatakan hukum menghadiri undangan secara umum adalah sunnah muakkad. Sedangkan Imam Ash-Shan’ani rahimahullah dalam Subul As-Salam menyatakan bahwa yang wajib adalah menghadiri undangan walimah nikah karena ada ancaman dalam hadits jika tidak menghadirinya, sedangkan undangan lainnya dihukumi sunnah. 


3. Wajib memberikan nasihat kepada saudara kita ketika ia meminta nasihat.
 
Berarti jika ia tidak meminta, maka tidaklah wajib. Namun jika kita tidak dimintai nasihat, lantas jika ada mudharat atau dosa, maka wajib tetap menasihati karena ini adalah bentuk menghilangkan kemungkaran pada saudara muslim. Sedangkan jika saudara kita tidak meminta nasihat dan tidak ada mudharat atau dosa kala itu, juga menganggap bahwa selain kita itu lebih manfaat dalam memberi nasihat, maka kita tidak wajib menasihati (hanya disunnahkan) karena termasuk dalam bentuk memberikan petunjuk kebaikan kepada orang lain. 

4.Wajib mengucapkan tasymit (yarhamukallah) ketika ada yang bersin lantas mengucapkan alhamdulillah.
 
Berarti jika yang bersin tidak mengucapkan alhamdulillah, maka tidak ada ucapan tasymit (yarhamukallah). Intinya, jika luput dari mengucapkan alhamdulillah, akan ada dua kerugian: (1) nikmat memuji Allah hilang; (2) nikmat didoakan oleh saudaranya ketika mendengarnya mengucapkan alhamdulillah juga hilang. Tasymit adalah mengucapkan yarhamukallah jika ada yang mengucapkan alhamdulillah sampai tiga kali. Jika sudah yang keempat kalinya, maka ucapkanlah doa agar ia diberikan kesembuhan karena yang bersin itu berarti sedang sakit, lantas mengucapkan “yahdikumullah wa yushlih baalakum” (semoga Allah memberimu hidayah dan memperbaiki keadaanmu). Lalu jika non-muslim mengucapkan alhamdulillah saat bersin, tidak dibalas dengan yarhamukallah, namun langsung mengucapkan yahdikumullah wa yushlih baalakum” sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mempraktikkan hal ini. 


5. Menjenguk orang sakit menurut jumhur ulama adalah sunnah.
 
Namun bisa jadi menjenguk orang sakit itu menjadi wajib jika yang dijenguk adalah kerabat dekat (masih punya hubungan mahram). Misal menjenguk ayah atau ibu yang sakit, hukumnya wajib karena bagian dari berbakti kepada keduanya. Juga menjenguk saudara yang sakit, hukumnya wajib karena bagian dari silaturahim dengan kerabat. Kaidahnya, makin dekat hubungan kerabat dan makin dekat dalam hubungan, maka makin ditekankan untuk menjenguk saat sakit. 
Yang dijenguk di sini adalah orang yang sakit secara umum, baik yang sakit masih dalam keadaan sadar ataukah tidak. Begitu pula dianjurkan meskipun yang datang menjenguk tidak diketahui kehadirannya oleh yang sakit. Karena menjenguk orang sakit punya manfaat: (1) mengurangi duka keluarganya; (2) mendoakan kebaikan kepada yang sakit; (3) menjenguknya sendiri berbuah pahala. 


6. Kita diperintahkan untuk mengantarkan jenazah ke pemakaman
 
hukumnya adalah fardhu kifayah. Ini berlaku bagi jenazah yang dikenal maupun tidak dikenal.



Share:

Ternyata Dermawan dan Ulama Bisa Masuk Neraka?

Gayam Permai, Banjarnegara
– Alhamdulillah, pada Ahad pagi ini, 8 Februari 2026, warga Perumahan Gayam Permai kembali berkumpul dalam majelis ilmu rutin yang penuh keberkahan. Hadir sebagai narasumber, Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, pengasuh Ponpes Noto Ati Banjarnegara, yang memberikan mutiara ilmu sebagai bekal kita menyambut bulan suci Ramadhan yang sebentar lagi akan tiba. 
Berikut adalah poin-poin penting (resume) dari kajian tersebut untuk kita renungkan bersama: 

1. Waspada Hadits Palsu Seputar Ramadhan 
Ustadz Ulil Albab menekankan pentingnya bagi kita untuk memverifikasi sumber ilmu. Menjelang Ramadhan, seringkali beredar hadits-hadits palsu (maudhu') yang terdengar indah namun tidak memiliki sanad yang jelas. Kita diingatkan untuk tetap berpegang pada hadits shahih agar ibadah kita memiliki landasan yang kuat. 
Salah satu hadits shahih yang menjadi landasan utama kita adalah: 
"Man shoma romadhona imanan wahtisaban, ghufiro lahu ma taqoddama min dzanbih.
(Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu). 

2. Ikhlas: Ruh dari Setiap Amal 
Poin paling menggetarkan dalam kajian tadi adalah peringatan tentang tiga golongan yang justru diseret ke neraka: Orang yang dermawan Ahli ilmu/Ulama Syuhada (orang yang mati syahid) Mengapa mereka masuk neraka? Karena amal mereka kehilangan "Ruh"-nya, yaitu Ikhlas. Mereka beramal hanya untuk dipuji (riya'), bukan karena Allah. Tanpa keikhlasan, amal sebesar gunung pun akan sia-sia di hadapan-Nya. 

3. Tipu Daya Syaitan dan Benteng Mukhlasin 
Ustadz mengingatkan kembali sumpah Iblis/Syaitan yang akan menyesatkan seluruh manusia. Namun, Syaitan mengakui ada satu golongan yang tidak bisa mereka sentuh, yaitu Al-Mukhlasin (orang-orang yang dipilih Allah karena keikhlasannya). Ikhlas bukan sekadar ucapan di bibir, melainkan kondisi hati yang murni hanya mengharap ridha Allah SWT. 

4. Rumus Menjaga Niat 
Untuk mencapai derajat ikhlas, kita diberikan pesan praktis: 
 Perbaiki niat sebelum beramal: Pastikan "Mengapa" kita melakukannya hanya karena Allah. 
 Jaga niat saat beramal: Jangan biarkan pujian manusia memalingkan tujuan hati kita di tengah jalan. 

Semoga kajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk senantiasa menata hati (Noto Ati). Apalah arti puasa dan ibadah kita jika hanya sekadar menggugurkan kewajiban tanpa makna dan keikhlasan. Terima kasih kepada Ustadz Ulil Albab Al Hafidz atas ilmu yang disampaikan. Semoga Allah senantiasa menjaga keistiqomahan warga Gayam Permai dalam menuntut ilmu. Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Share:

Pengajian Rutin Ahad Pagi, 30 November 2025



Kegiatan rutin Pengajian Ahad Subuh pada tanggal 30 November 2025 menjadi momen penting bagi jamaah untuk kembali menyegarkan ruhani dan mengokohkan pondasi keimanan. Dalam suasana sejuk pagi hari, Ustadz Ulil Albab menyampaikan tausiah yang padat makna, berfokus pada urgensi cinta kasih sebagai penyempurna iman dan pentingnya memanfaatkan waktu sesuai tuntunan Surat Al-Ashr. 



💖 Hadits Nabi: Fondasi Cinta dalam Kesempurnaan Iman 
Ustadz Ulil Albab memulai kajian dengan mengutip hadits Rasulullah ﷺ yang sangat fundamental mengenai syarat masuk surga dan kesempurnaan iman. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim tersebut berbunyi: 
 "Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman. Dan tidak sempurna iman kalian sehingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan satu amal perbuatan yang jika kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling mencintai? Tebarkanlah salam di antara kamu sekalian." (HR. Muslim) 
Beliau menekankan bahwa cinta sejati adalah tali pengikat keimanan yang paling kokoh. Hadits ini secara gamblang menghubungkan antara keimanan yang menjadi kunci surga, dengan sikap saling mencintai sesama. Lebih jauh, Ustadz Ulil Albab menjelaskan bahwa cakupan kasih sayang dalam Islam tidak hanya berhenti pada sesama muslim (ukhuwah Islamiyah), namun juga menuntun pada sikap baik, adil, dan santun kepada seluruh umat manusia (ukhuwah insaniyah), meskipun pintu surga mutlak hanya dimasuki oleh jiwa-jiwa yang beriman. 
Sikap saling mengasihi dan menasihati dalam kebaikan menjadi cerminan nyata dari keimanan yang sempurna di tengah masyarakat yang majemuk. 

⏳ Intisari Surat Al-Ashr: 
Peringatan dari Sang Pencipta Waktu Setelah mengupas Hadits tentang cinta, kajian dilanjutkan dengan pendalaman Surat Al-Ashr (Surat ke-103), yang menurut Imam Syafi'i sudah cukup menjadi pedoman hidup bagi seluruh umat manusia karena kandungan maknanya yang sangat komprehensif. Empat Pilar Keselamatan dari Kerugian Inti sari dari surat yang hanya terdiri dari tiga ayat ini adalah bahwa manusia pada dasarnya akan berada dalam kerugian, kecuali mereka yang tegak di atas empat pilar utama:

  • Beriman (إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا): Memiliki keyakinan yang kokoh kepada Allah dan Rasul-Nya. Ini adalah syarat mutlak yang menjadi fondasi segala amal. 
  • Beramal Saleh (وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ): Melakukan segala bentuk perbuatan baik sesuai ajaran agama, baik yang bersifat vertikal (ibadah kepada Allah) maupun horizontal (interaksi dengan sesama manusia dan alam). 
  • Saling Menasihati untuk Kebenaran (وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ): Aktif saling mengingatkan, membimbing, dan mengajak kepada jalan kebenaran (kebaikan). Ini adalah perwujudan dari cinta kasih yang sempurna. 
  • Saling Menasihati untuk Kesabaran (وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ): Saling menguatkan dalam menghadapi ujian, godaan, dan ketaatan. 

Kesabaran adalah kunci agar keimanan dan amal saleh dapat dipertahankan hingga akhir hayat. Sumpah Allah dengan Waktu Ustadz Ulil Albab menekankan bahwa diawali dengan sumpah Allah, “Wal 'Ashr” (Demi Masa/Waktu Asar), menunjukkan betapa berharganya waktu yang diberikan kepada manusia. Waktu adalah modal utama yang jika disia-siakan, hanya akan membawa penyesalan dan kerugian di akhirat. "Berusahalah sekuat tenaga, sampai kalian meninggal dalam keimanan, berpegang teguhlah dan satukanlah diri kalian dengan agama Allah.

 Ustadz Ulil Albab menegaskan pentingnya konsistensi (istiqamah) dalam menjalankan iman dan amal saleh. Hanya dengan berpegang teguh pada tali agama Allah, menjalin persaudaraan, dan mengisi waktu dengan empat pilar Surah Al-Ashr, seorang muslim akan meraih fadilah (keutamaan) baik di dunia maupun di akhirat kelak.













Share:

Tentang Hadits

Hadis merupakan rujukan kedua umat muslim setelah Al-Qur'an, meliputi persoalan duniawi dan ukhrawi. Hadis bermakna sabda, perbuatan, takrir Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan oleh sahabat untuk menjelaskan hukum Islam. Kata "hadis" merupakan kata serapan dari "hadits" ke dalam bahasa Indonesia tanpa huruf T di belakang atau sebelum huruf s.
Secara etimologis, hadis dapat kita maknai sebagai periwayatan atau ikhbar yang bermakna mengabarkan. Dalam KBBI sendiri, hadis memiliki makna sabda, perbuatan, takrir (ketetapan) Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan atau diceritakan oleh sahabat untuk menjelaskan dan menentukan hukum Islam. Beberapa sahabat Rasulullah SAW yang diperbolehkan untuk menulis hadis, yaitu Abdullah bin Amr, Abu Syah, dan Ali bin Abi Thalib. Gak cuman bersumber dari Rasulullah SAW, hadis yang kita ketahui saat ini juga berasal dari sahabat terdekat dan keluarga Nabi Muhammad SAW.

Hadits adalah sumber hukum Islam selain Al-Quran yang berasal dari segala perkataan, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad SAW. Segala perkataan dan perbuatan juga ketetapan Nabi Muhammad SAW tentunya diriwayatkan oleh para sahabat yang hidup pada zamannya. Dalam sejarah Islam, banyak sahabat Nabi yang menjadi periwayat hadits karena mereka yang tahu persis secara langsung, bagaimana rupa dan perilaku Nabi Muhammad SAW. Di antara sekian banyak sahabat Nabi, ada 7 nama sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits.
Perawi dari kalangan Sahabat Nabi: 
  1. Abu Hurairah: Sahabat Nabi yang paling banyak meriwayatkan hadis, sekitar 5.374 hadis. 
  2.  Abdullah bin Umar: Sahabat yang meriwayatkan 2.630 hadis. 
  3.  Aisyah binti Abu Bakar: Istri Nabi Muhammad SAW yang meriwayatkan sekitar 2.210 hadis. 
  4.  Anas bin Malik: Sahabat yang meriwayatkan hadis, termasuk periwayat hadis termuda di antara para sahabat yang banyak meriwayatkan hadis. 
  5.  Jabir bin Abdullah: Sahabat yang meriwayatkan sekitar 1.540 hadis.
Perawi dari kalangan Imam Perawi Hadis: 
  1. Imam Bukhari: Menyusun kitab hadis terkenal Shahih Bukhari, yang berisi hadis-hadis pilihan. 
  2. Imam Muslim: Menyusun kitab hadis Shahih Muslim. 
  3. Imam Abu Dawud: Menyusun kitab hadis Sunan Abu Dawud. 
  4. Imam Tirmidzi: Menyusun kitab hadis Sunan Tirmidzi. 
  5. Imam An-Nasa'i: Menyusun kitab hadis Sunan Nasa'i. 
  6. Imam Ibnu Majah: Menyusun kitab hadis Sunan Ibnu Majah. 
  7. Imam Ahmad bin Hanbal: Menyusun kitab hadis Musnad Ahmad. 
  8. Imam Malik bin Anas: Menyusun kitab hadis Muwatha' Malik.
Share:

Menyehatkan Rohani dengan Upaya "Jam'iyyatul Qur'an"

Kajian Ba'da Sholat Subuh, 29 Mei 2022

Kesehatan adalah sebuah nikmat yang luar biasa. Sehat jasmani dan sehat rohani tentunya itu yang kita inginkan. Jika sakit jasmani ada 3 hal yang ditarik oleh Allah SWT:
1. Kecerahan wajahnya
2. Nikmat makan/ selera makannya
3. Menarik/menghapus dosa-dosa kita (sebagai penebus dosa, dengan syarat ikhlas)

Demikian juga dengan rohani, tentu ada kadang sehat dan sakit. Jika secara fisik sakit maka akan terlihat. Tetapi jika yang sakit adalah rohani apa yang terjadi?
Jika rohani kita itu sakit, terdapat ciri2 adalah ketika tidak merasakan sakitnya kita sedang bermaksiat, malas dalam melaksanakan ketaatan. Contohnya, Jika sholat wajib kok sudah dikalahkan dengan kegiatan lain maka itu adallah indikasi sakit rohani.
Salah satu upaya untuk menjaga kesehatan roh/ rohani diantaranya adalah mentadaburi/membaca/ senang berinteraksi dengan Al Qur'an.

Dan kami turunkan Alquran sebagai penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS al-Isra [17]: 82).

Mushola Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai bermaksud untuk mengadakan kegiatan tersebut sebagai upaya untuk melanggengkan membaca Al Qur'an. Yaitu dengan kegiatan Jam'iyyatul Qur'an, Yang dilaksanakan setiap tanggal 1 setiap bulannya ba'da Sholat 'Isa.
Berkeinginan untuk sehat jasmani dan rohani mengajak kaum muslimin berusaha bersama-sama, memahami dan mengamalkan al Qur'an dan Hadits Nabi dalam kehidupan sehari-hari. Bahwa kitab suci tersebut bukan saja berisi petunjuk dalam menjalankan kegiatan ritual, seperti shalat, zakat, puasa, dan juga haji, tetapi juga keharusan selalu menjaga hati, keimanan, dan ketaqwaan. Seharusnya seorang muslim sebagai bagian dari menjaga hatinya dimaksud selalu menjauhkan diri dari sifat-sifat tercela seperti : ujub, riya, takabur, hasut, dengki, mengadu domba, berprasangka buruk terhadap sesama, memfitnah, dan seterusnya. 
Sebaliknya, seorang muslim hendaknya menjaga dan mengembangkan rasa syukur, keadilan, kejujuran, tawadhu', menghormati orang tua dan guru, mencintai sesama dan lain-lain. Seorang muslim juga harus berusaha mencari rizki yang halal, baik, dan berkah. Selain itu setelah rizki diperoleh juga harus memperhatikan orang lain yang berkekurangan seperti orang miskin, anak yatim, orang yang terbelit utang, dan lain-lain. Sebagai seorang muslim, juga harus berusaha menambah ilmu pengetahuan, menjalin tali sillaturrahmi, bekerja secara profesional, menjaga lingkungan, dan lain-lain. Ajaran yang digambarkan sedemikian indah tersebut, ternyata belum sepenuhnya berhasil dijalankan oleh kaum muslimin sendiri. 
Hal demikian itu bukan berarti bahwa ajaran tersebut tidak penting dan boleh diabaikan, tetapi oleh karena menjalankan kebaikan itu sendiri ternyata tidak selalu mudah. Maka, Jam'iyyatul Qur'an adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang bermaksud secara bersama-sama secara terus menerus melantunkan ayat-ayat al Qur'an dan Hadits Nabi dan kemudian menjalankannya. 

 Dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, 

 وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ 

 “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” (HR. Muslim, no. 2699) 

Sekalipun di dalam mengkaji al Qur'an dan Hadits dilakukan secara bersama-sama, tetapi di dalam menjalankannya, apalagi pada tataran pribadi, maka Jam'iyyatul Qur'an mengajak lebih mengedepankan upaya meningkatkan kualitas dirinya masing-masing dari pada mengurus orang lain. Jangan sampai sehari-hari mengajak orang lain melakukan kebaikan, sementara itu dirinya sendiri belum menjalankannya. Dalam menjalankan ajaran Islam, setiap orang diajak untuk lebih banyak mengurus dirinya sendiri dibanding melihat dan mengurus orang lain. 
Dengan demikian, kesalahan atau kekurangannya sendiri lebih diperhatikan dan segera diperbaiki daripada memperhatikan kesalahan dan kekurangan orang lain.





Share:

Sombong: Penyakit Hati yang Menghalangi Pintu Surga

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-11 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun terasa begitu khidmat. Pada Kamis malam, 26 Februari 2026, Bapak Idit Hernowo menyampaikan materi ceramah tarawih yang sangat mendalam tentang salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu Sombong (Kibr). Peringatan ini bukan tanpa alasan, sebab Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits: 

 "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim). 

Lantas, bagaimana cara kita mendeteksi dan mengobatinya? Berikut adalah tiga poin utama yang disampaikan beliau: 

1. Berani Mengakui Kebenaran 
Bapak Idit Hernowo menekankan bahwa sombong bukan soal pakaian bagus atau kendaraan mewah, melainkan sikap mental. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Nabi ﷺ: 

 "Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun naas)." (HR. Muslim). 

Seringkali ego kita menghalangi kita untuk menerima masukan jika datangnya dari orang yang kita anggap "lebih rendah". Orang yang rendah hati (tawadhu) adalah mereka yang siap tunduk pada kebenaran, siapapun yang membawanya.  

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain 
Cikal bakal kesombongan adalah merasa lebih baik dari orang lain. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai menjaga hati dari perasaan "lebih suci". Ingatlah firman Allah SWT: 

 “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). 

Membandingkan diri hanya akan melahirkan rasa bangga diri (ujub). Padahal, setiap kelebihan hanyalah titipan. Orang yang tawadhu justru akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana hadits: "Tidaklah seseorang tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim). 

3. Perbanyak Zikir sebagai Penawar 
Sebagai "obat", Bapak Idit mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir. Dengan mengagungkan Allah, kita sadar bahwa hanya Allah yang berhak memiliki sifat Al-Mutakabbir (Maha Megah/Sombong). Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: 

 "Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mencabutnya salah satu dari keduanya dariku, maka Aku akan menyiksanya." (HR. Muslim). 

Zikir membuat kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang kecil, sehingga tak ada lagi alasan untuk membusungkan dada di hadapan sesama tetangga maupun di hadapan Allah. 
Semua Ramadhan adalah momen terbaik untuk "diet" ego. Mari kita buka diri pada kebenaran, hargai setiap perbedaan tanpa membandingkan, dan basahi lisan kita dengan zikir agar kesombongan tidak punya tempat di hati kita.
Share:

Umat Nabi Muhammad SAW yang Diingkari Beliau


Sudah melaksanakan semua rukun Islam, tetapi Nabi Muhammad mengikarinya atau bukan termasuk dari golongan Nabi Muhammad. Beberapa perilaku yang seharunya kita hindari agar kita terhindar dari har diatas. Bahkan orang tersebut telah melaksanakan haji misalnya. Sholat wajib 5 waktu, bahkan sholat-sholat sunah juga dikerjakan akan tetapi Nabi Muhammad tidak mengakui sebagai bagian dari umatnya. Har-hal itu adalah :
1. Meratap 
Meratap disini misalkan kehilangan saudaranya yang meninggal sampai menangis sejadi-jadinya.
Sedih merupakan bagian fitrah dari perasaan manusia. Rasulullah Saw jug merasakan kesedihan kala ia ditinggal wafat paman yang selalu melindungi dakwahnya di Makkah, Abu Thalib. Menyusul kemudian turut wafat istri yang sangat ia cintai, Khadijah RA.
Kesedihan juga menggelayuti Rasulullah SAW kala anak laki-lakinya, Ibrahim meninggal dunia. Hadis dalam Fikih Sunnah karya Sayyid Sabiq menyebutkan bahwa Rasulullah tampak meneteskan air mata kala Ibrahim wafat.
Syekh Nawawi al-Bantani juga mengutip sabda Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda, “Meratap merupakan salah satu perilaku jahiliyah.” Dalam riwayat Ibnu Majah juga disebutkan, “Meratap merupakan perilaku jahiliyah. 
Sesungguhnya bila wanita yang meratap itu meninggal dan belum sempat bertaubat, maka Allah Swt memotong beberapa baju dari ter dan baju kurug dari nyala api untuknya.” Dalam hadits lain, Nabi Muhammad bersabda, “Wanita peratap akan datang di hari kiamat sembari menggonggong seperti anjing.” Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, hadits terebut menunjukkan bahwa meratap termasuk dosa besar. Dia pun mengutip perkataan ulama yang terdapat dalam kitab az-Zawajir.
2. Memusuhi dan Menipu Umat Islam
3. Tidak saling menghormati
4. Fanatik pada kelompok
Para sahabat seringkali dikelompokkan menjadi dua golongan, yakni Muhajirin (orang yang berhijrah dari Makkah ke Madinah) dan Anshar (orang Madinah yang memberi pertolongan kepada orang Makkah yang berhijrah). Pada dasarnya golongan-golongan itu tidak masalah selama tidak sampai pada fanatisme yang berlebihan sehingga tidak mengukur kemuliaan seseorang berdasarkan golongan, hal ini karena memang Allah Swt mengakuinya, hal ini terdapat dalam firman Allah yang artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (QS 49:13).
5. Pendengki, Pengumpat dan Perdukunan
Sesama Muslim  merupakan saudara, sehingga sangat tidak tepat jika ada perasaan atau sikap hasad, dengki atau iri hati. 
Sifat hasad merupakan sikap yang menunjukkan tidak sukanya seseorang atas kemajuan atau kebaikan yang dicapai orang lain. Karenanya, segala usaha akan dilakukannya untuk menghambat laju pencapaian kemajuan itu. Menjelek-jelekan orang tersebut dengan mengumpat, yakni membicarakan hal-hal yang buruk dengan maksud penghinaan yang tentu saja tidak disukai oleh orang yang dibicarakannya itu, bahkan kalau cara itu tidak juga bisa menghambat kemajuan, ia tidak ragu-ragu untuk melakukan hal-hal yang bertentangan dengan aqidah sekalipun, yakni memanfaatkan perdukunan. Ia berusaha untuk menghancurkan kemajuan itu dengan meminta bantuan dukun, sehingga sang dukun tidak segan-segan untuk menuruti apa maunya orang ini, termasuk segala hal yang bisa menyebabkan kematian seseorang. Para dukun bisa menggunakan sihir, santet dan segala perbuatan syaitan lainnya untuk menghambat kemajuan seseorang.

Bukanlah termasuk golonganku orang yang memiliki sifat dengki, mengumpat dan perdukunan, demikian pula aku bukan termasuk golongannya (HR.Thabrani).

6. Merusak Hubungan
Dari keluarga yang baik, diharapkan akan lahir masyarakat yang baik. Dari sisi inilah, kedudukan keluarga menjadi sangat penting sehingga kita memiliki kepentingan yang sangat dalam bagi terwujudnya kehidupan suami isteri yang harmonis dalan keluarga, karena keharmonisan suami isteri sedikit banyak berdampak dalam kehidupan masyarakat.karenanya ajaran Islam memberikan perhatian yang begitu besar dalam masalah keluarga sehingga begitu detail masalah ini diatur dan dijelaskan dalam syari’at Islam.Karena itu, sangat wajar bila seseorang tidak akan diakui sebagai umat Nabi Muhammad saw bila ia menjadi faktor yang menyebabkan keretakan hubungan suami isteri, apalagi bila sampai menimbulkan perceraian.
Bukan golongan kamu orang yang merusak (hubungan) perempuan atas suaminya atau budak atas tuannya (HR. Abu Daud dan Hakim).











Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget