Mengenal Sang "Penjaga Gerbang" Sabda Rasulullah ﷺ

Kultum Tarawih, 25 Feb 2026 bersama Bp. Sarastiana
Pernahkah kita sejenak membayangkan, bagaimana jadinya Islam hari ini jika Allah tidak mengirimkan sosok seperti Imam Bukhari dan Imam Muslim? Mungkin hari ini agama kita akan dipenuhi dengan dongeng-dongeng palsu. Mungkin kita tidak akan tahu bagaimana tata cara shalat yang benar, karena petunjuknya telah bercampur aduk dengan tradisi yang mengada-ada atau hadits-hadits palsu yang disebarkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Dua sosok luar biasa ini mendedikasikan seluruh hidup, harta, dan masa muda mereka bukan untuk mengejar jabatan dunia. Mereka memilih jalan yang sunyi namun mulia: menjadi "Penjaga Gerbang" sabda Rasulullah ﷺ. 

Pengorbanan yang Melampaui Batas 
Tahukah kita? Mereka berdua bukanlah orang Arab. Imam Bukhari berasal dari Uzbekistan dan Imam Muslim dari Persia (Iran). Namun, kecintaan mereka pada Nabi ﷺ melampaui siapapun. Dalam kitab Siyar A'lam An-Nubala, dikisahkan betapa mereka rela berjalan ribuan kilometer, menembus badai gurun yang panas dan dinginnya malam yang menusuk tulang, hanya untuk memungut satu kalimat: "Rasulullah bersabda..." Mereka tidak asal catat. 
Mereka teliti siapa yang bicara, bagaimana hafalannya, hingga bagaimana kejujurannya. Jika ada satu perawi yang pernah berbohong meski hanya sekali dalam urusan dunia, mereka tidak akan mengambil hadits darinya. Begitulah cara mereka menjaga kemurnian agama ini. 



Adab dan Kecintaan antar Ulama
 Ada sebuah kisah menyentuh dalam Muqaddimah Shahih Muslim. Imam Muslim sangat mengagumi gurunya, Imam Bukhari. Suatu ketika, Imam Muslim mendatangi Imam Bukhari, mencium keningnya, dan berkata: "Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai guru para guru dan pemuka para ahli hadits." Inilah potret para pahlawan kita. Mereka tidak saling menjatuhkan, tapi saling memuliakan demi satu tujuan: 
Menjaga warisan Nabi. Apa Pelajaran bagi Kita? Hadirin sekalian, sebagai warga Gayam Permai yang hidup di zaman serba mudah ini, apa yang bisa kita teladani? 
Hormati Ilmu dan Ulama: Jika mereka rela jalan ribuan kilo untuk satu hadits, maka janganlah kita malas untuk melangkah ke masjid menghadiri kajian. 
Saring Sebelum Sharing: Di zaman medsos ini, banyak hadits palsu bertebaran. Mari kita pastikan setiap amalan kita bersumber dari referensi yang valid, minimal merujuk pada Shahih Bukhari dan Shahih Muslim. 
Cintai Rasulullah dengan Benar: Mencintai Nabi berarti mencintai dan menjaga pesan-pesan yang beliau tinggalkan. 
Maka, sudah sepantasnya hati ini menaruh hormat setinggi-tingginya kepada para penjaga hadits. Semoga Allah merahmati Imam Bukhari dan Imam Muslim, dan semoga kelak kita dikumpulkan bersama mereka di telaga Al-Kautsar bersama Rasulullah ﷺ. 
Aamiin. 

PROFIL PENJAGA GERBANG SUNNAH: IMAM BUKHARI 

"Aku tidak memasukkan satu hadits pun ke dalam kitab Al-Jami' (Shahih Bukhari) kecuali aku mandi dan salat dua rakaat terlebih dahulu." 

Nama Lengkap: Muhammad bin Ismail bin Ibrahim bin Al-Mughirah bin Bardizbah. 
Gelar: Amirul Mukminin fil Hadits (Pemimpin kaum mukmin dalam urusan hadits). 
Lahir: 13 Syawal 194 H di Bukhara, Uzbekistan. 
Keistimewaan Sejak Kecil: Yatim sejak kecil namun dididik oleh ibu yang sangat shalihah. 
Pernah mengalami kebutaan saat kecil, namun sembuh setelah ibunya terus-menerus berdoa kepada Allah. 
Hafal 100.000 hadits shahih dan 200.000 hadits tidak shahih beserta silsilah perawinya. 
Karya Monumental: Al-Jami' as-Shahih (Shahih Bukhari). 
Disusun selama 16 tahun.  
Menyaring dari 600.000 hadits yang beliau kumpulkan, hingga terpilih sekitar 7.000-an hadits (dengan pengulangan) yang benar-benar murni dan sangat shahih.  
Ujian Hidup: Di akhir hayatnya, beliau mengalami fitnah dan pengusiran dari tanah kelahirannya, namun beliau tetap sabar dan tidak pernah mencaci orang yang mendzaliminya.  
Wafat: Malam Idul Fitri tahun 256 H (Usia 62 tahun) di sebuah desa dekat Samarkand. 

Fakta Menarik untuk Jamaah: 
Imam Bukhari memiliki daya ingat yang fotogenik. Pernah di Baghdad beliau diuji oleh 10 ulama yang membacakan 100 hadits yang sengaja ditukar-tukar silsilahnya (sanad-nya). Imam Bukhari mampu mengembalikan setiap sanad ke matan (isi hadits) yang benar tanpa satu pun kesalahan. Inilah cara Allah menjaga agama ini melalui otak manusia yang luar biasa.


Refleksi
Sang Penjaga Gerbang Sabda Kisah Imam Bukhari dan Imam Muslim adalah perjalanan dedikasi total manusia terhadap kebenaran. Perjuangan Fisik: Mereka menempuh perjalanan ribuan kilometer (Uzbekistan & Persia menuju Jazirah Arab) di zaman tanpa kendaraan modern demi memastikan keaslian satu kalimat dari Rasulullah ﷺ. 
Integritas Ilmiah: Mengorbankan harta, waktu muda, dan tenaga untuk menyaring ratusan ribu hadits agar umat Islam tidak tersesat oleh riwayat palsu. 
Adab yang Tinggi: Meskipun keduanya ulama besar, mereka menunjukkan adab luar biasa—Imam Muslim sangat menghormati Imam Bukhari sebagai gurunya, mengajarkan kita bahwa ilmu tidak akan berkah tanpa rasa hormat. 

Refleksi untuk Kita Hari Ini 
1. Menghargai "Kepastian" dalam Beragama Hari ini kita bisa shalat, zakat, dan puasa dengan tata cara yang jelas karena jasa mereka. 
Refleksinya: Masih pantaskah kita malas mempelajari agama, sementara mereka sudah "berdarah-darah" menyediakan referensi yang valid untuk kita? 
2. Integritas di Era Informasi (Saring Sebelum Sharing) Imam Bukhari sangat teliti; jika seorang perawi pernah berbohong sekali saja, riwayatnya ditolak. 
Refleksinya: Di zaman hoax dan media sosial, kita harus meneladani ketelitian mereka. Jangan menyebarkan informasi (terutama urusan agama) yang belum jelas sumber shahihnya.  
3. Ilmu yang Melampaui Batas Geografis Mereka bukan orang Arab, tapi mereka adalah pilar utama agama Islam. 
Refleksinya: Islam adalah milik siapa saja yang mencintainya. Tidak peduli kita orang mana atau tinggal di perumahan mana (seperti di Gayam Permai), kita semua punya kesempatan untuk berkontribusi bagi Islam sesuai bidang kita masing-masing.  
4. Pentingnya Dukungan Keluarga (Ibu Imam Bukhari) Keberhasilan Imam Bukhari tak lepas dari doa ibunya yang pantang menyerah saat beliau buta. 
Refleksinya: Peran orang tua (khususnya Ibu) dalam mendoakan dan mendukung pendidikan anak adalah investasi terbaik untuk melahirkan generasi "penjaga gerbang" Islam masa depan.
Share:

No comments:

Post a Comment

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget