Kajian Subuh Ramadhan, 22 Februari 2026
Bersama Ustadz Susianto, S.K.M
Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam. Pada Kajian Subuh, 22 Februari 2026, Ustadz Susianto, S.K.M mengajak jamaah menyelami kembali salah satu kisah paling penting dalam sejarah manusia: peristiwa Nabi Adam AS dan buah Khuldi.
Kisah ini bukan sekadar cerita awal penciptaan manusia, tetapi pelajaran besar tentang godaan, iri hati, pengakuan dosa, dan rahmat Allah SWT.
1. Peristiwa Buah Khuldi
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 35:
“Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.”
(QS. Al-Baqarah: 35)
Larangan itu jelas. Surga penuh kenikmatan, tetapi ada satu batas yang tidak boleh dilanggar.
Namun dalam Surah Al-A’raf ayat 21 disebutkan bagaimana iblis menggoda dengan sumpah dan rayuan:
“Dan dia (iblis) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku ini termasuk para penasihatmu.’”
(QS. Al-A'raf: 21)
Iblis membungkus godaan dengan kata-kata manis, seolah-olah ia adalah penasihat yang tulus. Di sinilah letak awal ujian manusia: tidak semua yang terdengar baik itu benar.
2. Rasa Iri Iblis: Awal Kejatuhan
Sebelum peristiwa buah Khuldi, ada sebab besar yang melatarinya: iri hati.
Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua taat kecuali iblis.
Dalam Surah Al-Baqarah ayat 34:
“Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan kafir.”
(QS. Al-Baqarah: 34)
Kemudian dalam Surah Al-A’raf ayat 12, iblis mengungkapkan kesombongannya:
“Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.”
(QS. Al-A'raf: 12)
Iri melahirkan kesombongan.
Kesombongan melahirkan pembangkangan.
Pembangkangan melahirkan permusuhan abadi terhadap manusia.
Inilah akar masalahnya. Iblis tidak terima dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Ia merasa lebih unggul.
Kajian ini mengingatkan kita: iri hati adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menghapus kebaikan dan menjerumuskan pada kebinasaan.
3. Pengakuan Nabi Adam: Jalan Taubat
Setelah memakan buah yang dilarang, Nabi Adam AS dan Hawa menyadari kesalahan mereka. Yang menarik, respon mereka berbeda dengan iblis.
Iblis menyalahkan takdir dan menolak bertanggung jawab.
Nabi Adam justru mengakui kesalahan dan memohon ampun.
Dalam Surah Al-A’raf ayat 23 disebutkan doa mereka:
“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.”
(QS. Al-A'raf: 23)
Inilah pelajaran luar biasa: manusia mulia bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena berani mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah.
Ramadhan adalah momentum untuk meneladani sikap Nabi Adam AS—jujur pada diri sendiri dan segera bertaubat.
4. Hikmah di Balik Peristiwa Buah Khuldi
Peristiwa ini menyimpan banyak hikmah:
1️⃣ Manusia Pasti Diuji
Surga pun memiliki batasan. Hidup di dunia tentu lebih banyak ujiannya.
2️⃣ Godaan Datang dengan Kemasan Indah
Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, tetapi dengan sumpah dan janji manis.
3️⃣ Bahaya Iri dan Sombong
Kesombongan iblis menjadi sebab kehancurannya. Penyakit hati ini harus kita waspadai.
4️⃣ Taubat adalah Kemuliaan
Kesalahan bukan akhir segalanya. Taubat yang tulus justru mengangkat derajat manusia.
5️⃣ Dunia adalah Tempat Pembuktian
Turunnya Nabi Adam AS ke bumi bukan sekadar hukuman, tetapi awal amanah sebagai khalifah.
Kajian Subuh ini mengajak kita merenung:
Apakah kita lebih sering seperti iblis yang membenarkan diri?
Ataukah seperti Nabi Adam AS yang segera mengakui kesalahan?
Ramadhan adalah bulan latihan membersihkan iri, menundukkan ego, dan membiasakan diri untuk kembali kepada Allah dengan rendah hati.
Semoga kita termasuk hamba yang ketika tergelincir, segera bangkit dengan taubat.
Semoga hati kita dijauhkan dari iri dan kesombongan.
Dan semoga Ramadhan ini menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih bertakwa.
Wallahu a’lam bishawab.






.jpg)
.heic)
.heic)
.jpg)
No comments:
Post a Comment