"Transfer" Pahala secara Gratis: Ghibah

Gayam Permai, Banjarnegara – Fajar di hari ke-8 Ramadhan 1447 H terasa begitu teduh di Masjid Al-Mu’minun. Selasa, 24 Februari 2026, jamaah kembali berkumpul untuk memperdalam ilmu dalam Kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Yusman, SHI. Beliau mengangkat tema yang sangat dekat dengan keseharian kita: Hakikat Rahmat Allah dan Penjagaan Iman. 
Ustadz Yusman mengawali kajian dengan menekankan bahwa amalan manusia, setinggi apa pun bukanlah penentu utama seseorang masuk surga, melainkan karena Rahmat Allah SWT. "Amal kita adalah wasilah (jalan) untuk menjemput rahmat-Nya. Maka, jangan pernah sombong dengan amal, tapi kejarlah rahmat Allah dengan sebaik-baiknya ketaatan," jelas beliau. 

Iman yang Bisa "Lusuh" Seperti Pakaian 
Salah satu poin menarik dalam tausiyah beliau adalah analogi iman. Beliau mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa iman bisa menjadi lusuh atau luntur, sebagaimana pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Faktor usia, lingkungan, dan kemaksiatan dapat membuat "warna" iman yang tadinya cerah menjadi pudar. Oleh karena itu, Nabi SAW mengajarkan kita untuk selalu memperbarui iman (Tajdidul Iman) agar senantiasa segar dan kuat di dalam hati. 

Ghibah: "Pencuci" Iman yang Menghancurkan 
Ustadz Yusman secara khusus menyoroti salah satu faktor utama yang paling cepat membuat iman seseorang lusuh dan luntur, yaitu Ghibah (membicarakan aib orang lain). Di bulan Ramadhan yang suci ini, ghibah menjadi ancaman serius karena: 
  • Mengurangi Pahala Puasa: Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan lisan.  
  • Merusak Hati: Ghibah membuat hati menjadi keras dan jauh dari cahaya hidayah.  
  • Memindahkan Amal: Secara tidak sadar, orang yang ber-ghibah sedang mentransfer pahala puasanya kepada orang yang ia bicarakan. "Ibarat pakaian bagus yang terkena noda tinta yang sangat pekat, begitulah ghibah mengotori iman kita. Sangat disayangkan jika puasa kita seharian penuh hanya menghasilkan rasa lapar, sementara pahalanya hilang karena lisan yang tidak terjaga," tegas Ustadz Yusman. 
Banyak dari kita berdalih, "Tapi kan saya bicara kenyataan, memang dia begitu orangnya!". Ustadz Yusman mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW: “Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Jika apa yang dibicarakan itu benar, itulah Ghibah. Jika apa yang dibicarakan itu salah/bohong, maka itu adalah Fitnah (Buhtan). Keduanya adalah dosa besar yang melunturkan cahaya iman. 

Ghibah adalah "Riba" yang Paling Berat 
Beliau menjelaskan bahwa salah satu jenis riba yang paling jahat bukan hanya soal uang, melainkan merusak kehormatan sesama muslim. Membicarakan aib tetangga atau kawan sama saja dengan meruntuhkan martabatnya, dan itu adalah tindakan yang sangat dibenci Allah. 

 Analogi Memakan Bangkai Saudara Sendiri 
Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 12), Allah memberikan gambaran yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah: seperti orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. 

Logikanya: Mengapa bangkai? 
Karena orang yang kita bicarakan tidak ada di tempat untuk membela diri (seperti mayat yang diam). Efeknya ke Iman: Bagaimana mungkin hati yang penuh dengan "daging bangkai" (kebencian dan aib orang) bisa merasakan manisnya shalat tarawih dan nikmatnya membaca Al-Qur'an? Inilah alasan mengapa iman langsung terasa "lusuh" setelah kita berghibah. 

"Transfer" Pahala secara Gratis 
Ustadz Yusman memberikan peringatan keras bagi para shaimin (orang yang berpuasa). Ghibah adalah pencuri pahala yang paling ulung. "Sangat merugi jika kita sudah menahan haus dan lapar sejak subuh, namun di sore hari pahala puasa kita ditransfer secara cuma-cuma kepada orang yang kita bicarakan aibnya hanya karena lisan yang tidak terjaga," tegas beliau. 

Tips Menghindari Ghibah di Lingkungan Perumahan 
Sebagai penutup pendalaman, beliau memberikan langkah praktis: 
 Alihkan Pembicaraan: Jika mulai ada arah pembicaraan ke aib orang, segera alihkan ke topik yang lebih bermanfaat (seperti rencana kegiatan masjid).  
Ingat Aib Sendiri: Sebelum lisan mengucap kekurangan orang lain, ingatlah beribu aib kita yang masih ditutupi oleh Allah SWT (Sattarul 'Uyub).  
Meninggalkan Majelis: Jika tidak mampu menghentikan, lebih baik menghindar demi menjaga "kebersihan baju" iman kita. 

Cara Merawat Iman agar Tetap Baru 
Tips agar iman kita tidak mudah lusuh:  
Memperbanyak Dzikir: Terutama kalimat Laa ilaha illallah.  
Majelis Ilmu: Terus hadir dalam kajian seperti subuh ini adalah cara "mencuci" dan "menyetrika" iman agar kembali rapi.  
Menjaga Lisan: Berprinsip "Katakan yang baik atau diam" (Fal yaqul khairan au liyashmut). 

Kajian dari Ustadz Yusman, SHI hari ini menjadi pengingat bagi warga Gayam Permai agar tidak hanya sibuk menjaga penampilan fisik di bulan Ramadhan, tetapi lebih sibuk menjaga kesegaran iman dan kebersihan lisan.



Share:

No comments:

Post a Comment

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget