22 Februari 2026
Bersama Nurkholis, S.E.
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Dalam Kultum Tarawih tanggal 22 Februari 2026, Bapak Nurkholis, S.E. menyampaikan pesan yang mengajak jamaah melihat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ibadah yang telah diwariskan sejak umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW.
Puasa bukan ibadah baru. Ia adalah tradisi para nabi, sekaligus ibadah istimewa yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT.
Puasa Telah Diwajibkan Sebelum Umat Nabi Muhammad SAW
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an:
“Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
(QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga umat-umat terdahulu. Artinya, puasa adalah ibadah universal yang menjadi sarana pembinaan ketakwaan sepanjang sejarah kenabian.
Tujuan utamanya jelas: la’allakum tattaqun agar kamu bertakwa.
Keistimewaan Puasa Ramadhan
Puasa memiliki banyak keistimewaan dibanding ibadah lainnya:
1. Puasa Adalah Milik Allah
Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya.
Mengapa demikian?
Karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Orang lain bisa melihat kita shalat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Tetapi puasa? Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah. Kita bisa saja berpura-pura, tetapi hakikat puasa adalah kejujuran batin.
Puasa mendidik kita untuk jujur pada diri sendiri.
2. Latihan Mengendalikan Diri
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga:
Menahan amarah
Menahan lisan
Menahan pandangan
Menahan hawa nafsu
Jika seseorang hanya menahan makan tetapi lisannya tetap menyakiti, maka hakikat puasanya belum tercapai.
Dalam kultum disampaikan sebuah perumpamaan yang menarik: ular setelah berpuasa tetaplah ular. Sifatnya tidak berubah. Ia tetap berbisa dan membahayakan.
Pesan ini sangat dalam. Jika setelah Ramadhan sifat kita masih sama, masih mudah marah, masih iri, masih suka menyakiti maka jangan-jangan puasa kita baru sebatas lapar dan haus, belum sampai pada perubahan akhlak.
Hikmah Puasa: Pahala dan Introspeksi Diri
Puasa adalah ladang pahala yang luar biasa. Setiap detik kesabaran, setiap rasa haus, setiap upaya menahan diri, semuanya bernilai ibadah.
Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum introspeksi.
Ramadhan mengajak kita bertanya pada diri sendiri:
- Sudahkah saya jujur dalam pekerjaan?
- Sudahkah saya menjaga amanah?
- Sudahkah saya memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama?
- Sudahkah saya bersungguh-sungguh dalam ibadah?
Puasa melatih kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia dan menengok ke dalam hati.
Jujur pada Diri Sendiri
Salah satu pesan kuat dalam kultum ini adalah tentang kejujuran. Puasa mengajarkan integritas. Saat sendirian, tidak ada yang mengawasi. Tetapi kita tetap memilih untuk taat.
Inilah pendidikan ruhani yang luar biasa.
Jika kejujuran ini terbawa setelah Ramadhan, maka puasa benar-benar telah membentuk karakter.
Tetapi jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita perlu mengevaluasi diri.
Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah madrasah pembinaan jiwa.
Penutup
Puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita. Puasa adalah ibadah istimewa yang Allah klaim sebagai milik-Nya secara khusus. Puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri.
Semoga kita tidak menjadi seperti ular yang setelah berpuasa tetap berbisa.
Semoga Ramadhan benar-benar mengubah hati, lisan, dan perilaku kita.
Semoga kita termasuk orang-orang yang meraih derajat takwa.
Wallahu a’lam bishawab.






.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
No comments:
Post a Comment