Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun terasa lebih sejuk dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Susianto pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H. Beliau membawa kita menyelami kedalaman akhlak para ulama dan sebuah pilihan sulit yang berbuah jaminan surga.
Baca juga : Kajian Subuh Ramadhan 1447 H
Baca juga : Kajian Tarawih Ramadhan 1447 H
Berikut adalah rangkuman materi yang menggugah jiwa: 1. Ketulusan Amal: Belajar dari Kesabaran Imam Syafi’i
Ustadz Susianto membuka kajian dengan sebuah kisah yang menguji ego dan kesabaran. Dikisahkan, seorang pemuda memanggil Imam Syafi’i untuk datang ke rumahnya. Namun, sesampainya di depan pintu, pemuda itu justru menyuruh beliau pulang.
Hal ini terjadi hingga tiga kali: dipanggil, didatangi, lalu disuruh pulang.
Tanpa rasa marah sedikit pun, Imam Syafi’i menuruti permintaan tersebut. Mengapa? Karena beliau hanya ingin berbuat amal baik. Bagi beliau, mendatangi panggilan saudara adalah kebaikan, dan memaafkan perilaku kurang sopan adalah kebaikan yang lebih tinggi lagi.
Pesan moralnya: Fokuslah pada amal baik kita, bukan pada bagaimana orang lain memperlakukan kita.
2. Hakikat Penciptaan dan Tugas Manusia (QS. Al-Hijr: 27-28)
Beliau kemudian mengajak jamaah mentadaburi asal-usul penciptaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hijr (15) ayat 27-28:
Ayat 27: Mengingatkan tentang penciptaan bangsa Jin dari api yang sangat panas sebelum manusia diciptakan.
Ayat 28: Menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk.
Ustadz Susianto menekankan bahwa dengan memahami asal-usul yang rendah (tanah), tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong. Tugas utama kita hanyalah mengisi masa hidup yang singkat ini dengan pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.
3. Kisah Ummu Zufar: Sabar dalam Sakit Berbuah Surga
Puncak kajian yang paling mengharukan adalah kisah seorang wanita kulit hitam bernama Ummu Zufar. Ia datang menghadap Rasulullah ï·º dalam keadaan menderita penyakit ayan (epilepsi).
Ummu Zufar memohon: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menyembuhkanku."
Rasulullah ï·º memberikan dua pilihan yang sangat mendalam:
Jika engkau mau, bersabarlah (dengan penyakitmu), maka bagimu adalah SURGA.
Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.
Mendengar kata "Surga", Ummu Zufar tidak ragu sedikit pun. Ia memilih opsi pertama: Sabar. Ia hanya meminta didoakan agar saat penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap.
"Kisah ini mengajarkan kita bahwa musibah fisik jika dihadapi dengan rida, adalah tiket eksekutif menuju surga-Nya," tutur Ustadz Susianto.
Melalui kajian ini, Ustadz Susianto mengajak kita semua di sisa Ramadhan ini untuk:
Terus berbuat baik meski seringkali tidak dihargai oleh manusia (seperti Imam Syafi'i).
Menyadari kerendahan diri di hadapan Allah (QS. Al-Hijr).
Melihat penyakit atau musibah sebagai peluang untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.






.jpg)
No comments:
Post a Comment