![]() |
| Tarawih |
1. Fenomena "Haus yang Tak Pernah Padam"
Bapak Krismiarto membuka ceramahnya dengan keprihatinan terhadap fenomena sosial masa kini. Beliau mencontohkan maraknya kasus korupsi sebagai bukti nyata dari hilangnya rasa syukur.
Baca juga : Kajian Subuh Ramadhan 1447 H
Baca juga : Kajian Tarawih Ramadhan 1447 H
"Korupsi terjadi bukan karena pelakunya kekurangan harta secara fisik, tapi karena hatinya yang miskin akan syukur," tutur beliau. Orang yang tidak bersyukur akan selalu merasa kurang (never enough), meskipun gunung emas sudah di genggamannya. Tanpa syukur, manusia menjadi hamba bagi ambisinya sendiri.
2. Dimensi dan Warna Syukur
Syukur tidaklah monokrom (satu warna). Menurut Bp. Krismiarto, syukur memiliki beberapa dimensi:
- Syukur Bil Qalbi (Hati): Meyakini sepenuhnya bahwa setiap nikmat, sekecil apa pun, datangnya hanya dari Allah.
- Syukur Bil Lisan (Ucapan): Membasahi lidah dengan tahmid (Alhamdulillah) dan mengakui kebaikan Allah di depan orang lain tanpa pamer.
- Syukur Bil Arkan (Perbuatan): Menggunakan nikmat tersebut (harta, kesehatan, jabatan) untuk ketaatan kepada Sang Pemberi Nikmat.
3. Belajar dari Keteguhan Umar bin Khattab
Beliau juga mengangkat teladan Amirul Mukminin, Umar bin Khattab RA, yang memiliki rumus hidup yang luar biasa:
"Jika aku ditimpa musibah, aku bersabar. Dan jika aku mendapatkan kesenangan, aku bersyukur."
Bagi Umar, keduanya adalah kendaraan untuk sampai kepada Allah. Beliau tidak silau oleh gemerlap kekuasaan, karena beliau tahu bahwa kesenangan adalah ujian syukur, sebagaimana kesusahan adalah ujian sabar.
4. Janji Allah dan Peringatan Keras
Dalam tausiyahnya, Bp. Krismiarto merujuk pada beberapa ayat suci Al-Qur'an sebagai penguat:
Ingatlah Allah, Maka Allah Mengingatmu: Dalam QS. Al-Baqarah (2) ayat 152, Allah berfirman:
“Maka ingatlah kepada-Ku, Aku pun akan ingat kepadamu. Bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu ingkar kepada-Ku.”
Shalawat dan Rahmat bagi yang Sabar & Syukur: Beliau juga menyinggung QS. Al-Baqarah (2) ayat 157, bahwa mereka yang teguh dalam ujian akan mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka.
Namun, beliau juga memberikan pengingat keras (warning). Jika kita mengingkari nikmat (kufur nikmat) dan selalu merasa tidak cukup, maka janji Allah itu nyata:
"Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih." (QS. Ibrahim: 7).
Bapak Krismiarto mengajak seluruh jamaah untuk berhenti sejenak dan melihat apa yang sudah ada di tangan, bukan apa yang masih di tangan orang lain.
"Mari kita jadikan Ramadhan ini sebagai madrasah untuk melatih rasa cukup. Sebab, kekayaan sejati bukanlah banyaknya harta, melainkan hati yang selalu merasa cukup dan bersyukur," pungkas beliau.






.jpg)
No comments:
Post a Comment