Jejak Ulama Nusantara di Masjidil Haram: Akar Perjuangan Muhammadiyah dan NU
Gayam Permai, Banjarnegara – Ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun pada Senin malam, 2 Maret 2026 (tercatat dalam kalender kegiatan 2 Maret), menghadirkan materi sejarah yang sangat membanggakan. Bapak Bambang Budi memaparkan kejayaan ulama-ulama besar Nusantara yang tidak hanya belajar, tetapi juga menjadi guru dan imam besar di pusat peradaban Islam, Masjidil Haram, Makkah.
Sejarah ini menjadi penting karena dari rahim keilmuan Makkah inilah lahir organisasi besar seperti Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU).
1. Tiga Pilar Ulama Nusantara di Makkah
Bapak Bambang Budi menyebutkan tiga nama besar yang pernah menduduki posisi terhormat sebagai Imam Besar dan Guru di Masjidil Haram:
- Syekh Nawawi Al-Bantani: Ulama asal Banten yang dijuluki Sayyidul Hijaz (Pemimpin Ulama Hijaz). Beliau adalah penulis produktif yang kitab-kitabnya hingga kini masih dipelajari di seluruh dunia.
- Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi: Ulama besar asal Sumatera Barat yang menjadi Imam, Khatib, dan Guru Besar di Masjidil Haram. Beliau adalah ahli ilmu falak dan fiqh yang sangat dihormati.
- Syekh Junaid Al-Batawi: Ulama asal Betawi (Jakarta) yang menjadi poros keilmuan bagi para penuntut ilmu asal Nusantara di Makkah pada masanya.

2. Mata Air Bagi Pendiri Muhammadiyah dan NU
Poin menarik yang disampaikan Bapak Bambang Budi adalah kaitan erat para ulama tersebut dengan berdirinya dua ormas Islam terbesar di Indonesia.
Diketahui bahwa KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) dan KH Hasyim Asy'ari (pendiri NU) adalah kawan seperguruan saat menuntut ilmu di Makkah.
Keduanya sama-sama berguru kepada Syekh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi dan Syekh Nawawi Al-Bantani.
"Meskipun nantinya Muhammadiyah dan NU memiliki strategi dakwah yang berbeda, namun akarnya sama. Mereka minum dari sumber mata air ilmu yang sama di tanah suci," jelas beliau.
3. Pesan Persatuan dan Kebanggaan
Bapak Bambang Budi menekankan bahwa sejarah ini harus membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia. Ulama kita pernah menjadi "matahari" yang menyinari dunia Islam dari Makkah.
Beliau berpesan agar warga Gayam Permai senantiasa menjaga persatuan. Perbedaan organisasi (Muhammadiyah atau NU) hanyalah wasilah (sarana), sementara tujuannya tetap satu: meninggikan agama Allah berdasarkan Al-Qur'an dan Sunnah, persis seperti yang diajarkan para guru-guru mereka di Masjidil Haram.
Sejarah ini membuat kita sadar bahwa Islam di Indonesia memiliki akar keilmuan yang sangat kuat dan diakui dunia. Di bulan Ramadhan ini, mari kita teladani semangat belajar para ulama terdahulu agar kita tidak mudah terpecah belah oleh perbedaan kecil.






.jpeg)
No comments:
Post a Comment