Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-14 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun diisi dengan tetesan air mata haru. Bapak Nurkholis menyampaikan tausiyah tentang Suri Tauladan Rasulullah ï·º, dengan mengangkat satu kisah luar biasa yang menjadi bukti nyata mengapa Nabi Muhammad ï·º diutus sebagai rahmat bagi semesta alam.
1. Sosok Pengemis Buta di Sudut Pasar
Bapak Nurkholis menceritakan tentang seorang pengemis Yahudi buta yang setiap hari duduk di sudut pasar Madinah. Mulut pengemis itu tak henti-hentinya berteriak kepada setiap orang yang lewat:
"Wahai saudaraku, jangan dekati Muhammad! Dia itu orang gila, dia pembohong, dia tukang sihir. Hindarilah dia!"
2. Suapan Kasih dalam Diam
Meski dihina setiap hari, Rasulullah ï·º justru mendatanginya setiap pagi. Tanpa sepatah kata pun keberatan, beliau membawa makanan, melembutkannya dengan tangan beliau sendiri, lalu menyuapkannya ke mulut si pengemis dengan penuh kelembutan. Nabi ï·º melakukan ini secara rutin hingga akhir hayat beliau, tanpa pernah sekalipun memberi tahu siapa identitas beliau yang sebenarnya kepada si pengemis.
3. Protes Sang Pengemis kepada Sayyidina Umar
Setelah Rasulullah ï·º wafat, Abu Bakar Ash-Shiddiq bertanya kepada Aisyah RA tentang sunnah Nabi yang belum beliau kerjakan. Aisyah menceritakan tentang pengemis buta tersebut. Maka, pergilah Abu Bakar (atau dalam beberapa riwayat disebutkan Umar bin Khattab) untuk menggantikan peran Nabi menyuapi pengemis itu.
Namun, baru saja suapan pertama masuk, si pengemis langsung memprotes dengan kasar:
"Siapa kamu?! Kamu bukan orang yang biasa menyuapiku!"
Sahabat tersebut terkejut dan bertanya, "Bagaimana kamu tahu?" Si pengemis menjawab, "Orang yang biasa datang kepadaku, suapannya sangat lembut. Ia menghaluskan makanan itu terlebih dahulu dengan tangannya sebelum diberikan kepadaku. Ia memperlakukanku dengan sangat mulia."
4. Tangis yang Membawa Hidayah
Dengan suara bergetar, sahabat Nabi itu menangis dan berkata, "Ketahuilah, aku adalah sahabatnya. Orang yang biasa menyuapimu itu telah wafat. Dialah Muhammad Rasulullah ï·º, orang yang selama ini setiap hari kamu hina dan kamu fitnah di pasar ini."
Seketika pengemis itu tertegun dan menangis sejadi-jadinya. Ia tidak menyangka bahwa tangan yang paling lembut menyuapinya adalah tangan orang yang paling ia benci. Saat itu juga, ia bersyahadat dan masuk Islam karena takjub akan keagungan akhlak sang Nabi.
"Rasulullah tidak membalas makian dengan makian, tapi membalas kebencian dengan kelembutan."
Di bulan Ramadhan ini, mari kita evaluasi diri:
Bagaimana cara kita memperlakukan orang yang tidak menyukai kita?








No comments:
Post a Comment