Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Hidup Adalah Ujian, Al-Qur'an Adalah Jalan Keluar

Ahad, 26 Juli 2026, Majelis Kajian Rutin Ahad Pagi kembali menghadirkan Ustadz Yusman, S.H.I. dengan tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap muslim, yaitu tentang hakikat ujian hidup dan solusi yang Allah berikan melalui Al-Qur'an. Kajian diawali dengan pengingat dari QS. Al-Balad bahwa kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari ujian.  
"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penuh perjuangan)." (QS. Al-Balad: 4).  
Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Bahkan, semakin tinggi kualitas keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang Allah berikan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Mulk,  
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
Allah-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Ujian hadir dalam berbagai bentuk. Kekayaan adalah ujian, demikian pula kemiskinan. Jabatan adalah ujian, begitu juga kesederhanaan. Bahkan Nabi Adam alaihissalam pun diuji hingga harus keluar dari surga sebagai bagian dari ketetapan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Lalu, bagaimana seorang mukmin menghadapi ujian tersebut? Jawabannya terdapat dalam firman Allah pada QS. Thaha ayat 123,  
"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kemudian jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.'" (QS. Thaha: 123)
Bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah, niscaya tidak akan tersesat dan tidak akan hidup dalam kesengsaraan. Petunjuk Al-Qur'an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi dipahami, diyakini, dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.  
Ustadz Yusman kemudian mengangkat pelajaran besar dari Perang Tabuk, salah satu ekspedisi terbesar yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Di tengah perjalanan sekitar 700 kilometer pada musim panas yang sangat berat, Rasulullah berhasil menggerakkan sekitar 30.000 pasukan. Pengorbanan para sahabat menjadi bukti nyata keimanan mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya, Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya, sementara Utsman bin Affan menyumbangkan 1.000 dinar emas untuk mendukung perjuangan Islam. Mereka memahami bahwa mengikuti petunjuk Allah tidak akan pernah membawa kepada kerugian ataupun kebinasaan.  
Kajian juga menyoroti tantangan kehidupan keluarga masa kini. Krisis komunikasi antara suami dan istri sering kali menjadi sumber berbagai persoalan rumah tangga. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa suami dan istri adalah "pakaian" satu sama lain, saling melindungi, menutupi kekurangan, dan memberikan kenyamanan.  Demikian pula menjaga pandangan merupakan bentuk ketaatan yang akan menjaga keberkahan serta kenikmatan yang halal yang telah Allah anugerahkan.  
"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 187) 
Makna "Pakaian" dalam Ayat Ini Ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan "pakaian" mengandung makna yang sangat dalam, di antaranya: 
  • Menutupi kekurangan pasangan, bukan membuka aibnya.  
  • Melindungi satu sama lain dari hal-hal yang merusak rumah tangga.  
  • Memberikan kenyamanan dan ketenangan, sebagaimana pakaian memberi rasa nyaman bagi tubuh.  
  • Menghiasi dan memperindah kehidupan pasangan.  
  • Menjaga kehormatan dan kesucian masing-masing.  
Karena itu, ketika muncul krisis komunikasi dalam rumah tangga, ayat ini mengingatkan bahwa hubungan suami istri dibangun atas dasar saling melindungi, saling memahami, dan saling menjaga, bukan saling menyalahkan atau mempermalukan. Pesan utama kajian pagi ini begitu jelas. Hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Namun, setiap persoalan telah Allah siapkan jalan keluarnya. Solusi terbaik bukan sekadar berasal dari logika manusia, melainkan dari petunjuk Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an.  
Semoga Kajian Rutin Ahad Pagi ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap ujian adalah sarana meningkatkan derajat keimanan. Selama kita berpegang teguh kepada petunjuk Allah, tidak ada alasan untuk berputus asa, tidak ada ruang untuk bersedih berkepanjangan, karena Al-Qur'an selalu menghadirkan cahaya dan jalan keluar bagi setiap hamba yang beriman. "Hidup pasti memiliki ujian, tetapi Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menghadapi ujian tanpa petunjuk. Maka dekatilah Al-Qur'an, karena di sanalah setiap persoalan menemukan jalan keluarnya."




Share:

Penyimpangan Kaum Quraisy dan Akhlak Jahiliyah | Kajian 19 Juli 2026

Kajian Rutin Ahad Pagi 19 Juli 2026 Mengenal Akhlak Masyarakat Jahiliyah dan Misi Rasulullah ﷺ Menyempurnakan Akhlak Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terlaksana pada Ahad, 19 Juli 2026, dengan pemateri Ustadz Zein Faqih. Pada kesempatan kali ini, beliau mengangkat tema tentang penyimpangan kaum Quraisy di masa jahiliyah serta diutusnya Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan akhlak manusia.  

Rasulullah ﷺ bersabda:  
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad) 

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Menariknya, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak sepenuhnya memiliki akhlak yang buruk. Mereka memiliki beberapa sifat terpuji, namun juga dibarengi dengan penyimpangan yang akhirnya diperbaiki dan disempurnakan oleh Islam.  
Akhlak Masyarakat Jahiliyah yang Masih Terpuji  
1. Sangat Dermawan dalam Menjamu Tamu
Bangsa Arab terkenal sangat memuliakan tamu. Menjamu tamu merupakan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Diriwayatkan dalam berbagai kisah bahwa ada seseorang yang hanya memiliki seekor unta sebagai harta terakhirnya. Ketika tamu datang, ia rela menyembelih unta tersebut demi memberikan jamuan terbaik kepada tamunya. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi nilai kemurahan hati yang mereka miliki. Namun demikian, di sisi lain mereka juga memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan fitrah, seperti meminum khamr dan berjudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219) Larangan tersebut kemudian disempurnakan hingga Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, berjudi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90) Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam menghapus kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.  
2. Menepati Janji  
Masyarakat Arab juga dikenal sangat menjaga janji. Janji dianggap sebagai kehormatan yang harus dipenuhi walaupun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Dalam kajian disampaikan beberapa contoh sejarah, seperti Perang Al-Basus, kisah Al-Muhalhal yang dibebaskan karena adanya janji yang harus ditepati, serta kisah Nu'man dan Hani bin Mas'ud Asy-Syaibani yang menunjukkan kuatnya komitmen mereka terhadap amanah. Namun, sikap menjaga kehormatan tersebut sering kali berubah menjadi fanatisme kesukuan ('ashabiyah) yang akhirnya memicu peperangan berkepanjangan.  
3. Menjaga Kehormatan, Tetapi Berlebihan  
Masyarakat jahiliyah memiliki rasa harga diri dan kehormatan yang tinggi. Mereka juga dikenal pemberani dan memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarga. Akan tetapi, keberanian yang tidak dibimbing oleh syariat sering berubah menjadi tindakan berlebihan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan panjang. Contohnya adalah Perang Al-Basus yang berlangsung hingga sekitar empat puluh tahun. Bahkan terdapat peperangan yang dipicu hanya karena persoalan sepele, seperti perlombaan atau pacuan kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa ilmu dan petunjuk agama dapat berubah menjadi kerusakan.  
4. Lemah Lembut dan Suka Menolong  
Di balik kerasnya kehidupan padang pasir, masyarakat Arab juga memiliki sifat saling membantu dan menolong sesama, terutama kepada orang yang meminta perlindungan atau mengalami kesulitan. Islam kemudian memperkuat sifat ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah.  
5. Hidup Sederhana Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu cenderung sederhana. Mereka terbiasa hidup dengan apa adanya dan tidak bergantung pada kemewahan dunia. Islam mempertahankan sikap sederhana tersebut, sekaligus mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. 6. Jujur Kejujuran juga merupakan salah satu sifat yang dihargai di tengah masyarakat Arab. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanah beliau. Sifat inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam sehingga banyak orang mempercayai risalah yang beliau bawa. Islam Menyempurnakan Akhlak Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk men 
ghapus seluruh budaya Arab.  
Akhlak-akhlak yang baik tetap dipertahankan, sementara kebiasaan yang menyimpang diperbaiki dan diarahkan sesuai tuntunan wahyu. Sifat dermawan diarahkan agar ikhlas karena Allah. Keberanian dibimbing agar digunakan untuk membela kebenaran. Menepati janji dijadikan bagian dari keimanan. Tolong-menolong diarahkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Kesederhanaan dijaga dari sifat bakhil, sedangkan kejujuran menjadi identitas setiap muslim. Dengan demikian, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 
Kajian Ahad pagi kali ini mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari ilmu dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlaknya. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dalam membangun peradaban melalui akhlak yang mulia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari dan terus berusaha memperbaiki diri dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Aamiin.




Share:

"Sholat Orang yang Sedang Sakit: Kemudahan Syariat Tanpa Meninggalkan Kewajiban"

Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terselenggara pada Ahad, 12 Juli 2026, di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah mendapatkan pembahasan fikih yang sangat penting, yaitu mengenai tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit. 
Pada awal kajian, beliau mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun. Di antara kelima rukun tersebut, syahadat dan sholat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama akalnya masih ada, meskipun sedang mengalami sakit atau memiliki keterbatasan fisik. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Allah Ta'ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, syariat memberikan berbagai keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang sedang sakit sesuai dengan kondisi yang dialaminya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 
 "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring." 

Hadis ini menjadi dasar bahwa kewajiban sholat tetap berlaku, namun tata caranya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dalam kajian juga dijelaskan bahwa seseorang yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, kemudian tidak dapat menghadirinya karena uzur seperti sakit, maka dengan karunia Allah ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana ketika ia melaksanakannya bersama jamaah. Selain itu, syariat juga memberikan keringanan berupa bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit apabila memang terdapat kesulitan yang nyata dalam melaksanakan setiap sholat pada waktunya. 
Apabila kondisi sakit menyebabkan seseorang tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada orang yang dapat membantu mengarahkannya, maka ia diperbolehkan melaksanakan sholat sesuai arah yang mampu dihadapinya. Hal ini menunjukkan betapa Islam tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.  
Ustadz Yusman, S.H.I. juga menjelaskan beberapa tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit, di antaranya: 
  • Sholat sambil duduk, tetap menghadap kiblat apabila mampu, kemudian memulai sholat dengan takbiratul ihram sambil bersedekap sebagaimana sholat pada umumnya.  
  • Sholat dengan berbaring ke sisi kanan, dengan wajah menghadap kiblat. Ini merupakan posisi yang lebih utama apabila memungkinkan.  
  • Jika tidak mampu, berbaring ke sisi kiri dengan tetap menghadap kiblat.  
  • Apabila kedua posisi tersebut tidak memungkinkan, maka shalat dengan terlentang, dengan posisi kaki mengarah ke barat sehingga wajah tetap menghadap kiblat (sesuai kondisi arah kiblat setempat), lalu melakukan gerakan dengan isyarat semampunya.  
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan sholat. Justru dalam kondisi sakit, seorang hamba semakin membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat Islam telah memberikan kemudahan yang luar biasa sehingga setiap muslim tetap dapat menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  
Semoga ilmu yang disampaikan pada kajian Ahad pagi ini menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk memahami fikih ibadah dengan benar serta semakin menumbuhkan semangat menjaga sholat dalam setiap keadaan. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keistiqamahan, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
Share:

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Kebaikan di Dunia Tak Mengurangi Pahala Akhirat

Alhamdulillah, pada kajian rutin Ahad pagi tanggal 21 Juni 2026 bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, kita kembali diingatkan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Seorang mukmin hendaknya tidak hanya mengejar kenikmatan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam amal yang akan dipanen kelak di akhirat. 

Dunia Adalah Tempat Beramal, Akhirat Tempat Balasan 

Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah bahwa dunia merupakan darul amal (tempat beramal), sedangkan akhirat adalah darul jaza' (tempat menerima balasan). Kesempatan beramal hanya ada selama kita masih hidup di dunia. Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali amal-amal yang terus mengalir pahalanya. Oleh karena itu, setiap waktu yang Allah berikan hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. 
Sering kali seseorang merasa khawatir apabila telah mendapatkan banyak kenikmatan di dunia, maka pahalanya di akhirat akan berkurang. Padahal, selama kenikmatan tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan disyukuri serta dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu tidak mengurangi pahala yang Allah siapkan di akhirat. Justru nikmat dunia menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, sedekah, dan berbagai amal kebajikan. 
Di antara amalan yang memiliki keutamaan besar adalah membaca Al-Qur'an. Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, dan Al-Qur'an akan menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa membacanya, memahami isinya, dan mengamalkannya. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan investasi yang nilainya akan terus dirasakan hingga kehidupan akhirat. 
Kajian juga mengingatkan bahwa tidak semua musibah merupakan bentuk kemurkaan Allah. Terkadang Allah mendatangkan ujian, kesulitan, ataupun bala sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Melalui ujian tersebut Allah menghapus dosa, mengangkat derajat, serta mengembalikan hati seorang hamba agar semakin dekat kepada-Nya. 
Ketenangan Sejati Ada dalam Dzikir Manusia sering mencari kebahagiaan melalui harta, jabatan, maupun kesenangan dunia. Namun ketenangan yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Dzikir bukan hanya bacaan lisan, tetapi juga menghadirkan Allah dalam hati sehingga hidup menjadi lebih tenang, sabar, dan penuh rasa syukur
 Allah Akan Mendekat Kepada Hamba-Nya Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa barang siapa mendekat kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta. Hal ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sekecil apa pun usaha kita dalam memperbaiki diri, Allah akan membalasnya dengan rahmat dan pertolongan yang jauh lebih besar. 
 Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Namun Islam mengajarkan agar setiap dosa segera diiringi dengan taubat dan amal kebajikan. Shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir, membantu sesama, dan berbagai amal saleh lainnya menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa seorang hamba dengan izin Allah. Menjauhi Penyakit Hati Ustadz juga mengingatkan tentang bahaya penyakit hati, terutama sifat sombong. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi. Selain sombong, penyakit hati seperti iri, dengki, riya, ujub, dan hasad harus terus dibersihkan melalui keikhlasan, muhasabah, serta memperbanyak ibadah.  
Wudhu, Shalat, dan Zakat Akan Menjadi Bukti Amal Di akhir kajian disampaikan bahwa amalan-amalan pokok seperti wudhu, shalat, zakat, dan ibadah lainnya merupakan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Menjaga kesempurnaan wudhu, mendirikan shalat tepat waktu dengan khusyuk, menunaikan zakat, serta menjalankan seluruh kewajiban agama merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat
Semoga kajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal saleh, membaca Al-Qur'an, berdzikir kepada Allah, menjaga keikhlasan, menjauhi penyakit hati, serta senantiasa memperbaiki ibadah kita. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita, memberikan husnul khatimah, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa hisab. Aamiin.



Share:

Dunia Tidak Menganggap Arab, Tetapi Dari Sanalah Rasulullah SAW Mengubah Sejarah Dunia

Belajar dari Sejarah, Menguatkan Iman: Antusiasme Jamaah dalam Kajian Ahad Pagi 

Kajian Rutin Ahad Pagi Bersama Ustadz Zein Faqih Ahad, 21 Juni 2026 Alhamdulillah, pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, jamaah kembali mengikuti kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih.  
Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah SAW serta perubahan besar yang beliau bawa bagi peradaban manusia, khususnya di Jazirah Arab. Mengenal Jazirah Arab Sebelum Islam Dalam kajian dijelaskan bahwa istilah Arab erat kaitannya dengan wilayah padang pasir yang luas. Secara geografis, Jazirah Arab berada di antara dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Imperium Romawi di bagian barat laut dan Imperium Persia di bagian timur. Meskipun berada di antara dua imperium besar tersebut, bangsa Arab saat itu tidak dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Namun dari wilayah yang tampak sederhana inilah kemudian lahir sebuah peradaban besar yang mengubah sejarah dunia, yaitu Peradaban Islam. 
Kondisi Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW lahir dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dari suku Quraisy di Makkah. Sebelum beliau diutus sebagai Rasul, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai Jahiliyah, yaitu masa kebodohan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam aspek kehidupan. Masyarakat Arab terdiri dari banyak suku yang sering terlibat perselisihan dan peperangan.  
Fanatisme kesukuan sangat kuat sehingga masalah kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Pembagian Bangsa Arab Dalam kajian disampaikan bahwa bangsa Arab secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok:  
1. Arab Baidah  
Arab Baidah adalah bangsa Arab kuno yang telah punah dan jejak peradabannya sebagian besar telah hilang dari sejarah. Contohnya adalah kaum 'Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur'an.  
2. Arab Aribah  
Arab Aribah merupakan Arab asli yang berasal dari wilayah Yaman. Mereka dikenal sebagai bangsa Arab murni yang mempertahankan bahasa dan budaya Arab sejak masa lampau.  
3. Arab Musta'ribah  
Arab Musta'ribah adalah bangsa Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS yang kemudian berbaur dengan masyarakat Arab asli. Dari kelompok inilah lahir suku Quraisy dan kemudian Nabi Muhammad SAW.  

Datangnya Islam Mengubah Peradaban  

Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Arab. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya yang ada, tetapi menghilangkan keburukan dan menyempurnakan kebaikan yang telah dimiliki masyarakat Arab.  
1. Perubahan Aspek Politik  
Sebelum Islam, masyarakat Arab hidup dalam sistem kesukuan yang terpecah-pecah. Loyalitas hanya diberikan kepada suku masing-masing. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mempersatukan berbagai suku dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Contoh: Suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya bermusuhan bertahun-tahun berhasil dipersatukan oleh Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok melalui Piagam Madinah.  
2. Perubahan Aspek Keyakinan  
Sebelum Islam, mayoritas masyarakat Arab menyembah berhala. Di sekitar Ka'bah terdapat ratusan patung yang dijadikan sesembahan selain Allah. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, yaitu menyembah Allah semata. Contoh: Berhala-berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan ketika Fathu Makkah. Masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala beralih menjadi penyembah Allah SWT.  
3. Perubahan Aspek Ekonomi  
Pada masa jahiliyah, praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi sangat marak. Islam mengajarkan perdagangan yang jujur dan adil. Contoh: Larangan riba yang merugikan masyarakat. Kewajiban zakat sebagai sarana pemerataan ekonomi. Anjuran berdagang secara jujur sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin.  
4. Perubahan Aspek Sosial Kemasyarakatan  
Sebelum Islam, perempuan sering diperlakukan tidak adil bahkan sebagian bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Islam datang membawa penghormatan terhadap martabat manusia. Contoh: Larangan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Perempuan memperoleh hak waris dan hak mendapatkan pendidikan. Budaya saling menolong, menyantuni yatim dan fakir miskin semakin berkembang.  

Islam Menghilangkan Keburukan dan Menyempurnakan Kebaikan  

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya Arab. Rasulullah SAW mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada dan memperbaiki hal-hal yang buruk.  
Kebaikan yang Dipertahankan  
1. Sifat Dermawan  
Bangsa Arab terkenal suka menjamu tamu. Islam mempertahankan dan menjadikannya sebagai ibadah. Contoh: Rasulullah SAW menganjurkan memuliakan tamu sebagai bagian dari keimanan.  
2. Keberanian  
Keberanian bangsa Arab diarahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Contoh: Para sahabat berjuang mempertahankan Islam dengan penuh keberanian.  
3. Menepati Janji  
Budaya menjaga kehormatan dan komitmen tetap dipertahankan dalam Islam. Contoh: Rasulullah SAW selalu menepati janji, bahkan kepada non-Muslim.  

Keburukan yang Dihilangkan  
1. Penyembahan Berhala Diganti dengan tauhid kepada Allah SWT.  
2. Fanatisme Suku Diganti dengan persaudaraan sesama muslim dan persaudaraan kemanusiaan.  
3. Riba dan Kecurangan Diganti dengan transaksi yang jujur dan adil.  
4. Penindasan terhadap Perempuan Diganti dengan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan.  
Pelajaran untuk Kehidupan Saat Ini Kajian Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa perubahan masyarakat tidak terjadi dengan kekerasan, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan akhlak. Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat yang penuh konflik menjadi umat yang memimpin peradaban dunia. Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani cara Rasulullah SAW dalam memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada serta berusaha menghilangkan berbagai keburukan yang masih terjadi di tengah masyarakat.  
Semoga kajian Ahad pagi ini semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mendorong kita untuk meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Wallahu a'lam bish-shawab.


Share:

Pelaksanaan Ibadah Qurban 1447 H

Mengolah Daging untuk didistribusikan

BANJARNEGARA – Pelaksanaan ibadah Qurban 1447 Hijriah di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan nilai gotong royong yang tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 27 Mei 2026 tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.  
Panitia Qurban Masjid Al Mu’minun mencatat bahwa tahun ini sebanyak 6 ekor sapi dengan 42 shohibul qurban. Pelaksanaan qurban tahun 1447 H ini menjadi pelaksanaan kelima sejak pertama kali dimulai pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Hal tersebut menunjukkan semangat masyarakat dalam menjaga syariat Islam sekaligus mempertahankan tradisi ibadah sosial yang penuh manfaat.  
Ketua Panitia Qurban, H. Yusman, S.H.I., menyampaikan bahwa pelaksanaan qurban bukanlah kegiatan sederhana karena melibatkan banyak unsur, mulai dari shohibul qurban, panitia, penyembelih, proses distribusi, hingga masyarakat yang ikut membantu selama kegiatan berlangsung. Namun berkat kerja sama seluruh pihak, kegiatan dapat berjalan lancar dan tertib.  
Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kebersamaan dalam melayani masyarakat,” ujarnya. Pada pelaksanaan tahun ini, total dana pembelian 6 ekor sapi mencapai Rp144.000.000 dengan tambahan biaya penyelenggaraan dan operasional kegiatan. Penyembelihan dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Banjarnegara, kemudian daging didistribusikan kepada masyarakat setelah pelaksanaan Sholat Idul Adha. Total daging qurban yang berhasil didistribusikan mencapai 813 kilogram.  
Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 kilogram dibagikan kepada 42 shohibul qurban dengan masing-masing menerima 6 kilogram daging. Sementara sisanya dibagikan kepada masyarakat umum, asisten rumah tangga, warga sekitar, pondok pesantren, rumah qur’an, panti asuhan, hingga masyarakat di daerah yang jarang menikmati daging qurban.  
Menariknya, semangat kebersamaan dalam kegiatan ini begitu terasa karena hampir seluruh warga ikut terlibat membantu pelaksanaan qurban. Hal tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi sosial yang tumbuh di tengah masyarakat Gayam Permai. Selain pembagian daging, panitia juga menyalurkan kepala, kaki, dan kuku hewan qurban ke wilayah Desa Pesangkalan untuk dibagikan kepada masyarakat di beberapa dukuh, di antaranya Dukuh Kembaran Wetan, Dukuh Kembaran Kulon, dan Dukuh Gobang.  
Langkah ini dilakukan agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan. Pelaksanaan qurban juga melibatkan banyak relawan dalam berbagai bidang, mulai dari pengawasan, penyembelihan, distribusi, dokumentasi, keamanan, konsumsi, hingga kebersihan. Para ibu-ibu PKK turut aktif membantu penyediaan konsumsi bagi panitia dan relawan yang bekerja sejak pagi hari.  
Panitia berharap kegiatan qurban ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang manajemen, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah antarwarga. Selain itu, laporan kegiatan yang disusun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi untuk penyelenggaraan qurban pada tahun-tahun berikutnya.  
Melalui semangat qurban, masyarakat diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nilai pengorbanan, kepedulian terhadap sesama, serta kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan qurban di Masjid Al Mu’minun menjadi bukti bahwa ibadah qurban bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Semoga semangat berbagi dan gotong royong ini terus terjaga serta menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan.
Share:

Gerakan Sedekah Kreatif: Ibu-Ibu Asy-Syifa Gayam Permai Salurkan Hasil Bazar ke 5 Yayasan Sosial

Banjarnegara, 22 Maret 2026 – Semangat berbagi di bulan suci Ramadhan 1447 H tidak hanya terlihat melalui ibadah di dalam masjid, tetapi juga melalui aksi nyata di halamannya. Salah satu agenda unggulan dalam rangkaian Amaliyah Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun adalah Bazar Amal yang dikoordinir oleh Majelis Taklim Ibu-Ibu Asy-Syifa Perumahan Gayam Permai.  
Kegiatan yang dilaksanakan pada 8 Maret 2026 ini bukan sekadar ajang jual beli, melainkan sebuah jembatan kebaikan yang menghubungkan kepedulian warga dengan mereka yang membutuhkan. Bazar Hasil Sedekah Warga Keunikan dari Bazar ini adalah seluruh barang yang diperjualbelikan merupakan hasil shodaqoh dari Ibu-ibu Majelis Taklim Asy-Syifa dan seluruh warga Perumahan Gayam Permai.  
Warga dengan antusias menyumbangkan berbagai barang layak pakai hingga kebutuhan pokok untuk dijual kembali dengan harga terjangkau, di mana seluruh hasilnya diniatkan untuk donasi. "Antusiasme warga luar biasa. Ini membuktikan bahwa warga Gayam Permai memiliki jiwa kedermawanan yang tinggi untuk saling membantu melalui wadah Majelis Taklim kita," ujar salah satu perwakilan pengurus Asy-Syifa.  

Pentasarufan:  
Menjangkau Panti dan Yayasan Sosial Setelah melalui proses pengumpulan hasil penjualan, Majelis Taklim Asy-Syifa memastikan amanah warga sampai ke tangan yang tepat. Hasil Bazar tersebut telah ditasarufkan (disalurkan) kepada beberapa institusi sosial dan pendidikan di wilayah Banjarnegara, antara lain: 

Griya Qur'an Amanah  

Panti Asuhan (PA) Al-Hidayah Gemuruh  :



PA PKU Aisyiyah Cabang Blambangan  :


PA Al-Munawarroh Banjarnegara : 


Yayasan BAKESOS Kauman Banjarnegara :





Penyaluran ini diharapkan dapat membantu operasional panti asuhan dan yayasan dalam membina anak-anak yatim serta dhuafa, terutama dalam menyambut hari raya Idul Fitri. Bagian dari "Menu Ramadhan" 1447 H Kegiatan Bazar Amal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari kalender kegiatan Amaliyah Ramadhan Masjid Al-Mu’minun. Hal ini menunjukkan bahwa fungsi masjid di Perumahan Gayam Permai sangat dinamis—tidak hanya sebagai tempat shalat, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan perempuan dan aksi kemanusiaan. 
Melalui langkah nyata Majelis Taklim Asy-Syifa, kita diajarkan bahwa sedekah tidak harus selalu dalam bentuk uang tunai langsung. Barang-barang yang kita miliki, jika dikelola dengan manajemen yang baik seperti kegiatan Bazar ini, dapat berubah menjadi aliran pahala yang menjangkau banyak panti asuhan di Banjarnegara. Terima kasih kepada Ibu-ibu Majelis Taklim Asy-Syifa dan seluruh donatur warga Gayam Permai. Semoga menjadi amal jariyah yang terus mengalir.
Share:

Menyiapkan Bekal untuk Hari Esok

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki malam ke-7 Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias mendengarkan siraman rohani selepas salat Isya. Pada Senin malam, 23 Februari 2026, Bapak M. Susyanto menyampaikan materi yang sangat menggugah kesadaran kita tentang pentingnya merancang masa depan akhirat melalui kacamata Surah Al-Hasyr
Bapak M. Susyanto mengawali kultumnya dengan membacakan potongan ayat yang menjadi fondasi bagi setiap muslim dalam melangkah:
 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١


Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
eliau menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah tegas dari Allah untuk melakukan Muhasabah atau evaluasi diri. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: "Bekal apa yang sudah saya kirimkan untuk perjalanan panjang setelah kematian nanti?"
.....
Dalam ulasannya, Bapak M. Susyanto menekankan bahwa perintah memperhatikan "hari esok" diapit oleh perintah bertakwa. Artinya, perencanaan masa depan kita tidak akan bernilai di mata Allah jika tidak didasari oleh rasa takut dan cinta kepada-Nya (Taqwa). "Takwa bukan hanya status, tapi tindakan nyata. Di bulan puasa ini, kita dilatih untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap detik aktivitas kita," ujar beliau.
Salah satu poin penutup yang sangat menyentuh dalam ceramah Bapak M. Susyanto adalah peringatan bahwa: "Innallaha khabirun bima ta'malun" (Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan). Beliau mengingatkan jamaah warga Gayam Permai bahwa tidak ada satu pun amalan yang terlewat dari pengamatan Allah. Baik itu sedekah yang sembunyi-sembunyi, rasa sabar saat menghadapi ujian, hingga kejujuran kita dalam berpuasa. Semua dicatat dengan ketelitian yang sempurna. "Jika kita sadar Allah Maha Teliti, maka kita akan lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Ramadhan ini harus menjadi ajang bagi kita untuk memperbaiki kualitas 'bekal' tersebut agar saat Allah menelitinya kelak, kita termasuk golongan yang beruntung," tambah beliau.





Share:

Menjaga Kesempurnaan Puasa dan Kelapangan Hati: Catatan Kajian Ramadhan bersama Ustadz Ulil Albab

Banjarnegara, 19 Februari 2026 – Memasuki hari-hari awal di bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan kesejukan ruhani melalui kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga esensi puasa di tengah perbedaan dan melatih hati agar mencapai derajat taqwa yang hakiki. 

1. Khilafiyah: Perbedaan yang Tak Perlu Diperbesar Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan pesan persatuan. Masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat—termasuk perbedaan penentuan awal Ramadhan—adalah hal yang wajar dalam dinamika ijtihad. "Janganlah perbedaan ini diperbesar hingga merusak ukhuwah. Fokus kita bukanlah pada kapan kita mulai, tapi pada bagaimana kualitas ibadah kita selama bulan mulia ini," pesan beliau. Kelapangan dada dalam menerima perbedaan adalah ciri kematangan iman seorang muslim. 

2. Fadilah Umat Rasulullah dan Mukjizat Al-Qur'an Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diberikan keistimewaan berupa bulan Ramadhan. Kemuliaan bulan ini tak lepas dari peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an). Ustadz Ulil menjelaskan ada dua fadilah besar yang harus kita kejar: Fadilah Waktu: Setiap detik di bulan Ramadhan adalah keberkahan. Fadilah Membaca Al-Qur'an: Berkhidmat (berbakti dan berinteraksi) dengan Al-Qur'an bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghadirkan Al-Qur'an dalam hati. Siapa pun yang memuliakan Al-Qur'an, Allah pasti akan menjamin keberkahan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. 

3. Menjaga Kesempurnaan Puasa Banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, Ustadz Ulil mengingatkan untuk menjaga kesempurnaan puasa. Tidak hanya menahan mulut dari makan, tapi juga menahan mata, telinga, dan lisan dari hal-hal yang sia-sia agar pahala yang didapat tetap sempurna di sisi Allah SWT. 

4. Senyum Rasulullah: Kisah Keajaiban Memaafkan Salah satu momen paling menyentuh dalam kajian ini adalah saat Ustadz menceritakan sebuah riwayat tentang Rasulullah SAW yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. Beliau menceritakan dialog di akhirat antara seseorang yang didzalimi dan orang yang mendzaliminya. Si korban menuntut keadilan atas kedzaliman yang ia terima. Namun, Allah memperlihatkan sebuah istana yang megah di surga. Allah berfirman bahwa istana itu milik mereka yang mau memaafkan saudaranya. Akhirnya, orang yang didzalimi tersebut memilih untuk memaafkan, bahkan ia menggandeng tangan orang yang pernah mendzaliminya untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. "Inilah puncak dari akhlak mulia: mengajak orang yang pernah menyakiti kita untuk menuju kebaikan," tambah Ustadz Ulil. 

5. Ramadhan sebagai Madrasah Hati Tujuan akhir dari puasa adalah Taqwa. Namun, taqwa tidak akan tercapai tanpa pembentukan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pelatihan hati untuk mengikis rasa sombong, dendam, dan egois. Jika hati telah terbentuk, maka ketaqwaan akan lahir secara alami dalam tindakan sehari-hari. 

Semoga kajian dari Ustadz Ulil Albab ini menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk menjalani Ramadhan 1447 H dengan lebih berkualitas. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget