Showing posts with label Slide. Show all posts
Showing posts with label Slide. Show all posts

Jalur Tedekat Menuju Surga

Bp. Eko Sadino
Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-12 Ramadhan 1447 H, Kamis malam, 27 Februari 2026, Ceramah Tarawih bersama Bapak Eko Sadino menyampaikan tausiyah yang mengingatkan kita kembali pada akar keberkahan hidup, yaitu Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain). 
Di tengah kesibukan mengejar pahala ibadah Ramadhan, kita sering lupa bahwa ada pintu surga yang paling dekat namun sering terabaikan, yakni rida kedua orang tua kita. 

1. Perintah Allah yang Mutlak (QS. Al-Isra: 23) 
Bapak Eko Sadino membuka ceramahnya dengan membacakan QS. Al-Isra ayat 23, yang menempatkan perintah berbakti kepada orang tua langsung setelah perintah menyembah Allah. 

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
 
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra: 23

 Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan kewajiban mutlak bagi setiap muslim. 

2. Kunci Keberkahan: Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua 
Beliau menekankan sebuah prinsip fundamental dalam Islam: keberhasilan, kemudahan rezeki, dan keselamatan hidup kita berbanding lurus dengan rida orang tua kita.  

Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi) 
"Jangan harap hidup akan berkah jika kita masih sering membuat orang tua kita sedih atau sakit hati," tegas Bapak Eko Sadino. 

3. Cara Nyata Berbakti (Birrul Walidain)  
Sebagai panduan praktis bagi warga Gayam Permai, beliau memaparkan beberapa cara untuk berbakti, baik saat orang tua masih ada maupun sudah tiada:  
  • Berbicara Sopan dan Merendahkan Diri: Tidak membentak dan memperlakukan mereka dengan penuh penghormatan.  
  • Mendoakan dan Memohon Ampun: Rutin mendoakan agar Allah merahmatinya sebagaimana mereka merawat kita di waktu kecil.  
  • Menjaga Kehormatan Mereka: Tidak mengumbar aib orang tua dan selalu menjaga nama baik mereka.  
  • Bersedekah Atas Nama Orang Tua: Memberikan sedekah dengan niat pahalanya mengalir untuk orang tua, terutama jika mereka sudah wafat.  
  • Menafkahi dan Merawat di Usia Senja: Memberikan nafkah materi dan merawat mereka dengan sabar saat mereka sudah tidak berdaya. 

Untuk Warga Gayam Permai Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulihkan hubungan dengan orang tua. Jika mereka masih ada, peluklah mereka, mintalah maaf, dan layani mereka. Jika mereka sudah tiada, jadikanlah setiap sujud kita sebagai sarana mengirim doa terbaik untuk mereka.





Share:

Dua Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan Manusia

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan, Masjid Al-Mu’minun pada hari ke-11 Ramadhan 1447 H, bertepatan dengan tanggal 27 Februari 2026. Ustadz Jundi hadir memberikan untaian ilmu yang sangat relevan bagi kita yang sedang berjuang menyucikan diri di bulan suci ini. Berikut adalah sari pati kajian yang beliau sampaikan: 

1. Rasa "Ganjal" di Hati: Tanda Iman Masih Hidup 
Ustadz Jundi mengingatkan bahwa setiap mukmin memiliki sebuah perangkat canggih yang diberikan Allah secara cuma-cuma, yaitu nurani atau "alarm hati". "Setiap keburukan atau kemaksiatan pasti menyisakan rasa mengganjal di hati. Jika Anda merasa tidak tenang setelah berbuat salah, itu adalah nikmat besar. Artinya, iman Anda masih hidup dan Allah sedang memanggil Anda untuk segera pulang (bertaubat)," jelas beliau. 

2. Waspada: Dua Nikmat yang Sering Menipu 
Salah satu poin penting yang beliau tekankan adalah tentang dua hal yang seringkali tidak disyukuri secara maksimal hingga keduanya hilang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ: "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari). Ustadz Jundi mengajak warga Gayam Permai untuk memanfaatkan masa sehat dan waktu luang di bulan Ramadhan ini untuk beribadah, sebelum datang masa sakit atau masa sibuk yang menghalangi kita dari ketaatan.  

3. Samudra Ampunan Allah Tanpa Batas Beliau juga membakar semangat jamaah dengan mengingatkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Allah telah menyediakan "pembersih dosa otomatis" melalui rutinitas ibadah kita. 
 "Antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).  

4. Senjata Utama: Doa-Doa Pilihan 
Di akhir kajian, Ustadz Jundi memberikan ijazah doa agar kita konsisten dalam kebaikan: 

Doa Memohon Kekuatan Beribadah: 
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu). 

 Doa Memohon Ilmu dan Rezeki: 
 Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan. 
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima). 

Akhir Kajian Subuh ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menunda-nunda amal shalih. Selagi badan masih sehat dan waktu luang masih tersedia di bulan Ramadhan, mari kita perbanyak doa dan taubat. Semoga kita termasuk orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan ini dalam keadaan bersih dari dosa.
Dipandu oleh MC : Rahman Bin Lukman



Share:

Sombong: Penyakit Hati yang Menghalangi Pintu Surga

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-11 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun terasa begitu khidmat. Pada Kamis malam, 26 Februari 2026, Bapak Idit Hernowo menyampaikan materi ceramah tarawih yang sangat mendalam tentang salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu Sombong (Kibr). Peringatan ini bukan tanpa alasan, sebab Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits: 

 "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim). 

Lantas, bagaimana cara kita mendeteksi dan mengobatinya? Berikut adalah tiga poin utama yang disampaikan beliau: 

1. Berani Mengakui Kebenaran 
Bapak Idit Hernowo menekankan bahwa sombong bukan soal pakaian bagus atau kendaraan mewah, melainkan sikap mental. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Nabi ﷺ: 

 "Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun naas)." (HR. Muslim). 

Seringkali ego kita menghalangi kita untuk menerima masukan jika datangnya dari orang yang kita anggap "lebih rendah". Orang yang rendah hati (tawadhu) adalah mereka yang siap tunduk pada kebenaran, siapapun yang membawanya.  

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain 
Cikal bakal kesombongan adalah merasa lebih baik dari orang lain. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai menjaga hati dari perasaan "lebih suci". Ingatlah firman Allah SWT: 

 “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). 

Membandingkan diri hanya akan melahirkan rasa bangga diri (ujub). Padahal, setiap kelebihan hanyalah titipan. Orang yang tawadhu justru akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana hadits: "Tidaklah seseorang tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim). 

3. Perbanyak Zikir sebagai Penawar 
Sebagai "obat", Bapak Idit mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir. Dengan mengagungkan Allah, kita sadar bahwa hanya Allah yang berhak memiliki sifat Al-Mutakabbir (Maha Megah/Sombong). Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: 

 "Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mencabutnya salah satu dari keduanya dariku, maka Aku akan menyiksanya." (HR. Muslim). 

Zikir membuat kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang kecil, sehingga tak ada lagi alasan untuk membusungkan dada di hadapan sesama tetangga maupun di hadapan Allah. 
Semua Ramadhan adalah momen terbaik untuk "diet" ego. Mari kita buka diri pada kebenaran, hargai setiap perbedaan tanpa membandingkan, dan basahi lisan kita dengan zikir agar kesombongan tidak punya tempat di hati kita.
Share:

Stop Jadikan Puasa "Kambing Hitam" Kemalasan!


Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh di Masjid Al-Mu’minun pada Kamis, 26 Februari 2026, menghadirkan pembahasan yang menggugah nalar dan iman. Bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, jamaah diajak menyelami "Ilmu Munasabah" (keterkaitan antar ayat) dalam Al-Qur'an, khususnya posisi ayat-ayat puasa yang ternyata diapit oleh perintah-perintah yang sangat berat. 

1. Ilmu Munasabah: Mengapa Ayat Puasa "Terjepit" di Antara Ayat Berat? 
Dalam kajiannya, Ustadz Ulil Albab menjelaskan bahwa ayat tentang puasa dalam Surah Al-Baqarah tidak berdiri sendiri. Puasa diapit oleh ayat-ayat tentang: 
Wasiat dan Qishos (Hukuman): Aturan hukum yang menuntut keadilan ekstrem.  
Haji dan Perceraian: Ibadah yang menguras fisik/harta serta urusan rumah tangga yang menguras emosi. 
Refleksi: Mengapa demikian? Karena puasa adalah "kawah candradimuka" atau latihan mental. Puasa diletakkan di tengah-tengah ayat berat tersebut sebagai isyarat bahwa untuk menjalankan hukum Allah yang berat (seperti qishos atau menghadapi perceraian), seseorang butuh kekuatan pengendalian diri yang hanya didapat melalui puasa yang serius. 


2. Puasa: Sabar yang Diperjuangkan 
Puasa adalah bentuk kesabaran tingkat tinggi. Namun, Ustadz Ulil menekankan bahwa puasa perlu diperjuangkan, bukan sekadar dijalani dengan pasif. "Allah tidak hanya menginginkan kita tidur saja selama berpuasa. Meskipun tidur orang puasa itu ibadah dan berpahala, namun Allah lebih mencintai hamba-Nya yang tetap produktif dan berjuang di tengah rasa haus dan lapar," tegas beliau. 

3. Stop Menjadikan Puasa sebagai "Kambing Hitam" Kemalasan 
Fenomena yang sering terjadi adalah puasa dijadikan alasan untuk: 
  • Terlambat masuk kerja.  
  • Tidur berlebihan sepanjang hari.  
  • Menurunkan kualitas pelayanan kepada sesama. 

Ustadz Ulil mengingatkan bahwa Ramadhan tidak boleh menjadi tameng untuk kemalasan. Justru, sejarah mencatat banyak kemenangan besar Islam (seperti Perang Badar) terjadi saat para sahabat sedang berpuasa. 

4. Puasa Berkualitas sebagai "Tabungan Terakhir" 
Beliau menyampaikan sebuah fakta menyentuh tentang akhirat. Kelak, ada orang-orang yang pahala shalat, zakat, dan hajinya habis diambil oleh orang-orang yang pernah didzaliminya saat di dunia (orang yang bangkrut(muflis). Namun, ketika puasa seseorang berkualitas, pahala itulah yang akan tetap menjadi miliknya dan menjadi tiket masuk surga, karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia antara hamba dan Pencipta-Nya.  

5. Al-Qur'an: Penentu Derajat di Surga 
Di bulan suci ini, ibadah yang paling dianjurkan selain puasa adalah berinteraksi dengan Al-Qur'an. Ustadz Ulil Albab, sebagai seorang Hafidz, mengingatkan: 
Sedekah Terbaik: Adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan.  
Derajat di Surga: Kedudukan kita di surga kelak tergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering kita membaca Al-Qur'an selama di dunia. Setiap ayat yang kita baca akan menaikkan posisi kita setingkat demi setingkat di surga-Nya. 

 Mindset bahwa Ramadhan itu jadi malas-malasan adalah bertolak belakang. Jangan biarkan puasa kita hanya menjadi rutinitas menahan lapar yang berakhir dengan tidur seharian. Mari kita perkuat perisai diri, tingkatkan sedekah, dan hiasi setiap detik dengan tilawah Al-Qur'an agar derajat kita meninggi di hadapan Allah SWT.

Share:

10 Perkara Sia-Sia di Bulan Ramadhan

MC dari TPQ
Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki pekan kedua Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar Kajian Subuh yang penuh makna pada Senin, 23 Februari 2026. Menghadirkan Ustadz Lukman, AMd, kajian kali ini membawa pesan mendalam tentang syukur dan waspada terhadap hal-hal yang dapat menghanguskan pahala kita. 
Kegembiraan yang Berdasar Ustadz Lukman mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan kita untuk senantiasa bergembira menyambut dan menjalani Ramadhan. Mengapa? Karena Ramadhan adalah kesempatan yang sangat dirindukan, bahkan oleh mereka yang sudah mendahului kita. 
 "Seandainya orang yang sudah wafat bisa kembali ke dunia, satu-satunya waktu yang ingin mereka jumpai adalah bulan Ramadhan untuk beribadah. Maka, sungguh beruntung kita yang masih diberi nafas hari ini," ujar beliau. 
Kesempurnaan Ciptaan dan Amanah Ibadah  
Beliau juga menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Namun, kesempurnaan fisik dan akal itu akan menjadi hujah (tuntutan) di akhirat jika tidak digunakan untuk menghamba kepada-Nya. 10 Perkara Sia-Sia yang Harus Dihindari Dalam inti kajiannya, Ustadz Lukman memaparkan 10 perkara yang sering kali menjadi sia-sia, terutama jika dibiarkan berlalu begitu saja di bulan Ramadhan:  
Ilmu yang Tidak Diamalkan: Mengetahui keutamaan ibadah namun tidak mempraktikkannya.  
Ibadah yang Sia-sia: Melakukan ritual ibadah namun tidak memenuhi syarat, rukun, atau tidak ikhlas.  
Harta yang Tidak Diinfakkan: Memiliki kelebihan rezeki namun kikir untuk berbagi di bulan kedermawanan.  
Hati yang Kosong dari Rindu kepada Allah: Hati yang hanya sibuk dengan urusan duniawi tanpa getaran kerinduan pada Sang Pencipta.  
Anggota Badan yang Tidak untuk Beribadah: Mata, telinga, dan tangan yang tidak digunakan untuk ketaatan.  
Cinta yang Tidak untuk Perintah Allah: Mencintai mahluk atau dunia melebihi cintanya pada aturan Allah.  
Waktu yang Terbuang: Melewatkan detik demi detik Ramadhan tanpa dzikir, tilawah, atau amal saleh.  
Pikiran yang Tidak Bermanfaat: Menghabiskan energi pikiran untuk hal-hal yang buruk atau tidak berfaedah.  
Tidak Mengharap Ridho Allah: Beramal hanya karena ikut-ikutan atau ingin dipuji manusia (riya).  
Tidak Menimbulkan Kebermanfaatan: Hidup yang hanya untuk diri sendiri tanpa memberi dampak positif bagi orang lain di sekitarnya. 

Mumpung Masih Ada Waktu Di akhir kajian, Ustadz Lukman mengajak jamaah warga Gayam Permai untuk mengevaluasi diri. Jangan sampai kesempurnaan yang Allah berikan justru berakhir pada kesia-siaan. Ramadhan adalah momentum untuk memastikan bahwa ilmu, harta, waktu, dan pikiran kita semuanya bernilai ibadah.





Share:

Puasa: Syariat Lintas Zaman

Kultum Tarawih Gayam Permai, 
22 Februari 2026 
Bersama Nurkholis, S.E. 
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Dalam Kultum Tarawih tanggal 22 Februari 2026, Bapak Nurkholis, S.E. menyampaikan pesan yang mengajak jamaah melihat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ibadah yang telah diwariskan sejak umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Puasa bukan ibadah baru. Ia adalah tradisi para nabi, sekaligus ibadah istimewa yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Puasa Telah Diwajibkan Sebelum Umat Nabi Muhammad SAW Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: 
 “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga umat-umat terdahulu. Artinya, puasa adalah ibadah universal yang menjadi sarana pembinaan ketakwaan sepanjang sejarah kenabian. Tujuan utamanya jelas: la’allakum tattaqun agar kamu bertakwa. Keistimewaan Puasa Ramadhan Puasa memiliki banyak keistimewaan dibanding ibadah lainnya: 

1. Puasa Adalah Milik Allah 
 Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Mengapa demikian? Karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Orang lain bisa melihat kita shalat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Tetapi puasa? Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah. Kita bisa saja berpura-pura, tetapi hakikat puasa adalah kejujuran batin. Puasa mendidik kita untuk jujur pada diri sendiri. 

2. Latihan Mengendalikan Diri 
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga: Menahan amarah Menahan lisan Menahan pandangan Menahan hawa nafsu Jika seseorang hanya menahan makan tetapi lisannya tetap menyakiti, maka hakikat puasanya belum tercapai. Dalam kultum disampaikan sebuah perumpamaan yang menarik: ular setelah berpuasa tetaplah ular. Sifatnya tidak berubah. Ia tetap berbisa dan membahayakan. 
Pesan ini sangat dalam. Jika setelah Ramadhan sifat kita masih sama, masih mudah marah, masih iri, masih suka menyakiti maka jangan-jangan puasa kita baru sebatas lapar dan haus, belum sampai pada perubahan akhlak. 

Hikmah Puasa: Pahala dan Introspeksi Diri 
Puasa adalah ladang pahala yang luar biasa. Setiap detik kesabaran, setiap rasa haus, setiap upaya menahan diri, semuanya bernilai ibadah. Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum introspeksi. Ramadhan mengajak kita bertanya pada diri sendiri: 
  • Sudahkah saya jujur dalam pekerjaan? 
  • Sudahkah saya menjaga amanah? 
  • Sudahkah saya memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama? 
  • Sudahkah saya bersungguh-sungguh dalam ibadah? 

Puasa melatih kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia dan menengok ke dalam hati. Jujur pada Diri Sendiri Salah satu pesan kuat dalam kultum ini adalah tentang kejujuran. Puasa mengajarkan integritas. Saat sendirian, tidak ada yang mengawasi. Tetapi kita tetap memilih untuk taat. Inilah pendidikan ruhani yang luar biasa. Jika kejujuran ini terbawa setelah Ramadhan, maka puasa benar-benar telah membentuk karakter. 
Tetapi jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita perlu mengevaluasi diri. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah madrasah pembinaan jiwa. Penutup Puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita. Puasa adalah ibadah istimewa yang Allah klaim sebagai milik-Nya secara khusus. Puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri. Semoga kita tidak menjadi seperti ular yang setelah berpuasa tetap berbisa. Semoga Ramadhan benar-benar mengubah hati, lisan, dan perilaku kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang meraih derajat takwa. Wallahu a’lam bishawab.







Share:

Buah Khuldi: Peristiwa, Iri Iblis, dan Hikmah

Kajian Subuh Ramadhan, 22 Februari 2026 Bersama Ustadz Susianto, S.K.M Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam. Pada Kajian Subuh, 22 Februari 2026, Ustadz Susianto, S.K.M mengajak jamaah menyelami kembali salah satu kisah paling penting dalam sejarah manusia: peristiwa Nabi Adam AS dan buah Khuldi. 
Kisah ini bukan sekadar cerita awal penciptaan manusia, tetapi pelajaran besar tentang godaan, iri hati, pengakuan dosa, dan rahmat Allah SWT. 

1. Peristiwa Buah Khuldi 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 35: 
 “Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35) 

Larangan itu jelas. Surga penuh kenikmatan, tetapi ada satu batas yang tidak boleh dilanggar. Namun dalam Surah Al-A’raf ayat 21 disebutkan bagaimana iblis menggoda dengan sumpah dan rayuan: 

 “Dan dia (iblis) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku ini termasuk para penasihatmu.’” (QS. Al-A'raf: 21) 

Iblis membungkus godaan dengan kata-kata manis, seolah-olah ia adalah penasihat yang tulus. Di sinilah letak awal ujian manusia: tidak semua yang terdengar baik itu benar. 

2. Rasa Iri Iblis: Awal Kejatuhan 
Sebelum peristiwa buah Khuldi, ada sebab besar yang melatarinya: iri hati. Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua taat kecuali iblis. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 34: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34) 

Kemudian dalam Surah Al-A’raf ayat 12, iblis mengungkapkan kesombongannya: 
 “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'raf: 12) 

Iri melahirkan kesombongan. Kesombongan melahirkan pembangkangan. Pembangkangan melahirkan permusuhan abadi terhadap manusia. Inilah akar masalahnya. Iblis tidak terima dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Ia merasa lebih unggul. Kajian ini mengingatkan kita: iri hati adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menghapus kebaikan dan menjerumuskan pada kebinasaan.

3. Pengakuan Nabi Adam: Jalan Taubat 
Setelah memakan buah yang dilarang, Nabi Adam AS dan Hawa menyadari kesalahan mereka. Yang menarik, respon mereka berbeda dengan iblis. Iblis menyalahkan takdir dan menolak bertanggung jawab. Nabi Adam justru mengakui kesalahan dan memohon ampun. Dalam Surah Al-A’raf ayat 23 disebutkan doa mereka: 

 “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A'raf: 23) 

 Inilah pelajaran luar biasa: manusia mulia bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena berani mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah. Ramadhan adalah momentum untuk meneladani sikap Nabi Adam AS—jujur pada diri sendiri dan segera bertaubat. 

4. Hikmah di Balik Peristiwa Buah Khuldi 
Peristiwa ini menyimpan banyak hikmah: 
1️⃣ Manusia Pasti Diuji Surga pun memiliki batasan. Hidup di dunia tentu lebih banyak ujiannya. 
2️⃣ Godaan Datang dengan Kemasan Indah Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, tetapi dengan sumpah dan janji manis. 
3️⃣ Bahaya Iri dan Sombong Kesombongan iblis menjadi sebab kehancurannya. Penyakit hati ini harus kita waspadai. 
4️⃣ Taubat adalah Kemuliaan Kesalahan bukan akhir segalanya. Taubat yang tulus justru mengangkat derajat manusia. 
5️⃣ Dunia adalah Tempat Pembuktian Turunnya Nabi Adam AS ke bumi bukan sekadar hukuman, tetapi awal amanah sebagai khalifah. 

Kajian Subuh ini mengajak kita merenung: 
Apakah kita lebih sering seperti iblis yang membenarkan diri? 
Ataukah seperti Nabi Adam AS yang segera mengakui kesalahan? 
Ramadhan adalah bulan latihan membersihkan iri, menundukkan ego, dan membiasakan diri untuk kembali kepada Allah dengan rendah hati. Semoga kita termasuk hamba yang ketika tergelincir, segera bangkit dengan taubat. Semoga hati kita dijauhkan dari iri dan kesombongan. Dan semoga Ramadhan ini menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih bertakwa. Wallahu a’lam bishawab.













Share:

Lebih Mulia dari Syahid? Rahasia di Balik Umur yang Berkah

 


Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Jumat di bulan Ramadhan selalu membawa suasana spiritual yang berbeda. Pada ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun, 21 Februari 2026, Bapak Budi Prasojo membagikan sebuah kisah yang sangat menggugah hati tentang betapa berharganya kesempatan hidup hingga menjumpai bulan suci Ramadhan. 
Beliau mengangkat kisah seorang sahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah, yang bermimpi tentang tingkatan surga dua orang sahabat lainnya. Mimpi yang Mengherankan Dikisahkan, ada dua orang pria yang datang kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam bersamaan. Salah satunya sangat bersemangat dalam jihad hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada (mati syahid). Sementara sahabat yang satunya lagi wafat setahun kemudian karena sakit. 
Dalam mimpinya, Thalhah melihat dirinya berada di depan pintu surga bersama kedua orang tersebut. Tiba-tiba, malaikat keluar dan mempersilakan orang yang mati karena sakit untuk masuk surga terlebih dahulu. Baru setelah itu, orang yang mati syahid dipersilakan masuk. Thalhah terbangun dengan rasa heran. Secara logika manusia, bukankah derajat syuhada adalah yang tertinggi? Mengapa yang mati karena sakit justru masuk lebih dulu? 

Rahasia Satu Tahun dan Satu Ramadhan 
Thalhah kemudian menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada para sahabat, "Apa yang membuat kalian heran dari mimpi itu?" Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, orang ini mati syahid di jalan Allah, tapi mengapa yang wafat belakangan (karena sakit) malah masuk surga lebih dulu?" Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menjadi inti ceramah Bapak Budi Prasojo malam itu: "Bukankah orang yang kedua ini hidup setahun lebih lama setelah temannya? Bukankah ia masih mendapati Bulan Ramadhan dan berpuasa di dalamnya? Bukankah ia masih sempat melakukan sekian ribu rakaat sujud dalam setahun itu?" 

Pesan Bapak Budi Prasojo: Jangan Sia-siakan Waktu 
Melalui kisah ini, Bapak Budi Prasojo menekankan kepada jamaah warga Gayam Permai bahwa: 
  • Nilai Waktu Ibadah: Tambahan umur yang diberikan Allah adalah peluang emas. Satu tahun tambahan hidup berarti ribuan sujud tambahan dan satu kesempatan Ramadhan yang nilainya luar biasa. 
  • Keajaiban Ramadhan: Ibadah di bulan Ramadhan memiliki bobot pahala yang mampu melampaui amalan-amalan besar lainnya jika dilakukan dengan ikhlas dan maksimal. 
  • Syukur Atas Kesempatan: Kita yang saat ini sedang menjalani Ramadhan 1447 H adalah orang-orang pilihan yang diberi kesempatan oleh Allah untuk "menyalip" derajat orang lain melalui ibadah di bulan ini. 

Kita tidak tahu siapa di antara kita yang akan sampai pada Ramadhan tahun depan," ujar Bapak Budi di akhir ceramahnya. Kisah Thalhah ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan setiap rakaat tarawih, setiap ayat yang dibaca, dan setiap jam puasa yang kita jalani sekarang. Karena bisa jadi, Ramadhan inilah yang akan mengangkat derajat kita lebih tinggi di akhirat kelak.




Share:

Menata Hati Bersama Bapak Suyadi, S.Pd., M.Pd.

Banjarnegara, 23 Februari 2026 – Suasana khidmat menyelimuti malam keenam Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun, Perumahan Gayam Permai. Selepas salat Isya berjamaah, para jamaah menyimak ceramah tarawih yang disampaikan oleh Bapak Suyadi, S.Pd., M.Pd. Beliau membawakan tema yang sangat relevan dengan tujuan puasa, yaitu "Hati yang Bersih" (Qolbun Salim).
Sebagai seorang pendidik, Bapak Suyadi menyampaikan materinya dengan sangat terstruktur dan menyentuh sisi kemanusiaan yang mendalam.

1. Hati sebagai Penentu Kebaikan Jasad 
Mengawali ceramahnya, Bapak Suyadi mengutip hadis Rasulullah SAW yang sangat populer tentang segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh jasad, dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh jasad. "Ramadhan bukan sekadar menahan lapar fisik, tapi 'puasa' hati dari penyakit-penyakit yang mengotori jiwa," terang beliau. Hati yang bersih adalah aset paling berharga yang akan dibawa menghadap Allah kelak, sebagaimana disebut dalam Al-Qur'an sebagai Qolbun Salim. 

2. Musuh Hati: Iri, Dengki, dan Sombong 
Bapak Suyadi menjelaskan bahwa di lingkungan sosial, termasuk di lingkungan perumahan, hati sering kali diuji dengan penyakit internal.
Iri dan Dengki: Merasa tidak senang atas nikmat orang lain. Sombong: Merasa lebih baik dari sesama. "Di bulan penuh ampunan ini, mari kita 'cuci' hati kita. Bersihkan dari rasa benci kepada tetangga, buang jauh-jauh rasa bangga diri yang berlebihan, dan ganti dengan rasa syukur serta kasih sayang," ajak beliau kepada jamaah warga Gayam Permai.
 
3. Literasi Hati melalui Ramadhan 
Beliau juga menekankan bahwa orang yang memiliki hati yang bersih cenderung memiliki pikiran yang positif (husnudzon). Di era informasi yang cepat ini, hati yang bersih menjadi filter agar kita tidak mudah terhasut oleh berita bohong atau prasangka buruk kepada sesama. Ramadhan melatih kita untuk jujur pada diri sendiri. Kejujuran itulah yang menjadi langkah awal menuju pembersihan hati. 

4. Indikator Hati yang Bersih 
Di akhir tausiyahnya, Bapak Suyadi memaparkan ciri-ciri orang yang mulai berhasil membersihkan hatinya selama Ramadhan: 
  • Mudah Memaafkan: Tidak menyimpan dendam atas kesalahan orang lain. 
  • Senang Melihat Orang Lain Bahagia: Tidak ada rasa sesak saat tetangga mendapat nikmat. 
  • Tenang dalam Ibadah: Shalat dan tadabbur Al-Qur'an terasa lebih nikmat dan meresap ke dalam jiwa. 
Ceramah tarawih malam ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa target akhir Ramadhan bukan hanya perubahan pola makan, melainkan transformasi hati. Semoga melalui bimbingan Bapak Suyadi, S.Pd., M.Pd., kita semua dimampukan untuk memiliki hati yang bersih hingga hari kemenangan tiba.




Share:

Menyucikan Diri: Catatan Kajian Wudhu bersama Ustadz Akmal

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki hari keempat Ramadhan 1447 H, suasana fajar di Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai terasa semakin sejuk. Sabtu, 21 Februari 2026, jamaah kembali berkumpul untuk menyimak kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Akmal. Tema yang diangkat kali ini sangat mendasar namun krusial bagi keabsahan ibadah kita: Fiqih Wudhu. 

Ustadz Akmal membuka kajian dengan mengingatkan bahwa wudhu bukan sekadar rutinitas membasuh air ke kulit, melainkan syarat sahnya shalat dan sarana penggugur dosa. 

1. Rukun Wudhu: Tiang Keabsahan 
Ustadz Akmal menekankan bahwa rukun wudhu adalah hal yang wajib ada. Jika salah satu ditinggalkan, maka wudhu tersebut tidak sah. Berdasarkan pandangan mayoritas ulama, terdapat 6 rukun wudhu: 
  • Niat: Dilakukan di dalam hati saat air pertama kali menyentuh bagian wajah. 
  • Basuh Wajah: Batasannya adalah dari tumbuhnya rambut kepala hingga dagu, dan dari telinga kanan hingga telinga kiri. 
  • Basuh Kedua Tangan: Wajib menyertakan kedua siku. 
  • Mengusap Sebagian Kepala: Meski hanya beberapa helai rambut. 
  • Basuh Kedua Kaki: Hingga kedua mata kaki. 
  • Tertib: Dilakukan secara berurutan, tidak boleh melompat-lompat. 
2. Sunah-Sunah Wudhu: 
Penyempurna Pahala Agar wudhu kita memberikan keberkahan yang lebih, Ustadz Akmal mengajak jamaah untuk menghidupkan kembali sunah-sunah Rasulullah SAW dalam berwudhu, di antaranya: 
  • Membaca Basmalah di awal wudhu. 
  • Bersiwak atau menggosok gigi (sangat dianjurkan sebelum wudhu). 
  • Mencuci kedua telapak tangan hingga pergelangan sebelum memulai rukun. 
  • Berkumur-kumur dan Istinsyaq (menghirup air ke hidung). 
  • Mendahului anggota tubuh bagian kanan (tayamun). 
  • Membasuh masing-masing anggota wudhu sebanyak tiga kali. 
  • Mengusap kedua telinga (luar dan dalam). 
  • Membaca doa setelah selesai wudhu. 

3. Pesan Khusus: 
Wudhu di Bulan Ramadhan Ustadz Akmal memberikan catatan penting bagi orang yang sedang berpuasa. Dalam hal Istinsyaq (menghirup air ke hidung) dan berkumur-kumur, Rasulullah SAW menganjurkan untuk bersungguh-sungguh kecuali bagi orang yang sedang berpuasa.  "Saat Ramadhan, lakukanlah secara wajar, jangan terlalu kuat menghirup air ke hidung agar air tidak masuk ke kerongkongan yang dapat membatalkan puasa," jelas beliau. 

4. Hikmah Spiritual Wudhu 
Menutup kajiannya, Ustadz Akmal mengingatkan bahwa air wudhu kelak akan menjadi cahaya (ghurran muhajjalin) bagi umat Nabi Muhammad SAW di hari kiamat. Wudhu adalah bentuk "distilasi" ruhani yang mempersiapkan hamba untuk menghadap Sang Pencipta dalam keadaan suci lahir dan batin. Semoga dengan memahami kembali rukun dan sunah wudhu ini, kualitas shalat kita di bulan Ramadhan semakin meningkat. Mari kita jadikan setiap tetesan air wudhu sebagai penghapus dosa dan pembawa ketenangan hati.





Share:

Syafa'at Tali Penyelamat di Hari yang Paling Berat

Ir. Lukman jarir
 (Catatan Kajian Subuh bersama Bp. Ir. Lukman Jarir) Gayam Permai, Banjarnegara – Mengawali pagi di hari-hari awal Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias menimba ilmu. Pada Jumat subuh, 20 Februari 2026, Bapak Ir. Lukman Jarir menyampaikan materi yang sangat menyejukkan hati sekaligus menjadi pengingat bagi kita semua, yaitu tentang Syafaat. 
Di tengah kekhawatiran kita akan tumpukan dosa dan minimnya amal, materi ini hadir sebagai harapan besar bagi setiap mukmin. Apa Itu Syafaat?  
Secara sederhana, Bapak Ir. Lukman Jarir menjelaskan bahwa syafaat adalah bantuan atau pembelaan yang diberikan oleh pihak-pihak tertentu (dengan izin Allah) kepada seorang mukmin untuk meringankan beban, menghapuskan dosa, atau meninggikan derajatnya di akhirat kelak. 
"Syafaat adalah bukti kasih sayang Allah. Saat amal kita mungkin belum cukup untuk menembus pintu surga, Allah membukakan pintu bantuan melalui Rasul-Nya dan amalan-amalan tertentu," urai beliau di hadapan jamaah. 

Pintu-Pintu Syafaat yang Bisa Kita Kejar  
Dalam kajian tersebut, beliau merinci beberapa sumber syafaat yang bisa kita usahakan mulai dari sekarang: 
1. Syafaat Rasulullah ﷺ (Syafaatul Udzma) Inilah syafaat terbesar. Rasulullah adalah satu-satunya Nabi yang menyimpan doa mustajabnya untuk membela umatnya di padang mahsyar. Beliau tidak akan ridha jika ada umatnya yang masih tertahan di pintu neraka. Cara Mendapatkannya: Memperbanyak shalawat dan menghidupkan sunnah-sunnah beliau dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan Gayam Permai.  
2. Syafaat Al-Qur’an Bapak Ir. Lukman mengingatkan sebuah hadits: "Bacalah Al-Qur'an, karena ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat bagi pembacanya." (HR. Muslim). Al-Qur'an akan menjadi pembela di alam kubur dan penuntun cahaya di jembatan Shirat.  
3. Syafaat Puasa Ramadhan Khusus di bulan suci ini, puasa yang kita jalani sedang "menabung" pembelaan. Kelak, Puasa akan berkata kepada Allah: "Ya Rabbi, aku telah menghalanginya dari makan dan syahwat di siang hari, maka izinkanlah aku memberi syafaat baginya."  
4. Syafaat Sahabat yang Shalih Inilah pentingnya bertetangga dan berkumpul di Masjid Al-Mu'minun. Sahabat yang shalih bisa mencari kita di surga kelak dan bertanya kepada Allah jika mereka tidak menemukan kita di sana.
 "Maka, carilah teman-teman yang mengajak pada kebaikan," pesan Bapak Ir. Lukman. 

Kajian dengan sebuah pesan mendalam. Syafaat memang ada, namun ia tidak diberikan kepada orang yang meremehkan syariat. Syafaat diberikan kepada mereka yang telah berusaha maksimal, namun masih memiliki kekurangan. "Jangan sampai kita berharap syafaat, tapi kita jauh dari Al-Qur'an dan jarang bershalawat. Mari kita jadikan sisa Ramadhan ini sebagai ajang 'mengetuk' pintu-pintu syafaat tersebut," pungkas beliau.

Share:

Menjaga Kesempurnaan Puasa dan Kelapangan Hati: Catatan Kajian Ramadhan bersama Ustadz Ulil Albab

Banjarnegara, 19 Februari 2026 – Memasuki hari-hari awal di bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan kesejukan ruhani melalui kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga esensi puasa di tengah perbedaan dan melatih hati agar mencapai derajat taqwa yang hakiki. 

1. Khilafiyah: Perbedaan yang Tak Perlu Diperbesar Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan pesan persatuan. Masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat—termasuk perbedaan penentuan awal Ramadhan—adalah hal yang wajar dalam dinamika ijtihad. "Janganlah perbedaan ini diperbesar hingga merusak ukhuwah. Fokus kita bukanlah pada kapan kita mulai, tapi pada bagaimana kualitas ibadah kita selama bulan mulia ini," pesan beliau. Kelapangan dada dalam menerima perbedaan adalah ciri kematangan iman seorang muslim. 

2. Fadilah Umat Rasulullah dan Mukjizat Al-Qur'an Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diberikan keistimewaan berupa bulan Ramadhan. Kemuliaan bulan ini tak lepas dari peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an). Ustadz Ulil menjelaskan ada dua fadilah besar yang harus kita kejar: Fadilah Waktu: Setiap detik di bulan Ramadhan adalah keberkahan. Fadilah Membaca Al-Qur'an: Berkhidmat (berbakti dan berinteraksi) dengan Al-Qur'an bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghadirkan Al-Qur'an dalam hati. Siapa pun yang memuliakan Al-Qur'an, Allah pasti akan menjamin keberkahan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. 

3. Menjaga Kesempurnaan Puasa Banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, Ustadz Ulil mengingatkan untuk menjaga kesempurnaan puasa. Tidak hanya menahan mulut dari makan, tapi juga menahan mata, telinga, dan lisan dari hal-hal yang sia-sia agar pahala yang didapat tetap sempurna di sisi Allah SWT. 

4. Senyum Rasulullah: Kisah Keajaiban Memaafkan Salah satu momen paling menyentuh dalam kajian ini adalah saat Ustadz menceritakan sebuah riwayat tentang Rasulullah SAW yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. Beliau menceritakan dialog di akhirat antara seseorang yang didzalimi dan orang yang mendzaliminya. Si korban menuntut keadilan atas kedzaliman yang ia terima. Namun, Allah memperlihatkan sebuah istana yang megah di surga. Allah berfirman bahwa istana itu milik mereka yang mau memaafkan saudaranya. Akhirnya, orang yang didzalimi tersebut memilih untuk memaafkan, bahkan ia menggandeng tangan orang yang pernah mendzaliminya untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. "Inilah puncak dari akhlak mulia: mengajak orang yang pernah menyakiti kita untuk menuju kebaikan," tambah Ustadz Ulil. 

5. Ramadhan sebagai Madrasah Hati Tujuan akhir dari puasa adalah Taqwa. Namun, taqwa tidak akan tercapai tanpa pembentukan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pelatihan hati untuk mengikis rasa sombong, dendam, dan egois. Jika hati telah terbentuk, maka ketaqwaan akan lahir secara alami dalam tindakan sehari-hari. 

Semoga kajian dari Ustadz Ulil Albab ini menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk menjalani Ramadhan 1447 H dengan lebih berkualitas. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget