Pentingnya Belajar Fiqih dalam Kehidupan Muslim


Islam adalah agama yang sempurna. Setiap ibadah yang dilakukan seorang muslim tidak cukup hanya dengan niat baik semata, tetapi juga harus sesuai dengan tuntunan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad ﷺ. Karena itulah ilmu fiqih menjadi sangat penting dipelajari oleh setiap muslim. Muhammad mengajarkan bahwa ibadah harus dilandasi ilmu, bukan sekadar kebiasaan, tradisi, atau perasaan. Banyak amalan terlihat baik di mata manusia, tetapi jika tidak memiliki dasar dari Al-Qur’an dan Sunnah, maka amalan tersebut dapat tertolak di sisi Allah. 
Ilmu fiqih membantu seorang muslim memahami: Mana yang wajib dan mana yang sunnah Mana yang halal dan mana yang haram Tata cara ibadah yang benar Hukum-hukum syariat dalam kehidupan sehari-hari Adab bermuamalah dengan sesama manusia Tanpa ilmu fiqih, seseorang bisa saja beribadah dengan semangat tinggi namun tidak sesuai tuntunan Rasulullah ﷺ. 
Pengertian Ilmu Fiqih Secara bahasa, fiqih berarti “pemahaman”. Sedangkan secara istilah, fiqih adalah ilmu yang mempelajari hukum-hukum syariat Islam yang berkaitan dengan amalan manusia berdasarkan dalil-dalil yang rinci. Fiqih membahas berbagai perkara seperti: 
Thaharah (bersuci) 
Shalat 
Puasa 
Zakat 
Haji 
Jual beli 
Pernikahan 
Warisan 
Hingga adab kehidupan sehari-hari 

Dengan mempelajari fiqih, seorang muslim akan mengetahui bagaimana cara beribadah yang benar sesuai petunjuk Rasulullah ﷺ. 
Salah satu prinsip terbesar dalam Islam adalah ibadah harus mengikuti tuntunan Nabi ﷺ, bukan berdasarkan hawa nafsu atau kebiasaan manusia. Allah Ta’ala berfirman: 
 “Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr: 7) 
Ayat ini menunjukkan bahwa seorang muslim wajib mengikuti petunjuk Rasulullah ﷺ dalam seluruh urusan agama. Rasulullah ﷺ juga bersabda: 
 “Barang siapa mengada-adakan dalam urusan kami ini sesuatu yang bukan darinya, maka ia tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim) 
Dalam riwayat lain disebutkan: 
 “Barang siapa melakukan suatu amalan yang tidak ada perintahnya dari kami, maka amalan itu tertolak.” (HR. Muslim) 
Hadits ini menjadi landasan penting bahwa ibadah tidak boleh dibuat-buat. Setiap amalan harus memiliki dalil yang sahih dari Al-Qur’an atau Sunnah. Syarat Diterimanya Amal Ibadah Para ulama menjelaskan bahwa diterimanya amal memiliki dua syarat utama:  
1. Ikhlas Karena Allah Amalan harus dilakukan semata-mata mengharap ridha Allah, bukan untuk dipuji manusia. Allah berfirman: “Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.” (QS. Al-Bayyinah: 5)  
2. Sesuai Sunnah Rasulullah ﷺ Ibadah harus mengikuti contoh Rasulullah ﷺ. Muhammad bersabda: “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR. Bukhari) Hal ini menunjukkan bahwa tata cara ibadah tidak boleh dibuat sendiri.  

Hal-Hal yang Perlu Dilakukan Seorang Muslim dalam Beribadah  
1. Menuntut Ilmu Sebelum Beramal Ilmu harus didahulukan sebelum amal. Banyak kesalahan ibadah terjadi karena kurangnya ilmu. Allah berfirman: “Maka ketahuilah bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad: 19) Ayat ini menunjukkan bahwa ilmu didahulukan sebelum ucapan dan amalan.  
2. Memastikan Ada Dalilnya Seorang muslim hendaknya bertanya: Apakah amalan ini pernah dicontohkan Rasulullah ﷺ? Apakah para sahabat melakukannya? Adakah dalil yang sahih tentang amalan tersebut? Jika tidak ada dalil, maka hendaknya berhati-hati untuk tidak mengamalkannya.  
3. Mengikuti Sunnah Menghidupkan sunnah merupakan tanda cinta kepada Rasulullah ﷺ. Allah berfirman: “Katakanlah: Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Ali Imran: 31)  
4. Menjauhi Bid’ah dalam Agama Bid’ah adalah perkara baru dalam ibadah yang tidak memiliki dasar syariat. Rasulullah ﷺ bersabda: “Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburuk-buruk perkara adalah yang diada-adakan, dan setiap bid’ah adalah sesat.” (HR. Muslim) Karena itu seorang muslim harus berhati-hati agar ibadahnya tidak tercampur dengan amalan yang tidak dicontohkan Nabi ﷺ.  
Contoh Amal yang Sesuai Sunnah Beberapa contoh amalan yang memiliki dalil kuat:  
Shalat lima waktu  
Shalat sunnah rawatib  
Puasa Ramadhan  
Puasa Senin-Kamis  
Membaca Al-Qur’an  
Dzikir pagi dan petang  
Bersedekah  
Menjaga silaturahmi  
Berbakti kepada orang tua 

Semua amalan tersebut memiliki contoh dan tuntunan dari Rasulullah ﷺ.  

Bahaya Beramal Tanpa Ilmu 
Beramal tanpa ilmu dapat menyebabkan: Ibadah tidak diterima Terjatuh pada kesesatan Menyebarkan amalan yang tidak benar Menganggap baik sesuatu yang tidak disyariatkan Karena itu para ulama sangat menekankan pentingnya belajar agama dari sumber yang benar. Kedudukan Sunnah dalam Islam Sunnah Rasulullah ﷺ adalah penjelas Al-Qur’an. Tidak mungkin seorang muslim memahami Islam dengan benar tanpa mengikuti Sunnah. Allah berfirman:  

“Dan Kami turunkan kepadamu Adz-Dzikr (Al-Qur’an) agar engkau menjelaskan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.” (QS. An-Nahl: 44) 

Maka mengikuti Sunnah adalah bentuk ketaatan kepada Allah. Penutup Ilmu fiqih adalah cahaya yang membimbing seorang muslim agar ibadahnya benar dan diterima Allah. Semangat beribadah harus dibarengi dengan ilmu dan ittiba’ kepada Rasulullah ﷺ. Jangan sampai seseorang rajin beramal namun ternyata amalannya tidak memiliki tuntunan dari Nabi ﷺ sehingga menjadi tertolak. Seorang muslim hendaknya selalu: Belajar agama dari sumber yang benar Mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah Memastikan setiap ibadah memiliki dalil Menjauhi bid’ah dan perkara yang diada-adakan dalam agama Semoga Allah memberikan kepada kita ilmu yang bermanfaat, amal yang ikhlas, dan kemampuan untuk istiqamah mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ. Aamiin.

Share:

Bagi Sohibul Qurban: Jangan Potong Rambut dan Kuku Dulu!

Bulan Dzulhijjah merupakan salah satu bulan mulia dalam Islam. Jika merujuk pada penanggalan yang dikeluarkan Muhammadiyah maka Tanggal, 17 Mei 2026 ini sudah memasuki tanggal 1 Dzulhijjah. Pada bulan ini, umat Islam diberi kesempatan untuk memperbanyak amal saleh, termasuk ibadah qurban yang menjadi syiar agung penghambaan kepada Allah سبحانه وتعالى. 
Di antara adab penting bagi orang yang hendak berqurban adalah tidak memotong rambut dan kuku ketika telah masuk sepuluh hari pertama Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. 
 Rasulullah ﷺ bersabda: 

 “Apabila telah masuk sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan salah seorang dari kalian ingin berkurban, maka janganlah ia memotong rambut dan kukunya sedikit pun sampai ia menyembelih kurbannya.” (HR. Muslim No. 1977) 

Makna Hadits Hadits ini menunjukkan adanya anjuran khusus bagi shahibul qurban (orang yang berqurban) untuk menahan diri dari memotong rambut, kuku, maupun bagian kulit sejak masuk tanggal 1 Dzulhijjah hingga hewan qurbannya disembelih. Larangan ini bukan berarti haram menurut sebagian besar ulama, namun termasuk sunnah yang sangat dianjurkan untuk dijaga sebagai bentuk penghormatan terhadap ibadah qurban.  
Hikmah di Balik Larangan Ini Para ulama menjelaskan beberapa hikmah dari anjuran tersebut, di antaranya:  
1. Menyempurnakan Penghambaan kepada Allah Orang yang berqurban dianjurkan menjaga seluruh anggota tubuhnya agar tetap utuh hingga hewan qurbannya disembelih, sebagai simbol kesempurnaan ibadah dan ketundukan kepada Allah.  
2. Menyerupai Sebagian Keadaan Jamaah Haji Sebagian ulama menjelaskan bahwa shahibul qurban memiliki kemiripan dengan jamaah haji yang sedang ihram, yaitu sama-sama berada dalam suasana ibadah besar dan pengagungan syiar Allah.  
3. Menghidupkan Sunnah Nabi ﷺ Menahan diri dari memotong rambut dan kuku adalah bentuk ittiba’ (mengikuti sunnah Rasulullah ﷺ).  
Seorang muslim menunjukkan kecintaannya kepada Nabi dengan menjalankan tuntunan beliau meskipun tampak sederhana.  

Momentum Memperbanyak Amal Saleh Sepuluh hari pertama Dzulhijjah adalah hari-hari yang sangat dicintai Allah. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak ada amal saleh yang lebih dicintai Allah dibanding amal pada hari-hari tersebut. Karena itu, selain mempersiapkan qurban, seorang muslim hendaknya memperbanyak: Dzikir dan takbir Tilawah Al-Qur’an Sedekah Puasa sunnah, terutama Arafah Taubat dan istighfar Membantu sesama 
Ibadah qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga latihan ketakwaan dan kepatuhan kepada Allah سبحانه وتعالى. Menjaga rambut dan kuku di awal Dzulhijjah merupakan bagian dari adab dan sunnah yang menunjukkan kesungguhan seorang muslim dalam mengagungkan syiar Allah. Semoga Allah menerima amal qurban kita, melimpahkan keberkahan pada keluarga kita, dan menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang bertakwa. Aamiin.
Share:

Kajian Rutin Ahad Pagi Dilanjutkan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H

Kajian Rutin Ahad Pagi dan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Alhamdulillah, dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: 
  • Hari/Tanggal: Ahad, 17 Mei 2026 
  • Pasaran: Ahad Wage 
  • Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba’da Subuh) 
  • Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 
  • Pemateri: Ustadz Yusman 
Kajian rutin ini menjadi salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman Islam, memperkuat akidah, serta menambah wawasan keilmuan umat. Materi yang disampaikan mencakup pembahasan seputar tafsir, tauhid, fiqih, adab, dan akhlak. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmunya, maka Allah akan memudahkan baginya langkah menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan dan keberkahan hidup. Dengan menghadiri majelis ilmu, seorang muslim tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan agama, tetapi juga memperoleh ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain kajian rutin, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H yang dilaksanakan setelah kajian selesai, sekitar pukul 05.15 WIB. Kegiatan kordinasi ini bertujuan untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai syariat. Seluruh Sohibul Qurban diundang untuk hadir dalam rapat koordinasi guna membahas berbagai persiapan teknis pelaksanaan qurban tahun 1447 H.  
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antarwarga, sehingga pelaksanaan ibadah qurban nantinya dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.  
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir serta meramaikan majelis ilmu ini. Semoga kegiatan yang dilaksanakan menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah. Atas kehadiran dan partisipasi seluruh jamaah serta Sohibul Qurban, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.  
Tentang Masjid Al Mu’minun Masjid Al Mu’minun merupakan pusat kegiatan keislaman di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah, kajian rutin, pendidikan Al-Qur’an, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan semangat kebersamaan dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Masjid Al Mu’minun terus berupaya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.  
Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
Share:

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

Siroh Nabawiyah: Tujuan Mempelajarinya | Kajian Ahad Pahing

Siroh Nabawiyah: Belajar dari Jejak Hidup Rasulullah ﷺ

Dalam perjalanan hidup seorang muslim, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya dari sisi hukum atau ibadah semata. Kita membutuhkan teladan nyata bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pentingnya mempelajari Siroh Nabawiyah.

Siroh bukan sekadar kisah sejarah, tetapi panduan hidup yang penuh hikmah dan relevan sepanjang zaman.

Apa Itu Siroh Nabawiyah?

Siroh Nabawiyah adalah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak lahir hingga wafat, yang mencakup berbagai fase penting:

  • Masa sebelum kenabian
  • Turunnya wahyu pertama
  • Dakwah di Makkah
  • Hijrah ke Madinah
  • Pembangunan masyarakat Islam

Melalui siroh, kita tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga memahami nilai, kesabaran, dan strategi dalam menghadapi kehidupan.

Tujuan Mempelajari Siroh Nabawiyah

1. Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Semakin mengenal beliau, semakin tumbuh kecintaan yang menjadi pondasi keimanan.

2. Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan

Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai pemimpin, ayah, maupun sahabat.

3. Memahami Islam Secara Utuh

Siroh membantu memahami konteks turunnya ayat Al-Qur’an sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

4. Menguatkan Iman dan Kesabaran

Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ penuh ujian, namun beliau tetap istiqomah. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

5. Mengambil Hikmah Dakwah

Dakwah membutuhkan hikmah, kesabaran, dan strategi yang tepat. Semua ini dapat dipelajari dari siroh.

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

📅 Ahad Pahing
🎙 Pemateri: Ustadz Zein Faqih
📍 Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai

Penutup

Mempelajari siroh bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

Semoga kajian ini menjadi awal perjalanan kita untuk lebih mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Kegiatan Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan

 

Jadwal Kegiatan Harian, Mingguan, Bulanan dan Tahunan 

Jadwal Kegiatan Mingguan

Kegiatan Mingguan

Kegiatan Harian

Kegiatan Bulanan

Kegiatan Bulanan


Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget