Menelisik Keutamaan Umroh dari Sudut Pandang Iman dan Sains

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana subuh yang sejuk di Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada Rabu, 18 Maret 2026 terasa begitu istimewa. Dalam rangkaian Menu Ramadhan salah satunya adalah Kuliah Subuh Ramadhan 1447 H, jamaah mendapatkan siraman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar, S.T., M.T., MBA, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. 
Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? 

Melalui hadits Rasulullah ï·º, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan.
Lihat juga di : Instagram GP
Lihat juga di : Tiktok

Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan Itu Datang Tak Terduga  
Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa  "Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya". Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci  
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ï·º dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam.  

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh:  
  • Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
  • Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
  • Total jarak sekitar 5,5–7 km  
Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat—penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil. Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya.  
Menutup dengan Harapan Kuliah subuh ini ditutup dengan pesan mendalam: jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.
Share:

Menjadi Pemenang di Garis Finis Ramadhan

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki fase akhir Ramadhan 1447 H, suasana di Masjid Al-Mu’minun pada Senin pagi, 16 Maret 2026, terasa sedikit berbeda. Ustadz Lukman, AMd dalam Kajian Subuhnya membedah sebuah realitas menarik tentang berbagai tipe manusia saat Ramadhan akan segera berakhir. Beliau membagi sikap manusia ke dalam beberapa tipe yang menjadi cermin bagi kita semua untuk berefleksi:  
1. Tipe "Pelari Maraton" (The Finisher) 
Ini adalah tipe yang ideal. Ibarat pelari maraton, mereka justru mempercepat langkah saat melihat garis finis. Semakin akhir Ramadhan, mereka justru semakin kencang ibadahnya. Masjid tetap penuh, tilawah semakin dikhatamkan, dan sedekah semakin deras. Mereka sadar bahwa "Jackpot" Lailatul Qadar ada di ujung perjalanan.  
2. Tipe "Kelelahan di Tengah Jalan"  
Tipe ini mengawali Ramadhan dengan semangat yang meledak-ledak di minggu pertama, namun energinya habis di pertengahan. Saat Ramadhan akan berakhir, mereka mulai terlihat "loyo" atau jarang muncul di masjid. Fokus mereka mulai teralihkan oleh persiapan lebaran yang bersifat duniawi sehingga esensi sepuluh hari terakhir terabaikan.   
3. Tipe "Fokus pada Gerbang Keluar"  
Bagi tipe ini, Ramadhan seolah-olah menjadi beban yang ingin segera diselesaikan. Mereka lebih banyak menghitung hari kapan lebaran tiba daripada menghitung berapa banyak amalan yang sudah dilakukan. Fokusnya sudah berpindah dari sajadah ke mudik, baju baru, atau rencana liburan.  
4. Tipe "Pecinta yang Sedih"  
Tipe ini adalah mereka yang merasa sedih dan berat hati saat Ramadhan akan berakhir. Mereka merasa waktu berjalan terlalu cepat dan merasa belum maksimal dalam beribadah. Doa mereka adalah agar bisa dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun depan karena mereka tahu betapa berharganya setiap detik di bulan ini. 
Ustadz Lukman, AMd Dalam kajiannya, Bapak Lukman mengingatkan bahwa Allah melihat bagaimana seseorang menutup amalannya (Husnul Khatimah). Beliau mengajak seluruh warga Gayam Permai untuk berusaha menjadi tipe pertama sang pelari maraton. "Jangan biarkan kesibukan persiapan Idul Fitri mengalahkan kemuliaan malam-malam terakhir Ramadhan. Mari kita kencangkan ikat pinggang dan maksimalkan sisa waktu yang ada," pungkas beliau.
Share:

Garis Finis Sudah Dekat! Saatnya Sprint Ramadhan

Memasuki Selasa pagi, 17 Maret 2026, suasana Kajian Subuh di Masjid Al-Mu’minun terasa kian membara. Di saat banyak orang mulai merasa lelah, kajian kali ini justru mengajak jamaah untuk melakukan "sprint" atau lari kencang di sisa hari-hari terakhir Ramadhan 1447 H. Berikut adalah intisari dari refleksi pagi yang sangat menggugah yang disampaikan oleh Ustadz Yusman, SHI:  
1. Ramadhan adalah Lomba Maraton,  
Bukan Lari Pendek Ustadz dalam kajiannya memberikan analogi yang sangat menarik. Ramadhan bukanlah lari sprint 100 meter yang selesai dalam sekejap, melainkan sebuah lomba maraton sepanjang 30 hari. Dalam maraton, kunci utamanya adalah konsistensi dan keistiqomahan dalam menjaga ritme napas serta tenaga. Banyak orang yang semangat di awal (minggu pertama), namun mulai bertumbangan di tengah jalan. Namun, seorang pelari sejati tahu bahwa kemenangan ditentukan di kilometer terakhir.  
2. Saatnya Melakukan "Sprint" di Akhir  
Kini, saat kita berada di penghujung Ramadhan, inilah saatnya melakukan sprint. Jika sebelumnya kita sudah istiqomah dengan ritme yang stabil, maka di hari-hari terakhir ini kita harus menambah kecepatan. I’tikaf: Menjemput Lailatul Qadar dengan memperbanyak berdiam diri di masjid untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tadabbur Al-Qur'an: Bukan sekadar mengejar target khatam, tapi semakin mendalami maknanya di sisa waktu yang ada. Shalat Malam: Mengencangkan ikat pinggang untuk memperlama sujud dan memperbanyak doa.  


3. Belajar dari 9 Sahabat Nabi: Kaya Raya namun Bertakwa  
Ustadz juga mematahkan mitos bahwa untuk menjadi ahli ibadah seseorang harus meninggalkan dunia. Beliau mencontohkan bahwa dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, 9 di antaranya adalah orang-orang yang kaya raya. Sebut saja Abdurrahman bin Auf atau Utsman bin Affan. Kekayaan mereka tidak menghalangi mereka untuk menjadi "pelari maraton" terbaik di jalan Allah. Justru dengan kekayaan tersebut, mereka melakukan sprint amal jariyah. "Hingga detik ini, ribuan tahun setelah mereka tiada, pahala ibadah dan wakaf mereka masih terus mengalir deras. Inilah wujud nyata dari keberhasilan mengelola dunia untuk akhirat."  
4. Menjaga Ritme Hingga Idul Fitri  
Keistiqomahan yang dibangun selama Ramadhan harus dijaga agar tidak "kempes" setelah garis finis dilewati. Sprint di akhir Ramadhan ini bertujuan agar saat Idul Fitri tiba, kita benar-benar keluar sebagai pemenang yang telah memberikan kemampuan terbaik kita. 
Melalui Kajian Subuh 17 Maret ini, kita diingatkan bahwa jangan sampai kita kalah di garis finis. Mari kita kencangkan sepatu "ibadah" kita, fokuskan pandangan pada rida Allah, dan lakukan sprint terakhir dengan i’tikaf dan kedermawanan seperti para sahabat Nabi.
Share:

Kesalihan Sosial

Gayam Permai, Banjarnegara – Sabtu pagi, 14 Maret 2026, suasana Masjid Al-Mu’minun terasa begitu hangat. Ustadz Susianto, SKM memberikan materi Kajian Subuh yang sangat menyentuh realitas sosial kita sehari-hari, yaitu tentang Adab Bertetangga. Beliau mengingatkan bahwa dalam Islam, tetangga memiliki kedudukan yang sangat mulia, bahkan urusan bertetangga menjadi salah satu barometer keimanan seseorang.  
1. Wasiat Malaikat Jibril yang Menakjubkan  
Ustadz Susianto membuka kajiannya dengan mengutip sebuah hadits yang sangat masyhur. Beliau menceritakan betapa seringnya Malaikat Jibril memberikan wasiat kepada Rasulullah ï·º untuk berbuat baik kepada tetangga. "Malaikat Jibril terus-menerus memberikan wasiat kepadaku untuk berbuat baik kepada tetangga, sampai-sampai aku mengira tetangga itu akan menjadi ahli waris (mendapatkan warisan)." Pesan ini sangat mendalam. Jika tetangga sampai dianggap seolah-olah akan mendapat warisan, berarti kedudukan tetangga sudah hampir setara dengan keluarga inti. Ini adalah pengingat bagi warga Gayam Permai bahwa orang yang paling pertama menolong kita saat kesusahan bukanlah saudara yang jauh, melainkan tetangga yang tembok rumahnya bersentuhan dengan kita.  
2. Landasan Al-Qur'an:  
Perintah Berbuat Ihsan Ustadz Susianto juga menekankan bahwa perintah berbuat baik kepada tetangga tertulis jelas dalam Al-Qur'an. Beliau merujuk pada Surah An-Nisa (4) ayat 36: “Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh…” Dalam ayat ini, Allah menyejajarkan perintah beribadah kepada-Nya dengan perintah berbuat baik (ihsan) kepada tetangga. Ini menunjukkan bahwa kesalihan seseorang tidak hanya diukur dari sujudnya di masjid, tapi juga dari bagaimana hubungan sosialnya dengan lingkungan sekitar.  
3. Implementasi di Lingkungan Perumahan  
Sebagai praktisi kesehatan (SKM), Ustadz Susianto juga menyentuh sisi sosial-kesehatan. Beliau berpesan agar warga saling peduli terhadap kondisi tetangga. Jika ada tetangga yang sakit, segera jenguk. Jika memasak makanan yang aromanya sampai ke tetangga, maka bagilah sedikit masakan tersebut. Jangan membiarkan tetangga kelaparan sementara kita tidur dalam keadaan kenyang. 
Di akhir kajian, Ustadz Susianto mengajak kita semua untuk membuang jauh-jauh sikap individualis. Ramadhan adalah momen terbaik untuk mencairkan kekakuan antar tetangga. "Mari kita jadikan Gayam Permai bukan hanya sekumpulan rumah yang berjajar, tapi sekumpulan hati yang saling peduli dan saling menjaga karena Allah," tutup beliau.
Share:

Pengumpulan Zakat Fitrah





Menjelang akhir bulan suci Ramadhan, Takmir Masjid Al-Mu’minun melalui Panitia Ramadhan kembali membuka layanan penerimaan dan penyaluran Zakat Fitrah, Fidyah, Shadaqah, dan Zakat Maal. Kegiatan ini bertujuan untuk memfasilitasi warga Perumahan Gayam Permai dalam menyempurnakan ibadah puasa serta membantu saudara-saudara kita yang berhak menerima (Asnaf). Waktu dan Tempat Pengumpulan Panitia telah menyediakan beberapa titik layanan agar Bapak/Ibu/Sdr/i dapat menyetorkan zakat dengan lebih mudah dan nyaman: Tanggal: 13 s.d. 15 Maret 2026 
Waktu Layanan:  
Ba’da Shalat Tarawih atau Ba’da Shalat Ashar. 
Lokasi Penyetoran: Masjid Al-Mu’minun (Sekretariat Panitia)  
Rumah Bapak Trilas P.  
Rumah Bapak Yusman, S.HI.  
Rumah Bapak Susianto.  
Ketentuan Besar Zakat Fitrah Sesuai dengan Surat Edaran Bersama Kepala Kantor Kementerian Agama, Ketua Baznas, dan MUI Kabupaten Banjarnegara Tahun 1447 H / 2026 M, besaran zakat fitrah per jiwa dikategorikan berdasarkan jenis beras yang dikonsumsi sehari-hari: 

Jadwal Penyaluran Untuk memastikan manfaat zakat dapat segera dirasakan oleh penerima sebelum hari raya, panitia telah menetapkan jadwal penyaluran sebagai berikut: 

 Penyaluran Zakat: Senin, 16 Maret 2026. 

Mengingat jadwal penyaluran tersebut, kami memohon kepada seluruh muzakki (pembayar zakat) agar dapat menyerahkan zakatnya kepada panitia sebelum tanggal 16 Maret 2026. Mari Sempurnakan Puasa dengan Berbagi Zakat fitrah bukan sekadar kewajiban administratif, melainkan pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, sekaligus menjadi kegembiraan bagi fakir miskin di hari Idul Fitri.  
Semoga zakat yang Bapak/Ibu salurkan melalui Takmir Masjid Al-Mu’minun diterima oleh Allah SWT dan mendatangkan keberkahan bagi keluarga serta lingkungan kita. Aamiin Ya Rabbal 'Alamin. Panitia Zakat Fitrah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget