Jalur Tedekat Menuju Surga

Bp. Eko Sadino
Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-12 Ramadhan 1447 H, Kamis malam, 27 Februari 2026, Ceramah Tarawih bersama Bapak Eko Sadino menyampaikan tausiyah yang mengingatkan kita kembali pada akar keberkahan hidup, yaitu Berbakti kepada Orang Tua (Birrul Walidain). 
Di tengah kesibukan mengejar pahala ibadah Ramadhan, kita sering lupa bahwa ada pintu surga yang paling dekat namun sering terabaikan, yakni rida kedua orang tua kita. 

1. Perintah Allah yang Mutlak (QS. Al-Isra: 23) 
Bapak Eko Sadino membuka ceramahnya dengan membacakan QS. Al-Isra ayat 23, yang menempatkan perintah berbakti kepada orang tua langsung setelah perintah menyembah Allah. 

۞ وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا
 
Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, serta ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik." (QS. Al-Isra: 23

 Ini menunjukkan bahwa berbakti kepada orang tua bukanlah pilihan, melainkan kewajiban mutlak bagi setiap muslim. 

2. Kunci Keberkahan: Ridho Allah Tergantung Ridho Orang Tua 
Beliau menekankan sebuah prinsip fundamental dalam Islam: keberhasilan, kemudahan rezeki, dan keselamatan hidup kita berbanding lurus dengan rida orang tua kita.  

Ridho Allah tergantung pada ridho kedua orang tua, dan murka Allah tergantung pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi) 
"Jangan harap hidup akan berkah jika kita masih sering membuat orang tua kita sedih atau sakit hati," tegas Bapak Eko Sadino. 

3. Cara Nyata Berbakti (Birrul Walidain)  
Sebagai panduan praktis bagi warga Gayam Permai, beliau memaparkan beberapa cara untuk berbakti, baik saat orang tua masih ada maupun sudah tiada:  
  • Berbicara Sopan dan Merendahkan Diri: Tidak membentak dan memperlakukan mereka dengan penuh penghormatan.  
  • Mendoakan dan Memohon Ampun: Rutin mendoakan agar Allah merahmatinya sebagaimana mereka merawat kita di waktu kecil.  
  • Menjaga Kehormatan Mereka: Tidak mengumbar aib orang tua dan selalu menjaga nama baik mereka.  
  • Bersedekah Atas Nama Orang Tua: Memberikan sedekah dengan niat pahalanya mengalir untuk orang tua, terutama jika mereka sudah wafat.  
  • Menafkahi dan Merawat di Usia Senja: Memberikan nafkah materi dan merawat mereka dengan sabar saat mereka sudah tidak berdaya. 

Untuk Warga Gayam Permai Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulihkan hubungan dengan orang tua. Jika mereka masih ada, peluklah mereka, mintalah maaf, dan layani mereka. Jika mereka sudah tiada, jadikanlah setiap sujud kita sebagai sarana mengirim doa terbaik untuk mereka.





Share:

Dua Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan Manusia

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan, Masjid Al-Mu’minun pada hari ke-11 Ramadhan 1447 H, bertepatan dengan tanggal 27 Februari 2026. Ustadz Jundi hadir memberikan untaian ilmu yang sangat relevan bagi kita yang sedang berjuang menyucikan diri di bulan suci ini. Berikut adalah sari pati kajian yang beliau sampaikan: 

1. Rasa "Ganjal" di Hati: Tanda Iman Masih Hidup 
Ustadz Jundi mengingatkan bahwa setiap mukmin memiliki sebuah perangkat canggih yang diberikan Allah secara cuma-cuma, yaitu nurani atau "alarm hati". "Setiap keburukan atau kemaksiatan pasti menyisakan rasa mengganjal di hati. Jika Anda merasa tidak tenang setelah berbuat salah, itu adalah nikmat besar. Artinya, iman Anda masih hidup dan Allah sedang memanggil Anda untuk segera pulang (bertaubat)," jelas beliau. 

2. Waspada: Dua Nikmat yang Sering Menipu 
Salah satu poin penting yang beliau tekankan adalah tentang dua hal yang seringkali tidak disyukuri secara maksimal hingga keduanya hilang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ: "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari). Ustadz Jundi mengajak warga Gayam Permai untuk memanfaatkan masa sehat dan waktu luang di bulan Ramadhan ini untuk beribadah, sebelum datang masa sakit atau masa sibuk yang menghalangi kita dari ketaatan.  

3. Samudra Ampunan Allah Tanpa Batas Beliau juga membakar semangat jamaah dengan mengingatkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Allah telah menyediakan "pembersih dosa otomatis" melalui rutinitas ibadah kita. 
 "Antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).  

4. Senjata Utama: Doa-Doa Pilihan 
Di akhir kajian, Ustadz Jundi memberikan ijazah doa agar kita konsisten dalam kebaikan: 

Doa Memohon Kekuatan Beribadah: 
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu). 

 Doa Memohon Ilmu dan Rezeki: 
 Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan. 
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima). 

Akhir Kajian Subuh ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menunda-nunda amal shalih. Selagi badan masih sehat dan waktu luang masih tersedia di bulan Ramadhan, mari kita perbanyak doa dan taubat. Semoga kita termasuk orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan ini dalam keadaan bersih dari dosa.
Dipandu oleh MC : Rahman Bin Lukman



Share:

Shalat Sebagai Penolong

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan Masjid Al-Mu’minun pada Jumat, 27 Februari 2026 bersama Bp. Lukman Jarir.
Selain berada di bulan suci Ramadhan, hari ini bertepatan dengan Sayyidul Ayyam (Penghulunya Hari), yakni hari Jumat. Mengawali kajiannya, Ustadz Ir. Lukman Jarir mengingatkan para jamaah akan besarnya pelipatgandaan pahala di hari Jumat, terlebih ketika berada di dalam bulan Ramadhan. 
Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk tidak menyia-nyiakan momentum emas ini dengan meningkatkan kualitas ibadah, terutama ibadah yang paling utama: Shalat. 

Apa Itu Shalat? 
Sebelum membahas manfaatnya, Ustadz Lukman Jarir menjelaskan makna shalat dari dua sudut pandang:  
Secara Bahasa: 
Shalat berarti Doa. Ini menunjukkan bahwa setiap gerakan dan bacaan dalam shalat pada hakikatnya adalah permohonan seorang hamba kepada Sang Pencipta. 
Secara Istilah (Syariat): Shalat adalah ibadah yang terdiri dari perkataan dan perbuatan tertentu, yang diawali dengan Takbiratul Ihram dan diakhiri dengan Salam. 

 "Shalat bukan sekadar rutinitas fisik atau olahraga, melainkan bentuk penghambaan total dan komunikasi ruhani antara makhluk dengan Allah SWT," tegas beliau. 

1. Shalat: Perintah Langsung di Sidratul Muntaha  
Ustadz Lukman menekankan keistimewaan shalat dibandingkan ibadah lainnya. Jika zakat, puasa, dan haji diturunkan melalui malaikat Jibril di bumi, maka perintah shalat diterima langsung oleh Rasulullah ﷺ di Sidratul Muntaha saat peristiwa Isra Mi’raj. Ini menandakan bahwa shalat adalah tiang agama yang kedudukannya sangat krusial.  
2. Shalat sebagai Penolong (QS. Al-Baqarah: 153) 
Mengutip ayat Al-Qur'an, beliau menjelaskan bahwa shalat adalah kebutuhan manusia untuk mendapatkan kekuatan hidup. 

 “Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sungguh, Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 153). 

Saat masalah terasa berat, shalatlah yang menjadi tempat "istirahat" dan sarana memohon bantuan langsung kepada Pemilik Alam Semesta.  

3. Keseimbangan dalam Shalat: Kunci Kesempurnaan 
Agar shalat berbuah manfaat, ia harus dilakukan sesuai syarat dan rukun secara proporsional. Ustadz Lukman membagi kesempurnaan shalat menjadi tiga bagian setara (masing-masing 1/3): 
1/3 Bersuci (Thaharah): Shalat tidak akan diterima tanpa kesempurnaan wudhu dan kesucian lahiriah. 
1/3 Ruku’: Menandakan ketundukan dan pengakuan atas keagungan Allah.  
1/3 Sujud: Saat manusia berada di titik terendah secara fisik, namun secara spiritual berada di posisi paling dekat dengan Allah. 

4. Shalat sebagai Barometer Amal Lainnya 
Pesan penutup yang paling kuat adalah posisi shalat sebagai penentu. Di padang Mahsyar kelak, amalan yang pertama kali dihisab adalah shalat. "Shalat adalah barometer," tegas Ustadz Lukman. Jika shalatnya baik (sesuai rukun dan khusyuk), maka amalan lainnya akan dianggap baik. Jika shalatnya rusak, maka amalan lain akan sulit untuk menolong. 

Di hari Jumat yang berkah ini, mari kita perbaiki cara kita shalat. Mari kita jadikan shalat sebagai "kebutuhan" untuk tenang, bukan "beban" yang ingin cepat diselesaikan. Semoga dengan benarnya shalat kita, maka keberkahan hidup di lingkungan Perumahan Gayam Permai semakin melimpah.





Share:

Sombong: Penyakit Hati yang Menghalangi Pintu Surga

Gayam Permai, Banjarnegara – Malam ke-11 Ramadhan 1447 H di Masjid Al-Mu’minun terasa begitu khidmat. Pada Kamis malam, 26 Februari 2026, Bapak Idit Hernowo menyampaikan materi ceramah tarawih yang sangat mendalam tentang salah satu penyakit hati yang paling berbahaya, yaitu Sombong (Kibr). Peringatan ini bukan tanpa alasan, sebab Rasulullah ﷺ memberikan peringatan keras dalam sebuah hadits: 

 "Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi." (HR. Muslim). 

Lantas, bagaimana cara kita mendeteksi dan mengobatinya? Berikut adalah tiga poin utama yang disampaikan beliau: 

1. Berani Mengakui Kebenaran 
Bapak Idit Hernowo menekankan bahwa sombong bukan soal pakaian bagus atau kendaraan mewah, melainkan sikap mental. Hal ini sejalan dengan definisi yang diberikan oleh Nabi ﷺ: 

 "Sombong adalah menolak kebenaran (batharul haqq) dan meremehkan manusia (ghamthun naas)." (HR. Muslim). 

Seringkali ego kita menghalangi kita untuk menerima masukan jika datangnya dari orang yang kita anggap "lebih rendah". Orang yang rendah hati (tawadhu) adalah mereka yang siap tunduk pada kebenaran, siapapun yang membawanya.  

2. Berhenti Membandingkan Diri dengan Orang Lain 
Cikal bakal kesombongan adalah merasa lebih baik dari orang lain. Beliau berpesan agar warga Gayam Permai menjaga hati dari perasaan "lebih suci". Ingatlah firman Allah SWT: 

 “Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An-Najm: 32). 

Membandingkan diri hanya akan melahirkan rasa bangga diri (ujub). Padahal, setiap kelebihan hanyalah titipan. Orang yang tawadhu justru akan diangkat derajatnya oleh Allah, sebagaimana hadits: "Tidaklah seseorang tawadhu (rendah hati) karena Allah melainkan Allah akan mengangkat derajatnya." (HR. Muslim). 

3. Perbanyak Zikir sebagai Penawar 
Sebagai "obat", Bapak Idit mengajak jamaah untuk memperbanyak zikir. Dengan mengagungkan Allah, kita sadar bahwa hanya Allah yang berhak memiliki sifat Al-Mutakabbir (Maha Megah/Sombong). Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman: 

 "Kesombongan adalah pakaian-Ku dan keagungan adalah sarung-Ku. Barangsiapa yang mencabutnya salah satu dari keduanya dariku, maka Aku akan menyiksanya." (HR. Muslim). 

Zikir membuat kita sadar bahwa kita hanyalah hamba yang kecil, sehingga tak ada lagi alasan untuk membusungkan dada di hadapan sesama tetangga maupun di hadapan Allah. 
Semua Ramadhan adalah momen terbaik untuk "diet" ego. Mari kita buka diri pada kebenaran, hargai setiap perbedaan tanpa membandingkan, dan basahi lisan kita dengan zikir agar kesombongan tidak punya tempat di hati kita.
Share:

Ramadhan Datang, Tapi Hati Tak Tersentuh?

Kajian Subuh Ramadhan, 25 Feb 2025 bersama Ustadz Rakhmad
Ramadhan kembali menyapa. Masjid-masjid penuh. Lantunan ayat suci terdengar di mana-mana. Media sosial dipenuhi nasihat dan pengingat kebaikan. Namun ada satu pertanyaan yang diam-diam perlu kita ajukan pada diri sendiri: Apakah hati kita ikut hadir, atau hanya tubuh kita yang menjalani rutinitas?  
Ramadhan bukan sekadar perubahan jadwal makan. Ia adalah momentum perubahan jiwa. Allah membuka pintu ampunan selebar-lebarnya. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa di bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu. Artinya, suasana sudah Allah kondisikan agar manusia lebih mudah berbuat baik. 
Lalu jika di bulan semudah ini kita masih sulit meninggalkan maksiat, masih berat melangkah ke masjid, masih enggan membuka Al-Qur’an maka persoalannya bukan pada Ramadhan. Bisa jadi, persoalannya ada pada hati. Ramadhan adalah musim panen. Orang-orang beriman memanfaatkannya untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki shalat, menguatkan sedekah, dan membersihkan niat. Mereka sadar, belum tentu tahun depan masih bertemu bulan yang sama.  
Ustadz Rakhmat dalam Kajian Subuh Ramadhan mengingatkan: “Jika kita tidak mendapatkan kebaikan di bulan Ramadhan, seakan-akan kita tertutup dari kebaikan.” Kalimat ini bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk menggugah. Karena jika di bulan penuh rahmat saja kita tidak tersentuh, kapan lagi hati ini akan luluh?  
Ramadhan adalah cermin. Ia memperlihatkan kondisi hati kita yang sebenarnya. Jika hati lembut, ia akan menangis saat membaca Al-Qur’an. Jika hati hidup, ia akan gelisah ketika lalai. Namun jika hati keras, Ramadhan hanya akan berlalu seperti bulan-bulan biasa. Maka jangan biarkan Ramadhan hanya menjadi tradisi tahunan. Jadikan ia titik balik. Mulailah dari hal kecil: satu halaman Al-Qur’an setiap hari, satu sedekah sederhana, satu dosa yang benar-benar ditinggalkan. Karena Ramadhan tidak pernah salah. Yang perlu diperiksa adalah kesiapan hati kita menyambutnya. Semoga kita bukan hanya orang yang menjalani Ramadhan, tetapi orang yang diubah oleh Ramadhan.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget