Sudah Berilmu, Sudahkah Beramal? Muhasabah Diri dari Kajian Ahad Pagi

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah SWT yang telah melimpahkan nikmat iman, Islam, kesehatan, dan kesempatan kepada kita untuk terus menuntut ilmu agama. Pada Ahad pagi, 11 Oktober 2026, telah dilaksanakan kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz. Kajian kali ini membahas beberapa nasihat penting tentang kewajiban mengamalkan ilmu, menjauhi perilaku yang menyerupai kebiasaan setan, mengenali bisikan malaikat dan setan, serta pentingnya menjaga hati dan memperkuat keimanan.  
Kajian ini menjadi pengingat bagi setiap Muslim agar tidak hanya bersemangat dalam menuntut ilmu, tetapi juga berusaha menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.  
1. Celaka bagi Orang yang Tidak Mengamalkan Ilmunya  
Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah peringatan tentang bahaya memiliki ilmu, tetapi tidak mengamalkannya. Ilmu agama seharusnya menjadi petunjuk yang mengarahkan seseorang kepada kebaikan, memperbaiki akhlak, dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Seseorang yang telah mengetahui suatu kebenaran memiliki tanggung jawab untuk berusaha menjalankannya sesuai dengan kemampuan dan tuntunan syariat. Jangan sampai ilmu hanya berhenti pada lisan, catatan, atau sekadar menjadi bahan pembicaraan, sementara perilaku sehari-hari tidak mencerminkan apa yang telah dipelajari. Karena itu, setiap kali memperoleh ilmu baru, hendaknya kita bertanya kepada diri sendiri: sudahkah ilmu tersebut diamalkan? Sudahkah ilmu itu memperbaiki ibadah, akhlak, dan hubungan kita dengan sesama manusia? Ilmu yang bermanfaat bukan hanya ilmu yang banyak diketahui, melainkan juga ilmu yang mendorong pemiliknya semakin taat kepada Allah SWT.  
2. Menjauhi Perilaku yang Menyerupai Kebiasaan Setan  
Dalam kajian ini juga ditekankan pentingnya menjauhi berbagai perilaku yang dicontohkan atau menjadi kebiasaan setan, termasuk dalam perkara-perkara sederhana yang sering dilakukan tanpa disadari. Salah satu contoh yang disampaikan adalah makan dan minum sambil berjalan. Seorang Muslim hendaknya membiasakan diri makan dan minum dengan adab yang baik, memperhatikan tuntunan Rasulullah SAW, serta tidak menganggap remeh kebiasaan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur perkara besar seperti ibadah dan muamalah, tetapi juga mengajarkan adab dalam aktivitas keseharian. Oleh sebab itu, membiasakan perilaku yang baik merupakan bagian dari upaya memperbaiki diri dan mengikuti tuntunan agama. Setiap Muslim hendaknya berhati-hati dalam bertindak, membiasakan adab Islami, dan berusaha menjauhi segala sesuatu yang bertentangan dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya.  
3. Mengenali Bisikan Malaikat dan Bisikan Setan  
Materi berikutnya membahas tentang bisikan yang dapat memengaruhi hati dan perilaku manusia. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sering menghadapi dorongan untuk melakukan kebaikan maupun kecenderungan untuk melakukan keburukan. Bisikan yang mendorong seseorang kepada kebaikan, ketaatan, dan kebenaran perlu disambut dengan kesungguhan. Sebaliknya, bisikan yang mengajak kepada kemaksiatan, kesombongan, kemalasan dalam beribadah, atau perbuatan yang merugikan orang lain harus diwaspadai. Setan berusaha menyesatkan manusia dengan berbagai cara, termasuk melalui keraguan, keinginan yang berlebihan, dan kebiasaan menunda kebaikan. Oleh karena itu, seorang Muslim perlu senantiasa memohon perlindungan kepada Allah SWT agar hatinya tetap terjaga. Mengenali arah suatu dorongan batin juga perlu disertai ilmu dan pemahaman agama. Tidak setiap pikiran yang muncul harus diikuti. Kita perlu menimbangnya berdasarkan Al-Qur'an, sunah Rasulullah SAW, dan tuntunan para ulama.  
4. Amaliah Bergantung pada Hati  
Hati memiliki kedudukan yang sangat penting dalam kehidupan seorang Muslim. Hati berkaitan erat dengan niat, keikhlasan, dan kualitas amal yang dilakukan. Amalan yang tampak baik hendaknya disertai niat yang benar, yaitu mengharapkan rida Allah SWT, bukan semata-mata mencari pujian atau pengakuan manusia. Sebaliknya, hati yang terus dipelihara dengan iman akan membantu seseorang istiqamah dalam menjalankan kebaikan. Rasulullah SAW menjelaskan bahwa dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging yang apabila baik, maka baiklah seluruh tubuh, dan apabila rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa segumpal daging itu adalah hati. Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim.  
Pesan tersebut mengingatkan kita agar tidak hanya memperhatikan penampilan luar dan banyaknya amalan, tetapi juga memperhatikan keadaan hati. Sudahkah kita beramal dengan ikhlas? Sudahkah kita menjaga hati dari iri, dengki, sombong, dan riya? Sudahkah kita berusaha meluruskan niat dalam setiap aktivitas? Menjaga hati merupakan proses yang harus dilakukan terus-menerus melalui ilmu, ibadah, muhasabah, dan doa kepada Allah SWT.  
5. Membentengi Diri dari Bisikan Setan  
Agar tidak mudah terpengaruh oleh godaan setan, seorang Muslim perlu membangun benteng keimanan melalui amalan-amalan yang mendekatkan diri kepada Allah SWT. Beberapa amalan yang ditekankan dalam kajian ini antara lain:  
a. Memperbanyak zikir kepada Allah SWT Zikir membantu seorang hamba mengingat Allah dalam berbagai keadaan. Dengan membiasakan zikir pagi dan petang, membaca istigfar, serta mengucapkan kalimat-kalimat zikir yang diajarkan Rasulullah SAW, seorang Muslim berusaha menjaga hati agar tidak lalai.  
b. Menjaga wudu Membiasakan diri dalam keadaan suci merupakan salah satu bentuk ikhtiar untuk menjaga kebersihan dan mempersiapkan diri dalam beribadah. Wudu juga mengingatkan seorang Muslim agar senantiasa memperhatikan kesucian ketika hendak melaksanakan ibadah yang mensyaratkannya.  
c. Membiasakan salat malam Salat malam merupakan ibadah yang memiliki keutamaan besar. Pada waktu malam yang tenang, seorang hamba dapat memperbanyak doa, memohon ampunan, serta mendekatkan diri kepada Allah SWT. Salat tahajud dan ibadah malam lainnya juga menjadi sarana untuk melatih keikhlasan, kesabaran, dan kedisiplinan dalam beribadah. Melalui amalan-amalan tersebut, kita berharap Allah SWT memberikan perlindungan, menguatkan iman, serta memudahkan kita untuk menjauhi segala bentuk kemaksiatan.  
6. Mensyukuri Nikmat Besar dari Allah SWT  
Dalam kehidupan ini, ada berbagai nikmat yang terkadang dianggap biasa, padahal memiliki nilai yang sangat besar. Kajian ini mengingatkan kita untuk mengenali dan mensyukuri karunia Allah SWT, di antaranya: a. Anak yang saleh dan salehah Memiliki anak yang saleh dan salehah merupakan karunia yang sangat berharga. Anak yang tumbuh dalam keimanan, berbakti kepada orang tua, dan menjaga ibadah menjadi sumber kebahagiaan bagi keluarga. Karena itu, orang tua hendaknya mendidik anak dengan keteladanan, kasih sayang, doa, dan pendidikan agama yang baik. b. Pasangan yang baik Pasangan yang saling mengingatkan dalam kebaikan, mendukung ibadah, dan menjaga keharmonisan rumah tangga merupakan nikmat yang patut disyukuri. Rumah tangga yang dibangun di atas iman, kasih sayang, dan tanggung jawab akan menjadi tempat bertumbuhnya ketenteraman serta kebaikan. c. Lingkungan yang baik Lingkungan pergaulan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku dan keimanan seseorang. Berada di tengah orang-orang yang mengajak kepada kebaikan, menjaga ibadah, dan mengingatkan ketika melakukan kesalahan merupakan nikmat yang tidak boleh diremehkan. Karena itu, penting bagi kita untuk memilih teman dan lingkungan yang mendukung pertumbuhan iman serta menjauhkan diri dari pergaulan yang membawa kepada keburukan. d. Kesabaran dalam menghadapi kehidupan Kesabaran juga merupakan karunia Allah SWT yang sangat berharga. Dalam menjalani kehidupan, setiap orang akan menghadapi ujian, baik berupa kesulitan, kehilangan, persoalan keluarga, maupun tantangan dalam menjalankan ketaatan.  
Sabar bukan berarti menyerah tanpa usaha. Sabar adalah tetap teguh dalam ketaatan, menahan diri dari kemaksiatan, dan menghadapi ujian dengan ikhtiar serta tawakal kepada Allah SWT. Dengan kesabaran, seorang Muslim belajar menerima ketetapan Allah, memperbaiki diri, dan tetap berharap akan pertolongan-Nya. 7. Mengambil Hikmah dan Mengamalkan Ilmu Dari berbagai nasihat dalam kajian rutin Ahad pagi ini, ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama, menuntut ilmu harus disertai dengan keinginan kuat untuk mengamalkannya. Kedua, kita perlu menjaga perilaku dan membiasakan adab Islami, bahkan dalam aktivitas sederhana. Ketiga, hati harus senantiasa dijaga agar niat dan amalan tetap berada di jalan yang diridai Allah SWT. Keempat, memperbanyak zikir, menjaga wudu, dan membiasakan salat malam merupakan ikhtiar untuk memperkuat hubungan dengan Allah SWT. Kelima, kita perlu menyadari bahwa anak yang saleh, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung kebaikan, dan kemampuan untuk bersabar adalah nikmat yang patut disyukuri.  
Ilmu yang diperoleh hendaknya tidak berhenti ketika kajian selesai. Justru setelah kajian berakhir, saat itulah kita mulai membuktikan kesungguhan dengan memperbaiki ibadah, akhlak, dan kebiasaan sehari-hari. Penutup Kajian rutin Ahad pagi bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz menjadi pengingat bahwa kehidupan seorang Muslim harus senantiasa diarahkan pada ketaatan kepada Allah SWT. Ilmu perlu diamalkan, hati perlu dijaga, godaan setan perlu diwaspadai, dan setiap nikmat perlu disyukuri. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang berilmu dan beramal, memiliki hati yang bersih, istiqamah dalam ibadah, serta mampu mendidik keluarga dan menjaga lingkungan dalam kebaikan. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita anak-anak yang saleh dan salehah, pasangan yang baik, lingkungan yang mendukung ketaatan, serta kesabaran dalam menghadapi setiap ujian kehidupan. Aamiin ya Rabbal ‘alamin. Wallahu a'lam bish-shawab.








Share:

Waspada Hati yang Mengeras

Kajian Rutin Ahad Pagi Kajian Rutin Ahad Pagi Ahad, 4 Oktober 2026 bersama Ustadz Yusman, SHI, membahas mengenai fenomena kerasnya hati manusia yang digambarkan sekeras batu dalam Al-Qur'an sehingga seseorang sulit untuk menangis. Mengingat kematian secara intensif, menghindari panjang angan-angan, serta merenungkan kisah tangisan Siti Khotijah terhadap alam kubur menjadi sarana penting untuk melembutkan kembali hati yang keras. 
Dalam kajian disampaikan bahwa tangisan Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar cerita tentang alam kubur menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Hati yang hidup akan mudah tersentuh saat mengingat akhirat, kematian, kubur, serta perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang sulit menangis dan tidak tersentuh oleh nasihat perlu bermuhasabah: jangan-jangan hatinya mulai mengeras. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16, bahwa belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan-Nya; jangan sampai seperti umat terdahulu yang berlalu masa panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras. 
 1. Hati yang keras Kerasnya hati membuat seseorang tidak lagi peka terhadap nasihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, kisah kematian didengar, bahkan kabar duka disaksikan, tetapi tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah maupun dorongan untuk memperbaiki diri. Hati yang keras bukan sekadar tidak bisa menangis secara lahiriah. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak tunduk, tidak khusyuk, dan tidak terdorong untuk taat. Karena itu, seorang muslim perlu terus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.  
2. Banyak dosa Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan noda pada hati. Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan dibersihkan. Namun bila ia mengulangi dosa, noda itu bertambah hingga menutupi hati. 
Inilah sebab pentingnya segera bertobat. Jangan menunda istighfar dan jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap ringan, jika terus dikumpulkan, dapat menggelapkan hati dan menjadikan seseorang sulit menerima nasihat.  
3. Mengambil hak orang lain Salah satu sebab hati menjadi gelap adalah mengambil atau menahan hak orang lain. Bentuknya dapat berupa kezhaliman, utang yang tidak dibayar padahal mampu, mengurangi timbangan, ghibah, fitnah, mengambil harta yang bukan miliknya, atau menyakiti orang lain tanpa meminta maaf. Hak Allah dapat diampuni dengan tobat yang sungguh-sungguh. Namun hak sesama manusia perlu diselesaikan dengan mengembalikan haknya atau meminta kerelaan. Karena itu, jangan sampai kita datang pada hari kiamat membawa banyak amal, tetapi habis untuk membayar kezhaliman kepada orang lain.  
Mengingat kematian dan mengurangi angan-angan panjang  
Obat bagi hati yang keras adalah banyak mengingat kematian. Kematian mengingatkan bahwa dunia ini sementara, jabatan tidak kekal, harta tidak dibawa mati, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah. Panjang angan-angan sering membuat seseorang menunda tobat: merasa masih muda, merasa masih ada waktu, atau berencana memperbaiki diri nanti. Padahal kematian tidak menunggu kesiapan kita. Karena itu, perbaikilah diri hari ini, selesaikan hak orang lain hari ini, dan perbanyak amal sebelum datang masa ketika penyesalan tidak lagi berguna. Cinta dunia yang berlebihan juga menjadi pangkal banyak kesalahan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah lalai, berbuat zalim, mengejar harta dengan cara yang tidak halal, serta melupakan akhirat. 

 Mari menjaga kelembutan hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjauhi dosa, segera bertobat, menyelesaikan hak orang lain, dan sering mengingat kematian. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, khusyuk, serta mudah menerima petunjuk-Nya.


Share:

Keajaiban Malam Kelahiran Nabi & Rahasia Saudara Sesusuan yang Jarang Orang Tahu!

Ustadz Zein Faqih

Siapa bilang belajar Siroh Nabawiyah itu ngebosenin dan cuma berisi hafalan tahun sejarah? Di Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara (Ahad, 7/9/2026), Ustadz Zein Faqih ngajak kita flashback ke masa muda Nabi Muhammad SAW. 
Ternyata, perjalanan hidup beliau dari lahir sampai usia 40 tahun (sebelum jadi Rasul) tuh relatable banget sama kehidupan anak muda zaman sekarang! Banyak banget pelajaran life skill, pembentukan mental, sampai urusan personal branding yang bisa kita petik. Yuk, simak rangkumannya!  

1. Plot Twist di Tahun Gajah ('Amul Fil)  

Nabi Muhammad SAW lahir pada hari Senin, 12 Rabiul Awal (20 April 571 M) di Mekkah. Tahun kelahiran beliau dikenal sebagai Tahun Gajah. Kenapa dinamain Tahun Gajah? Karena saat itu ada "invasi" tentara bergajah pimpinan Abrahah dari Yaman yang mau meratakan Ka'bah. Tapi plot twist-nya, Allah SWT ngirim burung Ababil buat menggagalkan pasukan tersebut. Peristiwa ini jadi sinyal besar kalau bakal lahir sosok pembaru peradaban dunia. Fakta menyentuhnya, Nabi lahir dalam kondisi yatim karena ayahnya, Abdullah, meninggal saat beliau masih di dalam kandungan. Kakeknya, Abdul Muthalib, ngasih nama "Muhammad"—sebuah nama unik yang artinya orang yang terpuji. 
Berdasarkan riwayat sirah Nabawiyah, terjadi beberapa fenomena luar biasa di alam raya saat malam kelahiran beliau:  
  • Cahaya Memancar dari Aminah: Saat melahirkan, ibunda Aminah menyaksikan cahaya terang benderang yang keluar dari rahimnya hingga menerangi istana-istana di negeri Syam (Suriah).  Padamnya Api Abadi Majusi di Persia: Api sesembahan kaum Majusi di Kekaisaran Persia yang tidak pernah padam selama lebih dari 1.000 tahun mendadak padam seketika.  
  • Runtuhnya Istana Raja Persia: Merekah dan runtuhnya 14 tiang/bumbungan istana Raja Kisra di Persia.  Surutnya Danau Sawa: Danau Sawa di Persia yang disembah oleh sebagian masyarakat tiba-tiba menjadi kering.  
  • Bintang Agung Muncul: Para cendekiawan dan pendeta dari kaum Yahudi serta Nasrani melihat munculnya bintang terang di langit (dikenal sebagai Bintang Ahmad/Muhammad), yang menjadi pertanda lahirnya nabi terakhir. 

2. 'Sertifikasi' Mental Sejak Kecil: Anak Yatim yang Tangguh  

Zaman dulu, ada tradisi bayi dititipin ke masyarakat pedalaman gurun supaya dapat udara bersih dan pinter bahasa Arab murni. Muhammad kecil diasuh sama Halimah as-Sa'diyyah dari Bani Sa'ad. Kisah penyusuan Nabi Muhammad SAW bersama paman beliau, Hamzah bin Abdul Muthalib, merupakan salah satu ikatan kekeluargaan dan persaudaraan yang sangat istimewa dalam siroh Nabawiyah. Hubungan mereka tidak hanya sebatas paman dan keponakan, tetapi juga saudara sesusuan (Akhi mir Ridha'ah), yang membuat jalinan kasih sayang di antara keduanya begitu erat sejak kecil hingga akhir hayat. 
Bukannya bikin repot, kehadiran Muhammad kecil malah membawa berkah luar biasa buat keluarga Halimah. Peternakan mereka jadi subur dan melimpah. Tapi, jalan hidup Muhammad kecil nggak makin gampang:  
Usia 6 tahun: Ibunda tercinta, Aminah, wafat di Al-Abwa'. Muhammad officially jadi anak yatim piatu. 
Usia 8 tahun: Kakek yang menyayanginya, Abdul Muthalib, ikut berpulang. Pengasuhan lalu dilanjutin sama pamannya, Abu Thalib. Lesson learned: Keterbatasan dan musibah di masa kecil nggak bikin Muhammad tumbuh jadi pribadi yang hopeless, tapi justru bikin mentalnya makin sekuat baja.  






Share:

Bermuamalah di Jaman Fitnah

Foto By AI

Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, seorang muslim tidak hanya dituntut untuk memperbaiki ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia. Kejujuran, amanah, menjaga harta, tidak mengambil hak orang lain, serta berhati-hati dalam berbicara menjadi bagian penting dari keimanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai bentuk fitnah atau ujian. Fitnah tidak selalu berarti berita bohong atau tuduhan. Dalam konteks agama, fitnah juga dapat bermakna ujian dan cobaan yang menguji keimanan seseorang. Karena itu, di tengah zaman yang penuh dengan berbagai ujian, kita perlu terus mengecas iman. Salah satu sarana untuk menguatkan iman adalah menghadiri majelis ilmu. 
As-Sakinah sebagai Sumber Menambah Keimanan  
Hati manusia mengalami perubahan. Ada saatnya semangat beribadah meningkat, tetapi ada pula saat iman terasa melemah. Karena itu, kita membutuhkan lingkungan dan kegiatan yang dapat membantu menjaga keteguhan hati. Majelis ilmu menjadi salah satu sarana untuk menambah keimanan dan mengingatkan kembali tujuan hidup seorang muslim. Ketika seseorang duduk bersama orang-orang yang belajar agama, mendengarkan nasihat, membaca ayat-ayat Allah, serta mengingat kehidupan akhirat, diharapkan muncul ketenangan dalam hati. Inilah pentingnya menghadiri majelis.  
Mari "Mengecas" Iman  
Sebagaimana baterai membutuhkan energi agar dapat digunakan kembali, iman juga membutuhkan penguatan. Mari mengecas iman sesaat melalui majelis ilmu. Kesibukan bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, menghadapi berbagai persoalan, serta mengejar kebutuhan dunia terkadang membuat perhatian kita terhadap akhirat berkurang. Majelis ilmu menjadi salah satu kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mengingat kembali:  
Untuk apa kita hidup?  
Dari mana harta kita diperoleh?  
Bagaimana kita bermuamalah dengan orang lain?  
Apa yang akan kita bawa ketika menghadap Allah SWT?  
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, hati diharapkan kembali sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara. Fitnah adalah Ujian Fitnah dalam kehidupan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Ada fitnah dunia, yaitu berbagai kesenangan, harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan yang dapat membuat seseorang lalai dari Allah SWT.  
Ada pula fitnah kubur, yaitu ujian yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian. Karena itu, seorang muslim tidak boleh hanya mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi juga harus mempersiapkan kehidupan akhirat. Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia merupakan kesenangan yang sementara, sedangkan kehidupan akhirat memiliki kedudukan yang lebih kekal.  
Jangan Menjual Agama demi Secuil Dunia  
Salah satu ujian besar manusia adalah ketika kepentingan dunia mulai mengalahkan prinsip agama. Harta memang diperlukan. Bekerja dan mencari rezeki merupakan bagian dari kehidupan. Namun, seorang muslim harus tetap memiliki batas yang jelas antara mencari rezeki dan mengorbankan agama demi mendapatkan keuntungan dunia. Jangan sampai karena ingin mendapatkan sedikit keuntungan, seseorang kemudian: berdusta, mengambil hak orang lain, berbuat curang, mengkhianati amanah, melakukan transaksi yang tidak halal, atau membenarkan sesuatu yang salah karena kepentingan pribadi. Harta yang banyak tidak akan memberikan ketenangan jika diperoleh dengan cara yang tidak benar.  Sebaliknya, rezeki yang halal meskipun tidak berlimpah dapat menjadi sumber keberkahan dan ketenteraman.  
Nikmat Sehat Lebih Berharga daripada Kekayaan  
Salah satu nikmat Allah yang sering dilupakan adalah kesehatan. Ketika sehat, seseorang terkadang merasa bahwa kesehatan adalah sesuatu yang biasa. Namun ketika sakit, barulah ia menyadari betapa besar nilai kesehatan. Kekayaan yang banyak tidak selalu dapat memberikan manfaat ketika seseorang tidak memiliki kesehatan untuk menikmatinya. Karena itu, kesehatan merupakan nikmat yang harus disyukuri. Dengan tubuh yang sehat, kita dapat bekerja, beribadah, belajar, membantu orang lain, menghadiri majelis ilmu, dan melakukan berbagai amal kebaikan.  
Beberapa Penyebab Munculnya Fitnah dalam Muamalah Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai hal yang dapat menjadi pintu munculnya kerusakan dalam muamalah.  
1. Tidak Mau Belajar  
Salah satu masalah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesalahan adalah tidak mau belajar. Ketika seseorang tidak mengetahui aturan agama tentang halal dan haram, hak dan kewajiban, hutang-piutang, jual beli, amanah, serta hubungan sosial, ia dapat melakukan kesalahan tanpa menyadarinya. Karena itu, belajar agama bukan hanya diperlukan bagi orang yang ingin menjadi ustadz atau ahli agama. Setiap muslim membutuhkan ilmu agama untuk menjalani kehidupannya. Terlebih dalam masalah muamalah, karena setiap hari kita berhubungan dengan orang lain.  
2. Tidak Peduli Ketika Mengambil Harta Orang Lain  
Harta merupakan salah satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan manusia. Jangan sampai seseorang merasa ringan ketika mengambil sesuatu yang bukan haknya. Mengambil harta orang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk, bukan hanya pencurian.  
Misalnya: mengurangi timbangan, memanipulasi harga, mengambil uang yang bukan haknya, menyalahgunakan amanah, menipu dalam transaksi, menggunakan fasilitas yang bukan haknya, atau mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang lain.  
Seorang muslim harus selalu bertanya kepada dirinya: “Apakah harta yang saya dapatkan ini benar-benar halal dan menjadi hak saya?”  
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat agar kita berhati-hati dalam mencari rezeki. Ketika Orang Jujur Dianggap Pendusta Salah satu gambaran zaman fitnah adalah ketika nilai-nilai kebenaran menjadi terbalik. Orang yang jujur dapat dianggap sebagai pendusta. Sebaliknya, orang yang suka berdusta justru dipercaya. Orang yang amanah dapat dianggap berkhianat. Sementara orang yang tidak amanah justru mendapatkan kepercayaan.  
Kondisi seperti ini merupakan peringatan agar seorang muslim tidak menentukan kebenaran hanya berdasarkan popularitas, banyaknya pengikut, atau penilaian manusia. Kebenaran harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama yang memiliki ilmu.  

Munculnya Ruwaibidhah  

Di antara peringatan Rasulullah ï·º tentang zaman fitnah adalah munculnya ruwaibidhah. Ruwaibidhah digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas dalam suatu urusan, tetapi ikut berbicara dan memberikan pendapat tentang urusan yang seharusnya ditangani oleh orang yang memiliki ilmu dan kompetensi. Fenomena ini menjadi semakin relevan untuk diperhatikan di era informasi. Hari ini siapa pun dapat berbicara melalui media sosial. Seseorang dapat membuat video, menulis artikel, membuat komentar, bahkan memberikan nasihat kepada jutaan orang hanya melalui sebuah telepon genggam. Kemudahan berbicara tidak selalu berarti seseorang memiliki ilmu dan kapasitas untuk berbicara tentang apa yang disampaikannya. Karena itu, dalam masalah agama kita perlu berhati-hati.  
Jangan Semua yang Berbicara Agama Langsung Diikuti Ketika seseorang berbicara tentang agama, hendaknya kita memperhatikan: dari mana ilmunya, siapa gurunya, apa dasar yang digunakan, bagaimana penjelasan ulama terhadap masalah tersebut, dan apakah yang disampaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah. Bukan berarti kita boleh merendahkan orang yang belum memiliki ilmu. Justru sebaliknya, hal ini mengajarkan kita untuk menempatkan ilmu kepada ahlinya. Orang yang belum memahami suatu persoalan sebaiknya mengatakan: “Saya belum tahu.” Mengakui ketidaktahuan jauh lebih selamat daripada berbicara tentang agama tanpa ilmu.  
Muamalah adalah Cermin Keimanan Keimanan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di masjid. Iman juga tercermin ketika seseorang: berdagang, bekerja, menerima amanah, memegang uang, berhutang, membayar hutang, berbicara dengan tetangga, bekerja dalam sebuah organisasi, menggunakan fasilitas bersama, dan berinteraksi dengan masyarakat. Karena itu, memperbaiki muamalah merupakan bagian dari usaha memperbaiki iman.  
Jangan sampai seseorang terlihat rajin beribadah, tetapi dalam urusan harta masih mengambil hak orang lain. Jangan sampai seseorang banyak berbicara tentang agama, tetapi tidak menjaga amanah. Ibadah kepada Allah dan akhlak kepada manusia harus berjalan bersama.  
Bagaimana Menghadapi Zaman Fitnah?  
Di tengah berbagai ujian kehidupan, beberapa sikap berikut penting untuk terus dijaga.  
  1. Terus Belajar Jangan merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Teruslah menghadiri majelis ilmu dan belajar dari sumber yang terpercaya.  
  2. Menjaga Harta Pastikan harta diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk perkara yang baik.  
  3. Menjaga Amanah Apa pun yang dipercayakan kepada kita harus dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya.  
  4. Menjaga Lisan Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus disebarkan. Tidak semua persoalan agama harus kita jawab. 
  5. Memperbanyak Doa Mohon kepada Allah SWT agar diberikan keteguhan iman, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan keselamatan dari berbagai fitnah. 
  6. Menguatkan Lingkungan yang Baik Berada di lingkungan yang mengingatkan kepada Allah akan membantu kita menjaga iman. Salah satunya dengan menghidupkan majelis ilmu di masjid.   
Saatnya Mengecas Iman Zaman fitnah bukan alasan untuk menjauh dari agama. Justru ketika berbagai ujian semakin banyak, kita semakin membutuhkan ilmu, iman, dan lingkungan yang baik. Mari kita gunakan kesempatan berada di majelis ilmu untuk mengecas iman. Kita tinggalkan sejenak kesibukan dunia, kemudian mengingat kembali tujuan hidup, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Jangan sampai kehidupan dunia membuat kita menjual agama demi keuntungan yang sedikit. Jangan sampai harta membuat kita kehilangan amanah. Jangan sampai ketidaktahuan membuat kita berbicara tentang agama tanpa ilmu. Dan jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan kehidupan akhirat. Semoga Allah SWT menjaga kita dari berbagai fitnah, memberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, hati yang tenang, serta keteguhan iman sampai akhir hayat. Aamiin.

Referensi : Pengajian Ustadz ANB di Masjid As Sidiq Pucang Banjarnegara
Share:

Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati

Ramah Tamah Usai Kajian
Ustadz Yusman,SHI
Kajian Ahad Pagi 20 September 2026: Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 20 September 2026. Pada kesempatan kali ini, kajian mengangkat tema yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu “Takdir: Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Memahami Ketetapan Allah, Ikhtiar, dan Ketenangan dalam Menjalani Kehidupan.” Pembahasan tentang takdir sering kali menghadirkan berbagai pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, apakah manusia masih perlu berusaha?  
Jika seseorang sudah memiliki uang untuk berhaji sementara orang lain belum memiliki uang, siapa yang lebih dahulu akan sampai ke Tanah Suci? Jika dua orang sama-sama memiliki hutang, tetapi kemampuan ekonominya berbeda, siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk membantu kita memahami takdir dengan logika berpikir yang benar, sehingga keimanan kepada takdir bukan justru membuat seseorang pasif, tetapi melahirkan ketenangan, optimisme, dan semangat untuk terus berikhtiar.  

Takdir Termasuk Rukun Iman

Takdir merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Seorang muslim wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: 

  “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)  

Iman kepada takdir berarti meyakini bahwa Allah SWT memiliki ilmu yang sempurna terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan Allah. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia kemudian meninggalkan usaha. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Kita berusaha, berdoa, mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Allah Menciptakan Sesuatu Sesuai dengan Kehendak-Nya Salah satu pokok penting dalam memahami takdir adalah keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.  
Allah adalah Al-Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta tidak terlepas dari ilmu dan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih serta melakukan suatu perbuatan. Karena itu manusia diperintahkan untuk memilih jalan kebaikan, berusaha, bekerja, beribadah, serta menjauhi kemaksiatan. Dengan demikian, memahami takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya seseorang mengatakan: “Kalau memang sudah ditakdirkan kaya, nanti juga akan kaya.” Kemudian ia tidak mau bekerja dan berusaha. Cara berpikir seperti ini tidak tepat. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.  

Takdir dan Ikhtiar: Mengapa Kita Tetap Harus Berusaha?  

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Kalau hasilnya sudah ditentukan oleh Allah, mengapa kita masih harus berusaha?” Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan untuk dirinya. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berhasil atau gagal sebelum kita melakukan usaha. Karena itu, kewajiban manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT. Petani menanam karena berharap mendapatkan panen. Orang sakit berobat karena berharap mendapatkan kesembuhan. Seseorang bekerja karena berharap mendapatkan rezeki. Orang yang ingin berhaji menabung dan mempersiapkan diri karena berharap dapat memenuhi panggilan Allah.  
Semua itu merupakan bentuk ikhtiar. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah yang menentukan. Di sinilah keimanan kepada takdir memberikan ketenangan. Kita diperintahkan untuk melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Contoh Sederhana: Siapa yang Lebih Dahulu Berhaji? Dalam kajian dibahas sebuah ilustrasi sederhana. Ada seseorang yang sudah mendaftar haji dan ada orang lain yang belum mendaftar. Keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk berhaji. Siapa yang akan lebih dahulu berhaji?  
Secara logika manusia, orang yang sudah mendaftar mungkin dianggap lebih dekat dengan kesempatan berangkat. Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Bisa saja seseorang sudah mendaftar tetapi belum mendapatkan kesempatan berangkat. Sebaliknya, orang yang sebelumnya belum mendaftar kemudian mendapatkan rezeki, kesempatan, atau kondisi tertentu sehingga akhirnya dapat berhaji lebih dahulu. Contoh tersebut mengajarkan bahwa manusia melakukan ikhtiar, tetapi Allah yang menentukan hasil akhirnya.  
Karena itu, seseorang yang ingin berhaji harus melakukan sebab-sebabnya: memiliki kemampuan, mempersiapkan biaya, mendaftar sesuai ketentuan, menjaga kesehatan, dan berdoa. Setelah ikhtiar dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Contoh Lain: Dua Orang Sama-Sama Memiliki Hutang Begitu pula dengan masalah hutang. Ada dua orang yang sama-sama memiliki kewajiban membayar hutang. Orang pertama memiliki uang yang cukup, sedangkan orang kedua belum memiliki kemampuan untuk membayar. Siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Jawabannya berkaitan dengan kemampuan masing-masing dan kehendak Alloh SWT.  
Orang yang memiliki kemampuan membayar tentu memiliki kewajiban untuk segera menunaikan hutangnya. Sementara orang yang benar-benar belum mampu harus terus berusaha dan memiliki niat sungguh-sungguh untuk melunasinya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki sebab dan akibat yang harus ditempuh. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban. Jika memiliki hutang dan mempunyai kemampuan untuk membayarnya, maka tunaikan. Jika belum mampu, maka berusahalah mencari jalan keluar dengan cara yang halal dan tetap menjaga amanah.  

Takdir Baik dan Takdir Buruk  

Dalam kehidupan, manusia akan mengalami berbagai keadaan. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Ada keberhasilan dan ada kegagalan. Ada kesehatan dan ada sakit. Ada kelapangan rezeki dan ada masa kesulitan. Seorang mukmin memahami semuanya dalam kerangka iman kepada takdir Allah SWT. Ketika mendapatkan sesuatu yang baik, ia bersyukur. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, ia bersabar dan tetap berusaha mencari jalan keluar. Bukan berarti setiap keburukan yang dilakukan manusia kemudian dibenarkan dengan alasan “sudah takdir”. Manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya. Karena itu, pemahaman terhadap takdir harus berjalan bersama dengan iman, ikhtiar, doa, tanggung jawab, sabar, dan tawakal. Empat Tingkatan Takdir Dalam kajian juga dijelaskan mengenai tingkatan takdir yang sering diringkas menjadi empat tingkatan.  
1. Al-'Ilmu — Ilmu Allah  
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi seluruh makhluk dan seluruh kejadian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.  
2. Al-Kitabah — Telah di Tuliskan  
Takdir Allah SWT telah menuliskan ketetapan-Nya. Salah satu dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah firman Allah: 
 “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)  
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ilmu dan ketetapan Allah meliputi seluruh kejadian.  
3. Al-Masyi'ah — Kehendak Allah  
Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Allah berkehendak terhadap apa yang terjadi di alam semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan dalam batas yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, manusia tetap diperintahkan untuk memilih kebaikan dan menghindari keburukan.  
4. Al-Khalq — Allah Menciptakan 
Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Dzat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan manusia, kemampuan manusia, alam semesta, sebab-sebab, serta segala sesuatu yang ada. Karena itu, seorang muslim menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan dan kehendak Allah. Ketenangan dalam Memahami Takdir Salah satu buah penting dari memahami takdir adalah munculnya ketenangan hati.  
Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai dengan rencana kita. Terkadang kita sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Terkadang sesuatu yang kita anggap baik ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya kita anggap buruk ternyata membawa pelajaran dan kebaikan yang tidak kita sangka. Dalam kondisi seperti itu, iman kepada takdir membantu seorang muslim untuk tetap tenang. Ia memahami:  
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya sudah berdoa. Saya sudah mengambil sebab yang dibenarkan. Adapun hasil akhirnya, saya serahkan kepada Allah SWT.” Sikap seperti inilah yang melahirkan tawakal.  
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Jangan Berhenti Berikhtiar Memahami takdir seharusnya membuat seorang muslim semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Ketika berhasil, ia tidak sombong karena menyadari bahwa keberhasilan itu terjadi dengan pertolongan Allah.  
Ketika gagal, ia tidak berputus asa karena mengetahui bahwa Allah memiliki hikmah dan ketetapan yang belum tentu dapat langsung dipahami manusia. Maka prinsip yang perlu kita pegang adalah: Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Manusia bertugas melakukan ikhtiar. Allah yang menentukan hasilnya. Dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. 

Takdir Mengajarkan Kita untuk Tenang Kajian tentang takdir bukan sekadar membahas sesuatu yang telah ditetapkan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani kehidupan dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan usaha yang benar. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Karena itu, tugas kita bukan menerka-nerka takdir, tetapi mempersiapkan diri, berusaha, berdoa, dan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Jika mendapatkan ujian, bersabarlah. Jika mempunyai cita-cita, berusahalah. Jika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.  
Sebab seorang mukmin meyakini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Semoga pemahaman yang benar tentang takdir menjadikan kita pribadi yang lebih tenang, tidak mudah mengeluh, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Mari terus belajar, memperbaiki diri, dan memperkuat iman melalui majelis ilmu.  
Mari Hadiri Kajian rutin di Masjid Al Mu’minun pada setiap Ahad Pagi. Semoga rangkaian Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan mempererat ukhuwah di antara warga. Mari hadir, belajar bersama, dan mengambil manfaat dari majelis ilmu. Ikhtiar adalah tugas kita. Hasil adalah ketetapan Allah. Ketenangan lahir ketika hati bersandar kepada-Nya. Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Tempat Menuntut Ilmu, Memperkuat Iman, dan Mempererat Ukhuwah.




Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget