Showing posts sorted by relevance for query kajian. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query kajian. Sort by date Show all posts

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Gayam Permai Kembali Bergulir



Banjarnegara, 11 April 2025 – Semangat Ramadhan 1446H yang baru saja berlalu diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan indah, namun juga menguatkan tali persaudaraan dan keimanan umat Islam. Sebagai wujud komitmen dalam menjaga spirit kebaikan tersebut, Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai kembali menghidupkan kajian rutin Ahad pagi. Kajian perdana pasca bulan suci ini akan dilaksanakan pada Ahad, 13 April 2025, dan akan menghadirkan narasumber yang kompeten, Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc. 
Kajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Mu'minun telah menjadi agenda penting bagi warga Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menambah ilmu agama, tetapi juga sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antar jamaah. Setelah sebulan penuh fokus pada ibadah puasa dan amalan-amalan sunnah lainnya di bulan Ramadhan, kajian perdana ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas keimanan serta amalan sehari-hari. 
Kehadiran Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc., sebagai pengisi kajian perdana ini tentu menjadi daya tarik tersendiri. Beliau dikenal sebagai seorang ustadz yang memiliki pemahaman agama yang mendalam dan penyampaian yang mudah diterima oleh berbagai kalangan, Beliau adalah Alumni Universitas Madinah. Dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat, diharapkan Ustadz Firdaus dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada para jamaah dalam mengarungi kehidupan pasca Ramadhan. Tema kajian perdana ini tentu akan sangat relevan dengan kondisi setelah bulan Ramadhan. 
Kemungkinan besar, Ustadz Firdaus akan membahas mengenai pentingnya istiqomah dalam beribadah, menjaga amalan-amalan baik yang telah dilakukan selama Ramadhan, serta bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai luhur Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kajian ini juga bisa menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat solidaritas antar sesama muslim. Panitia kajian rutin Masjid Al Mu'minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir dan mengambil manfaat dari kajian perdana ini. Kehadiran para jamaah akan semakin memeriahkan acara dan menunjukkan semangat kebersamaan dalam menuntut ilmu agama. 
Kajian rutin Ahad pagi ini direncanakan akan dimulai setelah shalat Subuh berjamaah dan akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bagi para jamaah yang ingin mendalami materi yang disampaikan. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi bekal yang berharga bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan diridhai oleh Allah SWT. 
Mari kita jadikan momentum pasca Ramadhan ini sebagai awal yang baik untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mempererat tali persaudaraan dalam bingkai keimanan. Jangan lewatkan kesempatan emas untuk menimba ilmu bersama Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc., pada Ahad, 13 April 2025 di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan bagi kita semua.
Share:

Mengawali Hari dengan Berkah: Undangan Subuh Berjama'ah dan Kajian Rutin Ahad Pagi

Kajian rutin Ahad pagi tanggal 02 Februari 2025 bersama Ustadz Muhammad Akmal dari Ponpes NUSA Banjarnegara. Kajian rutin ini diselenggarakan setelah Sholat Subuh berjama'ah. Mengenai Sholat Subuh Alloh, SWT berfirman dalam QS Al Isro' sebagai berikut:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS: Al Isro',78)

Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara dengan sukacita mengundang seluruh umat Muslim untuk menghadiri acara Subuh berjama'ah yang dilanjutkan dengan kajian rutin setiap hari Ahad pagi. Kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan keimanan, mempererat tali silaturahmi, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Tema Kajian: 
 Tema kajian akan bervariasi setiap minggunya, mencakup berbagai aspek keislaman seperti Al-Qur'an, Hadis, Fikih, Akhlak, dan lainnya. Kajian akan disampaikan oleh ustadz atau tokoh agama yang kompeten di bidangnya. 

Manfaat: 
  • Mendapatkan Berkah Subuh: Subuh adalah waktu yang penuh berkah, dan melaksanakan salat Subuh berjama'ah di masjid memiliki keutamaan yang besar. 
  • Menambah Ilmu: Kajian rutin Ahad pagi akan memberikan ilmu yang bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang agama Islam. 
  • Mempererat Silaturahmi: Kegiatan ini menjadi wadah untuk bertemu dan berinteraksi dengan sesama Muslim, sehingga mempererat tali silaturahmi. 
  • Meningkatkan Keimanan: Dengan mengikuti kegiatan ini secara rutin, diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Share:

[Kajian Ahad Pagi] Fenomena Kematian Mendadak: Alarm Akhir Zaman dan Bekal Kita

Banjarnegara, 1 Februari 2026 – Mengawali bulan Februari dengan penuh perenungan, jamaah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali berkumpul dalam Kajian Ahad Pagi yang khidmat. Kajian Ahad disampaikan oleh Ustadz Yusman,SHI, Topik yang diangkat kali ini cukup menyentak kesadaran kita semua, yakni mengenai fenomena kematian mendadak sebagai salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat.





 إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُشَلَّ الْفَتَى (وفي رواية: أَنْ يَتَفَشَّى) مَوْتُ الْفَجْأَةِ، وَأَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا 

 "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah munculnya (tersebarnya) kematian mendadak, dan dijadikannya masjid-masjid sebagai jalanan (perlintasan)." (HR. Thabrani). 


Kematian Mendadak dan Masjid yang "Terasing" Dalam kajian tadi pagi, disampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan nubuat mengenai kondisi akhir zaman. Salah satu tandanya adalah ketika masjid hanya dijadikan tempat perlintasan atau "jalan-jalan" tanpa ditegakkan sholat di dalamnya, serta maraknya peristiwa kematian mendadak (mautul faja'ah). 
Secara medis, kita mungkin mengenalnya sebagai henti jantung atau penyebab lainnya. Namun, secara maknawi, ini adalah pengingat bahwa kesempatan bertaubat bisa tertutup kapan saja tanpa aba-aba sakit terlebih dahulu. 

Bagaimana Sikap Kita Sebagai Muslim? 
Menghadapi kenyataan bahwa maut bisa menjemput saat kita sedang bekerja, beristirahat, atau bahkan saat bercengkrama, kajian hari ini merangkum tiga langkah utama yang harus kita pegang teguh: 
  1. Yakini Takdir dengan Sepenuh Hati Kita harus mengimani bahwa ajal adalah rahasia Allah yang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Keyakinan yang kuat pada takdir akan melahirkan ketenangan jiwa. Tidak ada yang bisa mempercepat atau menunda kematian jika waktunya telah tiba. Dengan meyakini ini, kita tidak akan merasa cemas berlebihan, melainkan menjadi lebih waspada dalam beramal. 
  2. Isti’adah (Memohon Perlindungan) Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berlindung dari kematian mendadak yang buruk. Kita dianjurkan rutin memohon perlindungan kepada Allah agar jika maut datang menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik (Husnul Khotimah). Mintalah perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian di setiap doa kita. 
  3. Memperbanyak Istighfar Karena kita tidak tahu kapan "pintu" dunia akan tertutup, maka Istighfar adalah kunci. Istighfar bukan hanya pembersih dosa, tapi juga penarik rahmat Allah. Jadikan lisan kita basah dengan permohonan ampun agar saat maut datang secara tiba-tiba, kalimat terakhir yang atau kondisi batin kita sedang dalam keadaan bertaubat kepada Allah SWT. 

Kajian pagi ini di Masjid Al-Mu’minun bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak warga Gayam Permai agar lebih bijak dalam memanfaatkan waktu. Mari kita makmurkan masjid kita bukan sekadar sebagai bangunan megah, tetapi sebagai rumah tempat kita bersujud dan menimba ilmu. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dan mewafatkan kita semua dalam keadaan iman yang sempurna. Amin. Simak terus update kegiatan rutin dan ringkasan kajian Masjid Al-Mu'minun hanya di laman resmi warga: gayampermai-bna.blogspot.com.










Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah

Gayam Permai, 5 Maret 2026 – Suasana Subuh di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai terasa begitu khidmat. Di tengah sejuknya udara pagi tanggal 5 Maret 2026, jemaah Kajian Subuh Ramadhan 1447 H berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai perumpamaan orang yang beruntung dan orang yang merugi dengan filosofi seorang petani. 
Ramadhan: Musim Menanam Kebajikan Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan mengajak jemaah merenungi nasib seorang petani. Seorang petani yang sukses adalah mereka yang saat masa panen tiba, hasil yang didapat sesuai dengan harapan yang ia tanam. Begitu pula gambaran seorang mukmin yang sukses. "Orang mukmin yang cerdas adalah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai ladang. Mereka menanam benih ibadah, menyemai kebaikan, dan memupuknya dengan keikhlasan," tutur beliau. 
Namun, beliau memberikan peringatan keras tentang golongan orang yang merugi. Merugi adalah ketika apa yang kita harapkan di akhir nanti, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ibarat petani yang mengharap padi namun yang tumbuh justru ilalang, atau petani yang menanam namun gagal panen. 

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah 
Satu poin penting yang ditekankan Ustadz Ulil Albab adalah bahwa ibadah tidak sekadar "menanam". Banyak orang yang rajin salat, rajin puasa, dan bersedekah, namun mereka lupa menjaga tanamannya. "Hampir sampai masa panen, tiba-tiba datang hama. Begitu juga pahala kita. Seringkali pahala yang sudah kita kumpulkan habis dimakan hama penyakit hati seperti riya, sum'ah, atau memutus silaturahmi," jelas Ustadz Ulil.  
Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki usaha ekstra untuk memagari dan melindungi tanamannya agar selamat hingga hari perhitungan nanti. Merayakan Kemenangan dengan Takbir dan Syukur Menjelang akhir kajian, Ustadz Ulil Albab membahas mengenai momen ketika kita berhasil menyelesaikan ibadah Ramadhan. Beliau mengutip isyarat dari Al-Qur'an bahwa kemampuan kita berpuasa sebulan penuh bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ "

...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

 Ayat ini mengajarkan kita bahwa ketika melihat hilal atau menyelesaikan Ramadhan, kita disunnahkan bertakbir. Takbir tersebut adalah pengakuan bahwa kita bisa selesai Ramadhan hanya karena Allah memberi kesempatan dan kekuatan. 

La Haula Wala Quwwata Illa Billah 
Menutup kajian, Ustadz mengingatkan kembali bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” harus menjadi landasan setiap amal kita. Jika kita merasa sombong dengan amalan kita, ingatlah bahwa kita hanyalah "petani" yang meminjam tanah, benih, dan air dari Sang Pencipta. Maka, bersyukurlah karena telah dipilih Allah untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersujud di Subuh yang berkah ini. Semoga Ramadhan 1447 H ini menjadikan kita petani-petani iman yang sukses memanen pahala di akhirat kelak. Amin. 
Penulis: Admin Gayam Permai 
Sumber: Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Ulil Albab (5 Maret 2026)
Share:

Menjaga Kesempurnaan Puasa dan Kelapangan Hati: Catatan Kajian Ramadhan bersama Ustadz Ulil Albab

Banjarnegara, 19 Februari 2026 – Memasuki hari-hari awal di bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan kesejukan ruhani melalui kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga esensi puasa di tengah perbedaan dan melatih hati agar mencapai derajat taqwa yang hakiki. 

1. Khilafiyah: Perbedaan yang Tak Perlu Diperbesar Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan pesan persatuan. Masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat—termasuk perbedaan penentuan awal Ramadhan—adalah hal yang wajar dalam dinamika ijtihad. "Janganlah perbedaan ini diperbesar hingga merusak ukhuwah. Fokus kita bukanlah pada kapan kita mulai, tapi pada bagaimana kualitas ibadah kita selama bulan mulia ini," pesan beliau. Kelapangan dada dalam menerima perbedaan adalah ciri kematangan iman seorang muslim. 

2. Fadilah Umat Rasulullah dan Mukjizat Al-Qur'an Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diberikan keistimewaan berupa bulan Ramadhan. Kemuliaan bulan ini tak lepas dari peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an). Ustadz Ulil menjelaskan ada dua fadilah besar yang harus kita kejar: Fadilah Waktu: Setiap detik di bulan Ramadhan adalah keberkahan. Fadilah Membaca Al-Qur'an: Berkhidmat (berbakti dan berinteraksi) dengan Al-Qur'an bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghadirkan Al-Qur'an dalam hati. Siapa pun yang memuliakan Al-Qur'an, Allah pasti akan menjamin keberkahan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. 

3. Menjaga Kesempurnaan Puasa Banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, Ustadz Ulil mengingatkan untuk menjaga kesempurnaan puasa. Tidak hanya menahan mulut dari makan, tapi juga menahan mata, telinga, dan lisan dari hal-hal yang sia-sia agar pahala yang didapat tetap sempurna di sisi Allah SWT. 

4. Senyum Rasulullah: Kisah Keajaiban Memaafkan Salah satu momen paling menyentuh dalam kajian ini adalah saat Ustadz menceritakan sebuah riwayat tentang Rasulullah SAW yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. Beliau menceritakan dialog di akhirat antara seseorang yang didzalimi dan orang yang mendzaliminya. Si korban menuntut keadilan atas kedzaliman yang ia terima. Namun, Allah memperlihatkan sebuah istana yang megah di surga. Allah berfirman bahwa istana itu milik mereka yang mau memaafkan saudaranya. Akhirnya, orang yang didzalimi tersebut memilih untuk memaafkan, bahkan ia menggandeng tangan orang yang pernah mendzaliminya untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. "Inilah puncak dari akhlak mulia: mengajak orang yang pernah menyakiti kita untuk menuju kebaikan," tambah Ustadz Ulil. 

5. Ramadhan sebagai Madrasah Hati Tujuan akhir dari puasa adalah Taqwa. Namun, taqwa tidak akan tercapai tanpa pembentukan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pelatihan hati untuk mengikis rasa sombong, dendam, dan egois. Jika hati telah terbentuk, maka ketaqwaan akan lahir secara alami dalam tindakan sehari-hari. 

Semoga kajian dari Ustadz Ulil Albab ini menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk menjalani Ramadhan 1447 H dengan lebih berkualitas. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Share:

Sembuh atau Surga? Pilihan Sulit Ummu Zufar

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun terasa lebih sejuk dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Susianto pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H. Beliau membawa kita menyelami kedalaman akhlak para ulama dan sebuah pilihan sulit yang berbuah jaminan surga. Berikut adalah rangkuman materi yang menggugah jiwa:  
1. Ketulusan Amal: Belajar dari Kesabaran Imam Syafi’i  
Ustadz Susianto membuka kajian dengan sebuah kisah yang menguji ego dan kesabaran. Dikisahkan, seorang pemuda memanggil Imam Syafi’i untuk datang ke rumahnya. Namun, sesampainya di depan pintu, pemuda itu justru menyuruh beliau pulang. Hal ini terjadi hingga tiga kali: dipanggil, didatangi, lalu disuruh pulang.  
Tanpa rasa marah sedikit pun, Imam Syafi’i menuruti permintaan tersebut. Mengapa? Karena beliau hanya ingin berbuat amal baik. Bagi beliau, mendatangi panggilan saudara adalah kebaikan, dan memaafkan perilaku kurang sopan adalah kebaikan yang lebih tinggi lagi.  
Pesan moralnya: Fokuslah pada amal baik kita, bukan pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. 

2. Hakikat Penciptaan dan Tugas Manusia (QS. Al-Hijr: 27-28) 
Beliau kemudian mengajak jamaah mentadaburi asal-usul penciptaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hijr (15) ayat 27-28:  
Ayat 27: Mengingatkan tentang penciptaan bangsa Jin dari api yang sangat panas sebelum manusia diciptakan.  
Ayat 28: Menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 
Ustadz Susianto menekankan bahwa dengan memahami asal-usul yang rendah (tanah), tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong. Tugas utama kita hanyalah mengisi masa hidup yang singkat ini dengan pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.  

3. Kisah Ummu Zufar: Sabar dalam Sakit Berbuah Surga  
Puncak kajian yang paling mengharukan adalah kisah seorang wanita kulit hitam bernama Ummu Zufar. Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ dalam keadaan menderita penyakit ayan (epilepsi). Ummu Zufar memohon: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menyembuhkanku." Rasulullah ﷺ memberikan dua pilihan yang sangat mendalam:  
Jika engkau mau, bersabarlah (dengan penyakitmu), maka bagimu adalah SURGA.  
Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.  
Mendengar kata "Surga", Ummu Zufar tidak ragu sedikit pun. Ia memilih opsi pertama: Sabar. Ia hanya meminta didoakan agar saat penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. 

"Kisah ini mengajarkan kita bahwa musibah fisik jika dihadapi dengan rida, adalah tiket eksekutif menuju surga-Nya," tutur Ustadz Susianto. 
Melalui kajian ini, Ustadz Susianto mengajak kita semua di sisa Ramadhan ini untuk: Terus berbuat baik meski seringkali tidak dihargai oleh manusia (seperti Imam Syafi'i). Menyadari kerendahan diri di hadapan Allah (QS. Al-Hijr). Melihat penyakit atau musibah sebagai peluang untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.
Share:

Ustadz Susianto, SKM: Jodoh Itu Rezeki!


Ahad, 9 November 2025
Jama'ah kajian rutinAhad pagi pada tanggal 9 November 2025 mengalami sedikit perubahan jadwal terkait pengisi materi. Ustadz Andi Yulianto yang semula dijadwalkan hadir, berhalangan hadir sehingga posisi beliau diisi sementara oleh Ustadz Susianto. Ustadz Susianto hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dan menyampaikan materi yang sangat relevan dan mendalam, berfokus pada konsep "4 Jenis Rezeki (Rizki)" dalam Islam. 


Meskipun terjadi perubahan, semangat para jamaah tetap tinggi dalam menimba ilmu.
📚 Sorotan Materi Kajian: 
4 Jenis RezekiDalam kajian yang disampaikan dengan penuh hikmah, Ustadz Susianto mengupas tuntas empat tingkatan atau jenis rezeki yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Poin-poin utama yang beliau sampaikan adalah:
1. Rizki Ketika Dalam Kandungan
Ini adalah rezeki fundamental yang sifatnya mutlak dan sudah ditetapkan. Ustaz Susianto mengingatkan bahwa sebelum kita lahir, Allah telah menentukan segalanya: kapan kita lahir, di mana, dan bahkan siapa orang tua kita.“Kita pasrah dan sudah ditentukan kapan lahir, di mana, dan dari orang tua siapa? Inilah rezeki pertama, yang tidak bisa kita ubah, sebuah ketetapan ilahi,” jelas beliau.

2. Rizki Ketika Kita Diberikan Jodoh
Rezeki ini terkait dengan pasangan hidup. Jodoh adalah bagian dari takdir Allah yang merupakan karunia besar. Seseorang yang mendapatkan pasangan yang sholeh/sholehah sejatinya sedang menerima rezeki yang tak ternilai harganya.

3. Rizki yang Kita Miliki (Rezeki Ma'isyah/Penghidupan)
Ini adalah jenis rezeki yang paling umum dipahami, yaitu segala harta benda, pekerjaan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari yang kita nikmati saat ini. Rezeki ini didapatkan melalui ikhtiar dan usaha, namun hakikatnya tetap anugerah dari Allah.

4. Rizki yang Diberikan Kepada Orang-Orang yang Bertaqwa
Ini merupakan jenis rezeki tertinggi dan paling istimewa. Rezeki ini bukan hanya bersifat materi, tetapi juga ketenangan hati, keberkahan hidup, kemudahan urusan, dan jalan keluar dari setiap kesulitan 
Rezeki ini diberikan sebagai buah dari ketaqwaan dan kesabaran seorang hamba.


Keistiqomahan di Tengah Ujian. 
Di penghujung kajian, Ustadz Susianto memberikan pesan penutup yang sangat menguatkan hati. Beliau menekankan pentingnya keistiqomahan dalam berbuat kebaikan meskipun sedang diterpa cobaan hidup.“Jangan tinggalkan kebaikan karena Musibah,” tegas Ustadz Susianto. Musibah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti beribadah, bersedekah, atau menuntut ilmu. 
Justru dalam kesulitan, kebaikanlah yang akan menjadi penyelamat dan pembuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sejalan dengan rezeki jenis keempat.Kajian Ahad pagi ini ditutup dengan harapan agar seluruh jamaah dapat merenungkan kembali hakikat rezeki dan senantiasa berusaha menjadi hamba yang bertaqwa, terlepas dari segala ujian dan perubahan yang terjadi dalam hidup, termasuk perubahan pengisi kajian.




Share:

Memakmurkan Masjid, Mencerahkan Umat (2016-2025)

Menuju sembilan tahun pelaksanaan kegiatan. Pada tanggal 18 Desember 2016, sebuah langkah kecil namun revolusioner dicanangkan: "Gerakan Sholat Subuh Berjama'ah." Gerakan ini, yang bukan sekadar seruan, tetapi sebuah undangan yang terus menerus disampaikan, telah menjadi denyut nadi keimanan bagi para jamaah. Hari ini, 19 Oktober 2025, kita berdiri di titik ini untuk merenungkan sejauh mana jejak istiqomah ini telah membekas.
Gerakan ini, yang terus menerus menyatukan shaf-shaf di waktu fajar, telah bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan kolektif. Ia adalah jawaban atas tantangan terberat bagi seorang muslim: menaklukkan selimut tidur demi panggilan Illahi di waktu subuh.

Undangan Pertama Gerakan Subuh Berjama'ah


Sejak undangan pertama pada akhir tahun 2016, "Gerakan Sholat Subuh Berjama'ah" telah membuktikan bahwa keimanan adalah soal disiplin dan komitmen. Keberhasilan Disiplin Spiritual: Subuh berjamaah adalah indikator terkuat keimanan seseorang. Keistiqomahan selama sembilan tahun membuktikan bahwa masjid telah berhasil menjadi magnet spiritual di waktu yang paling berat. Jamaah telah menjadikan subuh bukan lagi beban, melainkan kebutuhan.
Fondasi Ukhuwah: Sholat Subuh berjamaah adalah tempat pertemuan terbaik. Di sinilah, sebelum kesibukan dunia dimulai, seluruh lapisan masyarakat berkumpul dalam kesetaraan. Kesatuan shaf di subuh hari adalah fondasi ukhuwah yang kokoh untuk menghadapi kerasnya dunia di siang hari.
Pembaruan Niat Harian: Mengawali hari dengan bersujud dan berdzikir adalah cara terbaik "me-recharge" energi iman. Inilah modal utama keberkahan rezeki dan kelancaran urusan harian yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.
Keberkahan subuh berjamaah dilanjutkan dengan kajian Rutin Ba'da Sholat Subuh Ahad Pagi, menghadirkan Ustadz-ustadz yang mumpuni dibidangnya semakin mencerahkan keimanan jama'ah. Jika sholat adalah nutrisi jiwa, maka kajian adalah makanan akal dan pemandu amal. 
Kegiatan ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paripurna, tidak hanya memerintahkan ibadah ritual (sholat), tetapi juga menuntut penambahan ilmu (kajian). Kajian rutin Ahad Pagi berfungsi sebagai pabrik pemahaman yang mencerahkan, memastikan ibadah yang dilakukan berlandaskan ilmu yang benar.
Konsistensi mengadakan kajian selama sembilan tahun adalah bukti komitmen terhadap pembinaan umat yang berkelanjutan, bukan sekadar musiman. Materi-materi yang disampaikan, mulai dari tauhid, fiqih, hingga tafsir, telah membentuk pemahaman keagamaan yang matang dan moderat di kalangan jamaah.

Dari 18 Desember 2016 hingga 19 Oktober 2025, perjalanan sembilan tahun "Gerakan Subuh Berjama'ah dan Kajian Rutin Ahad Pagi" adalah sebuah masterpiece keistiqomahan. Undangan yang konsisten disampaikan telah menghasilkan hasil yang nyata: masjid yang hidup dan umat yang tercerahkan.
Refleksi ini harus menjadi pemicu, bukan hanya perayaan. Tugas kita ke depan adalah memastikan obor istiqomah ini tidak padam. Melalui langkah kaki yang tetap tegar menuju masjid di waktu fajar, dan semangat yang tak pernah lelah untuk terus belajar dan mengkaji, kita menjamin bahwa warisan spiritual ini akan terus mengakar, membentuk generasi yang kuat imannya dan luas ilmunya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi keistiqomahan kita dan menjadikan setiap langkah kaki dan setiap helai ilmu yang kita dapatkan sebagai timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.
Share:

Meraih Surga Firdaus: Kajian Subuh 22 Ramadhan 1446H Bersama Ustadz Susianto Abi Furqon

23 Ramadhan 1446H (23 Maret 2025)
Ustadz Susianto,SKM

Di pagi yang penuh berkah pada 22 Ramadhan 1446H, umat Muslim kembali berkumpul untuk mendengarkan kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Susianto Abi Furqon. Tema kajian kali ini adalah "Meraih Surga Firdaus," sebuah tema yang mengingatkan kita akan tujuan akhir dari kehidupan seorang Muslim. Manusia Lahir di Surga Ustadz Susianto Abi Furqon memulai kajiannya dengan mengingatkan bahwa manusia pada dasarnya dilahirkan di surga. Hal ini merujuk pada kisah Nabi Adam dan Hawa yang awalnya tinggal di surga. 
Oleh karena itu, sudah sepatutnya kita sebagai keturunan mereka merindukan dan berusaha untuk kembali ke surga. Dalam kesempatan ini juga diselingi candaan antara siswa dan guru. Siswa bertanya apakah saat hari kiamat sekolah tetap masuk, dan guru menjawab bahwa siswa libur tetapi guru tetap masuk. Ini adalah candaan yang segar di tengah kajian yang serius. 
Kemenangan Kaum Muslimin dalam Peperangan (QS. Al Fath) Ustadz Susianto Abi Furqon kemudian melanjutkan kajiannya dengan membahas tentang kemenangan kaum Muslimin dalam peperangan, yang tercantum dalam QS. Al Fath. Ayat ini mengingatkan kita bahwa kemenangan sejati datang dari Allah SWT, dan kita sebagai umat Muslim harus selalu bersyukur atas nikmat kemenangan yang diberikan-Nya. 
Kunci Meraih Surga Firdaus Untuk meraih surga Firdaus, Ustadz Susianto Abi Furqon menekankan beberapa hal penting: 
  • Menjauhkan diri dari hal-hal yang sia-sia: Waktu adalah anugerah yang sangat berharga. Oleh karena itu, kita harus menggunakannya dengan sebaik-baiknya dan menjauhi segala sesuatu yang tidak bermanfaat. 
  • Menunaikan zakat: Zakat adalah salah satu rukun Islam yang memiliki peran penting dalam membersihkan harta dan membantu sesama yang membutuhkan. 
  • Menjaga kemaluan: Menjaga kemaluan dari perbuatan zina adalah salah satu bentuk ketaatan kepada Allah SWT. 
  • Komitmen dengan janji yang dibuat: Seorang Muslim harus selalu menepati janji yang telah dibuat, baik janji kepada Allah SWT maupun janji kepada sesama manusia. 
  • Menjaga sholat: Sholat adalah tiang agama. Oleh karena itu, kita harus selalu menjaga sholat lima waktu dengan sebaik-baiknya. 
Kajian subuh ini memberikan pencerahan dan motivasi bagi kita semua untuk terus berusaha meraih surga Firdaus. Dengan menjauhi hal-hal yang sia-sia, menunaikan zakat, menjaga kemaluan, menepati janji, dan menjaga sholat, insya Allah kita akan menjadi penghuni surga Firdaus. Semoga kajian ini bermanfaat dan memberikan inspirasi bagi kita semua untuk menjadi Muslim yang lebih baik. Aamiin.




Share:

Dua Nikmat yang Paling Sering Disia-siakan Manusia

Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh Ramadhan, Masjid Al-Mu’minun pada hari ke-11 Ramadhan 1447 H, bertepatan dengan tanggal 27 Februari 2026. Ustadz Jundi hadir memberikan untaian ilmu yang sangat relevan bagi kita yang sedang berjuang menyucikan diri di bulan suci ini. Berikut adalah sari pati kajian yang beliau sampaikan: 

1. Rasa "Ganjal" di Hati: Tanda Iman Masih Hidup 
Ustadz Jundi mengingatkan bahwa setiap mukmin memiliki sebuah perangkat canggih yang diberikan Allah secara cuma-cuma, yaitu nurani atau "alarm hati". "Setiap keburukan atau kemaksiatan pasti menyisakan rasa mengganjal di hati. Jika Anda merasa tidak tenang setelah berbuat salah, itu adalah nikmat besar. Artinya, iman Anda masih hidup dan Allah sedang memanggil Anda untuk segera pulang (bertaubat)," jelas beliau. 

2. Waspada: Dua Nikmat yang Sering Menipu 
Salah satu poin penting yang beliau tekankan adalah tentang dua hal yang seringkali tidak disyukuri secara maksimal hingga keduanya hilang. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ: "Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu (merugi) di dalamnya, yaitu: nikmat sehat dan waktu luang." (HR. Bukhari). Ustadz Jundi mengajak warga Gayam Permai untuk memanfaatkan masa sehat dan waktu luang di bulan Ramadhan ini untuk beribadah, sebelum datang masa sakit atau masa sibuk yang menghalangi kita dari ketaatan.  

3. Samudra Ampunan Allah Tanpa Batas Beliau juga membakar semangat jamaah dengan mengingatkan betapa luasnya kasih sayang Allah. Allah telah menyediakan "pembersih dosa otomatis" melalui rutinitas ibadah kita. 
 "Antara shalat yang satu dengan shalat yang lainnya, antara Jumat yang satu dengan Jumat yang lainnya, dan antara Ramadhan yang satu dengan Ramadhan yang lainnya, adalah penghapus dosa-dosa di antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi." (HR. Muslim).  

4. Senjata Utama: Doa-Doa Pilihan 
Di akhir kajian, Ustadz Jundi memberikan ijazah doa agar kita konsisten dalam kebaikan: 

Doa Memohon Kekuatan Beribadah: 
Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik. (Ya Allah, tolonglah aku untuk selalu mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan memperbaiki ibadahku kepada-Mu). 

 Doa Memohon Ilmu dan Rezeki: 
 Allahumma inni as-aluka ‘ilman nafi’an, wa rizqon thoyyiban, wa ‘amalan mutaqobbalan. 
(Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang baik, dan amal yang diterima). 

Akhir Kajian Subuh ini menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menunda-nunda amal shalih. Selagi badan masih sehat dan waktu luang masih tersedia di bulan Ramadhan, mari kita perbanyak doa dan taubat. Semoga kita termasuk orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan ini dalam keadaan bersih dari dosa.
Dipandu oleh MC : Rahman Bin Lukman



Share:

Buah Khuldi: Peristiwa, Iri Iblis, dan Hikmah

Kajian Subuh Ramadhan, 22 Februari 2026 Bersama Ustadz Susianto, S.K.M Ramadhan selalu menghadirkan ruang perenungan yang lebih dalam. Pada Kajian Subuh, 22 Februari 2026, Ustadz Susianto, S.K.M mengajak jamaah menyelami kembali salah satu kisah paling penting dalam sejarah manusia: peristiwa Nabi Adam AS dan buah Khuldi. 
Kisah ini bukan sekadar cerita awal penciptaan manusia, tetapi pelajaran besar tentang godaan, iri hati, pengakuan dosa, dan rahmat Allah SWT. 

1. Peristiwa Buah Khuldi 
Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an, tepatnya pada Surah Al-Baqarah ayat 35: 
 “Dan Kami berfirman: ‘Wahai Adam! Tinggallah engkau dan istrimu di dalam surga, dan makanlah dengan nikmat (berbagai makanan) yang ada di sana sesukamu. Tetapi janganlah kamu dekati pohon ini, nanti kamu termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Baqarah: 35) 

Larangan itu jelas. Surga penuh kenikmatan, tetapi ada satu batas yang tidak boleh dilanggar. Namun dalam Surah Al-A’raf ayat 21 disebutkan bagaimana iblis menggoda dengan sumpah dan rayuan: 

 “Dan dia (iblis) bersumpah kepada keduanya, ‘Sesungguhnya aku ini termasuk para penasihatmu.’” (QS. Al-A'raf: 21) 

Iblis membungkus godaan dengan kata-kata manis, seolah-olah ia adalah penasihat yang tulus. Di sinilah letak awal ujian manusia: tidak semua yang terdengar baik itu benar. 

2. Rasa Iri Iblis: Awal Kejatuhan 
Sebelum peristiwa buah Khuldi, ada sebab besar yang melatarinya: iri hati. Allah SWT memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepada Adam. Semua taat kecuali iblis. Dalam Surah Al-Baqarah ayat 34: “Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat: ‘Sujudlah kamu kepada Adam,’ maka mereka pun sujud kecuali iblis; ia enggan dan takabur dan ia termasuk golongan kafir.” (QS. Al-Baqarah: 34) 

Kemudian dalam Surah Al-A’raf ayat 12, iblis mengungkapkan kesombongannya: 
 “Aku lebih baik darinya. Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan dia Engkau ciptakan dari tanah.” (QS. Al-A'raf: 12) 

Iri melahirkan kesombongan. Kesombongan melahirkan pembangkangan. Pembangkangan melahirkan permusuhan abadi terhadap manusia. Inilah akar masalahnya. Iblis tidak terima dengan kemuliaan yang Allah berikan kepada Adam. Ia merasa lebih unggul. Kajian ini mengingatkan kita: iri hati adalah penyakit hati yang sangat berbahaya. Ia bisa menghapus kebaikan dan menjerumuskan pada kebinasaan.

3. Pengakuan Nabi Adam: Jalan Taubat 
Setelah memakan buah yang dilarang, Nabi Adam AS dan Hawa menyadari kesalahan mereka. Yang menarik, respon mereka berbeda dengan iblis. Iblis menyalahkan takdir dan menolak bertanggung jawab. Nabi Adam justru mengakui kesalahan dan memohon ampun. Dalam Surah Al-A’raf ayat 23 disebutkan doa mereka: 

 “Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A'raf: 23) 

 Inilah pelajaran luar biasa: manusia mulia bukan karena tidak pernah salah, tetapi karena berani mengakui kesalahan dan kembali kepada Allah. Ramadhan adalah momentum untuk meneladani sikap Nabi Adam AS—jujur pada diri sendiri dan segera bertaubat. 

4. Hikmah di Balik Peristiwa Buah Khuldi 
Peristiwa ini menyimpan banyak hikmah: 
1️⃣ Manusia Pasti Diuji Surga pun memiliki batasan. Hidup di dunia tentu lebih banyak ujiannya. 
2️⃣ Godaan Datang dengan Kemasan Indah Iblis tidak datang dengan wajah menyeramkan, tetapi dengan sumpah dan janji manis. 
3️⃣ Bahaya Iri dan Sombong Kesombongan iblis menjadi sebab kehancurannya. Penyakit hati ini harus kita waspadai. 
4️⃣ Taubat adalah Kemuliaan Kesalahan bukan akhir segalanya. Taubat yang tulus justru mengangkat derajat manusia. 
5️⃣ Dunia adalah Tempat Pembuktian Turunnya Nabi Adam AS ke bumi bukan sekadar hukuman, tetapi awal amanah sebagai khalifah. 

Kajian Subuh ini mengajak kita merenung: 
Apakah kita lebih sering seperti iblis yang membenarkan diri? 
Ataukah seperti Nabi Adam AS yang segera mengakui kesalahan? 
Ramadhan adalah bulan latihan membersihkan iri, menundukkan ego, dan membiasakan diri untuk kembali kepada Allah dengan rendah hati. Semoga kita termasuk hamba yang ketika tergelincir, segera bangkit dengan taubat. Semoga hati kita dijauhkan dari iri dan kesombongan. Dan semoga Ramadhan ini menjadi titik balik menuju pribadi yang lebih bertakwa. Wallahu a’lam bishawab.













Share:

Merasa Islam 'Seadanya'?

Kajian rutin Ahad Pagi
Pada hari Ahad, 15 Juni 2025, suasana pagi di Masjid Al-Mu'minun Perumahan Gayam Permai dipenuhi dengan keberkahan dalam pelaksanaan kajian rutin Ahad pagi. Kajian kali ini disampaikan oleh Ustadz Lukman dari Pondok Pesantren NUSA Banjarnegara, yang mengupas tuntas berbagai aspek penting dalam agama Islam, khususnya mengenai kalender Hijriyah, bulan-bulan haram, dan penegasan tentang kesempurnaan Islam. 
Ustadz Lukman memulai kajian dengan menjelaskan pentingnya kalender Hijriyah yang didasarkan pada peredaran bulan, atau yang dikenal dengan komariah. Beliau menekankan bahwa perhitungan ini adalah ketetapan Allah SWT yang memiliki hikmah mendalam bagi umat Muslim, termasuk dalam penentuan waktu ibadah seperti puasa dan haji. Lebih lanjut, Ustadz Lukman secara khusus menyoroti bulan Dzulhijjah sebagai salah satu dari empat bulan haram dalam Islam. Beliau menjelaskan bahwa pada bulan-bulan haram ini, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah dan menjauhi segala bentuk perbuatan dosa, karena kemuliaan bulan-bulan tersebut. 
Istilah Prasmanan yaitu hidangan yang disajikan jika suka diambil jika tidak suka tidak diambil. Islam Bukan Prasmanan, Tapi Ketaatan Penuh Bagian menarik dari kajian ini adalah analogi yang disampaikan Ustadz Lukman mengenai prasmanan. Beliau menggambarkan konsep prasmanan, di mana seseorang bebas memilih makanan yang disukai dan meninggalkan yang tidak disukai. Namun, Ustadz Lukman dengan tegas menyatakan bahwa konsep prasmanan tidak berlaku dalam urusan agama. 
Beliau mengutip firman Allah SWT dalam Surah Al-Baqarah ayat 208, 
"Ya ayyuhalladzina amanu udkhulu fissilmi kaffah," yang berarti "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan." 
Ayat ini menjadi penekanan utama bahwa seorang Muslim harus menerima dan menjalankan semua ketentuan Allah SWT tanpa terkecuali, serta meninggalkan semua larangan-Nya secara total. Tidak ada ruang untuk memilih-milih syariat yang sesuai selera pribadi, atau menjalankan sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Ustadz Lukman mempertegas bahwa Islam telah sempurna. Segala ajaran dan syariat yang diturunkan Allah SWT melalui Nabi Muhammad SAW adalah lengkap dan mencakup seluruh aspek kehidupan. 
Oleh karena itu, tidak ada alasan bagi umat Muslim untuk mencari pedoman di luar ajaran Islam, apalagi mencoba mengadaptasi syariat sesuai keinginan pribadi. Kajian rutin Ahad pagi ini menjadi pengingat bagi seluruh jamaah akan pentingnya ketaatan penuh kepada Allah SWT dan ajaran-Nya. Semoga dengan pemahaman yang lebih mendalam ini, kita semua dapat semakin istiqamah dalam menjalankan Islam secara kaffah, meraih keberkahan di dunia dan akhirat.










Share:

"Transfer" Pahala secara Gratis: Ghibah

Gayam Permai, Banjarnegara – Fajar di hari ke-8 Ramadhan 1447 H terasa begitu teduh di Masjid Al-Mu’minun. Selasa, 24 Februari 2026, jamaah kembali berkumpul untuk memperdalam ilmu dalam Kajian Subuh yang disampaikan oleh Ustadz Yusman, SHI. Beliau mengangkat tema yang sangat dekat dengan keseharian kita: Hakikat Rahmat Allah dan Penjagaan Iman. 
Ustadz Yusman mengawali kajian dengan menekankan bahwa amalan manusia, setinggi apa pun bukanlah penentu utama seseorang masuk surga, melainkan karena Rahmat Allah SWT. "Amal kita adalah wasilah (jalan) untuk menjemput rahmat-Nya. Maka, jangan pernah sombong dengan amal, tapi kejarlah rahmat Allah dengan sebaik-baiknya ketaatan," jelas beliau. 

Iman yang Bisa "Lusuh" Seperti Pakaian 
Salah satu poin menarik dalam tausiyah beliau adalah analogi iman. Beliau mengutip sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa iman bisa menjadi lusuh atau luntur, sebagaimana pakaian yang kita kenakan sehari-hari. Faktor usia, lingkungan, dan kemaksiatan dapat membuat "warna" iman yang tadinya cerah menjadi pudar. Oleh karena itu, Nabi SAW mengajarkan kita untuk selalu memperbarui iman (Tajdidul Iman) agar senantiasa segar dan kuat di dalam hati. 

Ghibah: "Pencuci" Iman yang Menghancurkan 
Ustadz Yusman secara khusus menyoroti salah satu faktor utama yang paling cepat membuat iman seseorang lusuh dan luntur, yaitu Ghibah (membicarakan aib orang lain). Di bulan Ramadhan yang suci ini, ghibah menjadi ancaman serius karena: 
  • Mengurangi Pahala Puasa: Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga menahan lisan.  
  • Merusak Hati: Ghibah membuat hati menjadi keras dan jauh dari cahaya hidayah.  
  • Memindahkan Amal: Secara tidak sadar, orang yang ber-ghibah sedang mentransfer pahala puasanya kepada orang yang ia bicarakan. "Ibarat pakaian bagus yang terkena noda tinta yang sangat pekat, begitulah ghibah mengotori iman kita. Sangat disayangkan jika puasa kita seharian penuh hanya menghasilkan rasa lapar, sementara pahalanya hilang karena lisan yang tidak terjaga," tegas Ustadz Yusman. 
Banyak dari kita berdalih, "Tapi kan saya bicara kenyataan, memang dia begitu orangnya!". Ustadz Yusman mengingatkan kembali sabda Rasulullah SAW: “Ghibah adalah engkau membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia benci.” Jika apa yang dibicarakan itu benar, itulah Ghibah. Jika apa yang dibicarakan itu salah/bohong, maka itu adalah Fitnah (Buhtan). Keduanya adalah dosa besar yang melunturkan cahaya iman. 

Ghibah adalah "Riba" yang Paling Berat 
Beliau menjelaskan bahwa salah satu jenis riba yang paling jahat bukan hanya soal uang, melainkan merusak kehormatan sesama muslim. Membicarakan aib tetangga atau kawan sama saja dengan meruntuhkan martabatnya, dan itu adalah tindakan yang sangat dibenci Allah. 

 Analogi Memakan Bangkai Saudara Sendiri 
Dalam Al-Qur'an (QS. Al-Hujurat: 12), Allah memberikan gambaran yang sangat menjijikkan bagi pelaku ghibah: seperti orang yang memakan daging bangkai saudaranya sendiri. 

Logikanya: Mengapa bangkai? 
Karena orang yang kita bicarakan tidak ada di tempat untuk membela diri (seperti mayat yang diam). Efeknya ke Iman: Bagaimana mungkin hati yang penuh dengan "daging bangkai" (kebencian dan aib orang) bisa merasakan manisnya shalat tarawih dan nikmatnya membaca Al-Qur'an? Inilah alasan mengapa iman langsung terasa "lusuh" setelah kita berghibah. 

"Transfer" Pahala secara Gratis 
Ustadz Yusman memberikan peringatan keras bagi para shaimin (orang yang berpuasa). Ghibah adalah pencuri pahala yang paling ulung. "Sangat merugi jika kita sudah menahan haus dan lapar sejak subuh, namun di sore hari pahala puasa kita ditransfer secara cuma-cuma kepada orang yang kita bicarakan aibnya hanya karena lisan yang tidak terjaga," tegas beliau. 

Tips Menghindari Ghibah di Lingkungan Perumahan 
Sebagai penutup pendalaman, beliau memberikan langkah praktis: 
 Alihkan Pembicaraan: Jika mulai ada arah pembicaraan ke aib orang, segera alihkan ke topik yang lebih bermanfaat (seperti rencana kegiatan masjid).  
Ingat Aib Sendiri: Sebelum lisan mengucap kekurangan orang lain, ingatlah beribu aib kita yang masih ditutupi oleh Allah SWT (Sattarul 'Uyub).  
Meninggalkan Majelis: Jika tidak mampu menghentikan, lebih baik menghindar demi menjaga "kebersihan baju" iman kita. 

Cara Merawat Iman agar Tetap Baru 
Tips agar iman kita tidak mudah lusuh:  
Memperbanyak Dzikir: Terutama kalimat Laa ilaha illallah.  
Majelis Ilmu: Terus hadir dalam kajian seperti subuh ini adalah cara "mencuci" dan "menyetrika" iman agar kembali rapi.  
Menjaga Lisan: Berprinsip "Katakan yang baik atau diam" (Fal yaqul khairan au liyashmut). 

Kajian dari Ustadz Yusman, SHI hari ini menjadi pengingat bagi warga Gayam Permai agar tidak hanya sibuk menjaga penampilan fisik di bulan Ramadhan, tetapi lebih sibuk menjaga kesegaran iman dan kebersihan lisan.



Share:

Kajian Ahad Pagi, 25 Mei 2025: Benteng Keislaman

Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara - Suasana pagi yang penuh berkah menyelimuti Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai pada Ahad, 25 Mei 2025. Jamaah dari berbagai penjuru hadir dengan antusias mengikuti Kajian Ahad Pagi yang rutin diadakan. Kajian dilaksanakan ba'da Sholat Subuh. Kali ini, Ustadz Akmal hadir sebagai narasumber, mengupas tuntas tema penting mengenai Suri Tauladan Nabi Muhammad SAW sebagai role model dan panutan sempurna dengan akhlak yang agung, serta hal-hal krusial yang wajib diperhatikan seorang Muslim setelah memeluk agama Islam.
Dalam penyampaiannya yang penuh hikmah, Ustadz Akmal menekankan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah uswatun hasanah, teladan terbaik bagi seluruh umat manusia. Beliau bukan hanya seorang nabi dan rasul, tetapi juga seorang pemimpin yang adil, suami yang penyayang, ayah yang penuh kasih, sahabat yang setia, dan pebisnis yang jujur. Setiap aspek kehidupan Rasulullah SAW adalah cerminan akhlak yang sempurna, yang patut kita ikuti dan jadikan pedoman dalam menjalani kehidupan. "Allah SWT sendiri telah memuji akhlak Rasulullah dalam Al-Qur'an dengan firman-Nya:

 وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ 
 (Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang agung)," 

Lebih lanjut, Ustadz Akmal menjelaskan bahwa setelah seseorang mengucapkan kalimat syahadat dan menjadi seorang Muslim, kewajiban selanjutnya adalah menjaga keislaman tersebut. Hal ini merupakan amanah yang besar dan memerlukan upaya yang sungguh-sungguh. Seorang Muslim wajib membentengi dirinya dari segala hal yang dapat merusak keimanan dan menjauhkannya dari Allah SWT. Beliau kemudian menyoroti fenomena yang marak terjadi di zaman sekarang, di mana banyak orang dengan mudahnya mengucapkan perkataan yang dapat mengeluarkan seseorang dari Islam tanpa mereka sadari. 
Ustadz Akmal mengingatkan jamaah akan pentingnya menjaga lisan dan hati-hati dalam berucap. "Saudara-saudaraku sekalian," ujar Ustadz Akmal dengan nada prihatin, "di zaman yang penuh dengan fitnah ini, kita harus lebih waspada. Terkadang, tanpa sadar, lisan kita meluncurkan kalimat-kalimat yang mengandung kekufuran atau keraguan terhadap Allah dan Rasul-Nya." Ustadz Akmal kemudian menguraikan beberapa hal yang dapat menyebabkan seseorang keluar dari agama Islam, yang dikategorikan menjadi tiga aspek utama: 
 1. Keyakinan (I'tiqad): 
 Tidak mengakui Allah SWT dan Rasulullah SAW: Ini adalah bentuk kekufuran yang paling jelas. Menolak keesaan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang berhak disembah dan menolak kenabian Muhammad SAW sebagai utusan terakhir-Nya. Ragu kepada Allah SWT: Munculnya keraguan yang mendalam terhadap keberadaan Allah, sifat-sifat-Nya yang sempurna, atau kekuasaan-Nya. Menghalalkan hal-hal yang diharamkan dan mengharamkan hal-hal yang dihalalkan: Contohnya, secara sengaja menghalalkan khamar (minuman keras) atau sebaliknya, mengharamkan sesuatu yang jelas-jelas dihalalkan oleh Allah dan Rasul-Nya. 

2. Perbuatan (Af'al): 
 Ustadz Akmal memberikan contoh beberapa perbuatan yang dapat membatalkan keislaman, meskipun beliau tidak merincinya secara detail dalam kesempatan kajian pagi ini. Namun, poin penting yang beliau tekankan adalah bahwa perbuatan yang menunjukkan penghinaan terhadap Allah, Rasul-Nya, Al-Qur'an, atau syariat Islam secara sengaja dan sadar dapat mengeluarkan seseorang dari agama. 
3. Lisan (Aqwal): 
 Bagian ini mendapat penekanan khusus dari Ustadz Akmal, mengingat fenomena ringan dalam berucap yang beliau singgung di awal kajian. Beberapa contoh perkataan yang dapat membatalkan keislaman antara lain: Mencela Allah SWT, Rasulullah SAW, agama Islam, atau syariatnya. Mengolok-olok ajaran Islam, seperti shalat, puasa, zakat, atau haji. Mengucapkan kalimat yang mengandung pengingkaran terhadap rukun iman atau rukun Islam. Berdoa atau meminta pertolongan kepada selain Allah. Mengucapkan sumpah palsu dengan menyebut nama selain Allah. 
Di akhir kajiannya, Ustadz Akmal mengajak seluruh jamaah, termasuk Arijal dan seluruh kaum Muslimin di Banjarnegara dan di manapun berada, untuk senantiasa mempelajari agama Islam dengan benar, memperdalam pemahaman tentang tauhid, dan berhati-hati dalam setiap ucapan dan perbuatan. Beliau juga menekankan pentingnya bertaubat dan kembali kepada Allah SWT jika seseorang merasa telah melakukan kesalahan yang dapat merusak keislamannya. 
Kajian Ahad Pagi ini ditutup dengan doa bersama, memohon kepada Allah SWT agar senantiasa memberikan hidayah, kekuatan iman, dan kemampuan untuk menjaga keislaman hingga akhir hayat. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Akmal dapat menjadi pengingat dan bekal berharga bagi seluruh jamaah dalam mengarungi kehidupan sebagai seorang Muslim yang taat dan meneladani akhlak mulia Rasulullah SAW.



Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget