![]() |
| Foto By AI |
Di tengah kehidupan yang semakin kompleks, seorang muslim tidak hanya dituntut untuk memperbaiki ibadah kepada Allah SWT, tetapi juga harus memperhatikan bagaimana ia bermuamalah dengan sesama manusia. Kejujuran, amanah, menjaga harta, tidak mengambil hak orang lain, serta berhati-hati dalam berbicara menjadi bagian penting dari keimanan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita menghadapi berbagai bentuk fitnah atau ujian. Fitnah tidak selalu berarti berita bohong atau tuduhan. Dalam konteks agama, fitnah juga dapat bermakna ujian dan cobaan yang menguji keimanan seseorang. Karena itu, di tengah zaman yang penuh dengan berbagai ujian, kita perlu terus mengecas iman. Salah satu sarana untuk menguatkan iman adalah menghadiri majelis ilmu.
As-Sakinah sebagai Sumber Menambah Keimanan
Hati manusia mengalami perubahan. Ada saatnya semangat beribadah meningkat, tetapi ada pula saat iman terasa melemah.
Karena itu, kita membutuhkan lingkungan dan kegiatan yang dapat membantu menjaga keteguhan hati.
Majelis ilmu menjadi salah satu sarana untuk menambah keimanan dan mengingatkan kembali tujuan hidup seorang muslim.
Ketika seseorang duduk bersama orang-orang yang belajar agama, mendengarkan nasihat, membaca ayat-ayat Allah, serta mengingat kehidupan akhirat, diharapkan muncul ketenangan dalam hati.
Inilah pentingnya menghadiri majelis.
Mari "Mengecas" Iman
Sebagaimana baterai membutuhkan energi agar dapat digunakan kembali, iman juga membutuhkan penguatan.
Mari mengecas iman sesaat melalui majelis ilmu.
Kesibukan bekerja, mencari nafkah, mengurus keluarga, menghadapi berbagai persoalan, serta mengejar kebutuhan dunia terkadang membuat perhatian kita terhadap akhirat berkurang.
Majelis ilmu menjadi salah satu kesempatan untuk berhenti sejenak dari kesibukan dunia dan mengingat kembali:
Untuk apa kita hidup?
Dari mana harta kita diperoleh?
Bagaimana kita bermuamalah dengan orang lain?
Apa yang akan kita bawa ketika menghadap Allah SWT?
Dengan pertanyaan-pertanyaan tersebut, hati diharapkan kembali sadar bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Fitnah adalah Ujian
Fitnah dalam kehidupan dapat muncul dalam berbagai bentuk.
Ada fitnah dunia, yaitu berbagai kesenangan, harta, jabatan, popularitas, dan kenikmatan yang dapat membuat seseorang lalai dari Allah SWT.
Ada pula fitnah kubur, yaitu ujian yang berkaitan dengan kehidupan setelah kematian.
Karena itu, seorang muslim tidak boleh hanya mempersiapkan kehidupan dunia, tetapi juga harus mempersiapkan kehidupan akhirat.
Allah SWT mengingatkan bahwa kehidupan dunia merupakan kesenangan yang sementara, sedangkan kehidupan akhirat memiliki kedudukan yang lebih kekal.
Jangan Menjual Agama demi Secuil Dunia
Salah satu ujian besar manusia adalah ketika kepentingan dunia mulai mengalahkan prinsip agama.
Harta memang diperlukan. Bekerja dan mencari rezeki merupakan bagian dari kehidupan. Namun, seorang muslim harus tetap memiliki batas yang jelas antara mencari rezeki dan mengorbankan agama demi mendapatkan keuntungan dunia.
Jangan sampai karena ingin mendapatkan sedikit keuntungan, seseorang kemudian:
berdusta,
mengambil hak orang lain,
berbuat curang,
mengkhianati amanah,
melakukan transaksi yang tidak halal,
atau membenarkan sesuatu yang salah karena kepentingan pribadi. Harta yang banyak tidak akan memberikan ketenangan jika diperoleh dengan cara yang tidak benar. Sebaliknya, rezeki yang halal meskipun tidak berlimpah dapat menjadi sumber keberkahan dan ketenteraman.
Nikmat Sehat Lebih Berharga daripada Kekayaan
Salah satu nikmat Allah yang sering dilupakan adalah kesehatan.
Ketika sehat, seseorang terkadang merasa bahwa kesehatan adalah sesuatu yang biasa. Namun ketika sakit, barulah ia menyadari betapa besar nilai kesehatan.
Kekayaan yang banyak tidak selalu dapat memberikan manfaat ketika seseorang tidak memiliki kesehatan untuk menikmatinya.
Karena itu, kesehatan merupakan nikmat yang harus disyukuri.
Dengan tubuh yang sehat, kita dapat bekerja, beribadah, belajar, membantu orang lain, menghadiri majelis ilmu, dan melakukan berbagai amal kebaikan.
Beberapa Penyebab Munculnya Fitnah dalam Muamalah
Dalam kehidupan bermasyarakat, terdapat berbagai hal yang dapat menjadi pintu munculnya kerusakan dalam muamalah.
1. Tidak Mau Belajar
Salah satu masalah yang dapat menjerumuskan seseorang ke dalam kesalahan adalah tidak mau belajar.
Ketika seseorang tidak mengetahui aturan agama tentang halal dan haram, hak dan kewajiban, hutang-piutang, jual beli, amanah, serta hubungan sosial, ia dapat melakukan kesalahan tanpa menyadarinya.
Karena itu, belajar agama bukan hanya diperlukan bagi orang yang ingin menjadi ustadz atau ahli agama.
Setiap muslim membutuhkan ilmu agama untuk menjalani kehidupannya.
Terlebih dalam masalah muamalah, karena setiap hari kita berhubungan dengan orang lain.
2. Tidak Peduli Ketika Mengambil Harta Orang Lain
Harta merupakan salah satu perkara yang sangat sensitif dalam kehidupan manusia.
Jangan sampai seseorang merasa ringan ketika mengambil sesuatu yang bukan haknya.
Mengambil harta orang lain dapat terjadi dalam berbagai bentuk, bukan hanya pencurian.
Misalnya:
mengurangi timbangan,
memanipulasi harga,
mengambil uang yang bukan haknya,
menyalahgunakan amanah,
menipu dalam transaksi,
menggunakan fasilitas yang bukan haknya,
atau mengambil keuntungan dengan cara merugikan orang lain.
Seorang muslim harus selalu bertanya kepada dirinya:
“Apakah harta yang saya dapatkan ini benar-benar halal dan menjadi hak saya?”
Pertanyaan sederhana tersebut dapat menjadi pengingat agar kita berhati-hati dalam mencari rezeki.
Ketika Orang Jujur Dianggap Pendusta
Salah satu gambaran zaman fitnah adalah ketika nilai-nilai kebenaran menjadi terbalik.
Orang yang jujur dapat dianggap sebagai pendusta.
Sebaliknya, orang yang suka berdusta justru dipercaya.
Orang yang amanah dapat dianggap berkhianat.
Sementara orang yang tidak amanah justru mendapatkan kepercayaan.
Kondisi seperti ini merupakan peringatan agar seorang muslim tidak menentukan kebenaran hanya berdasarkan popularitas, banyaknya pengikut, atau penilaian manusia.
Kebenaran harus dikembalikan kepada Al-Qur'an dan Sunnah serta penjelasan para ulama yang memiliki ilmu.
Munculnya Ruwaibidhah
Di antara peringatan Rasulullah ï·º tentang zaman fitnah adalah munculnya ruwaibidhah.
Ruwaibidhah digambarkan sebagai orang yang tidak memiliki kapasitas dalam suatu urusan, tetapi ikut berbicara dan memberikan pendapat tentang urusan yang seharusnya ditangani oleh orang yang memiliki ilmu dan kompetensi.
Fenomena ini menjadi semakin relevan untuk diperhatikan di era informasi.
Hari ini siapa pun dapat berbicara melalui media sosial. Seseorang dapat membuat video, menulis artikel, membuat komentar, bahkan memberikan nasihat kepada jutaan orang hanya melalui sebuah telepon genggam.
Kemudahan berbicara tidak selalu berarti seseorang memiliki ilmu dan kapasitas untuk berbicara tentang apa yang disampaikannya.
Karena itu, dalam masalah agama kita perlu berhati-hati.
Jangan Semua yang Berbicara Agama Langsung Diikuti
Ketika seseorang berbicara tentang agama, hendaknya kita memperhatikan:
dari mana ilmunya,
siapa gurunya,
apa dasar yang digunakan,
bagaimana penjelasan ulama terhadap masalah tersebut,
dan apakah yang disampaikan sesuai dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Bukan berarti kita boleh merendahkan orang yang belum memiliki ilmu.
Justru sebaliknya, hal ini mengajarkan kita untuk menempatkan ilmu kepada ahlinya.
Orang yang belum memahami suatu persoalan sebaiknya mengatakan:
“Saya belum tahu.”
Mengakui ketidaktahuan jauh lebih selamat daripada berbicara tentang agama tanpa ilmu.
Muamalah adalah Cermin Keimanan
Keimanan seseorang tidak hanya terlihat ketika berada di masjid.
Iman juga tercermin ketika seseorang:
berdagang,
bekerja,
menerima amanah,
memegang uang,
berhutang,
membayar hutang,
berbicara dengan tetangga,
bekerja dalam sebuah organisasi,
menggunakan fasilitas bersama,
dan berinteraksi dengan masyarakat.
Karena itu, memperbaiki muamalah merupakan bagian dari usaha memperbaiki iman.
Jangan sampai seseorang terlihat rajin beribadah, tetapi dalam urusan harta masih mengambil hak orang lain.
Jangan sampai seseorang banyak berbicara tentang agama, tetapi tidak menjaga amanah.
Ibadah kepada Allah dan akhlak kepada manusia harus berjalan bersama.
Bagaimana Menghadapi Zaman Fitnah?
Di tengah berbagai ujian kehidupan, beberapa sikap berikut penting untuk terus dijaga.
- Terus Belajar Jangan merasa cukup dengan ilmu yang sudah dimiliki. Teruslah menghadiri majelis ilmu dan belajar dari sumber yang terpercaya.
- Menjaga Harta Pastikan harta diperoleh dengan cara yang halal dan digunakan untuk perkara yang baik.
- Menjaga Amanah Apa pun yang dipercayakan kepada kita harus dijaga dan ditunaikan dengan sebaik-baiknya.
- Menjaga Lisan Tidak semua hal harus dikomentari. Tidak semua berita harus disebarkan. Tidak semua persoalan agama harus kita jawab.
- Memperbanyak Doa Mohon kepada Allah SWT agar diberikan keteguhan iman, ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan keselamatan dari berbagai fitnah.
- Menguatkan Lingkungan yang Baik Berada di lingkungan yang mengingatkan kepada Allah akan membantu kita menjaga iman. Salah satunya dengan menghidupkan majelis ilmu di masjid.
Saatnya Mengecas Iman
Zaman fitnah bukan alasan untuk menjauh dari agama. Justru ketika berbagai ujian semakin banyak, kita semakin membutuhkan ilmu, iman, dan lingkungan yang baik.
Mari kita gunakan kesempatan berada di majelis ilmu untuk mengecas iman.
Kita tinggalkan sejenak kesibukan dunia, kemudian mengingat kembali tujuan hidup, memperbaiki hubungan dengan Allah, dan memperbaiki hubungan dengan sesama manusia.
Jangan sampai kehidupan dunia membuat kita menjual agama demi keuntungan yang sedikit.
Jangan sampai harta membuat kita kehilangan amanah.
Jangan sampai ketidaktahuan membuat kita berbicara tentang agama tanpa ilmu.
Dan jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar dunia hingga lupa mempersiapkan kehidupan akhirat.
Semoga Allah SWT menjaga kita dari berbagai fitnah, memberikan ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, hati yang tenang, serta keteguhan iman sampai akhir hayat. Aamiin.
Referensi : Pengajian Ustadz ANB di Masjid As Sidiq Pucang Banjarnegara







No comments:
Post a Comment