![]() |
Dalam kajian disampaikan bahwa tangisan Siti Khadijah radhiyallahu ‘anha ketika mendengar cerita tentang alam kubur menjadi pelajaran penting bagi kaum muslimin. Hati yang hidup akan mudah tersentuh saat mengingat akhirat, kematian, kubur, serta perjumpaan dengan Allah. Sebaliknya, seseorang yang sulit menangis dan tidak tersentuh oleh nasihat perlu bermuhasabah: jangan-jangan hatinya mulai mengeras.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Hadid ayat 16, bahwa belum tibakah waktunya bagi orang-orang beriman untuk khusyuk hati mereka mengingat Allah dan kebenaran yang telah diturunkan-Nya; jangan sampai seperti umat terdahulu yang berlalu masa panjang atas mereka, lalu hati mereka menjadi keras.
1. Hati yang keras
Kerasnya hati membuat seseorang tidak lagi peka terhadap nasihat. Ayat-ayat Al-Qur’an dibaca, kisah kematian didengar, bahkan kabar duka disaksikan, tetapi tidak menimbulkan rasa takut kepada Allah maupun dorongan untuk memperbaiki diri.
Hati yang keras bukan sekadar tidak bisa menangis secara lahiriah. Yang lebih berbahaya adalah ketika hati tidak tunduk, tidak khusyuk, dan tidak terdorong untuk taat. Karena itu, seorang muslim perlu terus meminta kepada Allah agar diberi hati yang lembut dan mudah menerima kebenaran.
2. Banyak dosa
Dosa yang dilakukan berulang-ulang dapat meninggalkan noda pada hati. Rasulullah ï·º menjelaskan bahwa ketika seorang hamba berbuat dosa, muncul titik hitam di hatinya. Jika ia berhenti, memohon ampun, dan bertobat, hatinya akan dibersihkan. Namun bila ia mengulangi dosa, noda itu bertambah hingga menutupi hati.
Inilah sebab pentingnya segera bertobat. Jangan menunda istighfar dan jangan meremehkan dosa kecil. Dosa yang dianggap ringan, jika terus dikumpulkan, dapat menggelapkan hati dan menjadikan seseorang sulit menerima nasihat.
3. Mengambil hak orang lain
Salah satu sebab hati menjadi gelap adalah mengambil atau menahan hak orang lain. Bentuknya dapat berupa kezhaliman, utang yang tidak dibayar padahal mampu, mengurangi timbangan, ghibah, fitnah, mengambil harta yang bukan miliknya, atau menyakiti orang lain tanpa meminta maaf.
Hak Allah dapat diampuni dengan tobat yang sungguh-sungguh. Namun hak sesama manusia perlu diselesaikan dengan mengembalikan haknya atau meminta kerelaan. Karena itu, jangan sampai kita datang pada hari kiamat membawa banyak amal, tetapi habis untuk membayar kezhaliman kepada orang lain.
Mengingat kematian dan mengurangi angan-angan panjang
Obat bagi hati yang keras adalah banyak mengingat kematian. Kematian mengingatkan bahwa dunia ini sementara, jabatan tidak kekal, harta tidak dibawa mati, dan setiap manusia akan kembali kepada Allah.
Panjang angan-angan sering membuat seseorang menunda tobat: merasa masih muda, merasa masih ada waktu, atau berencana memperbaiki diri nanti. Padahal kematian tidak menunggu kesiapan kita. Karena itu, perbaikilah diri hari ini, selesaikan hak orang lain hari ini, dan perbanyak amal sebelum datang masa ketika penyesalan tidak lagi berguna.
Cinta dunia yang berlebihan juga menjadi pangkal banyak kesalahan. Ketika dunia menjadi tujuan utama, seseorang mudah lalai, berbuat zalim, mengejar harta dengan cara yang tidak halal, serta melupakan akhirat.
Mari menjaga kelembutan hati dengan memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, menghadiri majelis ilmu, menjauhi dosa, segera bertobat, menyelesaikan hak orang lain, dan sering mengingat kematian. Semoga Allah SWT menjadikan hati kita hati yang hidup, lembut, khusyuk, serta mudah menerima petunjuk-Nya.






.jpg)
.jpg)
.jpg)
.jpg)
No comments:
Post a Comment