Menjaga Kesempurnaan Puasa dan Kelapangan Hati: Catatan Kajian Ramadhan bersama Ustadz Ulil Albab

Banjarnegara, 19 Februari 2026 – Memasuki hari-hari awal di bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan kesejukan ruhani melalui kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga esensi puasa di tengah perbedaan dan melatih hati agar mencapai derajat taqwa yang hakiki. 

1. Khilafiyah: Perbedaan yang Tak Perlu Diperbesar Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan pesan persatuan. Masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat—termasuk perbedaan penentuan awal Ramadhan—adalah hal yang wajar dalam dinamika ijtihad. "Janganlah perbedaan ini diperbesar hingga merusak ukhuwah. Fokus kita bukanlah pada kapan kita mulai, tapi pada bagaimana kualitas ibadah kita selama bulan mulia ini," pesan beliau. Kelapangan dada dalam menerima perbedaan adalah ciri kematangan iman seorang muslim. 

2. Fadilah Umat Rasulullah dan Mukjizat Al-Qur'an Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diberikan keistimewaan berupa bulan Ramadhan. Kemuliaan bulan ini tak lepas dari peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an). Ustadz Ulil menjelaskan ada dua fadilah besar yang harus kita kejar: Fadilah Waktu: Setiap detik di bulan Ramadhan adalah keberkahan. Fadilah Membaca Al-Qur'an: Berkhidmat (berbakti dan berinteraksi) dengan Al-Qur'an bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghadirkan Al-Qur'an dalam hati. Siapa pun yang memuliakan Al-Qur'an, Allah pasti akan menjamin keberkahan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. 

3. Menjaga Kesempurnaan Puasa Banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, Ustadz Ulil mengingatkan untuk menjaga kesempurnaan puasa. Tidak hanya menahan mulut dari makan, tapi juga menahan mata, telinga, dan lisan dari hal-hal yang sia-sia agar pahala yang didapat tetap sempurna di sisi Allah SWT. 

4. Senyum Rasulullah: Kisah Keajaiban Memaafkan Salah satu momen paling menyentuh dalam kajian ini adalah saat Ustadz menceritakan sebuah riwayat tentang Rasulullah SAW yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. Beliau menceritakan dialog di akhirat antara seseorang yang didzalimi dan orang yang mendzaliminya. Si korban menuntut keadilan atas kedzaliman yang ia terima. Namun, Allah memperlihatkan sebuah istana yang megah di surga. Allah berfirman bahwa istana itu milik mereka yang mau memaafkan saudaranya. Akhirnya, orang yang didzalimi tersebut memilih untuk memaafkan, bahkan ia menggandeng tangan orang yang pernah mendzaliminya untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. "Inilah puncak dari akhlak mulia: mengajak orang yang pernah menyakiti kita untuk menuju kebaikan," tambah Ustadz Ulil. 

5. Ramadhan sebagai Madrasah Hati Tujuan akhir dari puasa adalah Taqwa. Namun, taqwa tidak akan tercapai tanpa pembentukan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pelatihan hati untuk mengikis rasa sombong, dendam, dan egois. Jika hati telah terbentuk, maka ketaqwaan akan lahir secara alami dalam tindakan sehari-hari. 

Semoga kajian dari Ustadz Ulil Albab ini menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk menjalani Ramadhan 1447 H dengan lebih berkualitas. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Nyadran di Makam Pacean: Menjemput Ramadhan dengan Kebersihan dan Kebersamaan


Kutabanjarnegara – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1447 H, gema gotong royong terdengar kencang di sudut Pungkuran. Pada hari Minggu kemarin, warga Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya tumpah ruah melaksanakan kerja bakti membersihkan Makam Pacean yang berlokasi di Pungkuran, Kutabanjarnegara, Banjarnegara. 
Kegiatan "Bersih Kubur" atau yang akrab disebut Nyadran oleh masyarakat Jawa ini bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan wujud penghormatan kepada para leluhur sekaligus sarana mempererat silaturahmi antarwarga. 
Sejak pagi buta, warga datang dengan membawa peralatan lengkap; cangkul, sabit, hingga sapu lidi. Ada pemandangan yang menyejukkan hati melihat bapak-bapak, pemuda, hingga anak-anak bahu-membahu membersihkan rumput liar dan dedaunan kering yang menutupi area pemakaman. Antusiasme warga Kampung Pungkuran dan sekitarnya tahun ini terasa sangat luar biasa. Meski di bawah terik matahari, semangat kebersamaan membuat pekerjaan yang berat menjadi terasa ringan. Senyum dan tawa kecil di sela-sela kerja bakti menunjukkan bahwa kerukunan antarwarga di lingkungan kita masih terjaga dengan sangat baik. 

Filosofi di Balik Kebersihan Makam 
Mengapa kita membersihkan makam menjelang Ramadhan? Bagi kita, kegiatan ini memiliki makna yang dalam: 
Refleksi Diri: Membersihkan makam mengingatkan kita akan "rumah masa depan". Ini adalah momen pengingat kematian (dzikrul maut) agar kita lebih khusyuk mempersiapkan diri menyambut bulan puasa. 
Kenyamanan Peziarah: Menjelang Ramadhan dan Idul Fitri, intensitas warga yang berziarah akan meningkat. Dengan makam yang bersih dan rapi, para peziarah dapat berdoa dengan lebih nyaman dan khidmat. 
Syiar Gotong Royong: Di era digital yang serba individualis, kerja bakti fisik seperti ini adalah "benteng" terakhir untuk menjaga tradisi luhur guyub rukun. 

Persiapan Rohani dan Jasmani 
Bersihnya Makam Pacean adalah simbol bahwa kita siap secara lahiriah untuk menyambut bulan mulia. Namun lebih dari itu, semoga bersihnya lingkungan pemakaman ini juga diikuti dengan bersihnya hati kita dari penyakit-penyakit diri, sehingga kita bisa memasuki Ramadhan dengan jiwa yang fitrah. Terima kasih kepada seluruh warga Gayam Permai dan Kutabanjarnegara yang telah meluangkan waktu dan tenaganya. Semoga setiap keringat yang menetes menjadi amal jariyah bagi kita semua.
Share:

Memuliakan Ramadhan: Bekal Menuju Kampung Akhirat yang Kekal

Gayam Permai Banjarnegara – Suasana syahdu menyelimuti Masjid kita pada pagi ini, Ahad, 15 Februari 2026. Dalam kegiatan Pengajian Subuh yang rutin dilaksanakan, Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai persiapan kita menyambut tamu agung, bulan suci Ramadhan, yang sudah di ambang pintu. 
Berikut adalah ringkasan mutiara hikmah dari tausiyah beliau: 
1. Mengingat Kematian di Ambang Ramadhan
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. Cepat atau lambat, kita semua akan kembali ke Kampung Akhirat. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk memasuki surga-Nya? Ramadhan setiap tahun akan selalu datang, namun tidak ada jaminan apakah umur kita akan sampai pada Ramadhan tahun berikutnya. Inilah saatnya kita berbenah. 
2. Penyesalan yang Tak Berguna (Belajar dari QS. Al-Mu’minun) Ustadz Retno menekankan pentingnya memanfaatkan waktu di dunia yang singkat ini sebagai "ladang" untuk akhirat. Beliau mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 99-100, yang menggambarkan rintihan orang-orang yang lalai saat kematian menjemput: 
 "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan..." 
Namun, keinginan itu hanyalah angan-angan kosong. Sekali kaki melangkah ke alam Barzakh, pintu dunia tertutup rapat. Di akhirat nanti, memori tentang amalan kita di dunia akan diputar kembali (QS. Al-Fajr & QS. An-Naziat). Manusia adalah saksi paling nyata atas apa yang telah ia perbuat sendiri. 
3. Ramadhan sebagai Arena Perlombaan 
Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai arena untuk berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih ridho-Nya. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan: 
Menjaga Lisan: Menghindari ghibah dan perkataan sia-sia. 
Menjaga Perut: Memastikan apa yang masuk adalah harta yang halal, bukan hak anak yatim atau janda miskin yang terzalimi. 
Bertaubat: Memohon ampunan (maghfirah) mumpung pintu taubat dibuka selebar-lebarnya. 
4. Memuliakan Tamu Allah
Ustadz mengibaratkan Ramadhan sebagai Utusan atau Tamu Allah. Logikanya sederhana: Barangsiapa yang menyia-nyiakan tamu Allah, maka ia akan dihinakan di akhirat. Barangsiapa yang memuliakan tamu Allah dengan amal shaleh, maka Allah akan memuliakannya di akhirat dan mengumpulkannya bersama orang-orang shaleh di surga. 
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perbaikan diri sebelum kita benar-benar kembali ke kampung halaman yang abadi. Semoga Allah menyampaikan usia kita ke bulan suci tersebut dalam keadaan sehat dan iman yang kuat. 
Diringkas dari Pengajian Subuh di Gayam Permai, 15 Februari 2026.

Share:

Sampai Bertemu Di Shaf Depan!

Sambut Ramadhan 1447 H: 
Menjemput Keberkahan di Masjid Al Mu’minun “Marhaban ya Ramadhan, Syahrul Mubarak.” 
Alhamdulillah, bulan yang penuh dengan curahan rahmat akan segera menyapa kita kembali. Di lingkungan Perumahan Gayam Permai, semarak Ramadhan mulai terasa dengan hadirnya Menu Ramadhan 1447 H yang telah disusun oleh Ta’mir Masjid Al Mu’minun. Bagi saya pribadi, Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum untuk melakukan "reset" spiritual setelah setahun penuh disibukkan dengan urusan duniawi dan pekerjaan teknis. 

Apa yang Spesial di Ramadhan Tahun Ini? 
Tahun ini, Masjid Al Mu’minun kembali menjadi pusat peradaban dan ukhuwah bagi warga Gayam Permai melalui berbagai agenda menarik: 
  • Penguatan Literasi Melalui Kajian: Tidak hanya shalat tarawih, kita juga akan diperkaya dengan kajian Ba’da Subuh dan Kultum Tarawih. Inilah saatnya kita "mengisi baterai" ilmu agar ibadah kita tidak sekadar kebiasaan, tapi didasari pemahaman yang kuat. 
  • Harmoni Sosial (Buka & Sahur Bersama): Momen buka puasa dan sahur bersama di masjid adalah bukti nyata bahwa kita adalah satu keluarga besar. Di meja yang sama, kita berbagi rasa dan cerita. Menebar Empati (Zakat & Anjangsana): 
  • Ramadhan adalah bulan berbagi. Agenda anjangsana ke Panti Asuhan serta pengelolaan Zakat Fitrah dan Mal menjadi sarana kita untuk membersihkan harta sekaligus membantu sesama. 
  • Menghidupkan Malam (I’tikaf & Tadarus): Menjelang sepuluh hari terakhir, mari kita kencangkan ikat pinggang untuk berburu malam Lailatul Qadar melalui tadarus Al-Qur’an dan I’tikaf. 

Mari Makmurkan Masjid Kita! 
Mengajak seluruh warga, rekan-rekan pendidik, dan juga para siswa untuk tidak melewatkan momentum emas ini. Mari kita jadikan Masjid Al Mu’minun sebagai tempat ternyaman untuk bersujud dan bersilaturahmi. "Kemenangan Ramadhan bukan saat kita memiliki baju baru, tapi saat kita memiliki hati yang baru dan pribadi yang lebih bertaqwa." Informasi lengkap mengenai jadwal Imam, petugas Kultum, dan donasi shodaqoh dapat Bapak/Ibu akses dengan memindai barcode pada gambar atau mengunjungi blog resmi lingkungan kita di: gayampermai-bna.blogspot.com. 
Sampai bertemu di shaf depan!
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget