Showing posts sorted by date for query Ustadz Retno. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query Ustadz Retno. Sort by relevance Show all posts

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Adab kepada Allah SWT: Kunci Meraih Ridha dan Keberuntungan Hidup

Adab dan Akhlak

Kajian Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono, LC, 7 Juni 2026.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara menjaga perasaan manusia atau menjaga adab kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa adab kepada Allah harus menjadi prioritas utama. Ketika terjadi pertentangan antara keduanya, maka seorang muslim hendaknya lebih mengutamakan ridha Allah SWT daripada mencari ridha manusia. Manusia memiliki keterbatasan. Ridha manusia tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. 
Namun, apabila Allah SWT telah ridha kepada seorang hamba, maka itulah keberuntungan yang sesungguhnya. Menjaga Adab kepada Allah SWT :

1. Beribadah Secara Totalitas kepada Allah SWT 

 Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman: 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 
 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Setiap hari dalam shalat, kita mengikrarkan:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) 

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan untuk mencari pujian manusia. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke neraka meskipun amal mereka tampak besar di mata manusia: 
1).Orang yang mati syahid namun niatnya agar disebut pemberani dan pahlawan. 
2).Ahli Al-Qur'an yang membaca dan mengajarkan Al-Qur'an agar dipuji manusia. 
3).Orang yang gemar berinfak dan bersedekah agar dikenal sebagai dermawan. 
Mereka melakukan amal besar, tetapi kehilangan keikhlasan sehingga tidak mendapatkan ridha Allah SWT. Karena itu, setiap ibadah harus dilandasi niat ikhlas lillahi ta'ala. Hati harus selalu dijaga sebelum beribadah, saat beribadah, dan setelah beribadah agar tidak tercampuri riya' dan keinginan dipuji manusia. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan bernilai kekal, sedangkan yang dilakukan karena manusia akan sirna bersama pujian manusia itu sendiri. 

2. Senantiasa Berusaha Taat kepada Allah SWT 

Adab kepada Allah tidak cukup hanya dengan ibadah sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan yang berkelanjutan. Beberapa bentuk ketaatan yang perlu dijaga antara lain: Menjaga shalat fardhu, terutama bagi laki-laki dengan berjamaah di masjid. Berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan ibadah sunnah. Menjaga pandangan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Allah SWT mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi pada Hari Kiamat atas apa yang pernah dilakukan manusia selama hidup di dunia. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berusaha meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT meskipun sedikit demi sedikit. 

3. Ridha atas Takdir Allah SWT dengan Ikhlas 

Bagian penting dari adab kepada Allah adalah menerima segala ketentuan-Nya dengan penuh keridhaan. Ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Keduanya merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan keimanan kepada Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu kita pahami saat ini. Ridha terhadap takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil terbaik setelah melakukan ikhtiar yang maksimal dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Hikmah yang Dapat Diambil Salah satu pelajaran penting dalam kehidupan adalah memahami bahwa: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah selesai dikejar. Namun ridha Allah adalah tujuan yang pasti membawa keberuntungan. 
 Bila seseorang terus mengejar penilaian manusia, ia akan lelah karena setiap orang memiliki keinginan dan harapan yang berbeda. Namun jika tujuan hidupnya adalah mencari ridha Allah SWT, maka hidupnya akan lebih tenang, terarah, dan penuh keberkahan. 
Ketika harus memilih antara adab kepada agama dan kepentingan manusia, maka pilihlah agama. Ketika harus memilih antara ridha Allah dan pujian manusia, maka pilihlah ridha Allah. Sebab keberuntungan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, tetapi ketika Allah SWT menerima amal dan meridhai kehidupan kita. 
Mari senantiasa menjaga adab kepada Allah SWT dengan beribadah secara totalitas, meningkatkan ketaatan, serta ridha terhadap segala takdir-Nya. Jangan sampai amal yang besar kehilangan nilainya karena niat yang salah. Jagalah keikhlasan dalam setiap amal, karena apa pun yang dilakukan karena Allah akan bernilai abadi di sisi-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, taat, dan senantiasa mencari ridha-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.


Share:

Menyempurnakan Akhlak: Misi Utama Diutusnya Rasulullah SAW

Ustadz Retno Ahmad P,LC
​​Laporan Kajian Rutin Ahad Pagi Pemateri: Ustadz Retno Ahmad P, Lc. Tanggal: 26 April 2026.
​Dunia mungkin bisa maju dengan teknologi, namun ia akan hancur tanpa fondasi moral yang kuat. Inilah inti dari Kajian Rutin Ahad Pagi pekan ini. Ustadz Retno Ahmad P, Lc. membedah urgensi akhlak dan adab sebagai nyawa dari ajaran Islam. ​

1. Misi Utama Kenabian: 
Menyempurnakan Akhlak ​ Ustadz Retno mengawali kajian dengan mengutip hadits yang menjadi landasan utama mengapa Rasulullah SAW diutus ke muka bumi. Beliau bersabda:


 ​إِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ صَالِحَ الْأَخْلَاقِ 


"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kesalehan akhlak." (HR. Ahmad dan Al-Bukhari). 

Hadits ini menegaskan bahwa inti dari risalah Islam adalah pembentukan karakter. Allah SWT pun memuji langsung kualitas pribadi Rasulullah dalam Al-Qur'an: ​"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4) 

​2. Pedoman Adab dalam Al-Qur'an 
​Ustadz menekankan bahwa mengikuti Rasulullah berarti mengambil seluruh paket ajarannya, sebagaimana diperintahkan dalam QS. Al-Hasyr: 7. Selain itu, landasan adab sosial banyak tertuang dalam QS. An-Nur, yang memberikan pedoman detail tentang privasi, etika berbicara, dan kesantunan bermasyarakat. ​ 

3. Beratnya Timbangan Akhlak Mulia ​ 
Di akhirat kelak, tidak ada yang lebih berat dalam timbangan amal (Mizan) selain Husnul Khuluq (akhlak yang baik). ​Harumnya Nama Islam: Akhlak yang baik adalah "wajah" agama. Islam akan dipandang indah jika penganutnya memiliki perangai yang santun. ​Kedekatan dengan Rasulullah: Ustadz mengingatkan bahwa orang yang paling dicintai Allah dan paling dekat tempat duduknya dengan Rasulullah SAW di hari kiamat adalah mereka yang paling baik akhlaknya. ​ 

4. Luasnya Lingkup Adab dalam Islam ​ 
Merujuk pada pemikiran KH. Hasyim Asy'ari dalam kitabnya Adabul 'Alim wal Muta'allim, lingkup adab dalam Islam sangatlah luas, mencakup: ​Adab kepada Allah SWT. ​Adab kepada Makhluk (Rasulullah, Malaikat, manusia, hingga alam semesta). ​ 

5. Dua Pilar Adab Muslim kepada Allah SWT ​ 
Sebagai penutup, Ustadz Retno merinci dua adab paling mendasar yang harus dimiliki setiap muslim terhadap Sang Pencipta:Beribadah dengan ikhlas Taat kepada perintah-Nya Bersyukur atas nikmat Bertawakal kepada Allah

Hasyim Asy'ari dalam kitab Ta'lim al-Muta'allim menekankan pentingnya adab sebelum ilmu. Ilmu tanpa adab tidak akan membawa keberkahan dalam kehidupan. Lingkup Adab dalam Islam Adab dalam Islam sangat luas dan mencakup seluruh aspek kehidupan:  
1. Adab kepada Allah SWT Beribadah dengan ikhlas Taat kepada perintah-Nya Bersyukur atas nikmat Bertawakal kepada Allah  
2. Adab kepada Makhluk Adab kepada Rasulullah dengan mengikuti sunnah Adab kepada sesama manusia Adab kepada malaikat dengan menjaga perilaku Adab kepada alam dengan tidak merusak lingkungan.




Share:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi 2026




Ralat Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu’minun

Perumahan Gayam Permai Banjarnegara


Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,

Sehubungan dengan telah dipublikasikannya jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi melalui blog sebelumnya, kami dari Takmir Masjid Al Mu’minun menyampaikan ralat/perbaikan informasi untuk memastikan keakuratan jadwal pengisi kajian dan tema yang disampaikan.

📌 Ralat ini dilakukan sebagai bentuk penyempurnaan informasi agar jamaah mendapatkan jadwal yang benar dan terbaru.

📅 Jadwal Pengajian yang Telah Diperbaiki

Ahad Kliwon
Ustadz Akmal
Tema: Tauhid

Ahad Legi
Ustadz Ulil Albab
Tema: Tafsir

Ahad Pahing
Ustadz Zein Faqih
Tema: Siroh

Ahad Pon
Ustadz Retno A.P
Tema: Adab dan Akhlak

Ahad Wage
Ustadz Yusman
Tema: Fiqih

🔗 Informasi Sebelumnya

Kami mohon maaf atas kekeliruan pada informasi yang telah dibagikan sebelumnya. Silakan lihat postingan awal pada link berikut:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi (Versi Sebelumnya)

📣 Ajakan

Mari kita semarakkan majelis ilmu setiap Ahad pagi sebagai sarana meningkatkan iman, ilmu, dan ukhuwah Islamiyah.

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju surga."

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Takmir Masjid Al Mu’minun
Perumahan Gayam Permai Banjarnegara

Share:

Jadwal Pengajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun, Gayam Permai Banjarnegara


Masjid Al Mu’minun yang berlokasi di Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara, secara rutin menyelenggarakan kegiatan pengajian Ahad pagi yang terbuka untuk umum. Kegiatan ini menjadi salah satu sarana bagi masyarakat untuk menambah wawasan keislaman sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitar. Pengajian ini dilaksanakan setiap hari Ahad pagi dengan menghadirkan para ustadz yang kompeten di bidangnya. 
Menariknya, jadwal pengisi kajian disesuaikan dengan penanggalan Jawa, sehingga setiap pekan menghadirkan suasana dan pembahasan yang beragam/ Tematik.

Berikut jadwal pengajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Mu’minun: 


Ahad Kliwon bersama Ustadz Andi Julianto  
Ahad Legi bersama Ustadz Ulil Albab  
Ahad Pahing bersama Ustadz Zein Faqih  
Ahad Pon bersama Ustadz Retno A.P  
Ahad Wage bersama Ustadz Yusman 

Waktu Pelaksanaan

Kegiatan ini biasanya dimulai pada pagi hari dan diikuti oleh jamaah dari berbagai kalangan, mulai dari remaja hingga orang tua. Materi yang disampaikan mencakup berbagai aspek kehidupan dalam Islam, seperti akidah, ibadah, akhlak, hingga muamalah, yang disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Dengan adanya pengajian rutin ini, diharapkan masyarakat dapat terus meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT, serta mampu mengamalkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan sehari-hari. 
Mari bersama-sama meramaikan majelis ilmu di Masjid Al Mu’minun. Ajak keluarga, sahabat, dan tetangga untuk hadir dan mendapatkan keberkahan dari setiap ilmu yang disampaikan. Untuk informasi lebih lanjut, masyarakat juga dapat mengikuti media sosial Perumahan Gayam Permai melalui berbagai platform yang tersedia. Semoga kegiatan ini menjadi amal jariyah dan membawa manfaat bagi kita semua. Aamiin.
Share:

Memuliakan Ramadhan: Bekal Menuju Kampung Akhirat yang Kekal

Gayam Permai Banjarnegara – Suasana syahdu menyelimuti Masjid kita pada pagi ini, Ahad, 15 Februari 2026. Dalam kegiatan Pengajian Subuh yang rutin dilaksanakan, Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. menyampaikan pesan-pesan mendalam mengenai persiapan kita menyambut tamu agung, bulan suci Ramadhan, yang sudah di ambang pintu. 
Berikut adalah ringkasan mutiara hikmah dari tausiyah beliau: 
1. Mengingat Kematian di Ambang Ramadhan
Rasulullah SAW senantiasa mengingatkan kita untuk memperbanyak mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian. Cepat atau lambat, kita semua akan kembali ke Kampung Akhirat. Pertanyaannya, sudahkah kita menyiapkan bekal untuk memasuki surga-Nya? Ramadhan setiap tahun akan selalu datang, namun tidak ada jaminan apakah umur kita akan sampai pada Ramadhan tahun berikutnya. Inilah saatnya kita berbenah. 
2. Penyesalan yang Tak Berguna (Belajar dari QS. Al-Mu’minun) Ustadz Retno menekankan pentingnya memanfaatkan waktu di dunia yang singkat ini sebagai "ladang" untuk akhirat. Beliau mengutip QS. Al-Mu’minun ayat 99-100, yang menggambarkan rintihan orang-orang yang lalai saat kematian menjemput: 
 "Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan..." 
Namun, keinginan itu hanyalah angan-angan kosong. Sekali kaki melangkah ke alam Barzakh, pintu dunia tertutup rapat. Di akhirat nanti, memori tentang amalan kita di dunia akan diputar kembali (QS. Al-Fajr & QS. An-Naziat). Manusia adalah saksi paling nyata atas apa yang telah ia perbuat sendiri. 
3. Ramadhan sebagai Arena Perlombaan 
Allah SWT menjadikan Ramadhan sebagai arena untuk berlomba-lomba dalam kebaikan demi meraih ridho-Nya. Ramadhan bukan sekadar menahan lapar, melainkan: 
Menjaga Lisan: Menghindari ghibah dan perkataan sia-sia. 
Menjaga Perut: Memastikan apa yang masuk adalah harta yang halal, bukan hak anak yatim atau janda miskin yang terzalimi. 
Bertaubat: Memohon ampunan (maghfirah) mumpung pintu taubat dibuka selebar-lebarnya. 
4. Memuliakan Tamu Allah
Ustadz mengibaratkan Ramadhan sebagai Utusan atau Tamu Allah. Logikanya sederhana: Barangsiapa yang menyia-nyiakan tamu Allah, maka ia akan dihinakan di akhirat. Barangsiapa yang memuliakan tamu Allah dengan amal shaleh, maka Allah akan memuliakannya di akhirat dan mengumpulkannya bersama orang-orang shaleh di surga. 
Mari kita jadikan Ramadhan tahun ini sebagai momentum perbaikan diri sebelum kita benar-benar kembali ke kampung halaman yang abadi. Semoga Allah menyampaikan usia kita ke bulan suci tersebut dalam keadaan sehat dan iman yang kuat. 
Diringkas dari Pengajian Subuh di Gayam Permai, 15 Februari 2026.

Share:

Menggapai Islam Kaffah: Catatan Kajian Ahad Pagi Masjid Al-Mu’minun

Suasana sejuk Ahad pagi di Perumahan Gayam Permai terasa lebih bermakna dengan hadirnya warga di Masjid Al-Mu’minun. Dalam kesempatan Kajian Rutin kali ini, kita berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. dengan tema sentral mengenai totalitas berislam dan waspada terhadap tipu daya setan. 
Kalimat Paling Utama
Mengawali kajiannya, Ustadz Retno mengingatkan kita pada dua kalimat yang sangat ringan di lisan namun berat di timbangan amal: Sebaik-baik doa adalah Alhamdulillah. Sebuah pengakuan bahwa segala nikmat hanya datang dari Allah. Sebaik-baik dzikir adalah Laa ilaha illallah. Kalimat tauhid yang menjadi kunci surga. 


Perintah Berislam Secara Totalitas (Kaffah)
 
Dalam kehidupan sehari-hari, kita seringkali terjebak pada pengelompokan aspek kehidupan—mana yang urusan dunia dan mana yang urusan agama. Padahal, Allah SWT menghendaki umat-Nya untuk totalitas. Hal ini ditegaskan dalam QS. Al-Baqarah: 208: 

 "Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu." 

Ustadz Retno menjelaskan dua kandungan utama dari ayat tersebut bagi kehidupan kita: 
1. Menghadirkan Allah dalam Segala Aspek 
Islam bukan hanya saat kita sujud di masjid. Islam harus hadir saat kita bekerja di kantor, berniaga di pasar, hingga dalam cara kita mencari nafkah. Pastikan harta yang dibawa pulang ke rumah adalah harta yang halal. Nabi SAW bersabda bahwa kesempurnaan iman seseorang diukur dari sejauh mana ia mampu menundukkan hawa nafsunya demi mengikuti syariat Allah. 
2. Mewaspadai Musuh yang Nyata 
Setan tidak akan pernah berhenti menjerat manusia. Mengutip penjelasan Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah, Ustadz Retno memaparkan 5 tingkatan jerat setan: 
  • Agar Kafir/Syirik: Target utama setan untuk memutus hubungan hamba dengan Sang Pencipta. 
  • Menjalankan Perkara Bid’ah: Mengajak manusia beribadah dengan cara yang tidak dituntunkan. 
  • Jatuh dalam Dosa Besar: Menggoda manusia dengan kemaksiatan yang besar. 
  • Menyibukkan pada Perkara Mubah: Membuat manusia terlena pada hal-hal yang tidak berpahala. 
  • Menyibukkan pada Hal yang Kurang Afdhol: Membuat kita sibuk dengan amalan baik, namun meninggalkan amalan lain yang jauh lebih utama (afdhol). 

Kehangatan Ramah Tamah:
 
Kontribusi Ibu-Ibu Asy-Syifa Setelah rohani dikenyangkan dengan ilmu, kegiatan pagi ini ditutup dengan momen yang sangat dinantikan, yaitu ramah tamah dan makan bersama. Momen kebersamaan ini terasa spesial berkat hidangan nikmat yang telah dipersiapkan dengan penuh cinta oleh Ibu-ibu Pengajian Asy-Syifa. Sambil menyantap hidangan, antar warga bisa saling bertegur sapa dan mempererat silaturahmi. Inilah wujud nyata dari Islam yang indah; bermula dari tholabul ilmi di dalam masjid, berlanjut dengan penguatan ukhuwah di teras masjid. 

Kajian pagi ini menjadi pengingat bagi kita seluruh warga Perumahan Gayam Permai untuk merefleksikan diri: Sudahkah Islam mewarnai setiap helai napas dan langkah kita? Semoga kita termasuk golongan yang mampu berislam secara kaffah dan senantiasa dalam lindungan Allah dari jerat setan. Sampai jumpa pada Kajian Rutin Ahad Pagi berikutnya. Mari makmurkan masjid kita, eratkan silaturahmi warga.
Share:

Meneladani Kekuatan dan Amanah Nabi Musa Menjemput Kebaikan Allah

Ringkasan Pengajian Subuh | Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Ahad Pon, 7 Desember 2025.

Oleh: Dwi Budi Prasojo,SKM
Pengajian Subuh kali ini menyoroti pentingnya syukur sebagai tanda bahwa kita adalah hamba yang "tahu diri" di hadapan Allah SWT. Karunia nikmat yang telah diberikan kepada kita bernafas, melihat, dan berbagai nikmat tak terhingga lainnya adalah anugerah yang luar biasa. Kita memohon agar Allah menetapkan kita sebagai hamba-hamba yang senantiasa pandai bersyukur, terutama atas perlindungan-Nya dari segala musibah, baik fisik maupun batin. 

Musibah Batin, Dosa, dan Rasa Malu 
Ustadz Retno mengingatkan bahwa musibah tidak hanya bersifat fisik, namun ada pula musibah batin yang dampaknya jauh lebih berat. 
  • Ketinggalan salat Subuh. 
  • Terhalang untuk membaca Al-Qur'an, bahkan hanya beberapa ayat. 
  • Tidak bisa berzikir dan wirid, padahal dosa kita sangat banyak.  
Semua hal ini pada hakikatnya adalah musibah batin. 
Perkataan para Salaf menyebutkan, seandainya dosa kita memiliki bau yang tercium, niscaya tidak akan ada seorang pun yang mau mendekat kepada kita. Mengingat hal ini, marilah kita mencontoh teladan Nabi Muhammad SAW yang beristighfar 70 hingga 100 kali sehari. Semoga kita semua terhindar dari musibah fisik maupun batin.
Salah satu sifat penting yang dibahas adalah rasa malu, yang juga disinggung dalam hadis riwayat Bukhari terkait materi yang sering diulang-ulang. Kurangnya rasa malu dapat menjadi pintu masuk berbagai dosa.

Kisah Nabi Musa AS di Madyan: 
Kekuatan, Amanah, dan Rasa Malu Pengajian Subuh kemudian mengambil hikmah dari kisah Nabi Musa AS di Kota Madyan (atau Madinah), yang diabadikan dalam Surah Al-Qasas (28), ayat 23-28. Bantuan dan Doa di Tengah Keterasingan Ketika Nabi Musa tiba dan melihat dua orang perempuan sedang mengantre untuk memberi minum ternak mereka, beliau dengan sigap berusaha membantu mereka. 
Setelah menunaikan pertolongan itu, Nabi Musa berteduh dan berdialog dengan Allah SWT, memohon dalam kerendahan hati: QS Al-Qasas [28]: 24: 
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."  
Ini adalah doa yang menunjukkan kepasrahan total dan keyakinan bahwa segala kebaikan hanya berasal dari Allah. Pemenuhan Undangan dan Bukti Rasa Malu Setelahnya, sesuai ayat 25 Surah Al-Qasas, salah satu putri Nabi Syu’aib AS (ayah dari kedua perempuan tersebut) datang menemui Musa atas perintah ayahnya. 
Putrinya itu datang dengan menjaga rasa dan sifat malunya, serta penuh wibawa. Ia mengundang Musa untuk makan sebagai balasan atas jasa baiknya memberi minum ternak. Musa memenuhi undangan tersebut, dan kepada Nabi Syu'aib, ia menceritakan kisahnya dikejar Firaun. Nabi Syu'aib menenangkan Musa bahwa ia telah selamat dari kaum zalim karena kekuasaan Firaun tidak sampai ke negeri Madyan. 
Kriteria Calon Suami dan Pekerja Dalam ayat ke-26, putri Nabi Syu’aib menyampaikan usul kepada ayahnya: 
 "Wahai ayahku, jadikan tamu ini orang yang bekerja pada kita... orang yang kuat lagi terpercaya." 
 
Usulan ini menekankan dua kriteria utama: kekuatan dan kepercayaan (amanah). 

Pernikahan dan Kesepakatan Jasa 
Ayat ke-27 menceritakan Nabi Syu’aib yang berdialog dengan Musa: 
 "Wahai pemuda, saya ingin menikahkan salah satu putriku ini dengan imbalan bekerja di rumahnya selama delapan musim haji. Dan saya tidak memberatkan engkau, dan semoga kamu termasuk orang-orang yang saleh." 
Dalam ayat ke-28, Nabi Musa menyepakati tawaran tersebut, bahkan memilih untuk bekerja selama sepuluh musim haji (sebagai tambahan dari delapan yang ditawarkan), menunjukkan kesungguhan dan kebutuhannya akan pertolongan, naungan, dan tempat berteduh. Ia menikahi putri Nabi Syu’aib yang paling kecil. Meneladani Kekuatan & Amanah Nabi Musa Menjemput Kebaikan Allah Ancaman bagi yang Hilang Rasa Malu
Ustadz Retno menyampaikan hadis riwayat Muslim mengenai ancaman Nabi Muhammad SAW terhadap dua kelompok di neraka yang tidak akan mencium bau surga: Kelompok orang yang memiliki cambuk (penganiaya).
Kelompok perempuan yang berpakaian tapi tidak berpakaian, yaitu mereka yang berlenggak-lenggok dan tidak menjaga kehormatan diri.
Musibah batin berupa hilangnya rasa malu dan terjerumus dalam dosa adalah hal yang harus kita hindari agar kita senantiasa termasuk dalam golongan hamba yang bersyukur dan diselamatkan Allah SWT di dunia dan akhirat.
Share:

Panggilan Para Kesatria Fajar

Tinggalkan selimut hangat, lawan bisikan syaitan untuk menunda-nunda. Mari kita buktikan bahwa komitmen kita kepada Allah سُبحَانَهُ وَتَعَالَى lebih kuat daripada kantuk pagi.
Sampai bertemu di Shof Terdepan, wahai Jamaah Yang Dirahmati!

Waktu: Tepat waktu sholat Subuh
Tempat: Masjid Al Mu'minun
Agenda: Sholat Subuh Berjamaah, dilanjutkan dengan Kajian Singkat (optional).

Kajian Rutin Ahad Pagi

Waktu: Ba'da Sholat Subuh
Tempat: Masjid Al Mu'minun
Agenda: Kajian Singkat bersama Ustadz Retno Ahmad P.LC

Share:

Strategi Survival Nabi Musa dari Ancaman Kekuasaan

Ahad pagi di Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, kembali menjadi oase ilmu dan ketenangan. Melalui Kajian Rutin Ahad Pagi, kita berkesempatan menyelami mutiara hikmah Al-Qur'an di bawah bimbingan Ustadz Retno Ahmad P, Lc. Kali ini, fokus kajian tertuju pada Surah Al-Qashash ayat 21 sampai 24, sebuah fragmen kisah heroik dan penuh makna dari perjalanan awal Nabi Musa ’alaihissalam.
Ayat-ayat ini mengisahkan momen kritis dalam hidup Nabi Musa. Setelah tanpa sengaja membunuh seorang Qibthi (kaum Firaun), beliau harus meninggalkan Mesir negeri tempatnya dibesarkan demi menyelamatkan diri dari ancaman pembunuhan. 
Peristiwa ini melahirkan tiga pelajaran fundamental yang sangat relevan bagi kehidupan kita.

1. Pelarian yang Penuh Tawakal (Ayat 21)

فَخَرَجَ مِنْهَا خَآىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖ قَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
Keluar dari Mesir, Nabi Musa berada dalam dua keadaan kontradiktif namun sejalan: Takut (khāifan) dan Berharap/Waspada (yataraqqabu). Ketakutan adalah fitrah manusiawi saat menghadapi bahaya, namun ia tidak berujung pada keputusasaan. Rasa takut itu segera diimbangi dengan doa yang tulus, 

"Ya Tuhanku, selamatkanlah aku dari orang-orang yang zalim itu."

Ibrah: 
Ustadz Retno menekankan, rasa takut yang dibenarkan dalam Islam adalah rasa takut yang mendorong kita untuk bertindak, berusaha (seperti melarikan diri), dan diakhiri dengan penyerahan diri total kepada Allah (tawakal). Di tengah badai masalah, solusi pertama seorang mukmin adalah memohon pertolongan langsung dari Rabbul 'Alamin.

2. Harapan di Tengah Ketidakpastian (Ayat 22-23)
Dalam perjalanannya menuju negeri Madyan, Nabi Musa tidak memiliki peta, bekal yang cukup, atau jaminan keselamatan. Di tengah kelelahan, beliau berdoa: 

“Mudah-mudahan Tuhanku membimbingku ke jalan yang benar.”

Ketika tiba di sumur Madyan, beliau melihat dua orang perempuan yang menahan ternak mereka. Kisah interaksi ini mengajarkan kita tentang:
  • Pentingnya Nasehat (Kepedulian Sosial): Nabi Musa bertanya tentang masalah yang dihadapi kedua perempuan itu, menunjukkan kepedulian sosial yang tinggi.
  • Keadilan dan Kesopanan: Dua perempuan tersebut menjawab dengan sopan, menjelaskan bahwa mereka tidak bisa memberi minum ternak karena ayah mereka sudah tua dan mereka harus menunggu para penggembala laki-laki selesai.

Ibrah: 
Dalam keadaan sulit sekalipun, prinsip kebaikan dan tolong-menolong tidak boleh luntur. Pertolongan dari Allah sering datang melalui sebab yang tidak kita duga, asalkan kita tetap memelihara adab, kepedulian, dan kejujuran.

3. Kekuatan Doa dalam Keterbatasan (Ayat 24)
Setelah membantu dua perempuan itu, Nabi Musa berbalik ke tempat teduh. Dalam kondisi lapar, lelah, dan tanpa bekal, beliau memanjatkan doa yang masyhur dan indah:

رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan yang Engkau turunkan kepadaku."

Doa ini bukan permintaan spesifik (misalnya, "beri aku makanan"), melainkan pengakuan total atas kefakiran (kebutuhan) kepada segala jenis kebaikan dari Allah. Doa ini adalah puncak dari tawakal: setelah berusaha (berlari dari Mesir dan membantu orang lain), sisanya adalah pasrah dan mengharap kebaikan dari-Nya.Ibrah: Doa Nabi Musa ini adalah etika meminta yang ideal. Ia mengajarkan bahwa Allah mencintai hamba-Nya yang mengakui kelemahan dan kemiskinannya, dan meyakini bahwa segala kebaikan hanya berasal dari-Nya. Setelah doa ini dipanjatkan, Allah segera menjawab dengan mempertemukan beliau dengan calon mertua (Nabi Syu’aib) dan rezeki yang baik.

Kisah Nabi Musa di awal Surah Al-Qashash adalah cetak biru bagi setiap Muslim yang sedang berjuang. Ia mengajarkan kita untuk menghadapi ketakutan dengan doa, mencari jalan keluar dengan usaha, dan menyempurnakan segala ikhtiar dengan tawakal dan keikhlasan.Mari kita jadikan perjalanan Nabi Musa ini sebagai motivasi untuk senantiasa berbuat baik dan memperkuat ikatan batin kita dengan Allah, karena sesungguhnya segala kebaikan yang kita butuhkan, hanya datang dari-Nya.Sampai jumpa pada Kajian Ahad Pagi berikutnya!

Share:

Subuh Berjama'ah : Ahad, 2 November 2025

 


Ahadmu harus diawali dengan langkah penuh berkah! 
Mari bersama-sama meraih keutamaan Shalat Subuh berjamaah dan menuntut ilmu. 
 Kajian Ahad Pagi Spesial! 
 Bersama: 👤 Ustadz Retno Ahmad Pujiono, LC. 
🗓️ WAKTU: Hari: Ahad, 2 November 2025 
 Waktu: Dimulai Shalat Subuh Berjamaah (Tepat Waktu!) 
 Tempat: Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara 
 Mari kita kokohkan akidah dan tingkatkan iman di awal pekan ini. 
Ajak keluarga, tetangga, dan sahabat Anda! 

📍 Lokasi: Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
#gayampermai #masjidalmuminun #kajianahadpagi #kajiansubuh #kajianislam #ustadzretnoahmadpujiono #banjarnegara #infokajian #ngajiyuk #subuhberjamaah
Share:

Menghidupkan Malam, Meraih Kenikmatan Abadi: Tausiyah Mendalam Ustadz Retno tentang Qiyamul Lail

Pada hari Ahad Pon, 24 Agustus 2025, Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc., menyampaikan tausiyah yang mendalam mengenai keutamaan qiyamul lail dan kaitannya dengan semangat kemerdekaan Indonesia. Beliau mengawali dengan mengingatkan bahwa 17 Agustus 1945 bertepatan dengan 9 Ramadhan 1364 H, hari Jumat Manis. Beliau menyoroti signifikansi tanggal tersebut, yang dipilih karena mayoritas penduduk Indonesia adalah Muslim. Angka 17 juga memiliki makna khusus dalam Islam, identik dengan tanggal diturunkannya Al-Qur'an dan jumlah rakaat shalat fardhu dalam sehari.

Perbedaan Qiyamul Lail dan Tahajud
Ustadz Retno menjelaskan bahwa qiyamul lail dan tahajud sering dianggap sama, padahal memiliki makna yang berbeda.
Qiyamul Lail adalah istilah yang lebih umum, mencakup segala aktivitas untuk "menghidupkan malam" dengan mengingat Allah. Ini tidak hanya terbatas pada shalat, tetapi juga bisa berupa membaca Al-Qur'an, bersedekah di malam hari, merenung (tafakkur), dan ibadah lainnya di masjid.
Tahajud adalah bentuk shalat malam yang lebih spesifik, yaitu shalat yang dilakukan setelah seseorang tidur terlebih dahulu.

Fadilah-Fadilah Qiyamul Lail
Ustadz Retno menguraikan beberapa keutamaan (fadilah) dari qiyamul lail, yang semuanya merupakan pintu-pintu kebaikan bagi seorang Muslim.
1. Pembuka Pintu Kebaikan
Beliau mengutip sebuah hadits di mana Rasulullah ﷺ menunjukkan Mu'adz bin Jabal tentang pintu-pintu kebaikan. Hadits tersebut menyebutkan tiga amalan utama: puasa sebagai perisai, sedekah yang dapat memadamkan kemaksiatan, dan shalat malam yang membuka pintu-pintu kebaikan. Sebagaimana firman Allah dalam QS. As-Sajadah, "Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya," yang menggambarkan betapa orang-orang yang dekat dengan Allah rela meninggalkan kenyamanan tidur demi beribadah.
Shalat malam adalah bentuk pengakuan atas dosa dan kelalaian kita. Sebagai balasannya, Allah akan memberikan kenikmatan yang begitu besar di surga kelak, yang akan membuat mata kita terbelalak saking gembiranya. Amalan yang dilakukan secara rahasia ini akan dibalas dengan pahala yang juga dirahasiakan oleh Allah, membuat hamba-Nya terkejut dengan kebahagiaan yang tak terduga.
2. Jalan Menuju Surga dan Terhindar dari Neraka
Ustadz Retno mengisahkan seorang hamba yang terakhir keluar dari neraka dan akhirnya masuk surga karena rahmat Allah. Meskipun pada awalnya hanya berada di pinggir surga, keinginannya untuk mendapatkan yang lebih baik mendorongnya untuk terus berdoa. Ini menunjukkan bahwa meskipun kenikmatan surga sudah terbayang, tabiat manusia adalah selalu menginginkan yang terbaik.
Qiyamul lail juga merupakan salah satu ciri dari hamba-hamba yang beribadah dengan ihsan, seolah-olah mereka melihat Allah. Mereka menghidupkan malam dengan shalat dan tilawah Al-Qur'an.
Ustadz Retno mengingatkan bahwa banyak orang yang mengetahui betapa mengerikannya siksa neraka, namun justru lebih memilih tidur daripada beribadah. Padahal, shalat tahajud adalah amalan para wali Allah.
Selain manfaat spiritual, tahajud juga memiliki manfaat fisik. Ustadz Retno menyebutkan bahwa tahajud dapat membuat badan lebih sehat. Beliau mengaitkannya dengan para sahabat Nabi yang dikenal sangat sehat dan kuat saat berperang melawan musuh Islam, yang tidak lepas dari kebiasaan mereka menghidupkan malam dengan ibadah.
Semoga kita semua dapat mengambil pelajaran dari tausiyah Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc., dan semakin termotivasi untuk menghidupkan malam dengan qiyamul lail.




Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget