Showing posts sorted by date for query nilai-nilai Islam. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query nilai-nilai Islam. Sort by relevance Show all posts

Sudahkah Kita Beribadah kepada Allah SWT Secara Kaffah?

Kajian Islam dan ibadah kepada Allah SWT secara kaffah di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara

Kajian Rutin Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono,LC, 13 September 2026. Bertepatan dengan Ahad Pon. 
Sebagai seorang Muslim, kita tentu ingin menjalani kehidupan yang diridhai oleh Allah SWT. Namun, apakah ibadah hanya sebatas shalat, puasa, membaca Al-Qur'an, berdzikir, dan berdoa? Islam mengajarkan bahwa pengabdian kepada Allah SWT memiliki cakupan yang sangat luas. Seorang Muslim tidak hanya diperintahkan untuk beribadah dalam ritual tertentu, tetapi juga berusaha menerapkan nilai-nilai Islam dalam seluruh kehidupannya. 
Inilah salah satu makna penting dari beribadah kepada Allah SWT secara kaffah. Allah SWT berfirman:

 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً 

 “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan...” (QS. Al-Baqarah: 208) 

Ayat tersebut mengingatkan kita agar Islam tidak hanya menjadi identitas, tetapi menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan. Apa Arti Beribadah kepada Allah Secara Kaffah? Secara sederhana, kaffah berarti menyeluruh atau keseluruhan. Beribadah kepada Allah SWT secara kaffah berarti berusaha menjalankan ajaran Islam secara menyeluruh sesuai kemampuan, dengan menjadikan Allah SWT sebagai tujuan utama dalam kehidupan. Allah SWT menciptakan manusia dengan tujuan untuk beribadah kepada-Nya.

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 

 “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Ibadah dalam pengertian yang luas mencakup segala sesuatu yang dicintai dan diridhai Allah SWT, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang lahir maupun yang batin. Dengan demikian, ibadah tidak hanya dilakukan di masjid, tetapi dapat hadir di rumah, tempat kerja, lingkungan masyarakat, bahkan dalam aktivitas sehari-hari. 

Ibadah Tidak Hanya Shalat dan Puasa  
Shalat lima waktu merupakan kewajiban utama seorang Muslim. Demikian pula puasa Ramadan, zakat bagi yang memenuhi syarat, membaca Al-Qur'an, berdzikir, berdoa, dan berbagai ibadah lainnya. Namun, kehidupan seorang Muslim tidak berhenti setelah selesai shalat. Bekerja dengan Jujur Juga Bernilai Ibadah Seorang Muslim yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarganya dapat memperoleh pahala apabila pekerjaannya dilakukan dengan niat yang baik dan melalui cara yang halal. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, dan tidak mengambil hak orang lain merupakan bagian dari akhlak Islam.  
Mendidik Anak Merupakan Amanah  
Orang tua memiliki tanggung jawab besar dalam mendidik anak-anaknya. Mengajarkan shalat, membaca Al-Qur'an, menghormati orang tua, berkata jujur, menjaga adab, dan membiasakan anak melakukan kebaikan merupakan bagian dari pengamalan Islam dalam keluarga. Allah SWT berfirman:  

Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)  

Berbuat Baik kepada Tetangga  
Islam juga mengajarkan hubungan sosial yang baik. Membantu tetangga, menjaga kerukunan, menjenguk orang sakit, membantu warga yang membutuhkan, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bentuk nyata akhlak seorang Muslim. Dengan demikian, beribadah secara kaffah juga berarti menghadirkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan bermasyarakat. Ciri-Ciri Kehidupan Muslim yang Kaffah Menjalankan Islam secara kaffah bukan berarti merasa diri sudah sempurna. Sebaliknya, seorang Muslim terus berusaha memperbaiki diri. Beberapa cirinya antara lain:  
1. Menjaga Hubungan dengan Allah SWT
 Shalat dijaga, Al-Qur'an dibaca dan dipelajari, dzikir diperbanyak, serta doa senantiasa dipanjatkan. Yang tidak kalah penting adalah menjaga keikhlasan dalam beribadah.  
2. Memiliki Akhlak yang Baik.  
Ibadah seharusnya memberikan pengaruh terhadap perilaku. Semakin dekat seseorang kepada Allah SWT, semestinya semakin baik pula akhlaknya. Rasulullah SAW bersabda:  

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.” (HR. Al-Bukhari dalam Al-Adab Al-Mufrad dan Ahmad)  

Karena itu, jangan sampai seseorang rajin beribadah tetapi masih suka berdusta, menyakiti orang lain, merendahkan sesama, atau tidak amanah.  

3. Menjaga Amanah 
 Amanah merupakan bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Amanah dalam pekerjaan, amanah dalam keluarga, amanah dalam bermasyarakat, maupun amanah terhadap harta yang dititipkan Allah SWT.  
4. Menjaga Lisan dan Perbuatan Seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berbicara. Ghibah, fitnah, dusta, mencela, dan menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya harus dihindari. Terlebih di zaman media sosial, satu ucapan atau tulisan dapat tersebar kepada banyak orang dalam waktu singkat.  
5. Terus Melakukan Muhasabah 
Tidak ada manusia yang sempurna. Karena itu, kita perlu melakukan evaluasi terhadap diri sendiri: Apakah shalat kita semakin baik? Apakah hubungan kita dengan keluarga semakin baik? Apakah kita semakin jujur dan amanah? Apakah kehadiran kita memberikan manfaat kepada orang lain? Muhasabah membantu kita untuk terus memperbaiki diri dan kembali kepada Allah SWT ketika melakukan kesalahan.







Share:

Penyimpangan Kaum Quraisy dan Akhlak Jahiliyah | Kajian 19 Juli 2026

Kajian Rutin Ahad Pagi 19 Juli 2026 Mengenal Akhlak Masyarakat Jahiliyah dan Misi Rasulullah ﷺ Menyempurnakan Akhlak Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terlaksana pada Ahad, 19 Juli 2026, dengan pemateri Ustadz Zein Faqih. Pada kesempatan kali ini, beliau mengangkat tema tentang penyimpangan kaum Quraisy di masa jahiliyah serta diutusnya Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan akhlak manusia.  

Rasulullah ﷺ bersabda:  
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad) 

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Menariknya, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak sepenuhnya memiliki akhlak yang buruk. Mereka memiliki beberapa sifat terpuji, namun juga dibarengi dengan penyimpangan yang akhirnya diperbaiki dan disempurnakan oleh Islam.  
Akhlak Masyarakat Jahiliyah yang Masih Terpuji  
1. Sangat Dermawan dalam Menjamu Tamu
Bangsa Arab terkenal sangat memuliakan tamu. Menjamu tamu merupakan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Diriwayatkan dalam berbagai kisah bahwa ada seseorang yang hanya memiliki seekor unta sebagai harta terakhirnya. Ketika tamu datang, ia rela menyembelih unta tersebut demi memberikan jamuan terbaik kepada tamunya. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi nilai kemurahan hati yang mereka miliki. Namun demikian, di sisi lain mereka juga memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan fitrah, seperti meminum khamr dan berjudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219) Larangan tersebut kemudian disempurnakan hingga Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, berjudi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90) Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam menghapus kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.  
2. Menepati Janji  
Masyarakat Arab juga dikenal sangat menjaga janji. Janji dianggap sebagai kehormatan yang harus dipenuhi walaupun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Dalam kajian disampaikan beberapa contoh sejarah, seperti Perang Al-Basus, kisah Al-Muhalhal yang dibebaskan karena adanya janji yang harus ditepati, serta kisah Nu'man dan Hani bin Mas'ud Asy-Syaibani yang menunjukkan kuatnya komitmen mereka terhadap amanah. Namun, sikap menjaga kehormatan tersebut sering kali berubah menjadi fanatisme kesukuan ('ashabiyah) yang akhirnya memicu peperangan berkepanjangan.  
3. Menjaga Kehormatan, Tetapi Berlebihan  
Masyarakat jahiliyah memiliki rasa harga diri dan kehormatan yang tinggi. Mereka juga dikenal pemberani dan memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarga. Akan tetapi, keberanian yang tidak dibimbing oleh syariat sering berubah menjadi tindakan berlebihan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan panjang. Contohnya adalah Perang Al-Basus yang berlangsung hingga sekitar empat puluh tahun. Bahkan terdapat peperangan yang dipicu hanya karena persoalan sepele, seperti perlombaan atau pacuan kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa ilmu dan petunjuk agama dapat berubah menjadi kerusakan.  
4. Lemah Lembut dan Suka Menolong  
Di balik kerasnya kehidupan padang pasir, masyarakat Arab juga memiliki sifat saling membantu dan menolong sesama, terutama kepada orang yang meminta perlindungan atau mengalami kesulitan. Islam kemudian memperkuat sifat ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah.  
5. Hidup Sederhana Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu cenderung sederhana. Mereka terbiasa hidup dengan apa adanya dan tidak bergantung pada kemewahan dunia. Islam mempertahankan sikap sederhana tersebut, sekaligus mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. 6. Jujur Kejujuran juga merupakan salah satu sifat yang dihargai di tengah masyarakat Arab. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanah beliau. Sifat inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam sehingga banyak orang mempercayai risalah yang beliau bawa. Islam Menyempurnakan Akhlak Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk men 
ghapus seluruh budaya Arab.  
Akhlak-akhlak yang baik tetap dipertahankan, sementara kebiasaan yang menyimpang diperbaiki dan diarahkan sesuai tuntunan wahyu. Sifat dermawan diarahkan agar ikhlas karena Allah. Keberanian dibimbing agar digunakan untuk membela kebenaran. Menepati janji dijadikan bagian dari keimanan. Tolong-menolong diarahkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Kesederhanaan dijaga dari sifat bakhil, sedangkan kejujuran menjadi identitas setiap muslim. Dengan demikian, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 
Kajian Ahad pagi kali ini mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari ilmu dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlaknya. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dalam membangun peradaban melalui akhlak yang mulia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari dan terus berusaha memperbaiki diri dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Aamiin.




Share:

Dunia Tidak Menganggap Arab, Tetapi Dari Sanalah Rasulullah SAW Mengubah Sejarah Dunia

Belajar dari Sejarah, Menguatkan Iman: Antusiasme Jamaah dalam Kajian Ahad Pagi 

Kajian Rutin Ahad Pagi Bersama Ustadz Zein Faqih Ahad, 21 Juni 2026 Alhamdulillah, pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, jamaah kembali mengikuti kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih.  
Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah SAW serta perubahan besar yang beliau bawa bagi peradaban manusia, khususnya di Jazirah Arab. Mengenal Jazirah Arab Sebelum Islam Dalam kajian dijelaskan bahwa istilah Arab erat kaitannya dengan wilayah padang pasir yang luas. Secara geografis, Jazirah Arab berada di antara dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Imperium Romawi di bagian barat laut dan Imperium Persia di bagian timur. Meskipun berada di antara dua imperium besar tersebut, bangsa Arab saat itu tidak dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Namun dari wilayah yang tampak sederhana inilah kemudian lahir sebuah peradaban besar yang mengubah sejarah dunia, yaitu Peradaban Islam. 
Kondisi Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW lahir dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dari suku Quraisy di Makkah. Sebelum beliau diutus sebagai Rasul, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai Jahiliyah, yaitu masa kebodohan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam aspek kehidupan. Masyarakat Arab terdiri dari banyak suku yang sering terlibat perselisihan dan peperangan.  
Fanatisme kesukuan sangat kuat sehingga masalah kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Pembagian Bangsa Arab Dalam kajian disampaikan bahwa bangsa Arab secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok:  
1. Arab Baidah  
Arab Baidah adalah bangsa Arab kuno yang telah punah dan jejak peradabannya sebagian besar telah hilang dari sejarah. Contohnya adalah kaum 'Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur'an.  
2. Arab Aribah  
Arab Aribah merupakan Arab asli yang berasal dari wilayah Yaman. Mereka dikenal sebagai bangsa Arab murni yang mempertahankan bahasa dan budaya Arab sejak masa lampau.  
3. Arab Musta'ribah  
Arab Musta'ribah adalah bangsa Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS yang kemudian berbaur dengan masyarakat Arab asli. Dari kelompok inilah lahir suku Quraisy dan kemudian Nabi Muhammad SAW.  

Datangnya Islam Mengubah Peradaban  

Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Arab. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya yang ada, tetapi menghilangkan keburukan dan menyempurnakan kebaikan yang telah dimiliki masyarakat Arab.  
1. Perubahan Aspek Politik  
Sebelum Islam, masyarakat Arab hidup dalam sistem kesukuan yang terpecah-pecah. Loyalitas hanya diberikan kepada suku masing-masing. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mempersatukan berbagai suku dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Contoh: Suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya bermusuhan bertahun-tahun berhasil dipersatukan oleh Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok melalui Piagam Madinah.  
2. Perubahan Aspek Keyakinan  
Sebelum Islam, mayoritas masyarakat Arab menyembah berhala. Di sekitar Ka'bah terdapat ratusan patung yang dijadikan sesembahan selain Allah. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, yaitu menyembah Allah semata. Contoh: Berhala-berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan ketika Fathu Makkah. Masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala beralih menjadi penyembah Allah SWT.  
3. Perubahan Aspek Ekonomi  
Pada masa jahiliyah, praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi sangat marak. Islam mengajarkan perdagangan yang jujur dan adil. Contoh: Larangan riba yang merugikan masyarakat. Kewajiban zakat sebagai sarana pemerataan ekonomi. Anjuran berdagang secara jujur sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin.  
4. Perubahan Aspek Sosial Kemasyarakatan  
Sebelum Islam, perempuan sering diperlakukan tidak adil bahkan sebagian bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Islam datang membawa penghormatan terhadap martabat manusia. Contoh: Larangan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Perempuan memperoleh hak waris dan hak mendapatkan pendidikan. Budaya saling menolong, menyantuni yatim dan fakir miskin semakin berkembang.  

Islam Menghilangkan Keburukan dan Menyempurnakan Kebaikan  

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya Arab. Rasulullah SAW mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada dan memperbaiki hal-hal yang buruk.  
Kebaikan yang Dipertahankan  
1. Sifat Dermawan  
Bangsa Arab terkenal suka menjamu tamu. Islam mempertahankan dan menjadikannya sebagai ibadah. Contoh: Rasulullah SAW menganjurkan memuliakan tamu sebagai bagian dari keimanan.  
2. Keberanian  
Keberanian bangsa Arab diarahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Contoh: Para sahabat berjuang mempertahankan Islam dengan penuh keberanian.  
3. Menepati Janji  
Budaya menjaga kehormatan dan komitmen tetap dipertahankan dalam Islam. Contoh: Rasulullah SAW selalu menepati janji, bahkan kepada non-Muslim.  

Keburukan yang Dihilangkan  
1. Penyembahan Berhala Diganti dengan tauhid kepada Allah SWT.  
2. Fanatisme Suku Diganti dengan persaudaraan sesama muslim dan persaudaraan kemanusiaan.  
3. Riba dan Kecurangan Diganti dengan transaksi yang jujur dan adil.  
4. Penindasan terhadap Perempuan Diganti dengan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan.  
Pelajaran untuk Kehidupan Saat Ini Kajian Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa perubahan masyarakat tidak terjadi dengan kekerasan, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan akhlak. Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat yang penuh konflik menjadi umat yang memimpin peradaban dunia. Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani cara Rasulullah SAW dalam memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada serta berusaha menghilangkan berbagai keburukan yang masih terjadi di tengah masyarakat.  
Semoga kajian Ahad pagi ini semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mendorong kita untuk meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Wallahu a'lam bish-shawab.


Share:

Al-Qur'an Sebagai SOP Kehidupan: Merawat Bumi Hingga Hakikat Ujian Harta


BANJARNEGARA – Sebuah nikmat yang tiada terkira dapat mengikuti kajian pagi hari setelah melaksanakan Sholat Subuh Berjama'ah.  Agenda rutin Kajian Ahad Pagi di Perumahan Gayam Permai pada Ahad pagi, 14 Juni 2026. 
Pada kesempatan kali ini, majelis ilmu menghadirkan Ustadz Yusman sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas mengenai esensi Al-Qur'an sebagai panduan hidup manusia, tanggung jawab ekologis, hingga bagaimana seorang Muslim menyikapi titipan berupa harta dan keturunan.

3M: Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Ustadz Yusman mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya berinteraksi secara kaffah (menyeluruh) dengan kitab suci. Menurut beliau, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya sampai pada tingkat lisan saja, melainkan harus mencakup tiga tahapan utama:Membaca (mendatangkan pahala di setiap hurufnya).Memahami (mentadabburi arti dan maknanya).Mengamalkan (menerapkannya dalam perilaku sehari-hari)."Al-Qur'an itu ibarat SOP (Standard Operating Procedure) dalam kehidupan kita. Jika sebuah mesin memiliki buku panduan agar tidak rusak, maka manusia memiliki Al-Qur'an sebagai panduan operasional hidupnya. 
Siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama, maka dijamin akan selamat dunia dan akhirat, serta tidak akan pernah tersesat," tegas Ustadz Yusman. 

Menjaga Bumi dan Larangan Berbuat Kerusakan (Tafsir QS. Al-Baqarah)
Sebagai wujud mengamalkan Al Qur'an, satu poin kontekstual yang disoroti dalam kajian ini adalah implementasi takwa dalam menjaga lingkungan sekitar. Merujuk pada ayat-ayat dalam Surah Al-Baqarah, manusia dipilih sebagai khalifah di bumi bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat. Ustadz Yusman menekankan tindakan nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga perumahan, yaitu larangan membuang sampah sembarangan. Menjaga kebersihan lingkungan, mengelola limbah rumah tangga dengan bijak, dan tidak mengotori fasilitas umum adalah bagian langsung dari perintah agama untuk tidak berbuat kerusakan (fasad) di muka bumi.  
Hubungan kita dengan Allah (habluminallah) harus berjalan selaras dengan hubungan kita menjaga alam (habluminal 'alam).Hakikat Harta dan Ujian Jiwa (Tafsir QS. Ali 'Imran: 186) 
Memasuki inti kajian berikutnya, Ustadz Yusman mengajak jamaah membedah konsep kepemilikan materi (mal) dalam Islam. Beliau menyitir Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 186: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu...”

Beliau memaparkan konteks atau asbabul wurud (latar belakang nilai luhur) mengenai bagaimana harta bekerja dalam psikologis manusia. Harta ibarat buah yang manis dan hijau; sangat memikat dan menyenangkan. Namun, Islam memberikan batasan moral yang tegas agar manusia tidak diperbudak oleh dunianya. 
Berikut beberapa poin penting terkait manajemen harta yang disampaikan beliau: 
Kemuliaan Memberi: Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah." Mentalitas seorang Muslim di Perumahan Gayam Permai haruslah mentalitas pemberi dan penolong.Waspada Kelalaian: Keberadaan harta dan anak jangan sampai memalingkan fokus utama kita dari mengingat Allah SWT. Keduanya adalah amanah yang harus menuntun kita mendekat ke surga, bukan malah menjauhkan. 

Harta yang Abadi: 
Ustadz Yusman mengingatkan sebuah hakikat yang sering dilupakan orang: “Harta yang sesungguhnya kembali kepada kita di akhirat kelak bukanlah apa yang kita simpan di rekening atau yang kita nikmati sendiri di dunia, melainkan apa yang kita infakkan di jalan Allah.”

Kajian rutin Ahad Pagi ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, dan kedamaian seluruh warga di lingkungan Perumahan Gayam Permai Banjarnegara. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Yusman dapat menjadi lentera bagi kita semua dalam menyusun 'SOP' harian yang diridhai-Nya.Sampai jumpa pada Kajian Ahad Pagi berikutnya di Masjid Al-Mu'minun!

Link Instagram
Share:

Pelaksanaan Ibadah Qurban 1447 H

Mengolah Daging untuk didistribusikan

BANJARNEGARA – Pelaksanaan ibadah Qurban 1447 Hijriah di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara berlangsung dengan penuh semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan nilai gotong royong yang tinggi. Kegiatan yang dilaksanakan pada Rabu, 27 Mei 2026 tersebut menjadi salah satu momentum penting dalam mempererat ukhuwah Islamiyah antarwarga sekaligus menumbuhkan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.  
Panitia Qurban Masjid Al Mu’minun mencatat bahwa tahun ini sebanyak 6 ekor sapi dengan 42 shohibul qurban. Pelaksanaan qurban tahun 1447 H ini menjadi pelaksanaan kelima sejak pertama kali dimulai pada masa pandemi Covid-19 tahun 2020. Hal tersebut menunjukkan semangat masyarakat dalam menjaga syariat Islam sekaligus mempertahankan tradisi ibadah sosial yang penuh manfaat.  
Ketua Panitia Qurban, H. Yusman, S.H.I., menyampaikan bahwa pelaksanaan qurban bukanlah kegiatan sederhana karena melibatkan banyak unsur, mulai dari shohibul qurban, panitia, penyembelih, proses distribusi, hingga masyarakat yang ikut membantu selama kegiatan berlangsung. Namun berkat kerja sama seluruh pihak, kegiatan dapat berjalan lancar dan tertib.  
Qurban bukan hanya tentang menyembelih hewan, tetapi juga tentang keikhlasan, pengorbanan, dan kebersamaan dalam melayani masyarakat,” ujarnya. Pada pelaksanaan tahun ini, total dana pembelian 6 ekor sapi mencapai Rp144.000.000 dengan tambahan biaya penyelenggaraan dan operasional kegiatan. Penyembelihan dilakukan di Rumah Pemotongan Hewan (RPH) Banjarnegara, kemudian daging didistribusikan kepada masyarakat setelah pelaksanaan Sholat Idul Adha. Total daging qurban yang berhasil didistribusikan mencapai 813 kilogram.  
Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 kilogram dibagikan kepada 42 shohibul qurban dengan masing-masing menerima 6 kilogram daging. Sementara sisanya dibagikan kepada masyarakat umum, asisten rumah tangga, warga sekitar, pondok pesantren, rumah qur’an, panti asuhan, hingga masyarakat di daerah yang jarang menikmati daging qurban.  
Menariknya, semangat kebersamaan dalam kegiatan ini begitu terasa karena hampir seluruh warga ikut terlibat membantu pelaksanaan qurban. Hal tersebut menjadi gambaran nyata harmonisasi sosial yang tumbuh di tengah masyarakat Gayam Permai. Selain pembagian daging, panitia juga menyalurkan kepala, kaki, dan kuku hewan qurban ke wilayah Desa Pesangkalan untuk dibagikan kepada masyarakat di beberapa dukuh, di antaranya Dukuh Kembaran Wetan, Dukuh Kembaran Kulon, dan Dukuh Gobang.  
Langkah ini dilakukan agar manfaat qurban dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat yang membutuhkan. Pelaksanaan qurban juga melibatkan banyak relawan dalam berbagai bidang, mulai dari pengawasan, penyembelihan, distribusi, dokumentasi, keamanan, konsumsi, hingga kebersihan. Para ibu-ibu PKK turut aktif membantu penyediaan konsumsi bagi panitia dan relawan yang bekerja sejak pagi hari.  
Panitia berharap kegiatan qurban ini tidak hanya menjadi rutinitas tahunan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran tentang manajemen, kepedulian sosial, dan penguatan ukhuwah antarwarga. Selain itu, laporan kegiatan yang disusun diharapkan dapat menjadi bahan evaluasi dan referensi untuk penyelenggaraan qurban pada tahun-tahun berikutnya.  
Melalui semangat qurban, masyarakat diajak untuk meneladani keikhlasan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menjalankan perintah Allah SWT. Nilai pengorbanan, kepedulian terhadap sesama, serta kebersamaan yang tercermin dalam pelaksanaan qurban di Masjid Al Mu’minun menjadi bukti bahwa ibadah qurban bukan hanya ritual ibadah, tetapi juga sarana memperkuat solidaritas sosial di tengah masyarakat. Semoga semangat berbagi dan gotong royong ini terus terjaga serta menjadi inspirasi bagi masyarakat luas dalam menumbuhkan kepedulian dan kebersamaan.
Share:

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

Siroh Nabawiyah: Tujuan Mempelajarinya | Kajian Ahad Pahing

Siroh Nabawiyah: Belajar dari Jejak Hidup Rasulullah ﷺ

Dalam perjalanan hidup seorang muslim, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya dari sisi hukum atau ibadah semata. Kita membutuhkan teladan nyata bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pentingnya mempelajari Siroh Nabawiyah.

Siroh bukan sekadar kisah sejarah, tetapi panduan hidup yang penuh hikmah dan relevan sepanjang zaman.

Apa Itu Siroh Nabawiyah?

Siroh Nabawiyah adalah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak lahir hingga wafat, yang mencakup berbagai fase penting:

  • Masa sebelum kenabian
  • Turunnya wahyu pertama
  • Dakwah di Makkah
  • Hijrah ke Madinah
  • Pembangunan masyarakat Islam

Melalui siroh, kita tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga memahami nilai, kesabaran, dan strategi dalam menghadapi kehidupan.

Tujuan Mempelajari Siroh Nabawiyah

1. Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Semakin mengenal beliau, semakin tumbuh kecintaan yang menjadi pondasi keimanan.

2. Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan

Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai pemimpin, ayah, maupun sahabat.

3. Memahami Islam Secara Utuh

Siroh membantu memahami konteks turunnya ayat Al-Qur’an sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

4. Menguatkan Iman dan Kesabaran

Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ penuh ujian, namun beliau tetap istiqomah. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

5. Mengambil Hikmah Dakwah

Dakwah membutuhkan hikmah, kesabaran, dan strategi yang tepat. Semua ini dapat dipelajari dari siroh.

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

📅 Ahad Pahing
🎙 Pemateri: Ustadz Zein Faqih
📍 Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai

Penutup

Mempelajari siroh bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

Semoga kajian ini menjadi awal perjalanan kita untuk lebih mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Membangun Ruhul Jihad

Banjarnegara, 19 April 2026 – Kajian rutin Ahad Pagi. Kali ini, kita berkesempatan menimba ilmu dari Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, yang membedah esensi perjuangan dalam Islam melalui tema besar: Ruhul Jihad (Semangat Bersungguh-sungguh).  
Jihad: Nafas dalam Setiap Juz Al-Qur'an Ustadz Ulil mengawali kajian dengan fakta menarik bahwa narasi perjuangan atau jihad bukanlah pelengkap semata. Jika kita mentadabburi Al-Qur'an, kisah-kisah mengenai kesungguhan (ruhul jihad) tersebar merata di setiap Juz. Ini menunjukkan bahwa iman dan perjuangan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.  

Belajar dari Keteguhan Sahabat Nabi  

Pada zaman Rasulullah ﷺ, panggilan jihad bukanlah beban, melainkan kehormatan. Para sahabat memberikan teladan luar biasa:  
Totalitas tanpa batas: Ketika seruan jihad berkumandang, segala urusan duniawi—mulai dari perniagaan yang sedang untung hingga pekerjaan di ladang seketika ditinggalkan.  
Standar Keimanan: Begitu krusialnya nilai perjuangan ini, hingga dalam sejarah tercatat bahwa tidak disebut sempurna iman seseorang jika ia absen atau enggan ikut serta dalam membela agama Allah tanpa uzur yang syar'i.  

Inspirasi dari Imam Asy-Syafi'i dan Peradaban Islam  

Ustadz juga menyinggung sosok Imam Asy-Syafi'i. Beliau tumbuh dalam atmosfir peradaban yang sangat menghargai ilmu dan tatanan Islam (seperti yang terlihat di Andalusia pada masa kejayaannya). Lingkungan yang tertata dengan nilai-nilai Islam melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki mentalitas pejuang yang tangguh.  

Menyiapkan Kekuatan: Perintah Al-Qur'an Sebagai penutup kajian, Ustadz menekankan pentingnya persiapan (i'dad). Umat Islam diperintahkan untuk tidak lemah dan selalu siap menghadapi tantangan zaman dengan kekuatan yang mumpuni. Hal ini sebagaimana ditegaskan Allah SWT dalam Al-Qur'an: "Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu..." (QS. Al-Anfal [8]: 60)  

Di masa lalu, Rasulullah ﷺ menyebutkan bahwa salah satu kekuatan utama adalah lemparan panah. Di era modern ini, "busur panah" kita bisa bermakna luas: penguasaan teknologi, ekonomi yang kuat, serta kesatuan barisan yang kokoh. 

Ruhul Jihad adalah tentang bersungguh-sungguh dalam setiap aspek kehidupan. Bukan hanya tentang medan perang, tapi tentang bagaimana kita meletakkan kepentingan Allah dan Rasul-Nya di atas kepentingan pribadi dan pekerjaan kita. Semoga kajian pagi ini menjadi pemantik semangat bagi warga Gayam Permai untuk terus memperbaiki diri dan meningkatkan kualitas iman.


Share:

Hidup sebagai Muslim di Amerika: Toleransi, Makanan Halal, dan Dunia Kampus

Agam Setyono
Menjadi seorang Muslim di Amerika Serikat adalah pengalaman yang unik, penuh tantangan sekaligus peluang. Disampaikan oleh Agam Setyono pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai, 19 Maret 2026. Beliau yang telah mengabdi di Kementerian Keuangan Republik Indonesia sejak 2014 dan memiliki latar belakang di bidang digital forensik serta analisis data. Berkesempatan melanjutkan studi Master of Science in Criminal Justice di Boston University pada tahun 2023 membuka perspektif baru bukan hanya dalam bidang akademik, tetapi juga dalam kehidupan sebagai Muslim di negeri minoritas.
Amerika Serikat dikenal sebagai negara dengan masyarakat yang sangat beragam. Berbagai latar belakang etnis, budaya, dan agama hidup berdampingan. Di kota seperti Boston, keberagaman ini terasa nyata mulai dari mahasiswa internasional, komunitas diaspora, hingga masyarakat lokal yang terbuka terhadap perbedaan.

 

Sebagai mahasiswa internasional, Beliau berinteraksi dengan orang-orang dari berbagai negara dan keyakinan. Hal ini menciptakan lingkungan yang kaya akan perspektif, sekaligus menuntut kita untuk mampu beradaptasi dan menjelaskan identitas kita sebagai Muslim dengan bijak.
Salah satu nilai utama di Amerika adalah kebebasan beragama. Konstitusi menjamin setiap individu untuk menjalankan keyakinannya, termasuk Islam. Di kampus seperti Boston University, fasilitas ibadah tersedia, dan organisasi mahasiswa Muslim aktif menyelenggarakan kegiatan keagamaan. juga terdapat masjid sebagai salah satu sarana di universitas ini. 

Namun, sebagai minoritas, tetap ada tantangan. Misalnya:
Kurangnya pemahaman sebagian masyarakat tentang Islam Stereotip yang muncul akibat pemberitaan global Keterbatasan waktu dan tempat untuk ibadah di tengah kesibukan akademik Meski demikian, pengalaman Beliau menunjukkan bahwa mayoritas masyarakat bersikap toleran dan menghargai perbedaan. Dialog terbuka dan sikap ramah menjadi kunci dalam membangun pemahaman yang lebih baik.
Menjaga kehalalan makanan adalah bagian penting dalam kehidupan seorang Muslim. Di Boston, akses terhadap makanan halal relatif lebih mudah dibandingkan kota kecil di Amerika. Beberapa pengalaman yang Beliau rasakan: Tersedia restoran halal dari berbagai negara (Timur Tengah, Asia Selatan, hingga Indonesia) Supermarket tertentu menyediakan produk bersertifikat halal. Banyak mahasiswa Muslim memilih memasak sendiri untuk memastikan kehalalan. Meski demikian, tetap diperlukan kehati-hatian, terutama dalam membaca label makanan dan memastikan sumber bahan yang digunakan.

Studi dan Profesionalisme: Menguatkan Peran sebagai Muslim  
Melanjutkan studi di bidang Cybercrime Investigation & Cybersecurity dan Crime Analysis memberikan pada Beliau kesempatan untuk mengembangkan keahlian di bidang yang sangat relevan dengan pekerjaan Beliau di Kementerian Keuangan. Sebagai seorang Muslim, Beliau meyakini bahwa menuntut ilmu adalah bagian dari ibadah. Nilai-nilai Islam seperti kejujuran, integritas, dan tanggung jawab sangat selaras dengan dunia investigasi digital dan analisis data yang ditekuni. Pengalaman ini tidak hanya memperkuat kompetensi profesional, tetapi juga memperdalam makna menjadi seorang Muslim yang mampu memberikan kontribusi positif di lingkungan global.

Menjadi Duta Islam di Negeri Orang  
Menjadi Muslim di Amerika bukan sekadar menjalankan ibadah secara personal, tetapi juga menjadi representasi Islam itu sendiri. Setiap sikap, ucapan, dan tindakan kita mencerminkan nilai-nilai agama yang kita anut. Pengalaman Beliau di Boston mengajarkan bahwa: Islam dapat dijalankan di mana saja dengan niat dan komitmen yang kuat Toleransi dan dialog adalah jembatan antar perbedaan Muslim memiliki peran penting dalam membangun pemahaman yang damai di dunia global Sebagai mahasiswa dan profesional, kita tidak hanya belajar untuk diri sendiri, tetapi juga membawa misi untuk menunjukkan bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.
 Bisa lihat di Tiktok : Tiktok GP

Share:

Menelisik Keutamaan Umroh dari Sudut Pandang Iman dan Sains

Gayam Permai, Banjarnegara – Suasana subuh yang sejuk di Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada Rabu, 18 Maret 2026 terasa begitu istimewa. Dalam rangkaian Menu Ramadhan salah satunya adalah Kuliah Subuh Ramadhan 1447 H, jamaah mendapatkan siraman ruhani yang penuh makna dari Ir. Reza Aulia Akbar, S.T., M.T., MBA, dosen Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), yang membawakan tema “Menelisik Keutamaan Umroh dan Menjemput Panggilan-Nya”. 
Kajian ini tidak hanya mengupas sisi keagamaan, tetapi juga mengaitkannya dengan pendekatan ilmiah yang membuka wawasan baru bagi para jamaah. Umroh: Bukan Sekadar Soal Mampu Pertanyaan mendasar yang mengawali kajian ini adalah: apakah umroh dan haji hanya untuk orang yang mampu secara fisik dan finansial? 

Melalui hadits Rasulullah ﷺ, dijelaskan bahwa orang yang berhaji dan berumroh adalah tamu Allah. Mereka yang datang memenuhi panggilan-Nya akan mendapatkan keistimewaan: doa yang dikabulkan dan ampunan yang diberikan.
Lihat juga di : Instagram GP
Lihat juga di : Tiktok

Hal yang menarik, pemateri menekankan bahwa umroh bukan sekadar soal kemampuan, tetapi tentang “panggilan”. Banyak orang yang secara materi mampu, namun belum juga berangkat. Sebaliknya, tidak sedikit yang secara logika belum mampu, tetapi Allah mudahkan jalannya.  

Panggilan Itu Datang Tak Terduga  
Panggilan umroh bisa hadir dari berbagai arah: Kebiasaan atau aktivitas yang kita jalani Dorongan keluarga terdekat Hadiah atau apresiasi Bahkan dari pihak yang tak disangka Di sinilah pentingnya menjaga prasangka baik kepada Allah. Sebagaimana dalam hadits qudsi, Allah berfirman bahwa  "Dia sesuai dengan prasangka hamba-Nya". Ketika seorang hamba mendekat, Allah akan mendekat lebih cepat.  

Keutamaan Luar Biasa Tanah Suci  
Kajian ini juga mengungkap keutamaan ibadah di Tanah Haram. Salah satunya adalah pahala shalat yang berlipat ganda hingga 100.000 kali lipat di Masjidil Haram. Jika dihitung secara sederhana, satu kali shalat di sana setara dengan puluhan tahun shalat di tempat biasa. Ini menunjukkan betapa luar biasanya nilai ibadah di Tanah Suci sebuah “investasi akhirat” yang tak ternilai. Selain itu, tempat seperti Raudhah di Masjid Nabawi disebut sebagai taman surga. Di sanalah Rasulullah ﷺ dimakamkan bersama para sahabat mulia, menjadikan tempat tersebut penuh keberkahan dan kerinduan bagi umat Islam.  

Keajaiban Tawaf dalam Perspektif Sains  
Salah satu bagian menarik dari kajian ini adalah keterkaitan antara ibadah dan sains. Gerakan tawaf yang dilakukan berlawanan arah jarum jam ternyata selaras dengan fenomena alam: Elektron mengelilingi inti atom dengan arah yang sama Planet mengorbit matahari dengan pola serupa Galaksi berputar dalam bentuk spiral Hal ini menunjukkan bahwa ibadah bukan hanya ritual, tetapi juga selaras dengan hukum alam semesta.  

Umroh: Ibadah Fisik yang Penuh Makna  
Secara fisik, ibadah umroh juga tidak ringan. Jamaah menempuh:  
  • Tawaf sejauh ±1,5–3,5 km  
  • Sa’i sejauh ±2,8–3,15 km  
  • Total jarak sekitar 5,5–7 km  
Semua dilakukan dalam kondisi penuh keikhlasan dan penghambaan. Angka “7” yang digunakan dalam tawaf dan sa’i pun memiliki makna, sejalan dengan konsep tujuh lapis langit dalam Al-Qur’an.  

Pemateri juga mengajak jamaah melihat umroh dari sudut pandang “matematika Allah”. Dengan biaya rata-rata Rp25–30 juta, mungkin terasa besar. Namun jika dibandingkan dengan pahala yang didapat—penghapusan dosa, peningkatan derajat, hingga nilai ibadah yang berlipat ganda maka nilai tersebut menjadi sangat kecil. Bahkan ada amalan-amalan lain yang pahalanya setara umroh, seperti shalat di Masjid Quba setelah bersuci dari rumah. Ini menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah bagi hamba-Nya.  
Menutup dengan Harapan Kuliah subuh ini ditutup dengan pesan mendalam: jangan pernah merasa jauh dari panggilan Allah. Jika hati mulai rindu ke Tanah Suci, bisa jadi itu adalah tanda awal panggilan tersebut. Tugas kita adalah menjaga niat, memperbaiki diri, dan terus mendekat kepada-Nya. Semoga setiap langkah kecil yang kita ambil hari ini menjadi bagian dari perjalanan besar menuju undangan Allah ke Baitullah.
Share:

Lebih Mulia dari Syahid? Rahasia di Balik Umur yang Berkah

 


Gayam Permai, Banjarnegara – Malam Jumat di bulan Ramadhan selalu membawa suasana spiritual yang berbeda. Pada ceramah tarawih di Masjid Al-Mu’minun, 21 Februari 2026, Bapak Budi Prasojo membagikan sebuah kisah yang sangat menggugah hati tentang betapa berharganya kesempatan hidup hingga menjumpai bulan suci Ramadhan. 
Beliau mengangkat kisah seorang sahabat Nabi, Thalhah bin Ubaidillah, yang bermimpi tentang tingkatan surga dua orang sahabat lainnya. Mimpi yang Mengherankan Dikisahkan, ada dua orang pria yang datang kepada Rasulullah SAW dan masuk Islam bersamaan. Salah satunya sangat bersemangat dalam jihad hingga akhirnya ia gugur sebagai syuhada (mati syahid). Sementara sahabat yang satunya lagi wafat setahun kemudian karena sakit. 
Dalam mimpinya, Thalhah melihat dirinya berada di depan pintu surga bersama kedua orang tersebut. Tiba-tiba, malaikat keluar dan mempersilakan orang yang mati karena sakit untuk masuk surga terlebih dahulu. Baru setelah itu, orang yang mati syahid dipersilakan masuk. Thalhah terbangun dengan rasa heran. Secara logika manusia, bukankah derajat syuhada adalah yang tertinggi? Mengapa yang mati karena sakit justru masuk lebih dulu? 

Rahasia Satu Tahun dan Satu Ramadhan 
Thalhah kemudian menceritakan mimpinya kepada Rasulullah SAW. Nabi Muhammad SAW kemudian bertanya kepada para sahabat, "Apa yang membuat kalian heran dari mimpi itu?" Para sahabat menjawab, "Wahai Rasulullah, orang ini mati syahid di jalan Allah, tapi mengapa yang wafat belakangan (karena sakit) malah masuk surga lebih dulu?" Rasulullah SAW memberikan jawaban yang menjadi inti ceramah Bapak Budi Prasojo malam itu: "Bukankah orang yang kedua ini hidup setahun lebih lama setelah temannya? Bukankah ia masih mendapati Bulan Ramadhan dan berpuasa di dalamnya? Bukankah ia masih sempat melakukan sekian ribu rakaat sujud dalam setahun itu?" 

Pesan Bapak Budi Prasojo: Jangan Sia-siakan Waktu 
Melalui kisah ini, Bapak Budi Prasojo menekankan kepada jamaah warga Gayam Permai bahwa: 
  • Nilai Waktu Ibadah: Tambahan umur yang diberikan Allah adalah peluang emas. Satu tahun tambahan hidup berarti ribuan sujud tambahan dan satu kesempatan Ramadhan yang nilainya luar biasa. 
  • Keajaiban Ramadhan: Ibadah di bulan Ramadhan memiliki bobot pahala yang mampu melampaui amalan-amalan besar lainnya jika dilakukan dengan ikhlas dan maksimal. 
  • Syukur Atas Kesempatan: Kita yang saat ini sedang menjalani Ramadhan 1447 H adalah orang-orang pilihan yang diberi kesempatan oleh Allah untuk "menyalip" derajat orang lain melalui ibadah di bulan ini. 

Kita tidak tahu siapa di antara kita yang akan sampai pada Ramadhan tahun depan," ujar Bapak Budi di akhir ceramahnya. Kisah Thalhah ini mengingatkan kita untuk tidak meremehkan setiap rakaat tarawih, setiap ayat yang dibaca, dan setiap jam puasa yang kita jalani sekarang. Karena bisa jadi, Ramadhan inilah yang akan mengangkat derajat kita lebih tinggi di akhirat kelak.




Share:

Bulan Rajab : Pintu Pembuka Menuju Ramadhan


Pendahuluan 
Bulan Rajab telah tiba menyapa umat Muslim di seluruh dunia. Sebagai salah satu dari empat bulan yang dimuliakan (Al-Asyhurul Hurum), kehadiran Rajab membawa suasana spiritual yang berbeda. Rajab bukan sekadar pergantian kalender Hijriah, melainkan sebuah pengingat bahwa tamu agung bernama Ramadhan sudah semakin dekat. Di bulan ini, umat Islam diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk dunia dan mulai menyirami benih-benih keimanan di dalam hati.

Tentang Bulan Rajab
Secara etimologi, kata "Rajab" berasal dari bahasa Arab Tarjib yang berarti menghormati atau mengagungkan. Dalam tradisi Islam, Rajab dikenal sebagai salah satu Asyhurul Hurum (bulan-bulan haram), di mana Allah SWT melarang keras adanya peperangan dan perbuatan zalim.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya zaman berputar sebagaimana kondisinya saat Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun ada dua belas bulan, di antaranya ada empat bulan haram: tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa'dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta Rajab Mudhar yang terletak di antara Jumada dan Sya'ban." (HR. Bukhari & Muslim).
Bulan ini juga menjadi saksi sejarah peristiwa mahadahsyat, yakni Isra' Mi'raj, di mana Nabi Muhammad SAW menerima perintah shalat lima waktu secara langsung dari Allah SWT.

Amalan-Amalan Utama di Bulan Rajab

Untuk meraih keberkahan di bulan mulia ini, para ulama menganjurkan beberapa amalan sunnah, di antaranya: 
  • Memperbanyak Puasa Sunnah Tidak ada jumlah hari khusus yang diwajibkan, namun berpuasa di bulan-bulan haram sangat dianjurkan. Anda bisa menjalankan puasa Senin-Kamis atau puasa Ayyamul Bidh (tanggal 13, 14, 15 Hijriah). 
  • Meningkatkan Istighfar dan Taubat Rajab disebut juga sebagai bulan permohonan ampun. Umat Muslim dianjurkan memperbanyak bacaan istighfar untuk membersihkan diri dari dosa sebelum memasuki bulan Sya'ban dan Ramadhan. 
  • Berdoa di Waktu Mustajab Terdapat riwayat bahwa doa di malam pertama bulan Rajab adalah salah satu doa yang tidak akan ditolak. 
  • Doa yang populer dipanjatkan adalah: "Allahumma baarik lanaa fii Rajaba wa Sya'baana wa ballighnaa Ramadhana" (Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan). 
  • Memperbanyak Sedekah dan Kebaikan Segala bentuk amal shaleh, mulai dari membantu sesama hingga menjalin silaturahmi, memiliki nilai yang istimewa di bulan yang terhormat ini.

Manfaat dan Pahala di Bulan Rajab

Mengapa kita harus bersungguh-sungguh di bulan Rajab? Berikut adalah beberapa manfaat dan keutamaannya: 
  • Pahala yang Berlipat Ganda: Karena termasuk bulan yang dimuliakan Allah, setiap amal ibadah yang dilakukan dengan ikhlas akan dijanjikan pahala yang lebih besar dibandingkan bulan-bulan biasa. 
  • Waktu Pembersihan Diri: Ulama besar Abu Bakar al-Balkhi mengatakan: "Bulan Rajab adalah bulan untuk menanam benih, 
  • Sya'ban bulan menyirami tanaman, dan Ramadhan adalah bulan memanen hasilnya." Rajab adalah momen terbaik untuk "mencuci" hati dari kemaksiatan. Pintu Taubat Terbuka Luas: Allah memberikan kesempatan bagi hamba-Nya untuk kembali kepada-Nya dengan janji rahmat dan ampunan yang luas bagi mereka yang bersungguh-sungguh. 
  • Persiapan Mental Menuju Ramadhan: Dengan memulai amalan di bulan Rajab, kita melatih fisik dan mental agar tidak kaget saat menjalankan ibadah puasa sebulan penuh di bulan Ramadhan nanti.

Mari jadikan bulan Rajab ini sebagai momentum transformasi diri. Jangan biarkan hari-harinya berlalu begitu saja tanpa makna. Dengan memperbanyak dzikir, puasa, dan amal jariyah, semoga kita tergolong hamba-hamba yang beruntung dan disampaikan usia kita hingga bulan suci Ramadhan.
Share:

Mencari Sakinah dan Keutamaan Langkah Menuju Majelis Ilmu

BANJARNEGARA – Suasana khidmat menyelimuti Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai pada Minggu pagi (21/12/2025). Dalam agenda Kajian Rutin Ahad Pagi, Ustadz Yusman, SHI menyampaikan materi yang sangat relevan dengan kebutuhan batin kita di tengah hiruk-pikuk dunia: Mencari Sakinah dan Keutamaan Langkah Menuju Majelis Ilmu

Berikut adalah poin-poin mutiara hikmah yang dirangkum dari penyampaian beliau: 
1. Majelis Ilmu: Sumber Sakinah dan Rahmat 
Ustadz Yusman menekankan bahwa majelis ilmu bukan sekadar tempat bertukar informasi, melainkan taman surga di dunia. Ketika seseorang melangkahkan kaki dan duduk di dalamnya, Allah SWT menurunkan tiga anugerah sekaligus: 
  • Sakinah: Ketentraman jiwa yang membuat hati merasa aman. 
  • Rahmah: Limpahan kasih sayang Allah. 
  • Naungan Malaikat: Para malaikat membentangkan sayapnya sebagai bentuk ridha atas apa yang dilakukan penuntut ilmu. 

2. Keutamaan Niat: Datang untuk Ilmu, Dihitung Shalat 
Salah satu kabar gembira yang disampaikan beliau adalah tentang kemuliaan niat. Barangsiapa yang hadir ke majelis ilmu dengan niat tulus untuk belajar sekaligus menunggu waktu shalat, maka seluruh waktu duduknya dihitung sebagai pahala shalat. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar hamba-Nya mendapatkan pahala berlipat ganda dengan amalan yang sederhana. 

3. Dahsyatnya Adab Berwudhu dari Rumah 
Beliau juga mengingatkan pentingnya persiapan sebelum berangkat ke masjid. Sesuai dengan tuntunan Rasulullah SAW: 
 "Barangsiapa yang berwudhu dengan sempurna di rumahnya, kemudian melangkah menuju masjid, maka setiap satu langkah kakinya akan menaikkan derajatnya, dan langkah lainnya akan menghapuskan dosa-dosanya." 
Inilah mengapa berjalan kaki ke masjid dengan keadaan suci memiliki nilai filosofis dan spiritual yang sangat tinggi dalam Islam. 

4. Keutamaan Menunggu Waktu Shalat (Ribat) 
Bagi jamaah yang datang lebih awal, melaksanakan shalat, lalu tetap duduk di dalam masjid untuk menunggu waktu shalat berikutnya, maka ia berada dalam penjagaan. Selama ia menunggu dalam keadaan suci, malaikat akan terus mendoakannya, dan waktu tunggunya dicatat layaknya orang yang sedang mendirikan shalat. Kesimpulan Kajian pagi ini mengingatkan kita bahwa ketenangan tidak ditemukan dalam harta atau jabatan, melainkan dalam kedekatan kita dengan rumah Allah dan majelis-majelis ilmu. Masjid Al Mu'minun berkomitmen untuk terus menjadi wadah bagi warga Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya dalam memperdalam ilmu agama. 

Informasi Kegiatan: 
 Pemateri: Ustadz Yusman, SHI 
 Lokasi: Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara 
 Waktu: Ahad Pagi, 21 Desember 2025 
Semoga langkah kaki kita menuju majelis ilmu menjadi saksi pemberat amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin Ya Rabbal Alamin.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget