Showing posts sorted by date for query kajian. Sort by relevance Show all posts
Showing posts sorted by date for query kajian. Sort by relevance Show all posts

Hidup Adalah Ujian, Al-Qur'an Adalah Jalan Keluar

Ahad, 26 Juli 2026, Majelis Kajian Rutin Ahad Pagi kembali menghadirkan Ustadz Yusman, S.H.I. dengan tema yang sangat dekat dengan kehidupan setiap muslim, yaitu tentang hakikat ujian hidup dan solusi yang Allah berikan melalui Al-Qur'an. Kajian diawali dengan pengingat dari QS. Al-Balad bahwa kehidupan manusia memang tidak pernah lepas dari ujian.  
"Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia berada dalam susah payah (penuh perjuangan)." (QS. Al-Balad: 4).  
Tidak ada seorang pun yang terbebas darinya. Bahkan, semakin tinggi kualitas keimanan seseorang, semakin besar pula ujian yang Allah berikan. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Mulk,  
"Dialah yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (QS. Al-Mulk: 2).
Allah-lah yang menciptakan kehidupan dan kematian untuk menguji siapa di antara hamba-Nya yang paling baik amalnya. Ujian hadir dalam berbagai bentuk. Kekayaan adalah ujian, demikian pula kemiskinan. Jabatan adalah ujian, begitu juga kesederhanaan. Bahkan Nabi Adam alaihissalam pun diuji hingga harus keluar dari surga sebagai bagian dari ketetapan Allah untuk menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi. Lalu, bagaimana seorang mukmin menghadapi ujian tersebut? Jawabannya terdapat dalam firman Allah pada QS. Thaha ayat 123,  
"Allah berfirman, 'Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama. Sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Kemudian jika datang kepadamu petunjuk dari-Ku, maka barang siapa mengikuti petunjuk-Ku, dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.'" (QS. Thaha: 123)
Bahwa siapa saja yang berpegang teguh kepada petunjuk Allah, niscaya tidak akan tersesat dan tidak akan hidup dalam kesengsaraan. Petunjuk Al-Qur'an bukan sekadar untuk dibaca, tetapi dipahami, diyakini, dan diamalkan dalam seluruh aspek kehidupan.  
Ustadz Yusman kemudian mengangkat pelajaran besar dari Perang Tabuk, salah satu ekspedisi terbesar yang dipimpin Rasulullah ﷺ. Di tengah perjalanan sekitar 700 kilometer pada musim panas yang sangat berat, Rasulullah berhasil menggerakkan sekitar 30.000 pasukan. Pengorbanan para sahabat menjadi bukti nyata keimanan mereka. Abu Bakar Ash-Shiddiq menyerahkan seluruh hartanya, Umar bin Khattab menginfakkan separuh hartanya, sementara Utsman bin Affan menyumbangkan 1.000 dinar emas untuk mendukung perjuangan Islam. Mereka memahami bahwa mengikuti petunjuk Allah tidak akan pernah membawa kepada kerugian ataupun kebinasaan.  
Kajian juga menyoroti tantangan kehidupan keluarga masa kini. Krisis komunikasi antara suami dan istri sering kali menjadi sumber berbagai persoalan rumah tangga. Padahal Al-Qur'an mengajarkan bahwa suami dan istri adalah "pakaian" satu sama lain, saling melindungi, menutupi kekurangan, dan memberikan kenyamanan.  Demikian pula menjaga pandangan merupakan bentuk ketaatan yang akan menjaga keberkahan serta kenikmatan yang halal yang telah Allah anugerahkan.  
"Dihalalkan bagimu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamu adalah pakaian bagi mereka..." (QS. Al-Baqarah: 187) 
Makna "Pakaian" dalam Ayat Ini Ulama tafsir menjelaskan bahwa perumpamaan "pakaian" mengandung makna yang sangat dalam, di antaranya: 
  • Menutupi kekurangan pasangan, bukan membuka aibnya.  
  • Melindungi satu sama lain dari hal-hal yang merusak rumah tangga.  
  • Memberikan kenyamanan dan ketenangan, sebagaimana pakaian memberi rasa nyaman bagi tubuh.  
  • Menghiasi dan memperindah kehidupan pasangan.  
  • Menjaga kehormatan dan kesucian masing-masing.  
Karena itu, ketika muncul krisis komunikasi dalam rumah tangga, ayat ini mengingatkan bahwa hubungan suami istri dibangun atas dasar saling melindungi, saling memahami, dan saling menjaga, bukan saling menyalahkan atau mempermalukan. Pesan utama kajian pagi ini begitu jelas. Hidup tanpa masalah adalah sesuatu yang mustahil. Namun, setiap persoalan telah Allah siapkan jalan keluarnya. Solusi terbaik bukan sekadar berasal dari logika manusia, melainkan dari petunjuk Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an.  
Semoga Kajian Rutin Ahad Pagi ini semakin menguatkan keyakinan kita bahwa setiap ujian adalah sarana meningkatkan derajat keimanan. Selama kita berpegang teguh kepada petunjuk Allah, tidak ada alasan untuk berputus asa, tidak ada ruang untuk bersedih berkepanjangan, karena Al-Qur'an selalu menghadirkan cahaya dan jalan keluar bagi setiap hamba yang beriman. "Hidup pasti memiliki ujian, tetapi Allah tidak pernah membiarkan hamba-Nya menghadapi ujian tanpa petunjuk. Maka dekatilah Al-Qur'an, karena di sanalah setiap persoalan menemukan jalan keluarnya."




Share:

Penyimpangan Kaum Quraisy dan Akhlak Jahiliyah | Kajian 19 Juli 2026

Kajian Rutin Ahad Pagi 19 Juli 2026 Mengenal Akhlak Masyarakat Jahiliyah dan Misi Rasulullah ﷺ Menyempurnakan Akhlak Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terlaksana pada Ahad, 19 Juli 2026, dengan pemateri Ustadz Zein Faqih. Pada kesempatan kali ini, beliau mengangkat tema tentang penyimpangan kaum Quraisy di masa jahiliyah serta diutusnya Nabi Muhammad ﷺ untuk menyempurnakan akhlak manusia.  

Rasulullah ﷺ bersabda:  
"Sesungguhnya aku diutus hanyalah untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak." (HR. Ahmad) 

Hadis ini menunjukkan bahwa salah satu tujuan utama diutusnya Nabi Muhammad ﷺ adalah membimbing manusia menuju akhlak yang mulia. Menariknya, masyarakat Arab pada masa jahiliyah tidak sepenuhnya memiliki akhlak yang buruk. Mereka memiliki beberapa sifat terpuji, namun juga dibarengi dengan penyimpangan yang akhirnya diperbaiki dan disempurnakan oleh Islam.  
Akhlak Masyarakat Jahiliyah yang Masih Terpuji  
1. Sangat Dermawan dalam Menjamu Tamu
Bangsa Arab terkenal sangat memuliakan tamu. Menjamu tamu merupakan kehormatan yang dijaga turun-temurun. Diriwayatkan dalam berbagai kisah bahwa ada seseorang yang hanya memiliki seekor unta sebagai harta terakhirnya. Ketika tamu datang, ia rela menyembelih unta tersebut demi memberikan jamuan terbaik kepada tamunya. Sikap ini menunjukkan betapa tinggi nilai kemurahan hati yang mereka miliki. Namun demikian, di sisi lain mereka juga memiliki kebiasaan yang bertentangan dengan fitrah, seperti meminum khamr dan berjudi. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: "Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: Pada keduanya terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar daripada manfaatnya." (QS. Al-Baqarah: 219) Larangan tersebut kemudian disempurnakan hingga Allah menegaskan: "Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya khamr, berjudi, berhala dan mengundi nasib dengan anak panah adalah perbuatan keji termasuk perbuatan setan, maka jauhilah agar kamu beruntung." (QS. Al-Ma'idah: 90) Ayat-ayat ini menunjukkan bagaimana Islam menghapus kebiasaan buruk masyarakat jahiliyah secara bertahap dan penuh hikmah.  
2. Menepati Janji  
Masyarakat Arab juga dikenal sangat menjaga janji. Janji dianggap sebagai kehormatan yang harus dipenuhi walaupun harus mengorbankan kepentingan pribadi. Dalam kajian disampaikan beberapa contoh sejarah, seperti Perang Al-Basus, kisah Al-Muhalhal yang dibebaskan karena adanya janji yang harus ditepati, serta kisah Nu'man dan Hani bin Mas'ud Asy-Syaibani yang menunjukkan kuatnya komitmen mereka terhadap amanah. Namun, sikap menjaga kehormatan tersebut sering kali berubah menjadi fanatisme kesukuan ('ashabiyah) yang akhirnya memicu peperangan berkepanjangan.  
3. Menjaga Kehormatan, Tetapi Berlebihan  
Masyarakat jahiliyah memiliki rasa harga diri dan kehormatan yang tinggi. Mereka juga dikenal pemberani dan memiliki rasa cemburu terhadap kehormatan keluarga. Akan tetapi, keberanian yang tidak dibimbing oleh syariat sering berubah menjadi tindakan berlebihan. Perselisihan kecil dapat berkembang menjadi peperangan panjang. Contohnya adalah Perang Al-Basus yang berlangsung hingga sekitar empat puluh tahun. Bahkan terdapat peperangan yang dipicu hanya karena persoalan sepele, seperti perlombaan atau pacuan kuda. Hal ini menunjukkan bahwa keberanian tanpa ilmu dan petunjuk agama dapat berubah menjadi kerusakan.  
4. Lemah Lembut dan Suka Menolong  
Di balik kerasnya kehidupan padang pasir, masyarakat Arab juga memiliki sifat saling membantu dan menolong sesama, terutama kepada orang yang meminta perlindungan atau mengalami kesulitan. Islam kemudian memperkuat sifat ini dengan menjadikannya sebagai bagian dari ibadah dan bentuk ketakwaan kepada Allah.  
5. Hidup Sederhana Kehidupan masyarakat Arab pada masa itu cenderung sederhana. Mereka terbiasa hidup dengan apa adanya dan tidak bergantung pada kemewahan dunia. Islam mempertahankan sikap sederhana tersebut, sekaligus mengajarkan agar seorang muslim tidak berlebih-lebihan dalam segala hal. 6. Jujur Kejujuran juga merupakan salah satu sifat yang dihargai di tengah masyarakat Arab. Bahkan sebelum diangkat menjadi rasul, Nabi Muhammad ﷺ telah mendapatkan gelar Al-Amin (orang yang terpercaya) karena kejujuran dan amanah beliau. Sifat inilah yang kemudian menjadi fondasi dakwah Islam sehingga banyak orang mempercayai risalah yang beliau bawa. Islam Menyempurnakan Akhlak Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa Islam tidak datang untuk men 
ghapus seluruh budaya Arab.  
Akhlak-akhlak yang baik tetap dipertahankan, sementara kebiasaan yang menyimpang diperbaiki dan diarahkan sesuai tuntunan wahyu. Sifat dermawan diarahkan agar ikhlas karena Allah. Keberanian dibimbing agar digunakan untuk membela kebenaran. Menepati janji dijadikan bagian dari keimanan. Tolong-menolong diarahkan dalam kebaikan dan ketakwaan. Kesederhanaan dijaga dari sifat bakhil, sedangkan kejujuran menjadi identitas setiap muslim. Dengan demikian, Islam hadir sebagai agama yang menyempurnakan kemuliaan akhlak manusia. 
Kajian Ahad pagi kali ini mengingatkan kita bahwa kemajuan suatu masyarakat tidak hanya diukur dari ilmu dan teknologi, tetapi juga dari kualitas akhlaknya. Rasulullah ﷺ telah memberikan teladan terbaik dalam membangun peradaban melalui akhlak yang mulia. Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala menjadikan kita termasuk hamba-hamba yang senantiasa meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari dan terus berusaha memperbaiki diri dengan tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Aamiin.




Share:

"Sholat Orang yang Sedang Sakit: Kemudahan Syariat Tanpa Meninggalkan Kewajiban"

Alhamdulillahirabbil 'alamin, kajian rutin Ahad pagi kembali terselenggara pada Ahad, 12 Juli 2026, di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara bersama Ustadz Yusman, S.H.I. Dalam suasana yang penuh kekhidmatan, jamaah mendapatkan pembahasan fikih yang sangat penting, yaitu mengenai tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit. 
Pada awal kajian, beliau mengingatkan bahwa Islam dibangun di atas lima rukun. Di antara kelima rukun tersebut, syahadat dan sholat merupakan kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan oleh seorang muslim selama akalnya masih ada, meskipun sedang mengalami sakit atau memiliki keterbatasan fisik. Islam adalah agama yang penuh rahmat dan kemudahan. Allah Ta'ala tidak membebani hamba-Nya di luar batas kemampuannya. Karena itu, syariat memberikan berbagai keringanan (rukhsah) dalam pelaksanaan sholat bagi orang yang sedang sakit sesuai dengan kondisi yang dialaminya. 

Rasulullah ﷺ bersabda: 
 "Sholatlah dengan berdiri. Jika tidak mampu maka dengan duduk. Jika tidak mampu maka dengan berbaring." 

Hadis ini menjadi dasar bahwa kewajiban sholat tetap berlaku, namun tata caranya disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Dalam kajian juga dijelaskan bahwa seseorang yang terbiasa melaksanakan sholat berjamaah, kemudian tidak dapat menghadirinya karena uzur seperti sakit, maka dengan karunia Allah ia tetap mendapatkan pahala sebagaimana ketika ia melaksanakannya bersama jamaah. Selain itu, syariat juga memberikan keringanan berupa bolehnya menjamak sholat bagi orang sakit apabila memang terdapat kesulitan yang nyata dalam melaksanakan setiap sholat pada waktunya. 
Apabila kondisi sakit menyebabkan seseorang tidak mampu menghadap kiblat dan tidak ada orang yang dapat membantu mengarahkannya, maka ia diperbolehkan melaksanakan sholat sesuai arah yang mampu dihadapinya. Hal ini menunjukkan betapa Islam tidak menghendaki kesulitan bagi umatnya.  
Ustadz Yusman, S.H.I. juga menjelaskan beberapa tata cara sholat bagi orang yang sedang sakit, di antaranya: 
  • Sholat sambil duduk, tetap menghadap kiblat apabila mampu, kemudian memulai sholat dengan takbiratul ihram sambil bersedekap sebagaimana sholat pada umumnya.  
  • Sholat dengan berbaring ke sisi kanan, dengan wajah menghadap kiblat. Ini merupakan posisi yang lebih utama apabila memungkinkan.  
  • Jika tidak mampu, berbaring ke sisi kiri dengan tetap menghadap kiblat.  
  • Apabila kedua posisi tersebut tidak memungkinkan, maka shalat dengan terlentang, dengan posisi kaki mengarah ke barat sehingga wajah tetap menghadap kiblat (sesuai kondisi arah kiblat setempat), lalu melakukan gerakan dengan isyarat semampunya.  
Melalui kajian ini, jamaah diingatkan bahwa sakit bukanlah alasan untuk meninggalkan sholat. Justru dalam kondisi sakit, seorang hamba semakin membutuhkan pertolongan dan kedekatan kepada Allah SWT. Syariat Islam telah memberikan kemudahan yang luar biasa sehingga setiap muslim tetap dapat menunaikan kewajiban sholat sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.  
Semoga ilmu yang disampaikan pada kajian Ahad pagi ini menjadi bekal bagi kaum muslimin untuk memahami fikih ibadah dengan benar serta semakin menumbuhkan semangat menjaga sholat dalam setiap keadaan. Semoga Allah SWT memberikan kesehatan, keistiqamahan, dan menerima seluruh amal ibadah kita. Aamiin.
Share:

Mengejar Ridho Allah di Atas Penilaian Manusia

Mensyukuri Nikmat Alloh SWT
GAYAM PERMAI – Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar pengajian rutin Ahad Pagi pada 5 Juli 2026. Pada kesempatan kali ini, jamaah diajak untuk merenungkan kembali orientasi hidup dan adab kepada Sang Pencipta bersama narasumber Ustadz Retno Ahmad Pujiono, Lc. Beliau mengupas tuntas tema sentral mengenai pentingnya meraih ridho Allah SWT dan bagaimana menyikapi takdir-Nya.  
Menjadikan Ridho Allah sebagai Tujuan Utama Dalam tausiyahnya, Ustadz Retno menekankan bahwa fokus utama seorang mukmin dalam menjalani kehidupan adalah mencari ridho Allah SWT, bukan mencari penilaian atau pujian manusia. Beliau mengingatkan dengan tegas agar jamaah tidak mengorbankan atau meninggalkan ridho Allah hanya demi menyenangkan hati manusia. "Jangan sampai kita menukar ridho Allah dengan ridho manusia. Ridho Allah adalah tujuan akhir, sementara penilaian manusia bersifat semu dan tidak akan pernah ada habisnya," tutur beliau.  
Untuk menggambarkan betapa melelahkannya mencari ridho manusia, Ustadz Retno menceritakan sebuah kisah klasik yang sarat hikmah tentang seorang ayah, anaknya, dan seekor kuda. Ketika sang ayah naik kuda dan anaknya menuntun, orang-orang mencibir sang ayah egois. Saat posisi ditukar anak naik kuda dan ayah menuntun, orang-orang berganti mencela sang anak sebagai anak durhaka. Ketika keduanya menunggangi kuda bersama, mereka dikritik menyiksa binatang. Akhirnya, saat keduanya berjalan kaki dan menuntun kuda, orang-orang tetap menertawakan mereka karena dianggap bodoh memiliki kendaraan tetapi tidak dimanfaatkan. Kisah ini menjadi analogi nyata bahwa mengikuti standar dan komentar manusia hanya akan membawa kebingungan dan keletihan psikologis.  
Satu-satunya standar keselamatan yang pasti adalah mengikuti syariat untuk meraih ridho Allah SWT. 

Adab Kepada Allah:  

Mengakui Sumber Nikmat Lebih lanjut, Ustadz Retno menjelaskan tentang adab yang harus dijaga seorang hamba kepada Allah SWT. Adab paling mendasar adalah mengakui dengan tulus bahwa segala bentuk nikmat yang kita rasakan sepenuhnya berasal dari Allah SWT. Semua pencapaian, harta, kesehatan, dan keluarga yang kita miliki murni karena kasih sayang-Nya, bukan semata-mata karena kehebatan diri kita. Beliau kemudian memberikan contoh buruk yang diabadikan dalam Al-Qur'an, yaitu Qorun.  
Qorun ditimpa azab yang pedih karena kesombongannya yang tidak mau mengakui bahwa kekayaannya yang melimpah adalah pemberian Allah. Qorun justru mengeklaim bahwa hartanya didapat karena ilmu dan usahanya sendiri. Sifat merasa berjasa dan melupakan Allah inilah yang harus dijauhi oleh setiap muslim.  
Tiga Rukun Syukur yang Harus Dipenuhi  
Sebagai perwujudan adab kepada Allah, seorang hamba dituntut untuk senantiasa bersyukur. Namun, syukur tidak sekadar ucapan di bibir. Ustadz Retno merincikan ada 3 Rukun Syukur yang harus terpenuhi agar syukur kita bernilai di hadapan Allah:  
Mengakui di dalam hati bahwa semua kenikmatan yang diperoleh adalah mutlak karena pemberian dan kemurahan Allah SWT.  
Mengucapkan dengan lisan sebagai bentuk pengakuan autentik, salah satunya dengan merutinkan bacaan "Alhamdulillah" (segala puji bagi Allah).  
Menggunakan kenikmatan tersebut untuk beramal dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Jika diberi nikmat harta, gunakan untuk sedekah; jika diberi nikmat sehat, gunakan untuk beribadah dan membantu sesama.  
Di akhir kajian, Ustadz Retno Ahmad Pujiono mengingatkan jamaah Masjid Al-Mu’minun bahwa di antara sekian banyak fasilitas duniawi, nikmat yang paling besar dan utama adalah nikmat iman. Harta dan jabatan bisa lenyap, namun iman yang tertanam di dada adalah modal utama yang akan menyelamatkan manusia di dunia hingga akhirat kelak. Pengajian rutin ini diakhiri dengan doa bersama, berharap agar seluruh jamaah diberikan kekuatan untuk senantiasa ridho atas takdir Allah dan istiqamah dalam bersyukur.
Share:

Kebaikan di Dunia Tak Mengurangi Pahala Akhirat

Alhamdulillah, pada kajian rutin Ahad pagi tanggal 21 Juni 2026 bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, kita kembali diingatkan tentang hakikat kehidupan dunia dan akhirat. Seorang mukmin hendaknya tidak hanya mengejar kenikmatan dunia, tetapi menjadikan dunia sebagai ladang untuk menanam amal yang akan dipanen kelak di akhirat. 

Dunia Adalah Tempat Beramal, Akhirat Tempat Balasan 

Salah satu pesan penting dalam kajian ini adalah bahwa dunia merupakan darul amal (tempat beramal), sedangkan akhirat adalah darul jaza' (tempat menerima balasan). Kesempatan beramal hanya ada selama kita masih hidup di dunia. Ketika seseorang telah meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali amal-amal yang terus mengalir pahalanya. Oleh karena itu, setiap waktu yang Allah berikan hendaknya dimanfaatkan untuk memperbanyak amal saleh sebagai bekal menuju kehidupan yang kekal. 
Sering kali seseorang merasa khawatir apabila telah mendapatkan banyak kenikmatan di dunia, maka pahalanya di akhirat akan berkurang. Padahal, selama kenikmatan tersebut diperoleh dengan cara yang halal dan disyukuri serta dimanfaatkan dalam ketaatan kepada Allah, maka hal itu tidak mengurangi pahala yang Allah siapkan di akhirat. Justru nikmat dunia menjadi sarana untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak ibadah, sedekah, dan berbagai amal kebajikan. 
Di antara amalan yang memiliki keutamaan besar adalah membaca Al-Qur'an. Setiap huruf yang dibaca bernilai pahala, dan Al-Qur'an akan menjadi pemberi syafaat bagi orang-orang yang senantiasa membacanya, memahami isinya, dan mengamalkannya. Membiasakan membaca Al-Qur'an setiap hari merupakan investasi yang nilainya akan terus dirasakan hingga kehidupan akhirat. 
Kajian juga mengingatkan bahwa tidak semua musibah merupakan bentuk kemurkaan Allah. Terkadang Allah mendatangkan ujian, kesulitan, ataupun bala sebagai bentuk kasih sayang-Nya kepada hamba-Nya. Melalui ujian tersebut Allah menghapus dosa, mengangkat derajat, serta mengembalikan hati seorang hamba agar semakin dekat kepada-Nya. 
Ketenangan Sejati Ada dalam Dzikir Manusia sering mencari kebahagiaan melalui harta, jabatan, maupun kesenangan dunia. Namun ketenangan yang sesungguhnya hanya dapat diperoleh dengan mengingat Allah. Dzikir bukan hanya bacaan lisan, tetapi juga menghadirkan Allah dalam hati sehingga hidup menjadi lebih tenang, sabar, dan penuh rasa syukur
 Allah Akan Mendekat Kepada Hamba-Nya Rasulullah ﷺ menyampaikan bahwa barang siapa mendekat kepada Allah sejengkal, maka Allah akan mendekatinya sehasta. Hal ini menunjukkan betapa luas rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya. Sekecil apa pun usaha kita dalam memperbaiki diri, Allah akan membalasnya dengan rahmat dan pertolongan yang jauh lebih besar. 
 Setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Namun Islam mengajarkan agar setiap dosa segera diiringi dengan taubat dan amal kebajikan. Shalat, sedekah, membaca Al-Qur'an, dzikir, membantu sesama, dan berbagai amal saleh lainnya menjadi sebab dihapusnya dosa-dosa seorang hamba dengan izin Allah. Menjauhi Penyakit Hati Ustadz juga mengingatkan tentang bahaya penyakit hati, terutama sifat sombong. Rasulullah ﷺ bersabda bahwa tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan walaupun sebesar biji sawi. Selain sombong, penyakit hati seperti iri, dengki, riya, ujub, dan hasad harus terus dibersihkan melalui keikhlasan, muhasabah, serta memperbanyak ibadah.  
Wudhu, Shalat, dan Zakat Akan Menjadi Bukti Amal Di akhir kajian disampaikan bahwa amalan-amalan pokok seperti wudhu, shalat, zakat, dan ibadah lainnya merupakan amal yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Menjaga kesempurnaan wudhu, mendirikan shalat tepat waktu dengan khusyuk, menunaikan zakat, serta menjalankan seluruh kewajiban agama merupakan bekal terbaik menuju kehidupan akhirat
Semoga kajian Ahad pagi ini menjadi pengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan sementara. Selama masih diberi kesempatan hidup, marilah kita memperbanyak amal saleh, membaca Al-Qur'an, berdzikir kepada Allah, menjaga keikhlasan, menjauhi penyakit hati, serta senantiasa memperbaiki ibadah kita. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah kita, menghapus dosa-dosa kita, memberikan husnul khatimah, dan memasukkan kita ke dalam surga-Nya tanpa hisab. Aamiin.



Share:

Dunia Tidak Menganggap Arab, Tetapi Dari Sanalah Rasulullah SAW Mengubah Sejarah Dunia

Belajar dari Sejarah, Menguatkan Iman: Antusiasme Jamaah dalam Kajian Ahad Pagi 

Kajian Rutin Ahad Pagi Bersama Ustadz Zein Faqih Ahad, 21 Juni 2026 Alhamdulillah, pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, jamaah kembali mengikuti kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih.  
Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah SAW serta perubahan besar yang beliau bawa bagi peradaban manusia, khususnya di Jazirah Arab. Mengenal Jazirah Arab Sebelum Islam Dalam kajian dijelaskan bahwa istilah Arab erat kaitannya dengan wilayah padang pasir yang luas. Secara geografis, Jazirah Arab berada di antara dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Imperium Romawi di bagian barat laut dan Imperium Persia di bagian timur. Meskipun berada di antara dua imperium besar tersebut, bangsa Arab saat itu tidak dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Namun dari wilayah yang tampak sederhana inilah kemudian lahir sebuah peradaban besar yang mengubah sejarah dunia, yaitu Peradaban Islam. 
Kondisi Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW lahir dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dari suku Quraisy di Makkah. Sebelum beliau diutus sebagai Rasul, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai Jahiliyah, yaitu masa kebodohan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam aspek kehidupan. Masyarakat Arab terdiri dari banyak suku yang sering terlibat perselisihan dan peperangan.  
Fanatisme kesukuan sangat kuat sehingga masalah kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Pembagian Bangsa Arab Dalam kajian disampaikan bahwa bangsa Arab secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok:  
1. Arab Baidah  
Arab Baidah adalah bangsa Arab kuno yang telah punah dan jejak peradabannya sebagian besar telah hilang dari sejarah. Contohnya adalah kaum 'Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur'an.  
2. Arab Aribah  
Arab Aribah merupakan Arab asli yang berasal dari wilayah Yaman. Mereka dikenal sebagai bangsa Arab murni yang mempertahankan bahasa dan budaya Arab sejak masa lampau.  
3. Arab Musta'ribah  
Arab Musta'ribah adalah bangsa Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS yang kemudian berbaur dengan masyarakat Arab asli. Dari kelompok inilah lahir suku Quraisy dan kemudian Nabi Muhammad SAW.  

Datangnya Islam Mengubah Peradaban  

Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Arab. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya yang ada, tetapi menghilangkan keburukan dan menyempurnakan kebaikan yang telah dimiliki masyarakat Arab.  
1. Perubahan Aspek Politik  
Sebelum Islam, masyarakat Arab hidup dalam sistem kesukuan yang terpecah-pecah. Loyalitas hanya diberikan kepada suku masing-masing. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mempersatukan berbagai suku dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Contoh: Suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya bermusuhan bertahun-tahun berhasil dipersatukan oleh Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok melalui Piagam Madinah.  
2. Perubahan Aspek Keyakinan  
Sebelum Islam, mayoritas masyarakat Arab menyembah berhala. Di sekitar Ka'bah terdapat ratusan patung yang dijadikan sesembahan selain Allah. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, yaitu menyembah Allah semata. Contoh: Berhala-berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan ketika Fathu Makkah. Masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala beralih menjadi penyembah Allah SWT.  
3. Perubahan Aspek Ekonomi  
Pada masa jahiliyah, praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi sangat marak. Islam mengajarkan perdagangan yang jujur dan adil. Contoh: Larangan riba yang merugikan masyarakat. Kewajiban zakat sebagai sarana pemerataan ekonomi. Anjuran berdagang secara jujur sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin.  
4. Perubahan Aspek Sosial Kemasyarakatan  
Sebelum Islam, perempuan sering diperlakukan tidak adil bahkan sebagian bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Islam datang membawa penghormatan terhadap martabat manusia. Contoh: Larangan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Perempuan memperoleh hak waris dan hak mendapatkan pendidikan. Budaya saling menolong, menyantuni yatim dan fakir miskin semakin berkembang.  

Islam Menghilangkan Keburukan dan Menyempurnakan Kebaikan  

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya Arab. Rasulullah SAW mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada dan memperbaiki hal-hal yang buruk.  
Kebaikan yang Dipertahankan  
1. Sifat Dermawan  
Bangsa Arab terkenal suka menjamu tamu. Islam mempertahankan dan menjadikannya sebagai ibadah. Contoh: Rasulullah SAW menganjurkan memuliakan tamu sebagai bagian dari keimanan.  
2. Keberanian  
Keberanian bangsa Arab diarahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Contoh: Para sahabat berjuang mempertahankan Islam dengan penuh keberanian.  
3. Menepati Janji  
Budaya menjaga kehormatan dan komitmen tetap dipertahankan dalam Islam. Contoh: Rasulullah SAW selalu menepati janji, bahkan kepada non-Muslim.  

Keburukan yang Dihilangkan  
1. Penyembahan Berhala Diganti dengan tauhid kepada Allah SWT.  
2. Fanatisme Suku Diganti dengan persaudaraan sesama muslim dan persaudaraan kemanusiaan.  
3. Riba dan Kecurangan Diganti dengan transaksi yang jujur dan adil.  
4. Penindasan terhadap Perempuan Diganti dengan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan.  
Pelajaran untuk Kehidupan Saat Ini Kajian Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa perubahan masyarakat tidak terjadi dengan kekerasan, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan akhlak. Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat yang penuh konflik menjadi umat yang memimpin peradaban dunia. Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani cara Rasulullah SAW dalam memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada serta berusaha menghilangkan berbagai keburukan yang masih terjadi di tengah masyarakat.  
Semoga kajian Ahad pagi ini semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mendorong kita untuk meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Wallahu a'lam bish-shawab.


Share:

Al-Qur'an Sebagai SOP Kehidupan: Merawat Bumi Hingga Hakikat Ujian Harta


BANJARNEGARA – Sebuah nikmat yang tiada terkira dapat mengikuti kajian pagi hari setelah melaksanakan Sholat Subuh Berjama'ah.  Agenda rutin Kajian Ahad Pagi di Perumahan Gayam Permai pada Ahad pagi, 14 Juni 2026. 
Pada kesempatan kali ini, majelis ilmu menghadirkan Ustadz Yusman sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas mengenai esensi Al-Qur'an sebagai panduan hidup manusia, tanggung jawab ekologis, hingga bagaimana seorang Muslim menyikapi titipan berupa harta dan keturunan.

3M: Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Ustadz Yusman mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya berinteraksi secara kaffah (menyeluruh) dengan kitab suci. Menurut beliau, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya sampai pada tingkat lisan saja, melainkan harus mencakup tiga tahapan utama:Membaca (mendatangkan pahala di setiap hurufnya).Memahami (mentadabburi arti dan maknanya).Mengamalkan (menerapkannya dalam perilaku sehari-hari)."Al-Qur'an itu ibarat SOP (Standard Operating Procedure) dalam kehidupan kita. Jika sebuah mesin memiliki buku panduan agar tidak rusak, maka manusia memiliki Al-Qur'an sebagai panduan operasional hidupnya. 
Siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama, maka dijamin akan selamat dunia dan akhirat, serta tidak akan pernah tersesat," tegas Ustadz Yusman. 

Menjaga Bumi dan Larangan Berbuat Kerusakan (Tafsir QS. Al-Baqarah)
Sebagai wujud mengamalkan Al Qur'an, satu poin kontekstual yang disoroti dalam kajian ini adalah implementasi takwa dalam menjaga lingkungan sekitar. Merujuk pada ayat-ayat dalam Surah Al-Baqarah, manusia dipilih sebagai khalifah di bumi bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat. Ustadz Yusman menekankan tindakan nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga perumahan, yaitu larangan membuang sampah sembarangan. Menjaga kebersihan lingkungan, mengelola limbah rumah tangga dengan bijak, dan tidak mengotori fasilitas umum adalah bagian langsung dari perintah agama untuk tidak berbuat kerusakan (fasad) di muka bumi.  
Hubungan kita dengan Allah (habluminallah) harus berjalan selaras dengan hubungan kita menjaga alam (habluminal 'alam).Hakikat Harta dan Ujian Jiwa (Tafsir QS. Ali 'Imran: 186) 
Memasuki inti kajian berikutnya, Ustadz Yusman mengajak jamaah membedah konsep kepemilikan materi (mal) dalam Islam. Beliau menyitir Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 186: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu...”

Beliau memaparkan konteks atau asbabul wurud (latar belakang nilai luhur) mengenai bagaimana harta bekerja dalam psikologis manusia. Harta ibarat buah yang manis dan hijau; sangat memikat dan menyenangkan. Namun, Islam memberikan batasan moral yang tegas agar manusia tidak diperbudak oleh dunianya. 
Berikut beberapa poin penting terkait manajemen harta yang disampaikan beliau: 
Kemuliaan Memberi: Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah." Mentalitas seorang Muslim di Perumahan Gayam Permai haruslah mentalitas pemberi dan penolong.Waspada Kelalaian: Keberadaan harta dan anak jangan sampai memalingkan fokus utama kita dari mengingat Allah SWT. Keduanya adalah amanah yang harus menuntun kita mendekat ke surga, bukan malah menjauhkan. 

Harta yang Abadi: 
Ustadz Yusman mengingatkan sebuah hakikat yang sering dilupakan orang: “Harta yang sesungguhnya kembali kepada kita di akhirat kelak bukanlah apa yang kita simpan di rekening atau yang kita nikmati sendiri di dunia, melainkan apa yang kita infakkan di jalan Allah.”

Kajian rutin Ahad Pagi ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, dan kedamaian seluruh warga di lingkungan Perumahan Gayam Permai Banjarnegara. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Yusman dapat menjadi lentera bagi kita semua dalam menyusun 'SOP' harian yang diridhai-Nya.Sampai jumpa pada Kajian Ahad Pagi berikutnya di Masjid Al-Mu'minun!

Link Instagram
Share:

Kajian Rutin Subuh Pagi Ahad Pahing


Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, ​Segala puji bagi Allah SWT yang senantiasa memberikan nikmat iman, Islam, serta kesehatan kepada kita semua. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW. ​
Melalui postingan ini, kami segenap pengurus ta'mir masjid mengundang seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan kaum muslimin pada umumnya untuk dapat hadir dalam kegiatan Kajian Rutin Subuh Berjamaah yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: ​
Hari / Tanggal: Ahad, 14 Juni 2026 (Ahad Pahing)
Waktu: Ba'da Sholat Subuh s.d. Selesai ​
Tempat: Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai, Banjarnegara ​
Pembicara: Ustadz Zein Faqih ​
Kutipan Ayat Al-Qur'an Penyelaras Jiwa: ​"Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat)." (QS. Al Isro': 78) ​
Mari kita langkahkan kaki bersama menuju rumah Allah SWT, merapatkan shaf shalat subuh, serta menimba ilmu bersama demi meraih keberkahan di pagi hari. Ajak serta keluarga, tetangga, dan kerabat terdekat. ​Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Share:

Adab kepada Allah SWT: Kunci Meraih Ridha dan Keberuntungan Hidup

Adab dan Akhlak

Kajian Ahad Pagi bersama Ustadz Retno Ahmad Pujiono, LC, 7 Juni 2026.
Dalam kehidupan sehari-hari, sering kali kita dihadapkan pada pilihan antara menjaga perasaan manusia atau menjaga adab kepada Allah SWT. Islam mengajarkan bahwa adab kepada Allah harus menjadi prioritas utama. Ketika terjadi pertentangan antara keduanya, maka seorang muslim hendaknya lebih mengutamakan ridha Allah SWT daripada mencari ridha manusia. Manusia memiliki keterbatasan. Ridha manusia tidak akan pernah bisa memuaskan semua pihak. 
Namun, apabila Allah SWT telah ridha kepada seorang hamba, maka itulah keberuntungan yang sesungguhnya. Menjaga Adab kepada Allah SWT :

1. Beribadah Secara Totalitas kepada Allah SWT 

 Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah SWT. Allah berfirman: 

 وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ 
 "Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Adz-Dzariyat: 56) 

Setiap hari dalam shalat, kita mengikrarkan:

 إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ 

"Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5) 

Ayat ini mengingatkan bahwa seluruh bentuk ibadah harus ditujukan hanya kepada Allah SWT, bukan untuk mencari pujian manusia. Rasulullah SAW mengingatkan bahwa ada tiga golongan yang pertama kali diseret ke neraka meskipun amal mereka tampak besar di mata manusia: 
1).Orang yang mati syahid namun niatnya agar disebut pemberani dan pahlawan. 
2).Ahli Al-Qur'an yang membaca dan mengajarkan Al-Qur'an agar dipuji manusia. 
3).Orang yang gemar berinfak dan bersedekah agar dikenal sebagai dermawan. 
Mereka melakukan amal besar, tetapi kehilangan keikhlasan sehingga tidak mendapatkan ridha Allah SWT. Karena itu, setiap ibadah harus dilandasi niat ikhlas lillahi ta'ala. Hati harus selalu dijaga sebelum beribadah, saat beribadah, dan setelah beribadah agar tidak tercampuri riya' dan keinginan dipuji manusia. Sesungguhnya segala sesuatu yang dilakukan karena Allah akan bernilai kekal, sedangkan yang dilakukan karena manusia akan sirna bersama pujian manusia itu sendiri. 

2. Senantiasa Berusaha Taat kepada Allah SWT 

Adab kepada Allah tidak cukup hanya dengan ibadah sesaat, tetapi harus diwujudkan dalam ketaatan yang berkelanjutan. Beberapa bentuk ketaatan yang perlu dijaga antara lain: Menjaga shalat fardhu, terutama bagi laki-laki dengan berjamaah di masjid. Berusaha menghidupkan sunnah-sunnah Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari. Mendekatkan diri kepada Allah melalui ibadah wajib dan ibadah sunnah. Menjaga pandangan, pendengaran, lisan, tangan, kaki, dan seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat. Allah SWT mengingatkan bahwa seluruh anggota tubuh akan menjadi saksi pada Hari Kiamat atas apa yang pernah dilakukan manusia selama hidup di dunia. Oleh karena itu, seorang muslim hendaknya selalu berusaha meningkatkan kualitas ketaatan kepada Allah SWT meskipun sedikit demi sedikit. 

3. Ridha atas Takdir Allah SWT dengan Ikhlas 

Bagian penting dari adab kepada Allah adalah menerima segala ketentuan-Nya dengan penuh keridhaan. Ketika mendapatkan nikmat, seorang mukmin bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, ia bersabar. Keduanya merupakan bentuk ibadah yang menunjukkan keimanan kepada Allah SWT. Kita harus meyakini bahwa seluruh ketentuan Allah mengandung hikmah, meskipun terkadang belum mampu kita pahami saat ini. Ridha terhadap takdir bukan berarti pasrah tanpa usaha, melainkan menerima hasil terbaik setelah melakukan ikhtiar yang maksimal dan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Hikmah yang Dapat Diambil Salah satu pelajaran penting dalam kehidupan adalah memahami bahwa: Ridha manusia adalah tujuan yang tidak akan pernah selesai dikejar. Namun ridha Allah adalah tujuan yang pasti membawa keberuntungan. 
 Bila seseorang terus mengejar penilaian manusia, ia akan lelah karena setiap orang memiliki keinginan dan harapan yang berbeda. Namun jika tujuan hidupnya adalah mencari ridha Allah SWT, maka hidupnya akan lebih tenang, terarah, dan penuh keberkahan. 
Ketika harus memilih antara adab kepada agama dan kepentingan manusia, maka pilihlah agama. Ketika harus memilih antara ridha Allah dan pujian manusia, maka pilihlah ridha Allah. Sebab keberuntungan sejati bukanlah ketika manusia memuji kita, tetapi ketika Allah SWT menerima amal dan meridhai kehidupan kita. 
Mari senantiasa menjaga adab kepada Allah SWT dengan beribadah secara totalitas, meningkatkan ketaatan, serta ridha terhadap segala takdir-Nya. Jangan sampai amal yang besar kehilangan nilainya karena niat yang salah. Jagalah keikhlasan dalam setiap amal, karena apa pun yang dilakukan karena Allah akan bernilai abadi di sisi-Nya. Semoga Allah SWT menjadikan kita hamba-hamba yang ikhlas, taat, dan senantiasa mencari ridha-Nya dalam setiap langkah kehidupan. Aamiin.


Share:

Kajian Rutin Ahad Pagi Dilanjutkan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H

Kajian Rutin Ahad Pagi dan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Alhamdulillah, dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: 
  • Hari/Tanggal: Ahad, 17 Mei 2026 
  • Pasaran: Ahad Wage 
  • Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba’da Subuh) 
  • Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 
  • Pemateri: Ustadz Yusman 
Kajian rutin ini menjadi salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman Islam, memperkuat akidah, serta menambah wawasan keilmuan umat. Materi yang disampaikan mencakup pembahasan seputar tafsir, tauhid, fiqih, adab, dan akhlak. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmunya, maka Allah akan memudahkan baginya langkah menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan dan keberkahan hidup. Dengan menghadiri majelis ilmu, seorang muslim tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan agama, tetapi juga memperoleh ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain kajian rutin, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H yang dilaksanakan setelah kajian selesai, sekitar pukul 05.15 WIB. Kegiatan kordinasi ini bertujuan untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai syariat. Seluruh Sohibul Qurban diundang untuk hadir dalam rapat koordinasi guna membahas berbagai persiapan teknis pelaksanaan qurban tahun 1447 H.  
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antarwarga, sehingga pelaksanaan ibadah qurban nantinya dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.  
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir serta meramaikan majelis ilmu ini. Semoga kegiatan yang dilaksanakan menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah. Atas kehadiran dan partisipasi seluruh jamaah serta Sohibul Qurban, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.  
Tentang Masjid Al Mu’minun Masjid Al Mu’minun merupakan pusat kegiatan keislaman di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah, kajian rutin, pendidikan Al-Qur’an, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan semangat kebersamaan dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Masjid Al Mu’minun terus berupaya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.  
Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
Share:

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

Siroh Nabawiyah: Tujuan Mempelajarinya | Kajian Ahad Pahing

Siroh Nabawiyah: Belajar dari Jejak Hidup Rasulullah ﷺ

Dalam perjalanan hidup seorang muslim, memahami ajaran Islam tidak cukup hanya dari sisi hukum atau ibadah semata. Kita membutuhkan teladan nyata bagaimana ajaran itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari. Di sinilah pentingnya mempelajari Siroh Nabawiyah.

Siroh bukan sekadar kisah sejarah, tetapi panduan hidup yang penuh hikmah dan relevan sepanjang zaman.

Apa Itu Siroh Nabawiyah?

Siroh Nabawiyah adalah perjalanan hidup Rasulullah ﷺ sejak lahir hingga wafat, yang mencakup berbagai fase penting:

  • Masa sebelum kenabian
  • Turunnya wahyu pertama
  • Dakwah di Makkah
  • Hijrah ke Madinah
  • Pembangunan masyarakat Islam

Melalui siroh, kita tidak hanya membaca peristiwa, tetapi juga memahami nilai, kesabaran, dan strategi dalam menghadapi kehidupan.

Tujuan Mempelajari Siroh Nabawiyah

1. Menumbuhkan Cinta kepada Rasulullah ﷺ

Semakin mengenal beliau, semakin tumbuh kecintaan yang menjadi pondasi keimanan.

2. Menjadikan Rasulullah sebagai Teladan

Rasulullah ﷺ adalah uswah hasanah dalam seluruh aspek kehidupan, baik sebagai pemimpin, ayah, maupun sahabat.

3. Memahami Islam Secara Utuh

Siroh membantu memahami konteks turunnya ayat Al-Qur’an sehingga pemahaman menjadi lebih mendalam.

4. Menguatkan Iman dan Kesabaran

Perjalanan dakwah Rasulullah ﷺ penuh ujian, namun beliau tetap istiqomah. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita.

5. Mengambil Hikmah Dakwah

Dakwah membutuhkan hikmah, kesabaran, dan strategi yang tepat. Semua ini dapat dipelajari dari siroh.

Kajian Perdana Siroh Nabawiyah

📅 Ahad Pahing
🎙 Pemateri: Ustadz Zein Faqih
📍 Masjid Al Mu'minun, Perumahan Gayam Permai

Penutup

Mempelajari siroh bukan hanya untuk menambah wawasan, tetapi untuk membentuk cara berpikir dan bertindak sesuai dengan teladan Rasulullah ﷺ.

Semoga kajian ini menjadi awal perjalanan kita untuk lebih mengenal, mencintai, dan meneladani Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.

Share:

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Ia bukan sekadar konsep teologis, tetapi fondasi yang menyentuh langsung ke dalam jiwa manusia. Dari tauhid, lahir cara pandang hidup, sikap, dan arah tujuan seorang muslim. Maka tidak berlebihan jika dikatakan bahwa tauhid adalah ikatan paling kuat dalam hati manusia. Namun demikian, membahas tauhid bukanlah perkara yang sederhana. Ia termasuk kajian yang sensitif. Sensitif bukan hanya dalam konteks hubungan antara umat Islam dengan pemeluk agama lain, tetapi juga sensitif di dalam tubuh umat Islam sendiri. Perbedaan pemahaman tentang tauhid bisa terjadi, bahkan di antara sesama kaum muslimin. Inilah sebabnya mengapa tidak banyak yang berani mengangkat tema tauhid secara mendalam. Bukan karena tidak penting, justru karena sangat penting. Tauhid menyentuh wilayah paling dalam dari keyakinan seseorang. Jika tidak disampaikan dengan hati-hati, ia bisa menimbulkan kesalahpahaman, bahkan perpecahan. Perlu Batasan agar Tidak Salah Paham Dalam membahas tauhid, diperlukan batasan yang jelas. Batasan ini bukan untuk membatasi kebenaran, tetapi untuk menjaga adab dalam berdiskusi. Tanpa batasan, perbedaan bisa berubah menjadi saling menuduh, bahkan saling menyalahkan. Padahal, dalam realitasnya, di dalam Islam sendiri terdapat beberapa pendekatan dan pemahaman terkait akidah. Perbedaan ini adalah sesuatu yang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, yang lebih penting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Kedewasaan dalam memahami tauhid bukan hanya terletak pada kuatnya dalil yang kita pegang, tetapi juga pada kemampuan kita menghargai perbedaan tanpa kehilangan prinsip. Tauhid dan Kedewasaan Berpikir Tauhid membutuhkan pola pikir yang matang. Tanpa kematangan berpikir, kajian tauhid justru bisa menjadi sumber konflik. Orang yang belum siap secara ilmu dan mental, sering kali mudah terjebak dalam perdebatan yang tidak produktif. Sebaliknya, mereka yang matang dalam memahami tauhid akan lebih tenang, lebih bijak, dan tidak mudah menghakimi. Mereka memahami bahwa tujuan utama tauhid adalah mendekatkan diri kepada Allah, bukan memenangkan perdebatan. Kematangan berpikir ini mencakup: Kemampuan memahami dalil secara proporsional Tidak tergesa-gesa dalam menilai Mengedepankan adab di atas ego Menjaga persatuan umat Tauhid sebagai Pemersatu, Bukan Pemecah Ironisnya, sesuatu yang seharusnya menjadi pemersatu justru sering menjadi pemicu perpecahan. Padahal tauhid adalah kalimat yang sama yang kita yakini: Laa ilaaha illallah. Dari kalimat inilah seharusnya kita bersatu. Perbedaan yang ada hendaknya menjadi ruang belajar, bukan ruang konflik. Selama masih dalam koridor Islam, perbedaan itu harus disikapi dengan lapang dada. Harapan dan Doa Kita patut bersyukur ketika ada lingkungan yang berani menjadikan tauhid sebagai materi kajian. Ini adalah langkah besar, karena tidak semua tempat memiliki keberanian tersebut. Harapannya, kajian tauhid ini tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga memperkuat keimanan dan memperhalus akhlak. Semoga Allah SWT membimbing kita semua agar dapat istiqomah dalam memahami dan mengamalkan tauhid dengan benar. Akhirnya, semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada teladan kita, Nabi Muhammad ﷺ, yang telah mengajarkan tauhid dengan penuh hikmah dan kelembutan.

Tauhid: Inti Kehidupan yang Menuntut Kedewasaan Berpikir

Dipublikasikan untuk kajian keislaman | Kategori: Akidah & Tauhid

Tauhid adalah inti dari ajaran Islam. Ia bukan sekadar konsep teologis, tetapi fondasi yang menyentuh langsung ke dalam jiwa manusia.

Namun demikian, membahas tauhid bukanlah perkara yang sederhana. Ia termasuk kajian yang sensitif, baik secara internal umat Islam maupun eksternal.

Perlu Batasan agar Tidak Salah Paham

Dalam membahas tauhid, diperlukan batasan yang jelas agar tidak terjadi kesalahpahaman dan saling menuduh.

Kedewasaan dalam memahami tauhid bukan hanya pada dalil, tetapi pada adab dalam menyikapi perbedaan.

Tauhid dan Kedewasaan Berpikir

  • Memahami dalil secara proporsional
  • Tidak tergesa-gesa dalam menilai
  • Mengedepankan adab
  • Menjaga persatuan umat

Penutup

Semoga Allah SWT membimbing kita untuk istiqomah dalam tauhid dan menjadikan kita pribadi yang bijak dalam menyikapi perbedaan.

Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget