Showing posts sorted by relevance for query Kajian. Sort by date Show all posts
Showing posts sorted by relevance for query Kajian. Sort by date Show all posts

Kajian Rutin Ahad Pagi Masjid Al Mu'minun Gayam Permai Kembali Bergulir



Banjarnegara, 11 April 2025 – Semangat Ramadhan 1446H yang baru saja berlalu diharapkan tidak hanya meninggalkan kenangan indah, namun juga menguatkan tali persaudaraan dan keimanan umat Islam. Sebagai wujud komitmen dalam menjaga spirit kebaikan tersebut, Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai kembali menghidupkan kajian rutin Ahad pagi. Kajian perdana pasca bulan suci ini akan dilaksanakan pada Ahad, 13 April 2025, dan akan menghadirkan narasumber yang kompeten, Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc. 
Kajian rutin Ahad pagi di Masjid Al Mu'minun telah menjadi agenda penting bagi warga Perumahan Gayam Permai dan sekitarnya. Kegiatan ini tidak hanya menjadi wadah untuk menambah ilmu agama, tetapi juga sebagai sarana mempererat ukhuwah Islamiyah antar jamaah. Setelah sebulan penuh fokus pada ibadah puasa dan amalan-amalan sunnah lainnya di bulan Ramadhan, kajian perdana ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk mempertahankan dan meningkatkan kualitas keimanan serta amalan sehari-hari. 
Kehadiran Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc., sebagai pengisi kajian perdana ini tentu menjadi daya tarik tersendiri. Beliau dikenal sebagai seorang ustadz yang memiliki pemahaman agama yang mendalam dan penyampaian yang mudah diterima oleh berbagai kalangan, Beliau adalah Alumni Universitas Madinah. Dengan latar belakang pendidikan agama yang kuat, diharapkan Ustadz Firdaus dapat memberikan pencerahan dan motivasi kepada para jamaah dalam mengarungi kehidupan pasca Ramadhan. Tema kajian perdana ini tentu akan sangat relevan dengan kondisi setelah bulan Ramadhan. 
Kemungkinan besar, Ustadz Firdaus akan membahas mengenai pentingnya istiqomah dalam beribadah, menjaga amalan-amalan baik yang telah dilakukan selama Ramadhan, serta bagaimana mengaplikasikan nilai-nilai luhur Ramadhan dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, kajian ini juga bisa menjadi wadah untuk saling berbagi pengalaman dan memperkuat solidaritas antar sesama muslim. Panitia kajian rutin Masjid Al Mu'minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir dan mengambil manfaat dari kajian perdana ini. Kehadiran para jamaah akan semakin memeriahkan acara dan menunjukkan semangat kebersamaan dalam menuntut ilmu agama. 
Kajian rutin Ahad pagi ini direncanakan akan dimulai setelah shalat Subuh berjamaah dan akan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bagi para jamaah yang ingin mendalami materi yang disampaikan. Diharapkan, kegiatan ini dapat menjadi bekal yang berharga bagi setiap muslim dalam menjalani kehidupan yang lebih baik dan diridhai oleh Allah SWT. 
Mari kita jadikan momentum pasca Ramadhan ini sebagai awal yang baik untuk terus meningkatkan kualitas diri dan mempererat tali persaudaraan dalam bingkai keimanan. Jangan lewatkan kesempatan emas untuk menimba ilmu bersama Ustadz Firdaus Maulana Akbar, Lc., pada Ahad, 13 April 2025 di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai. Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan bagi kita semua.
Share:

Mengawali Hari dengan Berkah: Undangan Subuh Berjama'ah dan Kajian Rutin Ahad Pagi

Kajian rutin Ahad pagi tanggal 02 Februari 2025 bersama Ustadz Muhammad Akmal dari Ponpes NUSA Banjarnegara. Kajian rutin ini diselenggarakan setelah Sholat Subuh berjama'ah. Mengenai Sholat Subuh Alloh, SWT berfirman dalam QS Al Isro' sebagai berikut:

Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikanlah pula shalat) subuh. Sesungguhnya shalat subuh itu disaksikan (oleh malaikat). (QS: Al Isro',78)

Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara dengan sukacita mengundang seluruh umat Muslim untuk menghadiri acara Subuh berjama'ah yang dilanjutkan dengan kajian rutin setiap hari Ahad pagi. Kegiatan ini merupakan kesempatan yang sangat baik untuk meningkatkan keimanan, mempererat tali silaturahmi, dan mendapatkan ilmu yang bermanfaat.

Tema Kajian: 
 Tema kajian akan bervariasi setiap minggunya, mencakup berbagai aspek keislaman seperti Al-Qur'an, Hadis, Fikih, Akhlak, dan lainnya. Kajian akan disampaikan oleh ustadz atau tokoh agama yang kompeten di bidangnya. 

Manfaat: 
  • Mendapatkan Berkah Subuh: Subuh adalah waktu yang penuh berkah, dan melaksanakan salat Subuh berjama'ah di masjid memiliki keutamaan yang besar. 
  • Menambah Ilmu: Kajian rutin Ahad pagi akan memberikan ilmu yang bermanfaat untuk meningkatkan pemahaman tentang agama Islam. 
  • Mempererat Silaturahmi: Kegiatan ini menjadi wadah untuk bertemu dan berinteraksi dengan sesama Muslim, sehingga mempererat tali silaturahmi. 
  • Meningkatkan Keimanan: Dengan mengikuti kegiatan ini secara rutin, diharapkan dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT.
Share:

Dunia Tidak Menganggap Arab, Tetapi Dari Sanalah Rasulullah SAW Mengubah Sejarah Dunia

Belajar dari Sejarah, Menguatkan Iman: Antusiasme Jamaah dalam Kajian Ahad Pagi 

Kajian Rutin Ahad Pagi Bersama Ustadz Zein Faqih Ahad, 21 Juni 2026 Alhamdulillah, pada Ahad pagi, 21 Juni 2026, jamaah kembali mengikuti kajian rutin yang disampaikan oleh Ustadz Zein Faqih.  
Pada kesempatan kali ini, tema yang dibahas adalah Sirah Nabawiyah, yaitu perjalanan sejarah kehidupan Rasulullah SAW serta perubahan besar yang beliau bawa bagi peradaban manusia, khususnya di Jazirah Arab. Mengenal Jazirah Arab Sebelum Islam Dalam kajian dijelaskan bahwa istilah Arab erat kaitannya dengan wilayah padang pasir yang luas. Secara geografis, Jazirah Arab berada di antara dua kekuatan besar dunia saat itu, yaitu Imperium Romawi di bagian barat laut dan Imperium Persia di bagian timur. Meskipun berada di antara dua imperium besar tersebut, bangsa Arab saat itu tidak dianggap sebagai kekuatan yang diperhitungkan dalam percaturan politik dunia. Namun dari wilayah yang tampak sederhana inilah kemudian lahir sebuah peradaban besar yang mengubah sejarah dunia, yaitu Peradaban Islam. 
Kondisi Arab Sebelum Diutusnya Nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW lahir dari Bani Hasyim, salah satu kabilah terhormat dari suku Quraisy di Makkah. Sebelum beliau diutus sebagai Rasul, masyarakat Arab hidup dalam masa yang dikenal sebagai Jahiliyah, yaitu masa kebodohan yang ditandai dengan berbagai penyimpangan dalam aspek kehidupan. Masyarakat Arab terdiri dari banyak suku yang sering terlibat perselisihan dan peperangan.  
Fanatisme kesukuan sangat kuat sehingga masalah kecil dapat memicu konflik berkepanjangan. Pembagian Bangsa Arab Dalam kajian disampaikan bahwa bangsa Arab secara garis besar terbagi menjadi tiga kelompok:  
1. Arab Baidah  
Arab Baidah adalah bangsa Arab kuno yang telah punah dan jejak peradabannya sebagian besar telah hilang dari sejarah. Contohnya adalah kaum 'Ad dan Tsamud yang disebutkan dalam Al-Qur'an.  
2. Arab Aribah  
Arab Aribah merupakan Arab asli yang berasal dari wilayah Yaman. Mereka dikenal sebagai bangsa Arab murni yang mempertahankan bahasa dan budaya Arab sejak masa lampau.  
3. Arab Musta'ribah  
Arab Musta'ribah adalah bangsa Arab yang berasal dari keturunan Nabi Ismail AS yang kemudian berbaur dengan masyarakat Arab asli. Dari kelompok inilah lahir suku Quraisy dan kemudian Nabi Muhammad SAW.  

Datangnya Islam Mengubah Peradaban  

Ustadz Zein Faqih menjelaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa perubahan yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Arab. Islam tidak datang untuk menghapus seluruh budaya yang ada, tetapi menghilangkan keburukan dan menyempurnakan kebaikan yang telah dimiliki masyarakat Arab.  
1. Perubahan Aspek Politik  
Sebelum Islam, masyarakat Arab hidup dalam sistem kesukuan yang terpecah-pecah. Loyalitas hanya diberikan kepada suku masing-masing. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mempersatukan berbagai suku dalam ikatan ukhuwah Islamiyah. Contoh: Suku Aus dan Khazraj di Madinah yang sebelumnya bermusuhan bertahun-tahun berhasil dipersatukan oleh Islam. Rasulullah SAW membangun masyarakat Madinah yang terdiri dari berbagai kelompok melalui Piagam Madinah.  
2. Perubahan Aspek Keyakinan  
Sebelum Islam, mayoritas masyarakat Arab menyembah berhala. Di sekitar Ka'bah terdapat ratusan patung yang dijadikan sesembahan selain Allah. Setelah Islam datang, Rasulullah SAW mengajarkan tauhid, yaitu menyembah Allah semata. Contoh: Berhala-berhala di sekitar Ka'bah dihancurkan ketika Fathu Makkah. Masyarakat yang sebelumnya menyembah berhala beralih menjadi penyembah Allah SWT.  
3. Perubahan Aspek Ekonomi  
Pada masa jahiliyah, praktik riba, penipuan, dan eksploitasi ekonomi sangat marak. Islam mengajarkan perdagangan yang jujur dan adil. Contoh: Larangan riba yang merugikan masyarakat. Kewajiban zakat sebagai sarana pemerataan ekonomi. Anjuran berdagang secara jujur sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW yang dikenal dengan gelar Al-Amin.  
4. Perubahan Aspek Sosial Kemasyarakatan  
Sebelum Islam, perempuan sering diperlakukan tidak adil bahkan sebagian bayi perempuan dikubur hidup-hidup karena dianggap aib. Islam datang membawa penghormatan terhadap martabat manusia. Contoh: Larangan mengubur bayi perempuan hidup-hidup. Perempuan memperoleh hak waris dan hak mendapatkan pendidikan. Budaya saling menolong, menyantuni yatim dan fakir miskin semakin berkembang.  

Islam Menghilangkan Keburukan dan Menyempurnakan Kebaikan  

Salah satu poin penting yang disampaikan dalam kajian adalah bahwa Islam tidak serta-merta menghapus seluruh budaya Arab. Rasulullah SAW mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada dan memperbaiki hal-hal yang buruk.  
Kebaikan yang Dipertahankan  
1. Sifat Dermawan  
Bangsa Arab terkenal suka menjamu tamu. Islam mempertahankan dan menjadikannya sebagai ibadah. Contoh: Rasulullah SAW menganjurkan memuliakan tamu sebagai bagian dari keimanan.  
2. Keberanian  
Keberanian bangsa Arab diarahkan untuk membela kebenaran dan menegakkan keadilan. Contoh: Para sahabat berjuang mempertahankan Islam dengan penuh keberanian.  
3. Menepati Janji  
Budaya menjaga kehormatan dan komitmen tetap dipertahankan dalam Islam. Contoh: Rasulullah SAW selalu menepati janji, bahkan kepada non-Muslim.  

Keburukan yang Dihilangkan  
1. Penyembahan Berhala Diganti dengan tauhid kepada Allah SWT.  
2. Fanatisme Suku Diganti dengan persaudaraan sesama muslim dan persaudaraan kemanusiaan.  
3. Riba dan Kecurangan Diganti dengan transaksi yang jujur dan adil.  
4. Penindasan terhadap Perempuan Diganti dengan penghormatan terhadap hak dan martabat perempuan.  
Pelajaran untuk Kehidupan Saat Ini Kajian Sirah Nabawiyah mengajarkan bahwa perubahan masyarakat tidak terjadi dengan kekerasan, tetapi melalui pendidikan, keteladanan, dan pembinaan akhlak. Rasulullah SAW berhasil mengubah masyarakat yang penuh konflik menjadi umat yang memimpin peradaban dunia. Sebagai umat Islam, kita perlu meneladani cara Rasulullah SAW dalam memperbaiki diri dan lingkungan sekitar, yaitu dengan mempertahankan nilai-nilai baik yang sudah ada serta berusaha menghilangkan berbagai keburukan yang masih terjadi di tengah masyarakat.  
Semoga kajian Ahad pagi ini semakin menambah kecintaan kita kepada Rasulullah SAW dan mendorong kita untuk meneladani perjuangan beliau dalam kehidupan sehari-hari.  
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu." (QS. Al-Ahzab: 21) Wallahu a'lam bish-shawab.


Share:

[Kajian Ahad Pagi] Fenomena Kematian Mendadak: Alarm Akhir Zaman dan Bekal Kita

Banjarnegara, 1 Februari 2026 – Mengawali bulan Februari dengan penuh perenungan, jamaah Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali berkumpul dalam Kajian Ahad Pagi yang khidmat. Kajian Ahad disampaikan oleh Ustadz Yusman,SHI, Topik yang diangkat kali ini cukup menyentak kesadaran kita semua, yakni mengenai fenomena kematian mendadak sebagai salah satu tanda semakin dekatnya hari kiamat.





 إِنَّ مِنْ أَشْرَاطِ السَّاعَةِ أَنْ يُشَلَّ الْفَتَى (وفي رواية: أَنْ يَتَفَشَّى) مَوْتُ الْفَجْأَةِ، وَأَنْ تُتَّخَذَ الْمَسَاجِدُ طُرُقًا 

 "Sesungguhnya di antara tanda-tanda kiamat adalah munculnya (tersebarnya) kematian mendadak, dan dijadikannya masjid-masjid sebagai jalanan (perlintasan)." (HR. Thabrani). 


Kematian Mendadak dan Masjid yang "Terasing" Dalam kajian tadi pagi, disampaikan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan nubuat mengenai kondisi akhir zaman. Salah satu tandanya adalah ketika masjid hanya dijadikan tempat perlintasan atau "jalan-jalan" tanpa ditegakkan sholat di dalamnya, serta maraknya peristiwa kematian mendadak (mautul faja'ah). 
Secara medis, kita mungkin mengenalnya sebagai henti jantung atau penyebab lainnya. Namun, secara maknawi, ini adalah pengingat bahwa kesempatan bertaubat bisa tertutup kapan saja tanpa aba-aba sakit terlebih dahulu. 

Bagaimana Sikap Kita Sebagai Muslim? 
Menghadapi kenyataan bahwa maut bisa menjemput saat kita sedang bekerja, beristirahat, atau bahkan saat bercengkrama, kajian hari ini merangkum tiga langkah utama yang harus kita pegang teguh: 
  1. Yakini Takdir dengan Sepenuh Hati Kita harus mengimani bahwa ajal adalah rahasia Allah yang sudah tertulis di Lauh Mahfuzh. Keyakinan yang kuat pada takdir akan melahirkan ketenangan jiwa. Tidak ada yang bisa mempercepat atau menunda kematian jika waktunya telah tiba. Dengan meyakini ini, kita tidak akan merasa cemas berlebihan, melainkan menjadi lebih waspada dalam beramal. 
  2. Isti’adah (Memohon Perlindungan) Rasulullah SAW mengajarkan kita untuk berlindung dari kematian mendadak yang buruk. Kita dianjurkan rutin memohon perlindungan kepada Allah agar jika maut datang menjemput, kita berada dalam kondisi terbaik (Husnul Khotimah). Mintalah perlindungan dari fitnah kehidupan dan kematian di setiap doa kita. 
  3. Memperbanyak Istighfar Karena kita tidak tahu kapan "pintu" dunia akan tertutup, maka Istighfar adalah kunci. Istighfar bukan hanya pembersih dosa, tapi juga penarik rahmat Allah. Jadikan lisan kita basah dengan permohonan ampun agar saat maut datang secara tiba-tiba, kalimat terakhir yang atau kondisi batin kita sedang dalam keadaan bertaubat kepada Allah SWT. 

Kajian pagi ini di Masjid Al-Mu’minun bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk mengajak warga Gayam Permai agar lebih bijak dalam memanfaatkan waktu. Mari kita makmurkan masjid kita bukan sekadar sebagai bangunan megah, tetapi sebagai rumah tempat kita bersujud dan menimba ilmu. Semoga Allah SWT senantiasa membimbing langkah kita dan mewafatkan kita semua dalam keadaan iman yang sempurna. Amin. Simak terus update kegiatan rutin dan ringkasan kajian Masjid Al-Mu'minun hanya di laman resmi warga: gayampermai-bna.blogspot.com.










Share:

Al-Qur'an Sebagai SOP Kehidupan: Merawat Bumi Hingga Hakikat Ujian Harta


BANJARNEGARA – Sebuah nikmat yang tiada terkira dapat mengikuti kajian pagi hari setelah melaksanakan Sholat Subuh Berjama'ah.  Agenda rutin Kajian Ahad Pagi di Perumahan Gayam Permai pada Ahad pagi, 14 Juni 2026. 
Pada kesempatan kali ini, majelis ilmu menghadirkan Ustadz Yusman sebagai pemateri. Dalam pemaparannya, beliau mengupas tuntas mengenai esensi Al-Qur'an sebagai panduan hidup manusia, tanggung jawab ekologis, hingga bagaimana seorang Muslim menyikapi titipan berupa harta dan keturunan.

3M: Membaca, Memahami, dan Mengamalkan Al-Qur’an

Ustadz Yusman mengawali kajian dengan mengingatkan jamaah akan pentingnya berinteraksi secara kaffah (menyeluruh) dengan kitab suci. Menurut beliau, hubungan seorang Muslim dengan Al-Qur’an tidak boleh berhenti hanya sampai pada tingkat lisan saja, melainkan harus mencakup tiga tahapan utama:Membaca (mendatangkan pahala di setiap hurufnya).Memahami (mentadabburi arti dan maknanya).Mengamalkan (menerapkannya dalam perilaku sehari-hari)."Al-Qur'an itu ibarat SOP (Standard Operating Procedure) dalam kehidupan kita. Jika sebuah mesin memiliki buku panduan agar tidak rusak, maka manusia memiliki Al-Qur'an sebagai panduan operasional hidupnya. 
Siapa saja yang menjadikan Al-Qur'an sebagai pedoman utama, maka dijamin akan selamat dunia dan akhirat, serta tidak akan pernah tersesat," tegas Ustadz Yusman. 

Menjaga Bumi dan Larangan Berbuat Kerusakan (Tafsir QS. Al-Baqarah)
Sebagai wujud mengamalkan Al Qur'an, satu poin kontekstual yang disoroti dalam kajian ini adalah implementasi takwa dalam menjaga lingkungan sekitar. Merujuk pada ayat-ayat dalam Surah Al-Baqarah, manusia dipilih sebagai khalifah di bumi bukan untuk merusak, melainkan untuk merawat. Ustadz Yusman menekankan tindakan nyata yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari warga perumahan, yaitu larangan membuang sampah sembarangan. Menjaga kebersihan lingkungan, mengelola limbah rumah tangga dengan bijak, dan tidak mengotori fasilitas umum adalah bagian langsung dari perintah agama untuk tidak berbuat kerusakan (fasad) di muka bumi.  
Hubungan kita dengan Allah (habluminallah) harus berjalan selaras dengan hubungan kita menjaga alam (habluminal 'alam).Hakikat Harta dan Ujian Jiwa (Tafsir QS. Ali 'Imran: 186) 
Memasuki inti kajian berikutnya, Ustadz Yusman mengajak jamaah membedah konsep kepemilikan materi (mal) dalam Islam. Beliau menyitir Al-Qur'an Surah Ali 'Imran ayat 186: 

لَتُبْلَوُنَّ فِي أَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ

“Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu...”

Beliau memaparkan konteks atau asbabul wurud (latar belakang nilai luhur) mengenai bagaimana harta bekerja dalam psikologis manusia. Harta ibarat buah yang manis dan hijau; sangat memikat dan menyenangkan. Namun, Islam memberikan batasan moral yang tegas agar manusia tidak diperbudak oleh dunianya. 
Berikut beberapa poin penting terkait manajemen harta yang disampaikan beliau: 
Kemuliaan Memberi: Rasulullah SAW mengajarkan bahwa "tangan yang di atas jauh lebih baik daripada tangan yang di bawah." Mentalitas seorang Muslim di Perumahan Gayam Permai haruslah mentalitas pemberi dan penolong.Waspada Kelalaian: Keberadaan harta dan anak jangan sampai memalingkan fokus utama kita dari mengingat Allah SWT. Keduanya adalah amanah yang harus menuntun kita mendekat ke surga, bukan malah menjauhkan. 

Harta yang Abadi: 
Ustadz Yusman mengingatkan sebuah hakikat yang sering dilupakan orang: “Harta yang sesungguhnya kembali kepada kita di akhirat kelak bukanlah apa yang kita simpan di rekening atau yang kita nikmati sendiri di dunia, melainkan apa yang kita infakkan di jalan Allah.”

Kajian rutin Ahad Pagi ini diakhiri dengan doa bersama untuk keselamatan, keberkahan, dan kedamaian seluruh warga di lingkungan Perumahan Gayam Permai Banjarnegara. Semoga ilmu yang disampaikan oleh Ustadz Yusman dapat menjadi lentera bagi kita semua dalam menyusun 'SOP' harian yang diridhai-Nya.Sampai jumpa pada Kajian Ahad Pagi berikutnya di Masjid Al-Mu'minun!

Link Instagram
Share:

Gema Wahyu di Fajar Ramadhan: Kajian Subuh Perdana 1447 H

Gayam Permai, Banjarnegara
– Suasana syahdu menyelimuti Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai pada fajar pertama bulan suci ini. Rabu, 18 Februari 2026, bertepatan dengan 1 Ramadhan 1447 H, warga berkumpul dalam khidmatnya Kajian Subuh perdana yang disampaikan oleh Ustadz Akbar. Dalam kajian pembuka ini, Ustadz Muhammad Akbar menekankan bahwa Ramadhan bukanlah sekadar bulan pergantian kalender, melainkan sebuah hadiah khusus dari Allah SWT untuk umat Nabi Muhammad SAW. 
Ramadhan: Hadiah Spesial bagi Umat Akhir Zaman 
Ustadz Akbar membuka tausiyahnya dengan mengingatkan bahwa Allah memberikan kekhususan pada bulan ini yang tidak dimiliki bulan-bulan lainnya. "Ramadhan adalah ruang waktu yang dipilih Allah untuk menurunkan rahmat-Nya secara melimpah. Jika kita menyia-nyiakannya, maka rugilah kita, karena belum tentu kita akan berjumpa kembali dengan Ramadhan di tahun mendatang," pesan beliau. Al-Qur'an: Alasan Utama Kemuliaan Ramadhan Mengapa Ramadhan begitu istimewa? Jawabannya ada pada peristiwa Nuzulul Qur'an. Ustadz Akbar menjelaskan bahwa kemuliaan bulan ini berakar dari diturunkannya mukjizat terbesar, yakni Al-Qur'an. 

 "Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia..." (QS. Al-Baqarah: 185). 

 Beliau mengajak warga Gayam Permai untuk menjadikan Ramadhan 1447 H ini sebagai momentum untuk kembali berinteraksi secara intens dengan Al-Qur'an. Berinteraksi bukan hanya sekadar membaca (tilawah), tapi juga mendengarkan (sama’), merenungi makna (tadabbur), hingga mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan tetangga. 

Menghargai Hasil Perjuangan Rasulullah SAW 
Di sela-sela kajian, Ustadz Akbar menyentuh sisi emosional jamaah dengan mengingatkan bahwa sampainya Al-Qur'an dan risalah Islam ke tangan kita hari ini adalah hasil perjuangan darah dan air mata Rasulullah SAW. "Al-Qur'an yang kita baca dengan tenang di masjid yang nyaman ini adalah buah dari perjuangan berat Baginda Nabi di masa lalu. Maka, cara terbaik kita menghargai perjuangan beliau adalah dengan tidak membiarkan Al-Qur'an hanya berdebu di rak-rak lemari kita selama Ramadhan," tegasnya. 
Spirit Ibadah Warga Gayam Permai Antusiasme warga dalam kajian subuh ini menjadi awal yang baik bagi kehidupan spiritual di Perumahan Gayam Permai selama sebulan ke depan. Mari kita isi hari-hari ke depan dengan memperbanyak interaksi dengan Kalamullah. Semoga di Ramadhan 1447 H ini, Allah SWT menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mendapatkan syafaat Al-Qur'an.










Share:

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah

Gayam Permai, 5 Maret 2026 – Suasana Subuh di Masjid Al Mu'minun Perumahan Gayam Permai terasa begitu khidmat. Di tengah sejuknya udara pagi tanggal 5 Maret 2026, jemaah Kajian Subuh Ramadhan 1447 H berkesempatan menimba ilmu bersama Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menyampaikan pesan mendalam mengenai perumpamaan orang yang beruntung dan orang yang merugi dengan filosofi seorang petani. 
Ramadhan: Musim Menanam Kebajikan Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan mengajak jemaah merenungi nasib seorang petani. Seorang petani yang sukses adalah mereka yang saat masa panen tiba, hasil yang didapat sesuai dengan harapan yang ia tanam. Begitu pula gambaran seorang mukmin yang sukses. "Orang mukmin yang cerdas adalah mereka yang menjadikan Ramadhan sebagai ladang. Mereka menanam benih ibadah, menyemai kebaikan, dan memupuknya dengan keikhlasan," tutur beliau. 
Namun, beliau memberikan peringatan keras tentang golongan orang yang merugi. Merugi adalah ketika apa yang kita harapkan di akhir nanti, ternyata tidak sesuai dengan kenyataan. Ibarat petani yang mengharap padi namun yang tumbuh justru ilalang, atau petani yang menanam namun gagal panen. 

Waspada Terhadap 'Hama' Ibadah 
Satu poin penting yang ditekankan Ustadz Ulil Albab adalah bahwa ibadah tidak sekadar "menanam". Banyak orang yang rajin salat, rajin puasa, dan bersedekah, namun mereka lupa menjaga tanamannya. "Hampir sampai masa panen, tiba-tiba datang hama. Begitu juga pahala kita. Seringkali pahala yang sudah kita kumpulkan habis dimakan hama penyakit hati seperti riya, sum'ah, atau memutus silaturahmi," jelas Ustadz Ulil.  
Oleh karena itu, seorang mukmin harus memiliki usaha ekstra untuk memagari dan melindungi tanamannya agar selamat hingga hari perhitungan nanti. Merayakan Kemenangan dengan Takbir dan Syukur Menjelang akhir kajian, Ustadz Ulil Albab membahas mengenai momen ketika kita berhasil menyelesaikan ibadah Ramadhan. Beliau mengutip isyarat dari Al-Qur'an bahwa kemampuan kita berpuasa sebulan penuh bukanlah semata-mata karena kekuatan fisik kita, melainkan karena taufik dan hidayah dari Allah SWT. Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 185:

 وَلِتُكْمِلُوا۟ ٱلْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ "

...dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur." 

 Ayat ini mengajarkan kita bahwa ketika melihat hilal atau menyelesaikan Ramadhan, kita disunnahkan bertakbir. Takbir tersebut adalah pengakuan bahwa kita bisa selesai Ramadhan hanya karena Allah memberi kesempatan dan kekuatan. 

La Haula Wala Quwwata Illa Billah 
Menutup kajian, Ustadz mengingatkan kembali bahwa tidak ada daya untuk menjauhi maksiat dan tidak ada kekuatan untuk beribadah kecuali dengan pertolongan Allah. Kalimat “La Haula Wala Quwwata Illa Billah” harus menjadi landasan setiap amal kita. Jika kita merasa sombong dengan amalan kita, ingatlah bahwa kita hanyalah "petani" yang meminjam tanah, benih, dan air dari Sang Pencipta. Maka, bersyukurlah karena telah dipilih Allah untuk menjadi bagian dari hamba-Nya yang bersujud di Subuh yang berkah ini. Semoga Ramadhan 1447 H ini menjadikan kita petani-petani iman yang sukses memanen pahala di akhirat kelak. Amin. 
Penulis: Admin Gayam Permai 
Sumber: Kajian Subuh Ramadhan 1447 H bersama Ustadz Ulil Albab (5 Maret 2026)
Share:

Menjaga Kesempurnaan Puasa dan Kelapangan Hati: Catatan Kajian Ramadhan bersama Ustadz Ulil Albab

Banjarnegara, 19 Februari 2026 – Memasuki hari-hari awal di bulan suci Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali menghadirkan kesejukan ruhani melalui kajian subuh yang disampaikan oleh Ustadz Ulil Albab. Dalam tausiyahnya, beliau menekankan pentingnya menjaga esensi puasa di tengah perbedaan dan melatih hati agar mencapai derajat taqwa yang hakiki. 

1. Khilafiyah: Perbedaan yang Tak Perlu Diperbesar Ustadz Ulil Albab mengawali kajian dengan pesan persatuan. Masalah khilafiyah atau perbedaan pendapat—termasuk perbedaan penentuan awal Ramadhan—adalah hal yang wajar dalam dinamika ijtihad. "Janganlah perbedaan ini diperbesar hingga merusak ukhuwah. Fokus kita bukanlah pada kapan kita mulai, tapi pada bagaimana kualitas ibadah kita selama bulan mulia ini," pesan beliau. Kelapangan dada dalam menerima perbedaan adalah ciri kematangan iman seorang muslim. 

2. Fadilah Umat Rasulullah dan Mukjizat Al-Qur'an Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita diberikan keistimewaan berupa bulan Ramadhan. Kemuliaan bulan ini tak lepas dari peristiwa turunnya Al-Qur'an (Nuzulul Qur'an). Ustadz Ulil menjelaskan ada dua fadilah besar yang harus kita kejar: Fadilah Waktu: Setiap detik di bulan Ramadhan adalah keberkahan. Fadilah Membaca Al-Qur'an: Berkhidmat (berbakti dan berinteraksi) dengan Al-Qur'an bukan sekadar mengeja huruf, tapi menghadirkan Al-Qur'an dalam hati. Siapa pun yang memuliakan Al-Qur'an, Allah pasti akan menjamin keberkahan hidupnya, baik di dunia maupun di akhirat. 

3. Menjaga Kesempurnaan Puasa Banyak orang berpuasa namun hanya mendapatkan lapar dan dahaga. Oleh karena itu, Ustadz Ulil mengingatkan untuk menjaga kesempurnaan puasa. Tidak hanya menahan mulut dari makan, tapi juga menahan mata, telinga, dan lisan dari hal-hal yang sia-sia agar pahala yang didapat tetap sempurna di sisi Allah SWT. 

4. Senyum Rasulullah: Kisah Keajaiban Memaafkan Salah satu momen paling menyentuh dalam kajian ini adalah saat Ustadz menceritakan sebuah riwayat tentang Rasulullah SAW yang terbangun dari tidurnya sambil tersenyum. Beliau menceritakan dialog di akhirat antara seseorang yang didzalimi dan orang yang mendzaliminya. Si korban menuntut keadilan atas kedzaliman yang ia terima. Namun, Allah memperlihatkan sebuah istana yang megah di surga. Allah berfirman bahwa istana itu milik mereka yang mau memaafkan saudaranya. Akhirnya, orang yang didzalimi tersebut memilih untuk memaafkan, bahkan ia menggandeng tangan orang yang pernah mendzaliminya untuk bersama-sama masuk ke dalam surga. "Inilah puncak dari akhlak mulia: mengajak orang yang pernah menyakiti kita untuk menuju kebaikan," tambah Ustadz Ulil. 

5. Ramadhan sebagai Madrasah Hati Tujuan akhir dari puasa adalah Taqwa. Namun, taqwa tidak akan tercapai tanpa pembentukan hati yang bersih. Ramadhan adalah momentum pelatihan hati untuk mengikis rasa sombong, dendam, dan egois. Jika hati telah terbentuk, maka ketaqwaan akan lahir secara alami dalam tindakan sehari-hari. 

Semoga kajian dari Ustadz Ulil Albab ini menjadi bekal berharga bagi kita semua untuk menjalani Ramadhan 1447 H dengan lebih berkualitas. Mari kita jadikan bulan ini sebagai jembatan menuju keberkahan dunia dan akhirat.
Share:

Kajian Rutin Ahad Pagi Dilanjutkan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H

Kajian Rutin Ahad Pagi dan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Alhamdulillah, dalam rangka memperkuat ukhuwah Islamiyah serta meningkatkan semangat menuntut ilmu agama, Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali mengadakan Kajian Rutin Ahad Pagi yang insyaAllah akan dilaksanakan pada: 
  • Hari/Tanggal: Ahad, 17 Mei 2026 
  • Pasaran: Ahad Wage 
  • Waktu: Pukul 05.00 WIB (Ba’da Subuh) 
  • Tempat: Masjid Al Mu’minun, Perumahan Gayam Permai Banjarnegara 
  • Pemateri: Ustadz Yusman 
Kajian rutin ini menjadi salah satu sarana untuk memperdalam pemahaman Islam, memperkuat akidah, serta menambah wawasan keilmuan umat. Materi yang disampaikan mencakup pembahasan seputar tafsir, tauhid, fiqih, adab, dan akhlak. Pada kesempatan kali ini, tema yang diangkat adalah: “Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmunya, maka Allah akan memudahkan baginya langkah menuju surga.” (HR. Muslim No. 2699) 
Hadits ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa menuntut ilmu merupakan jalan menuju kemuliaan dan keberkahan hidup. Dengan menghadiri majelis ilmu, seorang muslim tidak hanya mendapatkan tambahan wawasan agama, tetapi juga memperoleh ketenangan hati dan keberkahan dalam kehidupan sehari-hari. 
Selain kajian rutin, kegiatan ini juga akan dilanjutkan dengan Kordinasi Sohibul Qurban 1447 H yang dilaksanakan setelah kajian selesai, sekitar pukul 05.15 WIB. Kegiatan kordinasi ini bertujuan untuk mempersiapkan pelaksanaan ibadah qurban agar berjalan dengan baik, tertib, dan sesuai syariat. Seluruh Sohibul Qurban diundang untuk hadir dalam rapat koordinasi guna membahas berbagai persiapan teknis pelaksanaan qurban tahun 1447 H.  
Melalui kegiatan ini diharapkan terjalin komunikasi dan kerja sama yang baik antarwarga, sehingga pelaksanaan ibadah qurban nantinya dapat memberikan manfaat yang luas bagi masyarakat sekitar.  
Takmir Masjid Al Mu’minun mengajak seluruh warga Perumahan Gayam Permai dan masyarakat sekitar untuk hadir serta meramaikan majelis ilmu ini. Semoga kegiatan yang dilaksanakan menjadi amal kebaikan dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah. Atas kehadiran dan partisipasi seluruh jamaah serta Sohibul Qurban, kami mengucapkan jazakumullahu khairan katsiran.  
Tentang Masjid Al Mu’minun Masjid Al Mu’minun merupakan pusat kegiatan keislaman di Perumahan Gayam Permai Banjarnegara yang aktif menyelenggarakan berbagai kegiatan dakwah, kajian rutin, pendidikan Al-Qur’an, serta kegiatan sosial kemasyarakatan. Dengan semangat kebersamaan dan dakwah Islam yang rahmatan lil ‘alamin, Masjid Al Mu’minun terus berupaya menjadi tempat tumbuhnya ilmu, ukhuwah, dan kepedulian sosial di tengah masyarakat.  
Takmir Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara
Share:

Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati

Ramah Tamah Usai Kajian
Ustadz Yusman,SHI
Kajian Ahad Pagi 20 September 2026: Memahami Takdir, Ikhtiar, dan Ketenangan Hati Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Ahad Pagi pada Ahad, 20 September 2026. Pada kesempatan kali ini, kajian mengangkat tema yang sangat penting dalam kehidupan seorang muslim, yaitu “Takdir: Bersama Ustadz Yusman, SHI. 
Memahami Ketetapan Allah, Ikhtiar, dan Ketenangan dalam Menjalani Kehidupan.” Pembahasan tentang takdir sering kali menghadirkan berbagai pertanyaan dalam kehidupan sehari-hari. Jika segala sesuatu sudah ditakdirkan oleh Allah SWT, apakah manusia masih perlu berusaha?  
Jika seseorang sudah memiliki uang untuk berhaji sementara orang lain belum memiliki uang, siapa yang lebih dahulu akan sampai ke Tanah Suci? Jika dua orang sama-sama memiliki hutang, tetapi kemampuan ekonominya berbeda, siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi bagian dari pembahasan untuk membantu kita memahami takdir dengan logika berpikir yang benar, sehingga keimanan kepada takdir bukan justru membuat seseorang pasif, tetapi melahirkan ketenangan, optimisme, dan semangat untuk terus berikhtiar.  

Takdir Termasuk Rukun Iman

Takdir merupakan salah satu bagian dari rukun iman. Seorang muslim wajib meyakini bahwa segala sesuatu yang terjadi berada dalam ilmu, kehendak, dan ketetapan Allah SWT. Allah SWT berfirman: 

  “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran (takdir).” (QS. Al-Qamar: 49)  

Iman kepada takdir berarti meyakini bahwa Allah SWT memiliki ilmu yang sempurna terhadap segala sesuatu. Tidak ada satu pun kejadian yang berada di luar pengetahuan Allah. Namun, keyakinan terhadap takdir tidak berarti manusia kemudian meninggalkan usaha. Manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar. Kita berusaha, berdoa, mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Allah Menciptakan Sesuatu Sesuai dengan Kehendak-Nya Salah satu pokok penting dalam memahami takdir adalah keyakinan bahwa Allah SWT menciptakan segala sesuatu sesuai dengan kehendak-Nya.  
Allah adalah Al-Khaliq, Dzat Yang Maha Menciptakan. Segala sesuatu yang terjadi di alam semesta tidak terlepas dari ilmu dan kehendak-Nya. Akan tetapi, manusia tetap memiliki kehendak dan kemampuan untuk memilih serta melakukan suatu perbuatan. Karena itu manusia diperintahkan untuk memilih jalan kebaikan, berusaha, bekerja, beribadah, serta menjauhi kemaksiatan. Dengan demikian, memahami takdir tidak boleh dijadikan alasan untuk meninggalkan kewajiban. Misalnya seseorang mengatakan: “Kalau memang sudah ditakdirkan kaya, nanti juga akan kaya.” Kemudian ia tidak mau bekerja dan berusaha. Cara berpikir seperti ini tidak tepat. Takdir bukan alasan untuk meninggalkan ikhtiar.  

Takdir dan Ikhtiar: Mengapa Kita Tetap Harus Berusaha?  

Salah satu pertanyaan yang sering muncul adalah: “Kalau hasilnya sudah ditentukan oleh Allah, mengapa kita masih harus berusaha?” Jawabannya, karena manusia tidak mengetahui apa yang Allah takdirkan untuk dirinya. Kita tidak mengetahui apakah kita akan berhasil atau gagal sebelum kita melakukan usaha. Karena itu, kewajiban manusia adalah berikhtiar, sedangkan hasil akhirnya berada di tangan Allah SWT. Petani menanam karena berharap mendapatkan panen. Orang sakit berobat karena berharap mendapatkan kesembuhan. Seseorang bekerja karena berharap mendapatkan rezeki. Orang yang ingin berhaji menabung dan mempersiapkan diri karena berharap dapat memenuhi panggilan Allah.  
Semua itu merupakan bentuk ikhtiar. Adapun hasil akhirnya, Allah-lah yang menentukan. Di sinilah keimanan kepada takdir memberikan ketenangan. Kita diperintahkan untuk melakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya kita serahkan kepada Allah. Contoh Sederhana: Siapa yang Lebih Dahulu Berhaji? Dalam kajian dibahas sebuah ilustrasi sederhana. Ada seseorang yang sudah mendaftar haji dan ada orang lain yang belum mendaftar. Keduanya sama-sama memiliki keinginan untuk berhaji. Siapa yang akan lebih dahulu berhaji?  
Secara logika manusia, orang yang sudah mendaftar mungkin dianggap lebih dekat dengan kesempatan berangkat. Namun, manusia tidak mengetahui secara pasti apa yang akan terjadi pada masa mendatang. Bisa saja seseorang sudah mendaftar tetapi belum mendapatkan kesempatan berangkat. Sebaliknya, orang yang sebelumnya belum mendaftar kemudian mendapatkan rezeki, kesempatan, atau kondisi tertentu sehingga akhirnya dapat berhaji lebih dahulu. Contoh tersebut mengajarkan bahwa manusia melakukan ikhtiar, tetapi Allah yang menentukan hasil akhirnya.  
Karena itu, seseorang yang ingin berhaji harus melakukan sebab-sebabnya: memiliki kemampuan, mempersiapkan biaya, mendaftar sesuai ketentuan, menjaga kesehatan, dan berdoa. Setelah ikhtiar dilakukan, hasilnya diserahkan kepada Allah SWT. Contoh Lain: Dua Orang Sama-Sama Memiliki Hutang Begitu pula dengan masalah hutang. Ada dua orang yang sama-sama memiliki kewajiban membayar hutang. Orang pertama memiliki uang yang cukup, sedangkan orang kedua belum memiliki kemampuan untuk membayar. Siapa yang harus membayar terlebih dahulu? Jawabannya berkaitan dengan kemampuan masing-masing dan kehendak Alloh SWT.  
Orang yang memiliki kemampuan membayar tentu memiliki kewajiban untuk segera menunaikan hutangnya. Sementara orang yang benar-benar belum mampu harus terus berusaha dan memiliki niat sungguh-sungguh untuk melunasinya. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan manusia memiliki sebab dan akibat yang harus ditempuh. Kita tidak boleh menggunakan takdir sebagai alasan untuk mengabaikan kewajiban. Jika memiliki hutang dan mempunyai kemampuan untuk membayarnya, maka tunaikan. Jika belum mampu, maka berusahalah mencari jalan keluar dengan cara yang halal dan tetap menjaga amanah.  

Takdir Baik dan Takdir Buruk  

Dalam kehidupan, manusia akan mengalami berbagai keadaan. Ada yang menyenangkan dan ada yang tidak menyenangkan. Ada keberhasilan dan ada kegagalan. Ada kesehatan dan ada sakit. Ada kelapangan rezeki dan ada masa kesulitan. Seorang mukmin memahami semuanya dalam kerangka iman kepada takdir Allah SWT. Ketika mendapatkan sesuatu yang baik, ia bersyukur. Ketika mendapatkan sesuatu yang tidak sesuai dengan harapan, ia bersabar dan tetap berusaha mencari jalan keluar. Bukan berarti setiap keburukan yang dilakukan manusia kemudian dibenarkan dengan alasan “sudah takdir”. Manusia tetap bertanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya. Karena itu, pemahaman terhadap takdir harus berjalan bersama dengan iman, ikhtiar, doa, tanggung jawab, sabar, dan tawakal. Empat Tingkatan Takdir Dalam kajian juga dijelaskan mengenai tingkatan takdir yang sering diringkas menjadi empat tingkatan.  
1. Al-'Ilmu — Ilmu Allah  
Allah SWT Maha Mengetahui segala sesuatu. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan apa yang akan terjadi. Ilmu Allah meliputi seluruh makhluk dan seluruh kejadian. Tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi dari pengetahuan-Nya.  
2. Al-Kitabah — Telah di Tuliskan  
Takdir Allah SWT telah menuliskan ketetapan-Nya. Salah satu dalil yang berkaitan dengan hal ini adalah firman Allah: 
 “Tidakkah kamu mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab (Lauh Mahfuz). Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah.” (QS. Al-Hajj: 70)  
Ayat tersebut mengingatkan kita bahwa ilmu dan ketetapan Allah meliputi seluruh kejadian.  
3. Al-Masyi'ah — Kehendak Allah  
Segala sesuatu terjadi dengan kehendak Allah SWT. Allah berkehendak terhadap apa yang terjadi di alam semesta. Tidak ada sesuatu yang dapat terjadi di luar kehendak-Nya. Namun, manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan dalam batas yang Allah berikan kepadanya. Oleh karena itu, manusia tetap diperintahkan untuk memilih kebaikan dan menghindari keburukan.  
4. Al-Khalq — Allah Menciptakan 
Allah SWT adalah Al-Khaliq, yaitu Dzat Yang Maha Menciptakan. Allah menciptakan manusia, kemampuan manusia, alam semesta, sebab-sebab, serta segala sesuatu yang ada. Karena itu, seorang muslim menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang membutuhkan pertolongan dan kehendak Allah. Ketenangan dalam Memahami Takdir Salah satu buah penting dari memahami takdir adalah munculnya ketenangan hati.  
Tidak semua yang kita inginkan akan terjadi sesuai dengan rencana kita. Terkadang kita sudah berusaha keras tetapi hasilnya belum sesuai harapan. Terkadang sesuatu yang kita anggap baik ternyata tidak terjadi. Sebaliknya, sesuatu yang awalnya kita anggap buruk ternyata membawa pelajaran dan kebaikan yang tidak kita sangka. Dalam kondisi seperti itu, iman kepada takdir membantu seorang muslim untuk tetap tenang. Ia memahami:  
“Saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Saya sudah berdoa. Saya sudah mengambil sebab yang dibenarkan. Adapun hasil akhirnya, saya serahkan kepada Allah SWT.” Sikap seperti inilah yang melahirkan tawakal.  
Tawakal bukan berarti meninggalkan usaha. Tawakal adalah bersandar kepada Allah setelah melakukan ikhtiar. Jangan Berhenti Berikhtiar Memahami takdir seharusnya membuat seorang muslim semakin kuat dalam menjalani kehidupan. Ketika berhasil, ia tidak sombong karena menyadari bahwa keberhasilan itu terjadi dengan pertolongan Allah.  
Ketika gagal, ia tidak berputus asa karena mengetahui bahwa Allah memiliki hikmah dan ketetapan yang belum tentu dapat langsung dipahami manusia. Maka prinsip yang perlu kita pegang adalah: Berusaha sebaik mungkin, berdoa dengan sungguh-sungguh, kemudian bertawakal kepada Allah SWT. Manusia bertugas melakukan ikhtiar. Allah yang menentukan hasilnya. Dan apa yang Allah kehendaki pasti terjadi sesuai dengan ilmu dan hikmah-Nya. 

Takdir Mengajarkan Kita untuk Tenang Kajian tentang takdir bukan sekadar membahas sesuatu yang telah ditetapkan Allah, tetapi juga mengajarkan bagaimana seorang muslim menjalani kehidupan dengan pikiran yang sehat, hati yang tenang, dan usaha yang benar. Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi besok. Karena itu, tugas kita bukan menerka-nerka takdir, tetapi mempersiapkan diri, berusaha, berdoa, dan menjalankan kewajiban sebaik-baiknya. Jika mendapatkan nikmat, bersyukurlah. Jika mendapatkan ujian, bersabarlah. Jika mempunyai cita-cita, berusahalah. Jika mengalami kegagalan, jangan berputus asa.  
Sebab seorang mukmin meyakini bahwa Allah SWT mengetahui apa yang tidak kita ketahui. Semoga pemahaman yang benar tentang takdir menjadikan kita pribadi yang lebih tenang, tidak mudah mengeluh, tidak sombong ketika berhasil, dan tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kegagalan. Mari terus belajar, memperbaiki diri, dan memperkuat iman melalui majelis ilmu.  
Mari Hadiri Kajian rutin di Masjid Al Mu’minun pada setiap Ahad Pagi. Semoga rangkaian Kajian Rutin Ahad Pagi di Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara menjadi sarana untuk menambah ilmu, memperkuat iman, dan mempererat ukhuwah di antara warga. Mari hadir, belajar bersama, dan mengambil manfaat dari majelis ilmu. Ikhtiar adalah tugas kita. Hasil adalah ketetapan Allah. Ketenangan lahir ketika hati bersandar kepada-Nya. Masjid Al Mu’minun Perumahan Gayam Permai Banjarnegara Tempat Menuntut Ilmu, Memperkuat Iman, dan Mempererat Ukhuwah.




Share:

Sembuh atau Surga? Pilihan Sulit Ummu Zufar

Gayam Permai, Banjarnegara – Cahaya fajar di Masjid Al-Mu’minun terasa lebih sejuk dengan untaian hikmah yang disampaikan oleh Ustadz Susianto pada Kajian Subuh Ramadhan 1447 H. Beliau membawa kita menyelami kedalaman akhlak para ulama dan sebuah pilihan sulit yang berbuah jaminan surga. Berikut adalah rangkuman materi yang menggugah jiwa:  
1. Ketulusan Amal: Belajar dari Kesabaran Imam Syafi’i  
Ustadz Susianto membuka kajian dengan sebuah kisah yang menguji ego dan kesabaran. Dikisahkan, seorang pemuda memanggil Imam Syafi’i untuk datang ke rumahnya. Namun, sesampainya di depan pintu, pemuda itu justru menyuruh beliau pulang. Hal ini terjadi hingga tiga kali: dipanggil, didatangi, lalu disuruh pulang.  
Tanpa rasa marah sedikit pun, Imam Syafi’i menuruti permintaan tersebut. Mengapa? Karena beliau hanya ingin berbuat amal baik. Bagi beliau, mendatangi panggilan saudara adalah kebaikan, dan memaafkan perilaku kurang sopan adalah kebaikan yang lebih tinggi lagi.  
Pesan moralnya: Fokuslah pada amal baik kita, bukan pada bagaimana orang lain memperlakukan kita. 

2. Hakikat Penciptaan dan Tugas Manusia (QS. Al-Hijr: 27-28) 
Beliau kemudian mengajak jamaah mentadaburi asal-usul penciptaan sebagaimana termaktub dalam QS. Al-Hijr (15) ayat 27-28:  
Ayat 27: Mengingatkan tentang penciptaan bangsa Jin dari api yang sangat panas sebelum manusia diciptakan.  
Ayat 28: Menjelaskan bahwa manusia diciptakan dari tanah liat kering yang berasal dari lumpur hitam yang diberi bentuk. 
Ustadz Susianto menekankan bahwa dengan memahami asal-usul yang rendah (tanah), tidak ada alasan bagi manusia untuk sombong. Tugas utama kita hanyalah mengisi masa hidup yang singkat ini dengan pengabdian penuh kepada Sang Pencipta.  

3. Kisah Ummu Zufar: Sabar dalam Sakit Berbuah Surga  
Puncak kajian yang paling mengharukan adalah kisah seorang wanita kulit hitam bernama Ummu Zufar. Ia datang menghadap Rasulullah ﷺ dalam keadaan menderita penyakit ayan (epilepsi). Ummu Zufar memohon: "Ya Rasulullah, doakanlah aku agar Allah menyembuhkanku." Rasulullah ﷺ memberikan dua pilihan yang sangat mendalam:  
Jika engkau mau, bersabarlah (dengan penyakitmu), maka bagimu adalah SURGA.  
Jika engkau mau, aku akan berdoa kepada Allah agar Dia menyembuhkanmu.  
Mendengar kata "Surga", Ummu Zufar tidak ragu sedikit pun. Ia memilih opsi pertama: Sabar. Ia hanya meminta didoakan agar saat penyakitnya kambuh, auratnya tidak tersingkap. 

"Kisah ini mengajarkan kita bahwa musibah fisik jika dihadapi dengan rida, adalah tiket eksekutif menuju surga-Nya," tutur Ustadz Susianto. 
Melalui kajian ini, Ustadz Susianto mengajak kita semua di sisa Ramadhan ini untuk: Terus berbuat baik meski seringkali tidak dihargai oleh manusia (seperti Imam Syafi'i). Menyadari kerendahan diri di hadapan Allah (QS. Al-Hijr). Melihat penyakit atau musibah sebagai peluang untuk meraih derajat tertinggi di sisi Allah.
Share:

Ustadz Susianto, SKM: Jodoh Itu Rezeki!


Ahad, 9 November 2025
Jama'ah kajian rutinAhad pagi pada tanggal 9 November 2025 mengalami sedikit perubahan jadwal terkait pengisi materi. Ustadz Andi Yulianto yang semula dijadwalkan hadir, berhalangan hadir sehingga posisi beliau diisi sementara oleh Ustadz Susianto. Ustadz Susianto hadir untuk mengisi kekosongan tersebut dan menyampaikan materi yang sangat relevan dan mendalam, berfokus pada konsep "4 Jenis Rezeki (Rizki)" dalam Islam. 


Meskipun terjadi perubahan, semangat para jamaah tetap tinggi dalam menimba ilmu.
📚 Sorotan Materi Kajian: 
4 Jenis RezekiDalam kajian yang disampaikan dengan penuh hikmah, Ustadz Susianto mengupas tuntas empat tingkatan atau jenis rezeki yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya. Poin-poin utama yang beliau sampaikan adalah:
1. Rizki Ketika Dalam Kandungan
Ini adalah rezeki fundamental yang sifatnya mutlak dan sudah ditetapkan. Ustaz Susianto mengingatkan bahwa sebelum kita lahir, Allah telah menentukan segalanya: kapan kita lahir, di mana, dan bahkan siapa orang tua kita.“Kita pasrah dan sudah ditentukan kapan lahir, di mana, dan dari orang tua siapa? Inilah rezeki pertama, yang tidak bisa kita ubah, sebuah ketetapan ilahi,” jelas beliau.

2. Rizki Ketika Kita Diberikan Jodoh
Rezeki ini terkait dengan pasangan hidup. Jodoh adalah bagian dari takdir Allah yang merupakan karunia besar. Seseorang yang mendapatkan pasangan yang sholeh/sholehah sejatinya sedang menerima rezeki yang tak ternilai harganya.

3. Rizki yang Kita Miliki (Rezeki Ma'isyah/Penghidupan)
Ini adalah jenis rezeki yang paling umum dipahami, yaitu segala harta benda, pekerjaan, kesehatan, dan kebutuhan sehari-hari yang kita nikmati saat ini. Rezeki ini didapatkan melalui ikhtiar dan usaha, namun hakikatnya tetap anugerah dari Allah.

4. Rizki yang Diberikan Kepada Orang-Orang yang Bertaqwa
Ini merupakan jenis rezeki tertinggi dan paling istimewa. Rezeki ini bukan hanya bersifat materi, tetapi juga ketenangan hati, keberkahan hidup, kemudahan urusan, dan jalan keluar dari setiap kesulitan 
Rezeki ini diberikan sebagai buah dari ketaqwaan dan kesabaran seorang hamba.


Keistiqomahan di Tengah Ujian. 
Di penghujung kajian, Ustadz Susianto memberikan pesan penutup yang sangat menguatkan hati. Beliau menekankan pentingnya keistiqomahan dalam berbuat kebaikan meskipun sedang diterpa cobaan hidup.“Jangan tinggalkan kebaikan karena Musibah,” tegas Ustadz Susianto. Musibah tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti beribadah, bersedekah, atau menuntut ilmu. 
Justru dalam kesulitan, kebaikanlah yang akan menjadi penyelamat dan pembuka pintu rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka, sejalan dengan rezeki jenis keempat.Kajian Ahad pagi ini ditutup dengan harapan agar seluruh jamaah dapat merenungkan kembali hakikat rezeki dan senantiasa berusaha menjadi hamba yang bertaqwa, terlepas dari segala ujian dan perubahan yang terjadi dalam hidup, termasuk perubahan pengisi kajian.




Share:

Memakmurkan Masjid, Mencerahkan Umat (2016-2025)

Menuju sembilan tahun pelaksanaan kegiatan. Pada tanggal 18 Desember 2016, sebuah langkah kecil namun revolusioner dicanangkan: "Gerakan Sholat Subuh Berjama'ah." Gerakan ini, yang bukan sekadar seruan, tetapi sebuah undangan yang terus menerus disampaikan, telah menjadi denyut nadi keimanan bagi para jamaah. Hari ini, 19 Oktober 2025, kita berdiri di titik ini untuk merenungkan sejauh mana jejak istiqomah ini telah membekas.
Gerakan ini, yang terus menerus menyatukan shaf-shaf di waktu fajar, telah bertransformasi menjadi sebuah kebiasaan kolektif. Ia adalah jawaban atas tantangan terberat bagi seorang muslim: menaklukkan selimut tidur demi panggilan Illahi di waktu subuh.

Undangan Pertama Gerakan Subuh Berjama'ah


Sejak undangan pertama pada akhir tahun 2016, "Gerakan Sholat Subuh Berjama'ah" telah membuktikan bahwa keimanan adalah soal disiplin dan komitmen. Keberhasilan Disiplin Spiritual: Subuh berjamaah adalah indikator terkuat keimanan seseorang. Keistiqomahan selama sembilan tahun membuktikan bahwa masjid telah berhasil menjadi magnet spiritual di waktu yang paling berat. Jamaah telah menjadikan subuh bukan lagi beban, melainkan kebutuhan.
Fondasi Ukhuwah: Sholat Subuh berjamaah adalah tempat pertemuan terbaik. Di sinilah, sebelum kesibukan dunia dimulai, seluruh lapisan masyarakat berkumpul dalam kesetaraan. Kesatuan shaf di subuh hari adalah fondasi ukhuwah yang kokoh untuk menghadapi kerasnya dunia di siang hari.
Pembaruan Niat Harian: Mengawali hari dengan bersujud dan berdzikir adalah cara terbaik "me-recharge" energi iman. Inilah modal utama keberkahan rezeki dan kelancaran urusan harian yang dijanjikan oleh Rasulullah SAW.
Keberkahan subuh berjamaah dilanjutkan dengan kajian Rutin Ba'da Sholat Subuh Ahad Pagi, menghadirkan Ustadz-ustadz yang mumpuni dibidangnya semakin mencerahkan keimanan jama'ah. Jika sholat adalah nutrisi jiwa, maka kajian adalah makanan akal dan pemandu amal. 
Kegiatan ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang paripurna, tidak hanya memerintahkan ibadah ritual (sholat), tetapi juga menuntut penambahan ilmu (kajian). Kajian rutin Ahad Pagi berfungsi sebagai pabrik pemahaman yang mencerahkan, memastikan ibadah yang dilakukan berlandaskan ilmu yang benar.
Konsistensi mengadakan kajian selama sembilan tahun adalah bukti komitmen terhadap pembinaan umat yang berkelanjutan, bukan sekadar musiman. Materi-materi yang disampaikan, mulai dari tauhid, fiqih, hingga tafsir, telah membentuk pemahaman keagamaan yang matang dan moderat di kalangan jamaah.

Dari 18 Desember 2016 hingga 19 Oktober 2025, perjalanan sembilan tahun "Gerakan Subuh Berjama'ah dan Kajian Rutin Ahad Pagi" adalah sebuah masterpiece keistiqomahan. Undangan yang konsisten disampaikan telah menghasilkan hasil yang nyata: masjid yang hidup dan umat yang tercerahkan.
Refleksi ini harus menjadi pemicu, bukan hanya perayaan. Tugas kita ke depan adalah memastikan obor istiqomah ini tidak padam. Melalui langkah kaki yang tetap tegar menuju masjid di waktu fajar, dan semangat yang tak pernah lelah untuk terus belajar dan mengkaji, kita menjamin bahwa warisan spiritual ini akan terus mengakar, membentuk generasi yang kuat imannya dan luas ilmunya.
Semoga Allah SWT senantiasa memberkahi keistiqomahan kita dan menjadikan setiap langkah kaki dan setiap helai ilmu yang kita dapatkan sebagai timbangan amal kebaikan di akhirat kelak. Aamiin.
Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget