Gayam Permai, Banjarnegara – Kajian Subuh di Masjid Al-Mu’minun pada Kamis, 26 Februari 2026, menghadirkan pembahasan yang menggugah nalar dan iman. Bersama Ustadz Ulil Albab Al Hafidz, jamaah diajak menyelami "Ilmu Munasabah" (keterkaitan antar ayat) dalam Al-Qur'an, khususnya posisi ayat-ayat puasa yang ternyata diapit oleh perintah-perintah yang sangat berat.
1. Ilmu Munasabah: Mengapa Ayat Puasa "Terjepit" di Antara Ayat Berat?
Dalam kajiannya, Ustadz Ulil Albab menjelaskan bahwa ayat tentang puasa dalam Surah Al-Baqarah tidak berdiri sendiri. Puasa diapit oleh ayat-ayat tentang:
Wasiat dan Qishos (Hukuman): Aturan hukum yang menuntut keadilan ekstrem.
Haji dan Perceraian: Ibadah yang menguras fisik/harta serta urusan rumah tangga yang menguras emosi.
Refleksi: Mengapa demikian? Karena puasa adalah "kawah candradimuka" atau latihan mental. Puasa diletakkan di tengah-tengah ayat berat tersebut sebagai isyarat bahwa untuk menjalankan hukum Allah yang berat (seperti qishos atau menghadapi perceraian), seseorang butuh kekuatan pengendalian diri yang hanya didapat melalui puasa yang serius.
2. Puasa: Sabar yang Diperjuangkan
Puasa adalah bentuk kesabaran tingkat tinggi. Namun, Ustadz Ulil menekankan bahwa puasa perlu diperjuangkan, bukan sekadar dijalani dengan pasif.
"Allah tidak hanya menginginkan kita tidur saja selama berpuasa. Meskipun tidur orang puasa itu ibadah dan berpahala, namun Allah lebih mencintai hamba-Nya yang tetap produktif dan berjuang di tengah rasa haus dan lapar," tegas beliau.
3. Stop Menjadikan Puasa sebagai "Kambing Hitam" Kemalasan
Fenomena yang sering terjadi adalah puasa dijadikan alasan untuk:
- Terlambat masuk kerja.
- Tidur berlebihan sepanjang hari.
- Menurunkan kualitas pelayanan kepada sesama.
Ustadz Ulil mengingatkan bahwa Ramadhan tidak boleh menjadi tameng untuk kemalasan. Justru, sejarah mencatat banyak kemenangan besar Islam (seperti Perang Badar) terjadi saat para sahabat sedang berpuasa.
4. Puasa Berkualitas sebagai "Tabungan Terakhir"
Beliau menyampaikan sebuah fakta menyentuh tentang akhirat. Kelak, ada orang-orang yang pahala shalat, zakat, dan hajinya habis diambil oleh orang-orang yang pernah didzaliminya saat di dunia (orang yang bangkrut(muflis).
Namun, ketika puasa seseorang berkualitas, pahala itulah yang akan tetap menjadi miliknya dan menjadi tiket masuk surga, karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia antara hamba dan Pencipta-Nya.
5. Al-Qur'an: Penentu Derajat di Surga
5. Al-Qur'an: Penentu Derajat di Surga
Di bulan suci ini, ibadah yang paling dianjurkan selain puasa adalah berinteraksi dengan Al-Qur'an. Ustadz Ulil Albab, sebagai seorang Hafidz, mengingatkan:
Sedekah Terbaik: Adalah sedekah yang dikeluarkan di bulan Ramadhan.
Derajat di Surga: Kedudukan kita di surga kelak tergantung pada seberapa banyak dan seberapa sering kita membaca Al-Qur'an selama di dunia. Setiap ayat yang kita baca akan menaikkan posisi kita setingkat demi setingkat di surga-Nya.
Mindset bahwa Ramadhan itu jadi malas-malasan adalah bertolak belakang. Jangan biarkan puasa kita hanya menjadi rutinitas menahan lapar yang berakhir dengan tidur seharian. Mari kita perkuat perisai diri, tingkatkan sedekah, dan hiasi setiap detik dengan tilawah Al-Qur'an agar derajat kita meninggi di hadapan Allah SWT.



















.heic)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)
.heic)



.jpeg)
