Menyiapkan Bekal untuk Hari Esok

Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki malam ke-7 Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun kembali dipenuhi jamaah yang antusias mendengarkan siraman rohani selepas salat Isya. Pada Senin malam, 23 Februari 2026, Bapak M. Susyanto menyampaikan materi yang sangat menggugah kesadaran kita tentang pentingnya merancang masa depan akhirat melalui kacamata Surah Al-Hasyr
Bapak M. Susyanto mengawali kultumnya dengan membacakan potongan ayat yang menjadi fondasi bagi setiap muslim dalam melangkah:
 
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌ ۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ ۝١


Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.
eliau menjelaskan bahwa ayat ini adalah perintah tegas dari Allah untuk melakukan Muhasabah atau evaluasi diri. Ramadhan adalah momentum terbaik untuk berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: "Bekal apa yang sudah saya kirimkan untuk perjalanan panjang setelah kematian nanti?"
.....
Dalam ulasannya, Bapak M. Susyanto menekankan bahwa perintah memperhatikan "hari esok" diapit oleh perintah bertakwa. Artinya, perencanaan masa depan kita tidak akan bernilai di mata Allah jika tidak didasari oleh rasa takut dan cinta kepada-Nya (Taqwa). "Takwa bukan hanya status, tapi tindakan nyata. Di bulan puasa ini, kita dilatih untuk selalu merasa diawasi oleh Allah dalam setiap detik aktivitas kita," ujar beliau.
Salah satu poin penutup yang sangat menyentuh dalam ceramah Bapak M. Susyanto adalah peringatan bahwa: "Innallaha khabirun bima ta'malun" (Sungguh, Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan). Beliau mengingatkan jamaah warga Gayam Permai bahwa tidak ada satu pun amalan yang terlewat dari pengamatan Allah. Baik itu sedekah yang sembunyi-sembunyi, rasa sabar saat menghadapi ujian, hingga kejujuran kita dalam berpuasa. Semua dicatat dengan ketelitian yang sempurna. "Jika kita sadar Allah Maha Teliti, maka kita akan lebih berhati-hati dalam berucap dan bertindak. Ramadhan ini harus menjadi ajang bagi kita untuk memperbaiki kualitas 'bekal' tersebut agar saat Allah menelitinya kelak, kita termasuk golongan yang beruntung," tambah beliau.





Share:

Gallery 1

Kuliah Subuh

 









Tarawih





Share:

Pelaksanaan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H

Tabel Pelaksanaan Kajian Subuh Ramadhan 1447 H
18 Februari 2026 19 Februari 2026 20 Februari 2026
image
Penceramah:
Ustadz M.Akbar
Tema : Kemuliaan Ramadhan
image
Penceramah:
Ustadz Ulil Albab
Tema :Derajat Taqwa Yang Hakiki
image
Penceramah:
Bp.Lukman Jarir
Tema : Syafa'at
21 Februari 2026 22 Februari 2026 23 Februari 2026
image
Penceramah:
Ustadz M. Akmal
Tema : Wudlu
image
Penceramah: Bp.Susianto
Tema : Buah Kuldi, Peristiwa dan Hikmah
image
Penceramah: Bp.Lukman
Tema : 10 Perkara Yang Sia-Sia
24 Februari 2026 25 Februari 2026 26 Februari 2026
image
Penceramah:
Ustadz Yusman
Tema :"Transfer" Pahala secara Gratis:
Ghibah

image
Penceramah:
Ustadz Rahkmat
Tema :Ramadhan
image
Penceramah:
Ustadz Ulil Albab
Tema :Ilmu Munasabah 10 
27 Februari 2026 28 Februari 2026 1 Maret 2026
image
Penceramah:
Ustadz Lukman Jarir
Tema : Manfaat Sholat
image
Penceramah:
Ustadz Jundi
Tema: 2 Nikmat sering dilupakan
image
Penceramah:
Ustadz Susianto
Tema :Alam Ruh hingga Surga
2 Maret 2026 3 Maret 2026 4 Maret 2026
image
Penceramah:
Ustadz Lukman
Tema :10 Hal yang mendatangkan Kebenaran
image
Penceramah:
Ustadz Yusman
Tema: Ghibah Yang dibolehkan
image
Penceramah:
Ustadz Helmi
Tema :Rahasia Ujian dan Syukur
5 Maret 2026 6 Maret 2026 7 Maret 2026
image
Penceramah:
Ustadz Ulil Albab
Tema :Waspada Hama Ibadah
image
Penceramah:
Ustadz Lukman Jarir
Tema: Level Puasa
image
Penceramah:
Ustadz Helmi
Tema :Rahasia Ujian dan Syukur
8 Maret 2026 9 Maret 2026 10 Maret 2026
image
Penceramah:
Ustadz Susianto
Tema : Jaminan Surga
image
Penceramah:
Ustadz Dwi Budi P
Tema:10 Hari Terakhir
image
Penceramah:
Ustadz Yusman,SHI
Tema :I'tikaf
11 Maret 2026 12 Maret 2026 13 Maret 2026
image
Penceramah:
Ustadz Susianto
Tema : Jaminan Surga
image
Penceramah:
Ustadz Ulil Albab
Tema: Keimanan
image
Penceramah:
Ustadz Lukman Jarir
Tema :Adab dalam Berdoa

Share:

10 Perkara Sia-Sia di Bulan Ramadhan

MC dari TPQ
Gayam Permai, Banjarnegara – Memasuki pekan kedua Ramadhan 1447 H, Masjid Al-Mu’minun Perumahan Gayam Permai kembali menggelar Kajian Subuh yang penuh makna pada Senin, 23 Februari 2026. Menghadirkan Ustadz Lukman, AMd, kajian kali ini membawa pesan mendalam tentang syukur dan waspada terhadap hal-hal yang dapat menghanguskan pahala kita. 
Kegembiraan yang Berdasar Ustadz Lukman mengawali tausiyahnya dengan mengingatkan kita untuk senantiasa bergembira menyambut dan menjalani Ramadhan. Mengapa? Karena Ramadhan adalah kesempatan yang sangat dirindukan, bahkan oleh mereka yang sudah mendahului kita. 
 "Seandainya orang yang sudah wafat bisa kembali ke dunia, satu-satunya waktu yang ingin mereka jumpai adalah bulan Ramadhan untuk beribadah. Maka, sungguh beruntung kita yang masih diberi nafas hari ini," ujar beliau. 
Kesempurnaan Ciptaan dan Amanah Ibadah  
Beliau juga menekankan bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan sangat sempurna. Namun, kesempurnaan fisik dan akal itu akan menjadi hujah (tuntutan) di akhirat jika tidak digunakan untuk menghamba kepada-Nya. 10 Perkara Sia-Sia yang Harus Dihindari Dalam inti kajiannya, Ustadz Lukman memaparkan 10 perkara yang sering kali menjadi sia-sia, terutama jika dibiarkan berlalu begitu saja di bulan Ramadhan:  
Ilmu yang Tidak Diamalkan: Mengetahui keutamaan ibadah namun tidak mempraktikkannya.  
Ibadah yang Sia-sia: Melakukan ritual ibadah namun tidak memenuhi syarat, rukun, atau tidak ikhlas.  
Harta yang Tidak Diinfakkan: Memiliki kelebihan rezeki namun kikir untuk berbagi di bulan kedermawanan.  
Hati yang Kosong dari Rindu kepada Allah: Hati yang hanya sibuk dengan urusan duniawi tanpa getaran kerinduan pada Sang Pencipta.  
Anggota Badan yang Tidak untuk Beribadah: Mata, telinga, dan tangan yang tidak digunakan untuk ketaatan.  
Cinta yang Tidak untuk Perintah Allah: Mencintai mahluk atau dunia melebihi cintanya pada aturan Allah.  
Waktu yang Terbuang: Melewatkan detik demi detik Ramadhan tanpa dzikir, tilawah, atau amal saleh.  
Pikiran yang Tidak Bermanfaat: Menghabiskan energi pikiran untuk hal-hal yang buruk atau tidak berfaedah.  
Tidak Mengharap Ridho Allah: Beramal hanya karena ikut-ikutan atau ingin dipuji manusia (riya).  
Tidak Menimbulkan Kebermanfaatan: Hidup yang hanya untuk diri sendiri tanpa memberi dampak positif bagi orang lain di sekitarnya. 

Mumpung Masih Ada Waktu Di akhir kajian, Ustadz Lukman mengajak jamaah warga Gayam Permai untuk mengevaluasi diri. Jangan sampai kesempurnaan yang Allah berikan justru berakhir pada kesia-siaan. Ramadhan adalah momentum untuk memastikan bahwa ilmu, harta, waktu, dan pikiran kita semuanya bernilai ibadah.





Share:

Puasa: Syariat Lintas Zaman

Kultum Tarawih Gayam Permai, 
22 Februari 2026 
Bersama Nurkholis, S.E. 
Ramadhan selalu menghadirkan suasana yang berbeda. Dalam Kultum Tarawih tanggal 22 Februari 2026, Bapak Nurkholis, S.E. menyampaikan pesan yang mengajak jamaah melihat puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi sebagai ibadah yang telah diwariskan sejak umat-umat sebelum Nabi Muhammad SAW. Puasa bukan ibadah baru. Ia adalah tradisi para nabi, sekaligus ibadah istimewa yang memiliki kedudukan khusus di sisi Allah SWT. Puasa Telah Diwajibkan Sebelum Umat Nabi Muhammad SAW Allah SWT berfirman dalam Al-Qur'an: 
 “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)
Ayat ini menegaskan bahwa puasa bukan hanya syariat umat Nabi Muhammad SAW, tetapi juga umat-umat terdahulu. Artinya, puasa adalah ibadah universal yang menjadi sarana pembinaan ketakwaan sepanjang sejarah kenabian. Tujuan utamanya jelas: la’allakum tattaqun agar kamu bertakwa. Keistimewaan Puasa Ramadhan Puasa memiliki banyak keistimewaan dibanding ibadah lainnya: 

1. Puasa Adalah Milik Allah 
 Dalam hadits qudsi disebutkan bahwa setiap amal anak Adam adalah untuknya kecuali puasa. Puasa itu untuk Allah dan Dia sendiri yang akan membalasnya. Mengapa demikian? Karena puasa adalah ibadah yang sangat rahasia. Orang lain bisa melihat kita shalat, sedekah, atau membaca Al-Qur’an. Tetapi puasa? Tidak ada yang tahu kecuali diri kita dan Allah. Kita bisa saja berpura-pura, tetapi hakikat puasa adalah kejujuran batin. Puasa mendidik kita untuk jujur pada diri sendiri. 

2. Latihan Mengendalikan Diri 
Puasa bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga: Menahan amarah Menahan lisan Menahan pandangan Menahan hawa nafsu Jika seseorang hanya menahan makan tetapi lisannya tetap menyakiti, maka hakikat puasanya belum tercapai. Dalam kultum disampaikan sebuah perumpamaan yang menarik: ular setelah berpuasa tetaplah ular. Sifatnya tidak berubah. Ia tetap berbisa dan membahayakan. 
Pesan ini sangat dalam. Jika setelah Ramadhan sifat kita masih sama, masih mudah marah, masih iri, masih suka menyakiti maka jangan-jangan puasa kita baru sebatas lapar dan haus, belum sampai pada perubahan akhlak. 

Hikmah Puasa: Pahala dan Introspeksi Diri 
Puasa adalah ladang pahala yang luar biasa. Setiap detik kesabaran, setiap rasa haus, setiap upaya menahan diri, semuanya bernilai ibadah. Namun lebih dari itu, puasa adalah momentum introspeksi. Ramadhan mengajak kita bertanya pada diri sendiri: 
  • Sudahkah saya jujur dalam pekerjaan? 
  • Sudahkah saya menjaga amanah? 
  • Sudahkah saya memperbaiki hubungan dengan keluarga dan sesama? 
  • Sudahkah saya bersungguh-sungguh dalam ibadah? 

Puasa melatih kita untuk berhenti sejenak dari rutinitas dunia dan menengok ke dalam hati. Jujur pada Diri Sendiri Salah satu pesan kuat dalam kultum ini adalah tentang kejujuran. Puasa mengajarkan integritas. Saat sendirian, tidak ada yang mengawasi. Tetapi kita tetap memilih untuk taat. Inilah pendidikan ruhani yang luar biasa. Jika kejujuran ini terbawa setelah Ramadhan, maka puasa benar-benar telah membentuk karakter. 
Tetapi jika setelah Ramadhan kita kembali pada kebiasaan lama, maka kita perlu mengevaluasi diri. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan. Ia adalah madrasah pembinaan jiwa. Penutup Puasa telah diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita. Puasa adalah ibadah istimewa yang Allah klaim sebagai milik-Nya secara khusus. Puasa adalah latihan kejujuran, kesabaran, dan pengendalian diri. Semoga kita tidak menjadi seperti ular yang setelah berpuasa tetap berbisa. Semoga Ramadhan benar-benar mengubah hati, lisan, dan perilaku kita. Semoga kita termasuk orang-orang yang meraih derajat takwa. Wallahu a’lam bishawab.







Share:

Footer Link

Pengumuman

  1. Tamu yang menginap 1x24 jam harus lapor RT.
  2. Dilarang Parkir Mobil di Jalan Perumahan
  3. Segala Jenis Truk dilarang Memasuki Jalan Perumahan

info ronda

Pelaksanaan Ronda lingkungan dimulai pukul 22.00 WIB s.d. Menyesuaikan Kondisi

Recent Posts

POSTINGAN TERBARU

Recent Posts Widget